- 3 bulan yang lalu
- #udang
- #cikande
- #radioaktif
SERANG, KOMPAS.TV - Tim Satgas Cesium-137 memutuskan kawasan Industri Modern Cikande berstatus kejadian khusus cemaran radiasi.
Seluruh aktivitas keluar masuk kawasan berada di bawah kontrol satgas dan akan dideteksi melalui Radiation Portal Monitoring atau RPM.
Hal ini dilakukan sambil menunggu pemasangan detektor milik Polri, Bapeten dan BRIN.
Kasus ini terungkap setelah Amerika Serikat menolak hasil ekspor udang asal Indonesia karena dianggap mengandung bahan berbahaya radioaktif.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menyatakan material yang terindikasi terpapar tidak diizinkan keluar sebelum melalui dekontaminasi.
Bila alat indikator mendeteksi cemaran cesium-137, maka akan dilakukan grounding dan dekontaminasi sebelum keluar kawasan.
Saat ini, satgas telah memetakan 10 titik pancaran radiasi dengan intensitas berbeda.
Dua lokasi sudah didekontaminasi, sementara delapan titik lainnya masih dalam tahap inventarisasi detail sebelum penanganan lanjutan.
Masih soal radiasi, sebelumnya Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menyatakan udang beku yang ditolak Amerika Serikat lantaran terkontaminasi material radioaktif cesium-137 masih aman dikonsumsi.
Zulhas bilang, hal ini lantaran kandungan radioaktif yang ada dalam udang yang dikirim PT BMS berada di bawah ambang baku yang ditetapkan pemerintah Indonesia, yakni 500.
Indonesia lagi-lagi diuji oleh hambatan non-tarif setelah Amerika Serikat menolak udang yang terkontaminasi radioaktif.
Bagaimana tata kelola industri modern, benarkah ini alarm atau lampu kuning longgarnya pengawasan?
Kompas Bisnis membahasnya bersama Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform in Economics alias CORE.
Baca Juga Bikin Warga Resah! Kawasan Industri Modern Cikande Tercemar Paparan Radioaktif | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/621143/bikin-warga-resah-kawasan-industri-modern-cikande-tercemar-paparan-radioaktif-kompas-siang
#udang #cikande #radioaktif
_
Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/621448/as-tolak-udang-ri-yang-tercemar-radioaktif-lampu-kuning-longgarnya-pengawasan-ini-kata-core
Seluruh aktivitas keluar masuk kawasan berada di bawah kontrol satgas dan akan dideteksi melalui Radiation Portal Monitoring atau RPM.
Hal ini dilakukan sambil menunggu pemasangan detektor milik Polri, Bapeten dan BRIN.
Kasus ini terungkap setelah Amerika Serikat menolak hasil ekspor udang asal Indonesia karena dianggap mengandung bahan berbahaya radioaktif.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menyatakan material yang terindikasi terpapar tidak diizinkan keluar sebelum melalui dekontaminasi.
Bila alat indikator mendeteksi cemaran cesium-137, maka akan dilakukan grounding dan dekontaminasi sebelum keluar kawasan.
Saat ini, satgas telah memetakan 10 titik pancaran radiasi dengan intensitas berbeda.
Dua lokasi sudah didekontaminasi, sementara delapan titik lainnya masih dalam tahap inventarisasi detail sebelum penanganan lanjutan.
Masih soal radiasi, sebelumnya Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menyatakan udang beku yang ditolak Amerika Serikat lantaran terkontaminasi material radioaktif cesium-137 masih aman dikonsumsi.
Zulhas bilang, hal ini lantaran kandungan radioaktif yang ada dalam udang yang dikirim PT BMS berada di bawah ambang baku yang ditetapkan pemerintah Indonesia, yakni 500.
Indonesia lagi-lagi diuji oleh hambatan non-tarif setelah Amerika Serikat menolak udang yang terkontaminasi radioaktif.
Bagaimana tata kelola industri modern, benarkah ini alarm atau lampu kuning longgarnya pengawasan?
Kompas Bisnis membahasnya bersama Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform in Economics alias CORE.
Baca Juga Bikin Warga Resah! Kawasan Industri Modern Cikande Tercemar Paparan Radioaktif | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/621143/bikin-warga-resah-kawasan-industri-modern-cikande-tercemar-paparan-radioaktif-kompas-siang
#udang #cikande #radioaktif
_
Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/621448/as-tolak-udang-ri-yang-tercemar-radioaktif-lampu-kuning-longgarnya-pengawasan-ini-kata-core
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Anda menghasilkan Kompas Bisnis, masih bersama saya Breman Atenaya Saudara.
00:04Satgas Penanganan Cesium 137 memperketat pengendalian kawasan industri modern Cikande,
00:10Kabupaten Serang, Banten, dengan status kejadian khusus cemaran radiasi.
00:14Saat ini tim Satgas masih melakukan langkah dekontaminasi di titik-titik paparan radiasi.
00:21Tim Satgas Cesium 137 memutuskan kawasan industri modern Cikande
00:26berstatus kejadian khusus cemaran radiasi.
00:28Seluruh aktivitas keluar masuk di kawasan berada di bawah kontrol Satgas
00:33dan akan dideteksi melalui Radiation Portal Monitoring atau RPM.
00:39Hal ini dilakukan sambil menunggu pemasangan detektor milik Polri, Bapeten, dan Merin.
00:45Kasus ini terungkap setelah Amerika Serikat menolak hasil ekspor udang asal Indonesia
00:49karena dianggap mengandung bahan berbahaya radioaktif.
00:58Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisal Norovic,
01:03menyatakan material yang terindikasi terpapar tidak diizinkan keluar sebelum melalui dekontaminasi.
01:10Bila alat indikator mendeteksi cemaran cesium 137,
01:14maka akan dilakukan grounding dan dekontaminasi sebelum keluar kawasan.
01:19Saat ini Satgas telah menetapkan 10 titik pancaran radiasi dengan intensitas berbeda.
01:25Dua lokasi sudah didekontaminasi,
01:28sementara delapan titik lainnya masih dalam tahap inventarisasi detail sebelum penanganan lanjutan.
01:34Statusnya adalah status kejadian khusus cemaran radiasi.
01:43Jadi mulai hari ini semua kegiatan ada di dalam kontrol dari tim Satgas Penanganan Radiasi Cesium 137.
01:55Alat indikator kita itu tersinyalir mengandung cemaran 137 akan dilakukan gegondit kemudian dilapan dikontaminasi.
02:08Masih soal radiasi, sebelumnya Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan,
02:13udang beku yang ditolak Amerika Serikat lantaran terkontaminasi material radioaktif cesium 137 masih aman dikonsumsi.
02:21Zulkifli Hasan bilang hal ini lantaran kandungan radioaktif yang ada di dalam udang yang dikirim PT BMS
02:28berada di bawah ambang baku yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia yakni 500.
02:38Di atas ambang baku, kita juga punya standar 500.
02:44Kalau Amerika itu 1200, kita 500.
02:48500. Nah ternyata yang sudah kembali ada beberapa yang hanya 0.
02:54Berapa?
02:54Minimum.
02:55Minimum.
02:56Minimum kok.
02:5768.
02:5968.
03:00Jadi yang itu jelas silahkan, boleh dimakan.
03:05Nah kita 500 ini 68.
03:07Tapi kalau yang di atas 500, kita musnahkan.
03:09Data Badan Pusat Statistik merekam ekspor non-migas Indonesia ke Amerika Serikat adalah nomor 2 setelah Tiongkok.
03:20Rinciannya pada Agustus 2025 sebesar 2,7 miliar dolar Amerika Serikat.
03:25Ekspor non-migas ke Amerika Serikat mencapai dari awal tahun sampai Agustus mencapai 20,6 miliar dolar Amerika Serikat
03:39atau 11,7 persen dari total keseluruhan ekspor Indonesia di periode Januari hingga Agustus 2025.
03:45Saudara Indonesia lagi-lagi diuji oleh hambatan non-tarif setelah Amerika Serikat menolak udang yang terkontaminasi radioaktif.
03:58Bagaimana tata kelola industri modern?
04:00Benarkah ini alarm atau lampu kuning longkarnya pengawasan?
04:04Kami akan tanyakan langsung kepada Muhammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform in Economics alias KOR.
04:11Selamat pagi Pak Faisal.
04:13Selamat pagi Mas Bermanan.
04:14Ya Pak Faisal, ini udang dari Indonesia ditolak Amerika Serikat.
04:18Apakah ini lagi-lagi menjadi ujian non-tarif bagi Indonesia?
04:23Ya, memang pada dasarnya yang menjadi hambatan kita atau menjadi tantangan kita dalam ekspor itu selain tarif,
04:31juga non-tarif ini justru malah sekarang lebih besar.
04:34Jadi kalau tarif sebetulnya rata-rata kalau negara-negara maju termasuk Amerika itu darah-darah.
04:39Nah tapi non-tarifnya ini banyak sekali.
04:41Amerika itu termasuk yang paling banyak setelah Uni Eropa.
04:44Ya dari sisi hambatan non-tarifnya termasuk hambatan non-tarif dalam bentuk sanitary and phytosanitary
04:52yang banyak berlaku pada produk-produk pertanian dan juga pada saat sekarang ini adalah yang dibahas adalah masalah perikanan.
05:00Nah, ekspor kita sebetulnya kasus seperti sorotan terhadap kualitas,
05:08kandungan bahan yang terlarang atau yang tidak diinginkan,
05:14ya dalam perupil perikanan itu sebetulnya sudah lama.
05:17Jadi ini bukan pertama kali.
05:19Jadi memang artinya memang perlu ada pengawasan dari Hulu sampai juga ke border sebelum diekspor.
05:26Nah ini ada kita berapa kali juga opportunity challenge dengan Uni Eropa, dengan Rusia, selain juga dengan Amerika.
05:34Nah, masalahnya untuk udang, udang ini sebagian besar ekspor kita itu memang ke Amerika.
05:41Jadi 50% ekspor kita itu, itu pasarnya adalah Amerika.
05:46Nah, yang lain-lain itu adalah Jepang, kemudian Cina gitu.
05:49Dan dari Amerika sendiri sebetulnya kalau dilihat dari impor negara-negara yang misalnya impor mereka untuk udang,
05:57itu Indonesia nomor 4 setelah Kanada, Ecuador, dan juga India.
06:01Nah, jadi artinya memang udang ini sangat penting perannya dalam ekspor perikanan kita.
06:07Nah, oleh karena ini salah satu produk yang sangat rentan dari sisi kontaminasi zat-zat yang terlarang,
06:17dan juga dari sisi bukan hanya itu ya, termasuk diantaranya kesegaran, tingkat kesegaran daripada produknya.
06:23Oleh karena itu, makanya pengawasan untuk produk-produk seperti ini memang lebih ketat,
06:27untuk memastikan bahwa kualitasnya bagus, zat-zat yang terlarangnya itu tidak melebihi batas tadi ya,
06:36dan juga dari sisi kesegarannya tadi.
06:40Nah, jadi intinya memang satu pengawasan dari hulu, tempat mulai dari di mana dia ditangkap atau dibudidayakan,
06:49sampai kepada kemudian diborong ketika inspeksi untuk sebelum di ekspor.
06:54Nah, tapi satu lagi yang tidak kalah penting juga adalah diplomasi kita dalam menghadapi negara-negara maju ini.
07:02Karena memang dalam banyak beberapa kasus, tidak murni sebetulnya, ini artinya gini,
07:08maksudnya sangat-sangat bisa diperdebatkan sebetulnya ya tuduhan tersebut.
07:14Tadi disampaikan juga oleh Pak Zulhas, itu bahwa sebetulnya sebagian besar daripada yang kita ekspor itu di bawah standar,
07:21tapi kalau kemudian ada sedikit sebagian kecil misalnya ya, yang menjadi sorotan karena mungkin lebih tinggi,
07:29nah ini tentu saja akan mempengaruhi kepercayaan terhadap yang sebagian besar yang sebetulnya sudah acceptable.
07:35Nah, diplomasi dari sisi pergagangan ini penting untuk memastikan bahwa kita bisa challenge,
07:43kita bisa mendispute ketika ada tuduhan, kalau tuduhannya tidak benar.
07:47Nah, kalau tuduhannya benar ya kita tentu saja harus memperbaiki.
07:51Nah, tapi tidak jarang juga sebetulnya ada tuduhan-tuduhan yang sifatnya subjektif,
07:55dan itu banyak terjadi juga pada ekspor-ekspor di produk-produk perikanan kita.
08:00Nah, dalam beberapa kasus ekspor kita ke Amerika itu seringkali juga diukurnya,
08:04juga bukan lewat kebaratorium dengan kandungan sekian-sekian-sekian,
08:08tapi juga dari misalnya subjektif dari penciuman,
08:11misalnya dari penciuman untuk mengetes ke segara.
08:15Nah, selalu kayak gitu kan jadinya sangat debatable.
08:18Dan itu dibutuhkan tentu saja diplomasi.
08:22Selain berkaca, apa kemudian kualitas yang kita tawarkan,
08:25tapi juga bisa diplomasi.
08:26Oh, enggak terlalu kayak gini kalau kita lihat kualitas kita gitu ya,
08:29ada dua hal di sana, dari dalam dan juga keluar.
08:32Tapi kalau kita pertanyakan lagi, Pak Faisal,
08:35kalau soal hambatan non-tarif ini Indonesia seperti kau sering banget kalah gitu ya,
08:39di makanan soal kualitas, kemudian kalau di komoditas ini soal lingkungan.
08:43Ini sebenarnya pengawasan pemerintah seperti apa,
08:45dan kenapa kemudian ini kerap terjadi, Pak?
08:48Nah, justru itu makanya dari sisi pengawasan kualitas produk-produk ekspor
08:54atau utama yang sangat-sangat penting ini,
08:56karena sekarang trennya kalau kita mau masuk ke negara-negara maju,
09:00apalagi dengan kebijakan Trump sekarang,
09:02nah ini tentu saja hambatan akan mereka naikkan.
09:05Bukan hanya tarif, tarif kita risiko kalanya saja 19%.
09:08Tapi jangan lupa non-tarif itu juga dimainkan oleh negara-negara maju,
09:13dalam konteks ini Amerika, tapi juga di negara-negara yang lain,
09:16terutama Eropa, Eropa itu paling banyak itu non-tarifnya.
09:20Dalam proses seperti ini, makanya ke pengawasan kualitas ya,
09:25untuk mengalahkan hambatan yang non-tarif tadi itu menjadi sangat penting.
09:30Penguatan ada di sisi kualitas ini tentu saja ada institusi-institusi yang terlibat ya,
09:37termasuk lembaga-lembaga survei ya,
09:39yang men-survei atau mengecek kualitas standar daripada barang-barang ekspor kita,
09:45baik itu produk-produk perikanan maupun produk-produk manufaktur misalnya begitu,
09:49ini menjadi sangat penting karena TMS-nya banyak sekali.
09:53Kalau kita hanya fokus kepada tarif ya,
09:56pada tarif dengan Amerika juga tarif,
09:58dengan Uni Eropa, jangan lupa kita bukan hanya,
10:00masalahnya sekarang bukan hanya dengan deals,
10:03dengan tarif resiprokal Trump,
10:05tapi kita juga ada beberapa kerangka kerjasama yang lain,
10:08dan yang sekarang di depan mata juga adalah Indonesia, EU, SEPA.
10:15Jadi kita tahu kalau kita ingin mendorong juga ekspor kita ke Uni Eropa,
10:20masalahnya bukan hanya ditarik,
10:22non-tarif jauh lebih banyak.
10:23Nah pertanyaannya bagaimana kemudian dari kesepakatan deal kita,
10:28misalnya dalam EU, SEPA lagi dengan Uni Eropa,
10:31hal ini di address.
10:32Nah tentu saja akan lebih susah kalau kita mengharapkan mereka menurunkan standarnya,
10:37karena standarnya memang tinggi sekali.
10:39Nah salah satu jalan yang harus dilakukan adalah kita bernego untuk misalnya kerjasama dalam hal asistensi atau investasi
10:49yang membantu para eksportir kita agar bisa mencapai standar yang mereka miliki.
10:55Nah itu adalah bagian daripada deal, itu pada saat nego gitu.
10:59Selebihnya tadi adalah perbaikan juga dari sisi dulu sampai ke border,
11:05ya untuk kita melibatkan lembaga-lembaga supaya mengawasi produk-produk eksport kita ini,
11:10supaya betul-betul kualitasnya itu lebih terjamin.
11:14Oke, deal-dealan tidak hanya soal tarif, tapi juga tadi.
11:17Kalau misalnya kalian butuh yang bagus, kenapa nggak di asistensi,
11:19biar kita juga bisa mengekspor yang bagus.
11:21Tapi kemudian apakah kemudian respon pemerintah dengan kemarin kejadian soal udang ini sudah tepat atau belum
11:26dengan menetapkan status kejadian khusus, kemudian dekontaminasi, apakah sudah cukup?
11:31Kita akan bahas setelah ini Pak Faisal, tetap bersama kami saudara di Kompas Bisnis.
11:38Masih bersama kami di Kompas Bisnis saudara dan masih bergabung bersama kami juga,
11:42Direktur Eksekutif Kor, Muhammad Faisal.
11:44Pak Faisal, kita lanjutkan kembali tadi soal respon pemerintah untuk kasus ini,
11:49udang yang tercemar radioaktif.
11:51Ini kalau misalnya kita lihat di dalam negeri sudah ada tuh soal penetapan kejadian khusus,
11:54kemudian ada dekontaminasi juga.
11:56Tapi kalau untuk respon ke pasar internasional, apakah sudah tepat?
12:00Atau seperti apa Anda menilainya?
12:03Satu aspek yang penting, yang pertama menurut saya adalah dari sisi kecepatan.
12:08Jadi kecepatan dalam respon dan keseriusan.
12:11Kecepatan ini menunjukkan keseriusan daripada Indonesia untuk mengadres masalah atau isu yang dirays oleh negara importer.
12:21Nah jadi artinya memang harus segera di tracking oleh pemerintah value chain-nya dari hulu sampai kemudian ke border.
12:30Mulai dari produsernya sampai rantai distribusinya sampai kemudian ke pelabuhan.
12:34Nah itu dan kemudian disampaikan kepada negara yang mengimpornya bahwa kondisinya seperti ini.
12:40Kalau memang sebetulnya di bawah standar, kita bisa berdebat atau bisa kita sampaikan bahwa ini sebetulnya di bawah standar kandungannya yang acceptable.
12:50Jadi artinya masih bisa dikerima.
12:53Nah tapi kalau kemudian memang ada kasus beberapa kontainer, misalnya tidak semua kontainer ya.
12:57Ada beberapa kasus yang di atas ambang batas, nah ini kan berarti harus segera direspon untuk kemudian diperbaiki.
13:05Itu dari produsernya, distribusinya sampai ke pelabuhan, ini kira-kira permasalahannya di mana.
13:14Tapi kemungkinan biasanya lebih besar di produsernya.
13:17Nah hal seperti ini dari sisi kecepatan itu sangat penting untuk kemudian merespon apa yang dirays oleh negara importer.
13:24Dan yang kedua tentu saja adalah keteransparansi dan kesatuan keseragaman dari sisi prosedur.
13:32Ini yang seringkali juga dibutuhkan.
13:35Kalau kita ingat yang dirays oleh pemerintahan Trump dalam deal kita dengan USTR kemarin pada televisi prokal itu,
13:43yang mereka bersolat dalam NTM kita itu adalah satu, transparansi dari sisi prosedur.
13:50Yang kedua dari sisi biaya, jadi kesatuan keseragaman ini harus penting, jangan beda-beda satu dengan yang lain.
13:59Nah oleh karena itu makanya dalam hal pengawasan juga perlu menggunakan pihak-pihak yang lebih bisa dikontrol oleh pemerintah dari sisi kualitasnya.
14:09Contoh misalnya kalau dari pengetesan daripada produk kan ada lembaga-lembaga survei dan ini lembaga-lembaga BUMN.
14:17Misalnya itu lebih mudah untuk dikontrol oleh pemerintah untuk memastikan tadi keseragaman dari sisi prosedur dan juga biaya.
14:26Di samping tadi ya yang saya sampaikan di awal itu masalah kecepatan dari respons kita.
14:30Oke.
14:31Respons yang cepat diperlukan gitu ya dan juga perbaikan tentunya dengan pengawasan seperti itu.
14:35Kemudian Pak Faisal terkait dengan sekarang yang radioaktif sudah mencemari makanan, ada cengkeh di sana, ada udang di sana.
14:42Lingkungan juga tidak luput dari pencemaran radioaktif.
14:46Kemudian bagaimana nih dengan tata kelola industri modern kita?
14:50Apakah sudah mulai lampu kuning nih karena negara lain selain Amerika Serikat juga udah mulai menyoroti soal kualitas udang kita?
14:55Ya, saya pikir industri kita terutama industri yang berorientasi ekspor harus memang segera melakukan kecepatan
15:06melihat kondisi daripada global yang sudah lebih ketat ya pengawasan tapi standarnya
15:15dan juga lebih kritis terhadap produk-produk bukan hanya dari sisi tingkat kesegaran
15:21tapi juga kandungan bahan pencemar termasuk juga misalnya dalam hal kesehatan lingkungan.
15:28Dan ini banyak hal sebetulnya aspek yang disorot biasanya termasuk misalnya traceability
15:35atau ketelusuran pada barang yang diekspor itu sampai ke hulunya.
15:40Nah ini artinya membutuhkan adaptasi dari pandai industri terutama yang berorientasi ekspor
15:45untuk mengikuti standar ini secara lebih cepat gitu
15:49karena kebutuhannya di luar itu meningkat dan daya sahib kita dalam kasus ini
15:55bukan hanya lagi dari sisi harga tentu saja
15:57tapi dari sisi sejauh mana produk-produk kita bisa memenuhi standar yang diinginkan oleh negara-negara importer
16:05yang banyak diantaranya adalah negara-negara maju seperti Amerika dan Amerika Opa.
16:10Oke, baik. Jadi memang lagi-lagi sekali lagi Pak Faisal kita harus soroti kasus ini bersama-sama gitu ya
16:17respons pemerintah harus cepat lagi-lagi pengawasan dari hulu sampai keberbatasan juga harus kita perketat
16:22supaya lagi-lagi jangan sampai implikasinya ke dalam negeri dan juga bagaimana ekspor komunitas kita ke luar negeri.
16:30Terima kasih Pak Muhammad Faisal, Direktur Eksekutif Kursus
16:32yang bergabung bersama kami di Kompas Bisnis. Selamat pagi.
16:36Selamat pagi.
16:36Selamat pagi.
Jadilah yang pertama berkomentar