Skip to playerSkip to main content
  • 3 years ago
SEJARAH PECEL
Dalam buku Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Ki Gede Pamanahan beristirahat di Dusun Taji saat melakukan perjalanan ke Tanah Mataram. Di dusun tersebut, Ki Ageng Karang Lo menyiapkan jamuan untuk Ki Gede Pamanahan, yakni nasi pecel, daging ayam, dan sayur menir (bayam).
Setelah selesai menyantap, Ki Gede Pamahanan berkata, “Terima kasih Ki Sanak, hidangannya enak sekali. Saya sungguh berhutang budi pada Ki Sanak. Semoga kelak saya dapat membalasnya”.

Ketika ditanya hidangan yang disajikan itu apa, Ki Ageng Karang Lo menjawab, “Puniko ron ingkang dipun pecel”. Artinya adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya. Sejak saat itu, sajian tersebut dikenal dengan nama pecel.

PECELSUDAH ADA SEJAK ABAD KE-9
Pecel diprediksi sudah ada sejak abad ke-9. Di beberapa daerah, khususnya Madiun, pecel mempunya ciri khas yakni adanya kembang turi. Pecel yang terkenal sederhana dan murah meriah ini.

Pecel disebutkan dalam Kakawin Ramayana yang ditulis pada abad ke-9 era Mataram Kuno atau Mataram Hindu. Pada saat itu berada dibawah raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-930 M).

Pecel juga tertulis dalam Prasasti Siman dari Kediri yang ditulis tahun 943 M. Dalam prasasti itu disebutkan makanan yang terbuat dari sayuran daun yang direbus dan diolah secara khusus dengan bumbu rempah.

ADA DALAM SERAT CENTHINI
Diawali dengan cerita kedatangan Syekh Wali Lanang dari Tanah Arab ke Tanah Jawa yang kemudian menurunkan Sunan Giri. Singkat cerita, Sunan Giri Prapen memiliki tiga putra yakni, Jayengresmi, Jayengsari, dan Niken Rancangkapti.
Perjalanan Raden Jayengresmi disertai kedua santrinya Gathak dan Gathuk mengembara melewati Surabaya, Kediri, Bojonegoro, Rembang, Pekalongan, Purwodadi, Semarang, Cirebon, Karawang hingga Bogor.

Sesampainya di Dukuh Argapura, Raden Jayengsari dan adiknya memikirkan dan membayangkan makanan yang ingin mereka makan, yaitu sekul pulen, panggang pudhak, jangan menir, pecel dhere, dhendheng menjangan gepuk, lalap seledri, kue koci, carabikang, mendut, dan timus.
Sedangkan, abdinya yang bernama Buras membayangkan sekul gaga blenyik putih, pecel iso myang semanggi, dan dhendheng pendul maesa. Saat itu, pecel menjadi salah satu hidangan yang disajikan untuk Jayengsari.

Di Serat Centhini juga disebutkan hidangan yang berbahan buah atau sayur yang kemudian berkembang menjadi hidangan pecel saat ini. Selain itu, pecel juga disajikan sebagai menu jamuan bagi para rombongan kerajaan.

Jangan lupa untuk Follow, Like, dan Share ya...

Happy DAILYMOTION

Category

🏖
Travel
Comments

Recommended