Skip to playerSkip to main content
  • 49 minutes ago
Sumirah, the wife of a pedicab driver, is pressured by the local landlord Den Bei Hardjo to marry him with the promise of wealth. She rejects the offer. Den Bei Hardjo threatens to evict her family for failing to pay their rent. Sumirah’s beauty becomes a curse; in addition to suffering from poverty and tuberculosis, her husband, Amat, leaves her out of jealousy. Only her son, Ali, remains by her side.
Transcript
00:00Mira, itu baju merah yang kamu pakai itu cocok sama badanmu.
00:06Kamu pakai baju merah ini untuk memikat hati dia, kan?
00:09Habis aku pakai baju apa? Ini yang aku punya!
00:12Bohong!
00:13Bapak lo amat kan?
00:14Mereka manusia yang sering cecok.
00:17Mak, itu gak salah.
00:20Tuhan mahat tahu, Li.
00:25Mak, kamu udah tua, ya, Li?
00:27Li, Ari, anak saya mah masih kecil. Coba kamu pikir mana yang harusnya lebih penting dijaga?
00:32Orang lain barangkali terharu mendengar ceritamu.
00:36Tapi saya datang ke sini bukan untuk bersedih.
00:39Jangan-jangan kamu ada main ya sama perubahan itu, ya.
00:43Apakah aku harus membenci dan memaki-maki dia?
00:45Aku gak mau tinggal satu rumah dengan perempuan hina!
00:51Gua gak percaya sebelum ada bukti.
00:53Di zaman sosmed sekarang ini banyak berita bohong.
00:57Wah!
00:58Suh, wah!
00:59Mata kepala aku ngeliat sendiri.
01:01Itu bohong amat.
01:04Itu fitnah, gak bener itu.
01:05Udah, ayo pulang ya!
01:06Kita hanya bisa berlawan
01:12dan mengatukan raham kuat-kuat.
01:16Perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata.
01:22Saya minta kau pikirkan kami
01:26Pikiranku sudah penuh mancing
01:28Kamu ingin mikirin kalian?
01:30Pokoknya ya sampai kamu macam-macam
01:32Ketauan selingkuh aku ceraiin kamu keluar dari rumah ini
01:35Ya
01:49Bunga semerah darah
01:55Yang hanya tumbuh oleh air mata
02:03Bunga semerah darah
Comments

Recommended