- 2 years ago
VIVA – Di episode kali ini, kita akan membahas potensi besar ekonomi digital Indonesia bersama Bapak Nurul Ichwan, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal di Kementerian Investasi BKPM. Dalam diskusi ini, kita akan mengupas tantangan dan peluang yang dihadapi dalam transformasi digital serta peran penting pemerintah dalam mendorong kemajuan ekonomi dan investasi. Jangan lewatkan wawasan menarik tentang OSS, perkembangan ekonomi digital, serta pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor usaha, dan pendidikan untuk mendorong Investasi tumbuh Indonesia Maju.
Category
🗞
NewsTranscript
00:00Intro
00:10Halo, Viva Dians!
00:12The Interview Insight hari ini, ya di podcast hari ini kita akan mendiskusikan nih
00:17topik-topik yang menarik sekali dan pastinya penting untuk diperhatikan
00:20seputar perkembangan ekonomi, teknologi, dan juga investasi.
00:25Dan di episode hari ini, di The Interview Insight hari ini,
00:29kita akan membahas nih bagaimana potensi besar ekonomi digital Indonesia
00:33yang memang semakin berkembang pesat ya.
00:35Era transformasi digital ini memang membuat kita harus untuk lebih peka dan aware
00:40untuk segela beradaptasi pastinya dengan perubahan yang ada.
00:43Saya akan ajak Anda untuk melihat bagaimana sih peluang dan juga tantangan di sektor ini
00:48serta bagaimana juga peran penting pemerintah dalam bisa mendorong kemajuan ekonomi digital.
00:53Investasi tumbuh, Indonesia maju!
00:56Saya Evelina Tan dan disini sudah hadir juga bersama dengan kita ya Bapak Nurul Ikhwan
01:02ini Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi BKPM.
01:08Ini kalau sudah disamping seorang dari Kementerian Investasi gitu ya
01:12langsung bayangannya adalah oke jadi bisa dapat pendanaan berapa banyak ya ini ya?
01:18Apakah begitu?
01:19Sebenarnya perlu diluruskan.
01:21Jadi memang persepsi dari banyak kalangan secara umum karena disitu
01:25badan koordinasi penanaman modal.
01:28Jadi karena ada modalnya itu banyak orang yang menyangka bahwa kita menyiapkan pendanaan
01:32ataupun pembiayaan.
01:33Ini yang harus diluruskan karena sebenarnya Kementerian Investasi BKPM ini
01:37dealingnya adalah lebih banyak kepada regulasi dan perizinan.
01:42Kenapa disebut badan koordinasi penanaman modal?
01:45Karena penanaman modal ini bahasa umumnya adalah investasi.
01:49Jadi setiap kali ada yang mau berinvestasi baik dari dalam negeri
01:54ataupun dari luar negeri selama berada di sektor real bukan sektor keuangan
01:59dan bukan upstream oil and gas itu perizinannya dikeluarkan oleh Kementerian Investasi BKPM.
02:05Jadi bukan menyiapkan pembiayaan tapi menyelenggarakan pemberian perizinan.
02:10Sudah jelas ya jadi ternyata berbeda.
02:12Justru memang dari Kementerian Investasi ini mengeluarkan izin terlebih dahulu
02:17supaya ini bisa dilanjutkan ke OJK itu ya tadi.
02:19Untuk pendanaan untuk bank dan lain sebagai macam gitu ya.
02:22Oh iya bisa sumber pembiayaannya bisa dari lembaga-lembaga keuangan
02:25yang perizinannya dikeluarkan oleh OJK.
02:28Nah kalau misalnya nih bagi mungkin para UMKM ataupun perseorangan gitu
02:32dan mungkin belum terlalu paham gitu ya.
02:34Sebenarnya seberapa beneficial sih gitu ya?
02:37Seberapa bermanfaatnya dan apa perbedaannya
02:39kalau orang yang berusaha tanpa izin atau license itu
02:43dan menggunakan izin dari Kementerian Investasi?
02:46Nah kita dari pemerintah kan menginginkan setiap usaha kecil itu
02:50dia bisa dari mikro dulu lah.
02:52Dari mikro dia bisa masuk ke usaha kecil.
02:55Dari kecil bisa masuk ke usaha menengah,
02:57sukur-sukur setelah itu naik kelas lagi ke usaha besar.
03:00Nah untuk bisa masuk ataupun naik kelas itu,
03:03ini kan dibutuhkan pembiayaan.
03:06Artinya meningkatkan kapasitas produksinya,
03:09karena kemudian marketnya terbuka sangat luas.
03:12Maka perusahaan-perusahaan yang usaha mikro dan kecil ini
03:15dia pasti membutuhkan pinjaman-pinjaman dari perbankan.
03:18Nah sementara ini perbankan bisa menyiapkan pinjaman-pinjaman pembiayaan itu
03:24kalau memang ada perizinan yang resmi
03:27yang dimiliki oleh usaha mikro dan kecil tadi.
03:30Nah disinilah peran dari kami
03:32dalam mereka memberi akses kepada usaha mikro dan kecil ini
03:35kepada pinjaman perbankan ataupun lembaga keuangan yang lainnya,
03:38dia kita berikan izin, nomor induk berusaha.
03:42Nah sekarang kalau sudah punya nomor induk berusaha,
03:45perbankan bisa memproses atau bisa dibilang bankable dari sisi perizinannya.
03:50Nah yang penting juga adalah sekarang kan era digital,
03:52apakah memang kemudahan untuk mendaftarkan, mendapatkan laisensi ini semudah online juga?
03:57Kita punya platform yang disebut dengan OSS ya,
03:59Online Single Submission.
04:01Orang mau melakukan pendaftaran perizinan,
04:04misalnya katakanlah sektornya ada di kementerian teknis tertentu.
04:09Jadi dia harus keliling dulu ke sana,
04:11kemudian juga kementerian tenaga kerja lagi,
04:13kemudian kementerian yang lainnya, kepajaran segala macam,
04:15baru setelah itu datang ke BKPM.
04:18Nah sekarang dia cukup lewat OSS itu,
04:21tidak ada pertemuan orang dengan orang,
04:23langsung submit ke sana, kemudian diproses.
04:26Mengenai bagaimana perkembangan digital ya,
04:28terutama secara spesifiknya ekonomi digital.
04:31Ini perkembangannya luar biasa, seperti apa nih?
04:33Dari pandu rul melihatnya dalam beberapa tahun terakhir ini.
04:35Rule of thumbnya,
04:37bisnis atau investment is led by market.
04:40Market dalam konteks ini adalah,
04:42sudah pasti yang orang tidak akan mengikari adalah,
04:44ketika satu negara punya jumlah populasi yang besar,
04:47itu potensi marketnya sangat besar sekali.
04:50Ya tapi tentunya jumlah saja tidak cukup,
04:53untuk menjadikan dia menjadi market yang potensial.
04:56Kemampuan daya belinya harus ada.
04:58Nah Indonesia,
05:00dengan penduduk 4 terbesar populasinya di dunia,
05:04terbesar di ASEAN,
05:06kemudian pertumbuhan ekonominya juga selalu positif,
05:08ini memunculkan kombinasi yang luar biasa.
05:11Jadi jumlah market gitu ya,
05:13volumenya ditambah dengan daya belinya,
05:16memang masih ada di sana.
05:17Nah tidak terkecuali pada bisnis digital pun,
05:20masih mengikuti rule of thumb itu.
05:22Sehingga di Indonesia,
05:24sebagai negara dengan populasi keempat terbesar di dunia,
05:27itu kalau dibandingkan dengan negara-negara ASEAN yang lainnya,
05:30kita selalu lebih tinggi.
05:32Selalu lebih tinggi.
05:33Jadi kalau misalnya kita bandingkan,
05:35di tahun 2023 misalnya ya,
05:38itu nilai dari ekonomi digital Indonesia itu,
05:42di tahun 2023,
05:44itu sekitar 77 miliar dolar.
05:48Sementara di negara yang lainnya,
05:50misalnya di Malaysia itu cuma 22,
05:52kemudian di Vietnam cuma 25,
05:54kemudian Thailand itu agak tinggi,
05:56di 31 gitu ya.
05:58Singapura biarpun dia kaya,
06:01tetapi kan jumlah penggunanya sedikit gitu ya,
06:04dia hanya bisa di 20.
06:05Kemudian Filipina cuma 22.
06:07Jadi jauh dibandingkan dengan Indonesia.
06:09Bahkan kalau kita mau coba proyeksikan,
06:12ke tahun 2045 gitu ya,
06:152030 lah jangan sampai 2045,
06:172030,
06:18itu ekonomi digital Indonesia,
06:20itu bisa sampai 360 miliar nilainya.
06:24Dolar ya, dolar.
06:26Nah ini yang menyebabkan,
06:28ekonomi digital kita akan tetap tumbuh gitu.
06:31Nah ini pun sebenarnya,
06:33didukung oleh adanya generasi-generasi muda,
06:36misalnya Gen Z lah,
06:37contohnya,
06:38seperti Amber Evelyn.
06:40Tidak ada hari tanpa handphone,
06:43tidak ada hari tanpa,
06:44tidak memesan paket,
06:46e-commerce, sosmed,
06:47semuanya kan ada di situ.
06:48Itu yang memberikan kontribusi terhadap ekonomi digital Indonesia,
06:51sangat dinamis sekali.
06:52Oke, ternyata kita ini generasi yang berguna juga ya,
06:55dan memajukan ekonomi negara.
06:58Kita konsumtif dan kalap kadang-kadang ya.
07:00Tapi ingat,
07:02sifat konsumtif itu dari sisi ekonomi,
07:04positif mbak.
07:05Karena dia berkontribusi terhadap pengeluaran gitu ya,
07:08jadi dinamika ekonominya menjadi sangat besar.
07:11Bahkan,
07:12kalau kita lihat dari sisi kontribusi,
07:14berapa persen ekonomi digital,
07:16kontribusinya terhadap GDP,
07:17di Indonesia itu kalau 2021,
07:19itu kontribusinya sekitar 40 persen.
07:21Di tahun 2030,
07:23itu harapannya kontribusinya bisa sampai 87 persen.
07:28Tapi pertumbuhannya dari tahun sebelumnya itu sekitar 11 persen,
07:33peningkatannya.
07:34Kemudian berikutnya di 2045 itu bisa sampai 19 persen.
07:37Nah, ini yang memberikan gambaran,
07:40karena memang ekonomi Indonesia kan kontribusinya,
07:43GDP-nya sebagian besar dari konsumsi.
07:45Nah, ini ekonomi digital kita pun,
07:47banyak juga supportnya adalah dari sisi konsumsi tadi,
07:50yang memanfaatkan teknologi digital.
07:52Luar biasa banget ya.
07:53Tapi apa saja sih sebenarnya faktor utama
07:55yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia?
07:58Itu yang pertama jelas adanya jumlah generasi muda
08:02dan usia produktif yang luar biasa.
08:04Tadi kita sudah bahas juga,
08:06bahwa gen Z dan milenial itu sangat melek banget teknologi.
08:10Kemudian juga penetrasi terhadap akses terhadap internet.
08:14Nah, itu juga artinya,
08:15kalau pun misalnya mereka punya handphone,
08:17tetapi akses terhadap internetnya tidak bagus,
08:19maka interaksi mereka memanfaatkan platform digital
08:22juga akan semakin terbatas.
08:24Nah, yang ketiga,
08:25terbangunnya juga infrastruktur digital tersebut.
08:28Nah, misalnya tadi aksesibilitas dari satelitnya,
08:32kemudian dari fiber optiknya,
08:34kemudian dari data center-nya.
08:36Nah, kalau ini tidak tercipta,
08:38maka kemudian sangat terbatas sekali
08:40kemampuan dari ekonomi digital itu
08:42memfasilitasi perkembangan volume ekonomi digital
08:46yang terus berkembang di Indonesia.
08:47Betul, betul, betul.
08:48Apalagi saya itu sebenarnya asalnya dari Maluku, Pak.
08:51Jadi, saya merasakan betul seperti beda dunia ya.
08:54Nah, sebenarnya pemerataan ini,
08:56akses internet,
08:57kemudian infrastruktur dan lain sebagain macam,
08:59seperti apa nih kebijakan mungkin dari pemerintah
09:01atau seperti apa Pandoro melihatnya?
09:03Iya, kita sudah dengan pala paring,
09:06kita sudah-sudah membangun juga ya.
09:08Artinya itu sudah menyatukan Indonesia sebagian besar.
09:11Kemudian lagi dengan yang kemarin Satria,
09:15itu juga lebih membangun,
09:16dan kita juga akan membangun fiber optik
09:18yang lebih menyatukan lagi dengan kapasitas
09:20nanti mudah-mudahan 5G sudah bisa tersedia.
09:23Artinya dari sisi kecepatan,
09:25dari sisi volume-nya,
09:26ini sudah bisa memberikan bantuan,
09:28bukan hanya pada kehidupan sosial,
09:30tetapi juga publik ataupun pemerintahan,
09:33dan juga kepada sektor-sektor manufaktur
09:35dan produktif tadi.
09:37Nah, kalau berdasarkan pemetaannya,
09:39itu yang paling besar kan memang di Jawa.
09:41Tapi di Jawa itu pun masih bisa dioptimalkan
09:43pemanfaatannya untuk kegiatan-kegiatan yang produktif.
09:46Sumatera juga masih belum optimal.
09:48Nah, sementara kalau untuk di Kalimantan,
09:51pemetaannya itu,
09:52mereka masih kurang dukungan dari sumber daya manusianya
09:55untuk bisa mengoptimalkan tadi
09:57fasilitas-fasilitas ataupun infrastruktur yang ada di situ.
10:00Nah, sementara untuk Maluku dan Papua,
10:03memang masih sangat terbatas.
10:05Jadi tadi di kampung halamannya Mbak Evelyn,
10:07memang ini termasuk bagian memang
10:09masih belum dioptimalkan ketersediaan jaringannya.
10:12Tapi begitu pun, kapasitas yang sudah ada ini
10:15belum secara optimal dimanfaatkan
10:17untuk kegiatan produktif.
10:18Nah, ini juga yang sebenarnya
10:20perlu menjadi pemahaman kita sama-sama.
10:23Tadi kita sudah bicara optimis bahwa
10:25dari sisi digital itu,
10:26market kita sangat luar biasa besar.
10:28Tetapi kalau kita coba cermati,
10:30pada sektor apasajakah
10:32ekonomi digital itu terkontribusikan secara maksimal
10:35atau paling besar,
10:36itu rata-rata adalah pada sektor jasa.
10:38Misalnya, kita lihat di sektor
10:41yang di digital online
10:44untuk yang e-commerce.
10:46E-commerce itu kontribusinya paling besar.
10:48Setelah itu masuk ke transportasi
10:50dan juga food.
10:51Nah, ini kan artinya
10:53masih pada sektor jasa semua.
10:55Padahal perkembangan digital teknologi,
10:57khususnya yang berkaitan dengan artificial intelligence
11:00dan juga untuk semua yang berbau
11:02digital sensor dan segala macam,
11:04itu di negara yang maju,
11:06penyerapannya, penetrasinya sampai
11:08kepada sektor-sektor produktif, manufakturing.
11:10Ini kan, teknologi ini kan dimunculkan
11:12dari negara-negara maju.
11:13Yang negara-negara maju ini
11:15punya persoalan klasik
11:17bahwa mereka tidak punya cukup sumber daya manusia.
11:20Aging population.
11:21Nah, karena aging population ini,
11:23apa namanya,
11:24hegemoni dia yang sudah menguasai perekonomian
11:26secara global,
11:27sejak dari zaman penjajahan sampai sekarang,
11:29tetap dipertahankan dengan inovasi-inovasi mereka.
11:32Muncullah karena teknologi digital ini
11:34menguasai sektor-sektor produksi mereka.
11:37Sehingga industri tidak lagi didukung
11:40oleh sumber daya manusia yang berlimpah,
11:42tetapi tetap dengan produktivitas yang tinggi,
11:44dengan keekonomian yang bisa tercapai dengan baik.
11:47Makanya muncullah inovasi-inovasi
11:49dengan memanfaatkan teknologi
11:51dan sumber daya manusia yang terbatas.
11:53Nah, ketika dia kemudian berinvestasi
11:55masuk kepada negara ketiga
11:57atau negara berkembang atau emerging market,
11:59tidak mungkin mereka berubah lagi strateginya.
12:01Karena mereka tahu,
12:02dengan teknologi digital ini,
12:04mereka bisa lebih produktif,
12:05produktivitasnya tinggi.
12:07Daya saingnya juga tinggi.
12:09Nah, dua hal ini kan yang memenangkan persaingan.
12:11Karena begitu dia pindah berinvestasi
12:13ke negara berkembang atau emerging market,
12:15dia tetap membawa teknologi ini.
12:18Sehingga,
12:19begitu dia masuk ke kita,
12:21yang dia bawa adalah teknologi
12:23yang sudah lebih maju
12:24untuk bisa diterapkan di Indonesia.
12:26Nah, hanya memang di Indonesia,
12:28kita belum punya cukup sumber daya manusia
12:30yang bisa mendukung teknologi tadi.
12:32Karena ini menjadi tantangan kita.
12:34Sehingga,
12:35bagaimana caranya supaya kontribusi
12:37dari sektor digital ini bisa berkontribusi,
12:40bukan hanya pada sektor jasa,
12:42tetapi juga industri-industri manufaktur,
12:44maka penguasaan teknologi
12:46dan peningkatan kualitas sumber daya manusia
12:48yang melek terhadap teknologi,
12:49itu harus tetap ditingkatkan.
12:51Jadi, tidak boleh ada keterpisahan
12:53antara sektor sumber daya manusia
12:55dengan teknologi yang tinggi
12:57untuk bisa menjawab persoalan-persoalan
12:59ekonomi dan kebangsaan,
13:01yang harus kemudian keduanya dikolaborasikan,
13:03melahirkan inovasi-inovasi,
13:05menjawab persoalan-persoalan kebangsaan tadi.
13:07Wah, yang tadi sudah disampaikan gitu ya,
13:09orang-orang di negara maju,
13:11itu mereka sumber daya,
13:13jumlah orangnya sedikit,
13:14tapi teknologinya sangat maju.
13:16Sedangkan, let's say di Indonesia,
13:18kita akan menuju Indonesia emas
13:20yang begitu banyak sekali populasi manusianya,
13:22tapi dari segi mungkin edukasi ya,
13:24bisa kita bilang seperti itu juga ya,
13:26edukasinya itu belum di-upgrade
13:28untuk bisa memanfaatkan secara produktif.
13:30Nah, ini kemudian membawa Eveline jadi teringat
13:32kepada agritek ya,
13:34agrikultur teknologi ini juga baru sepertinya.
13:38Di Indonesia ini belum banyak yang melet nih,
13:40terutama karena Indonesia juga negara yang
13:43kaya dengan sumber daya alam itu sebenarnya.
13:45Seperti apa nih, Pak Nurul melihatnya?
13:47Ya, sebenarnya agritek pada saat ini pun,
13:49menurut saya, pengamatan,
13:51mohon maaf, sebatas kelemahan saya mengamati,
13:54itu pun sebenarnya sektornya ada di agrikultur,
13:57tetapi implementasinya tetap pada sektor jasa.
14:00Misalnya, mempertemukan antara produk yang
14:03dihasilkan di pulau tertentu di Indonesia
14:06yang marketnya tidak ada di sana,
14:08kemudian dicantumkan di dalam e-commerce,
14:11kemudian ketemu dengan pasarnya di dunia maya,
14:14maka terjadilah transaksinya difasilitasi
14:16dengan pembayaran yang juga digital juga.
14:18Sehingga kita, ini bukan tidak ada manfaatnya,
14:21tetap bermanfaat.
14:23Tetapi dalam konteks ini,
14:24masih belum menyesal kepada peningkatan produktifitas
14:26di sektor pertaniannya tadi.
14:28Harusnya, teknologi digital ini
14:30bisa dikembangkan dengan pemanfaatan
14:32teknologi-teknologi artificial intelligence
14:34dan yang lainnya yang bisa mempersempit
14:37waktu dan juga ruang yang dibutuhkan
14:39untuk menghasilkan inovasi-inovasi tadi.
14:41Jadi kalau misalnya,
14:43katakanlah suatu perusahaan,
14:45dia punya research and development facilities
14:47yang tadinya besar sekali ruangannya,
14:49dengan artificial intelligence,
14:51dengan big data,
14:52dengan analisa yang dijalankan,
14:53itu bisa menjadi persempit
14:55dengan ruang dan waktu yang sangat simpel
14:57dan juga dengan biaya yang sangat murah.
14:59Nah sehingga dari situ,
15:00muncullah produktifitas yang bisa lebih tinggi
15:03dari hasilnya sana.
15:04Nah inilah baru,
15:05industri 4.0 yang sebenarnya yang bisa terjadi.
15:08Nah sehingga kita bukan hanya pada sektor jasa saja,
15:10tetapi kontribusi teknologi digital
15:13masuk kepada sektor-sektor produksi,
15:16itu baru bisa menentukan kontribusi
15:18yang lebih besar terhadap perekonomian kita.
15:20Nah kenapa demikian?
15:21Kalau kita lihat dari ekonomi klasik kan
15:23selalu melihat faktor produksi tenaga kerja,
15:25itu salah satunya yang membuat
15:27bangsa itu bisa lebih makmur atau lebih kaya.
15:29Kenapa? Karena dulu dianggap
15:30bahwa setiap manusia punya produktifitas,
15:32setiap manusia bisa berkontribusi
15:34untuk menghasilkan sesuatu,
15:35secara klasik begitu.
15:36Nah tetapi sekarang itu,
15:38sudah tidak lagi demikian,
15:39terjadi kesenjangan.
15:40Artinya, manusia yang bermanfaat pada era sekarang
15:43terhadap kontribusinya dari sisi ekonomi
15:45adalah manusia yang punya kualitas.
15:47Manusia yang berkualitas adalah
15:49manusia yang bisa memanfaatkan teknologi
15:51untuk menghasilkan produksi yang lebih baik,
15:53untuk bisa menghasilkan efisiensi,
15:55sehingga memunculkan daya saing yang luar biasa.
15:58Gabungan dari keseluruhan jumlah tenaga kerja tadi,
16:01kalau semuanya berkualitas,
16:03semuanya punya kapasitas produksi yang baik,
16:05ini akan melahirkan kapasitas nasional
16:07menghasilkan produk barang dan jasa yang berkualitas,
16:09yang mampu bersaing secara global.
16:11Dengar ini benar-benar membuka pikiran
16:13dan membuat Evelyn sedikit cemas juga sebenarnya.
16:15Evelyn, jadi punya dua pertanyaan untuk Pak Nurul.
16:18Yang pertama dulu, yang pertama itu mengenai
16:20ini sebenarnya Indonesia sepertinya
16:22banyak yang harus dilatih ya
16:24dari segi pendidikannya ke terampilan
16:26menggunakan teknologi ini.
16:28Apakah memang dari pemerintah ada pelatihan khusus
16:30yang sudah diarahkan untuk membangun ini?
16:33Iya, pelatihan-pelatihan sudah ada.
16:36Jadi kan kecenderungan kita untuk memberikan
16:38pendidikan-pendidikan fokasi gitu ya,
16:41itu kan sudah kita lakukan.
16:43Hanya memang ada satu hal yang masih
16:45harus lagi didudukan secara kompromistis
16:47antara apa yang menjadi target pemerintah
16:50dan apa yang menjadi tren ke depan
16:52di dunia usaha.
16:54Jadi kan untuk bisa melahirkan bangkitan ekonomi
16:56ada dua hal.
16:58Pertama adalah apa yang diinginkan oleh pemerintah
17:00supaya industri itu bisa hadir di Indonesia.
17:02Tetapi tidak seluruh pelaku usaha
17:05tertarik dengan apa yang diinginkan oleh pemerintah.
17:07Jadi jangan maksain juga.
17:09Jadi jangan maksain apa yang kita mau ini kita jual.
17:11Belum tentu yang mau belinya itu
17:12mau ngebeli apa yang diinginkan oleh pemerintah.
17:14Nah tetapi yang mungkin sangat terjadi adalah
17:16ketika para pelaku usaha
17:18mengikuti tren global
17:20atas pertumbuhan ekonomi
17:22dari sisi produk barang dan jasa
17:24yang diprediksi ke depan
17:26akan mendominasi perekonomian global.
17:28Dan sebenarnya untuk negara seperti Indonesia
17:30yang bukan leading sector
17:32dan yang tidak mempunyai cutting edge technology
17:35ini sebenarnya mudah saja
17:37untuk melihat trajektori kita ke depan
17:39seperti apa.
17:40Kenapa? Karena kita bukan frontliner
17:42kita adalah pengikut.
17:44Jadi kita lihat saja bahwa
17:46behaviornya ketika negara
17:48seperti Indonesia bergerak maju
17:50menjadi negara seperti Korea misalnya.
17:52Atau misalnya lebih jauh lagi
17:54kalau mimpinya seperti Eropa atau Amerika.
17:56Itu sebenarnya apa yang harus dilakukan
17:58dari roadmapnya.
18:00Sehingga roadmap yang kita lakukan
18:02bahwa kita ingin menjadi ekonomi dengan
18:04intelligent economy yang luar biasa
18:07ini harus diikuti juga dengan
18:09roadmap dari
18:11perkembangan teknologi yang harus dikuasai
18:13oleh bangsa ini.
18:15Sehingga kalau ini sudah bisa dikuasai kita tahu
18:17bahwa pada saat mana
18:19kita akan punya sumber daya manusia yang bisa
18:21berkontribusi terhadap roadmap yang kita buat.
18:23Kemudian pada akhirnya
18:25dia menjadi bangsa yang punya kualitas
18:27yang menjadi faktor produksi
18:29yang memberikan kontribusi produktifitas
18:31lebih tinggi. Kenapa?
18:33Karena dia bisa memanfaatkan teknologi
18:35yang kita ikuti tadi trajektorinya dari negara maju.
18:37Bahwa setelah ini kita akan mengambil
18:39ini, ini, dan seterusnya.
18:41Karena tadi bicara mengenai
18:43bukan saja manusianya yang harus
18:45terus bertumbuh, tapi ini juga ada kemajuan teknologi
18:47yang sepertinya saling kejar-kejaran.
18:49Harus beriringan. Kalau tidak pasti
18:51terjadi hal-hal yang tidak ideal.
18:53Kalau dari pemerintah
18:55apakah memang ada pembatasan
18:57atau menghambati pergerakan-pergerakan tertentu
18:59untuk menetrakan ini?
19:01Jangan sampai ada yang kecepatan. Misalnya teknologi
19:03terlalu cepat, sumber dayanya
19:05belum siap. Atau sebaliknya juga.
19:07Justru di
19:09saat sekarang ini
19:11gap itu yang harus kita persempit.
19:13Untuk mempersempitkan.
Comments