00:00 [Musik]
00:05 Maka Bapak Ibu kami ingin bercerita pada beberapa hal.
00:10 Yang pertama sebagai sebuah fondasi toleransi saya mulai
00:15 karena inilah yang menjadi modal dasar.
00:17 Kenapa? Kita punya Bhinneka Tunggal Ika.
00:21 Negara kita besar sekali.
00:23 Saya pulang dari Papua kemarin menengok beberapa tempat di Papua.
00:28 Saya tanya, "Kakak, Pace-Mace, kenal tidak sama orang itu?"
00:34 "Oh, saya kenal."
00:36 "Bahasanya sama?" "Oh tidak, kita beda suku, beda bahasa."
00:41 Terus saya cerita, saya pernah diajarkan sama orang Papua.
00:44 Katanya orang Papua itu Musa, muka sama.
00:47 "Oh itu orang Jawa yang lihat."
00:50 "Itu seperti kami orang melihat orang Jawa mana yang Sunda,
00:54 mana yang Jawa Tengah, mana yang Jawa Timur."
00:56 "Kami melihat juga sama."
00:58 Artinya apa? Betapa perbedaan yang kaya dari suku, agama, ras,
01:02 golongan inilah yang kemudian melahirkan Bhinneka Tunggal Ika.
01:05 Sepakatnya selesai.
01:06 Negara kesepakatan selesai.
01:09 Yang kita hadapi adalah ke depan.
01:11 Kalau ini diungkit-ungkit lagi,
01:13 maka kita akan keluar dari kesepakatan dan kita disibukkan lagi
01:18 pada konsensus yang sudah dibuat oleh para pahlawan, oleh para ulama, oleh para tokoh masa lalu.
01:24 Kita generasi berikutnya yang akan melakukan.
01:26 Nah, saya ingin mengambil tiba-tiba saya menuke pada apa yang menjadi spirit Muhammadiyah
01:32 yang dirasakan betul-betul di masyarakat.
01:35 Saya akan mengambil dua hal yang selalu masyarakat merasakan dengan hadirnya Muhammadiyah.
01:43 Satu, pendidikan. Dan dua, kesehatan.
01:46 Dua hal yang hari ini begitu penting untuk bangsa ini bisa melakukan lambungan yang tinggi.
01:54 Nanti kita akan bicara soal bagaimana menanggulangi kemiskinan.
01:57 Tapi rata-rata kalau dia miskin dalam desil satu banget,
02:04 dan dia tidak bisa apa-apa, maaf-maaf, dia miskin, dia penyandang disabilitas,
02:11 dia sudah lolo, lolo itu apa ya mas, lolo itu hidup sendiri begitu.
02:17 Maka undang-undang dasar punya kewajiban untuk memelihara.
02:24 Dan dia tidak bisa apa-apa, maka silahkan dikasih VLT.
02:28 Terus, tapi ketika dalam keluarga itu masih ada satu potensi dari anggota keluarganya untuk bisa berkembang,
02:37 maka pendidikanlah yang bisa mendobra kemiskinan itu.
02:41 Itu pendidikan.
02:43 Maka di ulang tahun Mata Naswa kemarin saya ditanya orang,
02:47 "Kenapa Pak Kanjar kasih topi merah putih gambar luku pendidikan kita?"
02:53 Saya bilang, "Siapa pun yang menang harus ingat pendidikan."
02:55 Muhammadiyah sudah mengawali tradisi itu, dan kalau saya salah Pak Mutih tolong dikoreksi.
03:02 Angka yang ini saya kumpulkan, sekolah di Dasman Muhammadiyah itu 3.334.
03:08 Undang-undang betul. Kalau ada yang baru tolong disampaikan.
03:12 Perguruan tingginya ada 174.
03:15 Tadi saya dengan Pak Haidar, Bisi-bisi, tiga perguruan tinggi Muhammadiyah besar itu ada di Jogja,
03:21 ada di Solo, ada di Malang, dan punya hal yang gede-gede.
03:25 Dan yang di Solo halnya ngutang ya Pak ya.
03:29 "Iya ini," kata Pak Tafsir, "karena selalu ada amal usaha," katanya.
03:35 Makanya Pak Tafsir menjadi salah satu komisaris bank jatim.
03:40 Enggak usah tepuk tangan, enggak ada sepeda.
03:49 Ini hanya pemberitahuan.
03:53 Karena orang mas lain waktu itu tanya kepada saya, "Pak Ganjar kenapa Muhammadiyah jadi komisaris?"
04:00 "Oh gampang saja, Anda mau jadi komisaris?" "Boleh, besok pagi saya angkat."
04:06 Cuman Muhammadiyah itu asetnya kurang lebih 2 triliun, betul ya Pak ya, yang berputar di sana.
04:12 Kalau Anda mau, silahkan, besok pagi Anda komisaris juga gitu.
04:17 Langsung mundur teratur.
04:19 Jadi ini cerita amal usaha dengan modernitas pengelolaan.
04:23 Saya sampaikan.
04:25 Jadi bukan hanya maaf dengan segala hormat saya, Pak saya minta, tidak.
04:29 Saya ngutang, ada achievement di situ, ada kinerja di situ yang kemudian dilaksanakan.
04:34 Ini saya belajar nih, ngaji saya sama beliau.
04:36 Memang Pak Tafsir itu jago nafsir betul.
04:39 Terima kasih.
04:40 (Sampai jumpa di video selanjutnya)
Comments