00:00Di tengah kebuntuan negosiasi damai dengan Amerika Serikat, Iran menyerang Israel
00:05buntut serangan ke Beirut yang menewaskan dua orang.
00:09Pertanyaannya, apakah perang akan kembali pecah dengan melibatkan pasukan Amerika
00:14atau negosiasi memang masih ada, masih bisa dilakukan dalam perang ini.
00:21Kita bahas bersama dengan praktisi hubungan internasional,
00:24Synergis Polisis, Mbak Dina Praptor Harja dan juga pakar intelijen dari CID.
00:30Mas Anton Ali Abbas, selamat tetang semuanya.
00:33Selamat tetang, Mas Yasser.
00:34Saya ke Mas Anton dulu. Mas Anton, kalau kita lihat ini nampaknya perundingan semakin jauh ini
00:39kalau dari yang kita lihat. Karena apa? Karena ini Iran serangan perdana Iran usai gencatan senjata.
00:46Apakah ini Anda melihat bisa diartikan Israel lagi-lagi berhasil mensabotase dalam tanda kutip
00:53negosiasi damai yang tengah digodok?
00:55Ya, Mas Yasser. Ini memang fase berbahaya ketika kita bicara tentang negosiasi damai.
01:02Kenapa? Karena ada tiga hal.
01:03Satu, bahwa Israel kemudian memang secara konsisten ini menunjukkan resistensi terhadap proses perdamaian itu
01:10karena mereka memang punya agenda sendiri.
01:13Itu karena bagaimanapun juga, Benjamin Netanyahu ini juga sama seperti Trump.
01:17Ini akan menghadapi yang namanya pemilu.
01:19Mungkin akan digelar pada September, Oktober tahun ini.
01:23Di sisi lain kan publiknya memang menghendaki dan mendukung sama kayak tadi ditanyakan dengan Iran
01:27mendukung peran terhadap Iran.
01:29Ini kan jadi menarik ya. Jadi kalau Iran mendukung peran terhadap Israel, sebaliknya gitu.
01:33Itu satu.
01:34Kedua, Iran mau tidak mau memang kemudian ingin membela Hezbollah dalam hal ini.
01:40Karena bagaimanapun juga Hezbollah itu tidak hanya sekedar proksi biasa,
01:45tapi dia adalah merupakan pilar ya, pilar utama gitu ya dari Iran untuk menunjukkan deterrence pada negara-negara di kawasan.
01:55Karena dia pilar yang berada di luar dari posisi diri.
02:00Yang ketiga memang mau tidak mau yang akan menjadi korban pertama dari insiden ini adalah yang namanya MOU.
02:06Yang MOU yang selalu berulang kali Trump bilang bahwa ini sudah makin dekat, sudah makin dekat, sudah makin dekat.
02:12Tapi kan kenyataannya, Netanyahu dengan ketika dia melakukan serangan kepada Iran,
02:17itu kan menunjukkan bahwa bagaimana Netanyahu menolak untuk patuh terhadap Washington.
02:22Dan ini yang memang bagaimana potensi, hancurnya proses negosiasi ini kemudian sudah semakin diambang kehancuran
02:36yang kita akan menunggu apakah memang dalam 36 dan 70 jam depan misalnya Amerika Serikat akan ikut turun serta dalam
02:43perang ini atau tidak.
02:44Ini yang akan kita tunggu dan kita lihat.
02:46Itu dari sisi Israelnya, kalau dari Mbak Dina sendiri membaca sikap Iran sendiri dalam serangan terbaru ini seperti apa?
02:55Iran sudah berkomunikasi dengan mitra-mitra Amerika Serikat sebelum melakukan serangan ini.
03:01Dia berkomunikasi dengan Qatar, kemudian juga dengan Turki, Perancis, bahkan Inggris.
03:08Jadi kalau ada satu pesan yang mau disampaikan oleh Iran, sebenarnya bahwa proses negosiasi itu masih tetap bisa jalan.
03:18Hanya saja Trump sebagai negosiator, Trump sebagai pemain penting dalam negosiasi ini,
03:26itu sedang kehilangan kredibilitasnya secara serius di mata Iran.
03:30Dan bisa jadi sebenarnya kalau dilihat dari kejadian yang berkembang juga di dalam negeri Amerika Serikat,
03:37di mana 3 Juni kemarin itu lolos ya konkuren resolution di House of Representatives,
03:46dan sekarang ada 4 orang dari kewakilan dari Partai Republikan yang pindah jalur menjadi mendukung posisi Partai Demokrat
03:56untuk membatasi peranan Trump dan peranan Amerika Serikat dan menarik pasukan dalam waktu kurang dari 60 hari.
04:05Sebenarnya dalam negeri Amerika Serikat sendiri sedang berlangsung satu proses.
04:08Sejak itu lolos di 3 Juni, ada 15 hari ke depan, 15 hari kalender ya, berarti tinggal tambah aja, 3
04:15tambah 15,
04:17ditambah kemudian 3 hari dia harus tabling lagi di Senat.
04:21Jadi Senat pun punya tanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan dan menginisiasi joint resolution.
04:29Sehingga kita membaca peta perang antara keempat pihak ini seperti apa?
04:35Iran, Hezbollah, Israel, dan juga Amerika Serikat.
04:38Karena kalau kita lihat dari sisi Lebanonnya sendiri, Presiden Lebanon sendiri sempat bilang bahwa
04:43sempat memperingatkan Iran untuk tidak ikut campur begitu.
04:46Tapi jangan dijawab dulu Mbak Dina, kita lanjutkan perbincangan kita juga nanti ada Mas Anton Ali Abes juga
04:50tetaplah bersama kami di Kompas Petang.
05:01Masih bersama saya Mbak Dina dan juga Mas Anton Ali Abes.
05:04Pertanyaan gantung saya ke Mbak Dina tadi, sebenarnya kalau kita lihat ini,
05:06masing-masing pihak ini punya agenda masing-masing ya, Israel, Amerika Serikat,
05:11kalau kita lihat Iran maupun dari Hezbollah sendiri, maupun kalau kita lihat di Lebanonnya itu sendiri.
05:16Karena kalau kita terbaru itu kan sebenarnya Presiden Lebanon sendiri sudah memperingatkan kepada Iran
05:21untuk tidak ikut terlibat dalam perang yang terjadi.
05:24Anda membacanya seperti apa ini Mbak Dina?
05:27Lebanon tidak punya pilihan bebas ya.
05:29Lebanon itu dalam posisi berusaha mencari perlindungan dari Amerika Serikat
05:34dan masih percaya bahwa dia akan mendapatkan bantuan keuangan untuk berhadapan dengan Israel.
05:39Tapi sebenarnya menurut saya itu bukan satu solusi pada titik ini.
05:43Intinya bahwa di dalam negeri Amerika Serikat, Presiden Donald Trump itu sedang kehilangan kredibilitas.
05:49Dua swing state yang sangat penting buat Trump dan punya sejarah pahit untuk Trump,
05:54dia pernah kalah juga di swing state itu di masa Biden ya,
05:57diambil ke Demokrat, Pennsylvania dan Michigan, itu sekarang sudah beralih.
06:02Dan beralih mendukung Demokrat.
06:05Artinya ada prospek nih bulan November besok Partai Republikan bisa kehilangan suara.
06:11Dan itulah yang menurut saya membuat Trump sekarang harus berpikir keras
06:15kalau dia masih mau tetap maju dengan strateginya,
06:18dia harus mengubah posisinya lebih multilateral.
06:22Kalau dia tetap unilateral seperti sekarang, dia sebenarnya sudah kehilangan kredibilitas.
06:27Sehingga kalau kita lihat, Mas Anton, Anda membacanya dengan pertimbangan masing-masing pihak ini,
06:33mungkinkah akan terjadi perang terbuka dalam waktu dekat?
06:41Kalau ditanya mungkin, kemungkinannya ini yang akan kita lihat nih dalam waktu 72 jam ke depan.
06:47Apakah misalnya Amerika Serikat ikut serta atau tidak.
06:51Karena memang rumit juga misalnya untuk mempertemukan kepentingan antara Israel dengan Hezbollah.
06:56Israel di satu sisi dia akan menghendaki keamanan ya di wilayahnya.
07:01Sementara di sisi lain, Iran dan Hezbollah itu kalau misalnya kita bicara tentang bagaimana negosisi damai ini kan itu menghendaki
07:08misalnya tentu-tentu adalah pelucutan senjata pada Hezbollah.
07:12Sementara kan posisi Iran kan itu menolak untuk itu gitu.
07:14Jadi ini akan menjadi rumit.
07:16Belum lagi misalnya Hezbollah juga anti terhadap Israel.
07:18Jadi titik temunya ini memang berat gitu.
07:20Jadi kalau ditanya peluangnya ya peluangnya memang besar.
07:23Tapi tentu saja kita tidak pernah mau berdoa agar ini terjadi perang.
07:26Kalau misalnya itu satu.
07:27Kedua memang rumit juga misalnya kita bicara tentang Lebanon.
07:30Bagaimana misalnya Presiden Lebanon Yosef Aoun gitu ya di satu sisi pemerintah memang itu sudah melarang aktivitas militer yang namanya
07:37Hezbollah sejak Maret lalu.
07:39Tapi mereka tidak punya kapasitas ya.
07:41Kapasitas untuk memaksa Hezbollah untuk tunduk.
07:44Artinya apa?
07:45Artinya mau tidak mau sekalipun misalnya mereka punya kesepakatan ya antara pemerintah Lebanon dan pemerintah Israel.
07:51Perang kan tetap terjadi.
07:53Kenapa?
07:53Karena yang namanya faktor Hezbollah itu terlepas dari kepentingan pemerintah.
07:59Mungkin, ada mungkin juga walaupun ada analisi juga yang menyatakan ini jangan-jangan.
08:03Memang ini adalah posisi yang disengaja.
08:05Kenapa?
08:06Karena bagaimanapun juga Israel kan punya kepentingan untuk memperluas namanya buffer zone di wilayah Lebanon Selatan.
08:13Kalau itu misalnya tetap diikat ya diikat oleh pemerintah Lebanon maka mau tidak mau kan posisi tawar Lebanon sendiri kan
08:20rendah di mata Israel.
08:21Jadi dengan kata lain sengaja ini dijadikan apa namanya pemain sendiri kenapa?
08:26Untuk kemudian di satu sisi itu meleverage ya posisi Lebanon dalam perundingan.
08:31Walaupun juga Presiden Yosef Aoun Presiden Lebanon itu kan juga dikenal dekat dengan Amerika Serikat gitu.
08:36Ini yang menjadi memang rumit ketika kita bicara.
08:39Sehingga Anda memprediksi kemungkinan besar, sehingga Anda memprediksi ini kemungkinan bisa saja terjadi ini perang terbuka dalam beberapa waktu dekat.
08:47Kita tidak berharap itu.
08:48Kalau pertanyaan terakhir saya ke Mbak Dina tentu kita tidak berharap perang terbuka ini terjadi.
08:52Masih adakah kemungkinan cara-cara sebenarnya yang masing-masing negara ini juga tengah dilakukan untuk mengakhiri perang yaitu diplomasi atau
08:59negosiasi?
09:01Negosiasi menurut saya masih jalan. Intinya masih tetap dicari titik temunya.
09:05Kuncinya menurut saya ada di negara-negara Eropa nih.
09:08Karena mereka tahu bahwa Israel itu dalam posisi untuk terus menggempur sementara Amerika Serikat dalam posisi sudah kehilangan kredibilitas.
09:16Senjata untuk Israel itulah kuncinya.
09:19Dan selama ini negara-negara Eropa masih terus mempersenjatai Israel.
09:23Jadi menurut saya ada yang bukan cuma sekedar penonton nih disini.
09:28Mereka sebenarnya aktif juga dalam menyuplai senjata dan punya stake.
09:33Tinggal punya taruhan disini. Tinggal masalahnya mereka mau bergerak atau enggak.
09:36Kalau enggak ya terus.
09:38Ini yang menjadi harapan kita bersama ya.
09:41Negosiasi masih berlangsung dan perang terbuka ini tidak terjadi lagi.
09:45Terima kasih Mbak Dina.
09:45Terima kasih Mas Anton Al-Abbas atas perspektifnya di Kompas Petang.
09:49Salam sehat semuanya.
Komentar