Skip to playerSkip to main content
  • 3 months ago
Sejarah kerajaan di Bali dimulai sejak abad ke-8 Masehi, ditandai dengan ditemukannya prasasti-prasasti. Periode awal ini didominasi oleh Dinasti Warmadewa (sekitar abad ke-10 hingga ke-11 Masehi), yang pusat kerajaannya berada di sekitar Pejeng dan Bedulu, Gianyar. Raja-raja terkenal dari dinasti ini, seperti Sri Kesari Warmadewa, Raja Udayana (yang permaisurinya adalah Gunapriya Dharmapatni dari Jawa Timur), dan Anak Wungsu, berhasil membangun fondasi kebudayaan Hindu-Buddha yang khas Bali, termasuk sistem irigasi subak.

Kedekatan geografis dan pernikahan politik membuat Bali memiliki ikatan erat dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, seperti Singasari dan terutama Majapahit. Pada tahun 1343 M, Bali ditaklukkan oleh Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit. Penaklukan ini mengakhiri masa Kerajaan Bali Kuno dan membuka lembaran baru di mana pengaruh Jawa semakin kuat.

Masa Kerajaan Gelgel dan Klungkung
Setelah penaklukan Majapahit, Bali diperintah oleh keturunan bangsawan Majapahit yang mendirikan pusat kekuasaan di Gelgel (Klungkung). Kerajaan Gelgel mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16 di bawah pemerintahan Dalem Waturenggong, menjadi pusat kekuasaan tunggal yang mengendalikan seluruh Bali dan bahkan meluas hingga ke Lombok dan Blambangan (ujung timur Jawa).

Namun, pada pertengahan abad ke-17, Kerajaan Gelgel mengalami keruntuhan akibat konflik internal dan bergeser ke Klungkung. Di masa berikutnya, Bali terpecah menjadi sembilan kerajaan kecil atau keratuan yang saling berdaulat (Badung, Tabanan, Mengwi, Buleleng, Karangasem, Jembrana, Gianyar, Bangli, dan Klungkung sebagai pusat spiritual). Inilah periode di mana kerajaan-kerajaan tersebut mengembangkan ciri khas dan kekuasaan masing-masing, mempertahankan tradisi Bali yang kental.

Kedatangan Belanda dan Perlawanan Puputan
Hubungan kerajaan-kerajaan Bali dengan bangsa Eropa, terutama Belanda (VOC/Hindia Belanda), dimulai sejak abad ke-17, namun intervensi serius Belanda baru terjadi pada abad ke-19. Pemicu utama konflik adalah tradisi Bali yang disebut Hak Tawan Karang, yaitu hak raja setempat untuk mengambil kapal beserta isinya yang karam di wilayah pesisirnya. Belanda menganggap ini sebagai pelanggaran hukum internasional dan menuntut penghapusannya.

Serangkaian ekspedisi militer Belanda dilancarkan ke Bali, dimulai dengan Perang Bali I di Buleleng pada tahun 1846. Perlawanan sengit yang dipimpin oleh tokoh seperti I Gusti Ketut Jelantik di Jagaraga sempat menggagalkan Belanda, tetapi pada akhirnya Buleleng, Jembrana, dan Karangasem takluk.

Puncak perlawanan Bali terjadi pada awal abad ke-20 melalui tradisi Puputan, yang berarti "perang sampai titik darah penghabisan."

Puputan Badung (1906): Seluruh keluarga kerajaan Badung, termasuk raja dan para pengikutnya, keluar dari istana dengan pakaian adat terbaik dan senjata seadanya untuk menyerbu pasukan Belanda, memilih mati terhormat daripada menyerah.

Puputan Klungkung (1908): Peristiwa serupa terjadi di Klungkung. Dengan gugurny

Category

🗞
News
Transcript
00:00Selamat datang di Pulau Bali, pulau yang kita kenal sebagai surga para dewa dan ikon seni budaya Nusantara.
00:08Tapi, tahukah Anda, di balik pura-pura megah dan sawah hijau yang memukau ini,
00:14tersimpan sebuah saga epik tentang kekuasaan, keyakinan, dan perlawanan yang tak pernah padam.
00:21Ini adalah sejarah kerajaan-kerajaan Bali,
00:24sebuah kisah yang terbentang dari masa keemasan hingga perjuangan heroik menyambut fajar kemerdekaan.
00:31Cerita ini dimulai jauh di abad ke-10 saat dari kabut sejarah muncul nama besar,
00:37Dinasti Warmadewa.
00:40Di bawah pimpinan raja bijaksana seperti Udayana, Bali mencapai zaman keemasannya.
00:46Bayangkan sebuah kerajaan yang makmur di mana sistem irigasi subak bukan sekadar saluran air,
00:52tapi sebuah filosofi suci yang menyatukan manusia, alam, dan Tuhan.
00:58Namun, kemakmuran ini menarik perhatian raksasa dari seberang lautan.
01:03Tahun 3.53, guntur ekspansi Majapahit menggema.
01:08Mahapati Gajah Mada datang dan kerajaan Bali kuno pun takluk.
01:13Alih-alih menghancurkan, Majapahit justru menyuntikkan darah baru.
01:18Ketika Majapahit runtuh, keturunan bangsawan Jawa inilah yang mendirikan kerajaan Gel-Gel di Klungkung.
01:25Gel-Gel bangkit menjadi pusat kekuasaan yang disegani, bahkan hingga ke Lombok,
01:30dan membentuk budaya Hindu Bali yang kita kenal sekarang.
01:34Tapi, seperti siklus alam, persatuan tak abadi.
01:38Gel-Gel pecah, dan Bali terbagi menjadi sembilan kerajaan kecil yang saling berebut pengaruh.
01:43Lalu, pada abad ke-19, datanglah ancaman sesungguhnya.
01:49Belanda, pemicunya, hak tawan karam.
01:53Sebuah tradisi di mana kapal yang karam di pantai Bali menjadi milik raja setempat.
01:58Bagi Bali, ini kedaulatan.
02:01Bagi Belanda, ini perampokan.
02:04Belanda menuntut penghapusan hak itu.
02:06Para raja Bali menjawab dengan satu kata,
02:09Tidak.
02:10Maka, perang pun dimulai.
02:13Di Buleleng, I Gusti Ketut Jelantik memimpin perlawanan habis-habisan di Jagaraga.
02:19Namun, puncak dramatisnya terjadi di Badung pada Sementrasi Sutertanam
02:23dan Klungkung pada Sementrasi 28.
02:27Ketika istana terkepung, para raja Bali memilih takdir yang lebih mulia dari sekadar hidup.
02:32Mati secara terhormat.
02:34Mereka melakukan puputan.
02:36Ribuan orang, raja, bangsawan, dan rakyat berpakaian serba putih
02:41menyerbu barisan senapan modern Belanda hanya dengan keris.
02:45Mereka memilih gugur sebagai ksatria demi menjaga martabat.
02:50Gugurnya Dewa Agung Jambe menjadi penutup tirai kekuasaan kerajaan formal di Bali.
02:56Namun, semangat itu tidak mati.
02:58Ketika Indonesia merdeka seorang pahlawan muda bangkit,
03:02I Gusti Ngurah Rai.
03:04Ia memimpin pasukan Ciong Wanara dengan tekad Bali harus utuh dalam republik.
03:10Di Margarana, 20 November 1926 terkepung oleh Belanda.
03:15Ngurah Rai dan pasukannya memilih puputan sekali lagi,
03:19bertempur sampai titik darah penghabisan.
03:22Kisah para raja memang telah berakhir,
03:25tetapi warisan mereka, semangat puputan,
03:28filosofi subak, dan kekuatan budaya
03:30telah menjadi jiwa abadi Pulau Dewata.
03:34Sejarah Bali adalah tentang memilih martabat di atas nyawa.
03:38Itulah sebabnya Bali tetap bersinar.
03:41Bukan hanya karena pantainya,
03:42tapi karena ruh para ksatria yang pernah bersemayam di sana.
03:46Terima kasih sudah menyimak kisah luar biasa ini.
03:49Jika Anda menyukai konten seperti ini,
03:52jangan lupa untuk like, subscribe,
03:55dan bagikan video ini agar semakin banyak yang tahu tentang sejarah hebat bangsa kita.
04:00Sampai jumpa di video berikutnya.
Be the first to comment
Add your comment

Recommended