- 9 bulan yang lalu
Film Hayya 3 : Gaza tayang serentak di Tanah Air hari ini. Film ini merupakan lanjutan dua film sebelumnya, Hayya (2018) dan Hayya 2 (2021).
Seperti apa kekuatan cerita dari film ini, lalu apa yang menjadi pembeda dengan film sebelumnya, yuk simak wawancara Republika dengan Produser, Eksekutif Ustadz Erick Yusuf; Sutradara, Jastis Arimba; dan Aktor, Andy Boim.
Seperti apa kekuatan cerita dari film ini, lalu apa yang menjadi pembeda dengan film sebelumnya, yuk simak wawancara Republika dengan Produser, Eksekutif Ustadz Erick Yusuf; Sutradara, Jastis Arimba; dan Aktor, Andy Boim.
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Apa yang terjadi saat ini, itu kita coba kita sampaikan karena masih banyak orang-orang yang belum memahami.
00:09Lewat karakter ini kita mau gambarin bahwa sebenarnya secara sadar atau tidak sadar, jangan-jangan sifat Zionis itu ada dalam diri kita.
00:17Mau mandang dari mana? Parenting tadi, dapat. Pergaulan sosial, dapat. Agamanya, dapat. Utuh dan itu semua.
00:30Bukan perang. Mereka cuma pengen membunuhkan semua orang-orang yang ada di bahasa Zionis.
00:35Gaza yang sebenarnya ditindas, dihancurkan.
00:42Jangan pernah ngelupain Gaza ya.
00:48Jadi begini, kalau dari sisi saya sebagai eksekutif produser ya, jadi kita yang samanya adalah terus bagaimana menyuarakan
00:59perjuangan saudara-saudara kita di Palestina.
01:04Itu yang samanya. Yang bedanya adalah bahwa yang pertama dan yang kedua itu pertama kita memberikan sebuah awareness
01:16bahwa seperti apa sih Palestine dan karena ini juga kita buat sebelum 7 Oktober kemarin ya.
01:24Jadi ini di tahun berapa Mas Jasis ya?
01:272018.
01:282018.
01:29Jadi kita itu di Haya yang pertama, kita memberitakan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa kita konsisten.
01:39Masyarakat Indonesia itu membantu Palestina.
01:41Jadi kita mengirimkan bantuan ke sana, kisahnya.
01:45Dan di sana ada seorang anak Palestine yang dia ingin keluar dari kevoliman dan lain-lain yang dia masuk menyelinap ke kapal bantuan kita
01:59dan tanpa disadari datang ke Indonesia.
02:03Yang kedua, karena yang kedua itu kita dalam masa pandemi.
02:09Jadi kita syuting itu dalam masih COVID ya, masih asis ya.
02:14Jadi ketika relate sekali pada saat yang Haya kedua itu tekanan, ketakutan.
02:22Masyarakat terhadap pandemi penyakit ini yang kemudian digambarkan di Haya yang kedua
02:28dengan permasalahan psikologis dari pasangan keluarga yang dia intinya kehilangan anaknya.
02:41Ini cerita tentang kehilangan.
02:43Jadi ketika pandemi kan kita banyak sekali permasalahan kehilangan.
02:47Di Haya kedua ini kita juga mengangkat tentang masalah kehilangan.
02:50Jadi keluarga, pasangan suami istri yang kehilangan anaknya karena satu musibah
02:57yang kemudian tidak sengaja dia bertemu dengan si Haya yang di Haya pertama ini
03:03yang kabur, yang ketemu sama ini dan dia menganggap bahwa inilah anaknya yang hilang.
03:08Jadi menggambarkan betapa kita itu betul-betul merasa kehilangan dan lain-lain.
03:15Tetapi tetap dengan tema Palestine.
03:19Nah di Haya yang ketiga ini kita disini justru mengangkat berbagai hal yang sangat update pada hari ini.
03:29Dimana kita bicara bagaimana keberpihakan kita terhadap Palestine.
03:36Kenapa kok kita harus membela Palestine?
03:38Itu ada di film ini.
03:39Kenapa kita harus membersamai sih saudara-saudara kita di Palestine?
03:42Itu semua alasan-alasan itu ada di film ini.
03:46Bahkan ajakan-ajakan seperti boykot itu ada di film ini.
03:52Bagaimana kemudian film ini menerangkan juga ada sisipan sejarah.
03:58Seperti apa sih sebetulnya Palestine itu dulu?
04:02Dan bagaimana kita kemudian membersamai Palestine atau saudara-saudara kita?
04:08Nah ini di film ini intinya saya ingin menyampaikan bahwa apa yang terjadi saat ini itu kita coba kita sampaikan karena masih banyak orang-orang yang belum memahami kenapa kita harus sampai sebegitunya.
04:28Orang itu kadang-kadang kalau yang gak paham kenapa sih sampai harus kemudian di seluruh kota ini bergerak untuk Palestine kan gitu.
04:35Kenapa sih di seluruh dunia semua orang bergerak untuk Palestine?
04:37Kenapa sampai kemudian bisa bersedekah sekian banyaknya untuk Palestine?
04:42Nah itu semuanya insya Allah akan ada di film ini.
04:47Intinya sih di film Gaza ini buat saya pribadi ini karya yang sangat personal ya.
04:57Karena memang sejak saya era kuliah dan sampai sekarang isu Palestina itu jadi isu yang sangat dekat.
05:04Ya Alhamdulillah saya ada di lingkungan circle yang bersama orang-orang yang selalu punya concern terhadap Palestina.
05:11Nah tapi yang paling jadi challenging buat saya dan tim kreatif ya ketika membuat film ini adalah bagaimana caranya karena kita sadar betul ya film itu produk hiburan ya.
05:23Film ini produk hiburan bagaimana kita bisa menghadirkan satu cerita yang utuh, utuh dalam mengkampanyakan literasi tentang Palestinanya,
05:33utuh dalam menyuarakan kebebasan, kemerdekaan, dan semangat perjuangan Palestina di tengah masyarakat.
05:41Sehingga akhirnya film ini bisa jadi medium refleksi bagi keluarga untuk bertanya, merenung bagaimana seharusnya kita terus agar bagaimana seharusnya kita bersama keluarga terus mempersamai saudara-saudara kita di Palestina.
05:53Nah melalui film ini menjadi challenging tadi ya bagaimana kita saya pastinya dengan dikonsultani oleh Ustadz Erik juga dengan Bu Helvitiana Rosa dan Bu Asma Nadia sebagai penulis,
06:05kita coba menghadirkan satu cerita keluarga yang mudah-mudahan relate dengan persoalan negeri ini juga sebenarnya.
06:13Lewat film Gaza ini sebenarnya persoalan atau isu masalah Gaza, masalah Palestina, masalah penindasan, masalah power abuse, masalah kebiadaban-kebiadaban itu kita coba refleksikan dengan karakter seorang anak yang bernama Abdullah Gaza.
06:30Jadi seorang anak relawan, ayahnya adalah seorang relawan kemanusiaan yang ditakdirkan harus meninggal gitu ya, meninggal dan selama hidupnya itu dia selalu meredikasikan dirinya,
06:40hidupnya untuk Palestina dan memberikan anaknya seorang anak dengan nama Abdullah Gaza agar anak itu bisa kuat dan tangguh setangguh Gaza di Palestina.
06:53Jadi anak yatim piatu ini akhirnya tinggal di bawah Ustadz Yusuf yang diperankan oleh Ustadz Erik Yusuf ke sebuah rumah yatim yang dikelola oleh Ustadzadewi yang diperankan oleh Okistana Dewi
07:05dan juga adiknya itu adalah Ceciva atau yang memberikan karakter Safira, di mana di situ karakter Abdullah Gaza itu bertemu dengan Haya,
07:14seorang anak Palestina yang tadinya akan dipulangkan ke negaranya tapi tidak bisa dipulangkan karena peristiwa Genosida terjadi pada 7 Oktober, mulai terjadi pada 7 Oktober tadi.
07:27Nah akhirnya kehadiran Gaza itu seperti obat keriduan pada karakter Haya, di mana akhirnya pada suatu ketika tragedi terjadi,
07:36ada seorang karakter di sini, lagi-lagi untuk menggambari situasi Palestina dengan cara yang sederhana gitu,
07:44kita coba main pendekatan-pendekatan yang sifatnya simbolik atau semiotik lah dalam istilah bahasa filmnya.
07:50Nah jadi saya menghadirkan satu karakter yang bernama Benny Letanyahu, Benny Letanyahu ini kita tahu lah bahwa sebenarnya lewat karakter ini kita mau gambarin bahwa sebenarnya
08:00secara sadar atau tidak sadar, jangan-jangan sifat Zionis itu ada dalam diri kita gitu.
08:05Sifat Zionis apa itu? Sifat Zionis sombong, aku, angkuh, selalu menekan yang lemah gitu ya,
08:12terus beraninya sama perempuan, sama anak kecil, nah itu coba kita gambarkan lewat ada satu karakter yang pastinya semua yang menonton akan membencinya lah.
08:26Aku di sini, di Gaza ini sebagai karakternya Boim. Boim ini seorang wartawan, dan wartawan ini yang pastinya yang ngedukung banget Palestina,
08:37dan ya kita berjuang dari ranah atau petnya wartawan terhadap Palestina gitu.
08:45Nah bedanya ini dengan produksi yang lain, kalau Ustadz Erik udah tahu lah ya, karena memang Boim berangkat kan memang dari komedi ya,
08:54berangkat dari komedi, emang orangnya suka bercanda, tapi kalau Ustadz Erik atau Mas Justice notice,
09:01nggak tahu kenapa dari film ini diajak, Boim tuh kayak mendadak serius.
09:07Karena apa ya, ini proyek-proyek emosional ya, karena ya apa ya, kayak gini aja mau ketemu aja,
09:15walaupun tadi kita ngobrol dateng segala macem, happy, kalau ditanya happy, happy, tapi tetap kita ini bawa pesan Gaza.
09:24Kita masih bisa duduk, masih bisa adem, kita masih bisa makan minimal wartak, nikmatin rasanya apa,
09:32tapi saudara-saudara kita di sana, buat makan aja mereka udah nggak mikirin rasa, yang penting masuk perut aja udah Alhamdulillah gitu loh.
09:40Jadi memang ini proyek yang sangat sentimental ya buat pribadi, dan karakter Boim di sini tuh juga akhirnya jadi kebawa begitu gitu loh.
09:47Nggak tahu mendadak, biasa kalau ada acara apa, diundang acara apa tuh kayak otak tuh kayak liar gitu loh,
09:54untuk pengen nyeletuk ini, pengen bertingkah begini, tapi nggak tahu kenapa.
09:59Udah terboykot di film ini tuh untuk nggak tahu ya, jadi karena ada moral yang mau dibawa,
10:05kalau tadi Mas Justice bilang film ini tuh message tentang,
10:09kita harus menyampaikan tentang Gaza-nya terus seperti apa utuh, sangat utuh di film ini.
10:16Terus yang kedua ceritanya, Masya Allahnya kemarin kita udah nonton beberapa kali,
10:21bareng sama teman-teman, eksklusif screening,
10:25ini film setelahin message tentang Palestine-nya utuh,
10:29tapi ceritanya ringan, dalam artian gini,
10:32penonton ini nggak akan mulu dan nggak akan bosan untuk melihat bahwa film ini tentang kampanye Gaza, no, nggak.
10:39Karena film ini literally ada ceritanya yang sangat menarik dan nggak perlu sulit untuk mencerna ceritanya,
10:48itu mudah, tapi tanpa disadarin, bener yang tadi Mas Justice bilang,
10:51lewat karakter A, B, C, D, kita tuh kayak mikir,
10:55kenapa kita benci sama orang sekarang tuh di TikTok lagi rame namanya Isri Will ya.
11:02Gitu ya, iya gitu, diarah ke situ gitu loh.
11:06Ya sebenarnya ada di salah satu karakter yang di film ini gitu loh,
11:10yang dimana kalau kita seandainya berhadapan dengan orang ini,
11:15udah pasti tau deh kita bakalan responnya gimana,
11:18minimal ditegor sama dia, kita akan males untuk menjawab.
11:21Nah itu sebenarnya tanpa disadarin,
11:23karena mungkin letak kita sama negara itu jauh,
11:28jadinya kita yang nggak bisa melekat gitu loh.
11:31Tapi dianalogikan, ini keren nih Mas Justice nih,
11:34ada satu karakter yang sebenarnya kalau ini seandainya muncul depan mata kita,
11:39sekesal itu.
11:40Nah itulah yang sebenarnya harus dibangun,
11:43dalam artian bukan untuk membuat jadi membenci ya,
11:47tapi sebenarnya kayak, ya seandainya itu udah kayak respon spontan terhadap
11:52sesuatu yang dengan karakter begini akan seperti apa.
11:56Jadi ya film ini complete package lah,
11:59kalau aku ngeliatnya ini complete package,
12:02mau mandang dari mana parenting tadi,
12:05dapet, pergaulan sosial dapet,
12:07terus agamanya dapet,
12:09utuh dan itu semua utuh.
12:11Jadi film ini project yang menurut aku luar biasa,
12:15sentimental.
12:16Itu sih.
12:17Ini dia aktor ya,
12:18kok bisa serius ya?
12:20Nggak tahu,
12:21di film ini tuh aku emang begitu.
12:23Bicaranya aja langsung serius.
12:25Saya udah beberapa film sama dia,
12:27dia kusut sekali.
12:30Pas saya dengar,
12:31hebat juga nih bisa,
12:32lurus nih.
12:34Nggak tahu,
12:35setelah suka kebuntu gitu loh,
12:37itu emosionalnya disitu Masya Allah.
12:41Kalau ditanya ada yang keempat atau kelima,
12:46untuk rangkaian Hayanya,
12:47saya belum bisa jawab hari ini.
12:49Tapi kalau,
12:50apakah ke depan akan terus bikin film-film bertema kemanusiaan
12:54dan kaitannya dengan Palestina,
12:56insya Allah akan selalu ya,
12:58set ya.
12:58Mudah-mudahan bisa terus berkelanjutan.
13:00Karena menurut kami,
13:03jika misalnya kita terus berdoa,
13:05misalnya Allah takdirkan dalam waktu dekat,
13:07gencatan senjata,
13:09dari data yang kami lihat,
13:11untuk membangun Gaza kembali itu
13:12butuh ribuan triliun ya.
13:14Ribuan triliun,
13:15sehingga akhirnya,
13:16kampanye tentang Gaza dan Palestina ini harus jadi,
13:19menurut saya,
13:20saya ibaratkan seperti lari maraton gitu.
13:22Proses yang panjang,
13:23tidak boleh berhenti,
13:24cuma jangan sampai kita,
13:25cuma jadi orang-orang yang sifatnya ikut-ikutan FOMO,
13:28ketika konflik terjadi,
13:29besar,
13:30baru rame,
13:31ketika konflik selesai,
13:33diem,
13:34anyem,
13:35terus,
13:35padahal,
13:36untuk merecovery dan lain sebagainya,
13:38itu butuh juga proses dan perjalanan yang panjang.
13:41Tapi yang jelasan,
13:41kita tahu bahwa,
13:42dan kita yakini,
13:43sebagai muslim,
13:45yang dengan pengetahuan yang juga saya terbatas,
13:48bahwa persoalan Palestina ini akan jadi persoalan yang,
13:50akan panjang sampai akhir jaman bahkan.
13:52Jadi kurang lebih sih insya Allah,
13:54itu yang mungkin pilihan sebagai pembuat film,
13:57saya ingin berjuang melalui film,
13:59selalu menghadirkan film-film yang punya nilai-nilai moral dan edukasi,
14:04yang harapannya bisa ikut terus mewarnai industri film tanah air,
14:08dan juga bisa terus menyuarakan persoalan-persoalan kemanusiaan,
14:13khususnya persoalan Gaza dan Palestina.
14:16Sebenarnya film ini tuh bisa dibilang all genre,
14:25yang tadi aku bilang,
14:26karena kita mau ngeliat dari sisi anak-anaknya,
14:28ada di karakternya Gaza dan Haya,
14:30yang dimana mungkin itu bisa jadi role model anak-anak,
14:34untuk melihat figure yang baik gitu ya.
14:38Tapi balik lagi,
14:40ini film ini kan memang ada pesan,
14:43nah pastinya untuk anak-anak,
14:45dia hanya ngeliat,
14:47namanya anak-anak kan pasti ngeliat cerita,
14:49ngeliat gambar,
14:50ngeliat yang lucu,
14:50that's it gitu ya.
14:52Tapi kan untuk membaca pesan,
14:54aku rasa sih belum ya.
14:56Jadi kalau Bunda Asma ngomong emang di umur segitu,
15:00aku rasa emang idealnya segitu ya.
15:03Karena di anak yang di umur segitu tuh udah mulai bisa baca pesan,
15:06dan udah bisa menimang gitu loh,
15:08mana yang boleh ditiru dan mana yang tidak gitu loh.
15:12Kalau yang di bawah umur itu ya otomatis dia masih kayak,
15:15ah kayaknya gue lucu deh gue pengen jadi begini karakternya nih,
15:18karakternya si Bo ini,
15:20atau mungkin oh gak karakternya Ustadz Erik nih gitu ya,
15:23misalnya gitu.
15:24Nah itu dia hanya ngeliatnya sesingkat itu gitu loh.
15:27Tapi kalau untuk yang matchernya ya,
15:29di umur yang Bunda Asma bilang,
15:3113 ke atas ya.
15:32Untuk ngebaca semuanya secara clear ya.
15:34Izin menambahkan Ustadz.
15:37Boleh.
15:38Menurut saya walaupun film ini memang secara rating adalah 13 tahun ke atas,
15:43saya pikir film ini bisa ditonton sama umur dengan catatannya,
15:50ditemani oleh keluarganya.
15:51Ada pendampingan, ada proses pendampingan,
15:53bahwa memang ada beberapa part yang dalam hal ini,
15:57karena kita ingin menggabarkan kebengisan seseorang karakter
16:01yang akhirnya ada sin-sin yang harusnya melakukan tindakan kekerasan.
16:06Walaupun sebenarnya setiap hari sosial media kita,
16:09mau anak-anak atau orang dewasa,
16:12selalu muncul video-video kekerasan yang udah sifatnya karakternya 21 tahun plus.
16:16Tapi kalau dibandingkan film ini,
16:18contoh saja misalnya dengan film produk Hollywood,
16:20misalnya filmnya Spiderman No Way Home,
16:23yang dapat lisensi semua umur,
16:25kan di sana juga banyak adegan perkelahian, kekerasan,
16:27tapi dapat semua umur,
16:30karena dianggap karakter fiksi dan lain sebagainya.
16:32Jadi menurut saya ini tetap bisa aman ditonton bersama keluarga,
16:35tapi pastinya untuk menonton ini,
16:37anak-anak di bawah usia 13 harus didampingi oleh orang tuanya,
16:40dikasih penjelasan, pengertian.
16:41Makanya saya bilang ini harapannya filmnya di momen refleksi
16:44untuk setiap keluarga-keluarga di Indonesia jadi ruang diskusi,
16:48ruang perenungan,
16:49bagaimana ayah, anak, dan ibu bicara dari hati ke hati
16:53selama menonton ini terkait dengan hal-hal yang terjadi,
16:57kondisi-kondisi yang terjadi di Gaza, Palestina.
17:03Memang kalau kita lihat ya,
17:08sebuah gerakan, karya, upaya,
17:13itu biasanya memang selalu ada berbagai sudut pandang,
17:18pro-kontra dan lain-lain.
17:19Jadi intinya kalau Palestine ini memang sedang menjadi satu bahan viral semua orang,
17:35seluruh dunia semua membicarakan Palestina.
17:39Nah ketika orang kemudian bikin t-shirt spirit of Palestine misalnya gitu ya,
17:47free Palestine gitu.
17:50Dia ingin kemudian share atau berbagi semangat untuk mengingatkan semua orang gitu.
17:57Tapi dia menjual itu.
17:59Apakah itu riding the wave misalnya ya,
18:02apa dianggap seperti itu gitu ya.
18:04Nah untuk itu semuanya,
18:06seperti kita memposting sesuatu di sosmed,
18:10apakah itu kita menjadi syiar atau ria kan gitu.
18:16Nah itu juga sama biasanya.
18:18Orang ini tidak berkomunikasi teknis.
18:22Orang itu kalau mulai hatinya berkomunikasi,
18:27hati dengan hati berkomunikasi,
18:29insya Allah dia akan merasakan bahwa ini tuh sesuatu yang ikhlas,
18:34sesuatu perjuangan atau bukan.
18:36Atau hanya ah ini pencitraan, ah ini hanya begini.
18:39Itu akan merasa.
18:41Nah karenanya kita buktikan secara waktu,
18:44apakah pembuatan film ini itu hanya kemudian mau riding the wave
18:49dan mencari keuntungan atau tidak.
18:52Nah saya ingin tegaskan.
18:5340 persennya hasilnya insya Allah langsung kita akan donasikan untuk Palestina.
18:58Yang 60 persennya untuk apa?
19:00Untuk membuat film-film ini lagi.
19:02Yang bertemakan Palestina lagi.
19:03Di Haya yang pertama, dengan 700 ribu penonton,
19:08Alhamdulillah kita bisa mendonasikan 2,7 miliar dari 700 ribu penonton.
19:15Bayangkan kalau ini menjadi 2 juta penonton.
19:19700 ya?
19:20700 ribu penonton dan hanya 15 persen saat itu.
19:22700 ribu penonton dan hanya 15 persen.
19:26Kebayangkan kalau sekarang 40 persennya.
19:30Dengan 700 ribu saja sudah berapa kali lipat.
19:33Apalagi kalau kita bisa push sampai 2 juta.
19:37Nah jadi film ini sebagai mesin sedekah yang besar sebetulnya.
19:45Kampanye untuk kemudian mengajak semua dengan media yang terbesar itu film.
19:51Karena saya kira, saya ingin masuk ke dalam yang lebih dalam lagi.
20:00Kita itu sebetulnya sedang membebaskan mindset slavery.
20:05Kita sedang membebaskan perbudakan di dalam kepala kita.
20:09Kita ini diperbudak terus.
20:10Dengan kampanye-kampanye dengan propaganda-propaganda yang kalau kita lihat dulu bagaimana Yahudi ini dibantai oleh Nazi dengan pemahaman kita film-film holocaust di mana-mana.
20:27Bahkan film-film yang hampir semua film.
20:30Kemudian menggambarkan bagaimana bahwa bangsa ini di holocaust oleh yang namanya Nazi pada saat itu.
20:40Dan seniman-seniman semua berkarya yang indah-indah.
20:44Nah sekarang ternyata bangsa ini menjenosida Palestina.
20:55Nah karenanya kami saya membuat yang namanya Sanubari Palestina.
21:02Yaitu persatuan, budayawan, seniman, artis peduli Palestina.
21:06Di mana kami ini ingin mengajak bukan hanya nanti Indonesia tetapi seluruh dunia untuk membuat karya-karya.
21:11Nah karenanya betapa pentingnya ini kita membebaskan perbudakan mindset kita terhadap Palestina ini.
21:21Jadi seakan-akan orang itu dibuat bahwa kalau Yahudi yang di holocaust, yang di genosit harus dibela.
21:31Tetapi kenapa Palestina yang di genosit tidak dibela?
21:33Nah ini kan permasalahannya ada semacam konspirasi besar yang kita harus lepaskan itu.
21:39Nah ini juga bagaimana gerakan Gauzel Fikir, peperangan dalam pemikiran bahwa film ini hadir dan harus ditonton oleh semuanya.
21:53Agar supaya kita itu memahami bahwa aksi bela Palestina itu harus terus kita gaungkan.
22:02Bukan hanya karena kita sebagai muslim, saudara sesama muslim, ya al-muslimu kal jasa diul wahid.
22:09Tetapi kita juga saudara pehuah insaniah atau basariah sesama manusia.
22:16Nah karenanya saya ingin ini bukan hanya untuk orang muslim saja.
22:20Justru ada di dalam film ini beberapa scene yang kemudian ada orang dari non-muslim atau orang nasorong yang mengajak,
22:30yang memberikan informasi bahwa gereja-gereja juga dibom.
22:35Orang-orang nasrani juga kemudian dizolimi dan lain-lain.
22:40Jadi ini bukan masalah muslim.
22:41Makanya, mohon maaf ya, saya ingin menegaskan.
22:45Ada satu daerah yang mulai ada isu menolak ini.
22:51Kenapa?
22:53Karena menurut mereka mungkin ini adalah satu film agama.
22:57Yang berpihak kepada agama tertentu.
22:59Tidak.
23:00Ini film, ini berpihak kepada kemanusiaan.
23:03Dan kalau seandainya kita masih merasa manusia,
23:06ayo kembali menjadi manusia yang punya empati kepada manusia yang lainnya.
23:11Bukan hanya agama, bukan hanya negara, bukan hanya keberpihakan.
23:15Bukan karena, oh saya memihak Israel, oh saya memihak Palestina.
23:19Bukan.
23:19Kita semuanya harus memihak kepada kemanusiaan.
23:23Yang menggambarkan, yang menjelaskan,
23:27yang kemudian mengajak semua untuk membersamai saudara-saudara kita di Palestina.
23:32Ayo Sobat Republika, mari kita nonton film Gaza di hari pertama tanggal 12 Juni 2025.
23:40Putihkan Biosco.
Komentar