Skip to playerSkip to main content
  • 2 years ago
VIVA – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PM) Muhadjir Effendy bikin publik di dunia jagat maya ternganga. Hal tersebut tak lepas dari saran yang diajukannya dalam RDPU Panja Pembiayaan Pendidikan Komisi X DPR RI dengan sejumlah tokoh masyarakat yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan di Gedung DPR RI, Jakarta. [DRP-KY]

Category

🗞
News
Transcript
00:00Perkurahan tinggi itu, sebetulnya IDPT-NBH itu kan memang mendorong perkurahan tinggi itu mandiri, termasuk mandiri di dalam pembiayaan, dan mendorong supaya lembaga-lembaga fundraising-nya itu jalan.
00:24Saya kebetulan sekarang kan juga Ketua Wali MWA-nya Bundi Sudirajaya, beliau kan MWA-nya ITS, beliau ini Ketua MWA-nya Undi, ini sama-sama Ketua MWA, jadi tau persis lah gitu.
00:38Jadi memang menurut saya PTN kita itu memang tax spender boy, jadi sudah biasa belanja, tidak biasa cari uang.
00:51Jadi harus ada perubahan karakter, ajarilah mereka ini untuk cari duit, bukan untuk buang duit, dan ini memang tidak mudah.
01:02Saya berani ngomong begini, saya kan Raja Direktor, sama Prof. Menuh, beda beliau memang pembelanja, kalau saya harus cari, kalau nggak cari dulu nggak mungkin belanja kan.
01:12Jadi sebetulnya perguruan tinggi itu kalau sudah ada kemampuan, perubahan sikap mental untuk menjadi pencari uang, bukan pembelanja, itu nggak ada masalah.
01:24Nama besar, PTN BIA itu namanya besar-besar, tinggal mengkapitalisasi saja jawabannya itu.
01:31Dan saya kemarin sampaikan misalnya, naikkan biaya itu jangan serta-merta, jadi naikkanlah kepada mahasiswa baru saja.
01:44Mahasiswa baru dan itu jangan naik sampai nanti selesai dia, sehingga orang tua itu punya kepastian.
01:51Kalau yang lama itu biar selesai sampai selesai.
01:54Memang ada, kalau di swasta ya, itu tetap ada pimpinan namanya variable cost.
02:00Jadi memang tidak semua biaya di pendidikan itu tinggi, terutama difikskan, nggak bisa.
02:05Misalnya KKN, KKN itu baru 4 tahun nanti nggak mungkin ditetapkan anak mahasiswa baru.
02:12Wisuda, itu kan nggak mungkin ditetapkan, itu variable cost.
02:17Bahkan sebetulnya untuk swasta biasanya, itu momen-momen untuk bisa mengenai biaya tinggi.
02:23Misalnya wisuda, itu tarik yang tinggi, karena nggak ada orang akan protes walaupun mahal.
02:28Karena waktu saat gembira orang mau anaknya wisuda, bayar berapa pun dikasih.
02:33Kalau perlu biar satu truk anak keluarganya datang nggak apa-apa, tapi harus beli undangan.
02:40Beli undangan, dibayar, datang.
02:44Itu kan orang seneng itu, diminta apa pun pasti mau.
02:47Tapi ketika orang sedang gajinya sudah telat, ini anunya naik, ya pastilah itu protes.
02:54Jadi menurut saya juga momentum kurang pas, makanya saya sempat kritik itu.
02:59Kalau saya lihat sebetulnya peraturan menterinya bagus, bermendikbud istek itu tidak ada pasal.
03:07Itu kan kemudian bagaimana mau terjemahkan pada para rektor.
03:12Saya mohon maaf mungkin agak menekankan kepada pentingnya pimpinan perubahan tinggi.
03:16Ini insya Allah kami bertiga ini yang sudah tua-tua ini pengalamanlah itu.
03:21Sudah pengalaman jadi rektor lah, baik negeri maupun swasta.
03:26Ini menurut saya perlu ada perubahan, kebijakan yang sifatnya merubah mindset ini pada mereka.
03:33Contoh begini pimpinan.
03:35Ini saya ingin contoh-contoh yang sepilih saja.
03:37Yang ngelip kan sudah Prof. Mahfudz tadi, Prof. Menuk sudah menggambarkan sangat luar biasa.
03:41Saya 100% setuju itu, bahkan 150%.
03:45Tapi yang kecil begini contohnya.
03:47Misalnya untuk wisuda.
03:51Kalau kita ada perubahan tinggi wisuda itu sampai satu bulannya misalnya 5 ribu, bahkan 10 ribu sekarang.
03:58Itu kalau dibikin satu tahun itu 5 kali wisuda, dia punya hotel.
04:06Sudah komplit itu, jadi bayar wisuda komplit tinggal di hotel kampus.
04:12Nanti disitu ada semalayan belanja, voucher mereka yang nanti kalau belanja bisa dapat potongan.
04:19Itu selama wisuda itu cukup untuk nutup biaya operasional hotel.
04:25Sisanya tinggal cari untung saja.
04:27Percaya dengan saya itu.
04:29Sudah nyoba saya.
04:32Jadi ini bagaimana mengajari, belum lagi karya riset.
04:36Riset-risetnya.
04:38Kita ini enggak kalah sebetulnya.
04:40Cuma bagaimana mengemas samaan jualan.
04:43Maka mestinya mereka harus dilatih.
04:46Sebetulnya itu juga bisa ada terobosannya.
04:49Pilih saja ada pembantu.
04:51Dulu malah Pak Presiden sebetulnya ngusulkan Pak Presiden itu.
04:54Sudahlah rektornya diambil dari luar negeri saja.
04:56Bukan ributkan itu.
04:57Itu benar.
04:59Kalau tidak berani ngangkat rektor karena dianulis senat oleh senior-seniornya itu.
05:04Angkat saja direktur.
05:06Direktur bisnis.
05:09Direktur bisnis.
05:10Dan dia dibayar dengan kontrak.
05:13Dia ditarget satu bulan dia bisa ngumpulkan berapa meyat.
05:16Dia minta gaji berapa.
05:20Ya, itu bisa menurut saya.
05:23Pokoknya banyak seni untuk cari duit di perguruan tinggi itu.
05:26Kan branded-nya luar biasa.
05:28Apa pun bisa dijual itu.
05:30Kalau di luar negeri kalau kita datang ke kampus kan cuma beli kaos sama topi kan.
05:34Datang sana ada New York.
05:39Ya kan laris itu.
05:41Cuma bagaimana ini memang merubah mindset perguruan tinggi menurut saya.
05:44Kalau soal langgaran.
05:46Tadi itu kuncinya disitu menurut saya.
05:49Manfaatkanlah hak budget.
05:52Hak budget Komisi 10 untuk mengontrol mengarahkan penganggaran.
05:58Duduk bersamalah dengan kementerian teknis tentang pengalokasian itu.
06:02Sehingga Bapak juga ketika mengontrol tahu.
06:05Kemarin saya ikut merencanakan sehingga saya tahu persis mana yang harus.
06:10Ini mohon maaf ini mungkin agak menggurui.
06:12Karena enggak apa-apa kan saya lebih tua dari Bapak.
06:15Jadi ini menurut saya beberapa poin dari saya.
06:20Itu tadi. Jadi sebetulnya kita sudah berada dalam track dan indikator-indikator untuk menjadi Indonesia.
06:26Yaitu sesimpel itu satu slide itu saja.
06:29Terima kasih.
Comments

Recommended