- 2 hari yang lalu
- #habibjafar
- #idulfitri
- #islam
JAKARTA, KOMPAS.TV - Program ROSI hadir dalam nuansa kehangatan perayaan Idulfitri.
Secara spesial, Rosianna Silalahi menghadirkan Husein Jafar Al Hadar atau yang dikenal dengan Habib Jafar. Habib Jafar sosok yang dikenal dekat dengan generasi muda dan penulis buku berjudul "Tuhan Ada di Hatimu".
Idulfitri adalah hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Namun di tengah dunia yang masih sarat konflik dan peperangan, bagaimana sebenarnya kita memaknai kemenangan yang sesungguhnya?
Saksikan dalam ROSI episode Habib Jafar: Kita Butuh Vaksin Toleransi. Tayang Kamis, 26 Maret 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.
#habibjafar #idulfitri #islam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/659254/full-cerita-habib-jafar-soal-islam-makna-idulfitri-paus-fransiskus-dan-toleransi-beragama-rosi
Secara spesial, Rosianna Silalahi menghadirkan Husein Jafar Al Hadar atau yang dikenal dengan Habib Jafar. Habib Jafar sosok yang dikenal dekat dengan generasi muda dan penulis buku berjudul "Tuhan Ada di Hatimu".
Idulfitri adalah hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Namun di tengah dunia yang masih sarat konflik dan peperangan, bagaimana sebenarnya kita memaknai kemenangan yang sesungguhnya?
Saksikan dalam ROSI episode Habib Jafar: Kita Butuh Vaksin Toleransi. Tayang Kamis, 26 Maret 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.
#habibjafar #idulfitri #islam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/659254/full-cerita-habib-jafar-soal-islam-makna-idulfitri-paus-fransiskus-dan-toleransi-beragama-rosi
Kategori
đź—ž
BeritaTranskrip
00:09Sampai jumpa di video selanjutnya.
00:30Agama mereka itu adalah karunia terbesar bagi kita sebagai muslim yang prinsip utamanya adalah rahmatan lil'alamin.
01:02Bagi umat muslim selamat hari raya idul fitri, bagi umat hindu selamat hari raya nyepi, dan bagi umat kristiani selamat
01:11mempersiapkan perayaan pascah.
01:13Rosi malam ini secara spesial menghadirkan sosok yang dikenal dekat dengan generasi muda disebut sebagai Habib Millenial, penulis buku berjudul
01:24Tuhan ada di hatimu.
01:27Ia adalah Hussein Jafar Al-Hadar atau biasa dipanggil Habib Jafar.
01:34Assalamualaikum Habib Jafar.
01:37Selamat Mbak Rosi.
01:38Selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin.
01:41Terima kasih. Kemudian selamat mempersiapkan pascah.
01:46Terima kasih Bib.
01:47Terima kasih juga atas undangannya.
01:49Saya senang sekali karena bulan lalu, Bib, saya mengundang para tokoh keturunan Tionghoa untuk bicara soal Imlek, cindo, cinta Indonesia.
02:02Dan itu juga bertepatan dengan Rabu Abu bagi umat katolik juga masuk masa prapaskah, puasa juga.
02:11Puasa pertama bagi Muhammadiyah.
02:13Dan puasa pertama bagi Muhammadiyah.
02:15Dan kali ini kita juga duduk bersama, masih merayakan kehangatan idul fitri, mengucapkan selamat nyepi bagi umat Hindu.
02:25Dan terima kasih Habib Jafar tadi mengatakan selamat mempersiapkan pascah.
02:31Hanya di Indonesia loh sebenarnya, kita bisa merayakan deretan perayaan agama dan semuanya bisa dilakukan dengan damai dan penuh kehangatan.
02:43Habib setuju?
02:44Iya, pertama-tama saya terakhir ketemu atau melihat Mbak Rosi itu di Jipi sih.
02:55Di?
02:56Jipi.
02:56Apa itu?
02:57Valentino Rosi itu ya.
03:00Aduh komeng juga ternyata.
03:05Saya melihat bahwa salah satu titik utama toleransi dan kebersamaan kita itu adalah titik-titik pertemuan, titik-titik kumpul.
03:18Bahkan dalam suasana damai ataupun darurat sekalipun, kita butuh titik kumpul.
03:25Karena itu di setiap gedung-gedung tinggi itu ada titik-titik kumpul, bahkan di suasana yang darurat sekalipun.
03:35Karena itu...
03:36Di situlah sebenarnya peran agama atau umat beragama untuk selalu mencari titik temu atau titik kumpul?
03:44Betul, untuk menjadi titik persatuan di antara mereka tanpa menolak perbedaan yang ada di sekitar mereka dan melihat kesatuan yang
03:57terangkai di antara mereka.
04:00Nah, titik-titik kumpul itu bisa kita buat seperti yang dilakukan melalui podcast-podcast dengan saya mendatangkan enam tokoh agama
04:11untuk orang mendengar pesan toleransi dan melihat secara langsung kesan toleransi bagaimana enam tokoh agama itu bisa duduk dan ngobrol
04:20bersama tanpa stigma apalagi kebencian.
04:24Tapi, bisa juga titik kumpul itu datang dengan sendirinya sebagai karunia dari Tuhan yang maha kuasa.
04:32Dan salah satu karunia itu adalah di Ramadan dan Lebaran tahun ini.
04:38Bayangkan Ramadan dan Lebaran tahun ini itu di internal muslim saja berbeda.
04:44Sejak masuk awal Ramadan sudah terjadi perbedaan penentuan awal Ramadan dan hari awal Ramadan antara Muhammadiyah dengan NU serta ormas
04:55-ormas lainnya yang kemudian pemerintah juga menentukannya di hari yang berbeda dengan Muhammadiyah.
05:01Dan nuansa toleransinya itu terasa sekali bagaimana kemudian kita saling menghormati di tengah perbedaan itu.
05:09Kemudian berbarengan juga dengan Rabu-Abu umat katolik kemudian di tengah-tengah itu ada Imlek bagi masyarakat Tionghoa sekaligus orang
05:24-orang Konghucu.
05:26Dan diakhiri dengan Lebaran relatif bersamaan dengan Nyepi serta kemudian nanti akan dilanjutkan dengan Paskah bagi umat katolik.
05:35Jadi ini seolah-olah menjadi pesan bagi umat beragama di Indonesia bahwa bahkan Tuhan pun ingin kita bersama di tengah
05:46perbedaan.
05:47Karena kita meyakini dalam perspektif Islam Tuhan itu maha toleran.
05:53Tuhan yang mengajak kita untuk menjadi manusia yang toleran.
05:58Tuhan yang menciptakan perbedaan itu dan Tuhan yang menginstruksikan agar perbedaan itu tidak membawa pada iftirok atau perpecahan.
06:08Dan tidak mau dijadikan satu tapi menjadi persatuan di tengah perbedaan itu dalam ikatan yang disebut dengan uhuah atau persaudaraan.
06:22Uhuah Islamia.
06:23Uhuah Islamia.
06:25Orang menganggap uhuah Islamia itu adalah persaudaraan di antara umat Islam.
06:30Padahal tidak.
06:31Uhuah itu maknanya persaudaraan.
06:34Islamia itu sifat.
06:35Sifat dari persaudaraan.
06:37Artinya itu persaudaraan yang Islami.
06:40Bukan persaudaraan antar umat Islam saja.
06:43Artinya itu persaudaraan bukan hanya di internal umat Islam.
06:48Tapi persaudaraan yang Islami itu di antaranya kata Sayyidna Ali bin Abi Talib dan ini merujuk kepada Nabi Muhammad.
06:55Siapa yang bukan saudaramu dalam agama dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan.
06:59Kemanusiaan betul.
07:00Jadi ukuah Islamia itu justru marknanya jauh lebih besar.
07:06Persaudaraan sesuai dengan nilai-nilai universal dalam Islam.
07:11Siapa yang menjaga lingkungan maka dia adalah saudara kita.
07:15Bip, kan disebut sebagai Habib milenial.
07:19Tidak saja karena usianya.
07:21Tapi juga banyak sekali pengikutnya Habib Jafar ini anak-anak milenial.
07:29Dan Habib juga itu dikenal sebagai seorang Habib yang moderat.
07:34Apakah label ini, ini tentu saja bernuansa sangat positif.
07:39Given atau melihat cara orang beragama di masa-masa lalu.
07:45Ada pengalaman yang agak unik, agak zigzag seperti itu.
07:50Saya lahir dalam nuansa keluarga yang sangat toleran.
07:54Ayah saya memiliki buku lintas perbedaan di internal Islam dan lintas agama.
08:03Rak bukunya diisi buku-buku yang penuh dengan perbedaan.
08:07Ayah saya juga mendidik saya untuk menekankan rasionalitas.
08:13Karena itu kami dididik untuk belajar filsafat sejak dini.
08:17Dan S1 saya itu di bidang filsafat.
08:20Bahkan pendidikan dasar di kuliah semua anak-anaknya itu dengan filsafat.
08:28Harus belajar filsafat.
08:29Mengapa selain pendidikan agama, filsafat itu juga penting diajarkan.
08:35Simpel kata ayah saya, orang bodoh ngerepotin.
08:39Ngerepotin diri kita sendiri dan ngerepotin orang lain.
08:42Dan kata Nabi Muhammad,
08:43seorang Muslim itu tidak boleh merepotkan orang lain dan mencelakakan dirinya sendiri.
08:48Nah, karena itu kemudian kita dididik dengan filsafat, dengan agama.
08:56Saya seumur hidup belajar agama, Barossi.
08:58Tidak ada satu fase pun di hidup saya yang tidak belajar agama.
09:02Dari TK saya, TK berbasis agama, sampai S2 saya itu belajar tafsir Al-Quran.
09:08Seorang Habib Jafar saat ini, itu bukan karena,
09:12karena saya juga mendengar banyak cerita,
09:15misalnya, dulu saya seorang yang sangat keras.
09:19Tetapi kemudian, misalnya, Almarhum Munir,
09:23Cak Munir, pernah juga berbicara seperti itu tentang masa lalu,
09:26yang kemudian bagaimana ia melihat agama.
09:30Tapi kalau Habib Jafar berbeda ya.
09:32Memang sejak kecil, nilai-nilai toleransi itu diajarkan sejak dini.
09:38Khususnya di hari-hari besar mereka,
09:40untuk kemudian bersilaturahmi.
09:42Umur berapa waktu itu, Bib?
09:43Oh, itu kecil banget.
09:44Serius?
09:45Saat SD.
09:47Diajak oleh ayah saya kemudian untuk memberikan hadiah kepada mereka,
09:51untuk bersilaturahmi, untuk saling belajar,
09:54agar tidak ada kesalahpahaman, tapi yang terbangun kesepahaman.
09:57Kemudian, yang menarik,
09:59di hari pahlawan,
10:01saya sejak kecil diajak ke makam pahlawan,
10:04di kota saya,
10:06untuk kemudian berziarah ke makam pahlawan,
10:08dan mendoakan para pahlawan.
10:11mungkin ada kesadaran di ayah saya bahwa saya lahir dan hidup di komunitas yang homogen.
10:18Jadi, saya itu dulu bukan Habib dipanggilnya.
10:21Omogen maksudnya?
10:22itu 500 kakak,
10:24ada hampir 2.000 orang,
10:26semua Habib.
10:27Artinya keturunan Nabi.
10:29Jadi, mungkin karena itu,
10:30ayah saya kemudian memberikan pendidikan yang dibutuhkan,
10:33yang tidak bisa diberikan oleh komunitas tempat saya tinggal.
10:36Yaitu toleransi.
10:38Ini menarik sekali ya.
10:39Padahal lingkungan Habib dibesarkan,
10:41itu adalah sebuah lingkungan yang bisa dibilang eksklusif,
10:44privilege,
10:46lingkungan hidup,
10:47di mana ini para keturunan Nabi.
10:50Tetapi justru oleh ayahnya Habib,
10:53keluar.
10:54Dan ketemu dengan orang lain yang berbeda agama,
10:59berbeda keyakinan denganmu.
11:00Sejak dini,
11:01sejak kecil.
11:02Sejak kecil.
11:03Sudah ngerti belum konsepnya waktu itu?
11:04Ngapain sih gue harus datang ke orang-orang ini?
11:10Awalnya tidak mengerti,
11:11entah kenapa harus melakukan itu.
11:15Belakangan ketika sudah mulai hidup dengan komunitas,
11:19yang homogen dan eksklusif itu,
11:21bahkan salah paham.
11:24Salah pahamnya di?
11:25Karena ngapain melakukan itu?
11:27Tidak seharusnya.
11:28Yang salah paham siapa?
11:28Kita seharusnya eksklusif.
11:29Aku kepada ayahku.
11:30Ah, I see.
11:31Seharusnya kita hidup eksklusif.
11:32Karena akhirnya komunitas yang homogen itu,
11:35melahirkan ke salah pahaman.
11:38Karena itu kemudian aksi-aksi.
11:39Aku bisa gini,
11:39aku bisa gini misalnya gini.
11:41Ngapain kan kita mayoritas?
11:43Betul.
11:43Ngapain kita harus baik-baik sama minoritas?
11:46Please deh.
11:46Betul.
11:47Bahkan kan kehabiban itu,
11:49ayah saya mendidiknya sebagai tanggung jawab.
11:51Bukan sebagai privilege.
11:54Bahkan kecilnya,
11:56saya itu tidak suka kepada diri saya sendiri sebagai Habib.
11:59Karena harus menjaga sikap
12:01sesuai dengan keteladanan yang dicontohkan Nabi Muhammad.
12:04Menjadi duta Nabi Muhammad di masyarakat dan lain sebagainya.
12:08Nah, kemudian mulai itu,
12:10ketika ketemu dengan lingkungan yang eksklusif,
12:12mulai kesalahpahaman terjadi.
12:15Itulah yang melahirkan aksi-aksi dalam tanda peti intoleransi.
12:19Dalam diri Habib?
12:21Iya.
12:21Terhadap komunitas Tionghoa,
12:23kita melakukan aksi-aksi intoleransi.
12:27Kemudian kepada non-muslim,
12:29kita melakukan aksi-aksi intoleransi.
12:32Bahkan kepada hewan-hewan yang kita anggap haram,
12:36kita melakukan aksi-aksi intoleransi.
12:39Kok bisa Habib?
12:40Kalau ketika dari kecil,
12:42sebagai seorang keluarga yang terpandang,
12:47hidup dalam homogen,
12:49keturunan Nabi,
12:50kemudian dari kecil sudah ketemu dengan pastur, pendeta,
12:53tapi justru malah zigzag intoleransi itu
12:57karena merasa dalam diri sendiri,
12:59merasa ingin melawan gitu.
13:01Ngapain harus bersama mereka?
13:02Iya, karena hidup itu kan soal dialektika ya,
13:05diskursus ya.
13:06Dan kata Nabi Muhammad itu,
13:08agama temanmu itu mempengaruhi agamamu.
13:11Ketika saya dididik di rumah,
13:13kemudian menjadi pribadi yang toleran.
13:15Ketika kemudian mulai keluar rumah,
13:17bertemu dengan masyarakat yang homogen dan eksklusi.
13:20Homogen lagi nih ya?
13:21Iya.
13:21Kemudian muncullah.
13:23Isunya bukan intoleransi sebenarnya.
13:25Isunya seolah-olah,
13:26wah kesal kepada si A, si B, si C,
13:29kemudian melakukan aksi-aksi yang tidak menyenangkan.
13:32Jadi di-trigger kan?
13:34Iya, Bib.
13:34Ini pelajaran yang sangat luar biasa.
13:37Bayangkan,
13:38udah dari rumah diajarkan toleransi sejak dini,
13:41tetapi ketika berkumpul lagi,
13:43keluar dari rumah,
13:44bertemu dengan orang-orang yang bisa men-trigger intoleransi,
13:48Habib bisa berubah.
13:52Tidak lagi menjadi seorang yang toleran di rumah.
13:56Jadi ngeri loh.
13:58Bukan cuma itu, Barosi.
14:00Yang lebih parah.
14:01Dari rumah aja udah diajarin toleransi.
14:05Bukan.
14:05Dari rahim.
14:07Kita lahir sebagai manusia yang penuh cinta kasih.
14:10Kita lahir sebagai manusia yang toleran.
14:13Nafah tufihi min ruhi.
14:15Kata Al-Quran.
14:16Tubuh kita ini dari ruh Tuhan yang maha kasih.
14:19Semua kita.
14:20Itu dilahirkan dari ruh Tuhan yang penuh dengan toleransi.
14:26Karena itu,
14:27gak ada tuh bayi arema benci bayi persebaya.
14:31Gak ada itu bayi Cina kesal sama bayi Arab gitu.
14:34Iya kan?
14:35Cinta itu diciptakan dan dilahirkan oleh Tuhan dan rahim ibu kita.
14:41Sedangkan benci itu diajarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
14:45Gak ada tuh anak kecil benci mereka yang berbeda.
14:48Kebencian itu diwariskan dan diajarkan.
14:51Bukan dilahirkan dan diciptakan oleh Tuhan dan ibu kita.
14:56Karena itu kemudian, padahal itu ada gen toleransi di dalam tubuh kita.
15:00Nah, ketika ditrigger, kemudian muncul intoleransi.
15:04Belakangan kemudian baru ketika saya kenal dengan secara berdaulat,
15:09kenal sendiri di sekolah dengan satu teman saya namanya Hendra.
15:13Itu orang Katolik.
15:15Dan agak aneh bagi saya, orang Katolik kok baik gitu.
15:18Saya kira yang baik teman orang Islam.
15:21Maka kemudian toleransi tumbuh.
15:24Dan akhirnya kemudian filsafat, saya kira, berperan besar dalam memberikan nuansa kepada saya
15:31untuk menjadi pribadi yang toleran.
15:33Karena intoleransi bagi saya itu sesuatu yang bukan hanya tidak sesuai dengan nilai agama,
15:38tapi tidak sesuai dengan nilai akal sehat.
15:41Satu pelajaran yang aku sangat tertarik dari seorang Habib Jafar,
15:47bahkan dari toleransi itu dimulai dari rumah.
15:51Didikan dari orang tua, didikan dari rumah.
15:55Tetapi meskipun demikian, keluar ketemu orang pun,
15:58itu bisa men-trigger seorang untuk bersikap sebaliknya.
16:03Sehingga kita harus bertemu orang lain lagi dalam percakapan
16:07yang bisa mengembalikan bahwa toleransi itu adalah bagian dari bagaimana kita
16:13menjadi seorang yang beriman.
16:14Dan yang kedua menurutku juga,
16:18yang menarik dari Habib Jafar adalah
16:26bagaimana kemudian Habib Jafar ini
16:33menjadi seorang pribadi yang
16:37menjadikan agama itu tidak perlu terlalu berat.
16:42Tidak perlu terlalu serius seolah-olah paling tahu agama,
16:46bahwa agama juga bisa dibawa secara ringan, santai, humanis,
16:52tanpa kehilangan esensi.
16:54Nah, apa pengalaman, apa titik poin
16:59Habib bisa jadi kayak begini?
17:03Pinter, kocak, tapi enggak kehilangan substansi.
17:06Saya masih bersama Habib Millennial, Habib Jafar.
17:10Ia menulis buku yang judulnya adalah
17:12Tuhan ada di hatimu.
17:14Tahu enggak, buku ini judulnya sering aku pakai alasan
17:21untuk enggak ke gereja.
17:23Tuhan ada di hati.
17:25Kok enggak ke gereja?
17:26Tuhan ada di hatiku.
17:28Tahu enggak?
17:29Saya menulis buku itu bukan untuk itu.
17:34Itu buku saya tulis karena...
17:36Tapi benar dong.
17:37Betul, betul.
17:38Tuhan ada di hatiku.
17:40Jadi enggak perlu ke gereja.
17:42Jadi buku itu ditulis karena ketika COVID-19...
17:47Aino, enggak usah dibahas.
17:49Ini cuma sekedar alasanku aja.
17:51Aku bermaksud lucu, Bib.
17:52Oh, begitu.
17:53Rosi lucu, dua kata lucu.
17:56Kenapa bisa esensinya dapet lucu lagi?
18:00Sering nonton sering mulat ya?
18:03Sebenarnya pertama ya adalah karena saya lahir di komunitas Arab yang lucu-lucu.
18:09Arab itu ada lucu?
18:10Iya, komunitasnya lucu-lucu.
18:13Kemudian saya juga punya darah Madura yang lucu.
18:16Kalau Madura lucu aku percaya.
18:18Nah, itu lucu-lucu.
18:20Kemudian saya menedukasi diri saya untuk kepentingan dakwah itu, Pak Rosi.
18:28Sebenarnya bukan hanya komedi yang saya belajar.
18:31Saya belajar komedi secara urudidak.
18:34Kemudian dengan ngobrol-ngobrol bersama teman-teman stand-up komedian.
18:38Tapi juga public speaking pun saya belajar untuk kebutuhan dakwah.
18:44Pernah nggak dikritik bahwa kayak gini ya bukan Habib.
18:47Habib itu kan harusnya berwibawa.
18:50Juga harusnya keras.
18:53Ada kritik itu nggak, Habib Jafar?
18:56Kritik itu pasti ada.
18:58Tapi sambutannya jauh lebih besar.
19:00Tapi kan kita tidak hidup untuk orang lain.
19:04Kritik kita terima.
19:06Kalau memang relevant itu akan menjadi introspeksi bagi diri kita.
19:09Tapi kata ayah itu kita bukan hidup untuk orang lain.
19:15Tapi kita hidup untuk Tuhan kita.
19:18Bukan karena ingin dihormati oleh orang lain.
19:22Tapi karena ingin menjadi terhormat di mata Tuhan.
19:26Cara merayu Tuhan.
19:27Buku yang ditulis juga.
19:29Seni merayu Tuhan.
19:30Seni merayu Tuhan.
19:31Kenapa menurut Habib bahwa ketika kita bicara tentang Tuhan.
19:37Maka bawalah juga sisi-sisi yang Tuhan itu juga.
19:44Maaf ya maksud saya.
19:47Ia juga sama seperti manusia.
19:49Tentu tidak sama seperti manusia.
19:51Tapi kan ibrani banget seni merayu Tuhan.
19:53Kenapa sebagai seorang keturunan Nabi justru mengajarkan itu.
19:58Merayu Tuhan.
20:01Kita itu dididik untuk menjadi seperti Tuhan.
20:06Walaupun kita tidak pernah akan sama seperti Tuhan.
20:10Bahkan pada batas yang paling kecil sekalipun.
20:12Tapi kita dididik untuk ya ta'allaku bi'ahlagillah kata Islam.
20:16Berahlak dengan ahlaknya Tuhan.
20:18Itulah jalan spiritualitas Islam.
20:21Tuhan pengasih marilah jadi hamba pengasih.
20:23Tuhan penyayang marilah jadi hamba penyayang.
20:26Tuhan dermawan marilah jadi hamba yang dermawan.
20:29Itulah jalan menuju Tuhan.
20:32Sebenarnya kita dididik untuk itu.
20:34Karena ada ruh Tuhan dalam diri kita.
20:37Karena itu sebenarnya kita dididik untuk kembali kepada diri kita sendiri.
20:43Karena di dalam diri kita itu ada DNA yang Tuhan titipkan kepada kita.
20:49Dan kita terikat perjanjian dengan Tuhan di alam ruh terlebih dahulu sebelum kita lahir ke dunia.
20:54Bahwa kita akan beriman kepada Tuhan dan hidup di bawah kasih Tuhan di jalan Tuhan yang penuh dengan toleransi, kedamaian,
21:02kehangatan.
21:03Karena itu memang justru jalan kita.
21:06Tapi kemudian bahkan intoleransi itu sesuatu yang tidak rasional.
21:14Orang Hindu itu mayoritas di Bali.
21:16Tapi lebih gede dikit di Indonesia udah jadi minoritas.
21:20Yang mayoritas muslim.
21:22Muslim lebih gede dikit sedunia yang mayoritas justru umat Kristiani.
21:27Jadi tidak ada sebenarnya mayoritas dan minoritas.
21:31Islam mengajarkan bahwa kita semua setara sebagai hamba Tuhan.
21:37Bahkan sebagai mahluk Tuhan kita semua setara.
21:40Dengan binatang, dengan tumbuhan.
21:42Relasi kita dengan orang lain seharusnya subjek-subjek.
21:45Dan relasi kita dengan lingkungan juga subjek-subjek.
21:47Pelakukan siapapun manusia ataupun bukan sebagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri dengan sebaik-baiknya.
21:53Kalau kembali ke pengalaman Habib menjadi seperti sekarang gitu.
21:57Sigzak.
21:58Dan kemudian ketemu akhirnya ada juga Habib baru tahu ada orang Katolik yang baik juga.
22:03Biasanya yang baik itu Islam semua.
22:04Betul, seolah-olah.
22:06Nah, percakapan apa atau dialektika apa yang justru dari orang yang berkeyakinan berbeda atau agamanya beda.
22:12Justru bisa mengembalikan seorang Habib Jafar menjadi seorang yang toleran.
22:16Bukan percakapan tapi sikap.
22:19Karena itu yang lebih penting dari pesan adalah kesan.
22:23Pesan itu belum tentu berkesan.
22:25Tapi kesan pasti bernilai kesan.
22:27Apa itu?
22:28Artinya ketika saya berhubungan dengan dia di SMP saya, relasi saya begitu hangat dengan dia.
22:35Bagaimana kemudian dia mengingatkan saya ketika waktu solar.
22:39Bagaimana dia berbagi kepada saya ketika saya butuh.
22:44Bagaimana dia menemani saya ketika saya jalan pulang.
22:48Karena SMP saya negeri dan tidak mudah menjadi orang Arab di SMP negeri yang justru menjadi minoritas.
22:55Itu pembelajaran juga bahwa bagi saya tidak seharusnya ada mayoritas dan minoritas.
23:01Kita semua setara.
23:03Mayoritas itu fakta.
23:04Tapi mayoritarianisme itu adalah keburukan yang ada.
23:10Karena itu seringkali ketika ada terjadi aksi intoleransi, jangan bilang bahwa ini dilakukan oleh kaum mayoritas.
23:18Enggak.
23:19Misalnya mayoritas muslim itu toleran.
23:22Yang menghancurkan toleransi itu mayoritarianisme.
23:28Yang mayoritarianisme ini bisa ada di diri apapun.
23:32Perasaan merasa paling benar.
23:34Bisa menghakimi orang lain.
23:36Ego dan lain sebagainya.
23:38Siapa nama temannya itu jadi yang membuat mengembalikan suara?
23:41Hendra.
23:42Hendra?
23:42Seorang Katolik?
23:43Seorang Katolik.
23:44Mas Hendra, terima kasih.
23:46Betul.
23:46Anda sudah membawa nama baik Katolik.
23:48Gitu dong.
23:49Dan saya rasa salah satu yang menyadarkan banyak orang tentang bagaimana kemudian kita harus membangun relasi yang baik dengan umat
23:58Katolik.
23:59Salah satunya adalah Paus Franciscus.
24:00Oh iya.
24:01Seorang yang karya-karyanya saya baca biografinya itu mungkin tidak kurang dari tiga biografi beliau yang sudah saya baca dan
24:12saya pernah bertemu langsung dengan beliau.
24:14Habib itu tradisi gereja Katolik ribuan tahun oleh seorang Paus Franciscus bisa dilakukan di tahun, dia melakukan terobosan baru di
24:27tahun pertama.
24:29Umat Katolik itu ada namanya Kamis Putih sebelum Paskah.
24:33Itu menceritakan soal Yesus Kristus yang mencuci kaki para rasul.
24:38Itu ribuan tahun itu pasti hanya umat sendiri.
24:41Atau para kardinal, orang Katolik.
24:44Apa yang dilakukan oleh Paus Franciscus?
24:46Mencuci kaki umat muslim.
24:50Mencuci kaki narapidana muslim.
24:52Mencuci kaki seorang perempuan muslim imigran.
24:56Itu tradisi ribuan tahun ia ganti dengan sebuah satu tradisi yang mengubah wajah gereja Katolik.
25:06Itu soal kesan kan?
25:08Bagaimana yang berhari-hari Paus Franciscus di Indonesia bermu dengan berbagai komunitas muslim.
25:15Tapi yang kemudian memberikan kesan tentang toleransi begitu kuat adalah ketika beliau mencium dahi.
25:23Imam.
25:23Imam Besar Masjid Istiqlal dan Imam Besar Masjid Istiqlal ketika mencium juga dahi beliau.
25:29Jadi kesan itu yang dibutuhkan.
25:32Dan saya ingin melanjutkan apa yang disampaikan Mbak Rosi tadi.
25:35Kenapa saya harus menjadi lucu?
25:38Kenapa saya harus belajar public speaking?
25:40Untuk kemudian bukan hanya memperluas pemahaman orang tentang Islam.
25:46Agar saya bisa menjadi hendra dalam versi Islam yang memberikan kesan kepada orang bahwa Islam itu agama yang toleran.
25:53Tapi juga agar kemudian agama itu tidak stuck di ritual saja.
26:01Ada yang utama lebih daripada sekedar ritual.
26:04Fatikan menjadi pusat ritualitas.
26:09Tapi Fatikan menjadi pusat humanisme, kemanusiaan.
26:14Itu diperkenalkan secara besar oleh Paus Franciscus.
26:19Karena itu saya ingin mendorong.
26:20Kita bukan hanya saleh secara ritual.
26:23Tapi saleh secara sosial dan puncaknya saleh secara spiritual.
26:28Saleh secara spiritual artinya Tuhan ada di hati kita.
26:32Kita tidak mengejudge orang lain.
26:34Kemudian saleh secara sosial.
26:37Artinya agama itu melahirkan tindakan-tindakan dan aksi-aksi sosial bagi lingkungan yang sehat.
26:45Bagi manusia lain, apapun agamanya.
26:48Bagi kondisi yang ada di sekitar kita.
26:51Bukan hanya Tuhan itu di masjid, di gereja, di pura.
26:56Tapi Tuhan harus ada di rumah sakit.
26:58Karena sesungguhnya perilaku kita, kata kita yang memberikan kesan tadi itu haruslah mencerminkan kasih Tuhan.
27:10Itu maksudnya Tuhan ada di hati kita.
27:13Bukan berarti tidak ke masjid dan ke gereja.
27:16Idul Fitri adalah hari kemenangan.
27:19Kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.
27:21Namun di tengah dunia yang masih syarat konflik dan perang, bagaimana sebenarnya kita memaknai kemenangan di situasi seperti ini.
27:30Program ROSI secara khusus, karena kita masih meraihkan kehangatan Idul Fitri,
27:35saya mengundang seorang Habib, Habib milenial yang ngetop banget, Habib Jafar.
27:40Habib, kita menang atas diri kita sendiri, kembali ke Fitri karena kita berpuasa satu bulan lamanya.
27:48Tapi kita juga sedang berada di dunia yang sedang berperang.
27:52Ini tentang Amerika dan Israel menyerang Iran.
27:55Dan kemudian ini juga bisa ditarik tidak saja soal politik,
28:01tetapi juga soal sesuatu yang bisa menimbulkan perpecahan bagi umat beragama.
28:09Menurut Habib, bagaimana seharusnya kita menempatkan diri kita sebagai seorang yang beriman?
28:16Iya.
28:17Suatu hari sepulang dari peperangan, kemudian Nabi Muhammad katakan,
28:22kita pulang dari perang kecil menuju perang besar.
28:26Apa itu perang besar?
28:28Perang melawan hawa nafsu dalam diri kita.
28:32Karena itu, sejatinya kita itu diberikan modal besar oleh Tuhan untuk menjadi pribadi yang damai.
28:45Bahkan perang yang dibolehkan sekalipun dalam tradisi Islam itu dikatakan kurhun lakum.
28:51Kamu pasti membenci peperangan.
28:53Karena itu semua agama mengajarkan untuk kita berdamai.
28:58Agar kita hidup dalam kedamaian.
29:02Kalaupun diperintahkan untuk bersiap dalam perang di Islam,
29:06itu maksudnya agar orang tidak macam-macam ke kita,
29:10sehingga kemudian tidak terjadi peperangan.
29:12Karena peperangan yang diperbolehkan hanyalah yang sifatnya defense, bukan offensive.
29:17Karena itu justru kita bersiap perang agar damai.
29:21Agar tidak ada yang menyerang kita dan kita tidak boleh menyerang orang lain.
29:26Dan itu lahir dari tradisi tiga agama.
29:31Yang lahir di Yerusalem.
29:33Yang kemudian sekarang entah kenapa justru menjadi titik utama konflik
29:39yang menyebabkan ketidakdamaian yang ada di dunia saat ini.
29:43Karena itu, ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita.
29:48Bahwa seharusnya memang agama hadir untuk pertama,
29:54membangun rasa damai bagi setiap orang.
29:58Kemudian yang kedua, menyebarkan nilai-nilai perdamaian.
30:02Dan yang paling penting, Mbak Rosi, adalah pesan sosial tentang anti-kezaliman.
30:10Itu yang harus.
30:11Karena tidak ada perdamaian tanpa keadilan, kata almarhum Gus Dur.
30:18Karena itu, visi sosial agama itu harus dijalankan.
30:21Dan ini bukan tentang dunia.
30:24Mungkin dunia tidak besar yang bisa kita lakukan untuk dunia.
30:29Terlalu besar.
30:30Tapi tentang diri kita sendiri saja.
30:32Misalnya, kita mengkritik orang-orang yang merampas hak orang lain.
30:37Tanah orang lain atau kedaulatan orang lain dirampas.
30:43Seenaknya ada orang yang datang ke Venezuela.
30:47Gue gak suka lo.
30:48Kemudian, ya gue ambil lo.
30:49Seenaknya misalnya.
30:51Kita membenci semua itu.
30:53Tapi bukankah kadang hal-hal seperti itu ada dalam diri kita?
30:57Ada jalan raya yang seharusnya menjadi jalan, tapi kita jadikan tempat parkir.
31:05Ada jalan raya yang seharusnya bebas dari sesuatu yang menghalangi dia.
31:11Tapi kita halangi untuk acara hajatan-hajatan kita.
31:17Jadi untuk hal yang paling kecil pun, sebenarnya kita bisa juga melakukan kezoliman dalam skala yang...
31:25Dalam skala kecil.
31:26Kecil, tapi kita melakukan itu.
31:28Betul.
31:29Dan kalau itu dilakukan bersama, itulah yang dimaksud kehancuran.
31:34Itulah yang menimbulkan peperangan.
31:37Ada rasa kekhawatiran gak?
31:39Ada dampak dari Israel, Amerika menyerang Iran ini.
31:43Kemudian di antara kita umat beragama di Indonesia justru ada perpecahan.
31:48Karena misalnya kemudian, oh orang bagi umat muslim merasa ini penindasan bagi umat muslim.
31:57Tapi kemudian bagi umat Kristen, oh Israel bangsa terpilih jadi harus dibela.
32:05Padahal ini gak ada hubungannya dengan antara bangsa terpilih dan kemudian tentang agama.
32:12Ini ujungnya hanya kerakusan ekonomi, bisnis minyak, dan ingin menguasai satu sama lain.
32:20Punya kekhawatiran gak kemudian ini justru melebar pada sentimen-sentimen ideologis di antara kita sendiri?
32:27Iya.
32:28Sudah pasti kita diajarkan sebagai seorang muslim bahwa jangan biarkan sesuatu lewat begitu saja tanpa kita mengambil pelajaran.
32:35Karena hikmah itu kata Nabi Muhammad adalah harta karunnya umat Islam.
32:39Kita kemarin ngelewati covid yang begitu berat.
32:44Kemudian bagi sebagian kita itu lewat begitu saja.
32:48Dulu ketika covid, sebagian muslim bilang, saya kok gak boleh ke masjid.
32:52Padahal saya pengen ke masjid.
32:53Sekarang bisa ke masjid, ya di masjid tetap sepi aja.
32:57Artinya tidak ada pelajaran yang kita ambil dari covid.
33:01Padahal itu yang begitu besar dan mengerikan bagi kita.
33:04Semua terdampak di seluruh dunia, di setiap orang terdampak.
33:07Begitu juga apa yang terjadi terkait perang yang ada di Timur Tengah saat ini.
33:14Penyerangan Israel dan Amerika ke Iran.
33:17Pertama, kita ingin ngasih tahu bahwa kepak sayap kupu-kupu di Amazon itu bisa menimbulkan dampak ke Sungai Ciliwung.
33:27Artinya, apa yang terjadi di sana harus menjadi pembelajaran bagi kita di sini.
33:34Bahwa kita dilarang untuk merasa terpilih.
33:40Merasa lebih dari yang lain.
33:42Merasa rasis dan merasa bisa menghukum dan menghakimi orang seenaknya sesuai dengan ego kita.
33:50Karena itu, mayoritas di sini tidak boleh menjadi mayoritarianisme.
33:56Itu pertama yang harus dipastikan.
33:58Kemudian yang kedua, untuk memastikan bahwa konflik yang terjadi di sana tidak terbawa ke sini.
34:05Sebagai konflik agama.
34:07Karena masih ada orang yang pasti beranggapan bahwa apa yang terjadi di sana itu ada sentimen agamanya.
34:13Padahal sama sekali tidak, yang terjadi di sana bukan perang atas nama agama.
34:20Tapi perang atas nama ideologi yang menyeret-nyeret nilai agama justru sebagai bentuk pelecehan paling nyata terhadap agama.
34:29Karena agama justru dijadikan alasan untuk berperang.
34:32Padahal agama turun untuk perdamaian.
34:35Karena itu yang melakukan aksi tersebut bukan basicnya adalah Judaism atau Yahudi.
34:42Tapi Zionisme.
34:44Ideologi yang mengacak-ngacak Yahudi itu sendiri.
34:47Karena itu banyak orang-orang Yahudi yang setia pada nilai-nilai Yahudi yang tidak terima dengan apa yang dilakukan mereka.
34:55Aku mau mengatakan gini, kadang-kadang kalau berbicara dengan teman-teman Nasrani yang melihat Israel atau Yahudi sebagai bangsa terpilih.
35:06Yes, oke, fine.
35:07Tetapi bukan Benjamin Netanyahu.
35:09Bukan rezimnya.
35:11Ini rezim politik.
35:12Dan harus dibedakan antara apa yang ada dalam Bible dengan rezim satu negara.
35:18Tidak ada hubungannya.
35:19Kita marah, kita anti pada polisinya Benjamin Netanyahu.
35:23Dan dia sama sekali.
35:25Saya adalah orang pertama yang akan mengatakan bahwa tidak, dia bukan orang yang dipilih Tuhan.
35:30Jadi sering sekali kadang-kadang itu di orang lain yang berperang.
35:34Tapi kemudian kita mencoba mencocok-cocokkan dengan apa yang tertulis dalam Bible atau dalam kitab suci.
35:42Padahal harusnya, koreksi saya kalau saya salah.
35:46Tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang diajarkan dalam kitab suci.
35:50Atau apa yang difatwakan dalam kitab suci.
35:53Walaupun al-Nasir itu bisa kebentuk secara sengaja dibuat oleh orang yang tidak berdanggung jawab atau secara tidak sadar oleh
36:00kita.
36:00Karena misalnya kebetulan Israel itu komunitasnya Yahudi, identik dengan Yahudi.
36:08Kemudian Amerika presidennya selalu dari kalangan Kristiani dan identik dengan masyarakat Kristiani.
36:16Kemudian Iran itu kebetulan adalah Republik Islam dan mayoritas di sana adalah orang Islam.
36:24Sehingga dan konflik utamanya adalah tentang Yerusalem yang menjadi tempat lahirnya Abraham Mikvid.
36:30Tiga agama Yahudi, Kristen dan Islam.
36:33Karena itu al-Nasir itu menjadi mudah untuk digunakan sebagai propaganda di berbagai negara.
36:41Karena itu keberpihakan kita misalnya kepada Iran adalah keberpihakan bukan karena dia Islam.
36:48Tapi karena dia adalah orang yang diserang dan dizalimi.
36:53Begitu juga apa yang kita lakukan di Palestina itu adalah suara kemanusiaan.
36:59Bukan suara agama karena ada manusia yang diinjak-injak di sana.
37:03Kita membela manusia, kita membela bangsa lain bukan karena kita seagama.
37:08Dan kita benci aktor-aktor kezaliman itu bukan benci kepada bangsanya, negaranya dan apalagi agamanya.
37:17Karena kemungkinan itu bisa ada di mana saja.
37:21Oknum-oknum itu bisa ada di semua agama.
37:24Sehingga kebencian kita adalah bahkan tidak kepada orangnya, tapi kepada tindakan buruknya.
37:30Kita ingin mereka itu bertobat.
37:32Bukan ingin mereka kemudian hancur misalnya.
37:36Kita ingin mereka bertobat karena mereka juga adalah lukisan Tuhan.
37:40Setiap ciptaan itu adalah lukisan Tuhan.
37:42Karena itu yang kita ingin edukasi.
37:45Jangan sampai anasir-anasir keagamaan itu kemudian dibawa ke sini menjadi kemudian konflik.
37:52Nah itulah sebenarnya PR utama toleransi antarumat beragama di Indonesia saat ini.
37:58Di dunia yang semakin menggila, yang memungkinkan anasir agama itu dijadikan alat propaganda dan provokasi.
38:06Maka kita harus membentengi umat beragama di Indonesia dari virus itu.
38:12Kalau dulu ada vaksin COVID karena masalah virus biologis COVID-19.
38:20Sekarang harus ada vaksin toleransi karena virus ideologis yang bernama intoleransi atau peperangan yang mengatasnamakan agama.
38:31Terima kasih, Bip.
38:32Saya rasa ini satu pencerahan yang luar biasa.
38:36Karena jangan sampai kemudian perang karena ketamakan, kerakusan, keinginan untuk penguasaan satu negara.
38:45Itu kemudian bisa berimbas di dalam negeri kita dan kemudian memucah belah kita sebagai umat beragama.
38:52Saya masih bersama pendakwa yang dekat dengan generasi muda dan aktif berdakwa melalui media sosial.
38:58Salah satu bukunya yang saya suka adalah Seni Merayu Tuhan dan Tuhan Ada di Hatimu.
39:04Habib Jafar.
39:05Bip, kita sudah sampai di bagian yang terakhir.
39:10Kita ingin supaya tidak ada rasanya satu negara yang kemajemukannya itu seperti di Indonesia.
39:21Luar biasa.
39:23Bagaimana kita sebagai refleksi Idul Fitri ini, bagaimana kita tetap mengokohkan nilai-nilai toleransi.
39:32Tidak perlu juga terlalu takut bahwa kalau kita misalnya terlalu dekat dengan agama lain, maka seperti tidak membela agama sendiri.
39:42Apa sebenarnya refleksi Idul Fitri kali ini dari seorang Habib Jafar?
39:46Iya, kita itu negara yang paling beragam di dunia di antara salah satunya yang bahkan untuk menyebut martabak manis saja,
40:00kita itu punya tujuh sebutan yang berbeda.
40:02Ada yang menyebutnya terang bulan, ada yang menyebutnya kue bandung.
40:08Kita itu ada tujuh ratus lebih bahasa, ribuan suku dalam satu bangsa dan negara yaitu Indonesia.
40:18Sedangkan di Arab sana, satu suku banyak negara.
40:22Di sini banyak suku, satu negara.
40:24Maka kita berhasil melewati tantangan itu.
40:28Toleransi menjadi salah satu DNA bangsa ini.
40:31Karena itu salah satu fondasi bangsa ini adalah Bineka Tunggal Ika.
40:36Namun kita harus tahu bahwa di luar sana ini sedang menjadi tantangan.
40:40Di Timur Tengah misalnya, dan di beberapa negara baik di Eropa maupun di Amerika dan Afrika.
40:47Karena itu ini harus kita waspadai.
40:49Maka apa yang harus kita bangun sebagai tantangan saat ini adalah era baru yang disebut dengan era digital.
40:58Kita menghadapi era baru yang disebut era digital dan generasi baru yang milenial itu sudah relatif tidak lagi relevan.
41:07Tapi ada gen Z dan gen Alpha yang sedang menunggu kita.
41:12Dengan tipologi karakternya sendiri-sendiri.
41:15Karena itu menurut saya tantangan utama sekarang itu adalah silaturahmi.
41:21Apa yang menjadi DNA Idul Fitrih kemarin.
41:25Pertemuan.
41:27Karena kita sekarang hidup dalam dugaan dan prasangka.
41:33Kita membenci orang yang bahkan bukan hanya tidak kita kenal.
41:38Bahkan kadang-kadang gak tahu.
41:40Gak pernah ketemu.
41:41Membenci untuk sesuatu yang kita pikir dia begitu.
41:44Karena paparan media digital.
41:47Kita benci seseorang, mendoakan buruk seseorang yang bahkan kita tidak kenal dan beritanya kita tidak verifikasi.
41:55Karena media digital itu.
41:57Karena itu menurut saya yang terpenting adalah ruang-ruang pertemuan itu.
42:01Ruang-ruang silaturahmi.
42:04Dan itu sebenarnya adalah DNA-nya bangsa Indonesia.
42:06Itu DNA-nya bangsa Indonesia.
42:08Berkunjung.
42:09Betul.
42:10Dan itu bukan hanya ujaran agama dan ujaran kebangsaan.
42:14Bahkan itu ujaran akal sehat.
42:16Seorang filosof namanya Habermas.
42:18Dia bilang seharusnya yang menjadi ruang terbesar adalah public space.
42:24Ruang publik yang sehat.
42:26Yang mempertemukan orang-orang.
42:28Sehingga menjadi ruang yang sehat untuk kita bertemu, ngobrol, dan melahirkan.
42:33Bukan hanya kebersamaan, tapi inspirasi dari kebersamaan.
42:37Gerakan dari kebersamaan itu.
42:39Jadi kembalilah kepada pertemuan yang tidak sekedar hanya fisik, tetapi bercakap-cakap.
42:46Itu tidak saja mengembalikan keluarga pada esensinya.
42:50Tetapi juga mengembalikan umat beragama.
42:53Karena untuk tadi saling memahami, saling mengerti, itu yang mencegah.
42:59Kita membenci karena kita tidak kenal.
43:02Tidak kenal, tak kenal maka tak sayang kan.
43:05Rata-rata waktu efektif kita bersama keluarga, itu riset-riset yang ada menyebutkan hanya setengah jam.
43:11Waktu aktif kita sama keluarga.
43:13Mungkin kita 8 jam sehari sama keluarga.
43:15Tapi untuk tiga bersama, bukan hidup bersama.
43:18Karena semua main handphone, dan lain sebagainya.
43:22Habib, betul-betul mengingatkan kita semua bahwa perlunya silaturahmi.
43:29Silaturahmi.
43:29Kita juga masih dalam rangka idul fitri.
43:32Silaturahmi itu tidak hanya dilakukan pada saat idul fitri.
43:36Tetapi juga dalam ajang lainnya.
43:39Kapanpun, setiap saat.
43:42Karena disitulah kita bisa bercakap-cakap.
43:44Dan disitulah kita selalu bisa menemukan titik.
43:48Betul.
43:49Dan pada akhirnya, yang menyebabkan kita bisa bersama, itu dalam kajian-kajian antropologi, itu disebutnya imagine community.
44:02Komunitas itu terbentuk karena imajinasi.
44:04Bahwa kita itu sama.
44:07Bahwa kita itu satu.
44:08Bahwa kita itu setara.
44:10Kita membuat yang namanya Sumpah Pemuda.
44:131928.
44:14Bahwa kita satu.
44:17Tanah air satu.
44:19Bangsa yang satu.
44:21Kemudian juga bahasa persatuan.
44:24Itu imajinasi itu.
44:25Dan secara budaya juga itu berjalan.
44:27Sesama orang Jawa nyebutnya dulur.
44:30Sesama orang Madura nyebutnya tretan.
44:33Ada yang nyebutnya wongkitu.
44:35Ada yang menyebutnya saudara dan lain sebagainya.
44:38Mengembalikan kembali kesadaran berimajinasi.
44:42Bahwa kita adalah sama.
44:46Seburuk apapun saudara kita.
44:47Bersaudara.
44:49Dan tadi, saya terima kasih.
44:52Ternyata ukuah islamiah itu adalah persatuan kemanusiaan.
44:56Itu bahkan beyond dari bersatunya sesama agama yang sama.
45:01Tetapi justru ukuah islamiah adalah bersatunya kita semua.
45:06Sebagai manusia-manusia yang beragama.
45:10Terima kasih ya BIP ya.
45:11Terima kasih banyak.
45:13Selamat idul fitri.
45:13Dan senang sekali bisa melihat seorang Habib Jafar seperti ini.
45:20Karena saya sendiri banyak tercerahkan.
45:23Mendengar penjelasan Habib Jafar.
45:27Mohon doanya semoga bisa terus berada di jalan ini.
45:32Bisa terus mengembangkan jalan ini.
45:35Betul.
45:35Kita semua akan sama-sama saling mendoakan.
45:38Terima kasih ya BIP.
45:39Terima kasih banyak.
45:40Terima kasih bagi Anda terutama yang telah menyaksikan Rosy malam ini.
45:44Saya Rosy Anasilalahi.
45:46Sekali lagi selamat merayakan kehangatan idul fitri.
45:49Selamat berkumpul bersama keluarga.
45:51Tetaplah di Kompas TV.
45:53Independen.
45:53Terpercaya.
Komentar