Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Rocky Gerung, membantah anggapan dirinya telah dibeli setelah masuk ke lingkar kekuasaan.

Rocky menegaskan, keberadaannya di Istana bukan berarti dirinya kehilangan kebebasan untuk menyampaikan kritik. Ia bahkan menilai presiden tetap membutuhkan kritik.

Rocky juga menjelaskan sikapnya terhadap Presiden dan sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis atau MBG serta koperasi.

Ia mengatakan, dukungannya terhadap program tersebut didasarkan pada pemahamannya mengenai prinsip-prinsip yang terkandung dalam konstitusi.

"Kalau gue kritik presiden, gue kritik diri gue sendiri dong. Kenapa? Gue pro MBG, gue pro koperasi. Karena itu ada dalam konstitusi itu."

Meski mendukung programnya, Rocky menegaskan bahwa ia tidak menyetujui praktik korupsi yang mungkin terjadi dalam pelaksanaannya.

"Itu kan yang korupsi gue enggak setuju. Tapi sebagai program, bagaimana dihilangkan MBG dan kooperasi itu yang adalah perintah."

Rocky juga menilai kritik terhadap keputusannya masuk ke lingkar kekuasaan tidak memahami alasan di balik langkah tersebut.

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/bhVcHeFlw1w

Baca Juga Rocky Gerung Sebut Istana Sarang Koruptor: Saya Bantu Presiden Nangkep Koruptor di https://www.kompas.tv/nasional/696257/rocky-gerung-sebut-istana-sarang-koruptor-saya-bantu-presiden-nangkep-koruptor

#rockygerung #wantimpres #presidenprabowo

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/696272/rocky-gerung-bantah-dibeli-istana-presiden-butuh-kritik-rosi
Transkrip
00:06Selamat malam, saya Rosyana Silalahi di program Rosy Ruang Opini Sumber Informasi.
00:11Roki Gerung yang selama ini dikenal sebagai sosok dengan kritik yang keras pada kekuasaan,
00:16tapi kini sudah masuk dalam lingkaran pemerintahan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
00:22Saya mengundang Roki Gerung.
00:32Terima kasih, Rosy.
00:34Saya mau kasih tau dulu, waktu kita sebelum mulai acara ini, teman-teman mahasiswa saya tanya,
00:39siapa yang tidak setuju soal Pak Roki masuk One Team Press?
00:44Rata-rata pada tunjuk tangan.
00:46Saya tidak setuju, Pak. Saya marah, Pak.
00:49Jadi izinkan aku sekarang, meskipun kita sering ngobrol, Bung Roki,
00:53tapi izinkan saya mewakili pertanyaan mereka.
00:58Tapi kelihatannya sudah agak lain nih, jadi anggota One Team Press.
01:01Ya, enggak nih. Masih pakai jeans, kemeja enggak tangan panjang, otak masih bagus.
01:11Karena sudah diuji oleh kemarahan publik.
01:15Ngomong-ngomong, setelah dilantik jadi One Team Press, lihat sosmed enggak, Bung Roki?
01:21Enggak, enggak pernah. Aku enggak punya sosmed.
01:23Wow, tapi itu...
01:24Aku enggak punya Instagram, enggak punya TikTok, enggak punya Facebook.
01:29Enggak punya sama sekali.
01:31Ada tapi pakai, itu pakai nama doang isinya bukan saya tuh.
01:37Tapi pantau dong isi sosmed?
01:40Jarang betul.
01:42Pasti yang kirim sosmed ke saya itu hanya untuk memberitakan,
01:47Rok, lu lagi dimaki-maki tuh.
01:48Asli, asli.
01:50Gue bilang, cara makinya gimana?
01:52Ya, kalimatnya kasar tuh.
01:55Ya, kalau cuma kalimat sakar sih, itu bukan maki-maki, itu kesel doang.
01:59Itu di sosmed, Bung Roki, hancur banget loh.
02:02Itu marah banget.
02:04Oh ya?
02:06Serius.
02:07Astaga.
02:09Itu mungkin rata-rata gini, buat mereka yang memforward,
02:14Padahal enggak kesel lah.
02:15Wah, abis nih Roki.
02:16Ya, ada yang ngirimin wajah saya dibikin monyet, anjing, segala macem tuh.
02:22Tapi kan itu, ya sosmed.
02:25Kan enggak ada kesempatan mereka untuk tanya secara argumentatif,
02:29Dan enggak perlu saya punya kesempatan untuk menjelaskan secara argumentatif juga.
02:34Ya, biarkan jadi heboh di dataran sosial media kan.
02:40Mungkin karena gini, Bung Roki, karena Bung Roki kan selalu kritis pada kekuasaan.
02:46Dan sekarang masih itu?
02:47Sama aja enggak ada.
02:49Ya, itu nanti aku akan tanya, Bung Roki.
02:52Dan kemudian kan diputar ulang ketika Bung Roki mengatakan pada Bung Ferry Amsari,
02:57Mengatakan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya,
02:59Saya enggak akan masuk kabinet gitu.
03:02Beneran, memang saya enggak masuk.
03:03Apa kabar dengan sekarang?
03:05Saya enggak masuk kabinet.
03:06Ya, intinya kan orang mendapatkan penjelasan itu lega bahwa seorang Roki Gerung
03:12Akan selalu berada di lingkar kekuasaan.
03:15Apakah kabinet sebagai menteri, atau kepala badan.
03:18Jadi kita enggak main dalam struktur atau nomenklatur sih, Bung.
03:21Tapi intinya masuk ke dalam lingkar kekuasaan.
03:25Saya pernah bilang, saya enggak mau diatur orang itu.
03:28Jadi menteri artinya, jadi pembantu presiden.
03:32Enggak bisa bicara, hanya boleh menjalankan perintah presiden.
03:37Saya enggak, di situ.
03:39One team presiden itu enggak dengar perintah presiden.
03:41Presiden minta nasihat justru tuh.
03:44Beda status etisnya beda tuh.
03:47Dan saya tetap bawa peralatan dari luar untuk masuk ke dalam.
03:54Software saya tetap akademisi.
03:56Kan Pak Presiden perkenalkan saya sebagai akademisi tuh.
03:59Bukan wakil jurnalis, bukan wakil olahraga panjat tebing, bukan wakil komunitas agama, macam-macam.
04:07Kan enggak di situ kan.
04:09Karena itu saya anggap bahwa, ya saya cuman, nah ini dia.
04:12Saya cuman melakukan rosi.
04:15Roba posisi.
04:22Dari luar ke dalam.
04:23Tapi softwarenya sama.
04:26Itu agak enggak masuk tuh logikanya.
04:30Gimana itu landasannya?
04:32Memang susah untuk diajarkan berpikir logis.
04:35Karena ketika masuk ke dalam kekuasaan, biasanya, ya mereka udah tergadaikan, Bung Roki.
04:41Itu yang tidak dapat dibantah secara instan bahwa seorang Roki Gerung itu udah kebeli.
04:48Gimana tuh?
04:49Coba terangkan pelan-pelan.
04:50Masalahnya saya dibeli supaya enggak bersuara.
04:52Atau saya dibeli supaya duit jajan gue setiap hari nambah.
04:56Kan apa dalil gitu?
04:58Dasarnya apa coba?
05:00Dibeli supaya enggak bersuara.
05:01Uang saya bahkan udah bersuara.
05:03Bahkan Syaganda Tegor, Kelibyanu, suara luruk.
05:06Tapi itu tetap akan bersuara kan.
05:08Dibeli supaya dengan uang.
05:13Dengan uang gue mau apain duit itu gitu kan.
05:16Saya enggak perlu beli apa-apa.
05:17Hobi saya masuk luar hutan.
05:19Mau dipakai naik gunung gitu.
05:20Duit itu.
05:21Jadi enggak ada logikanya.
05:23Menganggap saya dibeli.
05:24Kalau saya tanya dibeli buat apa.
05:26Supaya anda suaranya enggak boleh bicara lagi.
05:28Loh hari pertama saya sudah bicara kok.
05:31Bahkan isi dari undang-undang itu saya tafsirkan sendiri.
05:34Bahwa saya punya kedudukan etnis.
05:36Enggak ada di undang-undang yang bilang begitu.
05:38Tapi saya anggap bahwa presiden membutuhkan kritik.
05:41Yang kedua, luruk kenapa enggak kritik presiden ya?
05:46Kalau gue kritik presiden, gue kritik diri gue sendiri dong.
05:49Kenapa?
05:49Gue pro-MBG, gue pro-koperasi.
05:51Karena itu ada dalam konstitusi itu.
05:54Itu semangat kemanusiaan yang adil dan beradab.
05:57Keadilan sosial.
05:58Semuanya disarunggarkan lewat koperasi dan MBG.
06:01Tapi kan yang korupsi gue enggak setuju.
06:05Tapi sebagai program.
06:08Bagaimana dihilangkan MBG dan kooperasi itu yang adalah perintah.
06:13Perintah implisit di dalam pasal 33.
06:16Nah itu yang saya anggap bahwa ini mereka yang kritik itu.
06:19Ya cuman sakit hati doang.
06:21Bukan karena mengerti kenapa gue lakukan.
06:23Atau kenapa, sorry ini gue terus.
06:25Kenapa saya lakukan rotasi posisi.
06:30Rosi itu.
06:31Rotasi posisi.
06:32Pindah ke dalam.
06:33Ini menarik, sedar.
06:35Karena tiba-tiba top of mind saya langsung pengen nanya.
06:37Bung, berarti ketika Bung Roki merasa bahwa program presiden Pak Prabowo ini
06:44adalah sesuatu yang diamanatkan oleh konstitusi.
06:47Jadi bisa dibilang pro pada kebijakan presiden Prabowo.
06:51Sementara waktu presiden Jokowi keras banget.
06:55Apakah seorang Roki Guru ini sejatinya memang dulu kritik itu ya karena memang membenci Jokowi aja gitu.
07:02Ini saya ideologinya kiri.
07:06Prabowo kanan.
07:07Jokowi kiri.
07:10Balik.
07:12Jokowi kanan.
07:15No, no, no.
07:16Tadi kamu bilangnya Jokowi kiri.
07:17Ya karena itu saya mau uji aja tuh.
07:19Semua orang menganggap saya kiri, Jokowi kiri, Prabowo yang kanan tuh.
07:25Berarti saya mesti anti Prabowo karena dia kanan.
07:28Oke.
07:28Jelaskan ke saya mana program Prabowo yang kanan.
07:32Semuanya programnya kiri.
07:34Kasih makan orang.
07:36Kasih pendidikan.
07:37Kasih perumahan.
07:39Sementara Jokowi sangat kanan.
07:41Pro oligarki.
07:43Pro kapitalisme.
07:45Ya itu dasarnya.
07:47Apalagi dasarnya coba.
07:48Jadi kalau bilang lu kritik Prabowo dong.
07:50Berarti gue kritik diri gue sendiri tuh.
07:53Karena itu perintah konstitusi.
07:54Bukan sekedar perintah konstitusi.
07:56Kalau perintah konstitusi itu kanan juga akan gue tentang.
07:59Tapi konstitusi kita itu dasarnya ideologi sosialistik.
08:05Dan saya dari dulu ada di dalam spektrum ideologi itu.
08:09Nah orang yang kritik saya dia mesti jelasin.
08:11Kenapa you kritik saya?
08:13Berarti kalian kapitalistik dong.
08:14Enggak begitu.
08:15Loh kalau enggak begitu ikut saya dong kan.
08:17Nedungunya disitu nih para kritisi ini.
08:19Kalau dia bilang dia enggak setuju dengan saya.
08:22Dia mesti terangkan bahwa dia kapitalistik.
08:26Baru saya bilang oke.
08:27Saya hormati karena Anda kapitalistik.
08:29Saya sosialistik.
08:30Memang akan berkelahi tuh.
08:31Tapi dia enggak mau ucapin juga dia kapitalistik.
08:34Dia apa tuh?
08:35Bung Lon apa?
08:37Jadi karena sebentar.
08:38Kalau saya menyederhanakan apa yang menjadi penjelasan Bung Rofi.
08:42Karena ada pertemuan antara gagasan tentang sosialisme.
08:46Dengan seorang Presiden Prabowo.
08:47Betul.
08:47That's why udah kayak anak jaksel nih gue.
08:53Karenanya Bung Rofi merasa ada pertemuan gagasan dengan seorang Presiden Prabowo.
08:58Dan itu berbeda dengan ketika pemerintahan Pak Jokowi.
09:01That's what I mean.
09:02Eh anak jaksel lagi.
09:03That's what I mean.
09:04Ya kan lu anak menteng.
09:07Gini ya.
09:08Kalau tanya siapa lebih dulu paham sosialisme.
09:11Saya Pak Prabowo.
09:12Pasti saya lebih dulu paham.
09:15Pak Prabowo baru mengerti itu.
09:17Setelah dia harus bikin jarak ideologi dengan pemerintahan sebelumnya tuh.
09:24Akibatnya apa?
09:27Arah kebijakan diubah tuh.
09:29Struktur pemerintahan diubah tuh.
09:32Lalu orang anggap ya state sosialisme.
09:34Memang itu state sosialisme.
09:36Sebelumnya kan bukan state sosialisme.
09:38Neoliberalisme tuh.
09:39Jadi ini betul-betul pindah ideologi ya.
09:44Nah saya menganggap bahwa dari masyarakat saya nulis paper tentang sosialisme.
09:49Dalam bentuk yang sangat tajam akademis.
09:51Tiba-tiba ada kebijakan Prabowo yang sosialistik.
09:54Maka saya backup itu.
09:56Kan bukan presidennya yang saya backup ya.
09:58Tapi ide presiden tentang sifat sosialistik dari sebuah kebijakan.
10:03Oh ini menarik.
10:04Bukan individu presiden yang dia bilang.
10:07Bukanlah bagaimana.
10:08Tapi gagasannya dia.
10:10Tapi kenapa harus masuk ke dalam?
10:13Kalau dari luar itu cuma nulis paper, nulis di kompas.
10:16Berkali-kali saya nulis di kompas tentang ideologi itu.
10:20Jadi saya ingin supaya efektif.
10:22Kalau saya dari luar, kan orang bilang dari luar lebih bagus tuh.
10:25Kayaknya jaraknya berapa tuh.
10:27Ya kalau semakin jauh ya nggak dengar kan.
10:31Lebih baik ke dalam.
10:34Jadi engine itu dari luar saya bawa ke dalam.
10:37Software itu dari luar saya bawa ke dalam.
10:40Lain kalau saya kapitalis, saya bawa ke dalam karena rabo sosialis.
10:45Maka saya dibeli untuk jadi sosialis.
10:48Tapi kan dari awal saya pikirnya sosialis.
10:50Jadi saya nggak masuk kemana-mana.
10:54Memang itu habitat yang saya inginkan.
10:56Supaya presiden jadi sosialis.
10:58Bahwa kabinetnya itu masih kapitalistik.
11:01Itu yang saya bilang radical break gitu.
11:04Itu beda saya dengan kabinet bayangan.
11:06Mereka mau memperbaiki kabinet yang kapitalistik.
11:10Dia cuma mau mengkoreksi aja.
11:12Saya bilang enggak.
11:13Dia mesti dibatalkan kabinet yang kapitalistik gitu.
11:17Oke saya mulai paham.
11:18Jadi masuk ke dalam.
11:20Supaya ingin membantu secara prinsip.
11:23Bahkan bukan membantu.
11:24Memaksakan ide-ide sosialistik itu tuh.
11:26Walaupun potensi presiden.
11:28Presiden sudah perlihatkan bahwa proyek-proyeknya dia itu welfare.
11:32Tapi nanti ada kritik itu pemborosan anggaran.
11:35Oke.
11:35Itu soal teknis.
11:36Tetapi negeri ini didirikan untuk menghasilkan masyarakat yang sosialistis.
11:42Coba tanya.
11:43Bung Kano sosialistis.
11:46Cokro Minoto sosialis.
11:48Sutan Cari sosialis.
11:49Hatta sosialis.
11:50Siapa yang enggak sosialis?
11:52Kenapa tiba-tiba kita mesti masuk di dalam jebakan kapitalistik.
11:58Yang sekarang disparitasnya tinggi secara ekonomi.
12:00Mung Roki ingin memastikan.
12:02Ya.
12:02Supaya ide yang diucapkan oleh seorang presiden Prabowo itu betul-betul terrealisasi.
12:07Ya itu.
12:07Tapi gini.
12:08Poinnya itu.
12:09Waktu press conference, Bung Roki mengatakan, saya ingin bisikan saya, kalau enggak salah ya, kira-kira.
12:16Dua detik sampai di telinga presiden.
12:19Kira-kira gitu ya?
12:21Sampai dua detik sampai di telinga presiden.
12:25Maksudnya sebelum, saya mencegah detik kedua itu terjadi.
12:29Sebelum terjadi, dua detik saya akan bisikan kepada presiden.
12:33Ya dua detik itu kan metafor doang.
12:34Artinya, supaya apa yang diucapkan dan menjadi keputusan itu, itu sejalan dengan prinsip-prinsip dan ideologi sosialis yang dimiliki oleh
12:45seorang presiden.
12:46Tidakkah ucapan itu juga bentuk arogansi, Bung Roki?
12:49Seolah-olah Anda bisa mengatur presiden?
12:52Sangat arogan.
12:53Dalam tingkat ide.
12:55Kan enggak boleh sopan-sopan untuk mengatakan, masa Pak Presiden boleh enggak, seandainya Bapak itu jadi sosialis.
13:02Justru itu tidak sopan.
13:05Karena dia akan bilang, loh saya udah sosialis kok.
13:07Justru karena saya tahu pikiran Prabowo itu sosialistik, paradigma yang sama, paralel dengan pikiran saya, ya saya bisa kira-kira
13:15kan.
13:16Begini loh, ide, bukan begini loh.
13:19Yang salah ini, yang betul itu, ukurannya apa?
13:24Ya ideologi sosialistik.
13:25Jadi saya bisa bilang, jalan berpikir dari saudara Bahlil, itu kapitalistik Pak.
13:35Harusnya sosialistik.
13:37Tapi saya enggak bisa ucapan itu ke publik.
13:41Atau jangan Bahlil itu nama jenerik aja dari siapapun bisa saya sebut begitu.
13:46Cuma karena Bahlil yang ada di kepala saya, Bahlil teman baik saya secara personal.
13:50Tapi, idenya dia itu merusak lingkungan Pak, itu.
13:54Sementara keadilan sosial, kemanusiaan yang adil beradab, sekarang dipaksa untuk menghargai lingkungan.
14:01Karena yang beradab itu kalau kita tidak merusak lingkungan, tidak mengekstrak berlebihan sesuai dengan prinsip ekologi itu.
14:11Kita enggak boleh merusak rahim ibu bumi, gitu-gitu kan.
14:14Tapi saya menarik tuh, tadi saya sempat pick up lines dari Bung Roki.
14:19Ya enggak apa-apa, itu menunjukkan kesombongan.
14:22Jika itu untuk gagasan, dan itu untuk mempertahankan ekologis, maka itu layak untuk diperjuangkan.
14:31Yuk kita tepuk tangan dulu sebelum break.
14:33Terima kasih.

Dianjurkan