00:00Halo semuanya, hari ini kita akan coba beda bareng istilah yang lagi sering banget kita dengar, Cloud Native.
00:05Biar nggak salah kaprah, kita akan pakai buku Cloud Native Architectures sebagai panduan utama kita.
00:10Anggap aja ini semacam tutorial singkat buat ngebantu kita semua paham salah satu konsep paling fundamental di dunia teknologi sekarang.
00:16Oke, ini dia rute perjalanan kita. Kita bakal mulai dari yang paling dasar, yaitu apa sih definisi Cloud Native itu,
00:22terus kita lanjut lihat petanya, pilar-pilarnya, sampai nanti kita intip sedikit masa depannya bakal kayak gimana.
00:27Langsung aja kita mulai ya.
00:28Jadi, apa sebenarnya arti Cloud Native? Jujur aja, istilah ini tuh udah kayak buzzword banget.
00:34Coba deh tanya ke 10 orang, bisa jadi Anda dapat 10 jawaban yang beda-beda.
00:38Semua orang ngomongin, tapi definisinya seringkali kabur.
00:41Nah, menurut buku panduan kita, pada intinya Cloud Native itu adalah sebuah cara pandang baru,
00:46sebuah pergeseran fundamental tentang gimana kita ngebangun dan ngejalanin aplikasi.
00:50Semua ini berdiri di atas 3 fondasi utama, pemanfaatan layanan Cloud, cara kita mendesain aplikasi, dan tentu saja otomatisasi.
00:56Oke, sekarang gimana cara kita tahu udah sejauh mana perjalanan kita menuju Cloud Native?
01:01Nah, buku ini ngasih kita semacam peta, yang mereka sebut model kematangan Cloud Native atau disingkat CNMM.
01:07Anggap aja ini kerangka acuan buat ngukur tingkat kecanggihan sistem kita.
01:10Yang perlu digarisbawahi soal CNMM ini, ini tuh bukan sekedar checklist ya atau tidak.
01:15Ini lebih kayak sebuah spektrum, jadi kita bisa lihat posisi arsitektur kita di mana,
01:20dari yang masih tradisional, sampai yang udah bener-bener canggih dan matang dalam memanfaatkan Cloud.
01:25Model CNMM ini dibangun di atas 3 pilar, atau 3 sumbu, yang jadi penentu tingkat kematangan sebuah sistem.
01:32Ketiga pilar inilah yang jadi inti dari tutorial kita kali ini, yang akan kita bedah satu per satu.
01:37Nah, ini dia 3 sumbu itu.
01:38Pertama, layanan Cloud.
01:40Ini tentang seberapa jauh kita mengadopsi layanan yang disediain vendor cloud,
01:43bukan cuma server virtual biasa, tapi sampai ke layanan AI dan machine learning.
01:47Kedua, desain aplikasi.
01:49Ini soal arsitekturnya.
01:50Apakah masih monolit, satu bongkahan besar, atau sudah dipecah jadi microservices yang lincah.
01:55Dan yang ketiga, otomatisasi.
01:56Sejauh mana kita pakai kode untuk ngatur infrastruktur, dari mulai deployment sampai proses self-healing.
02:01Ngomongin soal pilar desain aplikasi,
02:03buku ini secara khusus menyoroti metodologi yang disebut aplikasi 12 faktor.
02:07Ini tuh semacam resep atau cetak biru yang isinya praktek-praktek terbaik buat ngebangun aplikasi yang tangguh di cloud.
02:13Contohnya, prinsip nomor 3, konfigurasi harus disimpan di environment, bukan di dalam kode.
02:18Atau nomor 11, perlakukan log seperti aliran data, bukan file biasa.
02:22Tapi tunggu dulu, ternyata ini semua bukan cuma soal teknologi.
02:26Poin paling krusialnya justru ada di sini.
02:28Pendekatan cloud native yang sesungguhnya itu menuntuk perubahan cara kerja dan struktur tim.
02:33Percuma teknologinya canggih kalau orang-orangnya masih pakai cara lama.
02:36Para penulis buku ini menekankan sebuah ide yang kuat.
02:39Gampangnya gini, kalau arsitektur sistem Anda dibuat decoupled atau terpisah-pisah jadi komponen-komponen kecil,
02:45maka tim yang mengerjakannya juga harus decoupled.
02:48Timnya juga harus kecil-kecil dan independen.
02:50Nah, inilah esensi sejati dari DevOps.
02:53Amazon punya istilah keren buat ini.
02:55Tim dua pizza.
02:56Maksudnya, timnya itu harus cukup kecil sampai bisa kenyang kalau cuma diteraktir dua loyang pizza.
03:01Tim-tim kecil ini punya otonomi dan kepemilikan penuh atas layanan mereka,
03:05mulai dari nulis kode sampai memastikan layanannya jalan di production.
03:09Karena kecil, mereka jadi gesit, cepat ambil keputusan, dan rasa tanggung jawabnya tinggi.
03:14Oke, teori sudah cukup.
03:15Sekarang kita lihat contoh dari dunia nyata.
03:17Sebuah perusahaan yang bisa dibilang sudah menamatkan perjalanan ke laut native ini.
03:20Siapa lagi kalau bukan Netflix.
03:22Mereka ini studi kasus yang sempurna banget buat kita pelajari.
03:25Perlu diingat, transformasi Netflix ini bukan sulap semalang jadi.
03:29Ini adalah sebuah perjalanan panjang yang mereka mulai dari tahun 2010.
03:33Butuh waktu bertahun-tahun,
03:35di mana mereka secara sadar dan sengaja memindahkan semua infrastruktur mereka ke laut,
03:39bahkan sampai membuat alat-alat canggih sendiri untuk menguji ketahanan sistem mereka.
03:44Jadi, kalau kita lihat pakai kacamata CNM tadi,
03:46Netflix ini jelas berada di level sangat matang di ketiga sumbunya.
03:49Mereka sangat bergantung pada layanan laut canggih,
03:52arsitektur microservices mereka luar biasa kompleks,
03:54dan hampir semuanya berjalan secara otomatis.
03:56Inilah yang bikin mereka bisa melayani jutaan orang di seluruh dunia tanpa henti.
04:01Nah, pertanyaan terakhir, setelah ini, apa lagi?
04:03Perjalanan ini bakal membawa kita ke mana?
04:06Karena seperti yang kita tahu, di dunia teknologi, garis finis itu selalu bergeser.
04:10Selalu ada hal baru yang menanti di depan.
04:12Buku ini ngasih beberapa prediksi menarik.
04:15Salah satunya adalah masa depan dengan abstraksi yang makin tinggi,
04:18di mana AI dan machine learning yang akan mengambil alih banyak tugas operasional.
04:21Konsep ini disebut no ops, singkatan dari no operations.
04:24Bukan berarti tim ops hilang ya,
04:26tapi peran mereka bergeser ke level yang lebih strategis
04:28karena tugas-tugas rutin sudah diotomatisasi oleh sistem cerdas.
04:31Perpindahan dari IT tradisional ke dunia cloud native ini
04:34jelas sebuah pergeseran yang masif.
04:36Butuh lebih dari sekedar teknologi baru,
04:37butuh strategi, budaya,
04:39dan yang paling penting, perubahan pola pikir.
04:41Nah, ini mungkin jadi pertanyaan penutup yang bagus untuk kita renungkan bersama-sama.
Komentar