KOMPAS.TV - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengklaim kesepakatan damai dengan Iran hampir mencapai tahap finalisasi.
Sementara Iran menegaskan tidak ada pembahasan soal nuklir dalam nota kesepahaman ini, padahal soal nuklir menjadi salah satu penghalang dalam negosiasi Iran-AS.
Apakah Amerika Serikat melunak? Kami akan membahasnya bersama peneliti Asia Middle East Center, Pizaro Gozali serta praktisi dan Pengajar Hubungan Internasional Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja.
Baca Juga Kesepakatan AS-Iran Berpotensi Perpanjang Gencatan Senjata dan Buka Blokade Hormuz di https://www.kompas.tv/internasional/670819/kesepakatan-as-iran-berpotensi-perpanjang-gencatan-senjata-dan-buka-blokade-hormuz
#trump #iran #nuklir
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/670836/full-analisis-peneliti-soal-trump-klaim-damai-dengan-iran-hampir-final-as-mengalah-soal-nuklir
Sementara Iran menegaskan tidak ada pembahasan soal nuklir dalam nota kesepahaman ini, padahal soal nuklir menjadi salah satu penghalang dalam negosiasi Iran-AS.
Apakah Amerika Serikat melunak? Kami akan membahasnya bersama peneliti Asia Middle East Center, Pizaro Gozali serta praktisi dan Pengajar Hubungan Internasional Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja.
Baca Juga Kesepakatan AS-Iran Berpotensi Perpanjang Gencatan Senjata dan Buka Blokade Hormuz di https://www.kompas.tv/internasional/670819/kesepakatan-as-iran-berpotensi-perpanjang-gencatan-senjata-dan-buka-blokade-hormuz
#trump #iran #nuklir
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/670836/full-analisis-peneliti-soal-trump-klaim-damai-dengan-iran-hampir-final-as-mengalah-soal-nuklir
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saudara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kesepakatan damai dengan Iran hampir mencapai tahap finalisasi.
00:08Sementara itu Iran menegaskan tidak ada pembahasan soal nuklir dalam nota kesepahaman tersebut.
00:14Padahal soal nuklir menjadi salah satu penghalang yang selama ini terjadi dalam negosiasi Iran dan juga Amerika Serikat.
00:21Pertanyaannya apakah Amerika Serikat melunak?
00:23Kami akan membahasnya bersama dengan peneliti Asia Middle East Center, Bang Pizarro Ghazali dan juga praktisi dan pengajar hubungan internasional
00:31sinergis politik, polisis, Mbak Dina Praptoraharja.
00:37Selamat petang semuanya.
00:39Selamat petang, Mbak Mas Yasser.
00:42Saya ke Bang Pizarro dulu, ini menarik ini kan selama kita berdiskusi akhirnya ada bisa dikatakan hal baik lah.
00:48Ada tanda-tanda negosiasi ini akhirnya bisa mencapai kesepakatan.
00:53Tapi pertanyaannya, ini kan klaim dari Trump bahwa kesepakatan damai ini sudah mulai terlihat begitu.
00:59Anda membacanya ini bisa dipercaya nggak dengan melihat Trump yang selama ini omongannya selalu berubah-ubah?
01:07Iya, memang Mas Yasser ya kalau kita lihat ada pernyataan terbaru dari Donald Trump bahwa negosiasi kita senjata atau perundingan
01:15damai yang dilakukan antara Amerika Serikat dengan Iran
01:18itu hampir mencapai titik kesepakatan.
01:21Walaupun sekali lagi Mas Yasser ini masih 50-50, masih 50-50 ya.
01:25Karena kalau kita lihat aja Rubio sekarang di India, Menteri Luar Negeri ya dia masih misalkan mengatakan Iran itu sebagai
01:31negara sponsor terorisme.
01:32Donald Trump juga mengatakan bahwa kita bisa bernamai tapi saya juga bisa menyerang secara keras gitu.
01:37Artinya ini masih 50-50, 50-50 walaupun memang Mas Yasser trendnya atau arahnya itu sudah masuk kepada ada kesepahaman
01:45pemikiran antara Amerika Serikat dan Iran.
01:47Dan Ismail Bagey, jurubicara Menelur Iran juga mengatakan bahwa kita memang, dia mereka pun juga mengakui bahwa ada pembicaraan yang
01:54inters saat-saat ini dengan Amerika Serikat
01:56yang dijembatannya oleh banyak negara-negara, tidak hanya Pakistan.
01:59Ada kunci yang lebih penting ialah ada keterlibatan negara-negara terlalu sekarang Mas Yasser.
02:03Ada Qatar, ada Unimanat Arab, ada Saudi, dan juga ada negara-negara lainnya.
02:08Saya kira ini ada sebuah kesepakatan yang komprehensif yang memang memastikan bahwa minimal terjadi kesepahaman untuk membuka slat horus terlebih
02:16dahulu.
02:16Karena memang ada konsensi yang didapatkan Iran Mas Yasser dalam hal ini.
02:19Kenapa? Makanya dia mau masuk sekarang di dalam kesepakatan yang gue sih gila senjata.
02:22Kenapa? Ada kemudian komitmen dari Amerika Serikat untuk mencairkan aset-aset Iran yang selama dibukakan.
02:28Memang bukan 100%, mungkin 20%, 30%.
02:31Itu memang kayak DP lah, menunjukkan intikannya seriusnya Amerika Serikat sebelum Iran itu masuk.
02:36Kemudian tuntutan Iran juga nanti bagaimana naval blockade atau blockade laut itu kemudian juga benar-benar dibuka oleh Amerika Serikat.
02:42Saya kira ini titik poin awalnya, walaupun sekali lagi kita tidak bisa memastikan memang gitar senjata komprehensif akan diambil.
02:47Tetapi arah tren untuk menunjuk kesepakatan bersama itu sedang digodok sekarang.
02:5150-50 tapi arah menuju ke kesepakatan bersama ini sudah terlihat begitu ya.
02:55Karena Mbak Dina, kita lihat ini Trump sendiri menyatakan bahwa kalau seandainya perjanjian ini sudah masuk ke tahap finishing,
03:03itu berarti salah satu poin yang diangkat adalah selat horus akan kembali dibuka.
03:07Anda membacanya ini betul akan dibuka karena memang Trump mendapat desakan dari negara-negara yang tadi disebutkan?
03:14Atau seperti apa strategi dari Trump ini?
03:18Satu bahwa memang ada bom waktu Mas Yasir terkait dengan produksi minyak dunia yang kalau semakin lama ditunda untuk ada
03:26penyelesaian,
03:27maka itu kilang-kilang minyak yang ada di seluruh negara Teluk, bukan hanya di Iran ya, itu akan mati.
03:35Jadi dalam waktu kurang dari satu bulan sebenarnya itu ada proses untuk mereka menjadi beku kembali gitu,
03:43karena mereka tidak udah kehabisan tempat untuk menyimpan cadangan yang nggak bisa dikirim kemana-mana,
03:51dan di sisi lain kalau pressure dari bumi itu tidak keluar dari minyak itu kan alami ya,
03:57dia sudah ada pressure yang dibangun lewat pipa-pipa itu,
04:01kalau tidak disalurkan maka dia akan beku.
04:03Jadi itu membayangkan proses lagi restart itu bisa tahunan, dan itu butuh investasi jauh lebih mahal.
04:11Di saat situasi ekonomi global sangat buruk saat ini,
04:16tentu tekanan yang datang dari negara-negara Teluk pada Amerika Serikat akan sangat konkret.
04:22Maka kalau saya sih melihatnya, akhirnya ya, akhirnya si pihak Amerika Serikat mendengar juga apa yang disampaikan oleh Iran,
04:31bahwa perlu dipilah dua hal antara urusan energi dengan urusan nuklir.
04:37Urusan nuklir menurut saya dari pihak Iran ini narasi yang berkembang,
04:41dari pihak Teheran itu masih tetap konsisten.
04:44Mereka mempertanyakan sisi legalitas dari Amerika Serikat menjadikan urusan ini semata-mata hanya Amerika Serikat dengan Israel.
04:53Karena nggak ada dasar hukum internasionalnya dan mereka betul-betul nggak percaya bahwa dua negara ini bisa menjaminlah
05:02bahwa kedepannya itu nggak akan ada konsekuensi yang sangat buruk terhadap Iran.
05:06Dengan kata lain, Mbak Dina, kalau seandainya kita memprediksi ke depannya,
05:11kalau ada pembahasan negosiasi antara keduanya, titik temunya ada di Selat Hormuz, tidak di nuklir?
05:18Tidak di nuklir.
05:19Kalau nuklir itu berita baru berapa menit lalu dari pihak Iran itu kan juga mengatakan mereka setuju sebenarnya
05:26dengan statement yang jenerik saja soal nuklir.
05:29Ini bahwa long term management itu, bahwa dari pihak stop nuklir yang dia punya ada 400 kilogram itu
05:39nanti masih akan didiskusikan paling cepat dalam waktu 30 hari.
05:45Dan intinya tidak akan diperjelas tentang bagaimana nanti serah terimanya itu seperti apa.
05:53Jadi bahwa Iran komit bahwa akan giving up uranium, nah itu baru sampai kata itu saja.
06:00Jadi belum prosesnya menyerahkan, menyerahkannya ke siapa, kapan diserahkan, dan seterusnya.
06:05Dan dari pihak Israel tadi sudah mengeluarkan statement ya, menyusul statement dari Iran ini
06:09mengatakan bahwa Iran itu kapasitasnya sampai 400 kilogram enriched uranium yang sudah diperkaya.
06:15Dan itu artinya bisa memproduksi 11 nuklir bom.
06:19Ini kata berkode ya kalau dari pihak Israel, bahwa kalau ini tidak diserahkan kepada Israel
06:25itu intinya akan membahayakan Israel.
06:28Dan kita tahu baru kemarin minggu ini juga pihak Israel sudah mengirimkan senjata kepada Uni Emirat Arab
06:37yang posisinya persis depan-depanan.
06:39Jadi menurut saya kata kuncinya Israel ini masih akan terus menekan Amerika Serikat.
06:44Nah ini yang menarik ya Mbak Dina ya, karena kalau kita lihat Israel akan terus menekan Amerika Serikat
06:48terkait dengan nuklir di sisi lain, Amerika Serikat sebenarnya sudah mulai melunak
06:52dengan pembahasan terkait dengan Selat Hormuz sendiri.
06:54Bang Pizarro melihatnya seperti apa antara nuklir dan juga Selat Hormuz ini?
07:00Apakah nanti ketika kedua Iran maupun Amerika Serikat sudah deal,
07:05begitulah pembahasannya soal Selat Hormuz, perjanjian akan tercapai?
07:10Ya justru yang paling sangat urgen itu adalah pembahasan 48 jam setelah ini, Yasser ya.
07:16Karena kita melihat bahwa ada target MOU kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran
07:21itu bisa dicapai dalam 48 jam.
07:23Tetapi poin pentingnya memang bukan hanya sekedar Hormuz,
07:25poin pentingnya adalah pembahasan lanjutan setelah kemudian kesepakatan Hormuz itu dicapai.
07:30Karena ini menjadi titik yang paling riskan, paling sensitif ya,
07:33dan juga punya trauma diplomati yang sangat besar di sisi Iran.
07:36Kita ingat ya, 2019, GCPOA mereka sudah dalam kesepakatan,
07:41tetapi tiba-tiba Donald Trump menarik diri.
07:43Dan jangan lupa, ini titik krusialnya,
07:44karena ini keputusan akhirnya Mas Yasser, ini tetap di Moustaba Khomeini.
07:48Saya yakin juga seolah Hormuz ini juga,
07:50keputusan akhirnya ada di Moustaba Khomeini.
07:51Dan Moustaba Khomeini sendiri, ini dalam penyataannya sudah mengatakan,
07:54dia bahkan tidak mau menyerang ke negara ketiga.
07:57Seperti itu.
07:58Kalau di 2015, dia sempat menyerang ke negara ketiga kepada Rusia,
08:01sekarang Moustaba mengatakan, sama sekali tidak boleh satu centipun
08:06kesepakatan uraniumnya Iran itu dipindahkan ke negara lain.
08:09Karena apa? Ada trauma sejarah yang terjadi Mas Yasser.
08:13Kita mengetahui, Gaddafi dulu itu menyerahkan cadangan uraniumnya kepada Amerika Serikat,
08:18karena khawatir Gaddafi akan disadam Hussein-kan oleh Amerika Serikat
08:22setelah Perang Irak 2003.
08:24Setelah Gaddafi menyerahkan kepada Amerika Serikat,
08:27lewat Penterai Yaya, apa yang terjadi?
08:29Gaddafi tetap diserang, Gaddafi tetap diinvasi,
08:31dan nanti akhirnya dia jatuh pada tahun 2011.
08:34Kenapa? Karena dia tidak punya efek gentar lagi kan.
08:35Dia sudah tidak punya uranium lagi.
08:36Dia sudah tidak punya percintaan lagi.
08:38Itu saya kira yang dibaca Teheran hari ini.
08:40Mereka tidak mau menjadi Libya kedua.
08:42Mereka tidak mau menjadi Gaddafi kedua seperti itu.
08:44Makanya Moustaba Khomeini menginginkan bahwa uranium itu tetap ada di tangan Iran.
08:48Kalau kalau diserahkan, Iran bisa sangat resiko sekali,
08:52dia sangat rentan sekali, akan dilakukan serangan kembali oleh Amerika Serikat.
08:55Dan itu contohnya terjadi ketika invasi NATO dan Amerika Serikat melakukan serangan
08:59hingga kemudian membunuh Gaddafi pada tahun 2011.
09:01Dan ketika kalau seandainya Moustaba, Iran dalam hal ini tetap kekeh,
09:05pengen uranium ataupun nuklir ini tidak diotak-atik begitu dalam tanda kutip oleh Amerika Serikat,
09:11tapi Israel sebagai sekutunya Amerika ini akhirnya ketar-ketir begitu.
09:16Bisa dikatakan seperti itu.
09:17Nah, terbaru kan ada obrolan begitu, perbincangan lewat telepon seperti informasinya seperti itu
09:23antara Donald Trump dan juga Benyamin Netanyahu soal hal ini.
09:26Sebenarnya apa langkah yang diambil oleh Amerika Serikat untuk dalam tanda kutip
09:30menjinakan Israel soal perundingan ini, Mbak Dina?
09:33Tapi jangan dijawab dulu.
09:34Kita lanjutkan, Mr. Jeddah.
09:35Tetaplah bersama kami di Kompas TV.
09:39Kalau kita lihat tidak masuknya pembahasan soal nuklir ini bisa berdampak ke Israel begitu.
09:48Sehingga ada informasi terbaru bahwa dalam negosiasi ini Donald Trump juga sempat berdialog
09:53ataupun berdiskusi lah.
09:56Bisa dikatakan begitu dengan Benyamin Netanyahu.
09:59Mbak Dina melihatnya apa yang dilakukan Donald Trump dalam tanda kutip bisa menjinakan Israel.
10:04Sehingga ketika negosiasi omongannya soal hormus saja, jangan soal nuklir.
10:10Kalau saya melihatnya Israel itu meyakini bahwa Trump itu akan relatif bisa dipegang lah
10:16dari segi kesetiaannya pada Israel.
10:20Karena kalau diperhatikan Israel itu walaupun secara de facto, the euro itu masih negara demokrasi
10:28tapi faktanya, de facto nya itu sudah negara yang militeristik.
10:32Bahkan cenderung fasis ya.
10:34Jadi ultranasionalis dan yang berkuasa selain Netanyahu, partai-partai yang dominan juga partai kanan.
10:42Dan saat ini Trump walaupun Amerika Serikat posisinya masih negara demokrasi
10:47dan masih ada oposisi di sana, partai republikan
10:50tapi faktanya untuk kasus Iran ini nampak betul.
10:53Segala penyelesaian itu di satu tangan saja.
10:56Hanya di tangan dia dan satu kelompok kecil saja pengambil keputusan.
11:00Artinya Israel bisa melihat bahwa selama Trump masih dalam posisi yang kuat
11:05dan di dalam negeri Amerika Serikat ternyata posisi yang masih fokus ya
11:10masih cenderung anti sekali terhadap Iran, terutama di kubur republikan
11:15itu masih sangat kuat.
11:16Jadi kalau kita perhatikan Netanyahu ini pasti megang, dibisiki lah ya dengan oleh Trump
11:24bahwa yakin saja deh kamu kan harus memberi satu konsesi juga
11:28buat masyarakat Amerika Serikat supaya saya punya alasan untuk terus mendukung kamu.
11:33Saya kira itu cara dia membahasakan.
11:35Karena di dalam negeri harga minyak untuk masyarakat itu betul-betul melonjak tajam.
11:41Di sejumlah negara bagian itu bahkan sudah nemus dari 7 dolar per galon.
11:46Itu harga yang luar biasa fantastis naiknya.
11:49Plus lagi inflasi gara-gara tarif yang belum selesai juga kan.
11:53Kemarin dia ke China pikir ada selesai masalah ternyata tidak juga kan.
11:57Jadi artinya secara ekonomi masyarakat di sana juga tetap butuh ada insentif lah.
12:04Oke.
12:04Dari Bang Pizarro melihatnya seperti apa?
12:07Melihat bahwa apakah Trump sendiri nanti akan berubah pikiran
12:11atau tetap dengan pendirian akan finishing dari negosiasi ini
12:15jika melihat Iran tetap kekeh dengan pernyataannya bahwa dalam negosiasi
12:21tidak ada pembahasan soal isu nuklir?
12:23Iya ini justru problem utamanya Mas Yasser ya.
12:26Karena gini pertama gaya diplomasinya Trump itu transaksional
12:30dan kemudian cepat sekali berubah-ubah.
12:32Bahkan dia mengkhianati pernyataannya sendiri seperti itu.
12:34Jadi kadang ucapan Donald Trump itu juga tidak bisa 100% dipegang.
12:38Bukankah dulu ketika kesempatan dengan Amerika Serikat 2015
12:41Donald Trump pula yang kemudian mengkhianati?
12:43Bukankah ketika terjadi serangan Amerika Serikat kepada Iran
12:46itu terjadi di tengah negosiasi?
12:48Saya kira Iran pun juga dalam kondisi harap-harap cemas gitu.
12:51Dia menjalankan pola diplomasi yang tetap kemudian melakukan negosiasi
12:55diplomasi kepada Amerika Serikat
12:57tetapi juga tetap menjaga kekuatan soliditas militernya.
13:00Malah kan tidak heran tuh Mas Yasser ya.
13:0130 juta warga Iran itu disebut-sebut menjadi relawan
13:04untuk kemungkinan terjadi perang darat
13:06bahkan di siaran televisinya Iran itu
13:08sudah ada teknis simulasi penggunaan senjata.
13:11Saya kira itu juga pesan dari Teheran kepada Washington
13:13bahwa ketika negosiasi ini, diplomasi ini berjalan
13:16tiba-tiba dikhianati oleh Amerika Serikat
13:18Iran itu juga siap untuk kemudian melakukan kembali konfrontasi militer.
13:22Terlebih lagi kalau kita lihat Bang Pizarro
13:24alasan awal dari penyerangan yang dilakukan Amerika Serikat ini
13:28kan soal nuklir ya?
13:30Betul seperti itu.
13:31Dan ini kemudian menjadi titik kritisnya gini.
13:33Karena begini, ini ada perbedaan pendapat nih
13:36antara Amerika Serikat dengan Israel.
13:38Kalau Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan
13:40Iran cukup tidak punya senjata nuklir
13:41kalau Israel mengatakan
13:43Iran tidak boleh punya senjata nuklir
13:45tidak pula juga punya fasilitas nuklir.
13:47Saya kira ini di titik panas juga nanti
13:48komunikasi dia antara
13:50Nebenya Mineta Nyahu dengan Donald Trump.
13:52Dan jangan lupa Mas Yasser
13:53Oktober itu Israel akan pemilu.
13:55Mineta Nyahu dia butuh kemenangan
13:57dia butuh mengklaim juga
13:58hasil kesepakatan dengan Iran ini
14:00menguntungkan Israel.
14:00Kalau tidak menguntungkan, bukan tidak mungkin
14:02di tengah jalan akan dilakukan serangan kembali.
14:04Kita sudah lihat kasus Gaza.
14:05Mediatornya Amerika Serikat.
14:06Kesepakatan kita senjata Israel dengan Hamas.
14:08Tetap itu diserang sama Israel,
14:10dibombardir itu Gaza sama Israel.
14:12Kesepakatan Libanon,
14:13pemerintah Libanon dengan Israel.
14:15Ditengahi juga oleh Washington.
14:16Apa yang terjadi?
14:17Porak-porak anda sekarang.
14:18Serangan antara Hezbollah dengan Israel itu
14:20terus beranjutan.
14:21Itulah kemudian,
14:22bukan kita tidak mau optimis Mas Yasser,
14:24tidak ingin ada harapan ini.
14:25Tetapi saya agak...
14:26Tapi melihat kenyataan yang terjadi dengan pola pikir Trump
14:29yang juga bisa kita nilai berubah-ubah begitu ya.
14:33Bang Pizarro karena...
14:34Ucapan Trump sama Netanyahu tidak bisa dipercaya.
14:37Sehingga kalau saya kata Bang Pizarro,
14:39ucapan Trump dan juga Netanyahu ini sulit dipegang begitu.
14:42Jadi Mbak Dina sendiri melihat
14:43ini perundingan negosiasi yang sudah terlihat oleh kita semua ini
14:48arahnya akan kemana?
14:49Akan jelas terjadi negosiasi atau tidak bisa ternyata?
14:54Masih rawan.
14:55Menurut saya masih sangat rawan.
14:57Jadi kalau saya membayangkan Iran itu curiganya pasti luar biasa besar.
15:02Tapi positive thinkingnya adalah
15:05bahwa lebih banyak negara sekarang yang sudah mengarah pada perbincangan
15:09dengan menu yang relatif lebih bisa diterima.
15:13Jadi tinggal masalahnya apakah Israel pertama
15:17mau menerima itu dan bisa bertahan dalam jangka waktu yang relatif panjang.
15:21Karena kalau bangkit lagi ini masalah di Hormuz
15:24dan kata kuncinya di sini adalah bahwa Hormuz sudah diserahkan
15:28bukan hanya kepada Iran tapi dengan Oman.
15:32Oman kan relatif netral ya di matanya Amerika Serikat.
15:36Jadi kemungkinan besar gara-gara ini ada dua belah pihak yang akan mengurus Hormuz
15:40maka harusnya bisa diterima.
15:42Nah tapi sekali lagi karena tetangganya ini Uni Amerika Terab sudah bersekutu dengan
15:46atau ya kita bilang belum ada mutual agreement sih di antara mereka
15:50tapi bahwa mereka dilindungi oleh Israel itu sudah terjadi.
15:54Dan mereka sudah memilih untuk bikin jalan sendiri kan Uni Amerika Terab.
15:58Jadi menurut saya masih sangat rentan, masih sangat rawan.
16:02Masih sangat rentan, masih sangat rawan.
16:04Tapi saya yakin Bang Pizarro, Mbak Dina dan kita semua diberharap
16:08ini ada negosiasi ya antara kedua belah pihak Iran dan juga Amerika Serikat
16:12sehingga betul-betul negosiasi kesepakatan yang dicapai
16:15gak ada lagi tuh perang yang terjadi di Timur Tengah.
16:17Terima kasih Bang Pizarro, terima kasih Mbak Dina
16:20atas perspektifnya di Kompas Petang.
16:22Salam sehat semuanya.
16:22Terima kasih.
Komentar