Skip to playerSkip to main content
  • 2 days ago
seorang mahasiswi yang hidup bersama ibunya setelah ayahnya meninggal secara misterius beberapa tahun sebelumnya. Alya adalah sosok rasional yang percaya pada logika, tetapi hidupnya mulai terganggu ketika kejadian-kejadian aneh mulai menghampirinya. Ia sering mendengar bisikan, mimpi buruk, dan melihat sosok-sosok samar yang tidak bisa dijelaskan oleh sains.

Ketakutan Alya memuncak ketika ia menemukan sebuah buku tua milik almarhum ayahnya—sebuah kitab lusuh yang menampilkan tulisan Arab kuno tentang Sijjin dan Illiyyin, dua tempat pencatatan amal dalam ajaran spiritual. Sijjin digambarkan sebagai tempat catatan amal buruk, sementara Illiyyin adalah tempat catatan amal baik. Ayahnya tampaknya sedang meneliti fenomena spiritual tersebut sebelum meninggal secara tidak wajar.

Alya yang awalnya tidak percaya, mulai merasakan konsekuensi dari membuka kitab itu. Kehidupannya berubah drastis. Setiap kesalahan kecil yang ia lakukan terasa seperti memiliki akibat langsung di dunia nyata. Ia melihat bayangan hitam ketika sedang marah, mendengar suara-suara ketika ia melakukan hal buruk, dan merasakan keberadaan tak kasatmata di rumahnya. Ini bukan sekadar gangguan mistis—tapi seolah-olah Sijjin merespons tindakannya.

Di sisi lain, ketika Alya berbuat kebaikan, ia merasakan kedamaian, cahaya, dan momen-momen aneh yang memberi petunjuk bahwa Illiyyin juga hadir dalam hidupnya. Dualitas inilah yang menjadi pusat konflik film: dua kekuatan tak terlihat yang saling berebut catatan hidupnya.

Alya akhirnya berkonsultasi dengan Ustaz Rahim, seorang tokoh agama yang pernah dekat dengan ayahnya. Melalui penuturannya, Alya mengetahui fakta mengejutkan: ayahnya meninggal karena terlalu dalam mempelajari kitab tersebut, membuka akses spiritual yang seharusnya tidak disentuh oleh manusia biasa. Ustaz Rahim memperingatkannya bahwa gangguan yang ia alami bisa menjadi lebih berbahaya jika ia tidak menutup kembali “pintu” yang telah terbuka.

Konflik semakin memuncak ketika Alya mulai kehilangan kendali atas dirinya. Ia mengalami halusinasi, melihat bayangan hitam yang menyerupai manusia, dan mendengar suara-suara yang memaksanya melakukan hal buruk. Semakin ia panik, semakin kuat “gangguan” itu terasa. Film ini menampilkan teror psikologis yang kuat tanpa menunjukkan hal vulgar atau sensitif, memberi ruang bagi imajinasi penonton untuk merasakan ketakutan itu sendiri.

Category

📺
TV
Comments

Recommended