Skip to playerSkip to main content
  • 17 hours ago

Category

📺
TV
Transcript
00:00If identity is forbidden, then I won't be able to become Muslim.
00:05In fact, democracy can be.
00:07People who choose to choose identity.
00:09The first question is, if they choose to choose,
00:13what effect is to us?
00:25Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
00:27Sobat Republika, senang sekali bisa berjumpa bersama saya, Ani Nur Salikah.
00:33Dan saya Muhyiddin, selamat datang di...
00:35Mozaik, Ngobrolin Islam Asik.
00:38Sobat Republika, dalam kesempatan ini, kita kedatangan tamu istimewa.
00:44Beliau ini adalah seorang cendikiawan muslim muda dari Nahdlatul Ulama.
00:50Beliau adalah Prof. Nadir Shah Hosen,
00:54atau yang akrab di Sapa Gus Nadir.
00:57Assalamualaikum, Gus.
00:58Assalamualaikum, Gus.
00:59Kabar sehat ya, Gus?
01:00Alhamdulillah. Tapi saya nggak muda lagi loh, Kak.
01:03Masih disapa cendikian muda ya?
01:04Iya, iya.
01:05Nggak apa-apa, Gus.
01:06Biar terlihat muda gitu.
01:08Iya, iya.
01:09Ini dari Australia, Gus, langsung ke sini atau gimana?
01:12Atau, Andung?
01:14Ya, ada beberapa kegiatan, kebetulan.
01:17Terus ada haul Gus Dur, ada haul Mbah Bisri di Jobbang.
01:23Terus kemudian juga Silaturahmi dan sekarang di Undang Republika. Terima kasih.
01:28Sama-sama, Gus.
01:30Nah, ini dalam konteks kekinian ya, Gus ya.
01:33Ini kan jelang, tinggal menghitung hari.
01:35Pemilu, pemilihan presiden, legislatif gitu ya, Gus.
01:38Nah, dalam konteks kekinian ya, Gus.
01:42Kalau menurut Gus Nadir, Islam ini masih diperlukan nggak sih, Gus, dalam demokrasi kita?
01:49Sudah menghitung hari ya?
01:51Mungkin diingat sama Mbak Ani, itu karena hari Kasih Sayang, 14 Februari.
01:57Saya kira itu kan sebuah indikasi bahwa konteksasi pemilih itu harus berlandaskan kasih sayang.
02:07Ya.
02:08Kalau bahasa Al-Qur'an itu,
02:11Saling berwasiat dalam kasih sayang.
02:14Jadi, makanya dihitung ya, karena itu penting buat bangsa kita.
02:20Nah, dalam konteks itu pertanyaan Mbak Ani tadi menjadi relevan,
02:24Sejauh mana sih Islam ini memang masih menjadi faktor yang menentukan?
02:29Kalau kita tarik ke era global saja sekarang,
02:33Memang menjadi pertanyaan juga,
02:35Apakah memang di era sekuler sekarang ini,
02:41Apakah agama itu masih punya peran yang penting?
02:44Ternyata para sosiolog termuka di dunia,
02:49Seperti Peter Barger, Jose Casanova,
02:52Semua mengatakan,
02:53Ya, agama masih punya peranan.
02:55Agama punya seribu nyawa, nggak mati-mati ternyata.
02:58Di dunia ya, Gus?
02:59Nggak cuma di Indonesia?
03:00Ya, gitu.
03:00Sehingga kemudian kita lihat,
03:02Isu-isu agama itu selalu menjadi isu-isu yang menarik,
03:06Termasuk di Amerika sekalipun.
03:08Di mana di Pilpres, Donald Trump kemarin itu,
03:10Juga isu-isu agama juga masih naik.
03:15Di Indonesia dua pemilu terakhir ya,
03:18Saya kira polarisasinya juga menjadi sangat kuat,
03:21Soal politik identitas gitu.
03:24Jadi saya lihat bahwa,
03:25Masyarakat Indonesia ini masyarakat yang sangat religius,
03:30Apapun persoalannya,
03:31Itu dicoba dicarikan jawabannya lewat agama.
03:34Misalnya,
03:35Misalnya kalau Mas Muhyiddin ini punya hutang,
03:39Ngadunya ke siapa?
03:40Bukan ke konsultan keuangan profesional,
03:43Tapi ke Kiai.
03:44Minta wirik.
03:45Amalan-amalan Kiai gitu.
03:46Minta doa.
03:47Minta doa.
03:48Apa itu salah?
03:49Ya enggak lah, nggak salah.
03:50Minta doa, masa salah.
03:53Diputusin sama,
03:55Apa tunangannya?
03:57Stres, segala macam.
03:58Lapor ke Kiai.
03:59Jadi semua persoalan,
04:01Melusikan lewat perekatan agama.
04:03Saya bilang itu tidak salah tadi.
04:04Hanya memang,
04:06Menunjukkan bahwa kita masyarakat yang religius,
04:08Ketimbang kemudian konsultan,
04:10Konsultasi ke psikolog, psikiater.
04:13Atau ke dukun.
04:13Wah ya,
04:14Parah.
04:15Sinta ditolak dukun bertindak.
04:18Musrik gitu.
04:19Nah,
04:20Malah kita,
04:20Datangnya ke Kiai gitu apa gitu.
04:23Hutang banyak,
04:24Datang juga ke Kiai,
04:25Nanti dikasih wirid.
04:26Apakah itu memecahkan atau tidak?
04:28Ya enggak tahu.
04:28Tetapi,
04:30Itu kan kesannya.
04:31Begitu kemudian,
04:33Istri,
04:36Melawan suami terus,
04:38Wah musidi rupiah.
04:41Apalagi bicara soal pemiru.
04:43Di masyarakat kita,
04:47Apa arahan dari para ulama,
04:49Dari para tokoh agama,
04:50Dari pendeta,
04:51Pastor,
04:52Ya dan lain-lain itu,
04:54Sedikit banyak,
04:55Agama.
04:56Dan itu tidak hanya di semasa sekarang,
04:59Mungkin masa Nabi pun seperti itu khususnya agama ini.
05:01Ya masa Nabi belum ada pilpres ya Mas Munuddin ya.
05:03Jadi saya enggak tahu juga masa Nabi gitu.
05:05Cuma,
05:06Cuma kalau misalnya,
05:08Firqoh-Firqoh itu terakhirnya terpecah belah pada waktu sama Nabi,
05:11Itu ada kaitannya juga dengan agama khususnya ini?
05:13Ya,
05:13Ya,
05:14Saya kira Firqoh itu muncul setelah masa Nabi ya.
05:16Setelah Nabi Wafat,
05:18Pertanyaan,
05:19Siap,
05:19Nabi itu kan,
05:21Nabi dan pemimpin negara.
05:24Sebagai Nabi,
05:25La Nabiya Ba'dah.
05:26Enggak ada Nabi setelah beliau,
05:28Say.
05:28Itu akhidah al-usnah al-jamah seperti itu.
05:31Terus kemudian,
05:33Tapi kan sebagai pemimpin bangsa,
05:34Pemimpin negara harus ada penggantinya dong.
05:36Terus siapa yang menggantikan Nabi.
05:37Itu kan sejarah Islam panjang perdebatannya.
05:39Sampai muncul di dunia muslim,
05:41Sampai sekarang ada Sunni dan Sia.
05:44Yang tidak selesai itu.
05:46Siapakah yang berhak menggantikan?
05:48Apakah ada pesan Nabi khusus?
05:50Atau tidak ada diserahkan pada musawarah.
05:52Itu panjang perdebatannya seperti itu.
05:54Tapi saya kira poin dari Mas Yudid tadi adalah,
05:57Sejak awal,
05:59Memang masalah Islam dengan kepemimpinan itu,
06:02Menjadi concern kita semua.
06:04Karena concern para ulama, para sahabat Nabi seterusnya.
06:07Saya kira itu ya, Mas Yudid.
06:09Nah, Khus Nadir ini kan menjadi editor juga dalam buku Islam Sotus Asia itu ya?
06:16Islam Sotus Asia.
06:16Jadi memperhatikan Islam-Islam di Asia Tenggara.
06:20Nah, kalau Khus Nadir melihat sendiri di Asia Tenggara sendiri,
06:23Seperti apa?
06:24Apakah masih relevan nih agama terhadap demokrasi ini, Khus?
06:27Kalau di Asia Tenggara, konteks Asia Tenggara.
06:29Asia Tenggara sendiri juga,
06:32Islam itu ya di Indonesia ya.
06:34Di terbesar Indonesia, ada di Malaysia, ada di Brunei.
06:37Sedikit di Singapura.
06:40Terus juga ada konflik di Thailand, di Patani.
06:45Ada konflik di Moro, di Filipina.
06:48Jadi kalau kita melihat bahwa ada dinamisasi Islam di wilayah Asia Tenggara,
06:55ya kelihatan memang di Indonesia, di Malaysia.
07:00Di Malaysia misalnya saya sempat di dalam pertemuan tertutup dengan putrinya Perdana Menteri Anwar Ibrahim.
07:08Siapa Nurul Aziza ya?
07:10Betul ya Nurul Aziza?
07:11Iya Nurul Aziza.
07:11Nah itu diskusi soal Islam dan politik.
07:16Ingin mengambil pelajaran dari Indonesia bagaimana kemudian Nahdlatul Ulama mampu mengeren terjadinya politisasi agama di dua pilpres sebelumnya.
07:29Karena isu itu ternyata di Malaysia juga lagi kencang sekarang misalnya.
07:33Ya kita diskusikan lah apa sih batasan politisasi agama itu seperti apa dengan beberapa contoh-contohnya.
07:40Terus juga kemudian saya kira peranan di Brunei misalnya juga seperti itu.
07:45Ya bagaimana posisi Sultan itu kan menggabungkan dua unsur-unsur Melayu dan unsur Kerajaan.
07:53Nah Melayu, terminologi Melayu di Indonesia dengan di Malaysia Singapura belum berbeda.
07:59Kalau di Indonesia Melayu itu kan di Sumatera sana ada etnik sana orang Ria, orang apa itu Melayu.
08:05Tapi kalau di Singapura, Malaysia, Brunei, Melayu itu ya Muslim.
08:09Etnik dengan agama jadi satu campur.
08:13Dan ini menjadi kekuatan politik tersendiri kan akhirnya.
08:16Jadi di tingkat Asia Tenggara yang masih.
08:18Walaupun di Asia Tenggara juga tidak hanya orang Islam.
08:21Di Filipin itu Katolik sangat kuat, gereja Katolik sangat kuat.
08:26Apapun yang terjadi di Filipin itu harus ada restu dari gereja Katolik.
08:35Dan itu saya kira satu bukti bahwa ya dinamis sekali.
08:40Islam di Asia Tenggara dan agama di Asia Tenggara ini.
08:43Jadi batasan politisasinya sejauh mana sih, Gus?
08:47Batasan politisasi, agama dan dipolitisasi itu sejauh apa batasannya?
08:53Orang itu boleh memilih berdasarkan identitas apapun.
08:58Jadi gini, kalau Mas Muhyiddin ini nyalon gitu ya.
09:02Ini nyalon, bukan nyalon kerimbat ini.
09:04Ini nyalon kerimbat.
09:07Ya, ikut pemilu gitu apa gitu.
09:11Terus boleh nggak saya memilih Mas Muhyiddin ini berdasarkan bahwa sama-sama alumni, atau karena dari daerah yang sama, atau
09:22karena dari organisasi yang sama, atau dari agama yang sama.
09:25Boleh. Boleh dong. Itu kan hak saya.
09:27Saya mau memilih seperti itu.
09:30Oh, karena dia sama-sama satu SMA dulu sama saya.
09:34Saya kenal daripada saya memilih yang nggak saya kenal.
09:37Daripada saya memilih orang yang saya tidak tahu apakah di agamanya sama saya sama atau nggak.
09:42Atau etiknya sama atau nggak. Itu bol.
09:44Ya kan gitu kan.
09:44Nggak ada masalah itu.
09:45Itu bukan politisasi identitas.
09:49Itu adalah identitas politik.
09:51Identitas politik.
09:52Identitas identitas saya nggak bisa dihilangkan.
09:54Identitas mas-mas Muhyiddin ini nggak bisa dihilangkan.
09:56Bahannya kan juga gitu.
09:58Kita bisa menjadi sekarang dengan berbagai identitas itu.
10:00Ada unsur kedaerahan, unsur sekolah dulu, unsur agama.
10:04Apalagi, unsur dulu sama-sama kursus.
10:06Pokoknya kan kita tuh komplit manusiannya gitu kan.
10:09Irisan-irisan identitas itu.
10:10Dan itu menjadi bagian dari kita.
10:12Itu nggak bisa dihilangkan.
10:13Yang jadi masalah adalah
10:15Berubah identitas politik menjadi politik identitas.
10:19Menjadi politisasi sara.
10:21Ketika kita mengatakan.
10:23Tidak cukup hanya bilang bahwa saya memilih siak karena agamanya sama.
10:28Tapi kalau kamu tidak memilih yang sama dengan pilihan saya.
10:32Maka kamu murtad.
10:35Itu politisasi agama.
10:37Maka kamu bukan bagian dari kami.
10:43Atau mayatnya nggak mau disolatkan.
10:45Misalnya gitu kan.
10:47Sampai dari ayat sampai mayat.
10:48Politisasi yang seperti itu dulu.
10:50Yang sempat rame dibahas.
10:51Jadi.
10:53Itu yang disebut dengan politisasi agama.
10:56Dan bukan politisasi identitas sara segala macam.
10:59Bahwa.
11:00Kamu di kick out dari grup WA.
11:02Alumni.
11:03Karena berbeda.
11:04Segala macam.
11:05Gitu kan.
11:05Padahal sama-sama masih alumni.
11:08Masa hanya beda pilihan sikap politik.
11:10Mendadak tidak lagi diakui sebagai alumni.
11:11Nah.
11:13Itu yang politisasi seperti itu.
11:14Untuk ada kepentingan elektoral disana.
11:16Itu dimainkan kemudian.
11:18Wah kalau gitu kamu nggak bagian dari kami.
11:20Nah itu yang berbahaya.
11:22Tapi.
11:23Orang mau memilih.
11:25Si asing dan sisi.
11:25Berdasarkan identitasnya nggak boleh dilarang.
11:29Kan gitu kan.
11:30Jadi.
11:30Jadi kita pisahkan.
11:31Kadang-kadang karena.
11:33Karena tidak dijelaskan seperti ini.
11:35Orang jadi bingung.
11:36Politik identitas dilarang.
11:38Berarti saya nggak boleh menjadi muslim dong.
11:40Gitu.
11:41Pada dalam badal demokrasi.
11:43Membolehkan.
11:44Orang memilih berdasarkan identitasnya boleh.
11:46Oke.
11:46Itu harus masing-masing.
11:47Oke.
11:47Lalu apa peran dari gerakan social society.
11:50Seperti.
11:51Kalau dikitakan ada NU Muhammadiyah.
11:52Untuk mengantisipasi itu.
11:54Atau guntung-guntungkan di.
11:55Masyarakat dalam konteks pemilih.
11:57Nah sekarang dalam konteks Indonesia.
11:59Dinamik yang terjadi belakang ini.
12:01Menjadi pertanyaan.
12:05Siapa yang bisa merekatkan kembali bangsa ini.
12:08Pasca pemilih.
12:10Itu menjadi pertanyaan.
12:12Maka elemen civil society.
12:13Yang memberdayakan masyarakat.
12:15Dan mengawasi jalannya pemerintahan.
12:20Itu yang harus kemudian.
12:22Bisa merekatkan kembali.
12:24Masyarakat.
12:25Yang terpolarisasi akibat pemilih.
12:28Bagaimanapun juga.
12:29Kontestasi itu.
12:30Akan melahirkan perasaan-perasaan yang.
12:33Dia menjadi teralienasi.
12:36Perasaan yang kemudian.
12:37Dia kalah.
12:39Orang kalah ini.
12:40Kalau orang merasa kalah ini.
12:41Biasanya macam-macam gitu ya.
12:43Entah karena kalah nyari jodoh.
12:45Entah kalah bisnis.
12:47Kalah soal politik.
12:48Apalagi kalau dia sudah.
12:50Invest.
12:51Ber-MM untuk terpilih.
12:54Itu sensi.
12:55Stress.
12:56Rumah sakit bakal penuh katanya itu kan.
12:58Sama.
12:59Nah ini kan harus ada yang mengayomi.
13:01Merekatkan kembali.
13:03Gitu.
13:03Mengatakan bahwa kontestasi ini hal biasa.
13:05Kalah menang itu hal biasa kok.
13:07Gitu kan.
13:09Siapa yang melakukan itu?
13:10Nah.
13:11Karena Indonesia tadi masyarakat religius.
13:13Urusan jodoh.
13:15Kerjaan.
13:16Ilang kunci sepeda motor.
13:18Ilang sendal.
13:19Semuanya larinya ke toko agama.
13:22Gitu.
13:22Maka kemudian.
13:24Ormas keagamaan.
13:25Khususnya dalam konteks saya sebagai orang Islam.
13:28Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
13:30Itu penting.
13:32Sebagai perkat bangsa.
13:34Pasca Pilpres nanti itu.
13:36Sebagai bagian dari civil society itu tadi.
13:39Bukan soal karena dia agamanya.
13:41Bukan soal karena dia orang Islamnya.
13:42Tapi karena dia bagian dari civil society.
13:45Karena kan Muhammadiyah dan NU itu kan gak cuma mengayomi anggotanya.
13:49Tapi mengayomi bangsa ini.
13:50Bahkan mereka berdua itu kan lahir sebelum bangsa ini diproklamirkan.
13:55Karena itu punya tanggung jawab.
13:57Untuk menjaga agar kehidupan berbangsa dan negara kita penjalanan baik.
14:01Oke.
14:02Tapi kan yang menjaga itu.
14:04Nanti kan memang ulama dari dulu usia.
14:06Bahkan kalau di Jawa Timur itu dipecah kayaknya.
14:10Ulama yang ini kesini.
14:11Ulama yang ini kesini kesini gitu.
14:13Nah tapi sebenarnya.
14:14Tapi sebagian.
14:15Ulama ini terjun langsung ke politik praktis ini Khusus.
14:18Nah apakah sebenarnya secara ini boleh gak sih gitu ulama berpolitik gitu Khusus.
14:23Ada yang disebut dengan politik kebangsaan.
14:27Ada yang disebut dengan politik kekuasaan.
14:30Menurut saya ulama harus paham dan harus terlibat dalam politik kebangsaan.
14:38Kenapa?
14:39Karena ada yang disebut dengan high politik.
14:42Nilai-nilai etik.
14:43Nilai-nilai etis dalam masyarakat.
14:46Termasuk dalam usia politik itu menjadi sangat penting.
14:48Tanpa nilai-nilai etik.
14:50Kita ini tidak menjadi manusia normal.
14:52Dalam bahasa agama.
14:54Rasulullah diutus untuk menyempurnakan ahlak yang mulia.
14:57Itu ke nilai etis.
14:58Ahlak lukarima itu ke nilai etis.
15:00Dan di semua agama diajarkan.
15:02Dan kalau kehidupan berbangsa penegara kita itu sudah tidak lagi mengindahkan unsur-unsur etis itu,
15:08kan jadi persoalan.
15:09Misalnya akan muncul pertanyaan secara fikir.
15:12Apakah boleh kita sholat dengan sejarah curian?
15:18Ini dua hal yang berbeda.
15:20Kita sikapi berbeda atau satu hal yang kesamaan?
15:23Apakah boleh naik haji dengan uang korupsi?
15:27Apakah hajinya tetap sah dengan uang korupsi?
15:31Atau tidak bisa sah?
15:33Ini dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
15:36Ini pertanyaan-pertanyaan irisannya sangat jelas soal etis dalam kehidupan kita.
15:41Begitu juga dalam politik berbangsa.
15:43Karena itu kebangsaan, politik kebangsaan.
15:44Para ulama harus terlibat.
15:47Sahu.
15:48Politik kekuasaan.
15:49Nah ini yang jadi soalan.
15:50Ini disebut dengan low politics gitu ya.
15:52Politik tingkat bawah.
15:53Politik recehan.
15:55Dukung mendukung gitu kan.
15:57Ya segala macem.
15:59Kalau Kiai disowani oleh Capres ini,
16:03Cawapres itu ya.
16:05Tiba-tiba Capres-Cawapres itu datang pakai sarung gitu misalnya gitu kan.
16:13Assalamualaikumnya difaseh-fasehkan.
16:15Begitu misalnya.
16:16Misalnya untuk ini.
16:17Ya nggak ada masalah.
16:19Itu pilihan masing-masing gitu kan.
16:21Misalnya.
16:21Nah.
16:22Ulama mau mendukung si A, si B, si Se, itu nggak masalah gitu.
16:28Kecuali persoalannya adalah kalau dia mengatakan,
16:31kalau kamu tidak mengikuti arahan saya,
16:34maka kamu kemudian
16:36kafir.
16:38Ya itu jadi soalan.
16:39Batasan di situ saja.
16:40Itu termasuk politik sesi agama tadi ya.
16:42Itu pada level individu.
16:45Yang repot itu kalau terjadi politik kekuasaan pada level or masif tadi.
16:50Kita bicarakan NU dengan nomornya.
16:52Hmm.
16:53Nah ini agak repot.
16:54Gimana Badi?
16:55Ada yang mau ditanya?
16:57Ini mungkin ada keresahan-keresahan ya Gus.
16:59Gimana sih kalau misalnya.
17:01Memang tidak boleh gitu.
17:02Orang yang kita bergabung dalam or mas.
17:05Terus kita mau mendukung salah satu calon.
17:08Memang nggak boleh Gus.
17:11Pertama harus kita lihat aturan di or masnya.
17:14Aturan di or masnya seperti apa.
17:15Jadi kalau dalam bahasa.
17:17Karena saya orang NU ya.
17:19Dalam bahasa Nahdlatul Ulama yaitu
17:22ada Khitoh 1926.
17:25Ada garis perjuangan ketika Nahdlatul Ulama dididikan pada tahun 1926.
17:29Yaitu memang ini bukan organisasi politik.
17:32Ini organisasi mengurusi umat,
17:34dakwah, pendidikan, seterusnya seterusnya.
17:36Pernah pada satu masa NU masuk dalam dunia politik
17:40sehingga NU menjadi parpo.
17:43Pernah.
17:46Pemilu 55 misalnya.
17:47Tapi kemudian setelah itu menarik diri.
17:49Makanya disebutkan kembali ke Khitoh.
17:51Kembali ke spirit perjuangan NU dididikan tahun 1926 itu apa.
17:57Jadi harus netral.
17:58Netral.
17:59Tapi ternyata tafsir Khitoh itu, tafsir netral,
18:02itu juga pada setiap masa terjadi dinamisasi.
18:07Kan tidak stagnan.
18:11Misalnya di masa Orde Baru,
18:14tafsir netralnya adalah para ulama menarik diri dari politik
18:17dan mengurusi pondok pesantrennya aja.
18:21Mencetakkan rekade pada masa Orde Baru.
18:23Kenapa? Karena tekanannya luar biasa saat itu.
18:26Ketika reformasi dibuka, tafsirnya adalah
18:30PBNU mendirikan PKB.
18:32Partai Kebangkitan Bangsa.
18:34Kenapa? Karena landscape politik berubah.
18:36Para ulama tidak akan bisa terlibat dalam menentukan keputusan-keputusan
18:41yang berdampak luas pada publik.
18:43Kecuali ikut terlibat di parlemen.
18:45Lewat apa?
18:46Kedaran.
18:47Ya patah ya kendarannya gitu kan.
18:49Tapi dipisahkan.
18:50PBNU-nya tetap ada PKB.
18:53Tidak seperti dulu yang NU-nya menjadi parpo.
18:55Pada reformasi NU tidak parpol menjadi Orde Mas,
18:58tapi dibuat parpol baru.
18:59Atas arahan dari PBNU, PKB.
19:02Maka kemudian tafsir pada tahun-tahun itu di awal reformasi adalah
19:07kepentingan politik NU disalurkan lewat PKB.
19:11Maka hubungan NU dengan PKB menjadi sangat mesra
19:14sampai pada satu titik para ulama merasa PKB terlalu mendominasi.
19:19Jadi bukannya kemudian PKB yang anak NU,
19:22ini kan dilahirkan dari NU tadi kan jadi anak NU,
19:24yang ikut arahan,
19:26malah dia ikut mengatur BNU.
19:29Ada titik-titik di masa-masa itu.
19:33Maka muncullah tafsiran baru berikutnya,
19:36yaitu ketika
19:36Tiaya Haji Yahya Holisakuf menjadi ketua umat PBNU.
19:43Tafsir beliau adalah netral.
19:45Kalau dulu itu menganak emaskan,
19:49memberikan hak-hak privilege kepada satu partai NU saja PKB,
19:53sekarang beliau mengatakan,
19:55kami merangkul semua.
19:56Netral itu merangkul semua.
19:57Maka unsur, semua unsur partai ada di PBNU.
20:03Tapi posisi netral.
20:04Apa netral?
20:05Netral yang pertama adalah
20:07PBNU tidak akan mencalonkan
20:12ulamaannya menjadi capres-cawapres.
20:14Kenapa ini penting?
20:15Karena detik-detik akhir 2019,
20:18Kemaruf Amin sebagai roh Islam saat itu
20:23dicalonkan sebagai cawapres.
20:26Dan terpilih sampai sekarang masih capres,
20:28masih wapres kita.
20:31Nah pola itu oleh para politisi dulu,
20:34wah ini bisa diulang nih 2024 nih.
20:36Kita tempel aja NU nih.
20:38Menit-menit akhir NU mengeluarkan siapapun.
20:41Nah,
20:42Bu Siaya mengatakan,
20:44enggak.
20:44PBNU tidak akan mencalonkan siapapun.
20:46Karena PBNU netral.
20:47Itu sikap pertama netral.
20:49Sikap yang kedua tadi,
20:51netral itu ternyata
20:53dalam tataran di bawah,
20:55bukan merangkul semua.
20:57Semua dirangkul kecuali PKB.
20:59Yang terjadi.
21:00Terjadilah kemudian ketegangan-ketegangan.
21:05Kenapa itu bisa tegang?
21:07Ya itu diskusinya lebih panjang.
21:08Diskusi berikutnya.
21:09Itu terasa ya, Bus.
21:10Di Gresul itu terasa ya,
21:12ketegangan polarisasi.
21:13Sangat terasa.
21:14Sangat terasa.
21:15Bagaimana ada surat peringatan SP,
21:18surat cinta dari PBNU,
21:20bahkan terakhir itu ada kasus pemecatan di Jawa Timur,
21:22dan seterusnya.
21:23Tapi,
21:23Ra'isam sendiri,
21:25Ra'isam sendiri ini,
21:26yang membantah itu bahasanya terkait
21:28dengan politik atau apa gitu,
21:30Udah mengklarifikasi itu.
21:32Itu gimana?
21:34Ya,
21:35ya itu bisa dibangka sama ulama yang lain.
21:37Begitu dengan data-data,
21:39data dengan segala macam.
21:42Jadi,
21:44taftir hitolnya seperti itu.
21:46Nah sekarang,
21:48yang meresahkan adalah ternyata
21:50kata-kata netral di mulut
21:52dengan di aksi ternyata berbeda.
21:54Hmm.
21:55Nah,
21:56jadi makanya saya menyuruhkan untuk mengembalikan marwah
22:01Nahdlatul Ulama,
22:02belakangan saya bicara ini di mana-mana,
22:09karena akan menjadi problem
22:11ketika PBNU secara tidak resmi,
22:16tapi secara masih menggunakan struktur organisasi,
22:20dari PBNU, PW, sampai ke PC, sampai ke bawah, KMCK semua,
22:23untuk memenangkan pasang tertentu.
22:27Kenapa?
22:27Balik ke diskusi kita tadi.
22:29Nahdlatul Ulama adalah bagian dari sifil society.
22:33Saya tidak masalah PBNU mengarahkan mendukung siapapun,
22:3801, 02, atau 03.
22:41Dukungannya saya tidak persoalkan.
22:43Tapi bahwa PBNU kemudian ternyata tidak metral,
22:47ternyata berpihak apapun alasannya.
22:49Dengan mendukung pasang tertentu,
22:51ini menurut saya berbahaya.
22:53Ini mempertaruhkan marwah Nahdlatul Ulama di Pilpres.
22:56Pertanyaan-pertanyaannya muncul.
22:58Apa landasan fikihnya kok mendukung paslon tertentu?
23:02Kenapa tidak yang lain?
23:04Kan PBNU kan selalu memberikan keputusan berdasarkan landasan fikih.
23:08Nah ini tidak ada landasan fikihnya.
23:10Atau ada konsesi-konsesikah?
23:12Seperti yang beredar selama ini isunya?
23:15Konsesi tambang.
23:18Ada hak-hak priviliat seperti itu misalnya.
23:21Betulkah?
23:22Kan menjadi timbul pertanyaan.
23:23Gara-gara ikut terlibat.
23:26Kan gitu kan?
23:28Jadi harusnya nggak usah ya bos?
23:30Menurut saya itu melanggar ADARP.
23:33Melanggar kita itu tadi.
23:34Melanggar kata-kata netral di mulut.
23:37Seperti itu.
23:38Dan muncul pertanyaan berikutnya Mbak Ani.
23:41Kalau ternyata pilihan PBNU kalah ternyata.
23:46What next?
23:48Kan gitu.
23:50Atau ternyata misalnya ada gelombang kekecewaan
23:55akibat tekanan-tekanan kekuasaan
24:00yang berujung pada duga-duga kecurangan.
24:06Maka akan tiba pertanyaan.
24:08Akan ada bahasul masail di NU.
24:11Apa hukumnya mendukung paslon yang menang pemilu dengan curang?
24:17Misalnya kan?
24:18PBNU akan sulit menjawab kalau dia menjadi bagian dari paslon.
24:23Paslon berapapun gitu.
24:26Atau terjadi konflik antara elemen bangsa
24:31akibat hasil-hasil pilpres.
24:35Kalau dulu diselesaikan lewat Mahkamah Konstitusi.
24:37Sekarang ibu pertanyaan apakah masih layak Mahkamah Konstitusi?
24:40Apakah masih bisa dipercaya akibat kasus-kasus sebelumnya misalnya?
24:45Lantai siapa yang memerkakan bangsa ini?
24:47Kalau bukan permas Islam seperti Nahdata Ulama dan Muhammadiyah.
24:50Tapi Gus ini kan udah terlanjur terjadi ya.
24:53Maksudnya udah ada gitu.
24:54Emang sudah ada yang tadi Gus Nadir bilang gitu.
24:58Lalu apa yang harus dilakukan?
25:00Ya.
25:01Jadi yang dilakukan adalah saya bicara di podcast seperti ini.
25:05Untuk mengatakan bahwa masih ada suara-suara NU kultural
25:10yang tidak terlibat di dalam cawe-cawe, cawe-cawe.
25:16Dan suara-suara NU kultural ini siap untuk terus menjaga bangsa ini.
25:22Berdialog dengan berbagai elemen bangsa.
25:24Dari berbagai kalangan.
25:26Sehebat-hebatnya kita tidak akan mampu kita menyelesaikan persoalan Indonesia ini sendiri.
25:30Kita harus bekerja sama.
25:31Kita harus bekerja sama dengan pihak lain.
25:33Nah elemen-elemen ini harus terus membuka dialog dari NU.
25:37Kenapa?
25:38Karena NU itu ada tiga bagian.
25:41Yang pertama itu disebut dengan jama'iyah.
25:43Jama'iyah itu adalah organisasinya.
25:45PBNU itu jama'iyah.
25:46Resmi.
25:48Ada yang disebut dengan jama'ah.
25:49Ya warganya.
25:51Nah kadang-kadang jama'iyah dengan jama'iyah ini gak nyambung, gak kelop.
25:55Gitu.
25:56Dan itu loh uniknya NU.
25:57Kalau organisasi modern.
25:59Ketua umumnya bilang A.
26:01Anak boynya di bawah sampai ke ranting bilang A.
26:05Kalau di NU.
26:05NU bilang A.
26:08Jama'ah belum tentu ikut A.
26:10Dia ikut kia'iyah lokal.
26:12Apa kata kia'iyah lokalnya?
26:15Gitu.
26:16Nah jadi belum tentu seperti itu.
26:19Jadi problem antara jama'iyah dengan jama'iyah di NU belum selesai.
26:23Tapi itu uniknya NU.
26:26Yang ketiga.
26:28Yang baru muncul sekarang.
26:29Akibat kembangan medsos.
26:31Perkembangan NU masuk ke wilayah kota.
26:33Yaitu apa?
26:34Dia bukan bagian derjam ya.
26:36Dia tidak pengus NU.
26:37Dia juga bukan jama' NU.
26:39Misalnya.
26:39Dia tidak punya latar belakang ke NU'an.
26:42Bukan orang pesantren.
26:43Orang tuanya bukan NU sih.
26:46Tapi.
26:47Dia tradisinya ber NU.
26:49Dia ikut Maulid.
26:50Amaliyah.
26:50Amaliyah.
26:51Dia ikut tahlilan.
26:52Dia ikut isegosa.
26:53Meskipun.
26:54Amaliyah orang NU.
26:54Ya bang bang saya bukan NU.
26:56Keluarga saya juga nggak ada NU.
26:57Saya juga bukan dari daerah yang.
27:00Ternyata belakang ke NU.
27:01Simpatis sana.
27:02Itu saya bilang.
27:02Jadi tradisi ber NU nya dia pakai.
27:05Dan.
27:06Dan pilih-pilih.
27:07Misalnya.
27:08Maulid dia ikut.
27:09Tahlilan dia ikut.
27:10Tapi traweh.
27:11Ya nggak.
27:12Nggak dua tiga dia sebelah.
27:14Misalnya.
27:14Yang lebih muda aja lah.
27:15Ya gitu loh.
27:16Ini ada kelompok tiga seperti ini.
27:18Nah.
27:19Jadi.
27:20Melawan itu tadi.
27:21Adalah.
27:21Dengan kita mengatakan bahwa.
27:23Keputusan Jamiah belum tentu ditaati oleh jama'ah.
27:25Dan selain Jamiah dan jama'ah.
27:27Ada kelompok lain itu.
27:29Yang tradisinya amalinya ber NU.
27:31Tapi dia bukan bagian derjamah NU.
27:33Bukan bagian derjam dia.
27:33Tapi ini juga harus dirangkul.
27:35Harus diayomi juga.
27:37Karena dia amalianya.
27:38Amalia NU.
27:40Nah.
27:41Elemen-elemen ini.
27:42Saya kira.
27:42Kita harus sampaikan bahwa.
27:44PBNU tidak mewakili suara NU.
27:47Tidak mewakili semua suara jama'ah.
27:50Tidak mewakili suara yang punya tradisi ber NU tadi.
27:53Oke.
27:53Nah gitu.
27:54Dan.
27:55Dan penting.
27:56Buat elemen bangsa.
27:58Untuk.
27:59Untuk.
28:00Memahami.
28:00Menyadari bahwa.
28:04NU tetap.
28:06Peduli.
28:08Dengan pemilihan aman dan damai.
28:11Serta akan tetap berusaha menjaga agar bangsa ini tidak pecah belah.
28:15Meskipun jama'ahnya bergerak seperti itu.
28:18Tapi jama'ah.
28:20Dan orang-orang.
28:21Yang tadi itu.
28:22Yang masih punya amalianya NU.
28:23Itu.
28:24Punya keprihatinan yang sama.
28:26Punya keresan yang sama.
28:27Untuk tetap menjaga khitoh.
28:29126.
28:30Oke.
28:30Gus ini.
28:31Jelang pemilu ini.
28:33Kan.
28:34Apa ya namanya.
28:34Hmm.
28:36Pesan-pesan apa mungkin yang menyejukkan dari Gus Nadir ini.
28:39Supaya.
28:39Orang juga tahu gitu.
28:40Diingatkan bahwa.
28:41Setelah pemilu tuh.
28:42Kita juga masih cari duit sendiri gitu.
28:44Gus istilahnya.
28:45Siapapun presidennya.
28:46Kita juga berusaha sendiri.
28:47Berjuang sendiri gitu.
28:48Masih ada kehidupan setelah Pilpres gitu.
28:50Bus.
28:50Bagaimana Gus pesannya?
28:52Ya.
28:52Jadi saya yang menyampaikan begini.
28:55Pilpres ini adalah acara rutinan kita 5 tahun.
29:00Jadi.
29:02Kita persiapan diri.
29:03Dengan sebaik-baiknya.
29:05Agar pemilu ini berjalan dengan aman, damai.
29:10Jurdil ya.
29:11Jujur, adil.
29:12Tapi pada saat yang sama.
29:13Juga melahirkan pemimpin yang berkualitas.
29:17Bukan hanya di tingkat Pilpres.
29:19Tapi di Pilek.
29:20Pilek di semua lapisan.
29:21Ada DPD, DPR, DPRD1, DPD2.
29:27Jadi ada 5 kata suara nanti.
29:29Termasuk Pilpres.
29:30Nah.
29:32Ini sudah menjadi hal yang biasa.
29:34Gak seperti dulu lagi orang heboh.
29:37Malah sampai pada taraf.
29:39Orang agak.
29:41Apa ya.
29:42Saya mau bilang mual.
29:44Nek.
29:45Terlalu keras.
29:46Tapi orang merasa bahwa.
29:48Udah deh.
29:49Apa sih?
29:49Apa artis mungkin.
29:51Sceptis.
29:51Apa artis.
29:52Nah.
29:53Karena itu saya lihat tadi.
29:55Apa yang sampaikan bahan itu penting.
29:56Bahwa ada kehidupan setelah Pilpres.
29:58Tetap saja.
29:59Tetap saja cicilan.
30:00Kita mesti dibayar.
30:01Kredit motor.
30:02Kredit rumah tetap mesti dibayar.
30:04Bahkan kalau pun bisa dikatakan.
30:06Ditakut-takuti.
30:07Kalau si A terpilih.
30:09Si B terpilih.
30:10Si C terpilih.
30:11Maka Indonesia akan begini, begini, begini.
30:13Ya entah.
30:13Naku-naku itu dimulai isu teroris lah.
30:16Isu negara Islam.
30:18Isu kemudian hutang luar negeri.
30:20Intervensi asin.
30:21Seterus-seterusnya.
30:22Pertanyaan yang mesti kita jawab adalah.
30:24Kalau mereka naik ke pilih.
30:25Ngefeknya ke kita apa?
30:29Ngefeknya ke kita apa?
30:30Mungkin ngefeknya ke orang-orang lain.
30:33Bangsa segala macam mungkin ada.
30:34Tapi ngefeknya ke kita.
30:36Itu apa?
30:37Nah itu jadi salah.
30:38Nah karena itu menurut saya.
30:41Rakyat juga harus cerdas.
30:44Sudah tidak bisa lagi cerdas itu dipahami sebagai begini.
30:47Terima saja uangnya.
30:49Pilihannya terserah.
30:51Cerdas itu sekarang harus dipahami bahwa rakyat harus cerdas.
30:53Bahwa kami juga tidak menginginkan pemimpin yang tidak punya integritas
30:59dengan memberikan uang-uang dan segala macam.
31:01Nah ini kan repot.
31:02Ada supply and demand.
31:05Masyarakat juga mengharapkan itu.
31:07Calek juga seperti itu.
31:09Nah jadi bagaimana sih meningkatkan kualitas demokrasi kita?
31:12Bagaimana meningkatkan kualitas pemilu kita?
31:14Itu concern kita sekarang.
31:16Dan itu tidak bisa kita lakukan kalau civil society diam.
31:20Atau diacak-acak.
31:23Nah ormas Islam kan bagian dari civil society.
31:26Saya kira itu concern saya.
31:27Makanya saya menyambut undangan Republikan untuk dipokasi.
31:32Oke baik.
31:33Itu penyembahan nih ya.
31:34Jadi peran dari gerakan civil society sangat besar untuk menjaga persatuan di Indonesia.
31:40Gus ya tidak saling ngotong-ngotongan dan sebagainya.
31:42Itu dia.
31:43Yang bisa kita ambil pelajaran dari Gus Nadir kita.
31:46Terima kasih ya Gus.
31:47Makasih.
31:48Makasih sama sama Pak.
31:49Makasih banyak Gus.
31:50Mungkin kita lain kali bisa ngobrol-ngobrol lagi.
31:53Insya Allah ya ketemu lagi.
31:55Oke.
31:55Sobat Republika itu tadi ngobrol-ngobrol kita sama Gus Nadir.
31:58Mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya dan diingat ya.
32:01Kalau pilpres itu juga kita masih tetap bayar cicilan sendiri.
32:05Mudah-mudahan bermanfaat nih buat kita semua.
32:08Sampai di sini.
32:09Podcast Mosaic.
32:10Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Comments