Skip to playerSkip to main content
  • 2 years ago
VIVA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah berencana menertibkan parkir liar di berbagai tempat, khususnya di minimarket. Hal tersebut dilakukan usai Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono meminta Dinas Perhubungan DKI Jakarta menertibkan juru parkir liar yang dianggap meresahkan masyarakat. Lantas, bagaimana tanggapan masyarakat hingga juru parkir itu sendiri tentang penertiban tersebut? [R-RK-MRH-KY]

Category

🗞
News
Transcript
00:00 Fenomena parkir liar di Bahujalan, minimarket, rumah makan,
00:04 hingga objek wisata menjamur di beberapa daerah termasuk DKI Jakarta.
00:08 Minimialahan parkir membuat fenomena ini pun semakin berkembang.
00:12 Dinas Perhubungan DKI Jakarta kemudian gencar menertibkan oknum parkir liar
00:17 termasuk di wilayah Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
00:21 Di sisi lain, parkir liar menguntungkan sejumlah pengandara
00:24 karena lebih kreatif dan bertanggung jawab dalam memarkirkan kendaraannya.
00:28 Parkir liar pun dipilih sejumlah orang yang tidak memiliki pekerjaan untuk bertahan hidup.
00:33 Namun nyatanya, keberadaan oknum parkir liar membuat sejumlah masyarakat resah
00:38 karena sejumlah oknum parkir liar justru mematok harga yang terlalu tinggi.
00:42 Seperti belakangan terjadi di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta
00:46 di mana sebuah mobil dihargai Rp150.000 untuk biaya parkir liar.
00:51 Padahal, pemerintah sudah memiliki aturan tentang parkir kendaraan
00:55 yang tertuang dalam Udang-Udang nomor 29 tahun 2009
01:00 tentang lalu lintas dan angkutan jalan demi ketertibaan jalanan.
01:04 Lantas, bagaimana pendapat warga Jakarta ya
01:07 soal oknum parkir liar yang tersebar di sejumlah wilayah?
01:10 Ini dia Suara Jakarta.
01:12 [suara parkir liar]
01:25 Malu, Pak. Kamu masaknya.
01:27 Maaf ya.
01:29 [suara parkir liar]
01:30 Belakangan kan banyak juru parkir yang betok harga gitu, Pak.
01:34 Kayak yang di sini tadi saya udah kasih tau Rp150.000 untuk satu mobil.
01:38 Itu sangat kurang ajar.
01:41 Udah di luar kewajaran.
01:43 Saya sih nggak tahu menaui ya.
01:45 Mungkin itu di luar dari perhubungan kali ya.
01:47 Wah, saya kurang tahu tuh, Pak.
01:49 -Kurang tahu ya? -Kurang tahu.
01:50 Jatohnya udah termasuk kepemalakan sih.
01:52 Apa ya, kurang pas aja ya, Mbak ya?
01:55 Nggak pantas ya, kelewatan banget.
01:57 Jangan terlalu inilah yang sewajar-wajarnya aja.
02:02 Kecuali saya.
02:03 Karena emang kalau dari perhubungan itu
02:05 emang segitu itu bukan harga yang normal.
02:09 Kalau dari pemerintahan, kalau resmi itu
02:12 mobil ya Rp5.000, motor ya Rp2.000.
02:17 Terus menurut Bapak keberadaan oknum parkir liar itu gimana, Pak?
02:21 Meresakan ya, cukup meresakan.
02:22 Lebih baik ditertibkan aja, Mbak, di sub.
02:26 Supaya dimasuk ke pemerintahan.
02:29 Setuju, saya setuju kalau begitu.
02:30 Soalnya kan bahasa kasarnya udah melampaui batas ya.
02:35 Bentar Rp150 per mobil itu sama aja kan nyiksa orang.
02:41 Ya kan, itu doang sih.
02:42 Yang wajar aja bentar Rp20 baru pantas.
02:45 Jadi enak juga, yang ngasih juga ikhlas.
02:46 Kan buat anak bini, Mbak.
02:48 Apalagi namanya tempat ibadah
02:51 harusnya tidak dipungut biaya apapun.
02:53 Karena kita mau ibadah aja, malah jatohnya disusahkan.
02:59 Kan sebenarnya kan udah ada,
03:01 kalau yang di minimarket atau apa itu kan udah ada tulisannya
03:04 "Parkir gratis".
03:05 Nah, itu kayak di premanisme, nggak sih, Mbak?
03:07 Harusnya kan memang itu kan diperuntukkan untuk
03:11 pelanggan gratis, secara gratis ya.
03:12 Tiba-tiba mereka datang itu kan cukup meresakan juga.
03:15 Ya, sebenarnya saya agak mau bantu juga.
03:19 Cuman kalau memang istilahnya terlalu berlebihan
03:25 kayak yang kemarin viral itu ya emang...
03:27 Risih aja kalau misalnya di minimarket,
03:30 kan ada kayak ATM gitu ya.
03:31 Padahal kita cuma, waktunya kayak cuma
03:34 satu menit atau dua menit,
03:35 tapi tetap aja dipintain uang parkir.
03:37 Kalau saya pribadi kalau misalnya datang ke minimarket,
03:39 terus ada tukang parkir, jadi...
03:41 ya mending cari yang lain, gitu.
03:43 Iya, iya sih. Jujur sih, iya.
03:45 Pilih yang nggak ada tukang parkirnya, sih.
03:48 Di convenience store itu udah ada tulisannya juga kadang
03:52 "free parking", tapi tetap aja yang mengut.
03:54 Bahkan ada parkir liar itu yang nyopotin
03:59 tulisan "free parking" itu.
04:00 Itu kan masuknya ke kantong pribadi ya,
04:02 kantong pribadinya mereka.
04:03 Terus juga kedua, mungkin hampir semua pengendara
04:08 merasa itu termasuk ke hal yang merugikan mereka.
04:12 Karena kan itu jatuhnya ke pungli,
04:14 itu pengotoran liar.
04:15 Dan tidak termasuk ke khas negara.
04:17 Dan mereka juga mungkin,
04:19 bukannya susun, mungkin dipergunakan untuk hal-hal
04:23 yang kurang baik juga, mungkin.
04:25 Walaupun kadang-kadang kendaraan kita dibantuin ditari,
04:28 atau kita disebrangi, itu gimana, Pak?
04:31 Apa sepatu Anda setuju?
04:32 Ya, kadang dia jagain, kadang nggak, gitu.
04:34 Tapi jarang sih, Pak, disebrangin juga ya.
04:37 Misalnya kita nyebrangin...
04:37 Kebanyakan, iya.
04:39 Terkait dijaga atau tidaknya, mungkin dijaga.
04:43 Tapi apabila nanti ada kehilangan,
04:45 atau misalkan kacanya pecah, ada yang maling,
04:48 mereka pasti tidak akan tanggung jawab.
04:51 Walaupun nantinya akan diurus, mungkin akan lama.
04:53 Kalau misalnya emang niatnya bantu,
04:55 dan dengan nominal yang masih masuk akal,
04:58 karena dia bantu, ya it's okay menurut saya.
05:02 Tapi juga, kalaupun misalnya tetap dia mau mengutparkir,
05:05 kan harus ada kebijaksanaan,
05:07 kayak dari misalnya convenience store.
05:10 Kalau emang nggak boleh, ya udah, ditetipkan.
05:13 Kalau emang niatnya bantu, dan kitanya ikhlas,
05:15 juga sih nggak masalah buat saya.
05:17 Tapi dengan syarat itu tadi,
05:18 jadi nominalnya yang masuk akal.
05:20 Kalau misalnya di Istiqlal itu Rp150.000 per mobil,
05:23 itu kayaknya nggak masuk akal banget.
05:25 Kejar target, itu kayaknya ya.
05:29 Bisa juga, ya kena-kena target, ya salah-salah.
05:34 Sebetulnya kalau pemerintah sendiri memberi tempat parkir untuk base,
05:39 karena kami pelaku wisata, khususnya driver wisata itu,
05:44 dari teman-teman juga,
05:46 tidak hanya sendiri, kesulitan cari tempat parkir.
05:49 Terus kalau tetangga parkir itu sendiri kan biasanya dia terpaksa ya,
05:53 karena nggak ada pekerjaan lain.
05:55 Mereka gimana sih? Apakah ada saran untuk ke depannya?
05:58 Ya mungkin alasan mereka itu salah satunya itu ya.
06:01 Dinasa apa, siapa yang harus bertanggung jawab gitu sih sebenarnya?
06:05 Mungkin di Jakarta sekarang, cari pekerjaan mungkin harus dengan pendidikan yang tinggi.
06:12 Tetapi tidak menutup kemungkinan, masih banyak kok pekerjaan yang lebih masuk akal,
06:18 yang bisa lebih mudah.
06:20 Mungkin dari dinas terkait,
06:21 ternyata yang perlu memang harus ada perhatian khusus ya
06:25 untuk hal-hal seperti ini memang.
06:28 Cari solusi sama-sama gitu loh,
06:30 supaya orang ini bisa dapat lahan pekerjaan,
06:33 tetapi juga nggak mengganggu dan itu juga resmi gitu,
06:36 gimana caranya? Jadi cari solusilah sama-sama.
06:39 Banyak opsi pekerjaan lain yang tidak juga merugikan orang lain.
06:45 Karena kan mereka, namanya orang mencari nafkah kan harusnya
06:50 memberikan solusi yang win-win solution lah.
06:52 Baik dari si pemberi pekerja yang enak,
06:56 terus juga dari si pekerja yang enak.
06:58 Ketika misalnya kita mengasih uang ke mereka kan ibaratnya,
07:00 ini apaan gitu? Apa yang sudah mereka berikan ke saya?
07:03 Ibaratnya kayak gitu.
07:05 Ya itu, intinya ya itulah.
07:07 Dari kerja, dari kerja susah,
07:09 akhirnya ya apa yang bisa dikerjakan ya dikerjakan.
07:13 Bapak biasanya kalau di parkirin gitu, suka ngasih berapa?
07:18 Ya Rp. 2000 lah rata-rata.
07:20 Kalau yang standar sana kalau motor saya antara Rp. 2000-Rp. 3000.
07:25 Kalau misalkan dari saya,
07:27 walaupun agak kesel,
07:29 karena nggak mau cari keributan atau apa, ya mending kasih aja sih.
07:33 Rp. 150.000 bilangnya begini,
07:36 sudah tahu biasanya kan? Begitu.
07:40 Ya, tahu biasanya berapa mas?
07:42 Kalau dulu memang kan Rp. 150.000 mas.
07:45 Padahal di sebelah itu saya pernah Rp. 200.000.
07:48 Sudah tahu kan? Saya anggap tahu, gitu aja.
07:51 Menekain kebijakan dinas pertimbangan yang sudah mulai ditertipin,
07:56 Masih berarti setuju banget ya?
07:58 Ya, setuju. Setuju, bagus.
08:00 Seharusnya ya emang konsisten terus,
08:03 jadi jangan misalnya musim-musiman lah.
08:06 Kalau memang harus ditertipin, ya tertipin.
08:08 Kalau memang melanggar, jadi kita juga parkir nggak berani sembarangan.
08:13 Kalau memang sesuai aturan.
08:16 Udah tepat sih, kalau bisa sih jangan di situ aja yang ditertipin,
08:19 di semua tempat yang sekiranya memang bukan resmi,
08:23 ditertipkan juga.
08:25 Kalau memang parkir itu,
08:29 agar tidak meresakan masyarakat lagi juru parkir,
08:32 sebaiknya ya dinas perhubungan atau pemerintah Provinsi DKI Jakarta
08:38 ngebuat sebuah regulasi khusus yang memberikan mereka,
08:42 yang bisa mengakomodasi lah intinya,
08:45 kedua belah pihak, antara pengguna jasa parkir ataupun juru parkirnya ini,
08:51 agar menjadi resmi, tidak liar dan tidak menembak harga.
08:56 Mungkin bisa dalam regulasi tersebut bisa diterapkan juga
09:00 penetapan harga, misalkan ambang batasnya seperti apa.
09:04 Nggak ada kayak kejadian kemarin itu yang 150 ribu per mobil.
09:07 Terus sistemnya gimana sih?
09:09 Kalau misalkan juru parkir liar kan mungkin,
09:11 ya kalau udah dapat buat dia sendiri,
09:13 kalau di SUP apakah dibagi oleh pemegang kekuasaannya?
09:19 Nggak ada, ini cuma anak wilayah aja sih,
09:22 nggak pake orang masing-masing.
09:24 Kalau kita ya bagi-bagi aja gitu,
09:28 ya kan kita store juga.
09:31 Terus kira-kira kalau misalkan nih,
09:33 dari orang memukul parkir liar mau daftar jadi tukang parkir yang resmi,
09:38 bisa nggak sih sebenarnya?
09:40 Kurang tahu deh,
09:40 kalau itu perhubungan yang mengolah.
09:43 Nah itu juga saya nggak tahu caranya,
09:46 kalau tahu caranya mungkin juga pasti bisa beralih ke situ.
09:49 Iya lah, yang resmi lah,
09:51 lebih aman, lebih safety buat ke depannya.
09:54 Bagi kami juga lebih aman.
09:56 Pada saran, Pak Sika, ke depannya untuk juru parkir atau untuk bina terkait?
10:03 Ya semoga bisa dibina lah dengan intensi terkait lah.
10:08 Jadi janganlah disebut parkir liar,
10:10 jadi setiap tempat parkir ada penanggung jawabnya.
10:14 Jadi orang yang parkir juga nggak was-was.
10:17 Ya supaya aman-aman aja lah parkir,
10:21 nggak ada kendala, nggak ada preman-preman.
10:24 Ke ini sih lebih ke dina terkaitnya aja,
10:26 yang harus bertanggung jawab aja untuk kentertiban.
10:30 Kan kalau dilihat berantakan juga nggak enak ya mas ya,
10:32 kotanya jadi nggak bersih nggak sih?
10:34 Harus disediain kantong-kantong parkir nggak sih?
10:38 Kalau emang pun mereka mau di-hire untuk jaga parkiran yang resmi,
10:44 lebih better sih kayanya, Mbak.
10:45 Saran saya sih, ya itu tadi, yang pertama kita ceriwanin solusinya,
10:49 yang kedua itu saya pikir kalau emang niatnya bekerja dengan hati,
10:54 pasti ada aja lah jalannya, nggak mesti seperti itu.
10:58 Ya semoga ke depan hal-hal seperti ini nggak terjadi lagi.
11:04 Ke depannya ya benar sih yang tadi kakaopsi yang ketiga tuh,
11:07 ya kan, Dines Perumbo harus sentuh mereka-mereka itu loh ya,
11:10 supaya jangan sampai parkir liar seperti itu ya,
11:13 yang Watoa Beni yang nyekek orang, nggak basah kayak gitu maksudnya.
11:17 Ternyata sebagian besar masyarakat Jakarta
11:32 menolak keberadaan oknum jurup parkir liar
11:34 karena dinilai mengganggu kenyamanan.
11:37 Meskin demikian, jurup parkir liar juga dipilih
11:40 karena lokasinya yang strategis.
11:41 Semoga ke depannya pemerintah mendapatkan solusi yang terbaik
11:45 untuk masalah ini ya.
11:46 Lantas bagaimana sih menurut kalian?
11:48 Tulis di kolom komentar ya.
11:50 Sampai jumpa di Suara Jakarta berikutnya.
11:54 [Musik]
Comments

Recommended