Skip to playerSkip to main content
Kalimantan Selatan kembali lumpuh diterjang banjir bandang setinggi 2 meter yang merendam ribuan rumah di delapan kabupaten. Banjir ini memicu perdebatan besar antara klaim bencana alam dan tudingan kejahatan ekologis akibat eksploitasi lahan yang ugal-ugalan.

Pertanyaannya, apakah penyebab banjir di Kalsel ini murni faktor cuaca, atau memang akibat izin tambang dan sawit yang sudah terlalu menyesakkan bumi Kalimantan?

#banjir #banjirsumatera #banjirkalsel
Transcript
00:00Kalimantan Selatan kembali lumpuh di terjang banjir bandang setinggi 2 meter yang merendam ribuan rumah di 8 kabupaten.
00:07Banjir ini memicu perdebatan besar antara klaim bencana alam dan tudingan kejahatan ekologis akibat eksploitasi lahan yang ugal-ugalan.
00:16Pertanyaannya, apakah penyebab banjir di kaosel ini murni karena faktor cuaca atau memang akibat izin tambang dan sawit yang sudah terlalu menyesakan bumi Kalimantan?
00:27Simak informasi selengkapnya di FOI hari ini.
00:30Bencana banjir yang menghantam Kalimantan Selatan sejak Jumat 26 Desember telah membuat kehidupan warga kolaps total.
00:49Dimulai dari banjir bandang di balangan yang menyapu pemukiman hingga setinggi atap rumah.
00:54Di kecamatan Tebing Tinggi dan Halong, arus deras melumpuhkan 8 desa dengan total 10.949 jiwa terdampak dan memaksa penetapan status tanggap darurat.
01:05Data dari kepolisian merinci kerusakan masif di desa-desa seperti Maya Nau, Sung Sum, dan Juuu, di mana jembatan vital terputus.
01:13Gedung sekolah terendam lumpur dan ratusan rumah warga mengalami kerusakan berat.
01:18Penderitaan serupa terjadi di Kabupaten Banjar, di mana 18.348 warga di 89 desa harus bertahan di tengah genangan.
01:28Termasuk kelompok rentam seperti ratusan lansia, balita, dan ibu hamil yang kini mengungsi di tenda-tenda darurat.
01:35Duka kian mendalam saat seorang lansia di tanah laut disebut tewas terjatuh ke bawah jembatan yang amplas karena tidak terlihat di kegelapan subuh.
01:43Kondisi ini semakin memanas dengan adanya temuan dari Kementerian Lingkungan Hidup bahwa daerah aliran sungai atau das sungai di Kalsel telah kehilangan fungsi alaminya
01:53akibat aktivitas 20 entitas perusahaan tambang dan sawit di wilayah Hulu.
01:58Menteri Lingkungan Hidup Hanifai Sol menegaskan bahwa kawasan resapan air kini telah berubah menjadi pemukiman dan lahan terbuka.
02:07Sehingga curah hujan 100 mm saja sudah mampu menenggelamkan wilayah tersebut.
02:12Fakta mengejutkan dari catatan akhir tahun UALHI tahun 2025 diungkapkan bahwa 51,57 persen atau sekitar 1,9 juta hektare wilayah Kalimantan Selatan
02:24kini telah dibebani izin industri ekstraktif.
02:27Sebuah angka yang setara dengan 29 kali luas DKI Jakarta.
02:32Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Mensesnek menyatakan Presiden Prabowo masih memantau kondisi lapangan sebelum memutuskan kunjungan kerja.
02:40Sementara di akar rumput, warga mulai jengah dengan narasi sabarlah menghadapi cobaan.
02:45Yang mana kerap dipakai pejabat untuk menutupi kegagalan mitigasi dan pengawasan terhadap perusahaan perusahaan hutan primer yang kini tersisa kurang dari 50 ribu hektare saja.
02:56Melihat masifnya penguasaan lahan oleh korporasi di hulu sungai?
03:00Pertanyaannya bagaimana tanggung jawab negara dalam memberikan keadilan ekologis bagi rakyat yang setiap tahun harus kehilangan tempat tinggal akibat banjir ini?
03:09Memang di posisi di Kalimantan Selatan saat ini, kondisi curah hujan yang cukup tinggi.
03:19Dan ada beberapa minggu yang lalu juga terjadi getaran di Banjarbaru, Banjarmasin, dan tanah bumbu itu gempa.
03:32Tetapi tidak terjadi yang misalnya rusak terhadap misalnya kerusakan gitu kan atau apapun yang terjadi.
03:43Tapi ada terasa getaran gempa gitu.
03:50Nah juga yang saat ini yang sering terjadi banjir ini,
03:58sesuai data yang dari kawan-kawan Walhi kan, hampir 50 persen hutan di Kalimantan Selatan khususnya itu rusak begitu kan.
04:09Karena korporasi dan perkabunan kalapasawit tentunya.
04:16Nah dengan melihat situasi ini juga ada beberapa dampak pertambangan ilegal.
04:22Baik penambangan amas, ada beberapa di Gopatin tentunya.
04:25Ini yang juga membuat apa namanya sungai atau air yang disakitar itu akan begitu cepat meluap ketika turun hujan gitu kan.
04:41Nah dan prediksi kawan-kawan di beberapa misalnya di BBMKG juga ada mungkin akan terjadi banjir.
04:54Tapi ya harapan saya dan saya konfirmasi juga dengan beberapa tokoh di Meratus,
05:02selama hutan itu masih terjaga begitu kan, terus lingkungan itu masih lestari,
05:10maka dipastikan tidak terjadi banjir yang, harapan kita tidak terjadi banjir yang seperti ada di Aceh dan Sumatera begitu kan.
05:20Dan kami juga mengucapkan apa namanya turut berduka cita yang terjadi di Aceh dan Sumatera.
05:27Nah itu yang mungkin karena kerusakan ekologis dan cara berpikir mensit manusia yang semua berpikir bahwa merusak lingkungan itu adalah bagian dari misalnya bicara tentang ekonomi gitu kan.
05:50Bahwa justru kalau merusak hutan itu akan merusak tatanan kehidupan masyarakat sendiri baik tanpa tinggal misalnya kan.
06:02Terus air yang tercemar dan tentunya pasti akan muncul wabah yang tidak baik untuk masyarakat setempat.
06:12Nah sedikit kami dari Kalimantan Selatan mungkin itu tentunya aman tetap konsisten untuk bergerak dan berperan bagaimana peran aman untuk perlindungan lingkungan gitu kan
06:30dan pengelolaan secara kearifan lokal yang secara turun-turun terus dilakukan oleh masyarakat ada yang tentunya di meratus di Kalimantan Selatan.
06:42Nah mungkin ada sedikit kami dapat kabar dari kawan-kawan di Kalimantan Timur sebetulnya ada update yang terbaru itu kan pemberitaan itu hampir berapa ribu itu kan lubang-lubang tambang yang ada di Kalimantan Timur kan.
07:03Nah respon dari Kementerian Lingkungan Hidup akan segera di tindak lanjut tiga tanyakan mungkin ada hubungannya dengan terjadi banjirup yang ada di sana.
07:15Nah sehingga mungkin lebih tepatnya nanti bisa dihubungi kawan-kawan di Kalimantan Barat ya.
07:28Ketua Tono mungkin ada di sana yang lebih memahami situasi yang ada di sana.
07:35Begitu mungkin ya apa namanya rekomendasi ya mungkin atau saran dari kami baik instansi terkait ataupun kementerian gitu kan.
07:48Harapan kami adalah bagaimana percepatan pengakuan masyarakat adat gitu kan terus penetapan hutan adat.
07:54Nah karena sejauh ini kami melihat konservasi yang dilakukan oleh masyarakat adat itu justru lebih lestari ketimbang
08:06pemerintah yang mengelola dan diserahkan ke korporasi itu jauh lebih berbahaya dan merusak lingkungan.
08:16Nah harapan kami adalah segera melakukan pengakuan masyarakat adat bahkan pengasahan undang-undang masyarakat adat
08:25yang hari ini hampir 10 tahun juga tidak jalan begitu kan.
08:30Ini salah satu sangat penting yang mendukung apa namanya terjadinya deforestasi dan kerusakan lingkungan ketika masyarakat adat punya legal setting untuk bagaimana dia mengelola hutan secara lestari dan berkelanjutan.
08:50Tentunya dengan pengawasan dari pemerintah itu akan menjauh lebih baik gitu kan cara bagaimana kita berkolaborasi tentunya.
08:59Dan juga harus mencabut izin-izin tambang yang tentunya tidak produktif lagi dan merusak.
09:07Bahkan misalnya di Kalimantan Selatan hari ini,
09:10Dinas Kehutanan melalui Dinas Kehutanan mengusulkan untuk penetapan taman resona di Pegunungan Beratus.
09:16Harapan kami aspirasi kemarin yang disampaikan di tanggal 15 Agustus ke Gubernur itu segera dicabut dan ditindaklanjuti.
09:24Karena itu bertentangan dengan kearifan lokal masyarakat adat yang jauh secara turun-turun mereka mengelola alam secara lestari.
09:34Ketanyaannya, mampukah pemerintah berani mencabut izin perusahaan-perusaha kelingkungan
09:40demi menghentikan ritual banjir tahunan di Kalimantan Selatan dan wilayah Indonesia lainnya?
Be the first to comment
Add your comment

Recommended