Skip to playerSkip to main content
  • 3 weeks ago
A prominent young professional residing in Jakarta is abruptly recalled to his ancestral North Sumatra homeland by his patriarch to campaign for public office, where his political ambitions intersect with a transformative romantic awakening centered on the Batak customs he long neglected.
Transcript
00:00Intro
00:02Ho
00:04Jamilah
00:06Jamilah
00:08Kalian kan sudah kukasih list lagu yang gak boleh dinyanyikan.
00:11Kubikin gak laku, Ben, kalian.
00:14Udah 3 tahun kalian berusaha main, Ben.
00:17Gak ada hasilnya.
00:18Kenapa kau? Aku disuruh jadi caleg, Bang.
00:21Is, ngapain?
00:23Dapat uang satu M.
00:27Tapi malu loh, Bang. Kalo aku tiba-tiba maju jadi caleg.
00:30Kau minta aja dapil yang jauh.
00:32Bapak oke kau maju di dapil dua sumut.
00:34Tapi dengan satu syarat. Kau harus pulang kampung.
00:40Dan buru itu minta aku ngajari Daniel.
00:43Pokoknya bikin dia paham dan cinta sama batas.
00:46Gak usah, Bang. Olah.
00:48Lumayan kadang honor aku. Bisa aku pakai buat nyicil hutang.
00:51Mau kau gigit tangan.
00:54Aku ini paribanmu.
00:56Pariban itu adalah sepupu yang bisa dinikahi.
00:59Uli, ayo ke ladak. Aku ikut ya, Pung.
01:01Gak dengar aku.
01:17Mulai suka kau sama aku ya.
01:20Meskipun kalian pariban, jangan kau taruh perasaan sama dia.
01:27Aku capek, Mak, menurut terus. Aku kuliah hukum pun karena dipaksa Bapak.
01:32Perjanjian awal akan terus berlaku. Jangan harapkan bisa berubah.
01:37Jaaf.
01:41Duan Bando, duan bando, duan bandoale ga multi-talpom.
01:49Duan Bando, Duan Bando, Duan Bando
01:54Malikapitamo

Recommended