PADANG, KOMPAS.TV - Setelah viral warga Kota Padang mengibarkan bendera putih, pemerintah mengirimkan bantuan alat berat untuk melakukan normalisasi sungai.
Kondisi tersebut terlihat di Perumahan Griya Permai Dua, Kelurahan Tabiang Banda Gadang, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, pascabanjir bandang. Sungai yang melebar telah menghanyutkan kurang lebih 11 unit rumah di kawasan ini.
Warga pun telah menyerah dan mengibarkan bendera putih. Setelah aksi tersebut, dua unit alat berat diturunkan untuk menormalisasi sungai.
Untuk mengetahui perkembangan penanganan wilayah terdampak bencana di Padang, Sumatera Barat, telah bergabung Ernawati, warga Padang yang rumahnya terancam ambruk terdampak bencana.
Baca Juga Pascabanjir Bandang, Sekolah di Tanjung Raya Agam Dibersihkan | SAPA SIANG di https://www.kompas.tv/nasional/641910/pascabanjir-bandang-sekolah-di-tanjung-raya-agam-dibersihkan-sapa-siang
#banjirpadang #banjirpadang #viral #benderaputih
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/641917/cerita-warga-padang-pascabanjir-bandang-viral-kibarkan-bendera-putih-rumah-terancam-ambruk
00:00Sedara setelah viral warga kota Padang mengibarkan bendera putih, pemerintah mengirimkan bantuan alat berat untuk normalisasi sungai.
00:12Seperti inilah kondisi perumahan Gria Permai 2 Kelurahan Tabiang, Bandagadang, kota Padang, Sumatera Barat, Pasca Banjir Bandang.
00:20Sungai yang melebar telah menghangyutkan lebih kurang 11 rumah di kawasan ini.
00:26Warga pun telah menyerah dan mengibarkan bendera putih.
00:28Setelah aksi ini, dua unit alat berat diturunkan untuk menormalisasi sungai.
00:40Kondisi untuk yang di rumah sendiri, kita sudah loong yang di bawah, itu hampir setengahnya, kurang lebih setengahnya.
00:50Berapa rumah lagi yang terancam ini Pak?
00:52Kalau terancam, kita masih menunggu untuk normalisasi aliran sungai.
00:57Kalau memang belum ada juga, mungkin yang di depan sampai yang zakang ini mungkin akan terdampak.
01:03Puluhan rumah ini ya.
01:04Dua hari lalu, salah satu rumah yang tergerus aliran sungai pasca banjir bandang di kampung koto,
01:28Kelurahan Tabiang Bandagadang, Nanggalo, Padang masih berdiri.
01:33Namun gerusan air sungai yang berlangsung terus-menerus membuat rumah ini ambruk, terbawa arus sungai.
01:39Padahal pemilik rumah ini telah berupaya mempertahankan rumahnya dengan menimbun dasar sungai agar rumahnya bisa tetap berdiri.
01:49Untuk mengantisipasi bertambahnya rumah yang ambruk, warga kampung koto, Kelurahan Tabiang Bandagadang, Gotong Royong, memadatkan tebing sungai dengan alat seadanya.
02:01Warga berharap pemerintah setempat membantu penanganan dan membutuhkan alat berat untuk normalisasi sungai.
02:07Ini melakukan gotong royong bersama, gotong royong mandiri untuk menormalisasikan sungai Batang Purangi agar tidak menghantam pemukiman kami.
02:17Karena saya ulang kembali, mungkin dah sering saya diwawancara minta alat berat, karena alat berat itu sampai sekarang belum ada.
02:25Pemerintah tidak kasihan melihat batal-batal, jikal-batal rumah yang akan runtuh, yang sesudah empat.
02:32Ini kan ini udah empat rumah yang runtuh kemarin, runtuh lagi yang baru.
02:35Jadi masyarakat sini, gampang-gampang koto royong untuk menghantam sungai.
02:41Aliran sungai Batang Kurangi berubah sejak bencana banjir bandang pada November lalu.
02:47Rumah warga yang selama ini jauh dari bibir sungai, kini malah dilintasi air.
02:52Dengan kondisi seperti ini, warga Kelurahan Tabiang Bandagadang berharap rumah mereka bisa diselamatkan.
03:00Rio Johanes, Kompas TV, Padang, Sumatera Barat.
03:05Kita update bagaimana perkembangan penanganan wilayah terdampak bencana di Padang, Sumatera Barat.
03:14Kita sapa salah satu warga yang rumahnya nyaris ambruk, terdampak bencana.
03:19Ada Ibu Ernawati, selamat petang Ibu.
03:24Iya, selamat petang.
03:25Ibu, kalau kita lihat itu di belakang Ibu, rumah Ibu itu dekat sekali begitu ya dengan bibir sungai ataupun tepi sungai yang sekarang sudah melebar.
03:34Bisa diceritakan kondisinya bagaimana Ibu?
03:37Oke, ini rumah masa kecil saya, rumah orang tua saya ini kondisinya sudah mulai retak.
03:44Bagian lantainya sudah retak karena tanah yang di bawahnya itu sudah digerus.
03:50Dan setiap hari, sebentar sudah jatuh gerusannya itu.
03:55Kami juga kemarin sudah berusaha untuk menghentikan gerusan dengan otodidak manual saja, goro.
04:01Tapi yang namanya berusaha, kita kembali ke sana entah bisa tanda.
04:06Cuman itulah, belum masih menimbulkan gerusan yang baru.
04:11Masih banyak jatuh-jatuh bibir pinggiran dekat rumah orang tua saya ini masih berjatuhan.
04:17Sehingga rumah orang tua saya sekarang kondisi lantai dia sudah retak begitu.
04:23Kondisinya sudah retak dan ini berpotensi untuk tergerus begitu ya, ambruk ya.
04:29Dulu sebelum terjadi banjir bandang, jarak rumah Ibu itu berapa meter?
04:35Sebelum banjir bandang ada sekitar 300 meter.
04:41Tapi waktu kami membuat rumah ini sangat jauh dulu ada sekitar 500 meteran dari pinggir sungai.
04:49Karena sungai ini selalu berjatuhan akhirnya sebelum banjir bandang sekitar 300 meter.
04:55Sebelum rumah kami ini ada ladang kami dulu agak lumayan luas begitu.
04:59Oke dan semuanya itu sudah tergerus banjir bandang ya, sehingga sungai Batang Kuraji ini melebar.
05:07Dan sekarang posisi rumah Ibu itu paling pinggir dan rentan untuk hancur begitu ya.
05:12Karena gerusan ini ya Ibu ya.
05:14Iya betul.
05:16Ini kondisinya tentu sangat memprihatinkan terus itu Ibu juga tadi bercerita bagaimana berusaha untuk menahan agar rumah Ibu yang persis di belakang Ibu ini tidak ikut roboh begitu.
05:27Bantuan alat berat yang sepertinya Ibu sampaikan ini sudah tiba untuk membantu?
05:33Belum, itulah yang membuat saya pusing, sedih.
05:36Soalnya kan bukan rumah saya saja yang bakal jatuh.
05:40Ini di depan saya sendiri juga sudah mulai retak.
05:44Dan beberapa rumah lagi.
05:45Pokoknya di sekitar sini ada sekitar 25 rumah yang bakal jatuh.
05:49Kalau belum juga Batang Kuraji ini dinormalisasikan.
05:55Jadi saya mohon ke pihak yang beronang atau gimana.
06:00Cobalah untuk secepatnya mengirimkan alat berat ke tempat kami.
06:05Karena bakal banyak yang jatuh pemukiman di sekitar tempat kami ini.
06:12Rumah ini sudah mulai ambles itu sudah berapa hari pasca bencana banjir yang pertama kali terjadi?
06:21Dalam bulan November kemarin itu memang sudah ambles dua rumah.
06:28Waktu November dan saya juga sudah berusaha untuk mendapatkan alat berat tapi belum.
06:33Nah kemarin banjir susulan tanggal 2 Januari ambles lagi dua rumah.
06:39Kemarin nyusul lagi satu rumah.
06:40Jadi total semua lima rumah.
06:42Lima rumah ya?
06:43Yang bakal runtuh, yang bakal ambles ini nah yang di depan saya termasuk rumah orang tua saya sendiri.
06:51Nah ini yang ibu khawatirkan dan juga warga khawatirkan ya.
06:54Kalau seandainya tidak segera diatasi makanya akan juga ambles.
06:59Terakhir ibu sudah koordinasi belum dengan pemerintah daerah setempat?
07:04Sehingga memang betul-betul bantuan itu tiba untuk membantu.
07:07Atau mungkin ada opsi relokasi begitu yang sudah ditawarkan?
07:09Pihak kecamatan, kebetulan Bapak Camat sendiri sudah datang ke lokasi melihat kondisi kami.
07:18Cuman menurut Bapak Camat, beliau sudah mengusahakan alat berat mungkin butuh proses.
07:24Cuman kami sekarang kan kondisinya dalam keadaan cemas.
07:28Menunggu proses itu kami juga tidak, belum bisa menerima.
07:33Pokoknya intinya gini, segeralah karena bakal menimbulkan kerugian lebih besar.
07:39Seandainya diberi kami bantuan alat berat mungkin meminimalisir kemungkinan yang bakal kerugian besar lagi ya.
07:49Kalau alat berat kan tidak terlalu seandainya ada penggantian apa segala macam.
07:54Kalau bisa kami tidak ingin pindah dari sini karena ini memang masa kecil kami.
07:59Banyak kenangan, kalau bisa diselamatkan apa salahnya sebelum terjadi gitu.
08:05Jadi kami tidak berharap relokasi.
08:07Cuman selamatkalah rumah kami yang ada, itu aja yang kami harapkan.
08:11Baik Bu, kita berharap ya ini bantuan ekskavator ataupun bantuan alat berat yang Ibu minta ini segera tiba.
08:18Dan pemerintah juga bisa memberikan bantuan ya.
08:20Agar tidak ada lagi rumah-rumah lain yang ambruk akibat bibir sungai yang tergerus ini.
08:26Terima kasih Ibu Ernawati warga Padang yang telah berbagi cerita bersama kami di Kompas Petang.
Jadilah yang pertama berkomentar