00:00 [suara mesin]
00:02 [suara musik]
00:04 [suara musik]
00:06 [suara musik]
00:08 [suara musik]
00:10 [suara musik]
00:12 [suara musik]
00:14 [suara musik]
00:16 [suara musik]
00:18 [suara musik]
00:20 [suara musik]
00:22 [suara musik]
00:24 [suara musik]
00:26 [suara musik]
00:28 [suara musik]
00:30 [suara musik]
00:32 [suara musik]
00:34 [suara musik]
00:36 [suara musik]
00:38 [suara musik]
00:40 [suara musik]
00:42 [suara musik]
00:44 [suara musik]
00:46 [suara musik]
00:48 [suara musik]
00:50 [suara musik]
00:52 [suara musik]
00:54 [suara musik]
00:57 [suara musik]
00:59 [Musik]
01:26 Pertama-tama saya pergi ke rumah puskesmas sama anak saya.
01:30 Udah itu, pas udah dapetan, lama-kelamaan anak saya jadi kesal.
01:40 Terus nangis, nangis, nangis, jalan, jalan, jalan, jalan, sampai ke depan falsek itu, ke depan kantor.
01:48 Ya saya bawa aja ke sana. Kebetulan bapak-bapak lagi kumpul.
01:53 Jadi anak saya minta dinasehati, tapi alhamdulillah dapet nasihat dari sana.
01:58 Jadi diomongin sama bapak yang tadi tuh, alhamdulillah bisa masuk gitu, bisa masuk alhamdulillah.
02:04 Tapi yang enggak enak itu, pilihannya itu bukan anak kandung melaporkan ibu kandung, karena saya yang bawa gitu.
02:13 [Musik]
02:32 Sekolah agama dan memang kebetulan kemarin sempat sedikit enggak pede untuk sekolah karena viralnya itu.
02:40 Tapi kita support terus, karena memang kalau di kebiasaan anak-anak pada polos gitu ya, viral itu menjadi aib, padahal enggak lah.
02:47 Karena viralnya juga keberaniannya dia itu ya kan.
02:51 [Musik]
03:04 [Musik]
Comments