00:00Intro
00:00Sebenarnya penjapan online nyatanya tidak hanya digunakan oleh para orang tua
00:19untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka di jintang sekolah
00:24Tetapi juga ternyata digunakan oleh sekelilingir orang tua
00:28untuk membiayai pendidikan khususnya di tingkat kuliah
00:32Saya akan bertemu sedangkan dengan seorang ibu yang bekerja di kawasan Jakarta Selatan
00:39yang meminjam uang senilai kurang lebih puluhan juta rupiah untuk membiayai kuliah anaknya
00:47dan harus gali lubang tutup lubang dari sejumlah aplikasi demi kemudian menutupi pinjamannya
00:54Saya akan menelusuri secara langsung sedang
00:58Ibu, terima kasih sudah berkenan saya wawancara
01:07Tapi sebelumnya saudara saya tekankan bahwa saya akan merahasiakan identitas narasumber
01:12demi keamanan dan juga kenyamanan narasumber yang akan saya wawancarai
01:16Ibu, saya ingin konfirmasi dulu pertama
01:19Betul ibu menggunakan pinjaman online untuk membiayai pendidikan anak ibu?
01:25Iya betul
01:26Sudah pinjam online dari tahun berapa?
01:30Tahun 2001
01:34Tahun 2001
01:352021?
01:36Iya, terus 2002 saya gagal bayar
01:392022 gagal bayar?
01:42Iya
01:42Nominal pinjamannya berapa?
01:44Itu satu aplikasi mungkin bisa 9 juta
01:49Kalau ditotal semua aplikasi, 5 aplikasi atau 6 aplikasi itu mungkin semua sudah totalnya 40 juta
01:5740 juta?
01:59Untuk jurusan apa?
02:00Perhotelan
02:01Perhotelan, oke
02:02Apa alasan ibu pada akhirnya menggunakan plastong pinjol?
02:06Karena saya single mom, jadi harus berjuang sendiri
02:11Jadi salah satunya saya pinjaman online gitu
02:18Itu saya pikir akan menyelesaikan masalah gitu
02:20Tapi malah gali lubang tutup lubang gitu
02:23Sebelumnya ibu bekerja sebagai asisten rumah tangga?
02:28Iya
02:28Saya boleh tahu penghasilan sebulan mungkin kisaran berapa?
02:325 jutaan lah gitu
02:335 jutaan?
02:34Iya
02:34Dan itu tidak cukup untuk membiayai pendidikan anak itu?
02:37Tidak cukup
02:38Namanya kebutuhan kadang-kadang nggak cukup gitu
02:42Ditambah dengan gaji segitu
02:44Kita kan perlunya tidak hanya untuk sekolah juga kan
02:48Jadi anak saya itu harus bayar kos
02:50Harus kebutuhan makan dia
02:52Terus bayar kuliah
02:55Ini-ini itu harus beli buku ini, beli baju ini gitu
03:00Untuk keperluan kuliah anak saya itu
03:03Jadinya saya itu ya gali lubang tutup lubang lah gitu lah mas
03:09Setelah gagal bayar bu
03:10Artinya kan sudah berjalan mungkin sekitar 3 tahun ya bu
03:14Iya
03:15Kekurangan yang harus ibu bayarkan sebenarnya berapa?
03:18Salah satu pinjal itu mungkin kalau sama bunganya itu
03:22Waktu itu saya total itu hampir 19 juta
03:25Oh masih ada 19 juta lagi ya?
03:2619 juta
03:27Terus itu di salah satu
03:29Terus yang satunya lagi itu waktu itu saya total juga 19 juta berapa gitu
03:34Kalau yang satunya lagi sekali ijem itu nggak saya bayar
03:40Terus satunya lagi kurang satu aja saya nggak mampu bayar gitu
03:45Ini terakhir saya bayar ini
03:51Ini terakhir bayar di tahun?
03:53Tahun kemarin ya mas
03:55Tahun kemarin
03:56Iya
03:56Karena saya pikir ada rezeki sedikit saya cicil gitu biar nggak terlalu terbebani gitu
04:02Tapi anak ibu yang saat ini kuliah di perhotelan masih kuliah bu?
04:06Enggak sih katanya mau nerusin cuman kan mamanya sudah nggak punya duit gitu
04:12Sudah tidak melanjutkan kuliah?
04:14Iya sudah berhenti kuliah
04:17Selama kurang lebih 3 tahun ibu gagal bayar
04:22Sampai saat ini masih ditagih Pak Arni
04:24Salah satu plafon itu ada yang whatsapp ke saya itu pakai bahasa yang binatang gitu loh
04:31Ada juga dengan cara berbeda?
04:33Nah habis itu saya diteror-teror terus sampai saya nggak bisa tidur
04:36Mau pinjam siapa untuk ngelunasin hutang-hutang gitu
04:40Iya waktu itu putus asa sampai saya malu stres
04:46Itu betul-betul menekan saya gitu
04:49Menyerang kejiwaan ibu?
04:51Iya kalau ada uang saya akan bayar gitu
04:53Akhirnya saya setiap malam nggak bisa tidur karena mikirin teror-teror terus
04:58Diterpon terus gitu loh mas
05:00Jadi saya itu apa ganti nomor aja gitu
05:04Habis ganti nomor saudara-saudara saya gantian yang diteror-teror gitu
05:08Terus terang aja saya kan pinjam juga buat anak sekolah pendidikan sekolah bukan untuk poya-poya
05:15Saya bilang gitu
05:16Saya jujur aja ke keluarga saya gitu
05:18Tapi ke depan mungkin bu ada rencana atau mungkin sebatas keinginan
05:24Ibu untuk ngelunasi pinjaman yang sudah ibu pinjaman
05:28Iya nanti saya punya uang saya ingin ngelunasin gitu mas
05:31Saya tahu tuh hukumnya hutang itu harus dibayar gitu
05:35Nomor itu masih saya simpan dan masih saya isi pulsa terus gitu
05:39Jadinya biar aktif gitu
05:40Apa yang ingin ibu sampaikan mungkin kepada pemerintah ataupun pemangku kepentingan terkait dengan biaya pendidikan yang nominalnya ini tidak kecil?
05:51Ya untuk pemerintah sih kalau bisa dibantu ya digratisin untuk pendidikan anak-anak yang tidak mampu gitu loh mas
06:02Biar yang merasakan pendidikan itu bukan hanya orang yang berduit aja gitu loh
06:08Tapi orang-orang yang seperti saya anak-anak saya pengen sekolah tinggi gitu loh
06:13Terpaksa ibunya harus pinjol gitu
06:16Ternyata nggak bisa bayar galbek gitu
06:19Rasanya itu sesek gitu loh mas
06:21Pada tahun 2024 BPS mencatat angka partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia sebesar 39,37% untuk penduduk usia 17 hingga 24 tahun
06:34Angka ini masih rendah dibanding dengan sejumlah negara tetangga
06:38Indonesia tertinggal dari Malaysia yang miliki persentase 43%
06:43Thailand 49%
06:45Bahkan Singapura mencapai 91%
06:48Biaya studi pendidikan tinggi di masa depan diperkirakan akan naik 6,03% per tahun
06:53Untuk pergeruan tinggi negeri pertumbuhannya sekitar 1,3% per tahun
06:57Sementara untuk pergeruan tinggi swasta mencapai 6,96% per tahun
07:02Kondisi ini tentu tak bisa diimbangi dengan kenaikan upah orang tua yang setiap tahunnya tak selalu terjadi
07:09Hal ini berakibat banyaknya anak yang tak bisa menuntaskan kuliahnya akibat biaya kuliah yang kian naik setiap tahunnya
07:16Saudara di sebelah saya sudah ada Ketua Umum AFP
07:21AFP sekaligus CEO dan Rupiah dengan Bapak Encik S. Jafar
07:25Pak Encik, apa kabar Pak?
07:26Baik
07:26Pak Encik, saya ingin tanyakan pantauan AFP Pak
07:30Ketika melihat periode pertengahan tahun ini
07:33Apakah memang siklus pinjaman online ini sedang mengalami peningkatan atau sepertinya Pak?
07:38Ya betul, mengalami peningkatan
07:41Seperti biasanya saya rasa hampir semua lembaga keuangan merasakan hal yang sama
07:48Dimana adanya tahun ajaran baru
07:51Sehingga kebutuhan pendanaan oleh masyarakat tentunya meningkat
07:56Pinjaman online di pertengahan tahun ini ada indikasi kuat
08:00Meningkat karena tahun ajaran baru, artinya pembiayaan sekolah
08:04Tapi di sisi lain kita tahu juga bahwa sebenarnya
08:06Katakanlah untuk SD Negeri Pak
08:08Tentunya biaya sudah gratis
08:10Tapi ternyata ada juga orang tua murid yang kemudian melakukan pinjaman online
08:14Untuk biaya seragam, kebutuhan lain dan lain sebagainya Pak
08:17Apakah bisa dikatakan juga bahwa ini juga terindikasi karena faktor ekonomi masyarakat yang
08:22Mungkin AFP melihat sedang tidak baik-baik saja atau seperti apa?
08:27Sebenarnya sih bukan begitu ya
08:29Kebutuhan itu pasti ada
08:31Walaupun mungkin SD sekarang gratis
08:34Ataupun biayanya kecil
08:36Tetapi biaya-biaya lain tetap dibutuhkan
08:39Seperti umpamanya untuk beli buku seragam dan sebagainya
08:47Karena apa?
08:47Karena market kita memang adalah unbanked
08:50Market yang kecil
08:52Yang maksudnya masyarakat yang kecil ya
08:56Yang butuh mungkin hanya 2 juta sampai 4 juta
09:01Nah ini yang menyebabkan kebutuhan masyarakat itu meningkat dan menghubungi layanan kami
09:12Mungkin itu
09:12Oke, AFP sendiri melihat masyarakat kita apakah sudah cukup terliterasi untuk kemudian melakukan pinjaman online ke pinjol ataupun platform yang legal
09:21Atau ternyata masih banyak juga yang pinjam ke aplikasi ilegal?
09:25Kami bukan pinjol
09:28Itu yang pertama
09:29Kami adalah pinjaman dari pinjaman dari pinjaman dari pinjaman itu adalah yang ilegal
09:34Besaran daripada pinjaman ini dari dulu ini lebih besar daripada kami yang berizin dari OJK
09:42Sementara saat ini kita ada di 80 triliun koma 2 sekitar itu
09:49Mereka itu di angka di 250 triliun
09:52Jadi 2,5 kali lipat sampai 3 kali lipat
09:57Peminat dan penggunanya lebih banyak
10:00Karena apa?
10:02Karena mereka itu lebih agresif
10:04Dan mereka lebih gampang lebih mudah sepanjang dia bisa dapatkan dia mencuri data pribadi, data konteks dan sebagainya itu dia langsung ngasih
10:19Sebenarnya untuk resikonya seperti apa pak ketika masyarakat menggunakan pinjol?
10:23Yang paling menjerat masyarakat jadi menderita itu adalah bunga dan dendanya
10:31Bunga dan dendanya
10:31Dia bisa pinjam 5 juta tapi bayarnya bisa 30 juta
10:36Oke
10:37Iya kan dengan bunga-berbunga, denda-berdenda
10:39Sementara kita kan diatur
10:42Kalau pinjam 1 juta itu tidak akan mungkin bayar di atas 2 juta
10:47Oke
10:48Gak mungkin
10:49Jadi paling banyak adalah 100% maksimum dari platformnya
10:54Dan kita setelah 90 hari itu aturannya
11:00Setelah menunggak 90 hari maka denda, bunga dan sebagainya itu di-stop
11:05Sejauh ini Pak Ancik, dari platform yang kemudian tergabung di akhbi sendiri jumlahnya berapa pak?
11:16Saat ini adalah 96
11:18Dari 96 ini ada beberapa yang khusus membiayai pendidikan
11:25Ada yang khusus membiayai pendidikan?
11:27Betul, pendidikan itu berupa bisa uang kuliah, bisa juga untuk beli laptop, bisa juga untuk beli peralatan kuliah
11:42Yang penting adalah semua berhubungan dengan pendidikan
11:45Tapi apakah itu bisa digunakan pinjamannya untuk misalnya sekolah dasar atau menengah Pak? Apakah memang khusus untuk kuliah saja?
11:51Jadi mereka bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan universitas-universitas
11:55Oke
11:56Hanya untuk memastikan bahwa benar tujuan daripada pinjaman ini digunakan untuk pendidikan
12:04Oke
12:05Atau Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia atau AKPIS
12:09Pari DUS CEO Dana Rupiah Pak Encik S. Jafar terima kasih
12:12Terima kasih
12:15Untuk pinjaman online sendiri, khususnya dari tahun 2023 ya Pak ya
12:19Apakah memang terus mengalami peningkatan Pak?
12:21Di posisi terakhir sekarang itu sekitar 80 triliun
12:25Terima kasih
12:31Terima kasih
12:33Terima kasih
Komentar