00:00Prof, memang ketika Kejaksaan Agung sebagai primadona untuk kasus-kasus besar
00:07secara persepsi publik juga menunjukkan peningkatan, bahkan bisa di atas KPK.
00:12Tidak pernah selama ini KPK selalu berada di atas institusi penegakan hukum,
00:18tapi kali ini KPK kalau anak zaman sekarang bilang udah ke laut aja gitu.
00:21Udah ke laut aja.
00:23Udah gak ketah, udah tidak terlalu jelas apa perannya.
00:26Apa memang saat ini Kejaksaan Agung dianggap lembaga yang paling punya integritas
00:33dan paling dapat dipercaya untuk menangani kasus-kasus besar?
00:38Atau sesungguhnya memang tetap memiliki hambatan ketika itu menyangkut orang-orang besar di belakangnya?
00:48Paling itu iya, bahwa dia paling bagus, paling berintegritas, tapi relatif.
00:54Relatif, relatif bukan di situ bersih gitu.
00:57Karena yang lain aja lebih tidak bersih, kan gitu aja pikirannya.
01:01Kejaksaan Agung itu sejak tahun 2002 sampai sekarang, setiap ada survei itu tertinggi.
01:08Yang paling mendapat kepercayaan masyarakat, Kejaksaan Agung udah tiga tahun terakhir ini.
01:13Ya, sehingga saya sering puji-puji sejak saya bagus Anda mempertinggi kinerja saya
01:21karena dinilai penegakan itu bagus karena Anda bagus.
01:24Menkopol hukam.
01:25Ya, waktu itu.
01:26Sejak tahun 2002 ada Anda pernah turun gitu.
01:29Jadi itu memang Kejaksaan Agung cukup.
01:31Tapi apakah di sana tidak ada permainan-permainan korupsi dan sebagainya?
01:36Ya ada saja gitu ya.
01:37Dikatakan paling baik itu mungkin paling sedikit dosanya.
01:42Kan gitu aja.
01:43Kan yang paling tinggi TNI kan.
01:45Anda tahu TNI itu paling tinggi loh.
01:46Institusi negara itu paling terpercaya presiden.
01:49Yang nomor dua TNI.
01:50Di luar presiden TNI itu tertinggi loh.
01:52Kepercayaan publik.
01:53Baru sudah itu Kejaksaan Agung.
01:55Kan?
01:56Kalau dikaitkan dengan penegakan hukum.
01:58Tapi apakah mereka juga memiliki keleluasaan
02:02untuk bisa melampaui atau melakukan hambatan-hambatan politik
02:06dalam penegakan kasus-kasus besar?
02:08Karena Pak Maffut.
02:10Untuk melampaui hambatan politis?
02:11Ya.
02:12Tidak mudah.
02:13Ya, kasus yang sekarang aja.
02:15Saya, anu ya, Pertamina ya.
02:17Anda tahu Pertamina.
02:18Wah kita kan bangga sekali.
02:20Buat nih Kejaksaan Agung.
02:21Kejaksaan Agung pokoknya ini kita sikat sampai ke atas.
02:24Tidak berhenti di sini.
02:26Berhenti sekarang.
02:27Tidak ada pergerakan.
02:28Padahal dulu sudah nyebut nama orang.
02:30Ya, X, E, Z.
02:32Ini nanti targetnya.
02:33Tidak ada sekarang.
02:34Berarti kan ada hambatan di situ.
02:36Bukan hanya Polri hambatan itu.
02:38Bukan hanya Polri.
02:38Mungkin sebuah kekuatan oligarki besar.
02:42Jaringan besar.
02:43Dan sebagainya.
02:43Sehingga Presiden merasa perlu.
02:45Ini harus TNI yang turun.
02:47Mungkin ya.
02:48Mungkin ya.
02:49Pakai kunci Inggris aja dulu.
02:50Kata Presiden kepres.
02:5263 itu.
02:53Mungkin.
02:54Saya tidak tahu kan masyarakat masih bertanya.
02:56Kalau Presiden bicara.
02:57Ya masalahnya selesai.
02:58Ini Presiden kan bicara bahwa sayang nyuruh ini.
03:01Kalau tidak disuruh Presiden kan tidak boleh.
03:04Menurut undang-undang.
03:06Kan gitu.
03:06Ya.
03:07Dan itulah yang membuat Prof.
03:09Mensinyalir ini pasti ada sesuatu.
03:11Pasti ada sesuatu.
03:11Yang menjadi bagian dari desain Presiden.
03:14Terutama dalam hal ini adalah penegakan hukum.
03:16Ya.
03:17Hambatan ada dua kan.
03:18Satu di aparat penegakan hukum yang membaikinya preman, membaikinya tambang ilegal, perampasan haadat ilegal.
03:30Itu kan ada backingnya.
03:31Satu.
03:32Lalu yang kedua oligarki.
03:34Kalau sudah menyangkut oligarki tertentu.
03:36Yang menyangkut kemudian mengatur mafia anda jalan.
03:39Mungkin Presiden melihat itu.
03:42Dan dalam konteks ini kalau saya ya memaklumi.
03:46Saya tidak menganggap itu benar secara undang-undang.
03:49Tapi saya memaklumi sebagai satu langkah terobosan yang harus dilakukan daripada macet.
03:53Kira-kira begitulah.
03:57Gitu.
03:58Sebuah satu pilihan yang harus diambil karena ada satu tujuan besar yang akan dilakukan oleh Presiden Subianto.
04:05Saya berharap itu yang sebenarnya terjadi.
04:10Tapi saya tidak tahu yang sebenarnya.
04:11Kan kita belum tahu Presiden bicara apa tentang ini kan.
04:14Oke.
Komentar