KOMPAS.TV - Pegiat Lingkungan dan Local Hero Binaan Pertamina, Mohamad Jamaludin menjelaskan bahwa daerahnya memiliki akses yang sangat sulit, termasuk listrik.
Jamaludin kemudian mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) yang menggabungkan panel surya dan kincir angin.
Di musim kemarau, warga bahkan harus menempuh 7 kilometer dengan perahu kecil menuju lereng Pulau Nusa Kambangan untuk mengambil air tawar.
Untuk mengatasi risiko itu, PLTH dimanfaatkan lebih jauh sebagai sumber energi bagi SIDESIMAS (Sistem Desalinasi Air Berbasis Masyarakat).
"SIDESIMAS mengolah air tambak atau air payau menjadi air tawar yang bisa dikonsumsi," jelas Jamaludin.
Air payau dipindahkan ke tandon, diendapkan, lalu diolah dengan sistem desalinasi hingga menjadi air minum untuk warga.
Menurut Jamaludin, inovasi ini membawa perubahan nyata. "Alhamdulillah, Dusun Bondan sekarang merdeka dari kekeringan air bersih," tegasnya.
Kisah Jamaludin menjadi contoh bagaimana energi terbarukan dan teknologi sederhana dapat menyelamatkan warga dari krisis air di wilayah terpencil.
Selengkapnya saksikan di sini:
https://youtu.be/_SaL4pYE9E0
#inovasi #cilacap #energiterbarukan
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/634307/perjuangan-jamaludin-atasi-krisis-air-bersih-dan-inovasi-energi-terbarukan-rosi
00:00Awal mula kenapa saya bisa dikatakan seorang pegiat lingkungan yaitu berawal dari masalah.
00:05Berawal dari masalah?
00:06Masalah. Masalah lingkungan yang saya sendiri rasakan begitu.
00:12Mungkin teman-teman di sini mudah-mudahan ya saat ini dan sudah dalam keadaan menikmati kehidupan yang layak ya.
00:20Memiliki listrik yang luar biasa.
00:23Tapi saat itu dusun kami dalam keadaan gelap gulita selama hampir 20 tahun lebih.
00:28Itu awal mulai.
00:2920 tahun gelap gulita?
00:3120 tahun gelap gulita tidak ada sumber listrik.
00:34Sama sekali?
00:35Sama sekali.
00:36Mas Jamal itu 4 tahun tinggal di Cilacap, bikin PR, bikin tugas sekolah sampai SMK itu gelap gulita.
00:44Dan waktu itu apa yang ada dalam pikiranmu?
00:48Yang ada dalam pikiran saya adalah kok seperti ini banget gitu ya.
00:53Apalagi ketika saya sudah beranjak dewasa hingga sekolah ya, sekolah SMK saat itu.
00:59Selama hampir sekian puluh tahun lamanya dusun dalam keadaan kegelapan dan belajar itu ketika malam-malam susah ya.
01:08Belajar susah, sumber air minum susah gitu kan.
01:11Dan lain sebagainya.
01:13Maka disitu saya berpikir, saya tidak ingin anak-anak dusun saya, dusun Bondan, tepatnya di dusun Bondan kecamatan Kampung Laut Kabupaten Cilacap ya.
01:23Di seberang pulau sana yang jauh dari akses keramaian, di pedalaman.
01:28Saya tidak ingin anak-anak Bondan mengalami peristiwa seperti saya.
01:34Dan sekarang saya sudah punya anak, saya tidak ingin anak saya mengalami hal seperti saya.
01:40Maka dari situ saya berusaha untuk mencari bangkit, mencari solusi untuk bisa menemukan sebuah cahaya-cahaya keabadian untuk kehidupan masyarakat di masa yang akan datang.
01:51Mas Yamal bikin apa?
01:58Di tempat saya itu, karena memang jaraknya susah ya, aksesnya susah.
02:02Jadi ada sebuah pembangkit listrik namanya PLTH.
02:06Pembangkit listrik tenaga hybrid.
02:07Jadi hybrid ini perpaduan antara panel surya, panas matahari dengan kincir angin.
02:14Jadi di situ memanfaatkan potensi alam yang ada untuk bisa memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
02:22Seperti itu.
02:23Oh jadi supaya desa Bondannya ini bisa punya listrik, jadi kamu madukan antara tenaga matahari dan angin.
02:35Kincir angin, betul.
02:36Kan gak hanya di desa Bondan itu kan gak hanya gelap gulita, susah air ya.
02:46Jadi teman-teman undip, mas Yamal ini tolong ceritakan, jangankan gelap di malam hari.
02:53Coba ceritakan pada teman-teman mahasiswa undip untuk dapat air minum itu gimana?
02:58Ya baik Bapak Ibu semuanya dan rekan-rekan mahasiswa disini.
03:03Dusun Bondan ini kita sumber-sumber air banyak ya.
03:07Karena kita rawak gitu kan.
03:08Tapi airnya air asin ya.
03:10Ketika musim hujan kita menggunakan tak ada hujan.
03:13Tapi hujan itu tidak setiap hari.
03:15Apalagi musim kemarau panjang.
03:17Sehingga untuk membutuhkan sumber air bersih,
03:20kita itu harus ngambil air dengan perahu lesung kecil itu ke lereng pulau Nusakambangan.
03:25Mungkin yang dari Cilacap tahu ya Nusakambangan itu dimana dan seperti apa.
03:30Dusun saya itu ke pulau Nusakambangan dimana disana ada titik air bersih itu kurang lebih sekitar 7 km.
03:35Harus melewati ombak, lautan, segara yang mana resikonya sangat luar biasa.
03:40Itu termasuk mempertaruhkan nyawa ya?
03:42Betul.
03:42Hanya untuk cari minum?
03:44Betul.
03:44Nah sehingga dengan adanya pembangkit listrik ini,
03:48tidak hanya kami gunakan untuk penerangan rumah.
03:51Untuk bisa ngecas HP, TV dan lain sebagainya.
03:54Tapi kita bagaimana untuk bisa mensolusikan masalah yang ada dengan inovasi dari pembangkit listrik tersebut.
04:01Maka di tempat kami itu ada namanya penyulingan air.
04:04Namanya Sidesimas.
04:06Sistem desalinasi air berbasis masyarakat.
04:09Yang mana sistem ini mengolah air tambak, air payau itu asli air payau.
04:15Mungkin suatu saat kita kesana biar tahu ya seperti apa.
04:18untuk bisa diolah menjadi air tawar.
04:23Dari air tambak dipindah ke tandun, diendapkan dengan beberapa menit,
04:27kemudian baru diolah dengan sistem mesin desalinasi.
04:30Dan Alhamdulillah saat ini Dusun Bondan merdeka dari kekeringan air bersih.
04:35Pak Menteri, kalau dengar cerita ini...
04:43Keren, keren.
04:44Keren ya?
04:45Keren banget. Inspiring ya.
04:47Jadi memang yang namanya belajar itu saat ini tidak lagi dibatasi ruang-ruang kelas.
04:57Tadi kita dengar cerita, thank you banget ini juga buat Kompas TV luar biasa.
05:04Hal-hal seperti ini saya rasa perlu terus diperbanyak ya Mbak Rosi.
05:09Supaya orang-orang kita, adik-adik kita terutama mahasiswa itu bisa melihat bahwa...
05:17Keterbatasan, permasalahan itu justru menjadi sumber kemajuan.
05:24Jadi adik-adik mahasiswa, kalau zaman sekarang sering kita dapati...
05:30Aduh masalah berat banget sih gitu ya.
05:33Tugas banyak banget.
05:36Uang bulanan terlambat gitu.
05:39Jadi keterbatasan-keterbatasan yang ada...
05:42Itu justru kalau kita belajar dari tiga orang inovator tadi...
05:46Itu karena keterbatasan lah mereka memiliki atau bisa membuat kemajuan.
05:53Senang tadi dengar salah satu apa yang dikatakan oleh Raim.
05:59Karena kegelisahan dan gelisah itu bukan hanya karena melihat diri sendiri ya...
06:03Tapi melihat sekitar.
06:07Bagaimana kita melihat di sekitar kita dan kita ingin menjadi bagian dari kemajuan komunitas kita.
06:13Kan jarak antara masalah dan solusi itu peluang usaha.
06:18Ekonomi di dalamnya.
06:20Biasanya keresan-keresan siapa yang rajin resah.
06:23Kan mahasiswa rajin di doktrin sama abang-abang sama dosen kita.
06:27Kayak mahasiswa harus kritis.
06:30Itu dia kritis tadi tuh.
06:32Rajin resah-resah.
06:33Kritis aja.
06:34Kenapa ini balkon begini?
06:36Kritis aja tidak apa-apa sama rektornya langsung.
06:39Kenapa ini semua ini?
06:40Pak Rektor, inovasi undip katanya banyak sekali ya?
06:47Jadi tahun ini kita di DS-68 Mbak Rosi, kita kemarin display 35 inovasi 2025 undip.
06:56Kami terima kasih Pak Menteri juga ikut menyaksikan bentuk-bentuknya apa.
07:02Tapi poinnya sama dengan yang dibilang oleh Mas Raim ya.
07:06Keresahan.
07:08Pak Menteri punya tagline Diktisain Tag berdampak.
07:13Alhamdulillah kita tanggal 29 April 2024, kali pertama saya dilantik jadi rektor,
07:19tagline-nya langsung itu.
07:20Bermartabat, bermanfaat gitu.
07:22Jadi sebaik-baik orang adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain,
07:27sebaik-baik kampus adalah yang paling banyak manfaatnya bagi masyarakat gitu.
07:31Betul sekali.
07:32Mantap itu Pak Rektor.
07:34Ini untuk, saya mau benar gak nih Pak Rektor?
07:37Data terbaru yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Kekayan Intelektual, DJKI,
07:44Kementerian Hukum dan HAM, 25 Oktober 2025,
07:47Undi berhasil menempati peringkat kedua sebagai perguruan tinggi
07:53dengan jumlah permohonan paten terbanyak di Indonesia selama satu dekade terakhir.
08:00Selamat buat Undi.
08:02Totalnya 1.165 permohonan.
08:07Betul.
08:07Paten kali.
08:10Betul Pak Razi.
08:11Jadi tadi sama dengan Mas Jamal ya,
08:14kita juga resah juga Mas Raim, Mbak Cipta,
08:19ada universitas sebesar ini di Jawa Tengah,
08:21tapi banyak problem di Pantura.
08:24Pantura itu kan ada rob, ada banjir dan lain sebagainya.
08:28Makanya yang kita highlight pertama adalah mesin desalinasi
08:32yang bisa mengubah air laut, air payo, air siap minum.
08:36Jadi Undi juga melakukan inovasi itu ya, seperti Mas Jamal.
08:39Ya, jadi air laut sekalian bisa.
08:43Jadi kita sudah bangun di Brebes,
08:46kemudian di Pemalang,
08:48kemudian Cepara,
08:49di Denmark juga.
08:51Tiga malahan di Denmark,
08:53Denmark maksudnya, sayung Denmark.
08:57Di Explore.
08:59Di Explore.
09:00Di Explore karena banyak kapur, Mbak Razi.
09:03Jadi katanya ada relate dengan stunting.
09:05Kalau terlalu banyak yang diminum,
09:07kalau terlalu banyak kapur,
09:08potensi stuntingnya tinggi.
09:10Sama juga yang di Brebes,
09:11juga banyak stunting,
09:12karena terlalu banyak tercemar pesticida.
09:15Kita buat.
09:16Ini pertanyaan agak filosofis.
09:17Sebenarnya orang kreatif,
09:19lalu membuat inovasi,
09:22mencoba terus inovasi,
09:24melakukan terus inovasi,
09:25itu sebenarnya is it given or earned?
09:28Apakah itu memang sudah diciptakan oleh sang pencipta,
09:33jadi bagian dari talentanya,
09:36atau itu sesuatu yang harus diraih sendiri oleh manusia?
09:41Raim, kamu kan kelihatannya bijaksana.
09:47Dua-duanya,
09:48kalau sejauh pengalamannya saya,
09:51dua-duanya,
09:52bahkan saya bisa lebih mengenal Wakatobi
09:55di saat saya lagi di Jakarta.
09:57Anehnya teori ini,
09:58bahkan saya bisa lebih,
09:59oh karena ada pembanding berarti,
10:01kita di Wakatobi begini, begini terus.
10:04Jadi kamu lebih mencintai Wakatobi
10:06setelah berada di Jakarta?
10:07Kita jauh lebih melihat sesuatu
10:09in bigger picture kali.
10:11Betul.
10:12Jauh lebih lensanya,
10:13lebih wide,
10:14jadi oh orang lain seperti ini,
10:16padahal,
10:17nah dengan membandingkan
10:18apa yang orang-orang lakukan juga,
10:22masuk juga elemen inovasi tadi itu.
10:24Sebenarnya yang kami lakukan ini sangat sederhana,
10:26pakai teori The First Man Landing on the Moon.
10:28kita tidak peduli,
10:30ya sudah,
10:31bantu tepi tangan itu temanmu.
10:35Bagus, bagus,
10:36bahasa Inggris bagus.
10:38Kayak kita tidak peduli
10:40setelah orang pertama yang ke bulan,
10:42siapa namanya sih?
10:44Kita tidak peduli,
10:45orang kedua ada yang tahu tidak?
10:47Orang kedua yang datang ke Amerika
10:48ada yang tahu tidak?
10:50Orang kedua yang ke benua Asia
10:52ada yang tahu?
10:53Kita tidak peduli,
10:53kita cuma peduli siapa orang pertama.
10:55The First Man in the Moon.
10:58Waktu kami naik sebagai musisi dan seniman,
11:02sadar tidak sadar pakai teori yang sama.
11:05Kayak waktu anak-anak komik semua waktu itu
11:07sebagai stand-up komedian saja,
11:09muncul Ernest Prakasa sebagai
11:11director nomor satu stand-up komedian.
11:13Oh, orang pertama stand-up komedian
11:15sebagai director nomor satu,
11:17dan sampai sekarang masih menjadi
11:18yang terhebar salah satunya juga.
11:21Kalau kau lihat podcaster sekarang,
11:23stand-up komedian semua,
11:24berarti mesti di ruang yang saya suka ini,
11:29oh penyanyi harus ada juga nih,
11:30dari minimal,
11:32dari stand-up komedian.
11:34Dan saingannya kami bukan cuma Ernest,
11:37tapi sama-sama setara dengan penyanyi yang lain.
11:40Rasanya stand-up komedi yang bisa nyanyi
11:42dan bikin lirik lagu cuma raim ya?
11:44Ada beberapa, tapi...
11:46Bukan, belum 600 juta.
11:48We don't care who the second.
11:50The second.
11:51We don't care, sometimes,
11:53sometimes we don't care who the second,
11:55the third.
11:55Oke, oh, really?
11:57Yes.
11:58Oh, oke.
11:59Saya mau kasih info tipis lagi
12:03terhadap besarnya lagu Komang.
12:05Tipis aja.
12:07Jadi lagu Komang dua tahun yang lalu itu
12:08sempat masuk,
12:09termasuk lagu Lesung Pipi,
12:11masuk di top global chart.
12:13Itu top global,
12:14pelan-pelan, pelan-pelan.
12:17Itu si top global chart,
12:19Spotify bikin chart 100 lagu populer dunia.
12:23Lagu Komang masuk di list 100 itu.
12:25Jadi saingannya lagu Komang itu adalah
12:28Tyler Swift,
12:29Justin Bieber.
12:32Tiba-tiba,
12:33tiba-tiba ada Raim Laode Komang.
12:35Siapa mas-mas ini?
12:37Ternyata,
12:39kita tinggal dimanapun di era sekarang ini,
12:42kalau inovasi dikaitkan juga dengan teknologi juga,
12:45kita bisa setara,
12:46namaku setara.
12:48Satu playlist dengan Justin Bieber.
12:49Setara Raim Laode,
12:52setara dengan Taylor Swift,
12:54setara dengan Justin Bieber.
12:56Tapi tidak keuangannya sangat jauh sekali itu.
12:59Ada satu kutipan tipis,
13:01buku
13:02organisme yang cepat meninggal,
13:06mati adalah yang tidak beradaptasi.
13:08Itu kali kita.
13:09Kali yang mati,
13:10yang tidak relevan sekarang ini,
13:12apakah kita tidak beradaptasi?
13:13Jangan sampai kita adalah dinosaurus di zaman kita.
13:16Jangan sampai orang sudah pacaran dengan AI,
13:19kau masih main.
13:22Belum ikut adaptasi.
13:23Walaupun,
13:25bedakan itu adaptasi dengan hanyut.
13:29Berbeda adaptasi dengan hanyut.
13:31Kalau ada iPhone terbaru,
13:32kau beli,
13:33iPhone terbaru,
13:34kau beli lagi,
13:35iPhone terbaru,
13:35kau beli lagi.
13:36Mungkin bukan adaptasi.
13:38Itu namanya hanyut.
13:40Kalau kau mengerti konsep beradaptasi bukan hanyut,
13:43saya tidak peduli artis sekarang pakai sepatu apa.
13:45Sepatuku ini saja.
13:46Saya tidak peduli artis lain pakai baju apa.
13:49Saya baju yang ini saja.
13:51Kalau pakaian dan baju masih,
13:53kamu gunakan untuk menambah value-mu,
13:55berarti harga dirimu lebih mahal daripada pakaianmu.
14:01Boleh.
14:02Jadi moral ceritanya Rahim ini,
14:05ingin mengatakan bahwa teman-teman,
14:06jangan mudah hanyut,
14:08atau terharu,
14:09atau ingin ikut-ikutan,
14:10hanya melihat dari story,
14:13social media orang lain,
14:15yang flexing,
14:16naik mobil mahal,
14:18unboxing apa,
14:20gitu.
14:21Tidak gitu.
14:22Beradaptasi itu bukan dengan mengejar materi-materi seperti itu.
14:26Terlebih,
14:27sekarang kelas-kelas personal branding ini,
14:29kita ditipu sebenarnya.
14:32Personal branding kita,
14:34oh kamu sebagai individu harus bagus,
14:36personal brandingmu.
14:37padahal personal branding,
14:39kelasnya mulai dari personalnya dulu,
14:42baru brandingannya,
14:43banyak yang lagi menjabat sekarang,
14:45brandingannya lebih tinggi daripada personalnya.
Jadilah yang pertama berkomentar