00:00Saudara bagaimana sebenarnya bisnis BBM oleh swasta, apakah mereka punya margin dari impor BBM juga?
00:07Apakah pasyarakat memang berpindah ke swasta karena trust issue?
00:11Kompas bisnis akan tanya ke ekonom energi Universitas Gajah Mada, Fahmi Radi.
00:15Selamat pagi Pak Fahmi.
00:20Kami juga ingin disclaimer dulu saudara karena kami juga sudah menghubungi pihak kementerian ESDM
00:26untuk bergabung dalam dialog pagi hari ini dan juga tetapi belum ada konfirmasi lebih lanjut.
00:31Kami coba menghubungi ke Pak Fahmi kembali. Pak Fahmi selamat pagi.
00:36Pagi Pak Fahmi, kurangnya rasa percaya warga atas kasus kemarin.
00:42Ini juga ada yang bilang kualitasnya BBM swasta ini lebih bagus, di motor lebih irit.
00:46Ini adalah suara konsumen BBM swasta yang kompas TV wawancara.
00:49Jadi di samping stok BBM bensin swasta yang kosong, kami tangkap ini sepertinya ada trust issue
00:55terhadap SPBU yang stoknya tidak kosong.
00:58Benarkah rasa kurang percaya ini Pak Fahmi membuat BBM swasta ini lebih dicari?
01:04Ya jadi SPBU swasta itu kan hanya beberapa jumlahnya itu ya.
01:12Dan dikepung oleh SPBU Pertamina itu ya dalam jumlah yang lebih besar.
01:18Nah untuk bisa menarik konsumen ini ya, maka yang dilakukan oleh SPBU asing atau swasta tadi adalah
01:30menjaga kualitas dari produknya, dari bensinnya ya.
01:41Dan juga yang kedua adalah mempertahankan services itu ya.
01:47Nah dengan dua strategi itu, maka sesungguhnya banyak juga konsumen yang tertarik dan kemudian berpindah ke SPBU asing.
01:56Apalagi peristiwa sebelumnya pada saat kasus dari Patra Niaga itu ya,
02:04dimana ada isu bahwa Pertamina itu menjual pertamak rasa pertalak gitu ya.
02:12Itu jumlah yang pindah ke SPBU swasta itu jumlahnya cukup besar dan kemudian dia menjadi loyal customer tadi.
02:21Nah kalau kemudian SPBU swasta itu kehabisan stok,
02:27maka konsumen itu menunggu-nunggu gitu.
02:31Untuk kembali ke Pertamina parangkali betul juga kurang percaya diri juga gitu ya.
02:37Karena kualitasnya parangkali menurut mereka lebih rendah gitu ya.
02:42Dan kadang-kadang harganya lebih tinggi juga.
02:45Itu Okta.
02:45Oke artinya dengan harga yang bersaing, masyarakat juga banyak yang menjadi loyal customer karena tadi lebih ke kualitas dan juga soal bagaimana pelayanan.
02:54Kemudian juga tadi bisa dikatakan ada trust issue di sana.
02:57Pak Fahmi, kuota impor BBM swasta ini kan ditambah sampai bahkan 110 persen.
03:03Lalu kenapa bisa tetap langka saat ini?
03:06Saya kira permasalahnya bukan ditambah atau tidak gitu ya.
03:10Tambah 10 persen atau tidak gitu ya.
03:12Tetapi sesungguhnya karena ada aturan dari Kementerian SDM yang mengubah periodisasi gitu ya waktu impor tadi.
03:26Kalau sebelumnya SPBU swasta itu diberi waktu satu tahun untuk mengimpor BBM tadi gitu ya.
03:37Nah kemudian ada aturan mengubah menjadi enam bulan.
03:40Nah perubahan jadi enam bulan ini, tiga bulan dievaluasi, kemudian mengajukan lagi izin.
03:48Kita tahu bahwa proses perizinan di Indonesia ini sangat lambat gitu ya.
03:55Nah sehingga ini take time gitu.
03:57Sehingga mengurangi tadi, mengurangi BBM yang ada di SPBU swasta gitu ya.
04:09Bahkan dengan pengubahan tadi dari satu tahun menjadi enam bulan.
04:13Saya mengatakan itu sesungguhnya pemangkasan kuota.
04:19Sehingga menjadi lebih kecil dan karena penjualannya cukup lancar gitu ya.
04:26Maka dalam waktu singkat itu sudah langka dan untuk itu dia harus mengajukan izin lagi.
04:33Dan butuh waktu gitu ya.
04:36Itu yang menyebabkan gitu ya kelangkaan sampai sekarang tidak ada solusinya.
04:41Bahkan kalau benar ditambah kuota 10% itu juga bukan solusinya.
04:46Solusinya kembalikan periode waktu impornya kembali dalam satu tahun.
04:53Sehingga ada keleluasaan gitu ya bagi SPBU swasta untuk mengadakan BBM tadi.
05:02Apalagi yang dilakukan oleh SPBU swasta.
05:06Itu kan dia dari beberapa sumber gitu ya.
05:10Dia menyusun semacam portfolio untuk mendapatkan harga BBM yang paling murah gitu ya.
05:18Termasuk misalnya sel.
05:20Ya dia pasti akan beli dari atau sebagian beli dari sumurnya sel kan.
05:26Kalau kemudian dipaksa harus membeli dari Pertamina.
05:31Nah ini saya kira akan sangat merugikan.
05:34Tidak hanya langka tetapi juga potensi harganya lebih mahal gitu.
05:40Oke jadi memang tadi ada dugaan pemangkasan kuota kemudian juga birokrasi yang berbelit.
05:46Ini yang tentu bisa menyulitkan pihak BBM swasta.
05:48Nah Pak Fahmi tapi sebetulnya swasta itu dapat margin keuntungan gak sih dari impor?
05:53Kalau iya apakah margin mereka ini bisa terganggu kalau belinya jadi tadi ke Pertamina?
05:58Nah tadi saya katakan gitu ya margin di SPBU itu kan termasuk yang kecil gitu ya.
06:07Termasuk yang kecil.
06:08Maka yang dilakukan oleh SPBU swasta khususnya.
06:12Pertama melakukan efisiensi.
06:14Nah kemudian yang kedua adalah melakukan portofolio.
06:19Jadi pengadaan BBM tadi tidak hanya di satu sumber gitu ya.
06:26Tapi dia menggunakan portofolio dari beberapa sumber.
06:32Bisa dari Singapura, dari negara-negara Arab.
06:35Atau juga dari sumurnya saya sendiri.
06:38Nah dengan portofolio semacam itu.
06:43Maka dia akan memperoleh harga pokok impor.
06:48Harga pokok impornya itu bisa lebih murah.
06:52Nah disitulah kemudian dia akan memperoleh tambahan margin gitu ya.
06:58Kalau margin dari penjualan itu sekali lagi itu kecil gitu ya.
07:05Oleh karena itu harus ditopang dari strategi untuk pengadaan, strategi untuk logistik, strategi untuk transportasi, strategi untuk portofolio.
07:16Itu dilakukan dengan baik oleh SPBU swasta gitu ya.
07:20Nah kalau kemudian anda aturan memaksa mereka membeli dari Pertamina.
07:26Saya jamin harganya pasti lebih mahal.
07:29Nah kalau harganya lebih mahal, maka operation cost-nya SPBU swasta nanti lama-lama akan meningkat dan ada kemungkinan dia akan rugi gitu ya.
07:43Nah kalau sudah rugi, maka langkah berikutnya ya dia akan hengkang dari Indonesia.
07:48Nah ini nanti akan berpengaruh gitu ya terhadap iklim investasi Indonesia jadi tidak kondusif gitu ya.
07:57Dan ini akan mempengaruhi tidak hanya di bisnis migas, tapi juga bisnis yang lain.
08:04Dan akhirnya ini akan mempengaruhi juga target pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan berapa persen.
08:10Masa Bali ini, yang jadi menteri siapa gitu loh.
08:15Itu nggak kok, Pak.
08:16Oke, Pak Fahmi begini, tadi kalau dikatakan misalnya kalau dari 1 tahun jadi 6 bulan, ini kan nggak ideal gitu bisa dikatakan demikian.
08:22Akhirnya bisa berdampak pada bagaimana stok BBM swasta di pasar.
08:26Lantas proses pengajuan izin sampai bisa BBM-nya datang itu sebetulnya idealnya berarti berapa lama, Pak Fahmi?
08:33Nah, tapi saya katakan dalam 6 bulan, itu kan 3 bulan di evaluasi.
08:38Ini kan take time gitu ya, mungkin butuh 1 bulan gitu ya.
08:41Kemudian proses pengizin persinan tidak hanya di satu tempat gitu ya.
08:47Itu perlu rekomendasi juga misalnya dari SKK Migas, rekomendasi dari Kementerian SDM,
08:56dan keputusan impor itu kan ada di Kementerian Perdagangan gitu ya, berdasarkan rekomendasi tadi.
09:04Nah, ini butuh waktu gitu ya.
09:07Jadi bisa dihitung 3 bulan, ditambah 2 bulan, 6 bulan sendiri untuk prosesnya gitu ya.
09:15Nah, ini memperlambat tadi, memperlambat pengadaan tadi.
09:19Sementara, stok yang ada di SPB itu sudah semakin menurun, proses pengajuan izin lagi berjalan.
09:29Nah, itu baru izin gitu ya.
09:31Maka menurut saya, solusinya adalah kembalikan gitu ya.
09:36Kembalikan priorisasi pengadaan impor bagi SPB swasta, kembali menjadi satu tahun.
09:44Itu yang paling ideal, dan selama ini kan hampir tidak pernah terjadi kelangkaan di SPB swasta,
09:52karena apa? Karena satu tahun berada waktunya.
09:55Begitu 6 bulan, langsung langka.
09:58Maka tadi saya katakan, ini sesungguhnya pemangkasan hampir 50% gitu ya BBM-nya terhadap SPB swasta gitu, Okta.
10:09Oke, berarti bagaimana soal tata kelola migas.
10:13Pak Fahmi, nanti kita lanjutkan kembali soal tata kelola migas ini.
10:16Usah jadah dan saudara tetap bersama kami di Kompas Bisnis.
10:20Kita akan lanjutkan perbincangan bersama dengan Ekonomi Energi Universitas Gajah Mada, Fahmi Radi.
10:24Pak Fahmi, kita lanjutkan kembali tadi soal bagaimana tata kelola migas.
10:28Ini artinya ada indikasi nggak Pak?
10:29Pemerintah nih kayaknya mau ngubah tata kelola migas di sektor hilir.
10:32Ya, dari keterangan Bahlil, dia mengatakan bahwa ini perbaikan tata kelola gitu ya, tanpa ada penjelasan lebih lanjut.
10:44Dan tampaknya kebijakan memotong priorisasi tadi, itu juga tidak ada penjelasan yang jelas gitu ya.
10:51Apa sisi tujuannya dan apa dampaknya gitu ya.
10:55Kemudian untuk impor satu harga, juga demikian dia yang mengatakan bahwa ini perbaikan tata kelola gitu ya.
11:04Dan tapi di waktu yang sama, Bahlil juga menyebutkan gitu ya, bahwa dengan menyebut pasal 33 yang menyebut bahwa
11:16produk yang menguasai aset hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara gitu ya.
11:22Nah, itu saya kira bisa ditafsirkan gitu ya.
11:26Untuk misalnya untuk Pertamina, atau semua harus beli dari Pertamina satu pintu, ini sudah bentuk monopoli saya kira gitu ya.
11:36Itu nggak dijelaskan, atau bahkan disangkal oleh Bahlil.
11:40Tapi itu jelas sudah monopoli kan, monopoli dan pengadaan tadi.
11:45Nah, yang kedua, kalau nanti SPB swasta rugi dan akhirnya meninggalkan Indonesia, maka ini lagi-lagi monopoli.
11:56Dan yang ketiga, saya perkirakan kenapa harus satu pintu dan seluruh SPB swasta harus membeli melalui Pertamina.
12:04Ini adalah kaitannya dengan pembelian migas dari Amerika Serikat untuk memenuhi target gitu ya.
12:16Jadi, beberapa waktu yang lalu kan kita dapat 19% dari Donald Trump,
12:21tapi syaratnya harus membeli sejumlah barang, terutama disitu adalah migas gitu ya.
12:28Nah, kalau yang impor itu hanya Pertamina, itu tidak cukup.
12:34Nah, kemudian saya perkirakan, SPB swasta dalam tanda petik dipaksa gitu ya untuk membeli agar apa?
12:42Agar memenuhi jumlah yang disaratkan oleh Donald Trump itu.
12:49Dan ini nggak pernah disampaikan juga, oleh kalau itu benar gitu ya.
12:53Analisi saya mengatakan itu, nah mestinya setiap perbaikan tata kelola,
13:01setiap suatu kebijakan yang punya dampak terhadap bisnis dan terhadap konsumen,
13:08harusnya ada penjelasan yang transparan, tujuannya apa, targetnya apa,
13:14tapi itu tidak dilakukan itu, Bang.
13:16Oke, Pak Fahmi, jadi dalam konteks bisnis,
13:20ini gimana iklim investasi bisa dilihat misalnya dengan para investor dari luar negeri,
13:26melihat bagaimana kelangkaan BBM swasta ini,
13:28kemudian juga bagaimana iklim investasi juga di sini, karena adanya kasus ini?
13:34Jadi dulu gitu ya, dulu kan satu-satunya memang Pertamina,
13:39dan saat itu oke lah gitu ya,
13:43sama juga dengan PLN.
13:48Sampai sekarang PLN masih memonopoli,
13:51segera itu juga ada dasar hukumnya gitu ya.
13:54Nah, bedanya di Pertamina itu,
13:58kemudian mengubah tata kelola,
14:01menjadi liberalisasi tadi,
14:04khususnya untuk BBM non-subsidi gitu ya.
14:07Artinya, swasta itu boleh masuk di SPBU untuk menjual non-subsidi tadi,
14:17dan pengadaannya,
14:20kemudian juga penetapan harganya,
14:23sepenuhnya secara bebas,
14:25tetap diserahkan kepada SPBU swasta itu.
14:30Nah, ini ada suatu kondisi yang bebas gitu ya,
14:35liberal tadi.
14:36Kalau tiba-tiba diubah menjadi regulated gitu ya,
14:42regulated membelinya harus dari Pertamina,
14:46bahkan nanti harganya harus didikti.
14:48Nah, ini saya kira bagi SPBU swasta itu
14:53sungguh kondisi yang tidak baik gitu ya.
14:57Saya kira mereka nanti akan
14:59protes untuk itu gitu ya.
15:04Atau kalau tidak, ya dia akan keluar dari Indonesia.
15:07Nah, kalau kemudian keluar dari Indonesia,
15:09ini akan menimbulkan image yang tidak baik gitu ya.
15:13Image yang baik dan itu akan mempengaruhi
15:17atau memperburuk gitu ya iklim investasi yang di Indonesia.
15:21Mereka akan mencadat untuk peraturan yang demikian penting kan dengan mudahnya diubah gitu ya.
15:29Nah, sehingga ini tidak menarik investasi di Indonesia tadi,
15:34tidak hanya di sektor gas gitu ya, migas.
15:37Tapi karena image yang terbentuk tadi,
15:40maka iklim investasi di sektor bisnis yang lain,
15:44itu juga akan terpengaruh.
15:46Sehingga investasi yang diharapkan masuk ke Indonesia,
15:51ini akan terganggu gitu ya, akan terhambat.
15:54Padahal investasi ini dibutuhkan untuk menopang gitu ya,
15:58pertumbuhan ekonomi.
15:59Nah, kalau iklim investasi itu memburu,
16:04maka pencapaian pertumbuhan ekonomi 8%
16:08seperti ditargetkan oleh Prabowo itu mustahil untuk bisa dicapai.
16:14Nah, Pak Fahmi itu kan kalau secara investasi,
16:16nah ini bisa memicu bijelok sosial tidak Pak Fahmi? Singkat saja.
16:20Nah, saya kira sekarang aja gitu ya,
16:23loyal customer-nya,
16:25apa, sebuah-sebuah swasta,
16:27itu akan menunggu-nunggu dan sangat kecewa gitu ya.
16:30Kalau kemudian itu terjadi serentak di seluruh Indonesia,
16:34maka ini akan,
16:36saya juga khawatir menurunkan gejolak sosial
16:39yang itu juga tidak baik gitu ya,
16:43bagi stabilitas ekonomi dan politik di Indonesia gitu.
16:47Maka sebelum itu terjadi,
16:50maka saya berharap Bahlil itu sadar gitu ya.
16:53Kemudian untuk mengembalikan,
16:55yang pertama mengembalikan periodisasi untuk
16:59SBB swasta itu satu tahun dalam pengadaan,
17:02kemudian yang kedua,
17:04batalkan kebijakan
17:06impor BBM satu pintu.
17:10Itu, Pak.
17:11Oke, berarti tambah kuota impor ini bukan solusi,
17:14tentu tata kelola juga harus diperhatikan bagaimana catatannya,
17:17tadi soal bagaimana kebelanjutan investasi,
17:19serapan tenaga kerja juga pasti akan berpengaruh,
17:20kemudian juga gejolak sosial,
17:21dan juga pemerintah juga harus memperhatikan bagaimana persaingan yang sehat
17:25antara BBM punyanya swasta dengan punya pemerintah.
17:27Terima kasih.
17:28Satu lagi.
17:30Ya, Pak izin sudah terbatas dengan durasi, Pak Fahmi.
17:33Kami mohon izin.
17:34Terima kasih.
17:35Pak Fahmi Radi, ekonomi energi Universitas Gajah Mada,
17:37sudah bersama di Kompas Besi.
17:38Sehat selalu, Pak Fahmi.
17:39Terima kasih, Pak Fahmi.
17:41Selamat siang.
Komentar