Jakarta — Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa fondasi makroekonomi Indonesia yang kokoh menjadi modal utama untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global. Stabilitas ekonomi tersebut juga menjadi landasan penting bagi Indonesia untuk berperan aktif dalam berbagai inisiatif ekonomi internasional.
Hal itu, lanjut dia, tercermin dari stabilnya sejumlah indikator makroekonomi Indonesia sepanjang 2025. Sebagai contoh, inflasi Indonesia tercatat sebesar 2,92 persen, yang masih terbilang stabil dan terkendali. Selain itu, Indonesia juga mampu mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 38,54 miliar pada periode Januari-November 2025.
Sugiono menambahkan, fondasi ekonomi yang solid tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia di tengah gejolak ketidakpastian global. Dengan resiliensi ekonomi yang kuat, Indonesia diharapkan mampu memitigasi dampak negatif dari perlambatan dan tekanan ekonomi global.
Terlebih, menurutnya, saat ini semakin banyak negara yang menggunakan kebijakan perdagangan, investasi, dan teknologi sebagai instrumen tekanan geopolitik. Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk memiliki ketahanan ekonomi yang memadai guna menghadapi tantangan tersebut.
Sejalan dengan itu, diplomasi ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu pun diarahkan untuk memperkuat ketahanan dan diversifikasi ekonomi. Sebagai contoh, Sugiono mengatakan Indonesia telah menyepakati tiga perjanjian kerja sama ekonomi dengan Kanada, Peru, dan Eurasian Economic Union, serta menyelesaikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) dengan Uni Eropa.
Pro TV - Televisi Digital Berjaringan
Pro TV (@protv_id) bagian dari ekosistem Promedia Teknologi Indonesia (@promediateknologi) - SUBSCRIBE OFFICIAL CHANNEL YOUTUBE : @protv_official | PROMEDIA TV www.protv.id
Jadilah yang pertama berkomentar