Skip to playerSkip to main content
Ramai-ramai media asing menyoroti tragedi banjir Sumatra. The New York Times bahkan membuat laporan khusus mengenai tumpukan kayu gelondongan yang hanyut.

Simpati global juga berdatangan dari berbagai kepala negara. Namun, skala tragedi ini masih dipertanyakan oleh pemerintah yang enggan menetapkan status bencana nasional. Pemerintah mengklaim masih bisa menangani sendiri, belum memerlukan bantuan dari negara lain.

Data terbaru BNPB hingga Jumat siang, 5 Desember mencatat korban meninggal dunia mencapai 893 jiwa, dengan 521 jiwa masih hilang. Simak informasi selengkapnya di VOI.id.

#banjir #banjirsumatera #banjiraceh #banjirbandang #longsor
Transcript
00:00Ramai-ramai media asing menyoroti tragedi banjir Sumatra.
00:03Namun, skala tragedi ini masih dipertanyakan oleh pemerintah yang enggan menetapkan status bencana nasional.
00:10Pemerintah mengklaim masih bisa menangani sendiri, tak perlu bantuan dari negara lain.
00:15Simak informasi selengkapnya di FOI hari ini.
00:17Data terbaru BNPB hingga Jumat siang 5 Desember mencatat korban meninggal dunia mencapai 893 jiwa, dengan 521 jiwa masih hilang.
00:40Kerusakan masif meliputi 5.200 rumah rusak dan 204 jembatan hancur di tiga provinsi.
00:46Media asing beramai-ramai memberitakan krisis ini.
00:49Media Perancis AFP, The New York Times dari Amerika Serikat hingga DW dari Eropa menyoroti situasi darurat di Sumatra.
00:57AFP menyoroti frustasi para penyintas tentang lambatnya upaya penyelamatan.
01:01Sementara DW menyoroti kesulitan bantuan mencapai warga.
01:05The New York Times membuat laporan khusus mengenai pemandangan tak biasa di lokasi bencana.
01:09Ditumpukan kayu gelondongan yang hanyut.
01:12The New York Times menyebutnya pelantak terapung yang menghancurkan rumah warga.
01:17Analisis media asing ini tegas menyimpulkan bahwa dasyatnya bencana diperperah oleh deforestasi masif selama puluhan tahun.
01:24Simpati global berdatangan dari berbagai kepala negara.
01:27Mencerminkan besarnya skala bencana.
01:30Misalnya Raja Charles III atau dari Inggris yang menyampaikan bela sungkawa tulus.
01:34Raja Salman dan Putra Mahkota Mohamed bin Salman dari Arab Saudi mengirim ucapan resmi kepada Presiden Prabowo.
01:40Hingga para pemimpin negara lain seperti Jepang, Qatar, Oman, Vietnam, Rusia, Jerman yang turut berbela sungkawa serta menawarkan bantuan.
01:49Termasuk CEO Apple Tim Cook yang menjanjikan donasi.
01:52Pihak sipil dan DPR mendesak Presiden Prabowo untuk segera menetapkan status bencana nasional.
01:58Merujuk pada masifnya dampak serta kegagalan birokrasi dalam menyalurkan bantuan.
02:02Viral video bantuan atau donasi dilemperkan dari atas helikopter.
02:07Hingga makanan pun hancur dan warga tidak bisa mengkonsumsinya.
02:11Meskipun begitu, pemerintah Indonesia secara resmi menolak tawaran bantuan internasional dan penetapan status bencana nasional.
02:18Menteri Sekretaris Negara atau Mensesnek Prasetyo Hadi menegaskan,
02:21Untuk sementara ini, belum.
02:23Kita merasa bahwa pemerintah dalam hal ini kita semua masih mampu mengatasi seluruh permasalahan yang kita hadapi.
02:29Sikap ini juga diperkuat oleh Statement Menteri Luar Negeri atau Menlu Sugiono yang menyatakan,
02:34Saat ini kita belum membuka, arti membuka bantuan dari luar negeri.
02:39Dan Menlu mengatakan, sampai kita merasa membutuhkan bantuan.
02:42Pemerintah meyakini dapat menangani dengan dana siapakai atau DSP 500 miliar rupiah.
02:48Sementara itu, Kepala BNPB Soeharyanto membantah urgensi penetapan status bencana nasional.
02:53Yang merujuk pada Undang-Undang No.24 tahun 2007.
02:56Sebelumnya, pernyataan Suharyanto yang menyebut situasi mencekam hanya berseliwuran di media sosial,
03:02viral, dan membuat warga emosi.
03:04Namun, ia telah meminta maaf.
03:06Penolakan status bencana nasional ini sebenarnya bertolak belakang dengan kondisi di lapangan.
03:10Menteri Lingkungan Hidup Hanifai Sol juga mengaku bahwa puluhan ribu hektare hutan hilang telah memperparah bencana.
03:17Warga Gayo di Aceh secara viral memohon bantuan langsung kepada Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim
03:23karena terisolasi dan kelaparan selama lima hari.
03:26LBH Medan juga mencatat insiden penjarahan ke gudang bulog dan minimarket.
03:30Sebagai indikasi gagalnya, pemerintah daerah menyediakan bahan pokok.
03:34Kegagalan penanganan di daerah diperturuk oleh pungli atau pungutan liar.
03:38CEO SpaceX Elon Musk secara terbuka menyatakan kekecewaannya
03:42setelah mengetahui layanan internet gratis Starlink yang disediakan untuk korban bencana,
03:46diduga dipungut biaya Rp20.000 per pengguna oleh oknum di Aceh.
03:51Elon Musk menegaskan Starlink selalu gratis untuk korban bencana dan mengecam keras praktik mengambil untung dari musibah.
03:58Di Instagram juga viral warga lokal Aceh seperti dilangkat yang meminta bantuan.
04:03Mereka mengaku kelaparan selama berhari-hari.
04:06Dengan kondisi yang bisa dibilang sudah parah ini,
04:10pertanyaannya mengapa pemerintah mempertahankan sikap untuk menolak bantuan dari asing?
04:15Padahal sudah jelas bahwa peranata kehidupan telah kolet.
04:18Baik, kalau pertanyaannya kembali ke masalah status Bicara Nasional terbuka,
04:26sebagaimana yang sudah ulang kali berikan penjelasan oleh berbagai pihak bahwa
04:34yang paling penting adalah penanganannya.
04:39Penanganannya, saudara-saudara tadi sudah bisa lihat bahwa
04:43semenjak terjadinya penjangan di Aceh, Sumatera Utara, maupun di Sumatera Barat,
04:52seluruh sumber daya nasional bekerja keras untuk melakukan penanganan.
04:58Diperkenan dengan masalah status, itu banyak pertimbangan.
05:03Dan hingga sampai hari ini, kita merasa bahwa penanganan yang cukup masif,
05:14semua sebeba yang nasional bekerja keras,
05:16dan itu sementara pilihan yang ada pertimbangan, masif, pertimbangan.
05:22Ada hal yang tidak bisa juga disampaikan ya, pertimbangan-pertimbangan tersebut,
05:32yang paling penting adalah bukan masalah statusnya,
05:35tapi sekali lagi adalah masalah penanganannya,
05:40kemudian support atau backup dari pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah,
05:47provinsi maupun kabupaten, termasuk mengenai anggaran,
05:53yang Bapak Presiden langsung memberikan instruksi kepada kami,
05:57jacara terkait untuk mem-backup sepenuhnya proses penanganan
06:05berhadap bencana yang menimpa saudara-saudara kota di provinsi.
06:09Walaupun mem-backup belum dinaikkan menjadi pemerintah nasional,
06:13dan tetap apakah pemerintah nantinya akan membuka peluang untuk bantuan luar negeri masuk,
06:17seperti waktu Palu 2018 kan tetap bencana bukan bencana nasional,
06:21tapi ada Inpres yang membuka peluang bantuan luar negeri masuk.
06:26Sementara ini, belum ya,
06:30meskipun kami juga mewakili pemerintah,
06:33Bukit Indonesia menyampaikan terima kasih,
06:35karena banyak sekali atensi dari negara-negara sahabat,
06:41baik yang mengucapkan keperhatinan maupun yang ingin memberikan bantuan,
06:47kami mengucapkan terima kasih,
06:48namun demikian kita merasa bahwa pemerintah dalam hal ini,
06:54kita semua masih sanggup untuk mengatasi seluruh permasalahan yang kita hadapi.
07:05Dari sisi pangan,
07:08Alhamdulillah kita punya stok yang cukup,
07:12kami juga intens berkoordinasi dengan Pertamina,
07:16untuk memastikan pasokan BPM untuk segera berdistribusi ke seluruh wilayah,
07:23termasuk harus menggunakan cara-cara yang mungkin tidak normal,
07:28dan BPM juga bagaimana kita usahakan bisa dilakukan dropping dari negara,
07:35karena memang menyesuaikan dengan kondisi bencana yang kita hadapi di lapangan.
07:40Tanggal yang sama, ada tiga provinsi yang mengalami bencana ekologis,
07:45terus kita menganggap ini tidak bencana nasional,
07:50mungkin secara angka tidak banyak,
07:54kalau dibandingkan misalnya dengan bencana palu,
07:58atau NTB, atau siklon yang ada di NTT,
08:01tapi satu nyawa kan berarti,
08:04misalnya per hari ini saja sudah ada yang mengungsi 292 orang yang mengungsi,
08:14yang kemudian ini hak-hak hidupnya,
08:17belum tentu dijamin sama negara pada saat ini.
08:21Ya, itu satu Bang Wibar,
08:23satu sisi adalah secara dampak,
08:26tiga provinsi dilanda bencana ekologis,
08:29dan sampai hari ini masih ada beberapa daerah yang terisolir,
08:34secara dampak dia sebenarnya sudah bencana,
08:37sudah bisa kita katakan sebagai bencana,
08:40walaupun kemudian statusnya dikatakan oleh negara belum bencana,
08:44dan misalnya BNPB juga mengatakan,
08:47belum bisa dikatakan sebagai bencana nasional,
08:50tapi bagi walhi,
08:51ketika ada peranata kehidupan yang sudah hilang di situ,
08:54lalu ada ekosistem yang sudah dirusak di situ,
08:57itu bagian dari yang harus diseriosi oleh negara dalam merespon bencana,
09:02karena tugas negara juga memastikan warga negaranya,
09:07bisa terlindung dari semua bencana yang terjadi,
09:11baik dia sebelum ataupun sesudah terjadi bencana.
09:15Jadi kalau ditanya begitu Bang Beber,
09:18concern saya adalah ketika ada satu peranata kehidupan yang sudah hilang,
09:22yang berdampak banyak,
09:24walaupun satu nyawa yang hilang,
09:26itu penting untuk menjadi perhatian bersama.
09:29Lalu yang kedua ada ekosistem yang hilang di situ,
09:33yang lagi-lagi saya mau menekankan bahwa ekosistem itu punya fungsi ekologis yang perlu sebenarnya kita jaga,
09:42dan dia sudah melindungi kita sebenarnya sebagai daya dukungan dan daya tempung lingkungan yang baik.
09:48Di tengah dasarkan walhi untuk mencabut izin perusahaan,
09:51haruskah penetapan status bencana nasional ini didasarkan pada jumlah korban,
09:55ataukah pada gengsi dan citra negara?
09:59Terima kasih telah menonton!
Comments

Recommended