- 7 weeks ago
Raja Ampat dikenal sebagai surga dunia: laut jernih, formasi batu karst yang megah, dan kaya keanekaragaman hayati. Namun di balik keindahan itu, ada luka yang menganga. Penambangan nikel mulai merambah pulau-pulau kecil di Kabupaten Raja Ampat.
Setiap hilir mudik tongkang dan ekskavator yang bekerja, menyiratkan satu hal: keputusan yang mendahulukan keuntungan jangka pendek di atas keberlanjutan. Kerusakan alam itu masih terus terjadi.
Saksikan perjalanan Greenpeace Indonesia melintasi Tanah Papua untuk memotret langsung kondisi terkini dari pusat terumbu karang Raja Ampat yang mendunia, hutan mangrove tersembunyi di Teluk Bintuni, hingga kisah perjuangan masyarakat adat di kawasan Sungai Digul di Papua Selatan demi menyelamatkan hutan tropis tersisa kita.
Setiap hilir mudik tongkang dan ekskavator yang bekerja, menyiratkan satu hal: keputusan yang mendahulukan keuntungan jangka pendek di atas keberlanjutan. Kerusakan alam itu masih terus terjadi.
Saksikan perjalanan Greenpeace Indonesia melintasi Tanah Papua untuk memotret langsung kondisi terkini dari pusat terumbu karang Raja Ampat yang mendunia, hutan mangrove tersembunyi di Teluk Bintuni, hingga kisah perjuangan masyarakat adat di kawasan Sungai Digul di Papua Selatan demi menyelamatkan hutan tropis tersisa kita.
Category
🏖
TravelTranscript
00:00Transcribed by ESO, translated by —
00:30Tanah Papua, surga dengan keindahan alam yang tiada banding,
00:43mencakup hutan tropis, perairan sebening kristal, hingga hamparan hutan mangrove.
00:51Bentang alamnya melahirkan ekosistem khas yang tak ditemukan di tempat lain.
00:56Tanah Papua juga menjadi rumah bagi masyarakat adat yang telah menjaga tradisi
01:01dan hidup harmoni dengan alam selama ratusan generasi.
01:05Namun, di balik keindahan lanskap yang memukau, kerusakan masih terus terjadi.
01:25Greenpeace Indonesia memulai perjalanan untuk melihat lebih dekat ekosistem tanah Papua yang kian rapuh
01:30akibat kebijakan dan aktivitas industri yang tak henti mengejar keuntungan.
01:36Awal pelayaran kami dimulai menuju ke wilayah yang paling sering dikunjungi wisatawan di Raja Ampat,
01:42yakni Pianemo dan Wayak.
01:45Sepanjang perjalanan, kami disuguhi panorama memukau.
01:50Inilah mengapa Kepulauan Raja Ampat disebut sebagai salah satu tempat terindah di buka bumi.
01:55Namun, saat kami memasuki kawasan Raja Ampat lebih jauh, kontrasnya menjadi nyata.
02:20Surga di satu sisi, tetapi terdapat kehancuran di sisi lain.
02:24Di sinilah potret keindahan Raja Ampat berubah menjadi suram.
02:39Sepintas, aktivitas penambangan tampak samar hampir tersembunyi.
02:45Dari kejauhan yang terlihat hanya hilir mudi kapal tongkang,
02:48tetapi pemantauan udara terlihat jelas, inti pulau sedang digali.
02:53Pemandangan ini sungguh mengejutkan sekaligus memilukan.
03:00Pulau kecil yang dulunya masih alami, kini tampak rusak.
03:03Pulau kecil saja dikeruk sampai puluhan ekskavator, kita lihat di situ tuh.
03:18Ini gimana nih Raja Ampat nih?
03:20Ini bakal habis semua tuh karang-karang yang bagus di sini nih.
03:24Terus pulau ini bakal lenyap nih.
03:29Kita akan kehilangan pulau lagi kalau dikeruk terus untuk industri mobil dan atas nama transisi energi.
03:37Para pengambil kebijakan mulai tergiur keuntungan dari sektor pertambangan, terutama nikel.
03:45Hal ini telah mengorbankan pulau-pulau kecil yang menopang ekosistem alam di Raja Ampat.
03:51Ya, wilayah Raja Ampat ada sebagian areal yang menjadi wilayah konservasi.
03:56Tapi wilayah-wilayah ini tidak terlepas dari izin-izin yang diberikan oleh pemerintah.
04:04Nah, karena pemerintah hari ini hanya melihat keuntungan dan memperluas industri ekstraktif di wilayah ini.
04:11Lalu muncul pertanyaan, berapa lama keindahan Raja Ampat bisa bertahan menghadapi laju industri ekstraktif yang tanpa batas?
04:20Maka kita akan menyaksikan ke depan bagaimana kekayaan di Indonesia akan hilang akibat rakusnya industri nikel.
04:35Untuk itu, kita harus hentikan itu bersama-sama.
04:39Kita harus minta pemerintah, terutama pemerintah pusat, untuk menghentikan izin-izin tambang nikel di wilayah Raja Ampat.
04:51Dan di wilayah pulau-pulau kecil di Indonesia Timur.
04:54Karena di Indonesia Timur, ini adalah wilayah-wilayah yang sangat kaya akan kenaik karagaman hayati di Indonesia.
05:09Layaran selanjutnya membawa kami ke Kebupatan Sorong Selatan untuk memotret perjuangan suku Tehid dalam mempertahankan tanah adat Nasaimos.
05:24Luas wilayah adat Nasaimos, seluas 97.441 hektare membentang hingga ke bibir sungai Kaibus dan muara laut.
05:33Wilayah ini telah menjadi incaran dari investasi berbasis lahan yang sebagian besar dulunya adalah bekas hak pengusahaan hutan untuk perusahaan kayu.
05:46Maka tidak heran letak yang strategis ini mengundang ancaman bagi kelangsungan hutan adat.
05:51Ini bakalan hancur nih kalau tidak dilindungi.
05:58Ini apa yang seperti yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan.
06:02Ini akan dibuka habis, dijadikan kebun sawit, kemudian akan terjadi kerusakan lingkungan, konflik dengan masyarakat juga akan terjadi.
06:13Ini sangat berbahaya bagi masa depan orang Papua, sehingga kita harus melindungi sebelum bulldozer-bulldozer itu datang tiba di tanah Papua.
06:30Berjuang sejak tahun 2010, masyarakat adat Tehid Nasaimos akhirnya berhasil mendapatkan pengakuan status wilayah adat dari pemerintah Kabupaten Sorong Selatan.
06:39Selama ini mereka konsisten menolak program transmigrasi, penerbangan hutan, dan perkebunan sawit skala besar.
06:50Untuk itu, seku Tehid Nasaimos kemudian membangun pos jaga agar dapat mengawasi lanskap wilayah hutan mereka.
06:57Di sana, itu adalah pos pengamatan yang dibangun oleh masyarakat adat Tehid Nasaimos.
07:05Dan saat ini, mereka mencoba bagaimana menjaga wilayah hutan adatnya.
07:12Pos ini adalah salah satu bukti bahwa mereka secara serius akan menjaga wilayah hutannya.
07:18Ini semua yang kita lihat sampai ke muara dan sampai ke laut, ini adalah wilayah adat Kena Saimos.
07:25Pos ini fungsinya untuk kami menjaga potensi kita supaya tidak boleh ada pihak luar yang masuk.
07:35Ancaman di sini biasanya kami jauh dari pantai.
07:40Jadi masyarakat lain yang ada di dekat pantai, biasanya mereka mencari kita punya potensi laut yang ada di pantai kita.
07:48Demikian juga pohon hutan kami juga, ada yang juga bisa menibang kayu.
07:54Jadi kami melihat dengan legalitas ini, gerakan-gerakan kami melalui peta dan juga kami sudah buat beberapa papan-papan pelan batas di setiap marga.
08:02Itu kita sudah pasang, makanya yang selalu beraktifitas itu semakin lama kurang.
08:07Contoh di sini banyak kepiting kita, banyak ikan, udang, tapi sekarang sudah semakin kurang.
08:14Dan lalunya mereka aktivitas di sini.
08:17Sementara begini perang mulai keluar dari muara banyak sekali.
08:20Tapi kami sudah beraktifitas, saya sudah hampir dua bulan di sini.
08:25Untuk bangun ini saya lihat sudah memang kurang, tidak ada lagi.
08:29Saat kami berkesempatan menjelajahi lebih dalam kehutan di wilayah adat Noseimos,
08:40terdapat pohon merbau yang tergolong langka, menjulang tangguh di antara pepohonan lainnya.
08:45Di Kalimantan misalnya ada kayu-kayu endemik yang sudah habis, kayu ulin.
08:52Dan di sini hutan-hutan di Papua merbau adalah kayu endemik karena kekuatannya dan ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.
09:01Dan ini sudah mulai dihabiskan.
09:03Setelah hutan di Kalimantan habis, perpindahan terhadap komoditas-komoditas yang berbasis lahan itu akan terjadi di tanah Papua.
09:12Dan di wilayah ini mereka mampu menjaga dengan kearifan lokal, dengan melakukan upaya untuk meminta pemerintah untuk melakukan pengakuan,
09:22sehingga wilayah ini masih bisa terjaga.
09:25Tapi bagaimana dengan wilayah-wilayah di luar masyarakat adat yang menjaga hutannya,
09:30itu sudah terjadi pembukaan besar-besaran seperti di Bofendigul, di wilayah-wilayah Merauke misalnya.
09:36Ini adalah pembelajaran bagaimana masyarakat bisa menunjukkan kekuatan mereka dan mampu menunjukkan pengelolaan basis ekonomi berdasarkan kearifan mereka.
09:51Pengakuan atas wilayah adat mereka merupakan kemenangan penting.
09:55Tetapi masyarakat adat Noseimos kini masih terus berjuang untuk mendapatkan status hutan adat secara penuh.
10:03Ini akan memberikan perlindungan hukum yang lebih kuat dan memastikan hutan mereka tetap lestari bagi generasi mendatang.
10:10Terima kasih telah menonton!
10:40Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Teluk Bintuni,
10:48kawasan yang telah menjadi rumah bagi salah satu ekosistem penting dalam mitigasi krisis iklip yakni mangrove.
10:56Di Cagar Alam ini juga terdapat 15 kampung di mana ditinggali oleh masyarakat asli Papua
11:02dan mereka semua menggantungkan hidupnya terhadap keperadaan mangrove ini.
11:07Mereka biasanya mencari kepiting, udang, dan beberapa jenis ikan untuk dikonsumsi,
11:12tapi juga dijual untuk kebutuhan ekonomi mereka.
11:16Namun, seiring meningkatnya dorongan pembangunan,
11:19masa depan mangrove yang masih alami ini menjadi tidak menentu.
11:24Sekelompok tim peneliti mengecek langsung ke empat titik lokasi,
11:27yakni di Pulau Amutu Besar, Pulau Amutu Kecil, area di Pulau Modan, serta di dekat Muara Sungai Wasian.
11:36Kribis Indonesia sedang berada di Amutu Besar.
11:39Kita sedang mendatangi salah satu lokasi yang diperkirakan sebagai formasi baru kawasan hutan mangrove
11:46karena dianggap sebagai vegetasi yang tumbuh di formasi paling terdepan.
11:51Sehingga kita perlu melakukan verifikasi lebih lanjut dengan melakukan pengambilan data diameter
11:56dan juga tutupan dari tajuk atau kanofi yang ada di kawasan ini.
12:01Dan kita berharap dengan pengambilan data dan sampel ini bisa memperkaya analisis
12:08bagaimana penyelamatan hutan mangrove di Tulup Bintuni terutama dan di Papua secara umum.
12:14Kita juga akan mengambil data komponen lain yaitu tutupan kanofi atau kanofi coverage dari mangrove ini
12:21dengan cara mengambil hem, kita sebut hemisfer,
12:26kita juga urus ke atas, terus ke 45 derajat.
12:32Dari pengambatan secara langsung, ekosistem mangrove di Tulup Bintuni banyak yang terbentuk dari hasil akresi sedimen.
12:48Mangrove yang tumbuh di Pulau Amutu Besar diperkirakan berumur 10 hingga 15 tahun
12:53didominasi oleh jenis aficenia marina atau api-api putih.
12:57Di Pulau Amutu Kecil, ekosistem mangrove tampak masih dalam tahap regenerasi,
13:02tetapi rusak akibat penebangan.
13:05Hal ini terlihat dari vegetasi tingkat panjang pohon yang nyaris tidak ada
13:09dan tergolong ke dalam kondisi buruk.
13:12Sementara kondisi ekosistem mangrove di depan Pulau Bodan masih tergolong baik
13:16dengan usia sekitar kurang dari 5 tahun.
13:19Kemudian untuk yang ada di belakang kita ini adalah mangrove alami,
13:29mangrove primer yang masih sangat sehat.
13:33Ini lokasinya di muara Sungai Wasian, Tulup Bintuni.
13:39Jenis-jenis dominan di sini adalah risopora, ada burguera, ada juga soneratia,
13:44ada aficenia sedikit, dan ada beberapa jenis mangrove asosiasi,
13:51tapi dia di bagian dalam.
13:54Nah, kalau dari sisi peran daripada ekosistem mangrove primer ini,
14:02ini adalah salah satu contoh ekosistem mangrove yang mempunyai fungsi penyimpan karbon sangat tinggi.
14:09Kami merupakan pengukuran untuk kedalaman substrat yang kita sebut mangrove pit itu,
14:15itu lebih dari 3 meter.
14:17Jadi kita bisa bayangkan kalau kita mengkonversi hutan ini,
14:21itu karbon itu akan teremisi ke udara.
14:24Belum lagi kalau kita konversi hutan ini,
14:28dan kita misalnya mengambil pohonnya menjadi pemanfaatan yang lain,
14:33itu pasti ada emisi karbon juga yang terjadi di sini.
14:36Jadi sangat vital sekali ekosistem seperti ini untuk kita jaga.
14:43Menurut saya, message paling penting sekali bagi kita adalah,
14:50jangan dikonversi.
14:53Nah, hutan mangrove tuluk bentuni ini memiliki keunikan,
14:58karena biasanya kalau hutan mangrove itu berbatasan dengan rawa,
15:02tapi ini langsung berbatasan dengan hutan dataran rendah.
15:05Oleh sebab itu, mengingat pentingnya peran dan fungsi hutan mangrove,
15:10maka mari kita lindungi, mari kita jaga,
15:14dan mari kita selamatkan hutan mangrove.
15:15Perjalanan selanjutnya menuju ke wilayah Papua Selatan,
15:43menyusuri sungai Digul yang megah.
15:46Sungai ini berfungsi seperti urat nadi,
15:49dan akses vital ke salah satu hamparan hutan tropis yang tersisa di tanah Papua.
15:55Tujuan penelitian di kawasan ini untuk memverifikasi kondisi hutan sebagai bahan dasar
16:01dalam pemantauan perubahan tutupan lahan,
16:03serta meningkatkan akurasi klasifikasi hutan.
16:07Ketika kita lihat di lapangan,
16:10karena memang bentuk hutannya itu tajuknya kecil gitu ya,
16:17kemudian juga diameternya juga kecil-kecil gitu,
16:22sehingga kalau di dalam definisi salah satu peta itu tidak termasuk hutan.
16:28Padahal kalau kita lihat ya, itu kelihatan seperti hutan gitu.
16:34Sehingga sepanjang perjalanan ini kita bisa simpulkan bahwa
16:38sepanjang sungai Digul ataupun di Papua Selatan,
16:42itu memang hutannya masih bagus gitu ya,
16:44masih rapat gitu, dan dominasinya hutan.
16:47Sehingga secara landscape pun hutannya masih intek.
16:52Papua Selatan merupakan wilayah yang sangat penting secara ekologis,
16:56dengan lebih dari 60 persen wilayahnya tertutup hutan alami
17:00yang kaya akan keanekaragaman hayati
17:02dan berperan sebagai penyimpan karbon.
17:05Namun ekosistem pesisir dan dataran gambut ini
17:08tengah menghadapi ancaman serius.
17:12Koridor sungai Digul telah lama menjadi pintu masuk
17:14bagi usaha perkebunan dan kayu.
17:17Jalur sungai yang menjangkau hingga pendalaman,
17:19memudahkan akses transportasi dan logistik.
17:22Nah, Papua Selatan terutama sungai Digul
17:26itu menjadi akses yang paling terbuka
17:30karena dari sungai Digul ini
17:32akan mudah sekali buat perusahaan
17:35dengan membawa tanker yang besar
17:37dengan grosstone maksimum sampai maksimum 5.000 grosstone
17:41mereka bisa membawa CPO.
17:44Karena itu maka Papua Selatan ini
17:49terutama tiga kabupaten
17:51Bopendigul, Mapi, dan Merauke
17:54ini perlu untuk diselamatkan.
18:00Obral izin konsesi untuk perkebunan sawit
18:02dan hutan tanaman industri
18:03menjadi ancaman nyata
18:05bagi masyarakat adat
18:07yang tersebar di kawasan sungai Digul.
18:09Itu ternyata sepanjang sungai Digul ini
18:13sudah dibebani izin-izin gitu ya.
18:18Untuk yang ungu ini adalah
18:20izin-izin lokasi untuk perkebunan sawit.
18:25Kemudian untuk yang orange ini
18:27adalah izin lokasi untuk HTI ya,
18:30hutan tanaman industri gitu.
18:32Nah kita lihat
18:33sepanjang Digul ini
18:36sudah rame ya
18:38sudah rame dengan perizinan
18:40dan ternyata
18:41di sepanjang sungai Digul pun ini
18:44juga sebenarnya sudah
18:45ada wilayah adat dari
18:48orang asli Papua gitu ya.
18:51Sebagian barat dari sungai Digul ini
18:53ini sebenarnya
18:54menjadi bagian dari wilayah adat
18:57suku Auyu
18:59dan di bagian timur dari sungai Digul ini
19:02menjadi bagian dari wilayah adat
19:05suku Wambon.
19:06Jadi suku Auyu ini
19:08terkait dengan konflik dengan
19:10perkebunan sawit
19:11di sebelah barat,
19:12di sebelah timur
19:13suku Wambon
19:14banyak terkait konflik dengan HTI.
19:19Perjalanan Greenpeace Indonesia
19:21ke wilayah Papua Selatan
19:22salah satunya untuk menyaksikan
19:24sebuah pertemuan bersejarah
19:25setidaknya bagi warga suku Auyu
19:27dan suku Wambon atau Mandobo.
19:31Ancaman ekspansi perkebunan
19:32terhadap wilayah adat
19:34telah mendorong mereka
19:35untuk bertemu satu sama lain.
19:38Kumi menyambut acara yang istimewa,
19:40sejumlah mama dari kampung Ayiwat
19:42bergegas mengambil hasil alam
19:43langsung dari hutan.
19:45Ambil kulit cah itu,
19:57baru nanti ambil
19:58kayu lagi, daun lagi,
20:00nanti bawa pulang,
20:02itu nanti
20:03alas pakai daun,
20:05sagu,
20:06baru
20:06daging itu,
20:09baru tutup biya.
20:10Kita maju lagi dolar.
20:14Maju lagi.
20:19Pertemuan pun berlangsung di aula
20:35kampung Ayiwat,
20:36Kabupaten Bovendigul.
20:37Para tetua dan anggota masyarakat adat
20:40dari kedua suku
20:41dengan sepenuh hati
20:42berbagi kisah tentang
20:44ikatan mendalam mereka
20:45dengan hutan
20:45sebagai bagian dari identitas,
20:48budaya,
20:49dan eksistensi mereka.
20:50Memang betul
20:52kita melihat bahwa
20:55kita punya hutan hadat ini
20:57dirapas oleh orang lain.
21:01Lebih khusus dari Auyo,
21:03dari Mandungo,
21:06dikira dirapas oleh orang lain.
21:09Sehingga
21:09saya mau sampaikan kepada masyarakat
21:12bahwa
21:12hutan itu sangat penting.
21:17Jadi kalau kita
21:19dikira masyarakat tanah,
21:21satu orang sudah bisa.
21:23Kita harus
21:24satu dua kampung
21:26masyarakat
21:27dikira baru
21:28bisa.
21:30Kalau satu dua orang itu
21:31sudah bisa.
21:34Menurut pengakuan warga
21:36kampung Ayiwat dan Subur,
21:37mereka tetap menolak
21:39munjuk rayu perusahaan
21:40yang mencoba mendapatkan izin
21:42di wilayah adat.
21:42Sebab
21:44warga belajar
21:45dari pengalaman
21:45masyarakat adat lainnya
21:47yang justru dirugikan
21:48akibat hilangnya
21:49hutan adat mereka.
21:51Pengalaman ini
21:52menunjukkan
21:53bahwa telah banyak
21:54kerugian yang dialami
21:55masyarakat adat.
21:56Pada awalnya
21:58perusahaan ini,
21:59dia
21:59masuk pada
22:01tahun 2017.
22:03Perusahaan
22:04Rokirahunjaya,
22:06MRJ.
22:07Jadi
22:092017
22:12sampai dengan
22:132018
22:14setiap tahun
22:15datang terus.
22:17Tapi kami
22:17masyarakat juga
22:18tetap menolak.
22:21Menolak
22:22dengan berbagai
22:22cara.
22:24Kita buat
22:24aksi langsung
22:25di lapang,
22:26terus kita buat
22:27menolakan
22:28melalui surat
22:29ke dinasinya
22:30terkait.
22:31Ya,
22:32apa yang terjadi
22:33di kampung Subur
22:33dan kampung Ayiwat
22:34sebenarnya
22:35hampir
22:36mirip dan
22:37tipikal
22:38apa yang terjadi
22:38di wilayah lain
22:39di Papua,
22:40khususnya di Papua Selatan.
22:42Kalau
22:43kita sebelumnya
22:44pernah mendengar
22:45terkait dengan
22:45kasus
22:46Auyu,
22:47Margaworo,
22:48di kampung Subur
22:49dan kampung Ayiwat
22:50pun sama,
22:50mengalami hal yang sama.
22:52Hanya perbedaannya
22:52adalah di kampung Yare,
22:54di suku Auyu
22:55dan
22:55Margaworo,
22:57itu
22:57masyarakat adat
22:58berhadapan dengan
22:59perusahaan
23:00perkebunan kelapa sawit.
23:02Tapi
23:02saat ini
23:03di kampung Subur
23:04dan kampung Ayiwat
23:05yang mereka hadapi
23:06adalah perusahaan
23:07hutan tanaman industri
23:08yang namanya
23:10Merauke-Rawyan Jaya Group.
23:12Nah,
23:13yang mereka
23:13coba
23:14untuk masuk
23:15ke dalam
23:15menguasai
23:17hutan adat
23:18milik
23:18suku Wambon
23:19di kampung Ayiwat
23:21dan kampung Subur.
23:24Suku Wambon
23:25dan Auyu
23:25telah membuat
23:26pilihan yang tegas.
23:28Mereka menolak
23:29menyerahkan
23:29tanah leluhur
23:30kepada perusahaan
23:31meskipun
23:32tekanan
23:32dan tawaran
23:33terus berdatangan.
23:39Perjalanan
23:40menelusuri
23:40hutan Papua
23:41telah melintasi
23:42bentang alam
23:43yang kaya
23:43keanekaragaman
23:44hayati
23:44dan kisah upaya
23:46menjaga
23:46tanah leluhur
23:47serta perlawanan.
23:49Di balik rapatnya
23:50tutupan hutan,
23:51kita melihat
23:52bagaimana
23:52hutan menjadi
23:53jantung kehidupan,
23:54kehidupi mereka
23:55yang telah
23:56menjaganya
23:56turun-temurun.
23:57Menjaga
23:59hutan Papua
24:00berarti menjaga
24:01masa depan
24:01kita bersama.
24:03Jangan
24:03biarkan
24:04perhatian
24:04kita pudar
24:05dan terus
24:06bersuara
24:06untuk
24:07tanah Papua.
24:08selamat menjaga.
24:38selamat menjaga.
24:39Selamat menjaga.
24:40Selamat menjaga.
24:41Selamat menjaga.
24:42selamat menjaga.
Comments