Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Rupiah dan minyak kompak bergejolak meninggalkan angka asumsi APBN 2026. Desakan agar pemerintah segera mengajukan APBN Perubahan kini semakin menguat.

Ekonom dan penerliti LPEM FEB Universitas Indonesia, Teuku Riefky bilang, APBN Perubahan bertujuan untuk menyesuaikan realita harga energi dan kurs sudah tidak relevan dengan realita Maret 2026.

Ketika rupiah sudah menyentuh 17.000 per dollar, apakah ada gejala yang sama dengan krisis moneter pada tahun 1998? Mampukah visi pertumbuhan 8 persen Presiden Prabowo tetap tegak berdiri di tengah badai fiskal ini? Bagaimana caranya agar gejolak minyak dan rupiah tidak merampas momentum ekonomi lebaran?

#kombis #ekonomi #mudik #lebaran

Baca Juga Bikin Nyaman Pemudik, Rest Area Milik Polisi Disulap Jadi Wahana Bermain Berkonsep Doraemon di https://www.kompas.tv/regional/657455/bikin-nyaman-pemudik-rest-area-milik-polisi-disulap-jadi-wahana-bermain-berkonsep-doraemon



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/657460/full-rupiah-ke-17-000-per-dollar-ini-gejala-yang-sama-beda-dengan-krisis-1998
Transkrip
00:00Tidak ada dalam keadaan krisis ya
00:02Masih normal apa krisis?
00:05Oh definisi krisis itu kayak gimana sih?
00:07Indikator krisis itu gimana?
00:10Indikator krisis itu kalau untuk saya ya
00:11Ekonomi sudah resesi
00:14Terus global juga resesi semua
00:16Tidak ada cara lain untuk memperbaiki ekonomi
00:19Atau semua cara memperbaiki ekonomi itu
00:22Tidak bisa menimbul membalik arah pertumbuhan ekonomi
00:26Kecuali ada stimulus tambahan di perekonomian
00:29Kira-kira itu
00:30Ada konsumen confidence
00:31Yang survei BI sama APS
00:34Itu tetap bagai terpisah
00:35Sama naik semua
00:36Ada lagi retail sales index dari BI naik juga
00:41Ada lagi penjualan mobil dan asosiasi naik juga
00:45Kencang mungkin teletenggambaran naik kencang
00:477% pertumbuhannya sebelum tahun lalu negatif
00:50Tahun lalu negatif
00:53September-Oktab mulai positif
00:54Sekarang tumbuhnya 7%
00:55Ada lagi mandiri
00:57Spending index
00:58Mandiri spending index
01:01Pasti juga kan
01:02Itu kan dari lembaga-lembaga yang berbeda
01:06Semuanya konfersi ke sana
01:08Artinya emang ekonomi yang betul-betul membaik
01:10Dalam satu tahun
01:12Momen mudik adalah puncak pertumbuhan ekonomi Indonesia
01:16Tetapi
01:17Fitch ratings justru mengingatkan atau bahkan mengkritik kredibilitas fiskal Indonesia
01:23Bagaimana Indonesia tidak kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi di periode mudik
01:282026
01:29Saya Diyah Megasari Anjaya
01:30Tanya langsung ke Mas
01:31Tuku Rifki
01:33Pendeliti dan ekonom
01:34LPM FEB Universitas Indonesia
01:37Mas
01:37Gimana caranya agar momentum lebaran ini tidak hilang
01:40Dari pertumbuhan ekonomi
01:41Pertama mungkin kalau kita bicara terkait dengan pertumbuhan ekonomi
01:47Kita perlu lihat dulu sumber-sumber pertumbuhan ekonominya itu apa
01:50Nah kalau kita lihat di Indonesia itu kan selalu disampaikannya adalah
01:5650% dari ekonomi kita atau lebih itu adalah konsumsi masyarakat gitu
02:01Nah ini kan artinya adalah bagaimana
02:04Masyarakat ini konsumsinya itu bisa tetap terjaga
02:07Walaupun tidak ada faktor musiman seperti lebaran gitu
02:11Atau mungkin kalau di akhir tahun biasanya ada Nataru
02:15Artinya kan
02:15Gimana kita bisa menjaga sustenabilitas dari belanja ini tanpa ada faktor-faktor tersebut
02:22Nah tentu kalau kita bicara dengan bagaimana masyarakat melakukan konsumsi
02:26Maka daya belinya harus ada gitu
02:28Nah daya belinya harus ada
02:30Ini bagaimana caranya kalau mereka punya income yang steady
02:34Mereka punya lapangan kerja yang berkualitas gitu
02:37Nah ini yang kemudian masih sangat jarang terjadi di Indonesia
02:41Ini mungkin salah satu indikator yang ingin saya sampaikan itu adalah
02:45Di tahun 2025 itu kita FDI kita justru tumbuhnya negatif selama 3 kuarter gitu
02:52Padahal kita lagi enggak krisis gitu
02:54Kita pun lihat di tahun 2025 itu pertumbuhan atau penerimaan perpajakan kita tumbuhnya negatif
03:01Hal yang juga hampir jarang terjadi kalau tidak ada krisis gitu
03:05PPH tumbuh negatif, PPN tumbuh negatif
03:08Artinya kan income masyarakat turun lalu kemudian belanja masyarakat turun gitu
03:12Nah ini yang kemudian pemerintah perlu betul-betul benahi sehingga kemudian tanpa adanya booster
03:20Booster seperti Ramadan atau Lebaran tetap masyarakat bisa belanja dengan level yang cukup tinggi
03:27Kalau dengan gangguan harga minyak lalu level rupiah yang tembus 17
03:32Sedangkan pemerintah kan sudah men-set up ekonomi kita di kuartal pertama adalah 5,5 persenan
03:40Pertanyaannya adalah
03:43Mungkinkah 5,5 persen ini akan tercapai dengan gangguan-gangguan ini?
03:48Mungkin akan lebih sulit gitu
03:50Tapi mungkin yang ingin saya garis bawahi adalah dua pertanyaan
03:55Satu, apakah pertumbuhan 5,5 persen ini mungkin atau enggak?
03:59Ada kemungkinan bisa gitu
04:01Kenapa? Karena kalau kita melihat pemerintah sangat jorjoran melakukan investasi
04:06Kemarin impor banyak barang modal untuk ADMP
04:09Lalu kemudian juga belanja pemerintah di berbagai pos anggaran juga sangat didorong
04:15Jadi ada kemungkinan rilis BPS mencapai 5,5 persen
04:21Pertanyaan kedua dan ini mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah
04:24Apakah tumbuh 5,5 persen itu berkualitas atau enggak?
04:29Nah ini yang belakangan sering kita pertanyakan
04:32Pertumbuhan kita ini yang dilaporkan BPS itu di 5 persen
04:37Tapi kita menganggapnya itu adalah pertumbuhan yang kurang berkualitas atau tidak berkualitas
04:43Kenapa? Karena belakangan kita tumbuh itu ekonomi masih di kisaran 5 persen
04:48Tapi pertumbuhan upah real atau daya beli masyarakat itu kurang dari 1 persen
04:54Artinya apa? Artinya pertumbuhan ekonomi yang 5 persen ini bukan dinikmati oleh sebagian besar masyarakat
05:00Bukan dinikmati oleh para tenaga kerja
05:03Tapi lebih dinikmati oleh para pemilik modal gitu
05:07Capital owner
05:07Nah ini yang kemudian menjadi isu ketimpangan yang semakin parah di Indonesia
05:12Makanya ini yang bisa mendudukan atau paling tidak bisa menjelaskan sedikit banyak
05:18Kenapa di satu sisi kita tumbuh 5 persen
05:20Tapi kemudian kelas menengah kita terus menurun
05:23Karena tumbuhnya ini bukan pertumbuhan yang inklusif yang dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia
05:29Pertumbuhan ekonomi kita kualitasnya blur
05:34Lalu Fitch Ratings juga mengkritisi kondisi ekonomi di Indonesia
05:40Apakah bahwa Fitch mendowngrade outlook
05:44Pemeringkat Indonesia
05:47Menjadi sinyal bahwa
05:49Sinyal bahwa pasar sebenarnya sudah sangat meragukan disiplin fiskal kita
05:54Pertama mungkin yang lebih diragukan oleh pasar itu adalah
05:59Kemampuan fiskal kita selain di disiplinnya adalah
06:03Untuk kemudian memenuhi kewajibannya
06:05Membayar utang
06:06Nah ini yang kemudian menjadi
06:10Hal yang sebetulnya jarang dibahas gitu
06:14Dari dulu kita kan selalu mendengar adalah
06:17Narasi fiskal bahwa berhutang itu tidak masalah
06:21Asal produktif
06:22Asal kemudian meningkatkan penerimaan
06:26Itu kayaknya sudah di brainwash deh
06:27Nah itu kan kita dari dulu mendengar itu
06:30Dan sebetulnya pada poin tertentu itu betul terjadi
06:33Mungkin di awal tahun 2008, 2009, 2010
06:38Terjadi akumulasi utang
06:40Kemudian terjadi peningkatan penerimaan
06:42Lewat periode itu peningkatan utang tidak dibarengi oleh peningkatan penerimaan
06:47Sehingga kemudian kalau kita lihat tadi
06:50Tadinya mungkin dari 100% penerimaan kita yang digunakan untuk kebutuhan pembayaran utang
06:57Hanya 15%, 20%
06:59Sekarang sampai 34% gitu
07:03Bayar bunga utang plus pokok cicilannya
07:0634% debt service ratio istilahnya
07:10Nah itu menunjukkan adalah bahwa akumulasi utang
07:13Tidak mencerminkan tambahan produktivitas di masyarakat yang bisa meningkatkan penerimaan gitu
07:19Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa belanja-belanja selama ini ada itu bukan belanja yang produktif
07:26Dan kalau kita melihat pola belanja pemerintah sekarang ini tidak menunjukkan pola belanja yang lebih produktif
07:33Bahkan di beberapa aspek justru kita melihat penurunan produktivitas belanja dari fiskal kita
07:39Nah ini yang kemudian menjadi point of concern dari lembaga-lembaga rating
07:44Fitch, Moody's ini akumulasi utang secara terus menerus
07:49Sedangkan belanjanya tidak belanja produktif
07:51Gimana kemudian di depan utang-utang ini bisa terbayar gitu
07:54Itu satu
07:55Kedua mungkin yang juga jarang diangkat adalah bahwa poin dari Fitch dan Moody's ini
08:03Highlight terkait contingent liabilities
08:06Artinya adalah potensi kewajiban kalau ada kerugian dari danantara
08:13Ini kan belum jelas
08:14Dulu kan kalau BMN merugi bisa dilakukan PMN
08:18Penanaman modal negara
08:20Dan itu kan dilakukannya individual BMN
08:24Misalnya katakanlah BMN A perlu suntikan modal disuntik APBN gitu
08:29Itu cukup jelas gitu bahwa BMN ini memberikan exposure beban ke fiskal
08:35Sekarang ada danantara gitu
08:37Katanya danantara ini nggak membayar lagi dividen
08:40Tapi kalau BMN ada apa-apa danantara yang handle sendiri
08:43Nah pertanyaan dari lembaga rating
08:46Kalau yang default adalah danantaranya
08:48Kontingensinya apa nih?
08:50Kontingensinya apakah masuk ke APBN atau nggak gitu
08:52Karena semakin besar gitu
08:54Ini kan udah agregasi dari semua BMN jadi satu
08:57Kalau default semuanya default beratus-ratus atau beribu-ribu triliun gitu
09:02Yang mereka bilang asetnya gitu
09:04Nah apakah ini jadi tanggungan APBN juga
09:07Kalau misalnya worst case scenario bangkrut
09:10Nah itu yang ditanyakan oleh lembaga rating
09:12Karena belum ada kejelasan gitu
09:14Nah yang dibutuhkan adalah bukan misalnya
09:19Fiskal harus A harus B
09:20Tapi mereka lebih ke hal yang mendasar
09:22A atau B nih atau gimana gitu
09:25Itu aja belum ada
09:26Kepastian itu
09:27Kepastian itu belum ada
09:28Sehingga membuat mereka mendowngrade
09:32Outlooknya
09:33Belum sampai di ratingnya
09:34Sebenarnya keperingatan fish rating itu juga tepat satu tahun danantara ya kemarin
09:38Cuma gini mas
09:39Kita balikin lagi ke masalah utang
09:41Ini kan concern banget ya tentang kredibilitas fiskal kita
09:44Seperti itu
09:45Rasio utang kita memang masih jauh di bawah
09:48Ambang batas yang diatur oleh undang-undang
09:50Yaitu 60%
09:51Tetapi mas ini trennya akan naik terus ya
09:55Sebenarnya bagaimana
09:56Apa bedanya Indonesia
09:58Negara berkembang seperti Indonesia
10:00Emerging
10:01Dengan negara maju seperti
10:03Ya kok boleh negara maju aja
10:06Rasio utangnya melebihi
10:08Berapa kali lipatnya
10:10Seperti itu
10:11Ini penjelasannya seperti apa sih
10:12Apa bedanya Indonesia dengan
10:13Negara lain
10:14Selain dari tadi yang mas Rifki jelaskan
10:17Dari sisi pendapatan
10:18Ya
10:18Contoh pertama mungkin
10:20Ini satu hal adalah
10:23Dari tenor utangnya
10:25Rata-rata tenor utang
10:26Ini saya ambil contoh adalah
10:28Perbandingan Indonesia sama Singapura
10:31Kalau saya gak salah
10:33Indonesia itu rata-rata
10:34Jatuh tempo utang itu
10:368-10 tahun
10:37Jadi 40% dari PDB ini
10:40Perlu lunas dalam
10:428-10 tahun
10:43Nah
10:44Singapura
10:45Itu mungkin lebih tinggi
10:47Dia itu sampai
10:49Katakanlah
10:50Apa
10:51Di atas 100% PDB
10:53Mungkin 120 atau mungkin lebih
10:55Tapi mereka
10:57Jatuh tempo utangnya
10:58Bisa 50 tahun
10:59Jadi
11:00Utang yang
11:01Dia
11:02Mungkin
11:03Satu setengah kali
11:04Atau 1,2 kali lipat
11:05PDB tahun ini
11:06Tapi
11:07Dia bisa punya waktu
11:08Nyicil 50 tahun
11:09Kita hanya 10 tahun
11:11Jadi
11:12Tentu mereka
11:13Cicilan per tahunnya
11:14Jadi lebih kecil
11:15Jadi lebih murah
11:17Itu satu
11:18Kedua
11:19Adalah
11:20Rasio
11:21Pajak
11:21Ini kan kita
11:22Bayar utang itu
11:23Bukan dari PDB
11:24Tapi dari
11:25Penerimaan
11:26Perpajakan
11:26Negara-negara maju
11:28Rasio utangnya
11:29Bisa di atas
11:3030%
11:31PDB
11:3130%
11:34PDB
11:35Jadi kalau kita kan
11:35Hanya 9-10%
11:37Jadi
11:37Kemampuan bayar mereka
11:39Itu sudah
11:40Lebih
11:40Tiga kali lipat
11:41Lebih besar dari
11:42Sisi perpajakan
11:43Nah
11:44Yang berikutnya adalah
11:46Belanja mereka produktif
11:48Jadi
11:49Belanjanya ini
11:50Belanja fiskalnya
11:51Digunakan untuk
11:52Pembangunan infrastruktur
11:54Untuk kemudian
11:56Proyek-proyek
11:56Yang kemudian
11:57Returnnya jelas
11:58Ini bukan
11:59Banyak-banyak
12:00Proyek yang kemudian
12:01Lalu kosong
12:01Atau proyek yang kemudian
12:03Secara sosio-ekonomik
12:04Tidak menghasilkan
12:05Positive return
12:06Tapi
12:06Proyek-proyek yang betul-betul
12:08Menghasilkan
12:09Positive return
12:10Gitu
12:10Nah sehingga
12:11Kemudian
12:12Mereka ini
12:12Kemampuan bayarnya
12:13Juga lebih solid
12:14Dibanding kita
12:15Dan mungkin
12:16Hal lain yang perlu
12:17Saya highlight adalah
12:18Di negara maju
12:20Itu informalitasnya
12:21Sangat rendah
12:22Gitu
12:22Ini
12:22Memang masalah struktural
12:24Kita yang bayar pajak
12:25Mungkin hanya setengah
12:26Dari penduduk Indonesia
12:28Atau bahkan kurang
12:28Gitu
12:29Mereka 100%
12:30Atau hampir 100%
12:32Bayar pajak
12:33Kita bumikan lagi
12:34Tentang bunga utang
12:35Mas
12:35Ini kan 17%
12:36Dari pendapatan
12:37Selama ini kita selalu
12:38Fokusnya ke rasio utang
12:40Terhadap PDB
12:42Kalau masyarakat
12:43Masyarakat pinjam
12:44Uang di perbankan
12:46Itu kan yang dihitung
12:46Cash flow-nya
12:47Ya betul
12:48Bukan aset yang dimiliki
12:50Betul
12:50Nah ini yang disorot oleh
12:52Fitch juga
12:53Cash flow-nya
12:56Bagaimana nasib cash flow kita
12:57Sebenarnya di kuartal pertama
12:59Karena
13:00Ya itu
13:01Mengklaimnya sih naik
13:02Cuma saya ragu
13:04Karena beberapa kali
13:05Klaim naik
13:06Pajak klaim naik
13:07Ternyata itu bruto yang naik
13:09Sedangkan netonya tidak
13:10Ya betul
13:11Nah seberapa clear sih
13:13Kita bisa menjelaskan
13:1317% dari pendapatan ini
13:15Hanya untuk membayar
13:16Bunga loh
13:17Artinya apa
13:18Ada mismatch
13:19Kita akumulasi utang
13:20Tapi belanjanya
13:22Nggak membuat
13:22Penerimaan kita
13:23Bertambah
13:25Gitu
13:25Nah ini yang apa
13:26Yang kemudian
13:27Kita perlu soroti
13:28Kenapa ini menjadi penting
13:30Karena kalau
13:31Kita nggak
13:32Kemudian meningkatkan
13:33Penerimaan kita
13:34Lama-lama penerimaan kita
13:36Semuanya habis untuk bayar utang
13:37Gitu
13:38Bayangkan sekarang
13:39Utang plus cicilan pokok
13:41Sudah 34% dari penerimaan
13:43Berarti kan kita punya
13:44Fiscal space
13:45Itu sekitar
13:46Katakanlah
13:4866%
13:49Betul
13:4966% dari PDB
13:51Ini 66% dibagi lagi
13:53Untuk belanja pegawai
13:55Transfer ke daerah
13:56Subsidi energi
13:57Kalau penerimaan kita
13:58Nggak naik
13:59Utangnya terus naik
13:59Ini akan terus menyempit nih
14:01Yang kita bisa belanjakan
14:02Karena udah kemakan untuk
14:04Bayar utang
14:05Jadi disini pentingnya
14:08Bagaimana
14:08Masyarakat menyoroti
14:10Betul-betul belanja negara itu
14:12Untuk kebutuhan yang
14:13Betul-betul-betul
14:15Untuk betul-betul produktif
14:17Gitu
14:17Karena kalau nggak
14:17Sisa anggaran
14:19Untuk hal-hal lain
14:20Menjadi sangat-sangat
14:21Terbatas dan
14:22Terkikis
14:23Masalahnya adalah
14:25Tidak hanya besaran utang
14:26Tetapi utang kita juga
14:27Dalam bentuk dolar Amerika
14:28Rupiah
14:29Menembus level 17 ribu
14:31Kemana Bank Indonesia
14:33Setelah ini
14:33Saya di Megasarian Jaya
14:35Bersama Mas Tegu Rifki
14:37Dari Universitas Indonesia
14:38Mas Rifki
14:41Rupiah sudah tembus 17 ribu
14:44Kemarin
14:45Tapi Bank Indonesia
14:47Belum ada satu
14:48Pernyataan pun
14:49Apakah 17 ribu
14:51Dekat-dekat 17 ribu
14:52Ini akan menjadi titik
14:54Keseimbangan baru rupiah
14:55Terhadap dolar
14:56Ada kemungkinan
14:57Sebetulnya
14:58Kalau kita melihat
15:00Berapa sih nilai
15:01Wajarnya
15:02Wajarnya nilai rupiah
15:03Ini agak sulit
15:05Untuk kita
15:10Menetapkan di angka berapa
15:11Karena rupiah kita
15:13Somehow ini terus
15:14Terjadi depresiasi
15:16Walaupun kita tidak
15:17Sedang dalam
15:18Krisis
15:19Jadi
15:19Rupiah tembus 17 ribu
15:21Ini kan bukan
15:22Fenomena yang
15:23Mendadak 17 ribu
15:24Tapi
15:25Sebetulnya
15:25Kalau kita lihat
15:26Tarik setahun ke belakang
15:27Satu setengah tahun ke belakang
15:29Itu pelan-pelan
15:30Dia merangkak naik
15:31Tanpa kemudian
15:32Kita betul-betul
15:33Ada krisis
15:34Jadi ini yang kemudian
15:36Menjadi pertanyaan
15:37Kalau rupiah kita
15:38Terus melemah
15:39Artinya kan
15:40Terus ada
15:41Arus modal keluar
15:42Kalau terus ada
15:44Arus modal keluar
15:45Terus ada
15:46Capital outflow
15:47Berarti ini
15:48Sinyal
15:49Confidence dari investor
15:50Semakin
15:51Melemah terhadap Indonesia
15:53Nah
15:54Pergerusan
15:55Atau tergerusnya
15:57Investor confidence ini
16:00Akan membentuk
16:01Harga rupiah tadi
16:02Sekarang memang
16:03Ada trigger
16:04Perang
16:05Perang Iran-US
16:07Sehingga terjadi
16:09Depresiasi
16:10Banyak negara juga
16:10Seminggu belakangan
16:12Terdepresiasi
16:13Tapi sebelumnya
16:14Kayaknya hanya Indonesia
16:16Yang secara persisten
16:17Terus mengalami
16:18Depresiasi
16:19Dan ini memang
16:20Perlu disampaikan
16:22Oleh Bank Indonesia
16:23Kira-kira Bank Indonesia
16:25Mau keep
16:25Atau mau fight
16:27Atau mau menjaga
16:28Stabilitas
16:28Nilai tukar kita
16:30Di berapa
16:30Karena salah satu
16:31Mandat utama Bank Indonesia
16:33Adalah
16:33Menjaga stabilitas
16:34Nilai tukar rupiah
16:35Bukan pertumbuhan ekonomi
16:36Betul
16:37Bukan pertumbuhan ekonomi
16:38Menjaga
16:38Itu mandat utamanya
16:40Sebelum
16:40Kalau mau ditambahkan
16:41Pertumbuhan ekonomi
16:42Sebelum itu adalah
16:43Menjaga stabilitas
16:44Nilai tukar rupiah
16:45Nah mereka
16:46Mau menjaga
16:46Di harga berapa
16:47Ini perlu disampaikan
16:49Sehingga kemudian
16:50Investor juga
16:51Bisa punya
16:52Anchor
16:52Mereka mau
16:53Expect rupiah
16:54Di berapa
16:55Selain investor
16:56Ini juga penting
16:57Untuk dunia usaha
16:58Sektoril
16:59Karena dunia usaha
17:00Sektoril
17:01Ini kan mereka
17:02Perlu merakukan
17:02Perencanaan
17:036 bulan ke depan
17:05Misalnya mereka
17:05Beli inventory
17:06Di harga berapa
17:07Mereka melakukan
17:08Shipping harga berapa
17:10Forwarding berapa
17:11Itu kan perlu
17:12Ada asumsi nilai tukar
17:13Yang kalau BI
17:14Tidak meng-anchor
17:15Ke angka yang
17:16Confidence
17:17Maka ini banyak sekali
17:18Uncertainty
17:19Belum lagi
17:20Kalau kita bicara
17:21Nanti
17:21Cost of hedging
17:22Dari nilai tukar ini
17:24Akan semakin mahal
17:25Tanpa ada
17:26Stance yang kuat
17:28Dari Bank Indonesia
17:29Mas Rifki
17:30Men-cue kita
17:31Pak Purbayakan
17:32Sudah menampik ya
17:33Bahwa
17:33Ekonom salah
17:34Yang bilang krisis
17:35Tidak ada krisis
17:36Orang ekonomi
17:37Juga tumbuh
17:37Tetapi
17:38Begini
17:39Arah kami adalah
17:40Sebenarnya
17:41Tidak menakut-nakuti
17:42Tetapi lebih ke
17:42Waspada
17:43Lebih berhati-hatilah
17:45Meskipun krisis ditampik
17:47Adakah indikator
17:49Atau parameter-parameter
17:50Yang mengarah ke 98
17:51Saya rasa gini
17:53Kalau kita membandingkan
17:55Kondisi sekarang
17:56Dengan 98
17:57Pertama
17:57Saya membandingkan
17:58Apa-apa saja
17:59Yang berbeda
18:00Satu
18:01Yang berbeda adalah
18:02Di kasus 98
18:04Itu krisisnya
18:05Berdasar
18:05Berasal dari
18:06Luar negeri
18:08Itu kan
18:08Krisis global
18:09Krisis finansial
18:11Di level Asia
18:12Dari Thailand
18:13Lalu kemudian
18:14Merambat ke Malaysia
18:15Dan berbagai negara
18:16Jadi
18:16External shock
18:17Lalu kemudian
18:19Waktu itu
18:20Kondisi perbankan Indonesia
18:21Sangat remah
18:22Lemah
18:23Regulasi lemah
18:24Supervisi lemah
18:25Segala macam
18:26Lemah
18:26Sekarang kita jauh lebih bagus
18:27Itu perbedaannya
18:29Persamaannya adalah
18:30Sekarang
18:31Dibandingkan dengan 98
18:33Waktu itu terjadi
18:34Depresiasi yang sangat masif
18:36Dalam waktu yang sangat dekat
18:37Dan
18:38Mendadak terjadi
18:39Krisis kepercayaan
18:40Yang sangat tinggi
18:41Terhadap kondisi Indonesia
18:43Itu kayaknya
18:44Tanda-tandanya sudah ada
18:46Dari mana?
18:46Dari warning
18:47Berbagai lembaga rating
18:49Gitu
18:49Jadi
18:50Krisis confidence
18:51Ini kemudian
18:52Mentrigger capital outflow
18:53Yang kemudian
18:54Membuat rupiah terdepresiasi
18:56Ini simptom-simptom
18:57Biasanya
18:58Akan menuju
18:59Ke arah krisis
19:00Kita harapkan
19:00Ini gak terjadi
19:01Gitu
19:02Tapi simptom
19:03Menuju ke arah krisis ini
19:04Gak hanya di 98
19:06Gitu
19:06Itu
19:06Kalau kita lihat
19:08Ekonom
19:09Harvard
19:09Carmen Reinhard
19:10Dan Ken Rogoff itu
19:11Dia menulis buku
19:13Terkait krisis
19:13Ini sebenarnya
19:14Tanda-tanda yang sangat umum
19:16Terjadi
19:16Di banyak negara
19:17Yang menuju krisis
19:18Pertamanya
19:19Krisis kepercayaan
19:21Lembaga rating
19:21Mulai mempertanyakan
19:22Investor mempertanyakan
19:24Terjadi capital outflow
19:25Terjadi capital outflow
19:28Secara masif
19:29Depresiasi secara masif
19:30Akhirnya
19:31Baik dari pemerintah
19:33Maupun sektor swastanya
19:34Yang memiliki utang
19:35Dalam
19:36Denominasi asing
19:37Yang kemudian
19:37Jadi gagal bayar
19:38Sehingga terjadi
19:39Krisis ekonomi
19:40Kira-kira
19:41Simptomnya
19:42Atau
19:42Sekuensinya
19:43Seperti itu
19:44Gitu
19:44Nah ini
19:45Kita sudah melihat
19:46Beberapa sekuens awal
19:47Krisis kepercayaan
19:49Dipertanyakan oleh
19:51Lembaga rating
19:51Ada depresiasi terjadi
19:53Nah ini saya rasa
19:54Waktu yang sangat tepat
19:56Untuk pemerintah
19:57Kemudian memikirkan ulang
19:58Rencana ekonomi
20:00Baik dari sisi fiskal
20:01Moneter
20:02Dan rencana
20:03Kerekonomian secara makro
20:04Seperti apa
20:04Memikirkan ulang
20:05Saya menjadi ingat
20:06Apakah
20:07Ini kan mas
20:08Rupiah
20:09Itu kan sudah jauh dari
20:10Asumsi APBN
20:112026
20:12Minyak juga
20:13Sudah jauh melambung
20:15Dari asumsi
20:16Seerjen apa
20:17Kita terhadap
20:18APBN perubahan
20:19Saya rasa sangat urgent
20:21Dua hal
20:22Satu
20:23Pertama adalah
20:24Karena ada momentum
20:26Dari perang Iran-US
20:27Yang menunjukkan
20:28Bahwa
20:29Selain
20:30Asumsinya
20:30Sangat
20:31Jauh dari
20:32Asumsi APBN awal
20:34Ketidakpastian
20:35Sangat tinggi
20:36Gitu
20:36Karena
20:37Kalaupun
20:38Base case scenario
20:39Perang ini berakhir
20:41Apakah
20:42Kita bisa menjamin
20:43Tidak ada konflik geopolitik lain
20:44Gitu
20:45Karena kita tahu
20:45Nggak lama sebelumnya
20:47Terjadi isu
20:48Di Venezuela juga
20:49Jadi
20:50Kondisi geopolitik
20:51Sangat tidak pasti
20:52Sehingga perlu ada
20:53Adjustment
20:54Yang lebih realistis
20:55Ke kondisi hari ini
20:56Kedua
20:58Mungkin ini adalah
20:59Poin yang
21:00Mendorong
21:02Perlu dilakukannya
21:04APBN perubahan
21:05Sebelum
21:05Bahkan adanya
21:06Perang ini
21:07Masih adanya
21:08Misalokasi sumber daya yang besar
21:09Dari APBN
21:10Tadi berbagai program
21:12Fleksi pemerintah
21:13Itu masih
21:14Banyak yang
21:15Mestargeted
21:16Lalu kemudian
21:17Masih banyak yang
21:18Belum menyasar
21:18Kelompok-kelompok
21:19Masyarakat
21:20Miskin dan rentan
21:21Serta
21:21Yang belanja
21:23Paling produktifnya
21:24Nah
21:25Hal-hal seperti ini
21:26Kemudian menjadi
21:27Makin urgent
21:27Dengan adanya
21:28Perang
21:30Iran-US saat ini
21:32Dan
21:32Saya rasa
21:33Ini
21:34Kalaupun mau dilakukan
21:35APBN perubahan
21:36Perlu betul-betul
21:37Direncanakan secara matang
21:38Karena
21:39APBN kita
21:40Mungkin beda
21:41Dengan banyak negara lain
21:42Yang layer
21:43Pemerintahannya
21:43Tidak kompleks
21:44Kita kan ada
21:45Pemerintah pusat
21:45Dan daerah
21:46Tentu ini
21:47Perlu direncanakan
21:48Agar kemudian
21:49Pemerintah daerah
21:50Bisa
21:50Mempersiapkan diri
21:51Untuk kemudian
21:52Kalau ada
21:53Perubahan APBN
21:55Mereka bisa menyesuaikan
21:56Anggaran
21:56Untuk pendidikan
21:57Kesehatan
21:58Bahkan untuk
21:59Kebencanaan
22:00Ini kan kita lihat
22:01Di akhir tahun lalu
22:02Banyak pemerintah daerah
22:04Mengeluh
22:04Anggarannya tidak cukup
22:05Untuk mengelola
22:06Bencana
22:06Jadi ini
22:08Betul-betul perlu
22:08Koordinasi yang kuat
22:10Dan perlu dipikirkan
22:11Secara matang
22:12Sebelum melakukan
22:13Perubahan ini
22:14APBN perubahan
22:15Saya ingat juga
22:15Bahwa rasanya
22:17Presiden Prabowo
22:18Dan Menkyu Purubaya
22:19Punya
22:20Punya selera
22:21Yang sama
22:21Terhadap asing
22:22Yaitu agak
22:23Anti asing
22:24Tapi pada akhirnya
22:26Setelah MSG
22:27Moody's
22:28Fitch
22:29Menkyu Purubaya bilang
22:31Saya akan
22:32Roadshow
22:35Gini
22:36Roadshow
22:37Tanpa APBN
22:38Perubahan
22:38Dan roadshow
22:39Keluar negeri
22:39Dengan APBN
22:41Perubahan
22:41Mana yang lebih
22:42Meyakinkan
22:43Investor asing
22:44Saya rasa
22:45Dengan perubahan
22:46Yang kearah
22:48Lebih produktif
22:49Dan lebih
22:50Tepat sasaran
22:51Misalnya
22:52Maksudnya gimana mas
22:53Maksudnya begini
22:54Kita tahu
22:54Banyak yang dikeluhkan
22:56Oleh
22:56Apa
22:57Lembaga asing
22:59Dan by the way
22:59Sebetulnya
23:00Sikap dari
23:01Presiden
23:02Dan
23:02Menteri Keuangan
23:04Itu kan
23:04Terkait poin-poin
23:06Yang dikeluhkan oleh
23:07Lembaga rating pun
23:08Itu sebetulnya
23:09Kita sudah sampaikan
23:10Sebelum-sebelumnya
23:11Tapi
23:11Hanya messengernya
23:13Yang berubah
23:13Tapi poinnya
23:15Tetap sama
23:16Bahwa
23:16Adanya misalokasi
23:18Sumber daya
23:18Beberapa program
23:19Memakan anggaran besar
23:21MBG
23:21KDMP
23:22Itu bisa dialihkan
23:23Untuk program-program
23:24Yang lebih produktif
23:26Contohnya apa
23:27Anggaran kesehatan
23:28Kita juga apresiasi
23:29Misalnya program pemerintah
23:30Yang kita anggap
23:31Tepat sasaran adalah
23:32Cek kesehatan gratis
23:33Tes TB gratis
23:35Itu
23:35Dampak multipliernya
23:37Bisa besar
23:37Dan dampak preventif
23:39Terhadap
23:39Kos yang lebih besar pun
23:40Juga
23:41Cukup besar
23:42Nah MBG
23:43Tadi
23:43Salah satu kekurangannya
23:45Adalah
23:45Banyak masyarakat
23:46Yang gak perlu
23:47Sehingga
23:48Kemudian menjadi
23:49Waste of money
23:50Di
23:51Banyak
23:53Daerah
23:54Dan banyak lokasi
23:55Nah
23:57Ini yang saya
23:58Sebutkan bahwa
23:59Realokasi
24:01Anggaran APBN
24:02Itu perlu ke arah
24:02Yang lebih produktif
24:04Dan lebih jelas
24:05Tujuan pembangunannya
24:06Kalaupun dirubah
24:07Tapi
24:07Tetap unclear
24:09Seperti message
24:10Yang ada di
24:10Fitch dan Moody's
24:11Bahwa
24:12Ini gak jelas
24:13Belanjanya seperti apa
24:14Digunakannya seperti apa
24:15Contoh misalnya
24:16KDMP dengan Bang Himbara
24:18Ini gimana nih
24:20Bagi anggarannya
24:21Lalu kemudian
24:22Dan antara tuh
24:23Apakah nanti
24:24Kalau bangkrut
24:25Menjadi tanggung jawab
24:26APBN atau enggak
24:27Nah
24:27Kalau
24:29Dirubah
24:30Tapi gak mengadres
24:31Hal-hal tersebut
24:31Jadi
24:32Jadi gak meyakinkan juga
24:33Jadi
24:34Saya rasa yang lebih kuat
24:35Adalah
24:36Kalau dirubah
24:37Yang menjadi
24:37Crystal clear
24:39Dan konkret
24:39Terhadap
24:40Poin-poin
24:41Saya bisa bilang
24:43Warning ya
24:44Dari
24:45Lembaga rating
24:46Dan mungkin
24:47Para ekonom juga
24:48Baik
24:48Terakhir Mas Rifki
24:49Ini kan lembaga rating
24:50Ini kan rasanya
24:51Bukan hanya tanggung jawab
24:52Fiskal aja dong
24:53Meskipun
24:53Memang clear
24:54Yang dikritisi adalah
24:56Fiskal
24:57Tetapi
24:58Satu pertanyaan saya adalah
24:59Apa yang bisa dilakukan
25:00Oleh Bank Indonesia
25:01Jangan sampai
25:02Maksudnya
25:03Secara fiskal
25:04Secara fiskal kita
25:05Ekspansif
25:06Tetapi secara moneter
25:08Kita
25:08Tandanya agak
25:10Mengerem
25:10Seperti itu loh
25:11Gimana Mas
25:12Yang
25:14Yang saya tangkap
25:16Yang paling dikeluhkan
25:17Oleh lembaga rating
25:18Dan mungkin juga
25:18Para analis
25:19Mungkin bukan dari
25:21Arahnya
25:21Apakah
25:22Lebih akomodatif
25:23Atau
25:24Lebih
25:25Stansnya ini
25:26Apa
25:27Ngerem ya
25:28Tapi lebih ke
25:29Independensinya
25:30Sebetulnya
25:31Di Bank Sentral
25:32Dan
25:32Kejelasan dari
25:34Stans tersebut
25:35Kita kan
25:35Melihat di 2025
25:37Ada wacana
25:38Atau bahkan
25:39Beberapa kali
25:39Burden sharing
25:40Padahal kita gak krisis
25:41Itu
25:41Itu juga dipertanyakan
25:43Oleh lembaga rating
25:44Sekarang misalnya
25:44Penunjukan
25:45Keponakan Presiden
25:46Misalnya
25:47Jadi ini kan
25:48Dipertanyakan lagi
25:49Nah
25:49Yang perlu di job
25:50Bi adalah hal tersebut
25:51Kita tetap
25:52Independent
25:52Kita tetap
25:53Credible
25:54Ini stance
25:54Kebijakan kita
25:55Gitu
25:56Jadi
25:57Seberapa firm
25:58Bank Indonesia
25:59Bisa menunjukkan
25:59Bahwa kita
26:00Tetap
26:01Berpegang teguh
26:02Pada mandat kita
26:03Menjaga stabilitas
26:04Nilai tukar rupiah
26:05Dan
26:06Inflasi
26:06Mandat
26:08Primary nya
26:09Baru kemudian
26:10Dia mau diturunkan
26:11Menjadi mandat
26:12Pro growth
26:13Pro growth
26:14Segala macam
26:14Itu secondary
26:16Tapi
26:16Kita belum melihat
26:17Bahwa BI secara firm
26:19Menunjukkan
26:20Mereka ini
26:20Berpegang teguh
26:21Ke mandat
26:22Primary nya
26:23Tapi perlukah
26:23Bank Indonesia
26:24Perlukah Bank Sentral
26:25Itu independen
26:28Perlu
26:29Perlu
26:30In a sense
26:30Begini
26:31Bahwa Bank Sentral
26:33Itu
26:35Berkonsultasi
26:35Boleh
26:36Bahwa
26:37Bank Sentral
26:38Itu
26:38Kemudian
26:40Apa
26:40Kemudian
26:42Bertukar informasi
26:44Dengan berbagai lembaga
26:45Seperti di KSSK
26:46Itu boleh
26:47Tapi
26:47BI
26:48Dalam
26:49Pengambilan
26:50Kebijakannya ini
26:51Independen
26:52Bebas dari
26:53Tekanan politik
26:54Bebas dari
26:55Misalnya
26:56Pengaruh
26:57Kiri kanan
26:58Itu penting
26:59Kenapa?
27:00Karena itu
27:01Sangat berpengaruh
27:02Terhadap
27:02Seberapa pruden
27:03Fiskal kita
27:04Nah
27:04Ini mungkin
27:05Agak counter intuitif nih
27:07Fiskal dan monetar
27:08Tapi
27:09Bank Sentral
27:11Yang gak independen
27:12Persis yang membuat
27:13Banyak negara
27:14Latin Amerika itu
27:15Menjadi
27:16Masuk krisis ekonomi
27:17Kenapa?
27:18Karena pemerintah
27:19Pusatnya jor-joran
27:20Dia banyak program
27:21Segala macem
27:22Kan gak punya duit
27:23Minta Bank Sentralnya
27:24Bayarin
27:25Nah itu persis
27:27Yang membuat
27:27Kemudian
27:28Ratingnya turun
27:29Kemudian
27:29Biaya utangnya naik
27:31Inflasinya puluhan persen
27:32Bahkan sampai ratusan persen
27:33Itu kenapa pentingnya
27:35Bank Sentral itu independen
27:36Sehingga kemudian
27:37Kalau pemerintah pusat ini
27:39Apa?
27:41Terlalu eksesif
27:42Atau terlalu
27:43Reckless dalam belanja
27:44Tidak kemudian
27:45Diakomodir dengan
27:46Suplai uang
27:47Yang mengakomodir
27:48Reckless tersebut
27:49Jadi seperti stop gap
27:51Atau seperti
27:57Last guardian
27:59Untuk kemudian
28:00Pemerintah gak
28:01Melakukan belanja
28:02Secara eksesif
28:03Nah
28:04Apakah
28:05Kalau kemudian
28:06Gak independen
28:07Belanjanya jadi gak eksesif
28:08Bisa jadi
28:09Tapi kalau
28:11Pemerintahnya belanja eksesif
28:13There is
28:13Nothing yang
28:14Akan stop
28:15Pemerintah pusat
28:16Untuk kemudian
28:17Mendorong kita
28:19Untuk
28:19Jadi hyperinflasi
28:22Lalu kemudian
28:22Krisis ekonomi
28:23Dan sudah banyak kasusnya
28:25Gitu
28:25Jadi
28:25Ini mungkin
28:26Lebih
28:27Ini mungkin sama kali ya
28:29Seperti pertanyaan
28:29Apakah kita perlu
28:31Demokrasi atau enggak
28:32Gitu
28:33Karena
28:34Gini
28:35Demokrasi mungkin gak perlu
28:37Kalau kita punya pemimpin
28:38Yang bagus
28:39Kalau kita
28:39Mungkin salah satu contoh
28:41Di history
28:42Kalau kita punya pemimpin
28:43Li Kuan Yu
28:43Mungkin oke
28:44Gitu
28:45Kita gak perlu pemilu
28:46Tapi kalau kita punya pemimpin
28:48Seperti pemimpin-pemimpin
28:49Indikator yang korupsi
28:50Atau pemimpin-pemimpin
28:51Indikator yang tidak punya
28:53Check and balance
28:54Demokrasi meng-ensure
28:55Bahwa mereka gak
28:56Stay in power
28:57Gitu
28:57Nah
28:58Sama dengan ini
29:00Kalau fiskalnya
29:01Apa jebol
29:02Ini yang meng-ensure
29:03Bahwa kita gak
29:04Menuju ke krisis
29:05Independensi itu
29:06Jadi burden sharing cukup
29:07Cukup sekali aja ya
29:08Pas pandemi ya
29:09Jangan ada burden sharing
29:11Episode 2 dan 3 ya
29:12Karena
29:12Itu justru akan menjadi
29:14Backfire ya
29:15Untuk keduanya
29:16Baik
29:17Terima kasih
29:17Mas Teguh Rifki
29:19Pendeliti dan ekonom
29:20LPM
29:21FEB
29:22Universitas Indonesia
29:23Saya Dian Begasarian Jaya
Komentar