KOMPAS.TV - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengklaim mengendalikan Selat Hormuz dan berencana mendeklarasikan selat itu sebagai bagian wilayah AS usai menang perang lawan Iran.
Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump saat berbicara di sebuah rapat umum tentang hukum dan ketertiban di Long Island, New York pada Jumat lalu.
Trump menegaskan bahwa blokade AS terhadap Selat Hormuz akan tetap diberlakukan dan menyatakan tidak akan ada kapal lain yang bisa melintas tanpa izin AS.
Sementara, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan kembali tentang pendirian Teheran dengan menyebut kalau AS belum memenuhi syarat Iran, maka kendali lalu lintas Hormuz ada di tangan Iran.
Sementara itu, penasihat IRGC, Mohammad Reza Naqdi klaim Amerika gagal sejak awal dalam upaya menggulingkan pemerintah dan memecah belah Iran.
Ia pun menyebut Trump memiliki perilaku yang kekanak-kanakan karena sikapnya yang sering berubah dan tidak konsisten.
Terakhir, Trump menyatakan pihaknya tidak berencana menggelar pembicaraan dengan Iran. Pernyataan ini berbarengan dengan memanasnya situasi akibat kesepakatan Selat Hormuz antara Iran dan Oman.
Melalui unggahan Truth Social-nya, Trump menyatakan tidak ada pembicaraan atau percakapan yang berlangsung ataupun yang dijadwalkan dengan Republik Islam Iran.
Blokade angkatan laut tetap berlaku dan berkekuatan penuh. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau air telah disingkirkan atau diledakkan.
Isu Selat Hormuz selalu menjadi perdebatan dan perselisihan dalam konflik antara Iran dan AS. Segala upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur perairan strategis itu selalu berujung buntu tanpa hasil yang konkret.
Lalu, apakah kondisi ini akan memperkeruh suasana di Hormuz dan apakah Iran memiliki taktik lain untuk bisa meredakan kondisi saat ini?
Kita bahas bersama Tia Mariatul Kibtiah, Dosen Hubungan Internasional Binus University dan Stanislaus Riyanta, Pengamat Intelijen dan Keamanan Universitas Indonesia.
#trump #iran
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/686494/full-tanggapan-dosen-hi-dan-pengamat-intelijen-soal-trump-klaim-selat-hormuz-masuk-wilayah-as
Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump saat berbicara di sebuah rapat umum tentang hukum dan ketertiban di Long Island, New York pada Jumat lalu.
Trump menegaskan bahwa blokade AS terhadap Selat Hormuz akan tetap diberlakukan dan menyatakan tidak akan ada kapal lain yang bisa melintas tanpa izin AS.
Sementara, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan kembali tentang pendirian Teheran dengan menyebut kalau AS belum memenuhi syarat Iran, maka kendali lalu lintas Hormuz ada di tangan Iran.
Sementara itu, penasihat IRGC, Mohammad Reza Naqdi klaim Amerika gagal sejak awal dalam upaya menggulingkan pemerintah dan memecah belah Iran.
Ia pun menyebut Trump memiliki perilaku yang kekanak-kanakan karena sikapnya yang sering berubah dan tidak konsisten.
Terakhir, Trump menyatakan pihaknya tidak berencana menggelar pembicaraan dengan Iran. Pernyataan ini berbarengan dengan memanasnya situasi akibat kesepakatan Selat Hormuz antara Iran dan Oman.
Melalui unggahan Truth Social-nya, Trump menyatakan tidak ada pembicaraan atau percakapan yang berlangsung ataupun yang dijadwalkan dengan Republik Islam Iran.
Blokade angkatan laut tetap berlaku dan berkekuatan penuh. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau air telah disingkirkan atau diledakkan.
Isu Selat Hormuz selalu menjadi perdebatan dan perselisihan dalam konflik antara Iran dan AS. Segala upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur perairan strategis itu selalu berujung buntu tanpa hasil yang konkret.
Lalu, apakah kondisi ini akan memperkeruh suasana di Hormuz dan apakah Iran memiliki taktik lain untuk bisa meredakan kondisi saat ini?
Kita bahas bersama Tia Mariatul Kibtiah, Dosen Hubungan Internasional Binus University dan Stanislaus Riyanta, Pengamat Intelijen dan Keamanan Universitas Indonesia.
#trump #iran
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/686494/full-tanggapan-dosen-hi-dan-pengamat-intelijen-soal-trump-klaim-selat-hormuz-masuk-wilayah-as
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:03Kembali di Sampai Indonesia malam bersama saya Friska Clarissa.
00:07Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim mengendalikan Selat Hormuz
00:11dan berencana mendeklarasikan Selat itu sebagai bagian wilayah Amerika Serikat
00:16usai menang perang lawan Iran.
00:30Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump saat berbicara di sebuah rapat umum
00:34tentang hukum dan ketertiban di Long Island, New York pada Jumat lalu.
00:40Trump menegaskan bahwa blokade Amerika Serikat terhadap Selat Hormuz akan tetap diberlakukan
00:45dan menyatakan tidak akan ada kapal lain yang bisa melintas tanpa izin Amerika.
01:25Sementara Ketua Parlemen Iran Muhammad Bahir Ghalibov menegaskan kembali
01:29tentang pendirian Teheran dengan menyebut
01:32kalau Amerika Serikat belum memenuhi syarat Iran
01:35maka kendali lalu lintas Hormuz ada di tangan Iran.
02:04Sementara itu penasehat IRCG Muhammad Reza Nagdi mengklaim Amerika gagal sejak awal
02:10dalam upaya menggulingkan pemerintah dan memecah belah Iran.
02:15Ia pun menyebut Donald Trump memiliki perilaku yang kekanakanakan
02:18karena sikapnya yang sering berubah dan tidak konsisten.
02:21Ini adalah hal tersebutuhan yang sangat aman.
02:36Kami harus menangiskan bahwa dalam bahagian telah sepanjang
02:40hingga ke-24 saat sudah selesai,
02:58Terakhir, Presiden Trump menyatakan pihaknya tidak berencana menggelar pembicaraan dengan Iran.
03:03Pernyataan ini berbarengan dengan memanasnya situasi akibat kesepakatan selat hormus antara Iran dan Oman.
03:11Melalui unggahan truth sosialnya, Trump menyatakan tidak ada pembicaraan atau percakapan yang berlangsung ataupun yang dijadwalkan dengan Republik Islam Iran.
03:21Blokade Angkatan Laut tetap berlaku dan berkekuatan penuh.
03:26Selat hormus terbuka dan beroperasi.
03:28Semua ranjau air telah disingkirkan atau deredakan.
03:33Isu selat hormus selalu menjadi perdebatan dan perselisihan dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
03:42Segala upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur perarian strategis itu selalu berujung buntu tanpa hasil yang konkret.
03:55Lagi dan lagi statement Trump penuai kontroversi dan membuat panas situasi peperangan antara Iran dan Amerika.
04:02Lalu apakah kondisi ini akan memperkeruh suasana di hormus dan apakah Iran memiliki taktik lain untuk bisa meredakan kondisi saat
04:10ini?
04:11Kita akan bahas bersama dengan Tia Mariatul Kiptiah, dosen hubungan internasional BINUS University.
04:17Dan ada juga Stanislaus Rianta, pengamat intelijen dan keamanan Universitas Indonesia.
04:24Selamat malam Pak Stanis juga Mbak Tia.
04:28Selamat malam Mbak.
04:28Selamat malam Mbak Priska.
04:30Selamat malam saya ke Pak Stanis dulu.
04:32Kalau Trump bilang bahwa blokade laut tetap berlaku penuh, tapi di sisi lain dia bilang bahwa hormus akan segera diklaim
04:40milik Amerika Serikat.
04:42Ya artinya ini makin jauh dari kata damai Pak Stanis.
04:46Ya itu yang kita khawatirkan sebenarnya.
04:49Kita kan tidak pernah berharap perang ini terjadi.
04:52Tidak membela Amerika, juga tidak membela Iran.
04:54Kita tuh membela perdamaian dan kemanusiaan.
04:57Tapi makin kesini-makin kesini ini tidak ada titik terang bahwa perang ini akan segera usai.
05:05Dari mulai sejak WIB sampai sekarang ini kan pasang surut terus.
05:08Ada kayak putaran-putaran yang terjadi perang, kemudian jeda, kemudian ada provokasi, perang lagi, jeda lagi.
05:16Berapa periode, tiga periodean seperti ini.
05:19Nampaknya malah ini kayak semacam strategi Trump sebenarnya memperpanjang waktu untuk supaya isu ini terus terjadi.
05:26Saya khawatir bahwa ini akan dipelihara sampai pemilu setelah nanti supaya Trump tidak dianggap kalah.
05:31Dan Trump punya posisi sebagai seorang presiden yang kuat dan bisa memimpin Amerika untuk menang perang.
05:39Jadi kelihatan apa di situ.
05:41Jadi ini sudah berapa kali siklus seperti ini.
05:44Dan akan selalu mengeklaim menang, kemudian nanti jeda, lalu perang lagi, ngeklaim lagi.
05:52Jadi nanti publik lama-lama juga muak dengan situasi seperti ini.
05:56Ini maunya apa?
05:57Ini kan yang menyusahkan orang sedunia.
06:00Bahwa perangnya tidak jelas dan dampaknya sudah kemana-mana.
06:04Tapi juga negara-negara lain juga tidak bisa ngapain.
06:07Dia misalnya jawab kan negara-negara di kawasan itu nampak,
06:11belum ada aksi-aksi yang mengarah kepada perdamaian itu belum nampak.
06:16Jadi hanya sekedar apa, saya menurutkan seperti gimmick-gimmick saja sebenarnya.
06:21Nah, klaim Trump ini bagaimana kita mengartikannya, Mbak Tia?
06:26Sekedar gertakankah atau bisa jadi eskalasi lanjutan?
06:32Tidak juga gertakan, Mbak Friska.
06:34Saya melihatnya ini adalah pada titik frustasi ya,
06:36karena memang Amerika Serikat sudah kehabisan strategi.
06:39Sudah semua strategi dikeluarkan,
06:41tapi ternyata tidak membuat Iran bergeming sedikitpun.
06:44Bahkan sudah keluarkan pernyataan bahwa Iran sama sekali menolak si Spire.
06:48Si Spire pun Iran tidak mau.
06:50Artinya memang kalaupun ada perdamaian,
06:52itu harus perdamaian permanen,
06:54dan Amerika Serikat mengikuti poin-poin yang disodorkan oleh Iran.
06:57Jadi memang saat ini Iran malah makin strik saya melihatnya ya.
07:01Tidak ada pilihan lain.
07:03Tidak mau si Spire dan harus menuju kepada perdamaian.
07:06Nah, itulah yang membuat Trump sepertinya frustasi,
07:09karena memang tidak juga bisa memanage Hormuz.
07:12Hormuz sampai hari ini ya Mbak Friska terus bergolak begitu ya.
07:15Artinya memang setiap kapal yang lewat juga Iran tetap melakukan serangan
07:21jika memang kapal tersebut tidak mengikuti instruksi dari Iran.
07:24Tapi sebetulnya ini mudah jika kapal-kapal itu mengikuti instruksi Iran,
07:28itu mereka bisa melewati dengan baik sebetulnya,
07:31dan tidak ada masalah begitu ya.
07:32Tapi masalahnya ketika Amerika Serikat melakukan double blockade di situ,
07:36dia juga ikut memanage Hormuz.
07:38Makanya keluar pernyataan bahwa Hormuz ada di,
07:41nanti akan diklaim sebagai wilayah Amerika.
07:44Ya, ini tentu seperti joke ya.
07:46Tapi saya pikir dia tidak melakukan bercanda juga Trump.
07:50Artinya, saya sepakat ada unsur mengulur waktu juga,
07:54karena kan ini ada pemilu selah di Amerika Serikat,
07:56dan Trump dan Partai Republiknya tidak ingin dianggap kalah.
08:00Karena kalau misalnya ini dilihat Amerika memang kalah,
08:02dan dia sendirian,
08:03tidak ada koalisi, tidak ada NATO,
08:06tidak ada Uni Eropa yang ikut serta dalam perang ini,
08:09bahkan negara-negara teluk juga memilih silent,
08:11artinya kalah sudah.
08:13Nah, bagaimana membungkus kekalahan ini,
08:15supaya nanti di pemilu selah tidak terlihat begitu.
08:18Ini jelas, kalau terlihat kalah,
08:20telak sudah untuk Partai Republik.
08:22Kedepan bisa Demokrat ini yang memegang semuanya,
08:26dari mulai jumlah Senat di Kongres,
08:28kemudian juga termasuk Presiden yang akan terpilih begitu ya.
08:31Siapapun itu.
08:33Nah, ini dilakukan oleh Demokrat juga demikian bagus isu ini.
08:37Demokrat juga main dalam isu perang Iran-Amerika Serikat ini.
08:40Dan Iran mengambil kesempatan ini
08:44untuk menekan Trump,
08:46supaya segera memenuhi poin-poin yang diajukan oleh Iran.
08:50Makanya keluar pernyataan,
08:51tidak mau si Spire.
08:52Yang penting damai permanen,
08:54dan Amerika Serikat tidak lagi mengganggu Iran.
08:56Demikian Mbak Fisca.
08:57Jadi, Mbak Tia, kalau kita bicara di fase awal perang ini,
09:01sempat kita membaca bahwa,
09:03kalau di dalam pemilu selas,
09:04semestinya Trump menghentikan perang ini jauh sebelumnya.
09:07Tapi dalam kondisi terdesak begini,
09:09tidak ada pilihan bagi Trump untuk mengulur waktu.
09:12Salah satunya dengan ini ya.
09:13Ya, harusnya memang berhenti ya,
09:16kalau dari kesepakatan Kongres kan,
09:18sudah ada keluar pernyataan,
09:19bahwa Amerika Serikat harus menghentikan perang ini.
09:22Tapi ternyata kan jalan terus.
09:24Karena ternyata Republik terus membaca
09:26publik Amerika Serikat ke mana arahnya.
09:29Jadi kalau misalnya dilihat kalah,
09:31ini akan berefek juga terhadap kekalahan Republik di Kongresi.
09:34Black fire jadinya ya, Mbak Tia, untuk Republik ya.
09:38Nah, dalam kondisi seperti ini, Pak Stanis,
09:42bagaimana kita melihat secara de facto
09:44apa yang terjadi di Selat Hormuz?
09:46Seberapa besar peran AS saat ini
09:49yang melakukan double blockade atau blokade ganda
09:51dibandingkan dengan Iran
09:52yang tetap menguasai Hormuz?
09:56Ya, kalau Amerika tuh menguasai Hormuz kan
09:59atau dia berhasil menang perang,
10:00kan Iran menyatakan kalah juga.
10:02Iran melihat semakin bersemangat juga
10:04untuk melakukan perang,
10:05dan tidak ada tanda-tanda Iran mundur
10:08atau Iran itu mau menyerah,
10:10tidak ada tanda-tanda.
10:11Kita bisa menganalogikan ini
10:13seperti permainan ketika kita kecil gitu.
10:15Biasanya kalau orang mau kalah,
10:16yang agak licik,
10:17itu dia hanya dua yang dilakukan.
10:19Membubarkan permainan
10:20atau menyatakan kemenangan yang terlalu dini.
10:23Jadi dia tidak mau kalah.
10:24Karena kecil kan pas pemain itu kan,
10:26dia terdesak,
10:27tiba-tiba perangnya dibubarkan,
10:28udah bubar.
10:29Kalau ada main Saturn,
10:30yang mau kalah itu kan ada yang licik kan,
10:31dibubarkan papan permainan itu.
10:33Atau dia tiba-tiba mengklaim menang.
10:35Ini persis karakter trans sebenarnya.
10:37Yang saya setuju, Mbak Tia.
10:39Ini frustasi,
10:40dan dia mungkin sudah banyak tekanan,
10:43ada menghadapi nanti pemilu selama,
10:45maka dia mengklaim terlalu dini.
10:46Dan kalau kita melihat sebenarnya Iran,
10:49Iran itu tenang dalam perang ini.
10:50Dia tenang mengikuti ramahnya Amerika.
10:53Amerika mau ngapa?
10:53Ya ikutin.
10:55Dia tetap stabil dalam melakukan perlawanan.
10:58Karena Iran memegang kendali,
11:00dia memegang kendali Selat Hormus.
11:01Kemudian terkait persenjataan,
11:03Iran juga mampu melakukan recovery dengan cepat.
11:05Nah sekarang sebenarnya pokok personal adalah Selat Hormus.
11:07Bagaimana situasi saat ini?
11:10Kalau saya melihat,
11:11susah bagi Amerika dalam waktu dekat ini,
11:14menguasai Selat Hormus secara total.
11:17Karena memang Iran menang,
11:18Salamidan menang di sana.
11:20Iran mempunyai persenjataan,
11:22mempunyai drone bawah laut,
11:24kemudian dia memulai kapal-kapal cepat,
11:26dan itu cukup merepotkan.
11:27Andalan Amerika,
11:29kapal Induk,
11:30itu tidak bisa masuk.
11:31Tidak bisa masuk ke Selat Hormus.
11:32Nah nanti,
11:35ini kalau nanti negara-negara yang menggunakan Selat Hormus,
11:38kita tahu bahwa 20% energi dunia itu melewati Selat Hormus,
11:42negara-negara itu frustasi,
11:43atau mungkin marah karena tidak selesai,
11:45bahaya.
11:46Karena apa?
11:47Jangan-jangan mereka lebih berpihak untuk,
11:50memilih untuk berpihak wadah Iran daripada Amerika.
11:52Karena faktanya itu memang milik-milik Iran.
11:54Nah ini yang berbahaya sebenarnya.
11:56Iran akan ditinggalkan oleh banyak negara,
11:58kemudian ya semakin frustasi Trump.
12:01Nah Mbak Tia sebenarnya kalau membaca klaim sepihaknya Donald Trump,
12:05yang ingin dia katakan adalah menguasai secara geografis teritori Selat Hormus,
12:11atau menguasai lalu lintas yang ada di Selat Hormus, Mbak Tia?
12:17Saya berpikir bahwa bukan persoalan letak geografis ya.
12:20Kalau letak geografis itu teritori.
12:21Jauh itu kan ya,
12:22teritori Iran.
12:24Benuanya juga sudah beda,
12:25orang tertawa.
12:26Tertawa begitu ya.
12:27Dan gak make sense gitu ya,
12:28kalau geografis dan teritori.
12:30Itu jauh sekali.
12:31Trump sejati tertawa ketika mengatakan itu.
12:34Meskipun di akhir dia mengklarifikasi bahwa dia serius begitu ya,
12:37akan mengklaim Hormus bagian daripada dia.
12:39Maksud arti klaim Hormus disini,
12:41dia akan menekan ekonomi Iran.
12:43Jadi sudah ada pernyataan dari Trump,
12:45bahwa dia tidak akan menggunakan strategi menyerang secara weapons,
12:49atau secara drone serangan ke Iran seperti biasanya.
12:52Jadi strateginya berubah dengan menekan Iran,
12:55artinya memang ingin mengambil kendali Hormus,
12:58karena ternyata setelah Trump menganalisis,
13:00dan mungkin juga ada advisor dari Amerika Serikat sendiri ya,
13:03ada para penasehatnya di situ,
13:05dan juga ada mungkin input dari Israel sendiri,
13:08begitu bahwa ternyata senjatanya Iran saat ini,
13:12yang paling bagus itu adalah menguasai Hormus.
13:15Jadi,
13:16perlah pernyataan itu,
13:17Trump itu bahwa nanti ke depan Hormus itu akan diklaim menjadi wilayah Amerika Serikat,
13:21karena ternyata Hormus ini menjadi bagian daripada bergening posisi Iran
13:25yang sangat luar biasa,
13:26bagus begitu.
13:27Dan Trump mulai berpikir bagaimana kalau menguasai,
13:30ya itu tadi Mas Stanis bilang,
13:32susah gimana itu teritori orang,
13:34Iran ada di situ,
13:35dia menguasai Medan dan sebagainya.
13:37Sama seperti Trump akan menyerang Iran secara darat,
13:40kan tidak terbukti sampai hari ini,
13:41karena memang susah,
13:43nggak bisa timur tengah di mana,
13:44benua Amerika di mana,
13:46kalau dengan Israel masih oke lah dekat.
13:47Makanya Iran juga kan cara feedbacknya menyerang,
13:50militeri basisnya Amerika Serikat di negara-negara teluk,
13:53begitu.
13:53Jadi,
13:54klip itu adalah sebagai bentuk penafsiran,
13:56Mbak Priska,
13:57bahwa Amerika ingin menekan Iran.
14:00Jadi,
14:00artinya pelabuhan-pelabuhan Iran juga dikontrol,
14:03Hormus dikontrol,
14:04dengan Hormus dikontrol,
14:05Iran tidak bisa bebas menjual minyaknya,
14:07tidak bisa,
14:08apa namanya,
14:10negara-negara aliansi Amerika Serikat tidak pro ke Iran lagi,
14:12dan saya berpikir sama dengan Mas Stenis,
14:15ke depan,
14:15itu bisa jadi yang menjadi aliansinya Amerika Serikat,
14:19akhirnya tidak peduli,
14:20dia ditinggalkan sendirian,
14:21karena semua dalam tatanan global ini,
14:23berpikirnya terhadap nasional interest,
14:25Mbak Priska,
14:26terhadap kepentingannya masing-masing,
14:28makanya dia kan sendirian sekarang,
14:29mana ada Uni Eropa,
14:31NATO,
14:31anggota NATO,
14:33aliansi Timur Tengah sendiri,
14:34malah ada,
14:35apa namanya,
14:36ada agreement Meka ya,
14:38ada,
14:39fakta Meka bahkan dibentuk oleh Saudi,
14:41Turki,
14:42dan Pakistan,
14:43begitu,
14:44tidak,
14:44sama sekali mengabaikan Amerika Serikat,
14:46tidak diikuti,
14:47dan lain sebagainya,
14:48ini adalah bentuk satu perubahan politik di Timur Tengah,
14:52kalau Trump terus bersikap seperti itu,
14:55dia akan kalah di domestik Republik ini,
14:58yang kedua,
14:59akan ditinggalkan banyak negara,
15:01karena memang secara tujuan perang juga dari awal sudah salah,
15:04hasilnya akan salah,
15:05begitu.
15:06Yang menarik juga,
15:07posisi saat ini,
15:08tampaknya elai atau sekutu dari masing-masing Iran,
15:12maupun Amerika Serikat,
15:13tidak berperan aktif,
15:14dalam kondisi saat ini,
15:17Iran dan AS,
15:18tampak saling tunggu-tungguan,
15:19gak ada yang nyerang agresif,
15:21tapi lebih banyak saiwar-nya,
15:22nah,
15:23seberapa kekuatan mereka itu,
15:24kita menakarnya,
15:25sesaat lagi di Sapa Indonesia Malam,
15:27kami segera kembali.
15:28Masih di Sapa Indonesia Malam,
15:29bersama Tia Mariatul Kiptia,
15:31dosen hubungan internasional BINUS University,
15:33juga ada Stanislav Sriyanta,
15:35pengambat intelijen dan keamanan Universitas Indonesia,
15:38Pak Stanis,
15:40jadi sebenarnya bagaimana kita melihat,
15:42posisi juga,
15:43elai sekutu masing-masing dari Iran dan Amerika Serikat,
15:46yang tampaknya tidak mau turut campur terlalu dalam ya,
15:50dalam kondisi kini?
15:53Dalam situasi seperti ini,
15:54siapa sih yang mau ikut perang?
15:56Orang situasi sebah susah,
15:57kemudian resikonya tinggi,
15:59dan perang itu kan mahal.
16:00Dan kalau kita lihat sekarang,
16:02Amerika itu ternyata tidak seperti bayangan banyak orang,
16:04yang mereka mengklaim dia adik kuasa,
16:07senjatanya canggih-canggih.
16:08Tapi sudah berapa bulan,
16:09ini sudah 7 bulan,
16:11mungkin itu 6-7 bulan,
16:13Amerika tidak bisa mengalahkan Iran,
16:15dan senjatanya yang diklaim sangat canggih itu,
16:17ternyata juga tidak mampu apa-apa,
16:20bahkan hanya seperti ini,
16:22tidak membuat Iran kalah.
16:23Ini akan mengubah landscape geopolitik,
16:25bahwa Amerika tidak lagi menjadi negara yang besar,
16:30dan tidak diakui oleh negara-negara ini,
16:33sebagai negara yang paling besar lagi,
16:35tapi juga akan mengubah persepsi dunia terhadap Iran.
16:37Ternyata Iran tidak selemah itu.
16:39Dia bertahun-tahun, puluhan tahun,
16:41terbangun sistem pertahanannya,
16:43resiliensinya cukup tinggi,
16:44kemudian dia mampu bertahan di situasi perangan Iran ini.
16:49Dan sebenarnya yang lebih penting lagi adalah,
16:52bagaimana Iran mampu bertahan ini,
16:55ini nanti akan bisa ditiru oleh negara lain,
16:58ternyata ya tidak mudah mengalahkan Iran.
17:01Tidak mudah lagi nanti ketika Timur Tengah ternyata bersatu.
17:04Misalnya nanti aliansi itu kembang lebih jauh,
17:07Amerika bisa keteteran ketika nanti memutuskan bahwa
17:10tidak perlu kerjasama dengan Amerika lagi,
17:12ternyata Iran cukup kuat.
17:13Ini akan mengubah geopolitik sebenarnya.
17:17Peta militer juga akan berubahan.
17:20Dampak terhadap perang Iran ini,
17:22Amerika itu lebih berdampak,
17:24lebih berdampak negatifnya.
17:26Apalagi ketika nanti tidak bisa memenangkan perang dengan Iran.
17:29Itu nanti akan dipandang berbeda oleh dunia,
17:31bahwa Iran,
17:32Amerika bukan negara yang kuat lagi.
17:34Dan ini pasti akan sangat merugikan bagi Amerika ke depan.
17:38Tapi di sisi lain juga Mbak Tia kan Iran secara ekonomi
17:41otomatis pasti terdampak dengan perang yang tidak berkeseludahan.
17:46Sebenarnya apa yang Mbak Tia lihat,
17:48Iran masih bisa bertahan hingga saat ini dan titik batasnya itu apa ya?
17:53Rakyatnya Mbak Friska.
17:55Jadi memang itu yang tidak dimiliki oleh negara lain ketika misalnya kita sedikit flashback
18:00kepada negara-negara Timur Tengah yang berhasil ditumbangkan Amerika Serikat.
18:03Libya, Irak, Syria.
18:06Itu kan memang tidak bersatu.
18:07Kita pas sedikit ya satu-satu.
18:09Dari mulai Libya itu memang rakyatnya sendiri yang
18:12mengeksekusi Muammar Gaddafi begitu ketika diprovokasi oleh pihak Amerika Serikat.
18:18Kita ke Irak bagaimana Saddam Hussein ternyata walaupun sudah terbukti
18:22tidak memiliki senjata pemusnah masal,
18:24itu kan yang mengeksekusinya rakyatnya kembali karena memang terprovokasi.
18:28Balik lagi ke Syria.
18:29Syria itu kan pimpinannya adalah Assad yang notabene secara ideologi adalah Syiah,
18:33kemudian masyarakatnya atau people-nya mostly adalah Sunni misalnya.
18:38Dan mereka itu selama ini melakukan demonstrasi besar-besaran
18:44dan didukung oleh Amerika Serikat dan akhirnya tumbang.
18:47Jadi memang berbeda.
18:48Semuanya, latar belakangnya tidak didukung oleh rakyatnya.
18:51Beda dengan Iran.
18:52Iran ini menggunakan satu sistem politik yang memang tidak mudah goyah.
18:56Dia dalam proses election, Mbak Priska, melakukan vote sama seperti kita.
19:01Tapi dalam sistem dia menggunakan vilayat El-Faki yang sering saya sebut ya.
19:05Jadi sistem vilayat El-Faki itu adalah kekuasaan di Supreme Leader.
19:09Dan Supreme Leader ini dianggap sangat sakal,
19:12sangat menjadi figur,
19:16dia ideologinya itu sangat kuat begitu ya.
19:19Makanya itu-itu tadi ya.
19:20Ada satu ideologi yang tidak bisa dibentur oleh Amerika Serikat.
19:23Kenapa rakyat Iran solid?
19:25Dia melihat bahwa mereka akan hidup di dunia ini
19:28dan akan bersama-sama di kehidupan nanti begitu.
19:31Dengan si olahnya ini.
19:32Jadi agak-agak susah dihancurkannya.
19:36Mereka sedemikian loyal,
19:37sedemikian solid,
19:40dan inilah yang menyebabkan ekonomi Iran survive.
19:44Makanya dia meng-create,
19:45dia mencipta,
19:46dia mengkonsumsi.
19:47Kalau kita kan enggak,
19:48kita negara besar,
19:49the biggest country in Southeast Asia.
19:51Tapi kita rata-rata import,
19:53kita tidak bisa mencipta,
19:54kita konsumtif.
19:55Kita hanya konsumen,
19:57bukan produsen.
19:58Nah Iran,
19:58dia yang mencipta,
20:00dia yang memakan,
20:01dia yang mengkonsumsi,
20:02dia yang melakukan pasar di domestik itu sendiri.
20:05Ya sometimes dia butuh untuk menjual minyak,
20:08Cina dan Rusia sudah siap menolong.
20:10Jadi itu yang menyebabkan kuat.
20:12Jadi agak susah memang ditumbangkannya.
20:14Dan saya setuju dengan Mas Steny,
20:18nanti ke depan itu akan terjadi perubahan peta politik di Timur Tengah.
20:23Saudi kan selama ini sangat manut sekali dengan Amerika Serikat.
20:26Kita tidak tahu ke depan,
20:28karena ternyata Oman juga sudah mau diajak bicara,
20:30bahkan Oman sudah mulai tidak takut ketika Trump mengancam akan membom Oman.
20:34Santai-santai sudah mulai santai,
20:35sekecil itu loh.
20:36Negara sekecil Oman sudah mulai santai.
20:38Saudi sudah mulai bicara dengan Iran.
20:40Padahal Iran itu musuh dalam jangka histori yang cukup panjang.
20:43Panjang sekali ya.
20:44Tapi sekarang sudah mau bicara.
20:46Itu artinya memang yang dikatakan Mas Steny ini ke depan akan seperti itu.
20:52Dan hari ini sudah terjadi ada perubahan-perubahan sikap
20:55yang ditunjukkan oleh negara-negara teluk terhadap Amerika Serikat.
21:00Entah kalau misalnya presidennya ganti ya.
21:02Ternyata bukan Trump lagi atau dari Demokrat atau sosoknya seperti Obama.
21:06Bisa jadi itu akan teraih kembali begitu ya.
21:09Tapi siapa yang next di Demokrat yang seperti Obama?
21:12Agak susah kalau beliau naik lagi.
21:14Begitu Mbak.
21:15Oke dan kalau terakhir Pak Stenis,
21:18apa yang bisa kita lihat dalam periode pendek ini?
21:22Apakah ya side war antara Amerika Serikat dan Iran
21:25akan terus berlangsung sebagai upaya mengelur waktu dari AS?
21:28Atau Iran tidak akan membiarkan dan tidak tinggal diam?
21:33Ya kekuatan Amerika ya tinggal side war.
21:35Tinggal kertak-mengkertak,
21:37melakukan apa delusi-delusi yang disampaikan oleh Trump.
21:42Tapi saya yakin Iran akan tetap bertahan.
21:44Iran sudah teruji puluhan tahun untuk menghadapi seperti ini.
21:47Jadi Iran akan sulit mengalahkan Iran,
21:50apalagi dengan gaya Trump yang menurut saya tidak konsisten,
21:52tidak menjalankan perang seutuhnya.
21:54Jadi dia lebih banyak retorika,
21:56saya kira akan sulit.
21:58Tapi saya yakin kondisi akan seperti ini nanti.
22:00Bahkan nanti menjelang pemeluh salah juga masih terjadi.
22:03Jadi sebenarnya kalau yang ditanyakan apa yang sangat dilugikan,
22:07apa yang harus membuat strategi,
22:09ya justru malah negara-negara seperti kita ini.
22:11Kita siap tidak menghadapi perang ini ketika nanti sampai
22:13pemeluh salah seperti ini.
22:15Tapi saya kira Iran masih sulit untuk dikalahkan.
22:18Dan Amerika akan sangat sulit mengalahkan Iran.
22:20Dan terpaksa gesekan di Hormuz,
22:23tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
22:25Terima kasih Mbak Tia Mariatul Kiptia,
22:27dosen hubungan internasional di Indonesia University,
22:30juga Stanis Laus Rianta,
22:32pakar intelijen dan keamanan Universitas Indonesia.
22:34Terima kasih Pak Stanis, Mbak Tia.
22:59Sampai jumpa.
23:06Kompas TV Apps di TV kamu sekarang juga!
Komentar