- 1 year ago
Pemerintah resmi memberlakukan pajak pertambahan nilai (PPN) 12% mulai 1 Januari 2025. Kebijakan ini, tentu saja akan memberatkan bagi pelaku usaha, terutama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Tak ingin sektor UMKM terdampak paling berat PPN 12%, Pemerintah mengeluarkan jurus insentif PPh 0% alias bebas pajak penghasilan bagi penggiat UMKM yang beromzet di bawah Rp500 juta. Efektifkah di tengah penurunan daya beli masyarakat? Dan bagaimana dampak PPN 12% bagi industri UMKM? Serta apakah insentif bebas pajak penghasilan bagi UMKM beromzet di bawah Rp500 juta akan menjadi daya ungkit?
Category
📺
TVTranscript
00:00Pemirsa, mulai 1 Januari 2025, pemerintah resmi membebaskan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang beromset di bawah 500 juta rupiah dari pengenaan pajak penghasilan atau PPH, kebijakan PPH 0% ini akan menyasar pedagang-pedagang skala kecil.
00:31Pemerintah resmi memberlakukan pajak pertambahan nilai 12% bersamaan dengan kebijakan tersebut, kementerian usaha mikro, kecil, dan menengah memberikan insentif khusus berupa pembebasan pengenaan pajak penghasilan atau PPH bagi pelaku UMKM beromset di bawah 500 juta rupiah.
00:51Menteri UMKM Aman Abdurrahman menegaskan paket kebijakan ekonomi sektor UMKM ini akan menyasar pedagang-pedagang skala kecil. Kebijakan PPH UMKM 0% ini berarti UMKM terkait tidak akan dikenakan PPH sama sekali. Hal ini termasuk juga untuk pedagang-pedagang kecil seperti pedagang kaki lima.
01:21Selain itu, Menteri UMKM juga mengumumkan bahwa kebijakan PPH 0,5% dilanjutkan di tahun 2025 bagi UMKM yang memiliki omset mencapai 4,8 miliar rupiah selama tujuh tahun. Dengan demikian UMKM yang sebelumnya sudah menjalankan PPH 0,5% selama dua tahun, maka masih memiliki sisa waktu lima tahun untuk mendapatkan kebijakan tujuh tahun.
01:48Dari Jakarta, Tim Liputan, AIDA Channel.
02:19Kalau kita cermati, setelah menjadi polemik yang berkepanjangan begitu ya, akhirnya pemerintah memutuskan untuk tetap menaikan dari PPN, yaitu pajak pertambahan nilai menjadi 12% dari sebelumnya 11%.
02:34Nah, mungkin sedikit review dari Hypnotech Center seperti apa sih dengan penetapan PPN 12% ini?
02:43Terima kasih sebelumnya Mas Pras, setelah di UMKM, di market review. Jadi ketika kami teman-teman di HIPMI ini, kita sudah sering kali sebenarnya, karena memang beli dari peraturan ini sendiri kan sebenarnya di UMKM-UMKM HPP ya,
02:59peraturan berkajakan tahun 2021. Hingga ketika tahun 2025 diberlakukan, selama tahun 2024 ini juga banyak diskusus kan menyasarkan itu bagaimana produk berlakuannya, apakah jadi diberlakukan atau tidak.
03:15Nah, dari sisi kami sendiri sebenarnya sempat di diskusi kami selalu menyampaikan bahwa apakah tidak sebaiknya kebijakan tentang kenaikan 12% ini digaji ulang? Apakah ada penundaan di tahun 2025 atau seperti apa?
03:32Tetap pun, ketika memang akan tetap diberlakukan, kami sangat mengharapkan adanya semacam stimulus lah pada kebijakan ekonomi yang membersamainya begitu. Sehingga dampak yang ditimbulkan akibat adanya kenaikan PPN 12% ini tidak begitu berat.
03:49Terutama menyasar kepada golongan-golongan yang akpenan untuk nanti akan merasakan kebutuhan dari kenaikan PPN ini Mas.
03:59Oke, tapi sejauh ini apa yang mungkin ya kalau kekhawatiran dari dunia usaha khususnya HIPMI begitu melihat dengan kenaikan PPN yang menjadi 12% sementara ada satu negara yang justru menurunkan tarif PPNnya?
04:12Ya, tentunya pasti ya dengan kenaikan PPN ini kita tidak bisa lagi kemudian bersembunyi. Pastinya akan ada kenaikan terhadap ongkos produksi begitu ya. Terutama kepada barang-barang yang akan kenaikan 12%.
04:30Walaupun di paket kebijakan ekonomi kemarin kan ada 3 jenis barang ya. Ada tepung terigu, ada gula untuk industri, dan ada minyak goreng minyak kita itu yang tetap 11%. Yang satu persennya ditanggung pemerintah begitu kan bahasanya.
04:45Jadi akan ada kenaikan di ongkos produksi tentunya bagi teman-teman UMKM ini ketika nanti terutama yang akan menggunakan bahan produksi yang PPNnya kenaikan 12%.
04:58Dan pada akhirnya kan pasti akan ada kenaikan harga ya ketika ongkos produksi naik harga pasti juga akan mengalami kenaikan. Dan ini pasti daya beli masyarakat kembali lagi yang berkurang.
05:12Karena mereka pasti akan selektif dengan adanya kenaikan PPN ini. Selektif itu belanja maksudnya.
05:17Baik, dan kita lihat beragam insentif juga mengiringi dari penetapan PPN 12% di tahun 2025 khususnya di sektor UMKM yang seperti sudah Anda sampaikan tadi.
05:27Pertama bagi UMKM ini yang beromset di bawah 500 juta rupiah per tahun bebas PPH dan juga PPN. Bagaimana pandangan Anda?
05:39Ini salah satu kebijakan yang kemarin diumpan oleh pemerintah. Sebenarnya ini melanjutkan dari kebijakan sebelumnya.
05:45Karena memang UMKM dengan konsep sampai dengan 500 juta itu selama satu tahun itu memang pajaknya 0% begitu. Jadi ini sebagai kelanjutan dari kebijakan itu.
05:59Sehingga menurut saya juga merupakan ini angin segar bagi teman-teman UMKM yang sebelumnya seharusnya di tahun 2025 ini juga harus menggunakan aturan PPH secara umum.
06:10Tapi dengan adanya kebijakan ini masih ada insentif. Jadi pajaknya itu 0% untuk konsep sampai dengan 500 juta.
06:19Baik, tapi dari sisi perpajakan sendiri bagi negara Anda melihat seperti apa sih kalau kita lihat kontribusi dari PPN 12% terkait dengan penerimaan negara.
06:29Dan di satu sisi juga ada insentif ataupun stimulus justru yang diberikan juga oleh pemerintah kepada beberapa sektor usaha, komunitas bahan pangan, pokok, dll.
06:42Tentunya ini ya mas, secara hitung-hitungan proyeksi ini bagi penerimaan negara.
06:48Kalau kita melihat dari kenaikan sampai dengan 12% PPN ini mungkin ada angka sekitar 70-75 triliun lah yang bisa dikantong dengan kondisi tidak terjadi penurunan yang drastis dalam sisi transaksi dalam kondisi ini.
07:05Artinya dengan adanya kenaikan PPN 12% ini ada proyeksi penerimaan PPN yang naik sampai dengan 75 triliun.
07:13Meskipun tadi yang mas tersampaikan terkait dengan paket kebijakan ekonomi ya.
07:24Kita akan nanti bahas lebih jauh begitu dari dunia usaha seperti apa sih memandang dari penerapan ataupun insentif yang diberikan untuk sektor UMKM.
07:32Apalagi yang memang beromzet dibawah 500 juta rupiah per tahun.
07:35Kita akan bahas nanti di sektor berikutnya nanti juga akan bergabung Bapak Ronald Wallah dari Apino dan Pemirsa.
07:41Pastikan Anda masih bersama kami.
07:52Terima kasih Anda masih bergabung bersama kami dalam market review dan berikut ini kami sampaikan data untuk Anda terkait dengan insentif PPH.
08:00Untuk sektor UMKM selengkapnya bisa Anda saksikan di layar televisi Anda.
08:04Ini dia kriterianya per 1 Januari 2025 omzet dibawah 500 juta rupiah PPHnya 0%.
08:10Kemudian UMKM dengan omzet 4,8 miliar rupiah PPHnya 0,5%.
08:17Dan berikutnya kita lihat jumlah UMKM dalam 5 tahun terakhir.
08:22Selengkapnya bisa Anda saksikan dari 2019 sampai dengan 2023 dimana terakhir 2023 sudah tercatat ada 66 juta pelaku UMKM di Indonesia.
08:33Berikutnya kita akan lihat peran UMKM dari sisi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
08:38Keseluruhan unit usaha itu sekitar 99% dimana kontribusi UMKM 61% dari PDB atau setara dengan 9.580 triliun rupiah.
08:50Kemudian penyerapan tenaga kerjanya ada 117 juta pekerja atau 97% dari total tenaga kerja di Indonesia.
08:58Itu dia UMKM yang masih menjadi backbone dari geliat aktivitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
09:06Baik kita lanjutkan kembali perbincangan bersama dengan Mas Abdul Ghafour WQ Ketua HIPMI Tech Center
09:11dan sudah bergabung juga ini Pak Ronald Wallah Ketua Bidang UMKM dan Koperasi Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo.
09:19Halo Pak Ronald apa kabar?
09:27Baik Bapak terima kasih atas waktu yang disempatkan.
09:29Pak Ronald tadi sudah disampaikan pembahasan pertama terkait dengan penerapan dari bebas PPH ataupun 0% untuk sektor UMKM kita.
09:38Tapi sebelumnya kita akan update lebih dahulu bagaimana sih Pak kondisi sektor UMKM kita di sepanjang tahun 2024?
09:48Mungkin kita sudah mendengar ya cukup beberapa tahun terakhir memang dari segi usaha, UMKM, kita melihat saving menurun
09:59dari middle income class dan small income class dan kami melihat cukup banyak challenge mulai dari sisi ekonomi, geopolitik, logistik,
10:13karansi dari exchange ya, karansi exchange dengan US dollars juga.
10:21Jadi kami melihat banyak sekali challenge kena crop juga ya, panen juga sedang banyak yang kena challenge.
10:29Jadi kita juga lihat data-data proof ya bahwa penjualan mobil turun, penjualan motor stagnan.
10:37Jadi menurut kami ini cukup memprihatinkan dan kami membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah agar bisa mendukung kehidupan para UMKM agar bisa tarah.
10:49Dan khususnya kalau kami di Apindo, kami selalu mempromote atau menginisiatifkan program-program penampingan UMKM
10:59agar jenis usaha UMKM kita bisa lebih luas ya, jadi bukan hanya itu-itu aja, tetapi juga memperluas jenis rapaan pekerjaan
11:09sehingga bisa memperluas kreativitas dan memberikan nilai tambah terhadap konsumen dengan memproduksi produksi dan jasa yang lebih baik.
11:19Baik, dan di satu sisi pemerintah sudah resmi ini menaikkan PPN mulai 1 Januari 2025 mendatang menjadi 12 persen.
11:28Apakah akan berdampak signifikan juga terhadap sektor UMKM nasional kita nih Pak?
11:33Iya, khususnya kan karena UMKM kita biarpun kebanyakan dari makanan-minuman dan keranjinan ya,
11:41tetapi juga mulai banyak UMKM kreatif dan bernilai teknologi tinggi, nah itu masih banyak yang pernah pengaruh oleh bahan-bahan baku yang terkena menjadi 11-12 persen.
11:56Jadi itu yang mungkin cukup perlu diperhatikan, Pak.
12:00Baik, tapi di satu sisi juga meskipun naik 12 persen, tapi ada beragam insentif nih yang diberikan khususnya untuk sektor UMKM.
12:08Nah, apakah ini bisa menjadi sweetener, begitu menjadi salah satu buffer juga nih dengan penerapan PPN 12 persen tadi, Pak?
12:15Iya, kalau kita lihat itu mungkin termnya insentif 1 persen gitu ya, sementara untuk UMKM.
12:23Kita juga sebetulnya, to be fair, kita mengapresiasi pemerintah dengan yang di bawah 500 juta dinolkan, lalu yang 4,8 miliar diperpanjang sampai 2025.
12:38Tapi walaupun begitu, menurut data yang kami dengar bahwa sebetulnya kontribusi pajak finans 1,5 persen itu pun juga sebetulnya tidak terlalu banyak ya,
12:49yang dibayarkan oleh UMKM. Jadi sebetulnya yang kami, kalau kita lihat isu-isu utama dari UMKM itu ya itu informasi pasar dan akses pasar.
13:00Dan kita sering mendengar bahwa belanjaan negara, LKPP, e-katalog itu sudah sebetulnya penerapannya banyak ya, ratusan miliar.
13:11Dan itu yang sebetulnya kami selalu ingatkan, dan selalu inisiatif pemerintah agar dibikin lebih friendly,
13:20dan semakin banyak UMKM yang onboarding, semakin banyak yang bisa belajar, berbisnis, mulai dari skala yang lebih kecil, skala yang lebih besar,
13:27dan pembayaran pajak itu sebetulnya adalah imbas ya dari kreativitas dan produktivitas dari UMKM.
13:35Jadi intinya adalah penampingan untuk meningkatkan produktivitas lah, itu yang penting.
13:39Oke, itu dia ya, pendampingan untuk bisa menambah lagi daya saing begitu ya dari pelaku UMKM di Indonesia.
13:46Nah, HIPMI Tech Center melihat bagaimana, apakah pembebasan PPN atau PPH tadi yang sudah disampaikan
13:51bagi UMKM di bawah 500 juta rupiah per tahun ini akan mempengaruhi tidak terkait dengan penerimaan negara juga?
14:00Oh, iya Mas Blas. Kalau kita melihat, tadi yang disampaikan oleh Pak Rommel, memang secara penerimaan negara,
14:08kondisinya tidak terlalu signifikan lah mempengaruhi ketika memang ada pembebasan untuk UMKM yang
14:15omsetnya selama satu tahun itu masih 500 juta ke bawah. Karena memang ketika kita coba disimulasikan,
14:22memang ketika omset 500 pun, itu kan PPH-nya kalau kita angkat sebagai 0,5 persen ya, sekitar 2,5 juta ya,
14:30dengan tadi sebaran UMKM sebanyak hampir 60 juta, misalnya kita langsung cekan yang 500 juta itu undangnya sekitar 50 persennya
14:40ya mungkin hanya di sekitar angka-angka lebih dari 25 juta ya.
14:46Dibanding dengan penerimaan total sektor pajak yang mencapai hampir 1.000, bahkan hampir 2.000 ya,
14:542.000 triliun untuk semua sektor penerimaan negara ini.
14:57Baik, tapi secara umum bisa menjadi booster tidak sih untuk bagaimana geliat aktivitas sektor UMKM kita
15:03begitu meskipun tadi tidak terlalu tinggi berarti begitu ya pajak ataupun PPH yang dikenakan untuk sektor UMKM?
15:11Kalau kita bicara mungkin seperti yang dilihat itu mas, kita juga belum melihat tidak hanya insentif di sektor PPH ya,
15:18tentunya tadi juga kita bisa melihat ketika memang teman-teman UMKM itu memang tidak ada yang dikenain PPN
15:24dalam arti yang memang kan bagus untuk membuat atau memproduksi suatu barang itu dikenakan PPN,
15:30itu ya pasti akan tetap menaruh ya dengan harganya yang dikenakan ini, yang dikenakan 12 persen ini mas.
15:37Nah Pak Ronald lantas insentif apa dong berarti yang mungkin bisa mengakomodasi kebutuhan pelaku UMKM juga di tengah
15:44tadi yang Anda sebutkan daya beli masyarakat yang sedang menurun,
15:47ada penurunan kelas di masyarakat begitu sehingga menjadi tantangan tersendiri lah,
15:52oke lah ada PPN tapi ada insentif tapi di satu sisi kita pun mau memproduksi barang,
15:57siapa yang akan membeli dan pasarnya kemana begitu Pak Ronald?
16:01Ya insentif ini namanya dunia usaha UMKM ya, kita nggak melihat UMKM saja, usaha besar juga banyak.
16:07Jadi sebetulnya banyak Pak ya, tapi kalau kita simplify Pak,
16:11kembali lagi informasi pasar, akses pasar itu satu,
16:14lalu kedua ekosistem untuk penampingan kewirausahaan UMKM,
16:18lalu ketiga yaitu konten dari ekosistem tersebut yaitu penampingan yang berkelanjutan,
16:23jadi bukan hanya sertifikasi-sertifikasi saja.
16:26Nah setelah ada tiga ini, danaan risiko non-performing loan dan lain sebagainya akan bisa dikurangin,
16:35dan kita juga melihat bahwa sebetulnya kalau kita lihat 4,8 miliar ini, ini kan sudah mulai dari 2014 ya Pak ya,
16:43jadi kalau kita melihat secara inflasi atau secara bunga bank,
16:48itu sekarang tuh nilai 4,8 itu sudah menjadi paling nggak sekitar 7-9 miliar rupiah gitu Pak,
16:54jadi teman-teman juga menginginkan agar sebetulnya benchmark dari 4,8 ini dinaikkan menjadi 10 miliar gitu Pak,
17:02jadi satu dari perpajakan akan, kita sering mendengar beberapa tahun ada namanya sahabat pajak ya Pak ya,
17:08sahabat pajak menurut kami itu cukup baik, cukup memotivasi UMKM untuk bisa bekerja,
17:14dan mengurangi rasa takut gitu ya, kan sekarang ini kalau nggak mau, ya pajak itu pajak gitu ya,
17:21dan diadakan penampingan dari perpajakan, kita naikkan benchmarknya menjadi 10 miliar,
17:26lalu secara penampingan dan secara lapangan pekerjaan, otomatis akan bisa terfasilitasi,
17:35lalu kita sering mendengar ada kata-kata vilirisasi ya, insentif dari pemerintah,
17:40tapi kita juga jangan lupa bahwa setelah produk dan jasa terjadi,
17:45tentunya bahan baku raw material itu harus tersedia dengan konsisten,
17:50dengan itu kebanyakan barang kita 70% lebih adalah import,
17:53jadi industri hulu juga harus disediakan Pak,
17:59agar para UMKM bisa memproduksi barang dan jasanya dengan lebih konsisten dan sustainable Pak.
18:06Itu dia akses pasar, kemudian ekosistem untuk UMKMnya sendiri,
18:10dan pendampingan berkelanjutan,
18:12dan salah satu insentif yang diberikan bagi sektor UMKM,
18:15terkait dengan penetapan PPN 12% di tahun depan,
18:18adalah selain perpanjangan masa belaku PPF final 0,5% tadi, kemudian 500 juta 0%,
18:24kemudian skema pembiayaan industri padat karya, termasuk di dalamnya UMKM.
18:29Nah ini skema-skema pembiayaan ini kan memang masih menjadi hal yang sangat krusial
18:32dan fundamental nih bagi pelaku UMKM nasional kita nih Pak.
18:36Ya karena banyak sekali UMKM yang masih belum bankable ya Pak ya,
18:40dan juga banyak sekali pembiayaan itu yang baru hanya sekali-sekali aja,
18:44sedangkan usaha itu kan kalau tumbuh malah butuh biaya lebih gitu ya.
18:48Jadi harus saya apresiasi dengan ini adanya informasi pasar, akses pasar yang sudah terjadi.
18:52Dan juga tadi penambahan dari 4,8 miliar di naikkan menjadi 10 miliar Pak,
18:57karena sekarang sudah 4,8 itu sekarang tahun 10 tahun kemudian,
19:02tahun 2014 itu nilainya sudah sekitar 7-8 miliar rupiah Pak.
19:06Jadi nilainya sudah menurun gitu, sudah kurang relevan lagi gitu Pak.
19:10Baik lantas apa yang perlu dilakukan begitu apabila memang UMKM tadi sudah disampaikan juga di awal
19:16masih menjadi penopang tulang bumbung perekonomian nasional Pak Ronald?
19:20Ya tentunya UMKM kita sangat kreatif ya karena sudah di level survival Pak ya,
19:29harus hidup gitu, kita juga melihat keadaan lapangan bahwa banyak sekali industri-industri baru secara online,
19:36secara baik formal atau informal itu kelihatan tumbuh pesat Pak.
19:41Tetapi kalau kita lihat high touchnya yang menurun jadi lebih ke malah ke low touch gitu.
19:46Nah kalau ke low touch akhirnya ya kita berkompetisi di dunia internasional lebih susah lagi.
19:52Itu mungkin yang harus kita perhatikan Pak.
19:54Baik-baik, nah Mas Abdul Ghafur lantas bagaimana kalau dari sisi penerimaan ini menarik.
19:59Dari satu sisi memang Anda katakan tidak memberikan dampak yang signifikan apabila memang
20:05insentif-insentif yang diberikan ini terhadap penerimaan negara.
20:09Tapi kan di satu sisi UMKM ini benar-benar menjadi penopang dari ekonomi nasional.
20:14Jadi apakah perlu ada perhatian yang lebih besar lagi dibandingkan dengan beberapa insentif yang diberikan
20:20terkait tingkat kenaikan BPN 12 persen di tahun depan, Anda melihatnya bagaimana?
20:25Iya, kalau kita melihat tentang bagaimana insentif yang kemarin
20:30pada kebijakan ekonomi yang disampaikan dan diuruskan oleh pemerintah
20:34memang ada beberapa golongannya angkatan dampak lah.
20:37Yang saya nggak langsung itu kan pasti ada juga di situ ada teman-teman UMKM yang akan memperolehnya.
20:43Kan memang tadi kita dengarkan bahwa memang kita teman-teman UMKM ini
20:48sebagian besar bergerak di bidang ini ya industri pangan begitu.
20:52Kemudian ada juga perajinan.
20:54Nah, untuk hal-hal yang berkaitan dengan industri pangan, produksinya,
20:59secara BPN kemarin memang kalau di Indonesia ini
21:04kebutuhan pokok kan memang tidak ada BPN-nya ya.
21:07Bukan BPN, kecuali untuk hal-hal yang premium gitu.
21:10Kemarin ada yang disampaikan juga untuk peras premium, kemudian daging premium,
21:15bahkan sampai jasa pendidikan dan jasa kesehatan yang kemarin itu yang akan mengambil BPN.
21:20Tapi untuk selain itu memang tidak kena BPN.
21:23Dan juga yang tadi kita dengar bahwa tetap di angka 11%
21:27untuk gula, industri, kemudian untuk tepung terigu, begitu.
21:31Itu hal-hal yang mungkin bisa menjadikan penerbangan BPN di sini
21:36tidak terlalu berbenda dengan adanya kemainan BPN 12% ini.
21:42Baik, Mas Ghafur. Dan parolatual terakhir dari Anda,
21:45optimisme terkait dengan menyambut tahun 2025,
21:48dengan tantangan ekonomi kita begitu ya.
21:50Memang masih mencoba bertahan atau bertumbuh di 5%,
21:53tapi ada penurunan daya beli masyarakat,
21:55tapi kita diharapkan juga bisa menjadi penopang ekonomi nasional
21:58untuk di tahun depan dan mungkin tahun-tahun berikutnya untuk UMKM kita.
22:02Iya, betul sekali, Pak.
22:03Karena kita melihat ini sedang banyak pergantian pemerintahan, Pak.
22:07Tidak di Indonesia saja, tapi juga di dunia internasional.
22:10Jadi kita melihat optimis dan teruja sebetulnya
22:14untuk melihat transformasi apa yang akan dilakukan
22:18terutama oleh Presiden terpilih kita, Presiden Prabowo dan Gibran.
22:23Dan kalau dari kami, kembali lagi, pentingnya pendampingan yang berkelanjutan.
22:29Jadi kita sudah memformulasikan.
22:31Banyak sekali pengusaha-pengusaha yang sukses, mau nggak mau,
22:34kita yang sudah bekerja, yang sudah melakukan pekerjaannya,
22:39bisa mentransfer knowledge ke para mereka-mereka yang membutuhkan.
22:44Dan banyak sekali pengusaha dan praktisi yang ingin untuk
22:48mentransfer knowledge mereka ke UMKM.
22:50Tapi ini semua membutuhkan biaya untuk pendampingan berkelanjutan.
22:54Jadi kita juga mensimulasikan biaya kira-kira 2,5 triliun
22:59itu bisa untuk memberikan movement dari profesional dan pengusaha
23:06untuk memberikan coaching atau mentorship kira-kira untuk 500-600 ribu UMKM setahunnya.
23:14Nah ini mungkin yang ekosistem ini yang kita lakukan di Apindo
23:18dan kita sebetulnya juga bisa melakukan bersama-sama.
23:21Berarti terus berupaya untuk mewujudkan ataupun menciptakan
23:25entrepreneur baru di Indonesia untuk sektor UMKM kita.
23:28Sehingga akan menjadi salah satu lagi-lagi itu menjadi penggerak ekonomi Indonesia
23:33dengan munculnya bibit-bibit baru pelaku usaha UMKM Indonesia.
23:36Dan intinya dari UMKM dari daerah Pak.
23:39Jadi kita menciptakan cultural economy di daerah.
23:43Itu dia berarti pembangunan pemerataan pelaku UMKM
23:47juga harus tersebar merata dari Sabang sampai Merauke begitu ya Pak Ronald.
23:51Baik, sayang sekali waktu terbatas ini Pak Ronald terima kasih banyak
23:54atas waktu kehadiran dan informasi serta update yang sudah Anda sampaikan Mas Abdul Ghafur.
23:58Terima kasih juga atas analisis dan informasi yang sudah Anda berikan kepada pemirsa.
24:02Pada hari ini maju terus juga untuk sektor UMKM Indonesia.
24:05Sampai berjumpa kembali, salam sehat. Terima kasih.
24:08Terima kasih.
24:10Baik pemirsa, satu jam sudah saya menemani Anda dalam Market Review
24:13dan berbahari terus informasi Anda hanya di IDX Channel,
24:16Your Trustworthy and Comprehensive Investment Reference.
24:19Karena urusan masa depan harus terdepan, aku investor saham.
24:23Ya saya Prasetyo Wibowo beserta seluruh kerebatan kerja yang bertugas pamit undudiri.
24:28Terima kasih, sampai jumpa.
24:32Terima kasih.
25:02Terima kasih.
Comments