Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Aksi teror dan ancaman kematian menimpa sejumlah influencer dan aktivis pada akhir Desember 2025.

Komisi Kepolisian Nasional atau Kompolnas mengecam tindakan tersebut dan mendesak polisi segera mengungkap pelakunya.

Serangkaian teror diterima sejumlah konten kreator dan aktivis pada akhir tahun 2025. Salah satunya dialami Ramond Dony Adam atau DJ Donny.

Korban menerima teror dua kali, pada 29 dan 31 Desember 2025.

Bentuk teror bermacam-macam, mulai dari paket berisi bangkai ayam dengan ancaman tertulis, hingga aksi pelemparan bom molotov ke rumahnya.

DJ Donny menyebut aksi ini sudah melampaui batas teror, karena mengandung ancaman pembunuhan.

Ia pun langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Komisioner Kompolnas menyesalkan aksi teror tersebut.

Menurut Kompolnas, teror dan ancaman kekerasan merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Kompolnas mendesak polisi bertindak cepat dan serius mengungkap kasus ini.

Tak hanya DJ Donny, Influencer Sherly Annavita juga mengaku mengalami teror.

Melalui media sosial, Sherly menyebut menerima kiriman telur busuk dan kendaraannya menjadi sasaran vandalisme.

Teror serupa juga menimpa manajer kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik.

Sejumlah korban menyebut, mereka kerap menyampaikan kritik terkait penanganan bencana di Sumatera.

Mereka mendesak aparat segera menangkap pelaku dan mengungkap motif di balik aksi teror tersebut.

Kompolnas mengecam aksi ini dan mendesak polisi segera bertindak.

Namun publik bertanya, seberapa serius penanganan kasus teror ini, dan apa motif sebenarnya di balik serangan terhadap mereka yang kritis.

Dan untuk membahasnya telah hadir, Aryanto Sutadi, pengamat kepolisian, Haeril Halim, manajer media Amnesty International Indonesia, dan Sherly Annavita, selaku influencer sekaligus korban teror.

Baca Juga [FULL] DPR dan DJ Donny Angkat Bicara Soal Peneror Influencer dan Aktivis yang Belum Terungkap! di https://www.kompas.tv/regional/641386/full-dpr-dan-dj-donny-angkat-bicara-soal-peneror-influencer-dan-aktivis-yang-belum-terungkap

#djdonny #teror #influencer #aktivis

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/641388/full-pengamat-kepolisian-dan-amnesty-indonesia-soal-pola-teror-influencer-dj-donny-dan-aktivis
Transkrip
00:00Ini dia buka ini, ternyata mobil juga dicoret atau dipiloks.
00:13Aksi teror dan ancaman kematian menimpa sejumlah influencer dan aktivis pada akhir Desember 2025.
00:21Komisi Kepolisian Nasional atau Kompolnas mengecam tindakan tersebut dan mendesak polisi segera mengungkap pelakunya.
00:27Serangkaian teror diterima sejumlah konten kreator dan aktivis pada akhir tahun 2025.
00:35Salah satunya dialami Raymond Donny Adam atau DJ Donny.
00:40Korban menerima teror dua kali pada 29 dan 31 Desember 2025.
00:45Bentuk teror bermacam-macam, mulai dari paket berisi bangkai ayam dengan ancaman tertulis hingga aksi pelemparan bom Molotov ke rumahnya.
00:54DJ Donny menyebut aksi ini sudah melampaui batas teror karena mengandung ancaman pembunuhan.
01:00Ia pun langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi.
01:04Buka di dalamnya itu ada kertas tiga lembar ancaman.
01:07Ancamannya jika kamu masih bersuara di media sosial, nasib kamu akan seperti ayam ini.
01:12Kalau bisa dibilang nih, ya ancaman pembunuhan sebenarnya bukan teror lagi.
01:15Tanggal 31 dini hari, pukul 3 lewat 12, ada dua orang berjalan dari arah taman sana.
01:22Berjalan pelan-pelan, satu menggunakan jas hujan warna hijau, satu lagi cuma pakai jaket hitam.
01:28Sampai ke depan rumah saya, terus dia mundur lagi, terus dia melempar bom Molotov.
01:33Nah, bom Molotov itu setelah dijalankan, langsung dilempar.
01:36Untungnya, bom Molotov itu disumbuhnya mati.
01:40Lempar mengenai ini.
01:41Boleh dijelaskan dulu, posisi persisnya.
01:43Ketembok ke sini, terus kacanya pecah, kena mobil, kacanya ini masih ada nih,
01:50ini masih ada butiran kacanya, pecahan kacanya, terus sumbunya ke bawah.
01:56Dengan ditemukannya pelaku ini, semua jadi clear.
01:59Jadi masyarakat bisa percaya penuh kepada pendagangan hukum di Indonesia.
02:05Komisioner Kompolnas menyesalkan aksi teror tersebut.
02:08Menurut Kompolnas, teror dan ancaman kekerasan merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip demokrasi dan kebebasan berpendapat.
02:16Kompolnas mendesak, polisi bertindak cepat, dan serius mengungkap kasus ini.
02:20Apapun motivasi, apapun bentuk dan tujuan dari teror tersebut, itu merugikan kita semua.
02:31Apa yang mereka lakukan, itu bagian dari hak yang dilindungi oleh konstitusi kita,
02:37dilindungi oleh undang-undang kita, dilindungi oleh prinsip-prinsip asas Indonesia.
02:40Oleh karenanya, penting ya, kepolisian untuk mengungkap siapa pelaku dibalik aksi teror ini dan siapa diberalik dalam ini.
02:53Tak hanya DJ Doni, influencer, Sherly Anavita juga mengaku mengalami teror.
03:01Melalui media sosial, Sherly menyebut menerima kiriman telur busuk dan kendaraan yang menjadi sasaran vandalisme.
03:07Teror serupa juga menimpa manajer kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik.
03:16Sejumlah korban menyebut, mereka kerap menyampaikan kritik terkait penanganan bencana di Sumatera.
03:21Mereka mendesak, aparat segera menangkap pelaku dan mengungkap motif dibalik aksi teror tersebut.
03:27Tim Liputan, Kompas TV
03:29Saudara, aksi teror disertai ancaman pembunuhan menimpa pemengaruh atau influencer dan aktivis pada akhir Desember 2025.
03:45Mulai dari kiriman paket bangkai hewan, kemudian vandalisme, sampai pelemparan bom Molotov ke rumah korban.
03:51Komisi Kepolisian Nasional mengecam aksi ini dan berharap polisi segera bertindak.
03:57Namun yang masih menjadi pertanyaan publik seberapa serius penanganan kasus teror ini
04:01dan apa motif sesungguhnya dibalik serangan terhadap mereka yang kritis berpendapat.
04:06Kami diskusikan bersama dengan para narasumber sudah bergabung lewat sambungan dalam jaringan
04:10Aryanto Sutadi selaku pengamal kepolisian
04:12dan Hairil Halim selaku manajer media dari Amnesty International Indonesia.
04:16Selamat malam semuanya, apa kabar?
04:18Selamat malam pak.
04:19Selamat malam.
04:19Terima kasih semua sudah bergabung bersama kami.
04:22Nanti di paruh kedua diskusi ini, Shirley Anavita selaku pemengaruh atau influencer
04:26yang juga menjadi korban teror akan bergabung dalam diskusi kami.
04:29Sejauh ini Shirley menyatakan bersedia untuk bergabung di Sapa Indonesia malam.
04:33Mas Hairil, kalau membaca polanya ini kan tidak hanya terhadap Shirley,
04:37tidak hanya terhadap DJ Donnie dalam paket informasi.
04:39Greenpeace, Firdian Aurelio juga mengalami hal yang sama.
04:42Anda menangkap bahwa pola teror ini yang ujung-ujungnya adalah ancaman pembunuhan ini sama
04:48atau ada hal yang berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya?
04:51Jadi kalau kita melihat memang ini polanya sama.
04:55Ini dilakukan secara sistematis ya.
04:58Jadi menarget mereka-mereka yang kritis terhadap pemerintah.
05:02Ini yang menjadi pertanyaan.
05:04Kenapa orang-orang yang kritis kepada pemerintah ini menjadi target serangan?
05:07Bahkan teror yang sangat serius.
05:09Jadi kami melihat bahwa tindakan teror fisik maupun teror digital
05:15yang dialami oleh aktivis Greenpeace dan juga sejumlah influencer
05:20itu karena tindakan mereka yang aktif mengkritisi pemerintah
05:24dalam konteks penanganan bencana di Sumatera.
05:28Ini yang perlu kami tekankan bahwa oleh karena itu kami meminta aparat penaga hukum
05:34untuk mengusut tuntas teror ini dan mengungkap pelakunya ke publik.
05:38Satu yang menjadi catatan kami adalah
05:41berulangnya teror semacam ini
05:44itu akibat kegagalan negara dalam mengusut teror-teror sebelumnya.
05:49Kita melihat ada teror terhadap Tempo pada tahun lalu
05:53dalam konteks rame-rame orang mengkritik pengesahan RU TNI di DPR.
06:00Itu belum terungkap hingga saat ini.
06:03Ini yang perlu kita pertanyakan ke kepolisian.
06:05Kenapa hingga hari ini belum terungkap?
06:07Dan inline menjadi kegagalan negara
06:10dalam mengungkap teror-teror sebelumnya
06:14dan menurut Anda ini aksinya sudah mengarah ke pembungkaman suara-suara publik?
06:19Oh sangat jelas.
06:20Tujuannya untuk menciptakan iklim ketakutan
06:23agar orang-orang tidak bersuara kritis terhadap pemerintah.
06:26Itu yang harus ditakankan di sini.
06:27Dan yang seperti saya bilang tadi
06:29tidak diusut dengan tuntasnya teror sebelumnya
06:33ini merupakan dukungan yang kuat bagi pelaku teror
06:36untuk kembali melakukan aksi mereka di kemudian hari.
06:39Dan ini terbukti dalam sejumlah rangkaian teror yang kita lihat beberapa hari terakhir
06:46yang menimpa aktivis Greenpeace dan juga sejumlah influencer.
06:49Dan kami juga tidak melihat adanya reaksi langsung dari pemerintah mengecam
06:56ataupun memerintahkan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas teror ini.
07:01Nah persoalan barunya begini Mas, sorry saya potong.
07:03Karena yang berbicara kritis soal hal-hal tertentu di banyak sektor
07:07ini kan tidak hanya para pemengaruh ini saja
07:10tapi ada pihak-pihak lain.
07:12Terjadi setelah beberapa hari terjadi ini berlangsung.
07:15Mas Eri, sorry saya potong.
07:16Karena yang kita cermati di sini kan tidak hanya mereka-mereka yang kita beritakan terkena teror
07:20tapi banyak sekali yang menyuarakan kritik-kritiknya
07:24terkait dengan beberapa hal, berbagai sektor, berbagai isu.
07:26Tapi kemudian kenapa orang-orang ini saja yang kemudian disasar?
07:30Anda melihatnya memang target yang spesifik
07:33dan apa sih menariknya orang-orang ini menurut Anda?
07:38Mungkin dalam konteks influencer mereka memiliki banyak pengikut
07:42di sosial media dan suaranya didengar oleh publik.
07:45Jadi mereka menjadi target serangan dalam konteks aktivis juga.
07:49Itu karena akhir-akhir ini ada kejenuhan publik
07:54untuk mendengarkan informasi-informasi versi pemerintah.
07:59Jadi mereka mencoba alternatif informasi dari aktivis, dari influencer
08:04untuk sebagai informasi pembanding dari narasi-narasi resmi pemerintah.
08:08Inilah yang menyebabkan kenapa mereka menjadi serangan teror.
08:14Pak Ari, kalau mencermati pernyataan terakhir dari Kabupaten Humaspolda Metro Jaya kepada wartawan,
08:22ini disebutkan bahwa masih akan mendalami lagi pola dan caranya.
08:25Dan sejauh ini yang baru melapor hanya DJ Doni,
08:27yang mendapat ancaman bangke hewan sampai juga dilempari bom Molotov.
08:30Kalau Anda merasa bahwa kasus ini sesulit itu untuk diungkap teror
08:34dan sampai ancaman pembunuhan ini Pak Ari?
08:36Ya, ini kalau ancaman teror model-model kayak gini ini ya,
08:41dari pengalaman saya itu memang sangat sulit untuk mendeteksinya ya.
08:45Dalam hal apa yang paling sulit ya Pak?
08:47Ya, karena ini teror itu kejahatan murni kan.
08:52Karena apa? Ini ada unsur-unsurnya menyerang pada orang yang menyerang pemerintah.
08:57Sehingga otomatis itu ya nanti, itu pasti ada yang menggerakkan kan gitu tuduhannya ya.
09:02Nah, dia itu bukan hanya pelaku, tetapi ada yang menggerakkan.
09:06Nah, ini jadi tantangan berat bagi polisi dalam mengungkap hal-hal yang seperti ini memang.
09:12Dan kemudian sekarang, tadi saya sudah tanyakan ke Polda Metro juga,
09:17saya tanya siap masih di dalam penyelidikan.
09:19Artinya, polisi belum mendapatkan data-data awal
09:23untuk mendeteksi kurang lebih siapa pelakunya gitu.
09:28Jadi inilah sulitan ya, kalau penyetik itu,
09:31karena kalau untuk menyetik itu, minimal harus mendapatkan alat bukti ya.
09:36Alat bukti ataupun fakta-fakta yang bisa mengarah kepada apa yang terjadi
09:44dan kemudian siapa pelakunya,
09:46nah barulah itu nanti bisa ditangkap pelakunya gitu.
09:50Tapi kalau membaca polanya sampai menyasar ke influencer seperti ini,
09:54Pak Ari menurut Anda polanya terbaca bahwa aksi ini dilakukan oleh dalang yang sama atau enggak Pak?
09:58Nah, kalau saya lihat sasarannya ini ya, teroris itu ya,
10:05itu selalu mencari sasaran yang mudah didapat,
10:09tetapi efeknya besar untuk menimbulkan ketakutan gitu.
10:13Itu sudah gitu dipilih, jadi ini mesti inflasinya mesti dipilih yang memang pengaruhnya gede gitu ya,
10:19sehingga menimbulkan kengeriannya itu besar juga gitu.
10:22Itu model daripada ataupun ciri-ciri daripada perbuatan teror itu lah.
10:28Dan ini juga kita juga tidak boleh gabah ya,
10:31karena belum tentu juga ini ya,
10:33memang itu ada kayak gitu model kayak gitu.
10:37Tetapi masih banyak kemungkinan.
10:40Ini juga bisa disuruh oleh orang yang ingin menimbulkan kegaduan ya,
10:44supaya pemerintah itu tidak dipercayai oleh masyarakat,
10:49tidak mampu melindungi,
10:51dan itu ada kemungkinan juga.
10:53Nah, disinilah polisi ditantang,
10:55jadi harus all outforce ini.
10:58Karena kalau sampai tidak,
10:59seperti tadi Pak Halim mengatakan,
11:02jadi kita seakan-akan tidak mampu melindungi masyarakatnya,
11:06sehingga akhirnya ditiru oleh pelaku-pelaku yang lain.
11:08Kecurigaan Anda ini terorganisir atau aksi individual saja nih Pak?
11:13Kalau saya sementara sih,
11:15enggak mungkin aksi individual Pak.
11:17Enggak mungkin.
11:18Karena itu yang disasarkan orang-orang yang itu tadi,
11:21menyarankan pemerintah.
11:22Jadi itu suatu target yang empuk,
11:24untuk menimbulkan kekacauan juga bisa.
11:26Dan kalau mungkin juga dari aparat pemerintah yang mungkin risau gitu ya,
11:30sehingga dia menyuruh orang lain untuk bikin kayak gitu,
11:33supaya berhenti orang itu.
11:34Yang tujuannya ingin membuat resah masyarakat ya Pak?
11:37Iya, artinya gini,
11:39itu kan dengan berita-berita kayak gitu kan,
11:42pemerintah kan merasa terurik ya.
11:44Karena kan merasa dikritik terus gitu.
11:46Makanya untuk menghentikan orang seperti ini,
11:49kan enggak mungkin.
11:50Kalau dengan cara dilarang enggak mungkin ya,
11:52paling dihancam dengan teror itu.
11:54Itu bisa jadi terjadi seperti itu.
11:56Tapi tentu kayak gitu ya.
11:58Mas Airi, Anda sependapat soal itu,
12:00apakah ini aksinya terorganisir atau ini gerakan individual saja?
12:04Sangat jelas ini terorganisir.
12:06dilakukan secara sistematis.
12:08Karena menarget orang-orang yang kelompok-kelompok yang sama,
12:11kelompok-kelompok yang aktif mengkritisi pemerintah.
12:14Jadi kita bisa,
12:17publik tidak bisa dicegah untuk berpikiran bahwa
12:22pelakunya adalah orang yang sama,
12:24dan dilakukan secara sistematis,
12:27karena menarget orang-orang yang kritis
12:28dalam konteks penanganan bencana di Sumatera ini.
12:32Dan kita juga melihat ada beberapa imbauan dari pemerintah
12:37beberapa waktu lalu untuk tidak mengekspos kekurangan pemerintah di publik
12:41dalam konteks penanganan bencana.
12:43Apakah ada hubungannya dengan ini?
12:45Kita tidak tahu.
12:45Ini makanya menjadi tugas bagi kepolisian untuk mengungkap ini.
12:50Siapa dalangnya?
12:51Jika tidak diungkap,
12:53kita publik akan beranggapan bahwa
12:57aparat penegak hukum tidak netral dalam menangani hal ini,
13:01karena tidak ingin mengungkapnya ke publik.
13:04Oleh karena itu,
13:04ini menjadi tugas bagi kepolisian
13:07untuk secara terbuka dan terang beneran
13:10membuka siapa sebenarnya aktor-aktor yang melakukan serangan
13:13terhadap mereka-mereka yang aktif mengkritik pemerintah ini.
13:17Oke, kalau kemudian betul negara kita menerapkan
13:21yang namanya setiap orang bebas untuk berekspresi
13:23dan semuanya bisa berpendapat,
13:25maka bentuk perlindungan seperti apa yang harus diberikan,
13:27terutama mereka-mereka,
13:29para influencer atau para pemengaruh
13:30atau kreator konten di media sosial
13:32yang kerap menyampaikan pendapat kritisnya lewat media sosial.
13:35Kita akan bahas itu di segmen berikutnya.
13:37Tetap bersama kami.
13:37Selain ada Pak Aryanto Sutadi
13:48dan juga Mas Hairil Halim
13:49dari Amnesty International Indonesia,
13:52saat ini Sherly Anavita,
13:53pemengaruh atau kreator konten
13:55yang juga menjadi korban teror saat ini
13:57juga ikut bergabung lewat sambungan dalam jaringan.
13:59Assalamualaikum Mbak Sherly, apa kabar?
14:02Waalaikumsalam, Alhamdulillah kabar baik.
14:03Terima kasih, sudah berkenan memberikan waktu
14:05berbicara bersama kami kali ini.
14:07Tapi saya juga boleh tahu keadaan Anda dan keluarga
14:09setelah mendapatkan teror waktu itu,
14:11bagaimana? Apakah masih ada teror sampai dengan sekarang?
14:14Alhamdulillah, tidak ada teror.
14:16Oke.
14:18Setelah dari menerima teror saat itu,
14:21Anda apakah ada rencana untuk melapor juga ke polisi, Mbak?
14:25Seperti DJ Joni?
14:27Ya, tentu saya ada kepikiran
14:28untuk melaporkan ke polisi.
14:31Namun setelah mempertimbangkan
14:33dan berkonsultasi kepada beberapa pihak,
14:35akhirnya Sherly memutuskan untuk tidak melaporkan
14:37teror yang menimpa Sherly ke pihak kepolisian Mastifa.
14:42Karena yang pertama,
14:44skala teror yang Sherly terima itu
14:46belum sampai pada aksion yang membahayakan keselamatan.
14:52Dan atas dasar itu,
14:53Sherly pikir tatarannya adalah
14:55masih dalam skala yang
14:56boleh jadi memperingatkan.
14:58Dan yang kedua adalah CCTV
15:00yang Sherly punya sebagai bagian dari barang bukti,
15:03itu harus Sherly akui adalah milik tetangga.
15:06Jadi Sherly posisinya belum memasang CCTV di rumah.
15:10Nah, dengan posisi CCTV itu adalah milik tetangga
15:16dan tetangga juga sudah sangat suportif,
15:19kooperatif sampai saat ini,
15:21maka Sherly pikir tidak perlu melaporkan ke kepolisian.
15:24Ditambah posisinya dalam 2-3 hari ke depan,
15:27Sherly juga akan kembali ke Aceh
15:29untuk menyalurkan bantuan bersama rumah zakat.
15:32Jadi Sherly pikir dengan melaporkan itu ke polisi,
15:35tentu akan banyak nanti proses yang akan tertunda.
15:38Sherly pikir demikian.
15:39Adakah ketakutan tersendiri juga dari Anda, Mbak Sherly,
15:41kalau kemudian ini diadukan ke polisi?
15:45Tentu tidak.
15:46Sherly pikir apa yang dilakukan oleh Bang DJ Joni,
15:49itu Sherly pikir sudah tepat.
15:51Kalau yang terjadi di Sherly,
15:53eskalasinya itu lebih dari yang sekarang,
15:57Sherly pikir Sherly juga akan melakukan hal yang sama.
15:59Dan dengan pola, yang pertama pola yang serupa,
16:03yang kedua pesan yang serupa,
16:06yang ketiga waktunya yang berdekatan,
16:08maka sebetulnya ada asumsi atau ada dugaan
16:12sebetulnya apa yang terjadi di Sherly,
16:14boleh jadi diorkestrasi oleh pihak yang sama
16:18dengan yang terjadi pada Bang Doni.
16:21Artinya ketika Bang Doni sudah melaporkan,
16:23ketika pelakunya tertangkap atau terungkap,
16:27Sherly pikir itu juga akan langsung berpengaruh pada
16:31bagaimana atau teror yang terjadi di Sherly.
16:35Sherly berasumsi seperti itu, Mas Diva.
16:37Saya coba mau memastikan lagi,
16:39apakah setelah mendapat teror itu,
16:41ada ancaman dari pihak tertentu yang mengarah ke Anda
16:43dan keluarga kalau ini diadukan ke polisi, Mbak Sherly?
16:45Tidak ada, Mas.
16:47Sesudah teror di tanggal 30 itu,
16:52tidak ada teror tambahan atau tidak ada teror lanjutan sesudah itu.
16:59Beda dengan Bang G. J. Joni kan keesokan harinya
17:02itu ada teror tambahan berupa bom molotov yang dileparkan ke rumah.
17:07Nah, di Sherly tidak ada.
17:08Nah, atas dasar itu, Sherly pikir skala yang teror yang terjadi di Sherly itu
17:12tidak perlu dilaporkan ke polisi.
17:16Oke, Mas Kairil, dengan niat Mbak Sherly tidak melaporkan itu ke polisi,
17:20apakah Anda, dari perspektif Anda,
17:22inilah yang diinginkan sesungguhnya dari pelaku teror itu?
17:25Jadi sebenarnya, apa namanya,
17:29tanpa menunggu laporan dari korban,
17:32itu aparat penegak hukum harus secara proaktif
17:35untuk mengusut semua rangkaian teror ini.
17:39Jadi, tidak harus menunggu dari Mbak Sherly untuk melakukan pelaporan
17:44ataupun aktivis Greenpeace dan DJ Donis untuk membuat laporan.
17:49Karena kasusnya ini sudah menjadi perhatian publik.
17:53Jadi, disinilah tugas aparat penegak hukum untuk secara proaktif mengusut.
17:57Itu yang pertama.
17:58Karena, pertama, negara telah gagal memberikan perlindungan kepada warga negaranya.
18:03Nah, itu ujian pertamanya.
18:05Ujian keduanya adalah,
18:07apakah negara mau gagal lagi untuk mengungkap pelakunya ke publik?
18:11Jangan sampai negara gagal dua kali memberikan perlindungan kepada warga negara.
18:15Jadi, ada atau tidaknya laporan dari, apa namanya,
18:20korban, aparat penegak hukum harus secara proaktif
18:24untuk mengusut secara tuntas rangkaian serangan teror ini.
18:29Bisakah kemudian itu dilakukan, Pak Ari?
18:31Tanpa harus menunggu aduan dulu, polisi bisa proaktif?
18:33Ya, memang seharusnya begitu.
18:36Jadi, tadi kalau Mbak Serli nggak mau melapor,
18:40itu saya juga maklum karena kepentingannya begitulah.
18:43Kebiasaan disitulah kesulitan daripada polisi ya.
18:46Karena semakin sedikit kesaksian yang masuk itu,
18:50semakin sulit kita untuk mengungkap siapa pelakunya.
18:53Jadi, seharusnya ini ya,
18:55mengumum Mbak Serli masih di sini,
18:57sebelum berangkat ke Aceh,
18:58mestinya penyintai menghubungi Mbak Serli.
19:00nanya apa-apa ini kira-kira yang bisa dihinikan.
19:04Barangkali juga mungkin kalau lewat handphone,
19:06bisa dilacak handphonenya berbapak di sana.
19:09Itu sangat membantu sekali untuk melacak ya.
19:12Terutama jejak digital itu ya,
19:14kalau ada saja,
19:15itu sangat mudah sekali untuk melacaknya itu Mbak.
19:18Jadi, saya harapkan mudah-mudahan
19:19sebelum Mbak pergi nanti itu,
19:22sudah ada polisi yang menghubungi Pak Mbak.
19:24untuk mencari-cari informasi yang ada,
19:27apa-apa alat bukti,
19:30ataupun kesaksian,
19:30ataupun informasi yang berkaitannya itu,
19:33itu nanti untuk membantu ini Mbak.
19:35Karena tanpa adanya bantuan daripada
19:37tambahan saksi-saksi,
19:39akan sulit bagi penyintik.
19:40Karena ini kan jejaknya kan
19:41tidak kelihatan sekali ya,
19:43jejak kejadiannya itu,
19:45misalkan rekanan FCCC itu juga tidak ada.
19:47Paling-paling cuma jejak digital daripada komunikasi.
19:50Atau kesaksian-kesaksian dari orang yang ada.
19:52Tapi bahasanya Pak Ari,
19:54sorry saya potong,
19:55bahasanya sampai dengan saat ini,
19:56dari Polda Metro Jaya,
19:58masih baru menerima dari laporan di Jedoni,
20:00dan masih menunggu pihak lain untuk melapor.
20:03Kesan bahwa ini tampaknya,
20:04ada kesan bahwa polisi tampak hati-hati sekali di sini,
20:07untuk proaktif langsung mengecek,
20:09siapa-siapa saja pihak-pihak mengalami teror serupa.
20:11Ini, gimana mau baca itu?
20:13Itu bukan kehati-hatian kalau itu.
20:16Kalau menurut saya sekarang,
20:17polisi begitu mendengar kayak gini,
20:19harusnya malam ini juga,
20:20anggota polisi ada datang ke tempatnya Mbak Zeri itu,
20:23terus tanya informasinya.
20:24Nggak harus dipanggil,
20:25nggak harus menunggu, harus laporan.
20:27Kalau laporan kan habis waktunya,
20:29lagi bola kan kepentingannya juga akan terganggu.
20:32Tapi merasihnya polisi yang proaktif.
20:35Karena ini menjadi tantangan daripada polisi.
20:37Kalau sampai tadi ya,
20:38kita nggak bisa mengungkap,
20:39dianggap kita itu nggak bisa melindungi
20:41warga negara lah,
20:42kemudian ada kesengajaan lah.
20:45Itu bisa jadi tudingan itu ke situ.
20:47Makanya ini mumpung,
20:48ini ada di TV,
20:49mudah-mudahan ada polisi yang dengar gitu ya.
20:52Nanti habis ini,
20:53atau kalau perlu,
20:54Pak Zeri telpon aja ke polisi Mbak.
20:56Jadi Mbak ngasih informasi gitu.
20:59Polisinya dundang ke tempat Mbak.
21:00Pasti mau Mbak.
21:02Kalau itu.
21:02Oke.
21:03Saya kira itu.
21:04Oke.
21:04Mbak Zeri,
21:05dengan kasus semacam ini,
21:07ini kasus pertamakah?
21:09Atau sebelumnya Anda pernah mengalami hal semacam ini juga?
21:12Mbak Zeri?
21:13Sebelumnya teror yang serupa,
21:18mungkin nggak spesifik seperti sekarang,
21:20itu pernah Zeri dapatkan di tahun 2019, Mas.
21:23Zeri ingat saat itu,
21:24Zeri ikut hadir memberikan pendapat atau opini,
21:27atau pandangan terhadap pemindahan ibu kota
21:30di salah satu stasiun televisi,
21:32di salah satu program,
21:33di salah satu stasiun televisi.
21:34Nah, sesudah itu,
21:35nggak lama kemudian,
21:37memang Zeri mendapatkan kiriman
21:38tanpa nama tujuan,
21:41nama penerimanya,
21:42dan yang mengirim, gitu.
21:44Banyak saja karena memang mencurigakan,
21:46jadi,
21:47ya,
21:48Zeri nggak mencoba untuk membuka.
21:51Akhirnya itu Zeri berikan kepada Satpam,
21:53dan yaudah,
21:54akhirnya itu dititaklanjati oleh Satpam.
21:57Dan,
21:57itu kalau kiriman.
21:59Yang kedua adalah kalau DM,
22:00kalau WhatsApp,
22:01atau nomor-nomor doxing, gitu.
22:03Itu Zeri pikir,
22:04itu rutin.
22:05Rutin dalam lima tahunan belakang,
22:08itu rutin terjadi.
22:09Tapi kalau yang aksi langsung ke rumah,
22:13itu hal serupa pernah Zeri dapati
22:15di tahun 2019,
22:17saat memang cukup vokal
22:19menyampaikan pendapat atau opini
22:20terkait satu kebijakan tertentu
22:22di masa presiden tersebut.
22:24Oke.
22:25Dengan membaca pola ini,
22:26momentum dari teror itu muncul
22:28setelah Anda menyampaikan pendapat,
22:30Anda beropini, Mbak Zeri.
22:31Anda merasa butuh perlindungan, tidak?
22:33Bentuk perlindungan seperti apa yang diharapkan?
22:35Karena, ya, balik lagi,
22:36kalau pakai pengantar saya di segmen sebelumnya,
22:38kalau betul negara kita punya kebebasan
22:40berespresi untuk setiap orang,
22:41punya kebebasan berpendapat,
22:43maka bentuk perlindungan,
22:44apa yang Anda harapkan itu bisa diberikan?
22:48Ya, tentu dalam hal ini,
22:50kalau memang,
22:52saya boleh jadi masih awam,
22:53jadi ketika tadi mendapatkan penjelasan
22:56bahwa sebetulnya proaktif
22:58dari pihak yang berwenang itu bisa dilakukan,
23:01maka boleh jadi itu adalah perlindungan
23:02yang kita semua harapkan.
23:05Dan saya dipikir,
23:05konten creator lain yang,
23:07saya yakin sekali ada banyak konten creator
23:09yang sebetulnya juga mengalami hal yang sama,
23:12tapi akhirnya tidak berani speak up,
23:14tidak berani mengangkat itu.
23:16Karena khawatir konsekuensi logis
23:18dari ketika mereka mengangkat itu,
23:19otomatis akan diketahui oleh banyak pihak,
23:23dan kemudian ada yang nanti mengartikan
23:24bahwa boleh jadi ini settingan,
23:26atau ada pihak ketiga yang memancing di air keruh,
23:28dan lain-lain.
23:29Nah, untuk itu tentu proaktif
23:31dari pihak yang berwenang,
23:32tadi sebagaimana Bapak sampaikan,
23:34itu adalah perlindungan yang paling pertama.
23:36Yang kedua adalah,
23:37kalau di dalam rentang satu bulan terakhir,
23:41Sherly harus akui
23:42pola, nada, nada pesan,
23:45dan waktu yang berdekatan ini
23:46membuat sebetulnya ada asumsi,
23:50kalau yang dilaporkan oleh Bang Doni ini
23:53bisa terungkap,
23:55maka itu bagi Sherly adalah sebuah perlindungan,
23:58bukan hanya bagi Sherly,
23:59tapi bagi masyarakat lain juga,
24:01bahwa ya kita cukup aman
24:03ketika menyampaikan bahwa
24:05kita butuh untuk ini diusut kontas.
24:09Baik.
24:10Jadi pikirin.
24:10Oke, singkat untuk Bapak-Bapak sekalian masing-masing,
24:13Pak Ari, menurut Anda perlindungan yang paling ideal apa,
24:15kalau untuk kasus macam ini?
24:17Ya, perlindungan yang paling ideal adalah
24:19kepada yang bersangkutan,
24:20dijamin bahwa dia tidak akan diganggu.
24:22Dan yang kedua,
24:24dijamin ada komunikasi terus,
24:27sehingga setiap ada perkembangan itu,
24:29aparat bisa ikut melindungi.
24:31Kalau tidak ada komunikasi kan percuma nanti,
24:33jadi bagaimana kita janji mau melindungi,
24:36orangnya aja nggak tahu,
24:37nggak bisa dihubungi.
24:39Saya terima kasih Mbak Sali tadi,
24:41menyatakan gitu ya.
24:43Kalau bisa, tolong Mbak,
24:44telponnya Mbak kasih saya,
24:46lewat Mastifa,
24:48nanti saya akan teleponkan kepada anggota saya,
24:51polisinya masih dinis untuk menghubungi Mbak gitu.
24:53Sehingga Mbak nggak usah repot-repot dipanggil
24:55atau melapor.
24:56Tapi polisi akan sangat bertimbak kasih
24:58kalau mendapatkan informasi yang tambahan dari Mbak itu.
25:02Karena itu satu-satunya kesempatan yang bagus
25:04untuk bisa melacak ini.
25:06Daripada nanti cuma ditutuh sama orang lain
25:08bahwa kita nggak mampu,
25:09kita nggak serius dan sebagainya itu.
25:11Saya kira polisi akan senang gitu Mbak.
25:13Mas Hayril, menurut Anda perlindungan seperti apa
25:16yang harusnya bisa didapatkan para aktivis dan pengaruh
25:18atau siapapun pihak yang bersuara kritis
25:21tentang berbagai hal di publik?
25:24Ada dua.
25:24Pertama adalah perlindungan keamanan
25:27bagi mereka-mereka yang telah mengalami serangan
25:30baik dari aparat tenaga hukum
25:32maupun dari lembaga-lembaga terkait.
25:35Misalnya seperti Komnas HAM, LPSK.
25:37Itu adanya, apa namanya,
25:39support dari mereka itu sangat-sangat
25:41comforting bagi para korban.
25:43Dan juga memastikan keamanan bagi aktivis
25:47dan maupun influencer lainnya
25:49agar tetap aman dalam bersuara.
25:52Yang kedua adalah jaminan akan penegakan hukum
25:55yang tegas terhadap aksi teror ini.
25:58Jangan sampai aksi teror ini
26:00tidak diusut tuntas seperti teror-teror sebelumnya
26:03dan akhirnya menimbulkan teror-teror baru
26:06kepada aktivis maupun konten kreator
26:09di masa-masa yang akan datang.
26:10Itu menurut saya yang paling penting
26:13untuk dilakukan oleh lembaga penegak hukum
26:16maupun dalam konteks ini
26:18lembaga penegak hukum
26:19maupun lembaga-lembaga terkaitnya.
26:21Baik.
26:22Mas Kairil, Pak Ariantosu tadi,
26:24Mbak Shirley, terima kasih banyak
26:25sudah memulangkan waktu berbicara bersama KB kali ini.
26:28Harapkan kita sama-sama
26:28bahwa ini jangan sampai terulang kembali.
26:31Semua punya hak untuk bersuara.
26:32Terima kasih.
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan