Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Serangan Iran ke Israel mendapat dukungan dari warga Teheran. Warga Teheran berkumpul untuk menyaksikan rudal-rudal Iran diluncurkan.

Peluncuran rudal menuju Israel terlihat melintasi langit Kota Kermanshah di Iran Barat. Warga Teheran bersorak saat melihat rudal meluncur di langit Iran menuju Israel.

Teheran telah memperingatkan akan melakukan pembalasan setelah Israel menyerang pinggiran selatan Beirut. Serangan yang dilakukan tanpa peringatan pada Minggu pagi itu disebut bertentangan dengan permintaan Washington beberapa hari sebelumnya untuk mundur.

Sementara itu, milisi Hizbullah merilis video serangan yang dilakukan pada 1 Juni 2026. Front pendukung Iran di Lebanon tersebut melakukan penyerangan terhadap tentara Israel di Kota Al Adisa.

Serangan tersebut merupakan bentuk perlawanan Hizbullah yang dilakukan dengan rentetan roket besar-besaran.

Di tengah kebuntuan negosiasi damai dengan Amerika Serikat, Iran menyerang Israel sebagai respons atas serangan ke Beirut yang menewaskan dua orang.

Lalu, apakah perang akan kembali pecah dengan melibatkan pasukan Amerika Serikat? Kita bahas bersama praktisi hubungan internasional Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja, dan pakar intelijen CIDE, Anton Aliabbas.

Baca Juga Xi Jinping Disambut Meriah Kim Jong Un, China dan Korea Utara Perkuat Kerja Sama Strategis di https://www.kompas.tv/internasional/673617/xi-jinping-disambut-meriah-kim-jong-un-china-dan-korea-utara-perkuat-kerja-sama-strategis

#iran #as #israel #timurtengah #perang

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/673623/timteng-memanas-praktisi-hi-pakar-intelijen-cide-soal-kemungkinan-perang-as-vs-iran-kembali-pecah
Transkrip
00:00Di tengah kebuntuan negosiasi damai dengan Amerika Serikat, Iran menyerang Israel
00:05buntut serangan ke Beirut yang menewaskan dua orang.
00:09Pertanyaannya, apakah perang akan kembali pecah dengan melibatkan pasukan Amerika
00:14atau negosiasi memang masih ada, masih bisa dilakukan dalam perang ini.
00:21Kita bahas bersama dengan praktisi hubungan internasional,
00:24Synergis Polisis, Mbak Dina Praptor Harja dan juga pakar intelijen dari CID.
00:30Mas Anton Ali Abbas, selamat tetang semuanya.
00:33Selamat tetang, Mas Yasser.
00:34Saya ke Mas Anton dulu. Mas Anton, kalau kita lihat ini nampaknya perundingan semakin jauh ini
00:39kalau dari yang kita lihat. Karena apa? Karena ini Iran serangan perdana Iran usai gencatan senjata.
00:46Apakah ini Anda melihat bisa diartikan Israel lagi-lagi berhasil mensabotase dalam tanda kutip
00:53negosiasi damai yang tengah digodok?
00:55Ya, Mas Yasser. Ini memang fase berbahaya ketika kita bicara tentang negosiasi damai.
01:02Kenapa? Karena ada tiga hal.
01:03Satu, bahwa Israel kemudian memang secara konsisten ini menunjukkan resistensi terhadap proses perdamaian itu
01:10karena mereka memang punya agenda sendiri.
01:13Itu karena bagaimanapun juga, Benjamin Netanyahu ini juga sama seperti Trump.
01:17Ini akan menghadapi yang namanya pemilu.
01:19Mungkin akan digelar pada September, Oktober tahun ini.
01:23Di sisi lain kan publiknya memang menghendaki dan mendukung sama kayak tadi ditanyakan dengan Iran
01:27mendukung peran terhadap Iran.
01:29Ini kan jadi menarik ya. Jadi kalau Iran mendukung peran terhadap Israel, sebaliknya gitu.
01:33Itu satu.
01:34Kedua, Iran mau tidak mau memang kemudian ingin membela Hezbollah dalam hal ini.
01:40Karena bagaimanapun juga Hezbollah itu tidak hanya sekedar proksi biasa,
01:45tapi dia adalah merupakan pilar ya, pilar utama gitu ya dari Iran untuk menunjukkan deterrence pada negara-negara di kawasan.
01:55Karena dia pilar yang berada di luar dari posisi diri.
02:00Yang ketiga memang mau tidak mau yang akan menjadi korban pertama dari insiden ini adalah yang namanya MOU.
02:06Yang MOU yang selalu berulang kali Trump bilang bahwa ini sudah makin dekat, sudah makin dekat, sudah makin dekat.
02:12Tapi kan kenyataannya, Netanyahu dengan ketika dia melakukan serangan kepada Iran,
02:17itu kan menunjukkan bahwa bagaimana Netanyahu menolak untuk patuh terhadap Washington.
02:22Dan ini yang memang bagaimana potensi, hancurnya proses negosiasi ini kemudian sudah semakin diambang kehancuran
02:36yang kita akan menunggu apakah memang dalam 36 dan 70 jam depan misalnya Amerika Serikat akan ikut turun serta dalam
02:43perang ini atau tidak.
02:44Ini yang akan kita tunggu dan kita lihat.
02:46Itu dari sisi Israelnya, kalau dari Mbak Dina sendiri membaca sikap Iran sendiri dalam serangan terbaru ini seperti apa?
02:55Iran sudah berkomunikasi dengan mitra-mitra Amerika Serikat sebelum melakukan serangan ini.
03:01Dia berkomunikasi dengan Qatar, kemudian juga dengan Turki, Perancis, bahkan Inggris.
03:08Jadi kalau ada satu pesan yang mau disampaikan oleh Iran, sebenarnya bahwa proses negosiasi itu masih tetap bisa jalan.
03:18Hanya saja Trump sebagai negosiator, Trump sebagai pemain penting dalam negosiasi ini,
03:26itu sedang kehilangan kredibilitasnya secara serius di mata Iran.
03:30Dan bisa jadi sebenarnya kalau dilihat dari kejadian yang berkembang juga di dalam negeri Amerika Serikat,
03:37di mana 3 Juni kemarin itu lolos ya konkuren resolution di House of Representatives,
03:46dan sekarang ada 4 orang dari kewakilan dari Partai Republikan yang pindah jalur menjadi mendukung posisi Partai Demokrat
03:56untuk membatasi peranan Trump dan peranan Amerika Serikat dan menarik pasukan dalam waktu kurang dari 60 hari.
04:05Sebenarnya dalam negeri Amerika Serikat sendiri sedang berlangsung satu proses.
04:08Sejak itu lolos di 3 Juni, ada 15 hari ke depan, 15 hari kalender ya, berarti tinggal tambah aja, 3
04:15tambah 15,
04:17ditambah kemudian 3 hari dia harus tabling lagi di Senat.
04:21Jadi Senat pun punya tanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan dan menginisiasi joint resolution.
04:29Sehingga kita membaca peta perang antara keempat pihak ini seperti apa?
04:35Iran, Hezbollah, Israel, dan juga Amerika Serikat.
04:38Karena kalau kita lihat dari sisi Lebanonnya sendiri, Presiden Lebanon sendiri sempat bilang bahwa
04:43sempat memperingatkan Iran untuk tidak ikut campur begitu.
04:46Tapi jangan dijawab dulu Mbak Dina, kita lanjutkan perbincangan kita juga nanti ada Mas Anton Ali Abes juga
04:50tetaplah bersama kami di Kompas Petang.
05:01Masih bersama saya Mbak Dina dan juga Mas Anton Ali Abes.
05:04Pertanyaan gantung saya ke Mbak Dina tadi, sebenarnya kalau kita lihat ini,
05:06masing-masing pihak ini punya agenda masing-masing ya, Israel, Amerika Serikat,
05:11kalau kita lihat Iran maupun dari Hezbollah sendiri, maupun kalau kita lihat di Lebanonnya itu sendiri.
05:16Karena kalau kita terbaru itu kan sebenarnya Presiden Lebanon sendiri sudah memperingatkan kepada Iran
05:21untuk tidak ikut terlibat dalam perang yang terjadi.
05:24Anda membacanya seperti apa ini Mbak Dina?
05:27Lebanon tidak punya pilihan bebas ya.
05:29Lebanon itu dalam posisi berusaha mencari perlindungan dari Amerika Serikat
05:34dan masih percaya bahwa dia akan mendapatkan bantuan keuangan untuk berhadapan dengan Israel.
05:39Tapi sebenarnya menurut saya itu bukan satu solusi pada titik ini.
05:43Intinya bahwa di dalam negeri Amerika Serikat, Presiden Donald Trump itu sedang kehilangan kredibilitas.
05:49Dua swing state yang sangat penting buat Trump dan punya sejarah pahit untuk Trump,
05:54dia pernah kalah juga di swing state itu di masa Biden ya,
05:57diambil ke Demokrat, Pennsylvania dan Michigan, itu sekarang sudah beralih.
06:02Dan beralih mendukung Demokrat.
06:05Artinya ada prospek nih bulan November besok Partai Republikan bisa kehilangan suara.
06:11Dan itulah yang menurut saya membuat Trump sekarang harus berpikir keras
06:15kalau dia masih mau tetap maju dengan strateginya,
06:18dia harus mengubah posisinya lebih multilateral.
06:22Kalau dia tetap unilateral seperti sekarang, dia sebenarnya sudah kehilangan kredibilitas.
06:27Sehingga kalau kita lihat, Mas Anton, Anda membacanya dengan pertimbangan masing-masing pihak ini,
06:33mungkinkah akan terjadi perang terbuka dalam waktu dekat?
06:41Kalau ditanya mungkin, kemungkinannya ini yang akan kita lihat nih dalam waktu 72 jam ke depan.
06:47Apakah misalnya Amerika Serikat ikut serta atau tidak.
06:51Karena memang rumit juga misalnya untuk mempertemukan kepentingan antara Israel dengan Hezbollah.
06:56Israel di satu sisi dia akan menghendaki keamanan ya di wilayahnya.
07:01Sementara di sisi lain, Iran dan Hezbollah itu kalau misalnya kita bicara tentang bagaimana negosisi damai ini kan itu menghendaki
07:08misalnya tentu-tentu adalah pelucutan senjata pada Hezbollah.
07:12Sementara kan posisi Iran kan itu menolak untuk itu gitu.
07:14Jadi ini akan menjadi rumit.
07:16Belum lagi misalnya Hezbollah juga anti terhadap Israel.
07:18Jadi titik temunya ini memang berat gitu.
07:20Jadi kalau ditanya peluangnya ya peluangnya memang besar.
07:23Tapi tentu saja kita tidak pernah mau berdoa agar ini terjadi perang.
07:26Kalau misalnya itu satu.
07:27Kedua memang rumit juga misalnya kita bicara tentang Lebanon.
07:30Bagaimana misalnya Presiden Lebanon Yosef Aoun gitu ya di satu sisi pemerintah memang itu sudah melarang aktivitas militer yang namanya
07:37Hezbollah sejak Maret lalu.
07:39Tapi mereka tidak punya kapasitas ya.
07:41Kapasitas untuk memaksa Hezbollah untuk tunduk.
07:44Artinya apa?
07:45Artinya mau tidak mau sekalipun misalnya mereka punya kesepakatan ya antara pemerintah Lebanon dan pemerintah Israel.
07:51Perang kan tetap terjadi.
07:53Kenapa?
07:53Karena yang namanya faktor Hezbollah itu terlepas dari kepentingan pemerintah.
07:59Mungkin, ada mungkin juga walaupun ada analisi juga yang menyatakan ini jangan-jangan.
08:03Memang ini adalah posisi yang disengaja.
08:05Kenapa?
08:06Karena bagaimanapun juga Israel kan punya kepentingan untuk memperluas namanya buffer zone di wilayah Lebanon Selatan.
08:13Kalau itu misalnya tetap diikat ya diikat oleh pemerintah Lebanon maka mau tidak mau kan posisi tawar Lebanon sendiri kan
08:20rendah di mata Israel.
08:21Jadi dengan kata lain sengaja ini dijadikan apa namanya pemain sendiri kenapa?
08:26Untuk kemudian di satu sisi itu meleverage ya posisi Lebanon dalam perundingan.
08:31Walaupun juga Presiden Yosef Aoun Presiden Lebanon itu kan juga dikenal dekat dengan Amerika Serikat gitu.
08:36Ini yang menjadi memang rumit ketika kita bicara.
08:39Sehingga Anda memprediksi kemungkinan besar, sehingga Anda memprediksi ini kemungkinan bisa saja terjadi ini perang terbuka dalam beberapa waktu dekat.
08:47Kita tidak berharap itu.
08:48Kalau pertanyaan terakhir saya ke Mbak Dina tentu kita tidak berharap perang terbuka ini terjadi.
08:52Masih adakah kemungkinan cara-cara sebenarnya yang masing-masing negara ini juga tengah dilakukan untuk mengakhiri perang yaitu diplomasi atau
08:59negosiasi?
09:01Negosiasi menurut saya masih jalan. Intinya masih tetap dicari titik temunya.
09:05Kuncinya menurut saya ada di negara-negara Eropa nih.
09:08Karena mereka tahu bahwa Israel itu dalam posisi untuk terus menggempur sementara Amerika Serikat dalam posisi sudah kehilangan kredibilitas.
09:16Senjata untuk Israel itulah kuncinya.
09:19Dan selama ini negara-negara Eropa masih terus mempersenjatai Israel.
09:23Jadi menurut saya ada yang bukan cuma sekedar penonton nih disini.
09:28Mereka sebenarnya aktif juga dalam menyuplai senjata dan punya stake.
09:33Tinggal punya taruhan disini. Tinggal masalahnya mereka mau bergerak atau enggak.
09:36Kalau enggak ya terus.
09:38Ini yang menjadi harapan kita bersama ya.
09:41Negosiasi masih berlangsung dan perang terbuka ini tidak terjadi lagi.
09:45Terima kasih Mbak Dina.
09:45Terima kasih Mas Anton Al-Abbas atas perspektifnya di Kompas Petang.
09:49Salam sehat semuanya.
Komentar

Dianjurkan