00:00Selamat malam.
00:30Selamat malam Najib. Saya juga sedang menunggu komisioner Komisi Nasional Perempuan, Sondang Friska Simanjuntak yang sebentar lagi akan bergabung.
00:40Dan juga kami telah mengundang Kementerian Kebudayaan serta editor umum penulisan ulang sejarah, namun mereka semua tidak bersedia untuk hadir dalam diskusi kali ini.
00:53Oke, saya akan ke Prof. Anhar terlebih dulu.
00:55Gak usah pakai Prof.
00:57Oke, Pak Anhar. Gimana Pak Anhar melihat kontroversi yang meluas setelah Menteri Kebudayaan Wadlizon mengatakan tidak ada itu perkosaan masal dan kemudian dibantah oleh sejumlah aktivis. Anda lihat gimana?
01:12Justru itu memang hal-hal tertentu sering menjadi persoalan dalam sejarah.
01:22Sebab itu kan sejarah selalu memerlukan fakta, ya jelas.
01:26Nah, persoalan yang berkaitan dengan apa yang dipolemikan itu adalah sampai seberapa jauh itu benar atau tidak.
01:40Iya kan persoalannya.
01:43Siapa yang menentukan atau siapa yang pernah menghitung sekian banyak orang diperkosa ketika itu.
01:53Itu yang menjadi persoalan saya kira.
01:56Tapi pada konteks ketika itu, saya memang, saya sendiri karena kebetulan waktu saya mau pulang ke rumah di Hadang, di Pondok Gede, pasar kebakar.
02:14Saya mendengar, besoknya saya mendengar dari berbagai masyarakat, anggota masyarakat bahwa ada hal-hal seperti yang dimaksud tadi.
02:28Ada sekelompok orang, ada wanita tiongkok yang diperkosa, tapi jumlahnya nggak disebut.
02:37Tapi ketika itu, besoknya setelah itu, saya diceritakan orang.
02:45Oh, Pak Anhar tidak juga membaca apa laporannya tim gabungan pencari fakta dan Komnas HAM gitu?
02:51Saya membaca itu.
02:53Oke.
02:53Saya membaca itu juga.
02:54Dan saya tentu percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang mempertaruhkan namanya kan.
03:08Kalau dia melakukan sesuatu, apa namanya, katakanlah hal yang tidak tepat.
03:16Saya kira, makanya saya percaya apa yang dikatakan mereka, apa yang ditulis mereka.
03:24Meritkan ini siapa nih?
03:25Yang tadi Anda tanyakan.
03:27Tim gabungan pencari fakta, tapi juga percaya sama Pak Delison, dua fakta ini ya?
03:32Iya, persoalannya kan yang dipersoalkan siapa?
03:36Pak Delison tadi adalah istilah masal.
03:39Masal, oke.
03:39Itu persoalannya kan.
03:41Oke, dan nggak ada bukti ya?
03:42Dan tidak ada bukti.
03:43Oke, baik.
03:44Pak Aswi, kalau Pak Aswi lihatnya gimana?
03:46Ini ya dua sudut pandang yang mengatakan, Pak Delison mengatakan soal masalnya,
03:51ya, tapi yang kedua ya ini TGPF itu hanya soal angka sebetulnya.
03:57Fadlison juga mengatakan di dalam wawancaranya,
04:02mana buku yang sudah memuat peristiwa ini tentang perkosaan masal terhadap perempuan Tionghoa itu?
04:13Sebetulnya ada.
04:14Ada bukunya?
04:14Ada bukunya, dan ada buku Sejarah Nasional Indonesia, edisi pemutakhiran.
04:22Edisi pemutakhiran dari Sejarah Nasional Indonesia itu terbit tahun 2007 oleh Balai Pustaka.
04:29Di sunting, penyunting umumnya itu Pak Lerisa, tetapi editor jilidnya itu adalah Pak Kolonel Saleh Jamhari, jilid 6.
04:37Nah, di dalam buku itu ada kalimat itu yang mengatakan terjadi perkosaan terhadap sejumlah besar perempuan-perempuan keturunan Cina.
04:50Dia sebut Cina gitu, tidak Tionghoa.
04:52Itu sejumlah besar perempuan itu diperkosa, itu kan masal itu.
04:58Menurut saya sama saja apakah masal ataupun sejumlah besar gitu.
05:02Lalu kemudian kita berbicara tentang angka yang diberikan oleh TGPF.
05:08Ada lebih dari 50 orang gitu.
05:11Nah, persoalannya adalah bahwa TGPF ini kemudian melaporkan kepada Presiden,
05:20melaporkan juga Habibi, dan juga meminta pemerintah itu untuk memeriksa lebih lanjut.
05:28Mereka punya data orang-orang itu, tetapi kan itu tidak dibuka ya, namanya atau siapa.
05:33Tapi mereka menyampaikan itu gitu.
05:35Nah, tapi persoalannya oleh pemerintah itu tidak dilanjutkan.
05:41Tidak dilanjutkan.
05:42Dan sekarang Pak Dili minta buktinya mana kan gitu?
05:45Ya, betul gitu.
05:46Nah, ini kan kasus perkosaan gitu.
05:48Ya, orang-orang yang diperkosa itu mungkin merasa takut gitu ya.
05:54Misalnya mereka takut bertemu dengan wartawan Tempo misalnya gitu.
05:58Tapi berarti bukan mereka tidak ada.
06:00Buktinya itu salah satunya Itamar Tadinata itu,
06:03yang ketika akan bersaksi di luar negeri itu malah terbunuh.
06:08Oke, baik.
06:09Saya ke Pak Furtasan, Ali Yusuf, anggota Komisi 10 dari fraksi Partai Nasdem.
06:15Pak Furtasan, bagaimana Anda lihat pernyataan dari Menteri Kebudayaan Fadilizon yang mengatakan pemerkosaan masal itu tidak ada.
06:25Tidak ada buktinya gitu.
06:26Kira-kira dari DPR melihat seperti apa Pak Furtasan?
06:29Ya.
06:34Ketika menyampaikan hal itu, memang kalau di forum rapat tidak pernah terucap ya.
06:40Saya juga melihat dari media saja gitu.
06:44Kalau rapat teratas resmi tidak pernah terucap gitu.
06:46Nah, tapi kalau bicara sejarah, tentu kan ini adalah fakta yang di belakang.
06:52Saya waktu kejadian 1998 juga memang ada di Jakarta, tahu persis gitu.
06:57Tapi kan tidak bisa lihat.
06:58Tapi kalau sudah dibentuk fakta, pencari fakta, atau tim pencari fakta, dan ada buktinya,
07:04saya pikir itu kan petunjuk ya sebetulnya.
07:06Tinggal kita diskusikan aja, kalau memang itu adalah ada faktanya, ya diakui dong, kira-kira begitu.
07:12Tapi kalau misalnya tidak ada, ya kita jelaskan memang tidak ada.
07:15Tapi memang kondisinya waktu itu sangat-sangat krusial,
07:18dan saya juga ada di Jakarta, semua kondisinya memang situasinya tidak menentu.
07:24Dan saya melihat memang ini adalah perlu dibuktikan kalimat ini.
07:28Karena memang kata tadi narasumber tadi, ada semacam temuan, tim pencari fakta,
07:36lalu ada resmi sudah ditulis juga di situ gitu.
07:39Nah, itu petunjuk menurut saya gitu. Kira-kira gitu.
07:41Oke, baik.
07:42Najib, sosiolog dari UGM.
07:45Gimana Anda sebagai sosiolog melihat? Ada apa? Ada polarisasi sebetulnya yang cukup tajam.
07:52Menteri Kebudayaan mengatakan tidak ada fakta, tidak ada bukti.
07:57Tetapi tim gabungan pencari fakta dan Presiden Habibie juga menyatakan ada,
08:01meskipun tidak ada kata masal.
08:03Gimana Anda mencoba menjembatani dua sudut pandang ini?
08:06Yang pertama, ini memang peristiwa dalam periode turbulensi ya, dalam perjalanan kebangsaan kita.
08:19Dan kemudian peristiwa ini kemudian direkonstruksi dan kemudian memunculkan kontestasi narasi dari berbagai pihak.
08:27Nah, kemudian ini sekarang ini pemerintah baru di bawah Presiden Prabowo melalui Menteri Kebudayaan Fadri Zon
08:35kan mencoba menyusun sejarah yang diperbarui lah atau yang dimutaakhirkan ya, kira-kira begitu.
08:45Antara lain mengenai peristiwa tahun 98 yang saya kira kemudian seperti kita tahu kemudian menjadi perdebatan ini.
08:52Apa yang ingin saya katakan adalah, saya kira satu, bahwa ini sudah ada petunjuk atau data awal yang saya kira signifikan,
09:03yang sangat otoritatif, artinya tim pencari fakta itu lembaga yang dibentuk oleh negara
09:09dan kemudian menyampaikan laporannya secara resmi, kemudian ada data-data petunjuk awal saya kira,
09:16yang saya kira tidak bisa diabaikan, artinya tidak tepat kalau hanya dianggap sebagai rumor seperti yang disampaikan oleh Saudara Fadli.
09:27Saya kira ungkapan itu tidak empatik ya, tidak menggambarkan respon negara yang mestinya lebih empatik terhadap korban
09:38dalam konteks sebuah peristiwa yang saya kira sangat dramatis, yang harus dilakukan justru saya kira memang melakukan pemeriksaan
09:45dengan lebih hati-hati, dengan lebih cermat terhadap apa yang sesungguhnya terjadi.
09:50Dari apa data awal yang sudah terkumpul itu kemudian dicermati lebih baik, lebih lanjut oleh katakanlah para sejarawan.
09:57Apalagi waktu itu kan peristiwa pengumpulan data kan masih dalam situasi psikologis yang sulit lah, yang mencekam gitu ya.
10:04Jadi sekarang saya kira justru waktunya Mas Budi.
10:06Waktunya ya oke. Menteri Kebudayaan juga melontarkan harapannya adalah memenusun sejarah dalam tone positif.
10:14Apa maksudnya? Kita bahas setelah jeda berikut ini.
10:26Polisi ungkap penipuan online yang menjatut nama perusahaan dana pensiun pemerintah
Komentar