Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, Pertamina dan swasta sudah menyepakati empat poin kesepakatan untuk mengatasi kelangkaan stok BBM di SPBU swasta. Salah satu yang disepakati adalah persetujuan swasta membeli BBM Pertamina yang belum bercampur atau best fuel.

Setelah hampir sebulan mengalami kekosongan stok BBM, akhirnya pihak swasta sepakat membeli BBM dari Pertamina. Apakah kesepakatan ini jadi solusi ampuh?

Kita bahas bersama Ketua Komisi XII DPR Fraksi Golkar, Bambang Patijaya dan juga Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda.

Baca Juga Bahlil Ungkap 4 Poin Kesepakatan Pertamina dan SPBU Swasta untuk Atasi Kelangkaan Stok BBM di https://www.kompas.tv/nasional/618446/bahlil-ungkap-4-poin-kesepakatan-pertamina-dan-spbu-swasta-untuk-atasi-kelangkaan-stok-bbm

#bahlil #bbm #spbuswasta #menteriesdm

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/618496/kelangkaan-bbm-di-spbu-swasta-teratasi-dengan-beli-ke-pertamina-begini-kekhawatiran-ekonom-celios

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Setelah hampir sebulan alami kekosongan stok BBM sodara, akhirnya pihak swasta sepakat membeli BBM dari Pertamina.
00:09Apakah kesepakatan ini jadi solusi ampu?
00:12Kita bahas bersama dengan sejumlah narasumbil yang telah bergabung bersama kami di Kompas Petang.
00:16Saya Sapa, ada Ketua Komisi 12 DPR, Fraksi Gulokar, ada Mas Bambang Patijaya, dan juga ada Direktur Ekonomi Digital Selyus, Mas Nailul Huda.
00:25Selamat petang semuanya.
00:26Selamat petang semuanya.
00:56Ya, kita memang banyak berharap ada banyak solusi ya, Mas.
01:01Solusi yang ditawarkan oleh pemerintah ini menjadi solusi yang bisa menghadirkan kembali BBM di PPU swasta.
01:11Meskipun kita melihat akar masalahnya ini belum terselesaikan.
01:16Apa itu?
01:17Akar masalahnya adalah memang peraturan yang ini sebenarnya tumpang tinggi antara operator dan regulator sebenarnya.
01:26Pemerintah ini kan mengatur lewat teman SDM-nya sebagai regulator dan juga Pertamina, perwakilan pemerintah juga sebagai operator.
01:35Sering kita sampaikan bahwa ketika ada pemain yang tidak berfungsi sebagai regulator, ini bisa mempercayai pasar sebagainya.
01:44Nah, maka ini walaupun persoalan-persoalan tambahnya itu belum terpenuhi, tapi kita patut memberikan apresiasi.
01:56Jadi, ini bisa diselesaikan dengan cara adanya kekuatan, pastikan bahwa swasta ini bisa mendapatkan BBM dari Pertamina Best Value atau BBM yang belum dicampur.
02:12Artinya, dari sisi kualitas kita bisa berharap dari swasta ini memberikan kualitas yang sama seperti mereka mengimpor langsung dari luar.
02:22Oke, jadi secara jangka pendek ini masih oke lah ya untuk kebijakan ini, tapi akar masalahnya belum teratasi begitu.
02:29Saya ingin ke Pak Bambang. Pak Bambang sepakat sebenarnya ini masih bisa dikatakan sebagai solusi jangka pendek gitu, solusi sementara-sementara akar masalahnya.
02:37Ini ada tumpang tindih seperti yang tadi disampaikan oleh Mas Nailul Huda ini belum teraksasi ataupun belum terlaksana.
02:45Ya, ada benar dan ada yang mungkin perlu dikoreksi.
02:48Yang pertama, terkait dengan apakah ini solusi untuk jangka pendek, saya pikir demikian.
02:54Karena bagaimanapun juga, pemerintah ini kan ingin melakukan pengendalian terhadap impor BBM.
03:01Impor BBM tetap harus bisa dikendalikan.
03:05Nah, jadi sebetulnya terkait dengan kuota impor yang dipergunakan oleh SPBU swasta untuk mensuplai BBM di SPBU mereka masing-masing,
03:15ini kan berdasarkan pengusulan mereka sendiri.
03:18Yang kemudian oleh pemerintah diberikan kebijakan, mereka boleh menambah 10%.
03:24Tetapi mungkin saya melihat SPBU swasta ini keasikan kemarin itu dengan situasi yang mungkin lagi dihadapi oleh Pertamina beberapa bulan yang lalu.
03:35Sehingga mereka tidak melakukan pengaturan yang baik terhadap di dalam bagaimana penjualan BBM mereka sendiri.
03:45Maaf, Pak Pak Pak, saya potong.
03:46Keasikan ini dalam arti banyak pembeli akhirnya stok yang dalam harusnya satu tahun semuanya dijual, begitu?
03:53Atau seperti apa?
03:53Itu situasinya.
03:56Oke.
03:56Jadi mereka ini kan harusnya mengatur kuota dalam setahun itu diatur sampai Desember.
04:01Apalagi sudah ditambah 10%.
04:03Tetapi kemudian kemarin itu kan mungkin, ya ini kan persoalan B2B sebetulnya.
04:09Bisnis to bisnis.
04:10Nah, sehingga situasinya seperti ini.
04:13Nah, jadi kalau kemudian tadi Mas Melhuda mengatakan ada tumpang tinggi, sebetulnya case ini bukan pada case Pertamina.
04:21Case ini adalah pada SPBU swasta yang ada beberapa merek itu, yang mereka melakukan penjualan BBM-nya itu dengan tidak melakukan schedule yang sebagaimana mestinya.
04:36Sehingga kemudian harusnya stok sampai akhir tahun, ya dari yang ada itu habis sekarang gitu loh.
04:41Nah, sekarang kita ini kan tidak pengen serta-merta gara-gara itu lalu menaikkan kuota bagi mereka.
04:48Saya pikir pemerintah sudah cukup bijaksana untuk memberikan solusi.
04:51Ada dua hal kan, yang pertama sudah ditambah 10%, dan yang kedua adalah shortcut-nya adalah bagaimana kolaborasi.
05:00Jadi yang dipasok kolaborasi dengan Pertamina itu adalah base fuel, bukan base value ya, base fuel.
05:07Base fuel itu artinya kira-kira oktan dasar.
05:11Jadi kalau misalkan oktannya 92 yang diambil dari Pertamina itu oktan dasar murni.
05:18Nah, nanti lalu kemudian disesuaikan dengan aditif pada merek-merek mereka.
05:26Misal, saya sebut merek ya, saya sebut merek.
05:28Misal, sel itu kan ada turbo.
05:30Nah, nanti ditambah aditif yang sesuai untuk turbonya, seperti apa.
05:33Sehingga memang betul, ketika barang ini dijual kembali kepada tenan-tenan mereka di SPBU mereka,
05:40itu sesuai dengan spesifikasi dan memang itu produknya produk mereka.
05:44Berarti sederhananya kolaborasi ini ya.
05:46Jadi diberikan bahan dasarnya nanti dicampur oleh dapur masing-masing SPBU baru dijual begitu ya.
05:52Pertanyaannya begini, Mas Marno.
05:53Pertanyaan begini, saya tambahkan sedikit begini.
05:57Total share daripada BBM dari pihak swasta, itu terhadap barang non-subsidi itu adalah 6%.
06:08Dulu sebelumnya 4-5%, cuma karena kemarin terjadi khusus, sekarang sudah 6%.
06:15Jadi saya pikir ini juga hanya terjadi pada kota-kota besar saja, karena SPBU mereka kan hanya di kota-kota besar.
06:21Baik. Oke, pertanyaan selanjutnya, Pak Bambang, kenapa akhirnya solusi itu yang diberikan?
06:27Kenapa tidak pemerintah fleksibel soal kuota impor swasta, agar mereka bisa, hal itu juga tentu bisa memicu persaingan sehat begitu ya.
06:35Tapi jangan jauh-jauh dulu ya, kita akan lanjutkan perbincangan kita, usai jeda, tetaplah bersama kami di Kompas Petang.
06:42Ya sebelum kami lanjutkan perbincangan kami dengan Mas Bambang juga Mas Nailu,
06:46saya ajak Anda juga saudara untuk mendengarkan kembali pernyataan dari Menteri SDM,
06:50Mbak Lila Hadalia yang menyemakati 4 poin untuk kesepakatan dengan SPBU swasta.
06:55Salah satunya adalah soal bagaimana mengatur kerjasama antara SPBU swasta dan juga Pertamina.
07:01Saratnya adalah harus berbasis best fuel ya, artinya belum dicampur-campur.
07:15Jadi barangnya itu ibarat bikin teh.
07:18Tadi dirjen saya menjelaskan, kalau yang awalnya itu Pertamina mau jual sudah jadi teh.
07:25Tapi sekarang mereka bilang jangan teh katanya, air panas aja.
07:29Jadi produknya saja nanti dicampur di masing-masing, tanki di SPBU masing-masing.
07:36Dan ini juga sudah disetujui, ini solusi.
07:41Yang kedua adalah agar tidak ada dusta di antara kita menyingkut dengan kualitas,
07:46juga kita sepakati untuk melakukan dengan joint surveyor.
07:50Jadi barang belum berangkat, ada surveyor yang sama-sama disetujui di sana untuk dilakukan.
07:57Yang ketiga juga menyingkut dengan harga.
08:00Kita pingin, pemerintah pingin, sekalipun Pertamina yang diberikan tugas,
08:08tetapi kita juga pingin harus fair.
08:10Nggak boleh ada yang dirugikan.
08:15Kita pingin swasta maupun Pertamina harus sama-sama cengli.
08:18Harus semua terbuka.
08:21Dan sudah disetujui juga terjadi open book.
08:24Dan ini teman-teman dari swasta juga sudah setuju.
08:28Dan kalau ditanya mulai kapan ini berjalan,
08:33mulai hari ini sudah dibicarakan,
08:35nanti habis ini lanjutkan dengan rapat teknis,
08:38stoknya, dan kemudian insya Allah paling lambat,
08:417 hari barang sudah bisa masuk di Indonesia.
08:46Saya pikir itu yang perlu saya sampaikan sekali lagi,
08:51bahwa stok cadangan BBM itu 80 sampai dengan 21 hari, clear.
08:57Cuman memang, eh, 18 sampai 21 hari, sorry.
09:0318 hari sampai 21 hari.
09:05Itu cadangan nggak ada masalah.
09:07Jadi nggak perlu ada rasa keraguan apa-apa.
09:09Cuman memang ada di teman-teman kita punya SPBU swasta
09:12yang cadangannya menipis.
09:15Itu tadi empat solusi kerjasama yang disampaikan
09:19terkait dengan stok BBM yang kosong di SPBU swasta.
09:22Masih bergabung bersama saya, Pak Bambang,
09:24juga dengan Mas Nailul.
09:26Pak Bambang, tadi pertanyaan gantung saya di segmen selanjutnya.
09:29Ini pertanyaan awam ya.
09:30Beli BBM di Pertamina ini apakah jadi satu-satunya solusi bagi swasta?
09:34Kenapa tidak pemerintah fleksibel aja begitu soal kuota impor swasta
09:38agar bisa memicu persaingan yang sehat?
09:43Ya, sebetulnya kan begini.
09:45Pemerintah ini kan juga merasa perlu mengatur, ya kan,
09:52supply daripada impor.
09:55Nah, jadi merek-merek dari SPBU swasta,
10:00ini kan merupakan barang-barang yang memang dari luar semua.
10:03Nah, kita ini kan berdasarkan asla cita presiden yang kedua,
10:07ini kan salah satunya adalah bagaimana mewujudkan kemandirian energi.
10:11Nah, salah satu kemandirian energi itu kan bagaimana impor BBM juga terkendali.
10:16Nah, jadi saya pikir dari situasi yang ada,
10:20pemerintah ini sebetulnya sudah melakukan suatu pembinaan
10:24dengan komunikasi dua arah.
10:26Pertama, untuk masalah kuota sendiri,
10:28itu kan diusulkan oleh SPBU swasta itu sendiri.
10:32kemudian disetujui dan dimasukkan dalam neraca komoditas bensin.
10:39Dan itu tercatat secara resmi.
10:41Nah, sehingga kemudian kebijakan yang kedua adalah diberikan
10:46tambahan 10% untuk mengantisipasi.
10:52Nah, ternyata kedua-duanya juga habis nih.
10:56Nah, sekarang caranya kan dengan kolaborasi,
10:59artinya dengan melakukan kolaborasi dengan pertamina,
11:05oktan murni atau yang menjadi base fuel
11:09daripada bensin itu dengan berbagai jenis oktan,
11:15itu bisa didapatkan.
11:17Kemudian mereka blending dengan zat aditif
11:21yang memang dimiliki oleh masing-masing produk itu
11:24dengan kekhususannya.
11:26Sehingga produknya memang tetap produk itulah.
11:28Tetap menjaga kualitas produk masing-masing SPBU begitu,
11:31masing-masing brand begitu ya?
11:32Jangan, dengan masing-masing produk atas produk masing-masing.
11:37Oke.
11:37SPBU masing-masing.
11:38Saya ke Mas Nelul.
11:39Mas Nelul, kalau kita dengar tadi yang disampaikan oleh Pak Bahlil,
11:43itu selain beli BBM Pertamina swasta,
11:46dan juga Pertamina juga sepakat.
11:48Pertama ada joint surveyor,
11:50kemudian untuk menjaga kualitas BBM tersebut.
11:52Terus kemudian ada sepakat juga soal open book,
11:54soal harga.
11:55Nah, apakah dengan poin-poin kesepakatan ini,
11:58pertanyaannya mampu membuat investor ini nyaman?
12:02Iya, yang dulu seperti ini,
12:05kita berpatokannya adalah bukan dari sisi bisnisnya.
12:10Oke.
12:10Bukan dari sisi bisnis.
12:12Dari kata-kata swasta,
12:13tapi adalah masyarakat.
12:15Serah seperti apa sih?
12:16Masyarakat ini yang berasa dirugikan gak sih dengan praktek seperti ini?
12:21Kalau berasa dirugikan, artinya ada yang salah.
12:23Bahannya kalau tadi Pak Bahlil menyampaikan ada kuota dan sebagainya,
12:28ini yang selalu kita sampaikan,
12:30praktek di-import baik kuota,
12:32itu memang menjadikan lebih ada mungkin jual lebih kuota dan sebagainya.
12:37Atau bahkan praktek yang seperti ini,
12:39bahwa di sini ketika ada kuotanya ini habis dan sebagainya,
12:43ini terpaksa tidak berjualan dan sebagainya.
12:46Makanya,
12:46ini yang kita lihat adalah,
12:49siapa sih yang menerima kerugian?
12:50Itu yang pertama.
12:51Nah, yang kedua adalah,
12:53kalau kita lihat dari sisi,
12:54tadi sebenarnya sudah diselesaikan juga soal harga itu dari sisi open book dan sebagainya,
12:58tapi saya ingin sampaikan bahwa disinilah sebenarnya persaingan usaha yang saya tahu itu harus dilakukan.
13:06Pertanggungan dengan segala keistimewaan,
13:11bahwa dia BUMN,
13:14kemudian impor tertunggal dan sebagainya,
13:17kemudian,
13:18sorry,
13:19impor tertunggal ya,
13:20tapi bisa mengimpor dengan tunggal yang cukup besar dibandingkan dengan yang lain,
13:25ini yang saya rasa sebenarnya tidak fair terhadap SPPU,
13:29SPPU,
13:30selama pasta dan sebagainya.
13:31Nah, makanya,
13:32ini kalau saya lihat sebenarnya dari sisi masyarakat,
13:35dari sisi persaingan usaha,
13:37itu juga harus dilihat dari praktek-praktek,
13:39misalkan ada tadi kuota dan sebagainya.
13:41Saya sebenarnya kuota setuju dan sebagainya,
13:44tapi asalkan memang ini dari sisi Pertamina,
13:46ini juga meningkatkan pelayanannya dan sebagainya, gitu kan.
13:49Karena kita tidak ini juga,
13:53masyarakat juga berhasilnya ketika ada kasus-kasus yang menyakut di Pertamina, gitu kan.
13:57Nah, makanya, ini yang kita lihat harusnya memberikan kesempatan yang lebih bagi swasta
14:02untuk bisa lebih bersaing.
14:04Oke, lebih bersaing secara sehat,
14:05pastinya ini yang kita nantikan,
14:07bagaimana implementasi terrealisasinya kesepakatan-kesepakatan
14:10antara Pertamina dan juga pihak swasta ya.
14:12Terima kasih, Ketua Komisi 12 DPR,
14:14Fraksi Golkar, Pak Bambang Patijaya,
14:16dan juga ada Direktur Ekonomi Digital Selius,
14:18Pak Nailul Huda, telah bergabung bersama kami di Kompas Petang.
14:21Salam sehat semuanya.
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan