00:00Tema kita hari ini adalah Jangan Suka Jengkel.
00:03Dan tadi saya janjikan bahwa kalau kita suka jengkel,
00:07nimbulin penyakit apa ya?
00:09Apa Ustadz?
00:11Kalau jengkelnya diem biasanya sesak nafas.
00:21Coba siapa yang disini suka sesak nafas?
00:27Jujur, jujur.
00:28Alhamdulillah.
00:30Asma bahkan.
00:32Asma sampai ke asma-asma.
00:34Kalau itu asma dari ilmu.
00:36Insya Allah.
00:39Ilmu pengetahuan.
00:41Bukan-bukan.
00:43Tapi kalau jengkelnya di tari itu jadi sesak nafas.
00:45Jadi sesak nafas.
00:47Jadi kalau marahnya diem.
00:49Kalau beliau ini marahnya nggak diem,
00:50langsung war-war-war-war.
00:53Oh, diem langsung.
00:55Betul nggak bu?
00:57Nggak ibu.
00:59Bener kan ya?
01:01Bener kan ya?
01:03Sebentar, sebentar, sebentar, sebentar.
01:06Kenapa, kenapa, kenapa?
01:07Ya, airpan kemarin waktu hari minggu.
01:12Saya tiba-tiba sesak nafas.
01:14Entah kecapean atau gimana ya.
01:17Pas ada tagihan utang kali?
01:18Bukan.
01:19Pas hari Jumatnya ada kegiatan, pengajian gitu ya.
01:23Mungkin kecapean atau masuk angin, nggak tahu.
01:27Saya langsung peluk, pilek.
01:29Dan malamnya sesak nafas.
01:31Itu mah mampet kali ibu?
01:32Nggak, nafas.
01:33Oh, nafas.
01:34Besoknya hari minggu saya di nebo gitu dua kali.
01:38Bisa kejadian mendadak itu juga bisa Ustaz?
01:41Bisa.
01:42Jadi kuotanya sudah sampai gitu?
01:44Kuotanya sudah sampai.
01:46Iya.
01:47Lagi jengkel sama suami bisa aja.
01:50Pada waktu itu habis pengajian pulang-pulang jengkel sama suami.
01:54Diam aja, diam begini.
01:56Terus sesak nafas ya bisa.
01:58Oh, suami yang nggak ada berarti mikirin suami orang.
02:04Misal, misal.
02:05Misal.
02:06Jadi sebenarnya sesak nafas itu nanti banyak ragamnya.
02:10Tapi salah satunya itu.
02:11Jengkelnya disimpen, diem.
02:13Terus sesak nafas.
02:14Kalau jengkelnya dikeluarkan?
02:16Jantung koronel.
02:18Ini adalah penyakit yang kalau sudah sampai ke kuotanya ya, Kai?
02:22Ke kuotanya, ya.
02:23Tapi kalau bisa ya nggak usah lah.
02:26Marah dikeluarin nggak usah.
02:28Kalau memang ada sesuatu nggak serak diobrolin.
02:34Jadi diobrolkan musyawarah.
02:37Jadi itu cara-cara islami.
02:39Jangan terus nggak cuak.
02:42Sebetulnya marah, jengkel itu adalah manusiawi.
02:45Ya, manusiawi.
02:45Tapi menyikapinya seperti apa?
02:48Manusiawi.
02:49Manusiawi itu ya memang banyak salah dan dosa itu.
02:52Tetapi kalau kita ingin belajar menjadi orang yang takwa, itu kan harus punya patokan.
02:57Ilmunya ada, Quran, sunnah, hadis.
03:00Banyak ilmunya.
03:01Jadi harus ada patokan.
03:03Ada patokan jadi ngerti, oh saya nggak boleh marah.
03:07Oh saya nggak boleh ngejek.
03:08Oh saya nggak boleh fitnah.
03:10Itu harus ada dalam otak kita.
03:12Kalau tidak, bukannya orang biasa.
03:14Nah ustadz atau seorang alim aja tetap bisa dia, karena dia nggak ngerti patokan ilmunya.
03:21Dia ilmu hanya hafalan.
03:23Ilmu dia hanya hafalan.
03:25Tapi kalau dia belum praktekan, benar dia bisa menjadi fitnah nanti.
03:30Nah ini kita harus hati-hati.
03:32Kalau kita punya patokan, bagaimana kita punya patokan, kita tidak boleh memfitnah orang.
03:41Ya belajar untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang dimana kata-kata ini belum tentu benar.
03:47Kita nggak tahu benar nggaknya.
03:49Kemudian jangan menjadikan orang lain jengkel.
03:55Kata-kata kita yang diomongkan jangan pedes-pedes.
03:58Jangan nggak enain telinga.
04:00Itu harus belajar dari situ.
04:03Nah itulah namanya ketakwaan.
04:05Takwa pada Allah Ta'ala itu adalah patuh terhadap perintah Allah yang ada dalam Quran.
04:11Ati'ullaha wa rasul.
04:13Taat kepada Allah dan juga pada Rasul.
04:16Taat pada Allah yaitu kita taat apa isi Quran.
04:20Kalau Allah menyuruh fa'fu'anhum, ya jangan marah.
04:25Kalau masih kita marah, silakan nanti di akhirat itu akan belajar.
04:32Badan itu dibuat pelajaran malaikat untuk disiksa.
04:39Dibikin sesaknya sana nggak bisa nafas.
04:41Iya di sana, di akhirat.
04:43Di dunia sih orang-orang yang begitu kesannya menang.
04:46Iya tapi di akhirat.
04:50Mengerikan.
04:51Jadi kalau kita gitu, ah saya suka jengkel kok nggak sesak nafas.
04:55Satu, mungkin belum sampai kuotanya.
04:58Belum sampai padanya.
05:00Atau yang kedua, Allah membiarkan nanti balasannya di akhirat.
05:04Iya bisa seperti itu.
05:05Jadi sebetulnya ketika sesak disyukuri, disyukuri.
05:08Dan mati yang kata tahu penyebabnya.
05:10Ada kesempatan untuk merubah tingkah lakunya.
05:12Dan bertobat, betul?
05:14Tobat benar harus.
05:15Jadi kita itu sebenarnya harus tahu.
05:21Apa saja musibah yang engkau terima.
05:25Apa saja musibah yang engkau terima.
05:29Disebabkan dari buah tanganmu sendiri.
05:32Jadi jangan kita itu merasa bahwa diri kita itu nggak pernah punya dosa.
05:39Enggak.
05:40Jadi kalau sudah musibah itu diceritakan dalam Quran.
05:42Bahwa itu dari buah tangan kita berarti itu dosa kita.
05:47Nah dosa itu dimunculkan nanti di dunia.
05:50Kalau memang itu sudah masuk takarannya.
05:54Sudah masuk.
05:55Jadi akan dikeluarkan.
05:57Biar apa?
05:58Biar orang tersebut itu memohon ampun pada Allah Ta'ala.
06:01Biar dia bisa menghilangkan dosanya dengan mohon ampun.
06:05Di dunia.
06:06Karena nanti kalau sudah di akhirat.
06:09Ditimbang.
06:13Setungguhnya amal perbuatan baik menghilangkan perbuatan buruk.
06:17Emang kita tahu perbuatan baik kita itu lebih banyak daripada dosa kita.
06:21Coba saya tanya.
06:23Berani siapa yang berani angkat tangan?
06:25Nah betul.
06:26Nah karena gak tahu kita harus berlomba-lomba untuk melakukan ketakwaan pada Allah Ta'ala.
06:32Kebaikan, kebenaran.
06:34Yang jelek dihilangkan.
06:36Bagaimana Allah itu memberikan tobat.
06:39Minta ampun.
06:41Itu dijelaskan dalam Quran banyak.
06:43Kenapa kita tidak mau.
06:45Ya.
06:46Itu salah satu.
06:47Tapi jangan sampai nunggu sakit dulu baru bertobat.
06:50Jangan.
06:50Jangan sampai nunggu dulu ya.
06:52Sebelum sakit itu tiba.
06:53Rubahlah.
06:54Perbaiki diri sendiri.
06:55Nanti ada orang sakit.
06:56Biarin aja.
06:57Ada siraman kolbu.
06:58Nanti aku kesana aja.
07:00Kalau masih ada usianya.
07:02Nanti aku kesana.
07:03Ya.
Komentar