- 8/28/2023
Nama Eko Yuli Irawan sempat menjadi perbincangan hangat ketika dirinya berhasil meraih medali perak Olimpiade Tokyo 2020.
Di balik kesuksesannya, ada kisah inspiratif yang menarik untuk diulas. Perjalanan karier Eko Yuli Irawan menjadi atlet angkat besi sukses kebanggaan Indonesia pun tak diraih dengan mudah. Ada lika-liku kehidupan yang dilalui sampai akhirnya ia bisa sukses seperti sekarang ini.
Simak selengkapnya di Special Dialogue!
Category
🥇
SportsTranscript
00:00 [MUSIK]
00:19 Halo, Oke Jurnalist. Kembali lagi di program spesial dialog edisi hari ini.
00:24 Di mana kabarnya teman-teman Okezoners. Semoga sehat selalu, dibudahkan segala urusannya,
00:31 dan dilancarkan rezekinya.
00:33 Okezoners, saya Maulana Yusuf akan membawakan program spesial dialog Okezon hari ini.
00:42 Sesuai dengan nama programnya, kali ini kita kedatangan tamu yang sangat spesial.
00:48 Yang penuh inspiratif dan bergelimbang prestasi di olahraga ampatisi.
00:55 Siapa lagi kalau bukan Eko Yuli Irawan.
00:59 Halo, selamat siang Mas Eko.
01:03 Siang Mas.
01:06 Gimana kabarnya Mas Eko?
01:08 Baik, sehat.
01:11 Alhamdulillah, semoga sehat selalu ya Mas.
01:14 Senang sekali kita kedatangan Mas Eko hari ini.
01:19 Terima kasih Mas Eko sudah meruangkan waktunya untuk berbincang-bincang bersama kami di program spesial dialog Okezon.
01:29 Teman-teman Okezoners, semuanya kita tahu bahwa Mas Eko Yuli Irawan ini adalah sesuatu atib
01:37 angkat besi yang penuh prestasi selama berkarir.
01:41 Sebut saja, beliau sudah memenangkan sejumlah kejuaraan, baik itu SEA Games, medali, sejumlah medali di Olympiade, dan masih banyak lagi.
01:54 Oke, langsung saja Mas Eko, to the point, kita langsung ke pertanyaan pertama.
02:00 Mas Eko, bisa diceritakan awal mula ketertarikan Mas Eko Yuli kepada cabang olahraga ampatisi.
02:08 Apa benar ada tantangan dari orang tua saat hendak menjajah cabang olahraga yang satu ini?
02:15 Gimana Mas?
02:17 Ya, ketertarikan yang pasti kan kita memang kepinginnya jadi eklit, punya piala lah mahal-mahalnya.
02:27 Jadi, mau masuk cabang olahraga apapun, jadi nggak spesifik harus angkat besi.
02:34 Cuma memang kebetulan yang dekat rumah, itu ternyata olahraga ampatisi.
02:43 Karena sebelumnya namanya anak-anak pasti, kayaknya main bola.
02:48 Mau masuk sekolah cabang bola, pasti anak-anaknya udah sekolah lagi, belum pernah lahir lagi.
02:55 Bahkan buat sekolah aja orang tua udah kebetulan, nggak mungkin belum hidup lagi orang tua.
03:02 Ternyata kemudian hari teman-teman ngajakin teman main, ngajakin untuk nonton di kasanakap di sini.
03:13 Kita ikut-ikutan ke sana, nonton, dan apa namanya, karena anak-anak kecil kan risi lari-larian,
03:23 jadi yang latihan ngerasa terganggu, kita melihatnya dari luar, kita masuk ke dalam dunia.
03:30 Akhirnya besoknya datang, pernah pendek, cuma sepatu sekolah, hanya pengen nonton dari dalam.
03:39 Jadi di pikir pelatih itu kita mau ikutan.
03:44 Karena sudah pakai sepatu kan, tapi kita coba aja, latih, kita coba-coba.
03:50 Seminggu kemudian, berlatih, berlatih, ya mungkin beda sama teman-teman yang lain,
03:57 yang lain ngerasa badan pada sakit semua, saya yang enggak, ngerasa biasa aja.
04:03 Jadi minggu berikutnya tinggal sendiri, yang lagi nyerami-rami tinggal sendiri.
04:09 Terlanjut terus, dan alhamdulillah resipinya mungkin awal ketemu pengeluaran anak kecil dari situ.
04:17 Jadi bukan yang spesifik, "Kalau saya mau jadi atlet akadistik", itu enggak.
04:22 Karena memang, ya bisa dibilang takdir ya ketemunya di akadistik.
04:27 Karena memang enggak ada panjangan tentang akadistik sebenarnya.
04:31 Berarti enggak ada tuntutan dari orang tua, Mas?
04:36 Enggak, enggak ada tuntutan dari orang tua harus jadi atlet, sebenarnya enggak ada.
04:41 Saya juga, namun yang ada di kampung, kita punya pekerjaan juga, kita kan pembela kambing.
04:47 Terus malah kita suruh kokus di sana ke orang tua.
04:50 Masalah tentangan orang tua itu ya awalnya seperti itu.
04:54 Takdirnya kalau kita sambil latihan, tanggung jawab pembela kambing ini jadi lalai.
05:01 Nah, seperti itu, jadi tentangannya di situ, yang awalnya belum mengizinkan,
05:06 yang ditakutkan karena kita punya tanggung jawab dari pekerjaan.
05:09 Dan takdirnya dengan adanya latihan seperti ini, itu dilalaikan.
05:15 Nah, setelah sebulan, dua bulan kemudian berlatih,
05:20 ya kan, bagi waktu saja ya, saat kita mulai latihan,
05:25 abis itu kita ikut ke tempat-tempat yang banyak rumputnya,
05:29 yang dekat tempat latihan itu, sambil disini latihan, pulang latihan,
05:33 baru bawa pulang kembaran.
05:36 Nah, selama mungkin dua bulan, mulai mungkin kelihatan pelatih bisa melakukan proses
05:41 dari mana punya potensi, akhirnya pelatih ngomong ke orang tua,
05:46 "Ihan, pada namanya, karena punya potensi, saya akan melakukan itu."
05:53 Nah, akhirnya pelatih menjelaskan ke orang tua,
05:56 "Tidak, Bapak, ini di sini, yang penting itu tanggung jawab lagi,
06:00 tanggung jawab lagi, dan Bapak-Bapak jangan sampai ditinggalkan juga."
06:04 Begitu. Berikutnya setahun-setahun, hampir setahun latihan,
06:11 berhubung ke orang masing-masing juga dengan semangat.
06:14 Dari sana orang tua lebih percaya lagi, yang semakin mendukung.
06:17 Luar biasa sekali ya perjalanan Mas Eko Yudhirawan
06:22 dalam menitik karirnya sebagai atlet angkat besi.
06:26 Selanjutnya, Mas, masih ingat nggak Mas, gelar atau trofi pertama kali
06:31 yang dapat Mas Eko sebagai lifter?
06:34 Kalau ingat, di usia berapa Mas Eko mendapatkan trofi pertama?
06:39 Ya, itu tadi sudah dikira-kira ya, karena awal-awalnya
06:43 di tahun 2001 awal, dan di Februari kalau nggak salah
06:48 saya mulai latihan di bulan September,
06:51 tahun Septembernya, saya mendapatkan kegelaran Nasional.
06:54 Di usia 12 tahun, tahun 2001, masih kelas 16.
07:02 Ya, betul, pertama kali pertama kali masih dapat medanik Mas
07:06 di sana, di kelas Nasional.
07:09 Ya, otomatis usianya ya, warna-warna berwarna jawa.
07:14 Karena memang ada kelas-kelasnya kan,
07:17 jadi saya juga dulu masih kelas jawa,
07:20 berbadan 30 kilo, kelasnya 35 kilo.
07:24 Jadi pertama kali ikutan kejuaraan langsung dapat medali Mas ya, Mas?
07:31 Ya.
07:32 Luar biasa.
07:33 Selanjutnya, Mas, Mas Eko tercatat sebagai atlet Indonesia
07:38 dengan medali Olimpiade terbanyak.
07:40 Sebetulnya apa sih Mas, rahasia suksesnya, Mas?
07:44 Ya, kalau rahasia mungkin enggak ada rahasia, ya semua sama,
07:47 kerja keras di latihan, dan ya saya juga sebelumnya
07:52 juga bertemu orang-orang yang baik, yang benar-benar punya misi
07:56 yang sama, sampai apa yang bisa membawa saya sampai ke tingkat
08:01 Olimpiade, dari pelatih, pengurus, selama perjalanan banyak sekali
08:06 yang berandil untuk bantu saya.
08:09 Jadi saya ketemu pengurus yang benar, yang benar membina saya,
08:14 terus pelatih juga, pelatih yang bagus.
08:17 Jadi ya anugerah saja, kita bisa sampai ke sana.
08:22 Di sisi lain, kerja keras tersendiri harus ada komitmen,
08:27 harus ada pengorganan, pasti lebih besar.
08:31 Karena setelah juara nasional tadi, 2022 saya harus berantau.
08:38 Bukan saya sendiri, satu tim dari Lampung itu dipindahkan semua.
08:43 Jadi kita harus jauh dari orang tua, pulang hanya hari raya saja,
08:48 lebaran saja, setelah itu, hanya waktu paling itu hanya 3 atau 10 hari,
08:54 harus balik lagi, konsisten lagi, latihan lagi.
08:57 Jadi pengorbanannya besar juga, jauh dari orang tua,
09:02 gimana caranya kita, saat kita makan pulang jangan sampai
09:07 tidak bawa apa-apa, harus ada hasil.
09:10 Dan itu pun, itu waktu sampai 4 tahun untuk kita mempersiapkan diri
09:16 untuk bisa kembali ke pintar internasional.
09:18 Jadi nggak gampang, kalau dibilang rahasia, nggak ada rahasia,
09:24 semua kerja keras sekarang tinggal sistemnya pengurus,
09:28 pengguna, sama pelatih, seperti apa.
09:31 Karena program bagus, kalau nutrisinya nggak bagus,
09:35 support juga nggak akan jadi.
09:37 Supportnya bagus, programnya nggak sesuai dengan atletnya juga
09:42 nggak masuk juga.
09:44 Jadi saling mengikat, dan atlet juga punya motivasi yang tinggi.
09:50 Jadi kalau saya hanya bilang motivasinya aja,
09:54 nggak 100% benar, karena memang ada orang-orang yang ikut
09:59 membantu kita di belakang.
10:01 Untuk segi atletnya sendiri, yang pasti punya keinginan
10:05 untuk target tertingginya apa.
10:08 Ingin Olympiade, ya sudah, ayo tunjukkan target Olympiade,
10:12 apalagi atlet di sini kan jarak terukur.
10:15 Jadi bisa dilihat.
10:17 Yang lalu juaranya berapa yang diangkat, kita harus berapa.
10:21 Sudah ada patokannya.
10:23 Seperti hanya pengguna-pengguna terukur kan semua sama.
10:27 Seprinter sudah tahu berapa detik, jarak 100 meter.
10:31 Sudah ada patokannya, kalau mau juara, mereka harus dibawa ke mereka.
10:35 Kalau untuk sprinter, kalau kita, angkatannya harus lebih dari mereka.
10:39 Seperti apa perjuangannya, ya tunjukkan.
10:42 Bukan hanya di India, tapi kita harus kejar.
10:45 Bisa dibilang kenapa 4 kali Olympiade masih terjadi,
10:50 karena masih penasaran, belum pernah mas.
10:53 Bagi teman-teman yang lain, untuk ikut Olympiade saja susah.
10:59 Apalagi di posisi sudah besar, masih medali.
11:03 Dan bahkan medalnya sudah diperap.
11:05 Apalagi yang dijaris lain, masen juga.
11:08 Cuma memang harus lebih berjaga-jaga lagi,
11:12 persiapannya harus lebih bagus lagi.
11:14 Itu juga nggak bisa dari kita sendiri.
11:17 Kejadian pelatih, pengurusan seperti apa membina kita,
11:21 asupan nutrisinya, recovery-nya.
11:24 Itu saja kita masih belum bisa mendafinkan.
11:28 Jadi kalau dari atlet sendiri, sebelum karakter kita sampai,
11:33 kita harus berjaga-jaga terus, harus berusaha mencapai itu.
11:36 Dan targetnya pun jangan hanya, "Saya cukup juara si Tim saja."
11:40 Bisa. Akhirnya orang-orang harus tanya ke Olympiade,
11:43 "Kenapa kalau di Olympiade masih posisi medali,
11:46 di tingkat si Tim bisa masuk kelas?"
11:49 Sudah otomatis, apalagi di nasional, di sekelas pond.
11:52 Kadang orang berpikirnya, "Wah, ekonomi gampang.
11:56 Pond bukan kelasnya, si Tim bukan kelasnya."
11:59 Selalu begitu.
12:00 Tapi bagi teman-teman yang lain,
12:02 apakah bisa menembuskan prestasi mereka di tingkat yang lebih tinggi lagi.
12:08 Karena rata-rata, mas si Tim saja,
12:10 bagi mereka sudah menghasilkan yang cukup dari situ.
12:13 Jadi yang benar-benar tidak target ke medali,
12:17 bisa dibilang seperti orang gila.
12:20 Meskipun prestasi yang benar-benar memperjuangkan diri,
12:23 pengorbanannya luar biasa.
12:26 Bukan saya, tidak mereka,
12:29 karena teman-teman semua sudah berusaha di sana,
12:32 tapi memang mungkin prestasi belum sampai melompat ke tingkat Olympiade.
12:38 Tapi padahal mereka sudah berjuang pas,
12:40 mungkin pembinaannya, platnasa atau apa,
12:44 persiapan campur kondamnya,
12:46 itu mungkin tempur-tempur saja tidak masalah.
12:49 Berambisi untuk menyebut medali emas di Olympiade Paris?
12:55 Kalau berambisi, pasti ketinginan.
12:59 Tapi semua lihat persiapannya ke depan seperti apa.
13:04 Jadi kalau berambisi, siapa sih yang tidak mau medali emas?
13:09 Di Olympiade lagi, bisa tentu siapa pun.
13:13 Jadi semua pasti berharap di sana.
13:16 Cuma pada kenyataannya, lihat persiapan kita seperti apa,
13:19 menjelang pertandingan kompetisi itu,
13:21 sudah siap belumnya,
13:23 itu yang perlu dilihat ke depan.
13:26 Karena masih ada satu tahun ke depan,
13:28 kita tidak tahu akan jadi apa,
13:30 persiapannya seperti apa,
13:32 yang kita mungkin berjalan baik,
13:34 dijauhkan dari cedera,
13:36 jadi bisa lebih maksimal bersiapkan diri.
13:39 Kalau Mas Eko sendiri,
13:43 yakin nggak Mas bisa merebut emas di Olympiade nanti?
13:48 Kalau yakin, kita belum tahu.
13:50 Mas saya bilang tadi, kita lihat persiapannya dulu,
13:53 karena masih ada satu tahun ke depan.
13:55 Kalau kita bilang sekarang siap, pasti bisa.
13:58 Karena dalam perjalanan itu,
14:00 kita mungkin ada kondisi badan yang kurang sehat,
14:05 itu harus ngulang lagi.
14:07 Karena latihan kita pasti lebih dimaksimalkan,
14:13 otomatis melampaui batas,
14:18 karena harus dimaksimalkan.
14:20 Kalau rekal peringkat benar,
14:22 adalah yang dirasa,
14:24 mungkin cedera atau apa,
14:26 itu waktu lagi.
14:28 Makanya, untuk jauh-jauh hari seperti ini,
14:30 kita nggak bisa menargetkan.
14:32 Kita lihat hari-hari nanti.
14:34 Tapi untuk kepingin itu pasti,
14:36 semua atlet ingin mendaling emas.
14:38 Pengen mencari itu.
14:40 Masalah bisa nggaknya, kita lihat nanti.
14:43 Kita yang pasti berusaha harus hari ini.
14:45 Berarti alasan Mas Eko, Mas Ibrahim,
14:50 tampil di Olympiade Paris 2024 ini,
14:53 karena ingin merebut pendaling emas?
14:55 Seperti itu atau ada alasan lain?
14:57 Betul. Jadi, satu, kita yang pengin,
14:59 masih penasaran.
15:01 Kedua, kalau dilihat dari prestasi saat ini,
15:06 atau tenaga saat ini terlatih,
15:08 masih sanggup bersaing dengan mereka.
15:11 Jadi, masih punya harapan untuk bisa
15:14 menumbangkan medali lagi.
15:16 Dan kalau memang pendinaannya bagus,
15:18 persiapannya bagus,
15:20 nutrisi dan recovery-nya bagus,
15:22 mudah-mudahan itu bisa tercapai juga.
15:25 Jadi, sekarang ini kita lagi
15:29 menyesampingkan yang nggak berusia,
15:32 udah 34 tahun,
15:34 mungkin 35,
15:36 yang kemaren-kemaren atlet sudah pensiun.
15:39 Ya, sudah, kita akan menyesampingkan.
15:43 Tapi, percaya perhatian dulu.
15:46 Karena ada hal-hal yang nggak mungkin
15:49 bisa jadi mungkin.
15:50 Kita sudah menerapkan sistemnya terpaksa.
15:52 Kedua, yaudah lagi,
15:54 nutrisi sama recovery-nya harus dimaksimalkan lagi.
15:59 Kalau di 30 tahun, saat senior.
16:02 Karena fisik kan berbeda.
16:04 Kalau di 30 tahun, saat 30 tahun.
16:07 Kita juga disitu-situ kan latih tentang program.
16:11 Karena nggak bisa disamakan.
16:12 Karena kalau disitu-situ kan nggak se-tukar yang
16:15 atlet mudanya.
16:17 Jadi, kita harus berbeda.
16:20 Jadi, ada yang berbeda,
16:22 tapi pada intinya,
16:24 nanti keputusannya sama, goal-nya sama.
16:26 Mas Eko kan sekarang usianya udah 34 tahun ya, Mas?
16:34 Nah, Mas Eko baru saja memecahkan rekor SEA Games
16:38 2023 dan merebut mendalik era kejuaraan
16:41 dunia angkat besi 2002.
16:44 Mas Eko sekarang pasang target apa, Mas,
16:46 di Olimpia di Paris 2024?
16:49 Ya, yang pasti kita kan fokus masih tahap kualifikasi, ya, Mas.
16:54 Tahap kualifikasi, kita cari tiket lolosnya dulu.
16:57 Karena masih kerja-kejaran terus.
16:59 Jadi, ya mudah-mudahan bulan 4 tahun depan
17:03 udah memastikan kekelolosannya.
17:06 Setelah tahun itu udah lolos, baru kita bisa
17:09 menargetkan cepat.
17:11 Dan untuk saat itu kan kita,
17:13 yang terbaik aja lah kejar yang terbaik dulu.
17:15 Karena memang tahap kualifikasi itu yang mengamankan
17:19 kekelolosan dulu.
17:21 Jadi, tidak, artinya kita pinginnya saat SEA Games dan Olimpia
17:24 atau itu aja.
17:26 Tapi fokus ke,
17:28 ya, fokus ke, untuk lolos ke kualifikasi dulu, ya?
17:32 Ya, untuk saat ini.
17:34 Belum berbicara target.
17:36 Betul, masih ada 3 kali kualifikasi lagi.
17:38 Kita masih mencoba itu dulu.
17:40 Jadi, untuk kekelolosan sih,
17:43 tingkat dunia sudah,
17:45 cuman kan ada pelakis yang mencoba untuk
17:47 kasih kecerdasan, ya?
17:49 Jadi, tetap-tetap harus mengamankan dikit dulu.
17:53 Karena, diangkat ke sini,
17:55 satu nomor hanya satu atlet per negara.
17:58 Jadi, itu bedanya.
18:00 Jadi, teman se-negara pun kita harus bersaing dulu
18:03 untuk menerbitkan posisi.
18:05 Jadi, posisi yang tertinggi,
18:07 dia yang terangkat olimpiade.
18:09 Jadi, masih persiapan.
18:11 Terus, masih terkualifikasi terus.
18:13 Oke, mas.
18:18 Siapa lawan terberat yang bakal dihadapi
18:21 di Olimpiade Paris 2024?
18:23 Apakah ada lifter muda
18:26 yang memberi kejutan atau gimana, mas?
18:28 Ya, lawan terberat yang pasti
18:31 dari China masih, Lipa Bin.
18:33 Terus, Lipa Bin, atau kita juga enggak tahu
18:35 akan datang yang baru lagi atau enggak.
18:38 Kita masih terkualifikasi.
18:40 Yang pasti, semua tergata.
18:43 Jadi, yang ikut Olimpiade, yang bakal terpilih,
18:45 itu pasti ikut dikualifikasi tersebut.
18:47 Jadi, enggak ada tipe-tipe baru
18:49 yang bakal menyadok.
18:51 Kemenggantikan itu enggak ada.
18:53 Jadi, harus tergata.
18:54 Terus, dalam lima kali kualifikasi,
18:56 harus tergata semua.
18:58 [Musik]