00:00Pemirsa perosotan viral di Bendungan Peleret Semarang akhirnya ditutup oleh petugas gabungan dari BBWS dan TNI Polri.
00:08Penutupan ini dilakukan karena memberikan dampak negatif, menyalahi peruntukan bendungan serta membayarkan masyarakat hingga melukai banyak korban luka.
00:23Wisata air gratis perosotan di Bendungan Peleret Semarang akhirnya ditutup.
00:28Petugas gabungan dari bayi besar wilayah sungai yang bertanggung jawab atas area bendungan bersama instansi terkait dari Kecamatan Semarang Barat dan TNI Polri menghentikan aktivitas warga yang bermain perosotan pada minggu sore.
00:42Dengan menggunakan pengeras suara petugas memubarkan masyarakat yang sedang bermain perosotan di Bendungan Peleret.
00:48Petugas terpaksa menutup lokasi agar tidak lagi digunakan oleh warga karena bermain perosotan atau seluncur di bendungan sangat berbahaya.
00:57Selain itu pihak BBWS menegaskan bahwa bendungan bukan area untuk bermain.
01:03Publik ini memang dianggap ini wisata gratis, tapi ini kan sesuatu yang menyimpan potensi bahaya yang tidak bisa dari oleh masyarakat kita.
01:14Dan ini mungkin fenomena liburan ya Pak ya, sehingga minggu ini kami melakukan, ya bahasanya kita memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat supaya mereka paham akan resiko,
01:25cedera.
01:29Atas spiralnya bermain perosotan di Bendungan Peleret mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar.
01:35Banyaknya masyarakat yang ingin melihat langsung membuat kemacetan lalu lintas dan juga sampah.
01:41Selain itu korban dari bermain perosotan terus berjatuhan hingga mengalami luka-luka.
01:47Untuk itu petugas terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.
01:52Bendungan Peleret merupakan bendungan terdua di Indonesia yang dibangun pada masa penjajahan Belanda di tahun 1800-an, yang kini telah berusia lebih dari 140 tahun.
02:03Bendungan Peleret berfungsi sebagai pengendali air aliran sungai Kali Garang.
02:08Oleh petugas, fungsi utama akan dikembalikan seperti semula dan tidak diperbolehkan untuk wisata air.
02:14Dari Semarang, Jawa Tengah, Wisnu Ardena, Ayus, melaporkan.
Comments