Skip to playerSkip to main content
  • 2 years ago
Badan Pusat Statistik mencatat kinerja neraca perdagangan barang Indonesia pada bulan April 2024 kembali mencetak surplus sebesar USD3,56 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan telah mengalami surplus selama 48 bulan berturut turut atau 4 tahun, sejak Mei 2020.

Data BPS mencatat, nilai ekspor Indonesia pada Aapril 2024 mencapai USD19,62 miliar atau turun 12,97% dibanding Maret 2024. Sedangkan bila dibandingkan April 2023, nilai ekspor masih naik 1,72%. Sementara, nilai impor April 2024 mencapai USD16,06 miliar, turun 10,60% dibandingkan Maret 2024. Dan mengalami kenaikan 4,62% dibandingkan April 2023.

Category

📺
TV
Transcript
00:00PEMIRSA
00:15Halo pemirsa, apa kabar anda hari ini?
00:17Langsung dari studio IDX Channel Jakarta, saya Prasetyo Ibowo kembali hadir dalam program Market Review
00:23yang akan mengupas isu-isu penggerak ekonomi di Indonesia.
00:26Livestreaming kami bisa anda saksikan di idxchannel.com
00:29dan pemirsa langsung saja kita mulai market review selengkapnya.
00:42Ya pemirsa, Indonesia kembali mencetak surplus neraca perdagangan di bulan April 2024
00:47dan telah mencetak rekor selama 4 tahun berturut-turut.
00:51Meskidemikian surplus neraca perdagangan masih dibayangi dengan pelembahan kinerja ekspor nasional
00:57yang tercatat turun hampir 13% dibandingkan dengan Maret lalu.
01:04Badan Pusat Statistik mencatat kinerja neraca perdagangan barang Indonesia pada bulan April 2024
01:11kembali mencetak surplus besar 3,56 miliar dolar AS.
01:16Dengan demikian neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 48 bulan berturut-turut
01:22atau 4 tahun terakhir sejak Mei 2020.
01:26Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Puji Ismartini menjelaskan nilai ekspor Indonesia pada April 2024
01:34mencapai 19,62 miliar dolar AS atau turun 12,97% dibanding Maret 2024.
01:43Sedangkan bila dibandingkan April 2023 nilai ekspor masih naik 1,72%
01:48sementara nilai impor April 2024 mencapai 16,06 miliar dolar turun 10,6% dibandingkan Maret 2024
01:57dan mengalami kenaikan 4,62% dibandingkan April 2023.
02:03Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus sebesar 48 bulan berturut-turut
02:10sejak Mei 2020 atau selama 4 tahun beruntun.
02:17Meskipun demikian, surplus April 2024 ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya
02:24dan bulan yang sama pada tahun lalu.
02:28BPS mencatat ekspor non-bigas hasil industri pengolahan periode Januari hingga April 2024
02:33turun 1,97% dibandingkan periode yang sama tahun 2023.
02:38Demikian juga ekspor hasil pertambangan dan lainnya turun 17,22%.
02:44Sedangkan ekspor hasil pertanian, kehutanan dan perikanan naik 6,90%.
02:50Dari Jakarta Tim Liputan, IDX Channel.
03:08Beliau adalah Ketua Komite Tetap Minerva KADIN Indonesia.
03:11Halo selamat pagi Pak Rizky.
03:14Selamat pagi.
03:15Ya salam sehat Pak Rizky.
03:17Salam sehat.
03:18Baik dan kita akan mencoba menyapa ini dengan Bapak Muhammad Faisal.
03:22Beliau adalah Direktur Eksekutif Korps Indonesia.
03:25Selamat pagi Pak Faisal.
03:27Selamat pagi Mas Pra. Selamat pagi Pak Rizky.
03:30Selamat pagi Pak Faisal.
03:32Oke terima kasih banyak atas waktu yang disempatkan.
03:34Ini menarik kalau kita lihat 4 tahun ya kita surplus deraja perdagangan terus terjadi begitu.
03:39Mungkin kita ke Pak Faisal.
03:41Bagaimana sih review 4 tahun terakhir dari Korps Indonesia terkait dengan kinerja surplus perdagangan Indonesia?
03:47Apakah benar-benar berkualitas?
03:49Atau memang ada hal-hal yang menguntungkan sendiri nih buat Indonesia?
03:53Silahkan Pak.
03:54Ya kalau secara umum selama 4 tahun terakhir,
03:58Nah ini ada sedikit perbedaan dinamikanya agak sedikit tidak monoton ya.
04:04Oke.
04:054 tahun ini ada yang sifatnya surplusnya positif, sehat.
04:10Ada juga yang sifatnya negatif atau kurang sehat.
04:13Oke.
04:14Nah terutama kalau kita berbicara yang sehat ini relatif kita alami pada saat surplus di 2 tahun, 3 tahun pertama.
04:242 tahun katakanlah sampai 2022.
04:27Kenapa?
04:28Karena pada saat itu surplus disebabkan atau diturunkan oleh peningkatan ekspor yang jauh melebihi daripada peningkatan impornya.
04:37Kenapa ini bisa terjadi?
04:39Ya ada efek daripada Covid dan after Covid yang membuat ada semacam disrupsi dalam hal rantai pasok global.
04:48Nah sehingga harga komunitas itu mengalami peningkatan yang luar biasa yang biasanya memang juga terjadi pada masa-masa setelah krisis.
04:56Tapi peningkatan harga komunitas sampai pada tahun 2022 peaknya itu adalah yang tertinggi memang dibandingkan dalam 20 tahun terakhir saya rasa.
05:05Nah disitu kita mengalami peningkatan ekspor yang luar biasa terutama didorong juga oleh dari sisi komunitas ya.
05:13Itu sehat menurut saya walaupun ada faktor komunitasnya yang mendorong revisi harga.
05:19Tapi juga sehat bukan hanya komunitas kalau saya lihat karena ada perubahan pattern dalam hal atau sumber pertumbuhan baru ekspor kita sejak 2020.
05:28Itu karena ada ekspor manufaktur yang meningkat dari hasil hilirisasi, khususnya hilirisasi tambang.
05:35Nah itu mulai kita rasakan di 2020.
05:37Faktor ini tidak ada sebelum-sebelumnya.
05:41Karena itu kita bisa melihat bahwa dalam 4 tahun terakhir ekspor besi dan baja misalnya yang merupakan daripada smelter nickel itu mengalami peningkatan yang signifikan.
05:52Jadi ini yang menyebabkan kenapa saya katakan ini sehat.
05:57Nah tapi kemudian agak ceritanya berbalik setelah 2022.
06:01Karena sejak 2022 ketika harga komunitas sudah mencapai peak kemudian turun kembali.
06:07Nah ini pelan-pelan ekspor kita juga mengalami penurunan.
06:10Nah hanya saja pada saat yang sama impor juga mengalami penurunan.
06:14Nah jadi dalam konteks ini ketika ekspor dan impor mengalami penurunan surplus juga masih.
06:20Nah tapi surplusnya berbeda dengan surplus di 2022 dan sebelumnya.
06:25Karena bukan disebabkan karena ekspor yang meningkat.
06:28Tapi ekspor itu sebetulnya turun.
06:30Impor menurun lebih tajam.
06:32Artinya ekspor turun karena kondisi global yang sudah tidak sekondusif sebelumnya.
06:37Yang kedua impor juga mengalami penurunan juga bukan sesuatu yang positif.
06:41Karena banyak disebabkan juga oleh kemasalahan di domestik.
06:45Nah ini yang secara umum begitu.
06:48Oke. Nah dari kacamata pelaku usaha ini.
06:51Bagaimana tanggapan dari Pak Rizky dari Kadit Indonesia?
06:542022 nampaknya peak begitu dari kinerja surplus neraca perdagangan kita.
07:00Karena ada windfall community di sana.
07:02Nah review dari Anda bagaimana?
07:03Apakah memang seperti itulah kondisi yang terjadi di global?
07:06Kemudian bagaimana dengan kinerja ekspor-impor kita begitu selama ini?
07:10Terima kasih Mas Pras.
07:11Kalau saya sih cenderung sepakat dengan apa yang disampaikan Pak Faisal.
07:15Memang kalau kita bicara sebelum adanya hilirisasi nikel ini kan
07:19konteksnya kita baru bisa mengekspor raw material nikel ya.
07:23Tapi kan dengan adanya program pemerintah ini kan dengan ada hilirisasi
07:27kita akhirnya bisa mengekspor mulai dari
07:30sebenarnya masih semi-finished product Pak Faisal.
07:32Itu masih peronikel EAM maupun nikel manusia itu masih semi-finished product
07:37belum final product.
07:38Karena belum semuanya smelter itu menerapkan, melakukan industrialisasi
07:43untuk pembangunan stainless steel.
07:46Tapi yang perlu kita cermati bahwa konteksnya ini kan
07:53target ekspornya oleh pemerintah, target ekspor batubara aja tahun 2023
07:58dan juga meningkat dari tahun sebelumnya 2022.
08:01Bahkan pada hari ini pada kita bicara pada detik inipun
08:04relasi ekspor itu batubara udah mencapai 132 juta ton.
08:10Akan tetapi saya yakini bahwa dalam beberapa bulan ke depan ini
08:14akan ada peningkatan ekspor.
08:15Kenapa? Karena kita melihat kondisi China maupun India maupun Asia Tengah
08:20lain ini kan udah mengalami heat wave.
08:22Otomatis kebutuhan power atau listrik untuk menghidupkan AC di kantor
08:29maupun di rumah ini kan semakin meningkat.
08:31Karena untuk menurunkan suhu yang ada.
08:34Nah sisi yang lain kita juga mungkin perlu cermati juga Pak Faisal
08:38dalam hal ini Indonesia ini kan masih menentukan tujuan ekspornya
08:44itu lebih banyak ke China.
08:47China pun juga sering mengalami pelambatan ekonomi.
08:50Otomatis ini akan berimbas kepada kebutuhan komoditas kita
08:54baik nikel maupun batubara.
08:57Jadi ini yang perlu dicermati juga.
08:59Dalam harapannya ke depannya pemerintah juga bisa memberikan solusi
09:02kepada pelaku usaha untuk membuka pasar-pasar baru.
09:05Nah tetapi kan pasar-pasar baru kita lihat
09:07ini pun pemerintah juga saat ini sedang melobi.
09:10Pemerintah Amerika kan untuk agar kita masuk dalam IRA
09:13Inflationary Reductionary Act gitu ya.
09:16Karena produk-produk nikel Indonesia ini dikhawatirkan tidak bisa diterima
09:21atau misalnya tidak diberikan insetif untuk pengurangan pajaknya.
09:25Karena misalnya tidak menerapkan ESG.
09:28Bahkan juga Eropa juga begitu bicara ESG.
09:31Jadi ini tentunya kami harapkan pemerintah juga dapat memberikan solusi
09:35bagaimana agar pelaku usaha ini bisa dapat meningkatkan ekspornya
09:38ke negara-negara non-China ya.
09:41Dalam hal ini Eropa maupun Amerika.
09:43Saya pikir gitu sih Mas.
09:45Ya yang review 4 tahun terakhir begitu memang
09:47dinamikanya cukup beragam begitu ya.
09:49Faktor-faktor eksternal dan juga internal.
09:51Kita akan bahas lebih jauh lagi.
09:53Tadi perlu ada strategi khusus untuk menjaga kinerja ekspor sambil tadi.
09:56Itu ada penurunan importasi karena kita tahu juga
09:59bahan baku, barang penolong begitu yang menjadi
10:01barang-barang impor andalan Indonesia.
10:03Kita bahas nanti di segmen berikutnya.
10:04Dan pemirsa tetaplah bersama kami.
10:06Terima kasih Anda masih bergabung bersama kami dalam Market Review Pemirsa.
10:17Berikut ini kami sampaikan data untuk Anda
10:19terkait dengan surplus neraca perdagangan Indonesia
10:21di bulan April 2024.
10:24Seperti yang bisa Anda saksikan di layar televisi Anda
10:27untuk kinerja ekspor 19,62 miliar dolar Amerika.
10:31Kemudian impornya 16,06 miliar dolar Amerika.
10:34Dan kita lihat secara bulanan kini baik ekspor maupun impor
10:37mengalami penurunan 12,97 persen untuk ekspor.
10:41Kemudian 10,6 persen untuk importasinya.
10:44Sehingga memang ada surplus sekitar 3,56 miliar dolar Amerika Serikat.
10:50Kemudian kita lihat kinerja surplus neraca perdagangan
10:52dari Desember 2023 sampai dengan April 2024.
10:56Sempat terendah di Februari 2024 0,87 miliar dolar Amerika.
11:01Kemudian langsung melonjak di bulan Maret 2024 menjadi 4,47 miliar.
11:06Kemudian turun lagi di bulan April 3,56 miliar dolar Amerika
11:11untuk surplus neraca perdagangan.
11:13Kita lihat berikutnya nilai ekspor non-migas ini
11:17yang masih menjadi andalan untuk kinerja ekspor Indonesia.
11:21Di bulan April 2024 18,27 miliar dolar Amerika
11:25kalau kita bandingkan dengan Maret bulan sebelumnya.
11:29Minusnya 14,06 persen.
11:31Kemudian dibandingkan dengan April 2023 tahun lalu
11:35masih ada kenaikan sekitar 1,33 persen
11:38untuk nilai ekspor non-migas Indonesia.
11:40Lantas bagaimana dengan nilai importasinya
11:43untuk sektor non-migas Indonesia?
11:46Di April 2024 tercatat 13,10 miliar dolar Amerika
11:51dibandingkan dengan bulan sebelumnya juga minus 10,51 persen.
11:55Sementara dibandingkan dengan April tahun lalu
11:58masih ada kenaikan 5,68 persen.
12:01Baik kita lanjutkan kembali perbincangan bersama dengan Bapak Rizky
12:05dan juga Bapak Muhammad Faisal.
12:07Baik Pak Rizky kita akan lanjutkan kembali.
12:09Ini perbincangan menarik kalau kita lihat dengan beberapa data
12:12tadi yang sudah Anda sampaikan memang
12:14dinamika untuk kegiatan eksportasi kemudian importasi ini
12:18juga cukup beragam ya di sepanjang 4 tahun terakhir.
12:20Tapi Anda yang perlu cermati tadi
12:22untuk meningkatkan kinerja ekspor
12:24ini perlu strategi apa?
12:26Apakah kita mencari negara-negara tujuan ekspor lainnya?
12:30Karena kita tahu pemerintah pun sedang gencar juga.
12:32Tapi menurut pandangan Kadin apakah sudah cukup optimal?
12:36Atau perlu kita booster lagi begitu disana?
12:41Dalam hal ini Kadin Indonesia mengapresiasi
12:43langkah-langkah yang pemerintah sudah lakukan
12:46untuk membuka pasar-pasar ekspor baru.
12:49Karena memang kita melihat dalam beberapa tahun terakhir ini
12:53Indonesia pun juga masih me-lobby agar produk-produk nikel kita ini
12:57bisa mendapatkan potongan insentif fiskal nanti
13:03dikirim ke Amerika Serikat.
13:05Dan juga kan memang isu yang lagi mencuat ini adalah
13:08bagaimana penerapan ESG.
13:10Karena kalau misalnya kita mau ekspor ke Amerika
13:13ataupun ekspor ke Eropa ini kan ESG-nya kita seperti apa.
13:16Sedangkan kan konteksnya ESG di Indonesia sendiri
13:19belum ada acuan bakunya.
13:21Baik di dalam sektor kami, di sektor pertambangan
13:23maupun sektor energi secara keseluruhan.
13:25Karena kan ini menjadi satu
13:27menurut kami yang memang satu hal yang perlu kita lakukan
13:30boosting up ya. Karena agar
13:32kita juga tidak terlalu bergantung kepada satu atau dua market yang ada.
13:36Karena selama ini kan kita bergantung misalnya kepada China.
13:39Tapi kalau menurut China terlihat di pelembatan ekonomi
13:42otomatis pasti akan berimbas juga kepada ekspor kita.
13:45Beli juga kepada ekspor-impor kita.
13:47Karena memang tadi yang disampaikan Pak Faisal kan
13:49bukan berarti impor turun itu bagus juga.
13:51Tapi kita lihat beberapa sektor manufaktur ini kan juga membutuhkan
13:55importasi untuk bahan bakunya mereka kan.
13:58Misalnya melakukan produksi aluminium gitu kan.
14:01Atau misalnya melakukan untuk produksi yang lainnya seperti yang ini.
14:05Kalau kita juga cermati
14:07di beberapa media ini kan
14:09BPS menyampaikan bahwa ada penurunan juga
14:12terhadap ekspor
14:15barang perhiasan atau barang berharga ya.
14:17Baku dari logam mulia emas gitu.
14:20Nah tapi balik lagi.
14:22Sepanjang yang kami ketahui dan kami yakini
14:24ini komoditas ini kan memang akan selalu naik turun.
14:27Semua akan tergantung pada supply agreement.
14:29Ditambah dengan faktor geopolitik yang ada sekarang.
14:32Kita bicara kemarin terjadi COVID.
14:34Oke setelah COVID ternyata muncul adanya perang Rusia-Ukraine gitu kan.
14:38Ini ditambah lagi sekarang ada juga konflik yang ada di Timur Tengah.
14:42Ini juga akan memengerangi rantai pasok.
14:44Jadi kalau seperti yang tadi Pak Faisal sampaikan
14:46kenapa terjadi super cycle ya.
14:50Batu bareng yang kemarin tiba-tiba naik sampai 423 dolar.
14:54Sekarang di bawah 200 dolar.
14:56Ini kan kita bicara memang cyclenya seperti itu.
14:58Ditambah juga dengan adanya konflik gitu.
15:00Jadi menurut kami ya ini memang perlu menjadi perhatian kita bersama.
15:04Baik pelaku usaha maupun pemerintah.
15:06Baik Pak Faisal menurut Anda apakah ini warning
15:09ataupun lampu kuning juga begitu yang menjadi sinyal
15:11untuk kinerja ekspor dan impor kita
15:13begitu yang mempengaruhi nanti surplus
15:15neraca perdagangan Indonesia di bulan-bulan berikut.
15:18Yang ingat tadi importasi yang Anda kawalitirkan
15:20justru ini mengganggu nanti kinerja
15:22ataupun industri manufaktur dan pengolahan di Indonesia nih Pak Faisal.
15:26Ya saya ingin highlight dulu.
15:29Jadi dari yang disampaikan oleh Pak Rizky itu menurut saya sangat penting.
15:33Ketika kita berbicara ekspor tadi Mas Prasuga nanya
15:37untuk diversifikasi perlu atau tidak.
15:39Nah ini memang kecenderungan.
15:42Kita ini ketergantungan ekspor kita dengan Cina itu semakin tinggi semakin besar.
15:46Nah ini perlu digarisbawahi.
15:48Bukan berarti kita satu-satunya negara-negara peer country juga.
15:52Tetangga kita juga sama.
15:53Dia punya tingkat ketergantungan terhadap ekspor ke pasar Cina.
15:57Jadi beberapa negara yang mitra dagang
15:59atau pasar utama ekspornya adalah Tiongkok.
16:02Tapi kecepatan daripada share
16:04atau proporsi ekspor kita ke Tiongkok terhadap total ekspor kita
16:09ini meningkat lebih cepat dibandingkan peer country.
16:13Sehingga pada saat ini 24% dari pasar ekspor kita adalah ke Tiongkok.
16:18Ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga
16:21yang rata-rata masih di bawah 10%.
16:23Nah ini memang ada positif tapi ada juga yang perlu diperhatikan
16:27karena kalau kita tergantung terlalu besar kepada pasar Tiongkok
16:30ketika ada masalah di ekonomi Tiongkok
16:33ini akan berimbas lebih besar pada negara-negara yang punya ketergantungan tinggi.
16:37Nah masalahnya adalah Tiongkok diprediksikan
16:41setelah tumbuh sebelum Covid itu di atas 6%
16:44setelah Covid ini lebih lambat lagi,
16:47kemarin 5%, sekarang 4%.
16:49Dan ke depan diperkirakan Tiongkok akan masuk kepada zona ketumbuhan ekonomi
16:55yang 4%, 3%.
16:57Jadi artinya kalau kita terus mengikuti cara seperti ini
17:00ekspor ke Tiongkok akan semakin melemah.
17:02Termasuk tadi yang kaitannya dengan turunan daripada nikel.
17:06Besi baja dan juga untuk bahan baku untuk EV gitu ya.
17:09Nah ini apalagi kalau Tiongkok juga ingin menyasar
17:13misalkan pasaran Amerika yang tadi di-highlight oleh Pak Rizky
17:17sekarang akan menjalankan atau menerakkan IRA
17:21dimana disitu disebutkan bahwa masalah ESG
17:25atau masalah lingkungan dalam produk-produk yang diempor oleh Amerika menjadi sangat penting.
17:29Tapi kedua juga adalah dalam IRA disebutkan secara spesifik
17:34bahwa ada 4 negara yang tidak boleh dapat insentif.
17:37Itu adalah Tiongkok, Rusia, Iran, dan Korea Utara.
17:40Jadi Tiongkok salah satunya.
17:42Nah sehingga ketika kita punya ketergantungan ekspor untuk produk-produk
17:46yang benar-benar Tiongkok, jadi akan susah bersaing di pasar Amerika.
17:50Ini bukan berarti tidak ada solusi.
17:52Karena ternyata Tiongkok ini sudah tahu
17:55bahwa agak susah untuk masuk pasar Amerika.
17:57Mereka masuk pasar Eropa.
17:59Sehingga mereka membangun pabrik-pabrik ya turunan untuk nifli itu di Eropa.
18:03Artinya kalau kita untuk jalur kita mengandalkan Tiongkok
18:08untuk urusan turunan nifl, ini kita bisa menyasar ke pasar Eropa instead of Amerika.
18:15Nah untuk pasar Amerika, ini pentingnya diversifikasi investasi
18:19supaya bukan hanya Tiongkok saja.
18:21Jadi misalkan sekarang sudah masuk juga Jepang, Korea.
18:24Nah Jepang, Korea ini adalah salah satu yang diberikan in favor of kebijakan Amerika termasuk IRA.
18:31Jadi Jepang, Korea bangun.
18:33Kalau tadi Cina bangunnya di Eropa, Jepang, Korea bangun di pabrik di Amerika.
18:38Jadi kalau kita ada rantai masuk turunan nifl yang tidak hanya lewat Cina
18:43tapi juga Jepang, Korea, ini bisa masuk ke pasar Amerika.
18:46Nah ini pentingnya diversifikasi investasi yang berdampak pada diversifikasi ekspor.
18:51Nah belum lagi juga tadi masalah diversifikasi yang di luar global value chain.
18:56Sebagai contoh dalam rilis BPS terakhir, kalau kita bisa melihat
19:00nah semua negara ini mengalami penurunan kita, ekspor ke banyak negara mengalami kontraksi
19:06termasuk ke Tiongkok, termasuk ke Jepang.
19:08Nah yang tidak itu India.
19:11Nah ini India yang adalah nomor sekian daripada mitra deka utama kita.
19:14Jadi artinya sebetulnya ada sebagian daripada negara tujuan ekspor kita
19:20yang bukan yang tradisional, India, dan sebetulnya banyak yang lain yang non-tradisional
19:25yang punya peluang untuk masih terus tumbuh.
19:28Ketika negara yang besar-besar ini semuanya mengalami penurunan impor dari negara lain.
19:34Jadi itulah pentingnya diversifikasi.
19:36Oke, oke. Nah strategi dari pelaku usaha seperti apa begitu untuk menyiasati tadi
19:40apakah kita ikut juga aktif atau tidak untuk mencari negara-negara tujuan ekspor
19:44kita akan bahas lagi di segmen berikutnya.
19:45Jadi seperti apa sih tadi adanya penurunan importasi di segmen berikutnya
19:49dan Pemirsa tetaplah bersama kami.
19:58Ya Pemirsa kita lanjutkan kembali perbincangan menarik ini bersama dengan Bapak Arya Rizky Darsono
20:02Ketua Komite Tetap Miner Bakal di Indonesia dan juga Bapak Mawat Faisal
20:06Direktor Eksekutif Kor Indonesia.
20:08Baik Pak Faisal kita akan lanjutkan kembali.
20:11Nah bicara mengenai importasi tadi.
20:12Nah ini tadi sudah sempat juga disinggung oleh Pak Rizky begitu bahwa
20:16memang importasi kita ini penting juga untuk menjaga geliat dan roda kehidupan
20:22dari industri-industri manufaktur maupun industri pengolahan di Indonesia ini Pak Faisal.
20:29Ke saya dulu ya?
20:30Atau ke Pak Rizky?
20:31Ke Pak Faisal dulu.
20:33Jadi untuk import yang perlu diperhatikan adalah bagaimana supaya jangan sampai
20:39kemudian kegiatan produksi di dalam negeri ini tergaku akibat
20:43karena lebih banyak produksi di dalam negeri ini juga bergantung pada bahan baku daripada import.
20:49Nah akhir-akhir ini banyak masalah atau isu yang timbul terkait kesulitan
20:54dalam hal memperoleh bahan baku.
20:56Nah jadi yang kita dalam hal harmonisasi kebijakan tarif impor
21:02yang perlu diperhatikan adalah jangan kebalik.
21:04Jadi jangan sampai impor bahan baku susah, impor bahan baku jadi gampang.
21:09Nah ini yang sering kejadian.
21:11Yang semestinya yang kalau kita ingin mendorong industrialisasi di dalam negeri,
21:14mendorong perkembangan ekonomi di dalam negeri, kebalik.
21:17Jadi mesti impor bahan jadinya yang lebih tinggi dibalikkan impor bahan baku.
21:23Karena itu untuk kebutuhan produksi, penciptaan bahan baku, dan lain-lain.
21:28Nah dalam release BPS terakhir sayangnya,
21:31nah ini biasanya terutama yang year to date ya,
21:34kalau saya lihat ini impor barang konsumsi yang lebih tinggi.
21:38Ya, naik 12,55% itu Pak Faisal.
21:41Betul. Nah ini kan artinya agak berbeda dengan prinsip yang tadi.
21:47Nah beberapa hal yang menjadi concern daripada pelaku usaha,
21:50ini perlu diperhatikan karena seringkali juga dari sisi platform dalam negeri
21:54yang menyulitkan untuk impor bahan untuk industri begitu.
21:58Baik, nah kalau Pak Rizky Anda melihatnya bagaimana dengan importasi tadi?
22:02Apakah kebutuhan itu benar-benar harus tadi?
22:05Ada kemudahan yang juga diberikan untuk importasi,
22:08importasi maksud saya terkait dengan bahan baku penolong misalnya untuk industri kita?
22:12Ya, kalau kami memandang memang importasi bahan baku ini juga harus dipermudah ya.
22:20Karena kalau misalnya nanti kita mau mengharapkan ekonomi mulai bergeliat atau menjalan,
22:24bisa menyerap lapangan kerja, juga bisa mendapatkan,
22:27menambahkan pendapatan penerimaan negara, ini kan memang harus dipermudah.
22:32Karena kami pun juga banyak menemui keluhan dari para anggota KADIRIN ini
22:36yang melakukan importasi bahan baku untuk melakukan produksi selanjutnya,
22:40produksi selanjutnya ini juga banyak-banyak kendala gitu kan.
22:43Jadi harapan ini pun juga memang bisa dipermudah.
22:47Cuman satu sisi lain mungkin saya perlu diskusi lebih banyak.
22:51Karena harapan kami, kalau memang kami pelaku usaha pertama ini melakukan hilirutisasi,
22:56nah ini bahan bakunya sebagai finish product ini kan harus bisa segera diserap oleh industri.
23:03Nah tapi kalau misalnya nanti harus dilawan dengan bahan baku import,
23:07ini juga pelaku usaha pertama.
23:10Ini program hilirutisasi digaungkan oleh pemerintah,
23:13bahkan diwajibkan bahwa untuk melakukan peningkatan nilai tambah.
23:17Kita melihat bahwa misalnya timah diubah menjadi,
23:21dari mulai bahan baku timah menjadi tin ingot gitu kan.
23:26Nah ini bahkan ekspornya aja, penyerapan dalam negerinya aja baru sekitar 0,5%,
23:32sisanya harus diekspor.
23:35Jadi kan berarti masih kurang penyerapan di dalam negeri.
23:38Nah harapan, akan timbul industri-industri baru,
23:41misalnya tin solder, tin kemikal, contohnya dalam hal timah gitu kan.
23:46Sehingga bisa menyerap.
23:47Jangan sampai kami sudah dilakukan kewajiban harus melakukan peningkatan nilai tambah,
23:51tetapi tidak ada yang bisa menyerap.
23:54Nah bauksit, bauksit harus melakukan membuat alumina plan gitu kan.
23:59Jadi menghasilkan alumina sebagai bahan bakunya untuk aluminium,
24:02tetapi hanya bisa diserap itu bahkan kurang gitu.
24:06Hanya bisa diserap itu Rp750.000 sampai Rp1.000.000.
24:09Sedangkan kalau nanti seluruh alumina plan itu mulai beroperasi,
24:13maksitas produksinya bahkan Rp4.000.000 dalam satu tahun.
24:17Berarti kan belum bisa diserap total di dalam negeri.
24:21Nah ini harapan juga mulai bisa switching nantinya,
24:24kalau memang kami bahan bakunya ini sudah bisa menyiapkan,
24:27bisa manufakturing berjalan, ya mulai bisa diserap.
24:31Jadi bisa switching, kita tidak membuat importasi untuk bahan-bahan pulang lagi,
24:35tapi bisa disiapkan oleh pasar domestik.
24:37Oke itu dia tantangan berarti kait dengan hilirisasi ya,
24:40di hampir semua sektor khususnya pertambangan,
24:42bahwa memang serapan-serapan dari setelah produk-produk turunan itu diproduksi,
24:47seperti apa sih konsumsi di dalam negerinya.
24:49Pak Faisal, terakhir bagaimana Anda melihat potensi ke depan
24:52untuk serpas neraca perdagangan dengan PR-PR tadi yang sudah disampaikan oleh Pak Rizky?
24:58Ya, jadi melanjutkan dari Pak Rizky tadi,
25:00nah ini Pak Rizky memang betul, pada prinsipnya adalah
25:04impor bahan baku itu jika di dalam negeri tidak tersedia.
25:08Nah ini kalau kita berbicara industri manufaktur beda-beda,
25:11beda-beda sekali, ada yang tingkat ketergantungan impor yang tinggi, ada yang tidak.
25:15Nah Pak Rizky mewakili daripada industri yang punya bahan bakunya,
25:20yang punya dua bahan, bahan antara yang ada di dalam negeri.
25:23Nah ini pada prinsipnya adalah kalau ada di dalam negeri ya buat apa impor?
25:27Itu harus di dorong dulu, serapan dalam negeri dulu.
25:30Nah impor itu dilakukan jika tidak ada di dalam negeri,
25:33sehingga kalau tidak impor, maka industri-nya koleks.
25:37Nah jadi ini kita melihat dari industri satu per satu,
25:40jadi tidak sama.
25:41Nah itu tapi pada intinya adalah kita ingin mendorong produksi di dalam negeri
25:45dengan sebanyak mungkin multiplier.
25:47Efeknya itu adalah dari ekonomi, dari pelaku dan juga industri turunan di dalam negeri.
25:52Kalau seandainya tidak memenuhi atau tidak tersedia, baru kemudian impor.
25:57Ya tapi impor itu juga sekali lagi,
26:00tidak kita dorong terus secara terus menerus ke depan.
26:04Kita harus juga mendorong kemandirian.
26:06Jadi mengurangi dari waktu ke waktu ketergantungan impor dari luar.
26:10Misalkan di industri farmasi,
26:12yang besar ketergantungan impornya itu harus terus dikurangi
26:16dengan mendorong kapasitas produksi yang lebih dalam juga industri di dalam negeri.
26:21Baik, itu dia.
26:22Memang perlu ada solusi juga yang diberikan oleh pemerintah.
26:25Kita akan lihat nanti aksiannya seperti apa.
26:27Karena pemerintah juga berkepentingan untuk menjaga surplus tenaga perdagangan kita
26:30dengan tadi meningkatkan produksi di dalam negeri.
26:32Baik untuk kebutuhan bahan baku,
26:34kemudian serapannya ya setelah bahan baku tadi melalui proses penambahan nilai tambah.
26:39Baik Pak Faisal juga Pak Rizky,
26:41terima kasih banyak ini atas waktu dan sharing yang sudah Anda sampaikan kepada pemirsa.
26:45Selamat melanjutkan aktivitas Anda kembali
26:47dan salam sehat Pak Faisal dan juga Pak Rizky.
26:50Terima kasih.

Recommended