00:00 [Musik]
00:04 Sejak kecil, Amira Saqed jatuh hati pada hip-hop,
00:08 gerakan budaya yang lahir di The Bronx, New York.
00:11 Kini, ia berprofesi sebagai penari, koreografer, dan pengajar tari hip-hop.
00:18 Ia bertekad patahkan stereotipe bahwa perempuan Muslim terkekang, pasif, bahkan ekstremis.
00:27 Saya sangat sedih dengan cara perempuan Muslim terkata di media,
00:34 tapi saya tidak melihat kita diwakili.
00:37 Namanya dikenal lewat koreografi grup, "We are Muslim, don't panic".
00:42 Saya memiliki orang dari latar belakang kepercayaan yang berbeda,
00:46 mereka benar-benar muncul dan mulai berbincang tentang kepercayaan,
00:51 dengan cara yang bisa kita hubungi.
00:53 Di festival hip-hop tahunan WORDS, Beats & Life di Washington, D.C.,
00:57 Amira tampil dan mengajar kelas yang pesertanya berasal dari beragam latar belakang.
01:03 Tidak terlalu sering, saya tidak tahu apakah saya melihat lebih dari yang saya bisa kira.
01:09 Jadi, bagus untuk melihat karena ini benar-benar membawa kebanyakan masyarakat.
01:16 Kita harus membuang stereotipe yang mereka berada di dalam kotak
01:21 dan mereka harus melakukan sesuatu dengan cara tertentu.
01:23 Mereka memiliki hidup mereka sendiri, mereka memiliki tujuan dan kebutuhan dan kebutuhan mereka sendiri.
01:27 Amira sadar, tantangan yang ia hadapi,
01:30 tak sekedar sentimen publik terhadap agamanya,
01:33 tapi juga perdebatan di komunitasnya.
01:35 Saya merasa terlalu berdampak untuk berjuang di sini di AS,
01:42 melawan semua stereotipe ini,
01:44 dan kemudian pergi ke negara Muslim di mana saya juga sedikit kontroversi,
01:48 tapi untuk dianggap, untuk dianggap oleh komunitas itu.
01:52 Tantangan serupa dialami Fiera Salasyana Monika,
01:56 penari dan pengajar tari hip-hop di Indonesia.
01:59 Tantangannya sudut pandang keluarga dan orang sekitar aku,
02:03 yang mereka sebenarnya tidak mengerti apa profesiku,
02:08 pekerjaanku dalam menari ini kok berhijab.
02:12 Lewat media sosial, ia unjuk keahliannya.
02:16 Ada yang memuji, tapi tak jarang yang mencibir.
02:19 Sempat berkecil hati, kini Fiera bangkit kembali.
02:23 Mau ngetik bagaimanapun, mau ngecibirin komentar apapun,
02:27 ya mereka punya hak.
02:28 Aku ya terima kritik sarannya mereka, aku dengerin.
02:32 Tapi bukan berarti aku yang kayak ya bodo amat,
02:35 yang aku maksud ga terlalu mikirin ya,
02:38 karena aku hanya fokus untuk mengembangkan diri aku.
02:41 Upayanya berbuah manis.
02:43 Ia memenangkan sejumlah kejuaraan,
02:46 dan ikut serta diajang tari internasional.
02:49 Baginya, hip-hop adalah sarana berekspresi,
02:52 bereksplorasi, dan berbagi ilmu.
02:55 Dari hip-hop, aku bisa memberikan manfaat untuk orang lain,
02:59 bisa memberi ilmu yang berguna untuk murid-muridku,
03:03 yang buktinya murid-muridku yang sebelumnya,
03:05 mereka tidak percaya diri,
03:07 tapi di hip-hop di kelasku mereka belajar.
03:10 Yang namanya ayo percaya diri.
03:12 Terlepas dari atribut dan identitasnya,
03:15 Amirah dan Fiera ingin agar perempuan
03:17 bisa mengekspresikan diri lewat cara masing-masing.
03:21 Dari Washington DC dan Jakarta,
03:23 Bani Rahayu, Ahadian Utama, VOA.
03:27 [MUSIK]
Comments