00:00Tapi dia baik banget sama kamu, ya kan?
00:04Bantu kamu menghadang kereta, memetik bunga.
00:07Bahkan di dadanya itu, dia tahan sakit buat mengukir namamu.
00:09Benar sekali. Aku dengar, kali ini dia hamburkan banyak uang.
00:13Bahkan sampai menyewa pavilion bulan buat siapkan kejutan untukmu.
00:15Kamu beneran gak mau lihat ke sana?
00:17Iya, Yanti. Kalau ada pria yang rela segitunya buat aku, aku pasti mau menikah sama dia.
00:21Lalu kenapa?
00:23Setulus apapun dia padaku, setampan apapun dia, di mataku, dia cuma penjaga pintu.
00:30Sekarang aku dilirik oleh putra keluarga Yandi.
00:34Aku tentu harus manfaatkan kesempatan buat menikah ke keluarga bangsawan sesungguhnya.
00:38Lalu kenapa kamu gak langsung menolak saja?
00:40Gak baik gantung orang seperti itu.
00:41Kamu tahu apa? Coba pikir.
00:44Dia memang tampan.
00:46Hebat bertarung, juga rela bertaruh nyawa buat aku.
00:50Ada satu pengikut penjilat begitu?
00:53Kenapa enggak?
00:55Yang lebih penting lagi,
00:57Weni menyukainya.
00:57Tapi dia malah menyukaiku.
01:00Begitu aku teringat,
01:02wajah Weni yang direbut benda kesayangan itu,
01:06aku merasa puas banget.
01:08Kayak dulu aja,
01:09dia paling suka pakai gaun putih.
01:11Jadi aku sengaja bilang,
01:13aku juga suka.
01:14Ayahku pun menghadiahkan
01:17semua gaun putih buat aku.
01:20Aku juga sengaja pamer gaun putih di depannya.
01:23biar dia kesal.
01:25Sejak itu,
01:26dia gak mau makainya lagi.
01:28Benarkah?
01:28Oh iya,
01:34bicara soal itu,
01:35selama ini kamu sering menjebak Weni, kan?
01:37Ku dengar,
01:39soal ibunya kesulitan melahirkan itu.
01:40Itu salah ibunya sendiri.
01:43Siapa suruh ibunya selalu merebut posisi istri,
01:45sah?
01:47Aku cuma,
01:48aku juga gak melakukan apapun.
01:50Aku cuma tambahkan,
01:52sedikit obat penggugun.
01:53Di akhir ibunya waktu memelahirkan.
01:55Gak disangka,
01:58ibunya begitu lemah,
02:00malah langsung mati sama kandungannya.
02:02Memang nyawa hina.
02:05Wah,
02:06wah,
02:07Nona Yanti memang hebat.
02:09Banyak sekali caramu.
02:11Itu bukan apa-apa.
02:12Aku terus terang saja.
02:14Sebenarnya,
02:15waktu di pesta kedewasan Weni,
02:17soal dia diculik,
02:18itu juga ulahku.
02:19Yang sampai bikin geger satu kota itu.
02:21Iya.
02:23Tinggal sedikit lagi.
02:25Aku bisa cari orang
02:26buat merusak wajahnya yang menggoda itu.
02:30Kamu begitu membencinya?
02:31Tentu saja.
02:33Siapa yang berani berbut denganku,
02:34itulah akibatnya.
02:36Tapi penjurikan waktu itu,
02:37walau wajahnya gak dirusak,
02:39itu juga sudah merusak separuh reputasinya.
02:42Setelah ayahku tahu,
02:44dia juga gak menyalahkanku,
02:46ayahku selalu
02:47paling menyayangiku.
02:50Aku lagi berpikir,
02:51kalau suatu hari nanti,
02:53aku diam-diam
02:55membunuh wanita hina itu?
02:57Ayahku juga gak akan
02:58apa-apakan aku.
03:01Tuan Haris,
03:02Anda masih mau masuk?
03:05Siapa di luar?
03:06Jangan kasih tahu dia
03:15aku pernah ke sini.
03:16Setulus apapun dia padaku,
03:34setampan apapun dia,
03:35di mataku,
03:36dia cuma penjaga pintu.
03:41Aku cuma tambahkan
03:42sedikit obat penggugur
03:44di air ibunya waktu memelahirkan.
03:55Saat dia datang,
03:56ibuku emosi sampai susah melahirkan,
03:57akhirnya meninggal.
03:58Begitu masuk ke kediaman Lutfi,
04:00dia merebut kamar yang disiapkan ibuku untukku,
04:03merebut pakaianku,
04:04perhiasanku,
04:04ayahku,
04:04dan segalanya milikku.
04:07Terserah mau percaya atau enggak.
04:08Haris,
04:13selamat tinggal.
04:15Ternyata selama ini,
04:17orang yang kusukai,
04:18begitu busuk dan gak pantas,
04:20justru Winnie yang selalu kuperlakukan
04:22dingin itu,
04:23yang jadi korban sebenarnya.
04:24Kenapa gadis yang dulu
04:35begitu baik hati
04:36bisa menjadi sosok
04:37yang menjijikan begini?
04:44Mungkin,
04:45gadis yang menyelamatkan burung itu
04:47sebenarnya enggak ada.
04:48Atau mungkin,
04:51orang itu sama sekali
04:52jadi aku sengaja bilang
04:57aku juga suka.
Comments