JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto mengizinkan warga negara asing (WNA) memimpin perusahaan pelat merah untuk memajukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar mampu bersaing di kancah global.
Menurut Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal Hastiadi, mengatakan prioritas pimpinan BUMN tetap ditujukan kepada WNI.
Namun apabila tidak ada WNI yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan, maka bisa ditunjuk WNA yang diharapkan dapat membawa manfaat, bekerja sesuai peraturan dan kepentingan masyarakat. Apabila dianggap tidak bermanfaat, maka bisa dievaluasi. Ia mencontohkan seperti mantan pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong hingga Patrick Kluivert.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan Fungsi BUMN adalah sebagai agent to development. Maka dibutuhkan pimpinan yang profesional juga mengemban visi misi pembangunan oleh pemerintah. Ia mencontohkan di negara Timur Tengah, pimpinan manajemen tidak diisi oleh orang luar.
"Masuk sebagai trainer, iya. Kalau masuk dengan kapasitasnya bagus. Tapi tidak duduk dalam posisi pengambil keputusan," katanya.
Sementara itu, mantan penyidik senior KPK, Praswad Nugraha mengatakan dalam konteks WNA yang masuk menjadi direksi, KPK tidak terlalu senang. Sebab, sulit untuk mentersangkakannya apabila di kemudian hari terjerat kasus. Dari pengalamannya, belum pernah KPK bisa mentersangkakan WNA.
Saksikan dialog jurnalis KompasTV Thifal Solesa dalam program Business Talk selengkapnya bersama:
Fithra Faisal Hastiadi - Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah
Mohammad Faisal - Direktur Eksekutif CORE Indonesia
Praswad Nugraha - mantan penyidik senior KPK
Herry Gunawan - Pengamat BUMN
Syamsul Ashar - Wartawan Senior KONTAN
#prabowo #bumn #wna
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/624493/prabowo-izinkan-wna-pimpin-bumn-ini-untung-ruginya-business-talk
Menurut Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal Hastiadi, mengatakan prioritas pimpinan BUMN tetap ditujukan kepada WNI.
Namun apabila tidak ada WNI yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan, maka bisa ditunjuk WNA yang diharapkan dapat membawa manfaat, bekerja sesuai peraturan dan kepentingan masyarakat. Apabila dianggap tidak bermanfaat, maka bisa dievaluasi. Ia mencontohkan seperti mantan pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong hingga Patrick Kluivert.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan Fungsi BUMN adalah sebagai agent to development. Maka dibutuhkan pimpinan yang profesional juga mengemban visi misi pembangunan oleh pemerintah. Ia mencontohkan di negara Timur Tengah, pimpinan manajemen tidak diisi oleh orang luar.
"Masuk sebagai trainer, iya. Kalau masuk dengan kapasitasnya bagus. Tapi tidak duduk dalam posisi pengambil keputusan," katanya.
Sementara itu, mantan penyidik senior KPK, Praswad Nugraha mengatakan dalam konteks WNA yang masuk menjadi direksi, KPK tidak terlalu senang. Sebab, sulit untuk mentersangkakannya apabila di kemudian hari terjerat kasus. Dari pengalamannya, belum pernah KPK bisa mentersangkakan WNA.
Saksikan dialog jurnalis KompasTV Thifal Solesa dalam program Business Talk selengkapnya bersama:
Fithra Faisal Hastiadi - Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah
Mohammad Faisal - Direktur Eksekutif CORE Indonesia
Praswad Nugraha - mantan penyidik senior KPK
Herry Gunawan - Pengamat BUMN
Syamsul Ashar - Wartawan Senior KONTAN
#prabowo #bumn #wna
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/624493/prabowo-izinkan-wna-pimpin-bumn-ini-untung-ruginya-business-talk
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Intro
00:00Salam jumpa saudara
00:19Ingin memajukan badan usaha milik negara agar mampu bersaing di level global
00:24Presiden Prabowo Subianto mengizinkan warga negara asing
00:28memimpin perusahaan plat merah
00:30Presiden meyakini talenta dari kalangan ekspatriat
00:34mampu menjalankan BUMN sesuai standar bisnis internasional
00:39Danantara Management
00:43To run it
00:46On an international business standards
00:50You can look for the best brains, best talents
00:54And I've changed the regulations
00:57Seiring lampu hijau Presiden memberi izin WNA memimpin BUMN
01:13PT Garuda Indonesia Persero telah menunjuk dua ekspatriat sebagai Direktur
01:18melalui rapat umum pemegang saham luar biasa 15 Oktober lalu
01:22Keduanya yakni Neil Raymond Mels, mantan Boss Green Africa Airways yang ditunjuk
01:28sebagai Direktur Transformasi Garuda Indonesia
01:30Dan Balagopal Kunduvara, mantan petinggi Singapore Airlines yang ditunjuk sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda
01:38Peneliti Hukum Selios, Muhammad Saleh Nanda
01:41menyoal isu kedaulatan ekonomi dari kebijakan penempatan WNA di pucuk pimpinan BUMN
01:46Saleh juga menyebut sengkarut BUMN disebabkan masalah tata kelola bukan semata siapa pucuk pimpinannya
01:54Selain mengizinkan WNA mengelola BUMN, dalam lima tahun ke depan
01:59pemerintah berencana memangkas 1.044 BUMN
02:04Jumlah itu dikurangi menjadi sekitar 230 perusahaan
02:08agar bisnis perusahaan plat merah efektif dan efisien
02:12Terlebih dalam rentang lima tahun, target setoran dividen dipatok 750 triliun rupiah
02:19Sebagai gambaran, dilihat dari laporan kementerian BUMN tahun 2024
02:23setoran dividen BUMN terbilang kecil
02:26Total valuasi aset BUMN lebih dari 16.000 triliun rupiah
02:31hanya menghasilkan dividen 85,5 triliun rupiah
02:35atau sekitar 0,52 persen
02:39Masalah korupsi juga jadi rapor merah perusahaan plat merah
02:43Indonesia Corruption Watch mencatat sepanjang 2016 hingga 2023
02:47terjadi 212 kasus korupsi di lingkungan BUMN
02:51349 pejabat BUMN menjadi tersangka
02:5484 orang diantaranya duduk di jajaran direksi
02:59Dari ratusan kasus itu, kerugian negara diperkirakan mencapai 64 triliun rupiah
03:06Nasud Velid Bank Kompas pada 11 hingga 14 Agustus 2025
03:11mengungkap sejumlah masalah paling disorot masyarakat dari BUMN
03:14Korupsi paling banyak disorot, sebesar 46,8 persen
03:18disusul kurangnya transparansi dan pengawasan, 16,2 persen
03:22Intervensi politik, 10,4 persen
03:25dan soal manajemen yang kurang profesional, 9,5 persen
03:30PR pengelolaan BUMN kini beralih ke Badan Pengelola Investasi Danantara
03:36Nah BPI Danantara telah mengambil alih peran Kementerian BUMN
03:40terkait pengambilan keputusan strategis di holding dan anak perusahaan BUMN
03:44Ada 844 perusahaan yang dikelola dengan valuasi aset 16.487 triliun rupiah
03:54Itu belum termasuk tambahan berbagai aset negara seperti kawasan Gelora Bung Karno di Senayan
03:59Beragam masalah yang membelit BUMN dari efisiensi hingga praktik korupsi
04:04menuntut pembenahan tata kelola
04:06Pemerintah juga perlu selektif
04:09Bapak yang duduk mengelola BUMN karena menyangkut isu kedaulatan ekonomi
04:14Kami bahas lebih lengkap dalam Bisnis Tok Pekan ini
04:17Prabowo izinkan WNA pimpin
04:19BUMN Bebas Kepentingan Politik
04:21Saya Tifa Solaesan
04:235 narasumber sudah bergabung di studio Menara Kompas
04:35Untuk kita diskusikan soal ini
04:36Saya perkenalkan dulu untuk di jajar sebelah kanan saya dulu
04:39Ini sudah bergabung bersama kami Praswat Nugraha
04:42Mantan penyidik senior dari Komisi Pemeratasan Korupsi
04:44Lalu di sebelahnya juga ada Muhammad Faisal
04:47Direktur Eksekutif Kor Indonesia
04:48Persisi sebelah kiri saya juga sudah bergabung bersama kami
04:51Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah
04:54Toba Kom R.I. Fitra Faisal Hastiyadi
04:55Kita perkenalkan berikutnya
04:57Di jajar sebelah kiri saya ada Mas Heri Gunawan
05:00Pengamat BUMN dan Mas Syamsul Azhar
05:02Wartawan senior kontan
05:03Selamat malam semuanya apa kabar
05:04Selamat malam
05:05Terima kasih sudah hadir di Menara Kompas kali ini
05:07Saya mau mengutip pernyataan
05:09Pak Prabowo saat menyampaikan di acara Ford
05:11Waktu itu bilang sekarang ekspatriat
05:13Non Indonesia bisa memimpin BUMN kita
05:15Tapi Mas Fitra
05:17Ini ada pernyataan juga dari Selios
05:19Mas Muhammad Saleh bilang
05:20Konsistensi kedaulatan ekonomi juga kita pertanyakan
05:23Karena daulat ekonomi yang selama ini sering disampaikan Pak Prabowo
05:26Harusnya bisa jadi benteng dari nasional interest kita
05:28Jadi itu dengan kehadiran WNA sebagai pemimpin BUMN
05:31Menjawab masalah yang ada selama ini
05:33Ya pertama gini
05:34Itu disampaikan di forum Forbes
05:36Artinya itu didengarkan secara internasional
05:39Dan itu artinya pula bahwa Pak Presiden ingin memberikan sinyal positif
05:45Kepada para investor dan potential investors
05:47Untuk datang ke Indonesia
05:49Karena Indonesia tengah berbenah
05:50Nah salah satu bentuk kesungguhan itu adalah membuka
05:53Portofolio jajaran eksekutif
05:56Juga ke jajaran foreign entities
05:59Nah dalam konteks itu sebenarnya kita melihat bahwa aspek kebermanfaatan
06:04Nah sebagaimana yang tadi disampaikan juga
06:06Mas Tifal juga ya
06:08Tadi dalam liputan awalnya
06:10Kita punya 14.000 triliun rupiah
06:13Atau bahkan hitungan lain bisa 16.000 triliun rupiah
06:17Tetapi kok dividennya cuma 85 triliun
06:20Maka return on assetsnya itu kan kecil sekali
06:23Gitu kan
06:24Nah dalam konteks itulah kemudian kita melihat bahwa BUMN belum bekerja sebagaimana mestinya
06:29Dan kalau melihat dalam konteks yang jauh lebih makro lagi
06:32Sebenarnya BUMN ini buat apa sih?
06:35Adalah buat kesejahtera masyarakat
06:37Buat mendorong industrialisasi
06:39Kalau kemudian dipertanyakan konsistensi kedaulatan ekonominya lewat itu bagaimana?
06:42Begini
06:43Daulat ekonomi adalah daulat yang inklusif
06:46Kita bicara apa sih?
06:47Tujuan yang di ultimate goal adalah untuk masyarakat
06:49Kalau kita bicara kedaulatan ekonomi
06:51Yang paling penting adalah BUMNnya bermanfaat untuk masyarakat
06:54Nah oleh karenanya kalau kita bicara mengenai pelebaran portfolio jajaran eksekutif
06:59Kalau ultimate goalnya adalah untuk mengejar kebermatan masyarakat
07:02Bahwa itu tidak menyalahi konsep kedaulatan ekonomi
07:05Pun demikian
07:06Kalau kita bicara mengenai foreign entities yang masuk ke sini
07:08Oke
07:09Itu juga kan sesuai dengan peraturan
07:11Tidak menyalahi peraturan
07:12Dan kemudian harus bekerja dalam konteks NKRI
07:15Nah dari sisi itu bahwa kita melihat bahwa foreign entities ini adalah bekerja untuk kepentingan masyarakat
07:20Nah mas Fitra harapannya biar dividennya bisa
07:22Oh sorry mas Faisal ini ketuker-ketuker mohon maaf nih
07:25Mas Faisal harapannya dividennya bisa ditingkatkan dengan WNA jadi pemimpin di BUMN
07:29Iya pertanyaannya apakah itu diterjawab hanya dengan membolehkan WNA
07:34Jadi ada pertanyaan tentang kapasitas
07:36Ada pertanyaan tentang juga dari kedaulatan ekonomi
07:39Itu sebetulnya kalau saya lihat fungsi BUMN itu kan agent of development
07:42Nah jadi ada mesti dia harus profesional
07:46Dia harus mengejar profit
07:47Tapi pada saat yang sama juga dia mengemban misi-misi pembangunan daripada pemerintah
07:54Nah oke katakanlah untuk ngejar profesionalitasnya
07:57Untuk daya saing, untuk perbaikan profitabilitas
08:01Ya mungkin kita harus buka misalnya ya
08:03Ada WNI, ada WNA
08:05Tapi bagaimana dengan apa
08:07Tadi sejalan dengan kedaulatan ekonomi
08:09Dalam hal mengemban misi-misi pembangunan dari kebijakan pemerintah
08:14Pemahaman tentang kondisi tempatan
08:17Pemahaman tentang culture masyarakat
08:19Pemahaman tentang geografis
08:22Dan belum lagi masalah keberpihakan
08:25Nah ini kan menjadi hal yang sangat strategis menurut saya
08:29Untuk setidaknya walaupun WNI tidak
08:32Tadi itu banyak catatannya mungkin yang banyak yang kurang bagus juga
08:35Dari sisi kapasitas itu makanya dibuka untuk WNA
08:39Tapi dari sisi tadi kedaulatan ekonomi
08:42Dan memastikan dia berjalan sesuai dengan mengemban agent of development
08:47Tapi kalau kemudian masalahnya karena dividen yang disetorkan itu
08:50Kurang 1% dari total aset yang ada selama ini Mas Faisal
08:53Iya
08:54Apakah itu jadi alasan yang masuk akal bahwa WNA
08:57Perlu ditempatkan di pimpinan BUMN itu
09:00Ya itu sekali lagi kita lihat dari sisi profitabilitas
09:04Dan juga dari peran dia sebagai agent of development
09:08Dan lihat juga dari sektornya tentu saja ya
09:11Nah ini apalagi kalau kita masuk ke sektor-sektor yang strategis
09:14Ini bukan hanya di Indonesia
09:16Di banyak negara
09:18Di swasta juga
09:19Itu masalah keberpihakan
09:24Yang diantaranya itu dilihat dari nationality
09:27Pemahaman tentang kondisi tempatan itu menjadi sangat penting
09:30Migas itu banyak sekali di negara-negara
09:33Timur Tengah itu dia manajemen itu gak ada dikasih ke ruang luar gitu
09:38Orang itu bisa masuk sebagai trainer ya
09:41Kalaupun dia punya kapasitasnya bagus
09:43Tapi tidak duduk dalam manajemen pengambil keputusan
09:45Nah Mas Heri kalau Anda membacanya sejauh ini
09:48Aturannya atau regulasinya sudah ada belum WNA bisa menduduki posisi pimpinan BUMN
09:52Kalau selama ini kan baru pertama kali ya
09:56Jadi ada revisi di undang-undang BUMN nomor 1 tahun 2025
09:59Yang disahkan bulan Januari
10:02Itu kemudian direvisi sekarang di tanggal 6 Oktober
10:05Yang sudah ditandatangannya oleh Presiden
10:07Di situ dimasukkan salah satu klausul
10:10Walaupun ada persaratan misalnya di pasal 15B
10:1415A itu ayat 1 disebutkan ayat 1A
10:17Syarat direksi adalah warga negara Indonesia
10:20Tapi dianulir pada ayat 3
10:23Jadi bisa diubah atau hal lain lah ya
10:27Yang dilakukan oleh BP BUMN
10:30Karena BP BUMN regulator
10:32Tapi yang tidak dijelaskan di situ adalah
10:34Kondisinya seperti apa
10:37Bahwa ayat 1A ini itu harus dianulir
10:41Misalnya ya harus dianulir itu
10:43Misalnya kita sudah mencari tapi tidak ditemukan lagi
10:47Apa talent-talenta dari Indonesia
10:49Dari apa yang warga negara Indonesia
10:51Maka kemudian dibutuhkan warga negara asing
10:54Nah dengan demikian baru kepala BP BUMN
10:56Kemudian ngambil keputusan
10:58Jadi menganulir ayat 1A itu di pasal 15A
11:02Sehingga poinnya kalau begitu
11:03Apalagi sudah ada kasus di Garuda Indonesia
11:05Dua direksinya diganti
11:07Kalau dari analisis Anda artinya apa kalau begitu?
11:09Enggak sah?
11:10Bukan
11:10Jadi tetap secara regulasi boleh
11:12Cuma ini kan persoalan tata kelola
11:14Kalau persoalan tata kelola itu kan persoalan etika
11:16Jadi tata kelola di perundang-undangan
11:18Nah tapi kalau secara legal itu tetap aja sah
11:21Nah cuman yang jadi persoalan tuh gini
11:23Kita juga tidak boleh juga
11:26Kemudian kita tuh hanyut bahwa kita tuh
11:28Asing itu hebat
11:29WNA
11:30Belum tentu menurut saya
11:31Kalau kita ingat kasus Goldman Sachs
11:34Tahun lalu baru diputuskan apa tahun-tahun ini
11:36Managing directornya dia
11:38Roger Eng itu
11:40Itu adalah warga negara Malaysia
11:42Yang kemudian ternyata terlibat korupsi
11:45Dengan pencucian uang
11:461MDB itu
11:47Nah jadi jangan terlengah juga dengan asing
11:50Pada kasus Garuda misalnya
11:52Pada kasus Garuda
11:53Pak Niel
11:55Saya sebutnya Pak Niel ini ya
11:56Pak Niel dan satu lagi
11:57Yang direktur keuangan dan manajemen resikonya itu
12:00Saya lupa namanya agak sulit
12:02Dua-duanya ini adalah orang yang similar fungsinya
12:06Di kantor namanya
12:08Apa similarnya?
12:09Dia adalah procurement
12:10Dua-dua orang ini
12:11Nah jadi waktu itu
12:13Pak Niel ini kan terlibat katanya di
12:15Transformasi ketika di SAS
12:17Scandinavian Air
12:19Tapi jangan lupa
12:20Dia masuk di SAS itu
12:22Bulan Juni tahun 2024
12:23Katanya di dalam CP-nya itu
12:25Sebagai Head of Transformation
12:27Oke
12:27Nah tapi pada bulan November
12:292024
12:31Itu Presiden Direktur SAS
12:33Itu sudah mendeklir bahwa
12:36Transformasi SAS sudah selesai
12:38Dan ternyata dijalankan itu
12:40Sejak tahun 2020
12:41Tahap pertama
12:42Kemudian tahun 2023
12:43Tahap kedua
12:44Baik
12:44Sudah selesai tahun 2024
12:46Jadi dia masuk itu sudah selesai
12:47Oke
12:47Nah jadi artinya
12:48Maksud saya
12:49Itu harus hati-hati juga
12:50Ini dua orang ini
12:51Punya fungsi yang sama
12:54Di kantor yang lamanya itu
12:55Adalah procurement
12:56Nah ini jangan sampai
12:57Misalnya kan BUMN kita
12:59Itu kalau kita ngomongin
13:01Aspek keberlanjutan
13:02Ketika dia mencari mitra
13:04Vendor misalnya
13:05Dia kan harus memperhatikan juga
13:07Wilayah lokal
13:08Baik
13:08Nah itu kira-kira gitu
13:10Ada kekhawatiran
13:10Masalah kerasian
13:11Dan agak tidak disalahgunakan
13:12Mas Fitra
13:13Merespon itu gimana?
13:14Ya jadi gini
13:15Dalam International Best Practice
13:16Ada yang namanya NDA
13:17Non Disclosure Agreement
13:19Dan itu saya rasa
13:21Saya sebagai peneliti yang juga
13:22Sering bekerja di lembaga internasional
13:24Itu suatu hal yang wajar ya
13:26Jadi untuk BUMN-BUMN Strategies
13:28Dalam konteks ini
13:29Ya tidak kemudian
13:30Melanggar kedaulatan juga ya
13:31Asalkan kemudian
13:32Memang
13:33Ke ekspertisinya dibutuhkan
13:34Jadi saya sepakat dengan Pak Heri
13:36Dan memang pemerintah
13:37Memang melihat betul
13:38Prioritasnya adalah
13:39Kepada WNI
13:40Kalau misalnya tidak ada
13:41WNI yang punya ekspertis itu
13:43Kita bicara ekspertis itu
13:44Dalam konteks pengalaman
13:45Dalam konteks unique skills
13:46Dan itu
13:47Dalam hal ini
13:48Saya tidak akan melangkai
13:49Apa namanya
13:50Dalam hal ini
13:51Manajemen Garuda
13:51Atau Manajemen BUMN
13:53Tetapi dalam hal ini
13:55Ketika sudah ditunjuk
13:56Berarti kan sudah kelihatan
13:58Bahwa ini
13:58Sepertinya akan membawa manfaat
14:00Nah
14:01Kalaupun misalnya
14:02Tidak membawa manfaat
14:03Kan gampang
14:04Bisa dievaluasi
14:04Gitu kan
14:05Sebagaimana kita lihat
14:06Misalnya dalam konteks culture
14:07Tadi yang sampaikan oleh Mas Faisal
14:09Dalam konteks
14:09Budaya organisasi
14:10Dan segala macem
14:11Coba kenapa kita
14:12Hire Sintayong sih
14:14Untuk walau sepiala dunia
14:15Sintayong ngerti gak culture Indonesia
14:17Gak ngerti kan
14:18Tapi pada akhirnya
14:19Dia bisa membawa kita melaju
14:20Dan
14:20Dan ya
14:21Akhirnya dia evaluasi lagi
14:22Patrick Klyver
14:23Kita lihat lagi
14:24Tapi ternyata gak
14:25Gak mampu untuk membawa
14:26Gak mampu untuk membawa kita ke World Cup
14:28Ya dipecah
14:29Gak dilanjutkan
14:30Dan itu yang kemudian
14:31Pola itu yang akan dilakukan juga
14:32Soal jaminannya nih Mas Samso
14:34Jaminan bahwa kerasaan itu
14:35Dijamin saat WNA memimpin BUMN
14:37Kita perlu khawatir atau
14:39Sebetulnya bisa-bisa aja
14:40Jaminan itu saya rasa
14:42Gak ada yang bisa menjamin ya
14:44Mau WNA
14:45Tapi dalam kasus seperti ini
14:47Kita melihatnya harusnya seprofesional
14:48Pertama
14:49Satu profesional
14:50Kenapa
14:51Sebenarnya kita juga
14:52Bukan hal yang
14:53Baru
14:55Saya ingat waktu
14:56Mau IPO-nya Bang Mandiri
14:58Itu adalah salah satu
14:59Selevel dengan direktur
15:01Memang bukan direktur
15:02Tapi selevel dengan direktur
15:03Di bagian keuangan itu
15:04Orang Korea Selatan
15:05Beliau yang
15:06Apa yang lebih
15:08Paham
15:08Bagaimana
15:09Dengan aturan persal modal
15:11Dan sebagainya
15:12Sebenarnya manfaat
15:13Balik lagi ke manfaat
15:14Jadi jangan kita silau asing
15:16Atau enggak asing
15:16Tapi manfaat yang
15:18Diterima oleh
15:20BUMN itu
15:21Misalkan
15:22Kita ngomong BUMN ya
15:23BUMN kan tujuannya adalah
15:24Laba
15:24Kalau memang BUMN ditugasi oleh penugasan
15:27Ya jangan di target Laba
15:28Itu yang membuat
15:29Hal-hal yang
15:30Jadi tumpang tindih
15:32Dan beda
15:32Persepsi
15:33Kalau misalkan
15:34Nanti penugasan
15:35Pemerintah lebih banyak
15:36Dikasih orang asing
15:37Kan pasti
15:38Akan
15:38Nggak masuk gitu ya
15:40Tapi kalau
15:41Sektor-sektor strategis tertentu
15:43Misalkan
15:43Untuk
15:44Penguasaan teknologi
15:45Contoh kata
15:46Bus itulah
15:47Kasih
15:47Kasih orang sana
15:49Karena kan barangnya
15:49Dari sana semua
15:50Misalnya seperti itu
15:51Itu akan lebih
15:52Perform
15:53Akan lebih
15:54Pas
15:54Tapi sekali lagi
15:55Kita jangan terlalu
15:57Silau asing
15:58Lebih bagus
15:58Enggak
15:59Orang kita juga banyak
16:00Lebih bagus
16:00Itu ya
16:01Yang mau kita elaborasi lagi
16:03Dengan banyak BUMN
16:04Pasti SDMnya juga banyak kan
16:05Apakah dari sebanyak itu
16:07SDM di BUMN kita
16:08Yang seribuan itu
16:09Tidak ada yang
16:10Bonafit
16:12Tidak ada yang mampu
16:13Secara standar bisnis
16:14Internasional itu
16:15Memimpin BUMN kita
16:16Kita bahas setelah
16:17Jada berikut ini
16:18Mas Faisal gini
16:25Dari keinginan Pak Prabowo
16:27Agar BUMN kita
16:28Bisa go internasional
16:29Standarnya
16:30Standar bisnis internasional
16:31Apakah
16:32Kalau diharapkan
16:33WNA
16:34Yang menjadi pucuk
16:35Pimpinan BUMN
16:36Tandanya
16:36SDM kita
16:38Di BUMN
16:39Yang ada sekarang ini
16:40Gak mampu
16:41Pemenuhi syarat itu
16:43Saya yakin
16:44Banyak sebetulnya ya
16:45Nah untuk
16:46Bertanding
16:47Atau berkompetisi
16:48Secara internasional
16:49Termasuk juga itu
16:50Sebetulnya bahkan
16:50Banyak talent-talent kita itu
16:52Bahkanya dipakai
16:53Di luar negeri gitu
16:54Nah
16:55Dan
16:56Kalau
16:57Kelihat fungsinya juga
16:58Saya kembalikan lagi nih
16:59Itu kan kalau
17:00Mau kompetisi internasional
17:01Peran BUMN kan
17:02Cuma bukan
17:03Cuma kompetisi
17:04Di internasional
17:04Dia melayani
17:05Di dalam negeri
17:07Jadi pemahaman terhadap
17:08Melayani kondisi
17:09Masyarakat ya
17:11Nah apalagi yang dia
17:12Apa
17:13Mengurusi hal-hal
17:14Barang dan jasa
17:15Atau sektor-sektor
17:16Yang menguasai
17:17Haja hidup orang banyak
17:18Dimensi itu
17:20Mindsetnya itu
17:21Harus ada gitu
17:22Dalam banyak kasus juga
17:24Dalam mengerjakan
17:25Apa
17:26Kegiatan
17:27Projek-projeknya
17:28BUMN itu kan
17:29Bukan hanya
17:29Satu profit
17:30Atau
17:31Proyek ini
17:32Misalnya dia
17:32Untungannya dari
17:33IRR
17:34Dari NPV
17:34Berapa enggak
17:35Tapi dia juga
17:35Melihat dari
17:36Secara ekonomi
17:37Kalaupun secara
17:38Financial
17:39NPV
17:40IRR nya
17:41Mungkin
17:41Tidak terlalu layak
17:42Tapi secara ekonomi
17:44Sangat layak
17:44Misalnya
17:45Tapi secara FBM kita
17:46Standar internasional itu
17:47Terpenuhnya atau tidak
17:48Ada enggak sih sebetulan
17:49Ya banyak sebetulnya
17:50Yang duduk di luar negeri
17:52Saya tarikan
17:52Sebetulnya itu banyak
17:53Talent-talent kita itu
17:54Yang di luar negeri
17:55Baik itu engineer
17:56Dari sisi manajemen
17:57Dan sebagainya
17:58Tinggal bagaimana
17:59Sistem insentif
18:00Dan sistem pemilihannya
18:02Ya
18:02Dan yang
18:03Mengutamakan meritokrasi
18:05Dan tentu saja
18:06Apa
18:08Apresiasi terhadap
18:09Orang-orang yang punya
18:10Punya talent tersebut
18:11Kalau apresiasi kurang
18:13Ya
18:13Sistem meritokrasi
18:14Tidak menjadi nomor satu
18:15Ya orang-orang yang bagus ini
18:17Akan keluar
18:17Oke
18:18Oke
18:18Maka indikator spesialnya nih Mas Fitra
18:21Indikator spesial apa yang membuat
18:22WNA ini bisa layak untuk
18:24Jadi pimpinan BUMN itu
18:25Yang dicari pemerintah itu
18:26Yang karakter spesial apa sih?
18:28Ya profesional
18:28Yang mampu untuk membawa
18:30Yang sekarang?
18:31Nah begini
18:31Kenapa WNA itu ada di situ sekarang?
18:34Ya berarti kan
18:34Presiden melihat
18:35Atau dalam konteks ini
18:36BPBMN maupun darantara melihat
18:38Memang
18:39Ya belum ada ekspertis
18:40Yang memang bisa meleverage
18:41Garuda
18:42Coba kalau kita lihat
18:43Selama ini Garuda
18:43Menjadi flag carrier
18:45Tapi kok boncos terus
18:46Kalau dibandingkan misalnya
18:47Dengan Singapore Airlines
18:48Atau dengan
18:49Airlines-airlines yang lain
18:50Yang membawa flag carrier
18:51Sudah captive
18:52Ya secara operasional
18:53Kok tidak
18:54Kemudian
18:55Lebih baik ya
18:56Ketimbang kemudian yang lain
18:57Nah ini kan pantas dicoba juga
18:59Kalau kita melihat nih
19:00Kenapa sih kita
19:00Tim sepak bola
19:01Balik lagi kan
19:02Ini kan
19:03Foreign entities ini
19:04Tujuannya apa sih?
19:05Kita harus melihat
19:05Yang the back picture-nya dulu
19:07Gitu kan
19:07Tujuannya untuk apa?
19:08Meningkatkan misalnya
19:10Kalau untuk Garuda
19:11Meningkatkan profitabilitas
19:13Garuda
19:13Sehingga pada akhirnya
19:15Kita tidak hanya bicara
19:16Mengenai return on assets
19:17Kita bicara mengenai return on equities
19:18Kemudian ada dividend
19:19Apa
19:20Shorter payout ratio
19:22Yang lebih tinggi
19:22Dan seterusnya
19:23Dan seterusnya
19:23Itu kan yang kita harapkan
19:24Supaya apa?
19:24Aspek kebermanfaatannya lebih luas
19:26Yang kedua
19:27Ini sekali lagi
19:28Sebagaimana yang saya sampaikan tadi
19:29Pak Presiden
19:30Kemudian
19:30Kan ini tidak
19:30Merupakan kalimat negasi
19:33Ini WNA
19:35Boleh masuk
19:36Tetapi kan tadi
19:37Seperti disampaikan
19:38Diaspora Indonesia
19:39Juga tentunya
19:40Mendapatkan prioritas
19:41Tapi di sisi yang lain
19:43Ini memberikan
19:43Positive signaling effect
19:44Contohnya apa?
19:46Bagaimana kita melihat
19:47Efek circumstantial
19:48Dari apa yang disampaikan
19:50Pak Presiden
19:50Di forum Forbes tadi
19:51Indeks harga saham
19:53Gabungan kita
19:54Itu
19:55Kalau kita lihat
19:56Secara circumstantial
19:57Setelah statement itu
19:58Itu membaik
19:59Tidak memburuk
20:00Bahkan sekarang
20:01Juga dalam beberapa
20:03Apa namanya
20:03Hari terakhir
20:04Itu
20:05Ada rally
20:06Dan dalam hal ini
20:07Artinya apa?
20:08Artinya dalam konteks potensi
20:09Return on equity
20:10Dari sisi market kita
20:11Itu lebih tinggi
20:12Kenapa return on equity tinggi?
20:13Karena ada
20:14Performance yang mungkin
20:16Akan jadi lebih baik
20:16Positive signaling effect ini
20:18Kalau kita bicara faktor ekspektasi
20:19Menjadi sangat penting sekali
20:21Oke
20:21Nah kalau melihat
20:23Dari situ juga Pak Heri
20:24Kalau kita ambil scoop yang lebih luas
20:26Di tingkat ASEAN saja
20:27Competitiveness BUMN di Indonesia ini
20:29Terbilang lebih maju
20:30Atau malah
20:31Ketinggalan
20:32Ya kalau kita lihat
20:34Faktanya ya
20:35Tidak ada BUMN kita itu
20:38Yang main di tingkat ASEAN
20:39Tapi banyak perusahaan
20:41Dari BUMN ASEAN
20:42Yang masuk ke Indonesia
20:43Yang paling gampang itu
20:45Thai oil
20:45Thai oil masuk ke Indonesia
20:47BUMN Thailand
20:49Gitu segala macam
20:49Dia udah beroperasi disini
20:51Dia beli saham
20:52Cantra Asri
20:52Misalnya gitu
20:53Kemudian GIC
20:55GIC masuk ke Indonesia
20:57Dia beli saham
20:57Nusantara Infrastructure
20:58Yang sekarang jadi penguasa tol
21:00Di Indonesia
21:01Bisa berko
21:02Dia bisa compete
21:03Dengan jasa marga
21:04Lama-lama jasa marga kepepet-pepet
21:05Terus tuh
21:06Nah tapi perusahaan kita
21:07Yang masih dalam
21:08Apa namanya
21:09Lingkupnya masih di Indonesia
21:11Nah
21:12Jadi menurut saya
21:13Itu yang paling penting
21:14Pemerintah itu
21:17Mulai tahun 2020
21:18Itu kementerian BUMN
21:20Sebenarnya
21:20Itu sudah memasukkan
21:22Kontrak manajemen direksi
21:23Itu salah satunya itu adalah
21:25Talent pool
21:26Jadi dia harus memiliki
21:28Talenta-talenta
21:29Yang dari level manajer
21:31Sampai level nanti
21:32Calon-calon pengganti direksi
21:34Nah ini dengan
21:35Standar-standar internasional
21:37Sehingga kalau dengan
21:37Narasinya pemerintah
21:38Mencoba WNA ini
21:39Pimpin BUMN
21:40Biar upgrade
21:40Masuk akal dong harusnya
21:42Nah seharusnya begitu
21:43Nah maksud saya gini
21:45Jangan sampai
21:47Jangan sampai nih
21:47Talent pool
21:48Yang sudah dikelola oleh
21:49BUMN masing-masing BUMN
21:51Kan banyak orang pinter
21:52Di BUMN kita
21:53Di BUMN-BUMN kita
21:54Yang sudah dikelola
21:55Yang sudah dididik baik-baik
21:56Dengan standar mutu
21:57Setingkat VP apa
21:59Setingkat SVP apa
22:00Setingkat senior
22:01Executive Vice President apa
22:03Untuk menjadi calon direksi itu apa
22:05Standar-standarnya
22:06Kualifikasinya
22:07Nah kalau ini
22:08Sudah disiapkan
22:10Dan ini sudah berjalan
22:11Jangan sampai diabaikan
22:12Kita berharap bahwa
22:14Mereka ini adalah
22:15Pilihan pertama
22:15Menurut saya
22:16Nah kalau memang
22:17Tidak ada lagi
22:18Yang punya keahlian spesifik
22:20Adanya di WNA misalnya
22:21Silahkan
22:23Pakai WNA
22:24Talent pool kita
22:26Emang gimana
22:26Kualitasnya sejauhi ini
22:27Di BUMN kita
22:28Mas Fitra
22:28Ya bagus
22:29Tapi dalam hal ini
22:31Kita bicara mengenai
22:32Placement yang tepat
22:33Gitu kan
22:34Kalau kita bicara mengenai talent
22:36Semua bertalenta
22:37Tetapi kalau kita bicara pengalaman
22:39Ya mungkin pengalaman itu
22:40Tidak bisa dibeli
22:41Di jangka pendek
22:41Tetapi
22:42Keberadaan WNA-WNA ini
22:44Bisa kemudian
22:44Mewarnai
22:45Talent pool yang kita miliki
22:47Sehingga apa
22:47Ada positive spillover
22:48Fillover effect
22:50Ada knowledge spillover
22:51Itu yang kita harapkan
22:52Kan kita tidak ingin selamanya
22:54WNA itu ada disini
22:55Kita ingin kemudian mereka
22:57Juga memberi pelajaran
22:58Untuk teman-teman kita
22:59Yang berpotensi
23:00Supaya kemudian bisa
23:01Menggantikan mereka juga
23:02Pada akhirnya
23:03Dan yang bermasalah
23:04Unsur profesionalisme
23:05Atau ada hal lain?
23:06Ya macam-macam
23:06Ada profesionalisme
23:07Ada komitmen
23:08Dan seterusnya
23:09Dan itu sebenarnya
23:10People
23:10Response to incentive
23:12Dan dalam konteks ini
23:13Kita bicara mengenai kompetisi
23:14Selama ini mungkin
23:15Aspek kompetisinya
23:16Kita melihat bahwa
23:17Oke
23:17Antara orang Indonesia aja
23:18Nah tetapi ketika ada
23:20Unsur asing disini
23:21Ini kan orang kan
23:22Akan semakin semangat
23:23Untuk berkompetisi
23:24Jangan-jangan ya
23:25Nanti bulan depan
23:25Udah balik lagi ke WNI
23:27Kalau misalnya WNI bisa membuktikan
23:28Bahwa dia lebih profesional
23:29Dibandingkan mereka
23:30Nah masalahnya sekarang
23:31SDM yang berintegritas itu
23:32Mas Praswat
23:33Kan harapannya BUMN
23:34Dengan adanya SDM
23:35Yang ada sekarang
23:35Bisa meningkatkan
23:36Standar kualitas BUMN
23:38Cuman kan ternyata
23:39Masalah profesionalisme saja
23:41Dipertanyakan
23:41Makanya WNI aja di ruang
23:42Untuk bisa membuat
23:43Itu bisa semakin baik
23:44Apalagi kasus korupsi
23:46Juga masih ada kan
23:46Di lingkup BUMN
23:47Menurut apa itu jawabah?
23:49Saya pikir kan
23:50Sebenarnya dari awal
23:51Kita sudah salah
23:52Untuk mengidentifikasi masalah
23:53Jadi perdebatannya
23:55Antara misalnya
23:56Talent pool
23:57Atau kemudian
23:57Siapa yang lebih pinter
23:59Dan berbakat
23:59Dan kejagoan mana
24:01Dan ekspertis
24:01Dan lain-lain
24:02Tapi yang kita
24:03Yang kita
24:04Lupakan bahwa
24:08Sepinter apapun
24:09Orangnya
24:10Kalau kemudian dia
24:11Gagal untuk menjalankan
24:14Tugasnya
24:16Karena integritasnya
24:18Dipertanyakan
24:18Ini akan
24:19Yang jadi masalah
24:20Di BUMN
24:20Jadi
24:20BUMN kita itu
24:22Bukan masalah
24:23Betul BUMN kita
24:24Gak pernah
24:24Main di Asia Tenggara
24:26Tapi
24:27Orang-orang Indonesia
24:28Itu main di seluruh dunia
24:29Jago-jago semua
24:30Kenapa kok mereka
24:32Bisa hidup di sana
24:33Dengan ekosistem yang
24:34Asing sama sekali
24:35Mereka malah bisa
24:36Jadi direksi
24:37Tapi begitu
24:38Balik ke Indonesia
24:39Mereka masuk ke dalam
24:40Sistem yang korup
24:41Kenapa?
24:42Karena memang
24:43Gagal
24:43Secara
24:45Kita
24:47Kalau kita ngomong
24:48Jujur saja
24:48Kami di KPK
24:50Misalnya
24:50Itu
24:51Dalam konteks ini
24:53Ini sebenarnya
24:53Tidak agak
24:54Sebenarnya
24:55Kalau
24:55Dalam konteks
24:57WNA-WNA
24:59Yang masuk
25:00Menjadi direksi
25:00Itu kami tidak
25:01Seberapa
25:02Senang ini
25:03Mas Fitra
25:03Kenapa?
25:03Karena sulit
25:04Untuk mentersangkakannya
25:05Nanti
25:05Jadi kalau
25:06WNA susah
25:08Belum pernah KPK
25:09Bisa sanggup
25:09Untuk mentersangkakan WNA
25:10Karena apa?
25:11Susah
25:12Jurisdiksinya susah
25:13Kalau ada
25:13Kasus-kasus penyelewengan
25:14Terutama dari pengalaman Anda
25:15Selama bertugas
25:16Waktu itu sebagai penyidik
25:17Masalah tata kelola
25:19Atau apa?
25:19Akar masalahnya itu?
25:20Akar masalahnya itu
25:21Dititipan
25:22Dipesan
25:23Jadi gini
25:23Mas
25:24Teman-teman yang naik
25:25Menjadi direksi
25:26Kita harus ngomong jujur
25:28Disini
25:28Teman-teman yang bisa naik
25:30Ke direksi
25:30Itu ada gerbongnya
25:32Itu sudah
25:33Clear
25:34Sejuta persen valid
25:36Jadi kita sudah gagal
25:38Untuk
25:38Jadi kalau ketemu
25:40Kenapa?
25:40Kalau ini misalnya
25:41Misalnya kita ngomong
25:42Kasus ini di jalan deh sekarang
25:43Kita gak usah ngawang-awang
25:44ASDP
25:45ASDP
25:47Beli
25:49Perusahaan
25:50Lalu perusahaannya
25:51Collapse
25:52Dan
25:52Rontok
25:53Dipesan
25:55Ada The Messenger
25:56Untuk beli
25:57Terus sekarang jalan
25:59PGN
25:59PGN juga
26:01The Messenger
26:01Terus sekarang apa?
26:04Inhutani misalnya
26:05Suap
26:05Jadi memang mereka
26:07Bukan mereka
26:07Tidak pintar atau tidak
26:09Mereka sangat paham sekali
26:11Keilmuannya
26:11Saya pernah diskusi sama teman-teman
26:13Direksi BUMN
26:15Itu dua jam
26:16Dua jam itu saya terbengong-bengong
26:18Alangkah pinter-pinternya
26:20Teman-teman direksi
26:21Sebegitu cerdas-cerdasnya kita
26:23Dan pinter-pinternya
26:23Tapi
26:24Ketika kemudian saya tanya
26:25Oke
26:26Bapak dengan faham
26:28Dia menjelaskan
26:29Ekonomi mikro makros
26:30Terus transaksi 250 miliarnya mana?
26:33Oke
26:33Mana barangnya?
26:36Problem titipan itu ya?
26:37Mana 250 miliar yang Bapak transaksikan di tahun 2018
26:41Ini tahun 2025
26:42Sudah 7 tahun barang itu
26:44Mana?
26:46Dia bayar
26:46Dia jawab lagi
26:47Dengan segala teori-teori
26:48Yang sophisticated
26:50Yang segala macem
26:52Indonesia akan menjadi
26:54Makmur sejahtera penguasa dunia
26:56Bapak beli tahun 2018
26:58Barang 250 miliar
27:01Oke
27:01Mana?
27:022025 ini mana barangnya?
27:04Dan kalau melihat dari kasus itu
27:05Apakah itu yang jadi cerminan pemerintah
27:07Bahwa dengan WNA ditempatkan jadi pemimpin BUMN
27:10Gak ada lagi itu istilahnya titipan-titipan
27:12Bisa menekan korupsi juga disitu
27:13Itu jawaban
27:14Jadi mas Praswat membuat kerja saya lebih mudah
27:16Karena sebenarnya sudah saya jelaskan begitu kan
27:18Gini
27:19Jadi WNA itu
27:20Apa sih yang dibawa selain pengalamannya?
27:23Corporate culture
27:23Nah
27:24Kalau kita lihat
27:25Misalnya dari direksi yang sekarang
27:28Menjabat di Garuda
27:29Corporate culture yang dibawa adalah corporate culture yang
27:32Ya
27:32Suka tidak suka
27:33Kita melihatnya jauh lebih profesional
27:34Tidak korupsi dan seterusnya
27:37Meskipun tidak
27:37Tidak menutup kemungkinan juga
27:39Mereka menjadi aktor korupsi juga
27:40Tapi setidaknya mereka membawa corporate culture
27:43Terus yang kedua
27:43Ini karena ada konserian budaya
27:47Ini kan bukan temannya
27:48Gak bisa dibuat hengki-pengki
27:50Kalau itu berarti apa?
27:52Berarti kemungkinan terjadinya korupsi
27:54Itu menjadi lebih minimal
27:56Dan oleh karena yang kita melihat disitu kan
27:59Bagaimana proses hengki-pengki
28:00Orang ini kita memang tadi sampaikan oleh Pak Praswat
28:03Kita tidak kehilangan kekurangan orang pintar
28:06Tapi kita kekurangan orang berintegritas
28:08Nah jangan-jangan ini WNA ini
28:10Ya kita gak tahu
28:11Dia berasal dari corporate culture yang lebih bagus
28:12Bisa jadi kita juga akan mengimport teman-teman Indonesia yang diaspora
28:16Yang juga berasal dari corporate culture yang lebih bagus juga
28:18Dan pada akhirnya itu akan membenahi BUMN gitu
28:20Dan kalau ada sisanya itu
28:21Dianya gak hengki-pengki
28:23Tapi vendornya BUMN itu WNA semua
28:26Dan hengki-pengki semua
28:27Ini juga fakta yang sangat sedih gitu ya kadang-kadang ya
28:33Vendornya itu dari luar semua
28:36Tapi kan harus besar dari satu kluster
28:38Harus besar dari satu kluster
28:39Kalau misalnya mereka sendiri mengenal dengan orang ini
28:42Ya pada akhirnya terjadi matching kan
28:43Kalau kita bicara mengenai konteks meminimalisir ya
28:47Tapi anyway
28:48Gini ya
28:49Kalau misalnya pun mereka terjebak
28:51Atau kemudian terindikasi korupsi
28:52Sebenarnya kan nanti mungkin Mbak Heri atau yang lain-lain bisa menjelaskan
28:55Dari sisi peraturan hukumnya
28:57Mereka kan harus tunduk pada peraturan di Indonesia
28:59Dan kalau misalnya mereka memang terbukti
29:01Ya itu tidak akan kebal administrasi
29:03Tidak akan kebal hukum juga
29:04Oke
29:05Kalau kemudian masih ada kasus
29:06Anggaplah begini
29:07Ditempatkan WNA ke satu pimpinan BUMN tertentu
29:11Kalau kemudian budaya itu
29:13Budaya yang salah itu masih mengakar
29:14Apakah betul-betul bisa ada jaminan WNA itu bisa mengubah itu
29:17Tidak ada yang menjamin 100%
29:19Cuma Tuhan yang 100% benar ya
29:21Kita manusia itu banyak kesalahan
29:23Dan tentunya banyak ruang-ruang risiko juga
29:25Tapi kan disini kita bicara mengenai
29:27Bagaimana aspek profesionalism itu
29:28Kita bicara semangatnya mas
29:29Sekali lagi ya
29:30Sekarang kita sudah melihatnya
29:32Secara time series
29:33BUMN kita begini-begini aja
29:35Masalahnya dimana?
29:37Kekurahan orang meter?
29:38Gak juga
29:38Kekurahan profesionalism?
29:40Ya mungkin gak juga
29:41Mungkin harus ada entitas asing
29:42Yang membuat kita kan sekarang jadi
29:44Kita semua kan jadi
29:45Merasa terpantik
29:46Kenapa adus orang asing
29:48Adus disitu?
29:48Apa kita kurang?
29:49Nah mungkin dalam hal ini
29:51Juga bisa memantik semangat kita
29:52Direksi-direksi ke depannya
29:54Lebih profesional
29:55Supaya kemudian kerjaannya
29:56Tidak diambil orang asing
29:57Nah yang sekarang gak profesional nih
30:00Bang Pras
30:01Kalau anda melihatnya memang gak profesional
30:02Kalau melihat dari kasus yang pernah anda tanganin itu
30:05Secara generalisnya begitu
30:06Semuanya profesional
30:07Yang pernah saya tangani
30:09Semua direksi itu profesional pak
30:12Tapi kemudian gerbongnya
30:14Datang dan meminta
30:17Tagihan balas budi
30:19Atas kenaikan dia sebagai
30:20Menjabat di kursi tersebut
30:22Jadi ini yang kemudian
30:24Patah semua
30:25Jadi intelektual itu kemudian
30:27Jadi kan
30:28Adap itu di atas ilmu ya
30:29Kalau di Indonesia ya
30:30Jadi adap itu di atas ilmu
30:32Jadi ilmu dia rontok semua
30:34Ketika adapnya hadir bahwa
30:35Oh ada orang
30:36Yang sudah
30:38Bertanam budi
30:40Kepada saya
30:41Dan saya sudah berhutang budi
30:43Datang dan meminta pertolongan
30:45Ini yang
30:45Itu tidak beradap dong
30:46Kalau misalnya
30:47Dia harus membayar dengan suatu yang lain negatif
30:50Dan itu faktanya mas
30:51Jadi kalau kita ngomongin gak beradap
30:53Semuanya memang gak beradap
30:54Berarti kalau begitu
30:56Kita melihat bahwa
30:57Adap di atas ilmu
30:58Orang-orang asing ini
30:59Mudah-mudahan dia tidak beradap
31:01Supaya dia tidak
31:01Kemudian tetap menggunakan ilmu
31:03Supaya tidak kemudian
31:04Masuk kepada kultur
31:05Kultur yang
31:06Saya gak masuk ke dalam
31:07Itu ilmunya mas ya
31:10Bagaimana kemudian efektivitas
31:11Orang asing
31:12Apakah dia lebih efektif atau tidak efektif
31:14Karena saya memang bukan orang bisnis
31:16Tapi saya orang hukum
31:16Tapi kalau dia orang asing
31:18Yang pasti
31:18Satu dia sulit untuk ditersangkakan
31:20Kedua KPK belum pernah
31:23Bisa menersangkakan
31:24Bisa secara regulasi
31:26Tapi belum pernah berhasil
31:27Untuk menersangkakan orang asing
31:29Dan Roll Royce
31:30Misalnya
31:30Even Roll Royce itu
31:31Roll Royce itu kan pasal lima
31:33Sebenarnya
31:33Penyuapnya
31:34Garuda
31:36Oke
31:36Jelas ya
31:37Apa yang bisa kita lakukan
31:39Gak bisa
31:39Walaupun kemudian ada aturan
31:41Yang dicabut juga
31:42Dari revisi undang-undang BUMN itu
31:43Bahwa status yang direksi
31:45Komisaris Dewan Pengawas
31:46Yang awalnya bukan penyelenggara
31:47Negara itu dicabut
31:48Sehingga masih ada
31:49Pengenaan status hukum juga
31:51Kalau mereka melakukan kesalahan
31:52Tapi jawabnya nanti
31:53Kita akan bahas
31:54Lajin apa itu
31:54Sebelum kita menyentuh
32:00Soal hukumnya dari pertanyaan saya sebelumnya
32:02Ini kan kalau kita merujuk lagi
32:03Dari survei Litbang Kompas
32:04Di tanggal 11 hingga 14 Agustus
32:06Problem utama
32:07Yang selama ini dihadapi BUMN
32:09Paling banyak 46,8%
32:11Korupsi penyalahgunaan anggaran
32:12Kemudian kurangnya
32:13Transparansi pengawasan
32:14Urutan 2
32:1516,2%
32:16Intervensi politik
32:17Sangat kuat 10,4%
32:19Manajemen yang kurang
32:20Profesional 9,5%
32:21Mas Syamsul
32:22Dari 4 ini
32:22Mana yang harus diperbaiki dulu nih?
32:24Nah itu kan
32:25Yang kita rebutkan tadi
32:26Yang 9% itu sebenarnya
32:27Yang korupsinya itu
32:28Yang tata kelola yang bagusnya
32:30Itu yang masih
32:31Belum kita sentuh
32:33Kalau memang
32:34Asing itu bisa membawa
32:36Tata kelola
32:36Atau budaya yang bagus
32:38Mungkin
32:38Positif untuk kita
32:39Jadikan acuan itu
32:41Tapi ada juga
32:41Cara lain
32:42Misalkan
32:42Talenta-talenta BUMN
32:45Yang bagus-bagus
32:46Kita magangkan aja
32:47Misalkan
32:47SQ
32:48Untuk Garuda
32:49Misalkan
32:49Level calon
32:51Direksi
32:52Misalkan
32:53Sekolahnya aja disitu
32:54Di beberapa
32:55Maskapai yang
32:57Dianggap bagus gitu
32:58Apakah
32:59Etihad atau macem-macem
33:00Nah dari situ
33:01Disaring lagi
33:02Yang bener
33:03Catatan yang paling penting
33:05Tadi dari mas
33:05Raswat adalah
33:06Bukan masalah ini
33:08Ada integritas
33:09Redibilitas dan integritas
33:11Kalau selama asing
33:12Berintegritas ya gak masalah
33:13Itu yang paling berat
33:15Yang paling berat
33:16Dari sisi ini
33:17Karena pinter banyak
33:18Tapi pinter ngakalin
33:19Anggaran
33:20Ngakalin tender
33:21Itu ya mas ya
33:21Itu yang
33:22Yang dikhawatirkan
33:23Jangan sampai seperti itu
33:24Bender kita asing
33:25Nguap semua
33:26Itu yang
33:28Yang tahu
33:29Dan mungkin
33:30Arisan-arisan yang seperti itu
33:31Yang lebih canggih mungkin
33:33Jadi disitu
33:33Nah
33:34Perkoncoan jangan sampai
33:36Jangan
33:36Yang masalah tadi
33:37Perkoncoan itu bener sekali
33:38Gerbongnya siapa
33:40Nah tapi kalau
33:40Kita ngomong asing
33:41Tapi gerbongnya
33:42Gerbong juga dari sini
33:44Nah
33:44Itu kan
33:45Kekhawatiran itu ya
33:46Gak ada jaminan loh mas
33:47Profesional
33:48Memang gak ada yang jaminan
33:50Gak ada jaminan
33:50Tapi gak ada
33:51Yang kemudian melihat
33:52Bahwa itu
33:53Melupakan satu resiko juga kan
33:54Jadi segini
33:55Tidak ada yang 100% terjamin
33:57Ya mau WNA
33:58Mau WNI gitu kan
33:59The other way around
34:01Kalau kita pakai perspektif yang lain
34:02Keberadaan WNI ini kan
34:05Belum tentu buruk juga
34:06Gitu kan dalam konteks itu kan
34:08Belum tentu buruk
34:08Belum tentu positif
34:09Ya kita lihat netral-netral aja lah
34:11Ini kan dalam konteks
34:12Memperbesar
34:13Portofolio administrasi
34:14Ya
34:14Inklusif
34:16Sebesar-besarnya
34:17Untuk
34:18Kebermanfaatan masyarakat
34:20Sesuai dengan
34:20Amanan konstitusional
34:21Nah
34:22Dalam konteks ini
34:23Kita balik lagi
34:24Pak Presiden itu ngomong di forum apa sih
34:26Forum internasional
34:27Tujuannya adalah untuk apa
34:28Untuk memperlihatkan
34:29Bahwa Indonesia tengah berbenah
34:31Bukan artinya
34:32Bahwa WNI kita itu
34:33Tidak
34:34Kemudian
34:34Kalah gitu ya
34:35Dengan WNA-WNA
34:37Yang kemudian dipekerjakan
34:38Banyak kok
34:39Saya kan dulu kan
34:39Ketua PPI Jepang ya
34:41Itu banyak
34:42Kalenta-kalenta kita
34:43Di luar negeri
34:45Itu yang unggul
34:46Bahkan gak balik-balik lagi ke sini
34:48Itu Indonesia diaspora
34:49Kenapa?
34:49Karena di sini
34:49Mungkin
34:50Ya mereka melihat bahwa
34:51Di sini tidak ada oportunitas
34:52Maka setelah itu dibuka
34:54Ini kan juga tidak
34:55Menutup kemungkinan
34:57Bahwa diaspora kita
34:58Telenta-telenta
34:58Unggul di luar negeri
34:59Bukan melihat
35:00Oh Indonesia telah berbenah
35:01Oh bisa juga saya kemudian
35:02Ngeplay ke sana
35:03Nah tadi saya sepakat dengan Pak Samsul
35:05Kenapa gak dimegangkan aja
35:06Iya betul
35:07Tapi itu
35:07Jangka menengah panjang
35:09Tapi kan kita juga harus menjawab
35:10Tantangan di jangka pendek
35:11Ini harus dibenahin dulu
35:12Supaya menjadi rumah mereka
35:13Untuk kembali lagi nanti
35:14Semangat pemerintah
35:15Untuk membenahi itu
35:16Makanya Pak Heri
35:17Pak Prabowo menyampaikan itu
35:18Di forum internasional juga
35:20Anda setuju dong soal itu
35:21Ya gini tuh
35:22Mungkin
35:23Mungkin ihtiarnya itu
35:24Ini ihtiar darurat ya
35:25Jadi dia
35:26Pak pemerintah
35:28Memaksakan kemudian
35:29Masuk ke WNA
35:30Itu supaya
35:31Memberikan peringatan
35:32Kepada
35:33Direksi yang lain
35:34Di seluruh BUMN
35:35Hati-hati
35:36Ini kalau kalian
35:37Tidak serius
35:38Mengelola
35:39Perusahaan Plat Merah
35:40Saya akan ganti semua ini
35:42Kira-kira mungkin
35:43Mesejnya kayak gitu
35:43Tapi buat saya yang jauh lebih penting
35:45Yang sebab
35:47Membenahi apa yang
35:48Tadi dikekhawatiran
35:49Disampaikan oleh Pak Pras tadi
35:51Misalnya gini
35:51Kita mulai dari hulunya
35:54Adalah komitmen
35:56Menerapkan tata kelola
35:57Minimal gini
35:58Jangan langgar
36:00Peraturan yang kalian buat sendiri
36:01Peraturan Menteri BUMN
36:04Tahun 2023
36:05Itu sudah jelas menyebutkan
36:07Dewan Komisaris
36:08Tidak boleh
36:09Pengurus partai politik
36:11Tapi coba kita lihat sekarang
36:13Begitu banyak pengurus loh ya
36:15Pengurus aktif partai politik
36:17Menjadi komisaris
36:18Nah ini
36:19Kalau hulunya sudah seperti ini
36:21Ini kasihan BUMN
36:23Menurut saya itu
36:24BUMN ini aset negara
36:26Bayangin
36:27Kemasek
36:28GIC
36:29Ini kita ngambil
36:30Sorry
36:30Kita harus ngambil
36:31Contoh yang jelas ya
36:32Mereka itu berkontribusi
36:34Tahun 2024
36:3520% terhadap
36:36Total belanja
36:37Pemerintah pusat Singapura
36:38Jadi bayangin
36:39Betapa besar kontribusinya
36:41Bagi negara
36:41BUMN
36:43Enggak
36:44Masih banyak yang nyusu
36:45Ke pemerintah
36:46Nah
36:46Jadi menurut saya
36:48Komitmen itu harus dimulai
36:49Dari hulu
36:49Janganlah
36:50Kita kan pemerintah yang bikin peraturan
36:52Bahwa
36:53Dewan Komisaris
36:54Komisaris tidak boleh
36:55Menjadi pengurus partai politik
36:58Coba kita lihat
36:59Pengurus partai politik
37:00Banyak sekali
37:01Dan aktif
37:01Mereka itu
37:02Oke
37:03Mas Faisal
37:05Anda juga sepakat
37:06Bahwa ini sebagai alarm
37:07Sebagai warning
37:08Wanti-wanti buat yang lain
37:09Kalau macam-macam
37:10Ya kita
37:10Depak lah
37:12Biar jangan main-main lah
37:13Di BUMN ini
37:14Ya
37:14Dari alarmnya oke lah
37:16Tapi kembali lagi
37:17Tadi masalah itu
37:18Sebetulnya kan di sistem
37:19Jadi kalau
37:20Sistemnya itu bobrok
37:22Mau ganti yang paling bagus
37:24Juga begitu
37:25Dia masuk ke dalam sistem
37:26Dia akan terwarnai
37:27Gak akan bisa melawan
37:28Jadi yang lebih didulukan
37:31Sebetulnya adalah
37:32Perbaikan dari sisi sistem
37:33Kalau tadi Pak Airi bilang
37:35Dari hulunya
37:36Jadi jangan melanggar
37:37Apa yang sudah
37:38Dibuat aturannya itu sendiri
37:39Itu aja dulu
37:40Dengan
37:41Dengan konsisten
37:43Itu dijalankan
37:43Baru nanti ngomong
37:44Masalah profesionalitas
37:46Apakah WNI
37:46Atau WNA
37:47Untuk yang ini
37:49Ya ini kan
37:50Dimensinya sebetulnya banyak
37:51Satu hal sebetulnya
37:52Walaupun yang belum
37:53Disebutkan
37:54Misalnya
37:54Kalau kita mau rekrut WNI
37:56Terlepas dari masalah integritas
37:57Tadi ya
37:58Kalau saya mau
37:58Rekrut orang WNA
38:00Ini mau
38:01Efektif
38:02Mendorong dari sisi
38:04Profitabilitas
38:05Profesionalitas
38:06Saya juga bisa
38:07Membandingkan
38:08Sama efisiensi
38:09Jadi
38:10Kalau menghayar orang luar
38:12Kan tentunya
38:13Standar gajinya
38:13Juga internasional
38:14Nah kalau
38:15Dia dengan
38:16Untuk mencapai itu
38:17Apakah harus
38:18Kita mengorbankan
38:19Dari sisi
38:20Kosnya lebih tinggi
38:21Ya untuk membayar dia
38:23Nah ini kan
38:23Apakah sesuai dengan
38:24Semangat efisiensi
38:26Yang disampaikan oleh pemerintah
38:27Ini kan yang
38:28Duensi yang lain
38:28Mas Fitra
38:29Memperbaiki hulunya
38:30Bakal gampang
38:31Atau malah
38:32Sama aja nih
38:33Kalau nanti
38:33WNI juga yang
38:34Megang pimpin BWM
38:35Dengan WNA
38:35Perbandingannya
38:36This will be a long
38:37And tiring process
38:38Kalau kita bicara
38:39Mengenai pembinaan
38:40Ini ekosistem kita
38:41Sudah bobrok
38:42BMN kita memang
38:43Begitu-begitu aja
38:43Pak Presiden memang
38:44Sudah kesal sekali
38:45Dengan keadaan BMN kita
38:46Dan makanya
38:47Pembinaan itu
38:48Harus dilakukan dengan
38:49Segera
38:50Dan sekarang juga
38:50Bukan nanti
38:51Bukan besok
38:52Bukan tahun depan
38:53Nah oleh karena
38:53Kita melihat juga
38:54Bagaimana ini sistem
38:55Saya sepakat sekali
38:56Tadi ada masalah
38:57Di sisi hulu
38:58Ekosistem dan seterusnya
38:59Ekosistem sudah bobrok
39:00Ya betul
39:00Tapi kan
39:01Ini dibenahi
39:02Sedikit demi sedikit
39:04Dari sisi profesionalism
39:06Tadi juga
39:06Tadi disampaikan oleh Pak Harry
39:07Bahwa ini adalah
39:08Shock therapy juga
39:09Buat para direksi
39:11Direksi kerja ini
39:12Ngapain aja sekarang
39:13Nah itu kemudian
39:14Dikasih nih orang asing
39:15Nih
39:15Saya kasih orang asing
39:16Orang bule
39:16Anda bisa gak bersaing dengan mereka
39:18Oh ternyata bisa
39:19Ya sudah
39:19Tapi kalau gak bisa
39:20Ini menjadi shock therapy
39:21Ganti aja semua bule
39:23Nah itu kan juga harapan netizen
39:24Ini kalau bisa
39:25Ini naturalisasi aja nih
39:26Direksi-direksi BMN
39:27Kan begitu kan
39:28Katanya netizen
39:29Nah
39:29Tapi kan gak sebegitu juga
39:31Banyak orang-orang baik
39:32Banyak orang-orang yang
39:33Kemudian bisa berkontribusi
39:34Buat kita
39:35Tapi kan pembenahan itu
39:36Memang harus dilakukan
39:37Secara bertahap
39:38Nah PR lainnya
39:40Selain kan ada isu
39:41Yang mau membawa
39:42Pimpin BUMN itu
39:43Pak Prabowo juga mendorong
39:44Semangat pemangkasan
39:45Seribuan itu
39:46Mau dipangkas jadi
39:47200 unit BUMN
39:48Apakah ini bisa membawa
39:50BUMN kita bisa bekerja
39:51Efektif dan efisien
39:52Atau malah akan ada
39:53Tantangan baru
39:54Jawabannya sebentar lagi
39:54Selain soal WNA
40:07Ditempatkan jadi pimpinan BUMN
40:09Mas Amsul
40:09Semangat pemerintah
40:10Untuk memangkas unit
40:11BUMN seribuan
40:12Jadi 200an
40:13Ini bisa semangatnya
40:15Efektif efisien
40:15Atau malah akan ada
40:16Tantangan baru menurut Anda
40:17Tantangannya ini
40:18Kebijakan populis ya
40:19Kalau di swasta
40:21Itu kalau namanya
40:22Gak untung ya siap-siap
40:23Pangkas
40:24PHK
40:25Tapi kalau BUMN ini
40:27Susah
40:27Kita pernah
40:28Merpati itu kan
40:29Dulu PHK juga ya
40:31Itu bertahun-tahun
40:32Untuk mendapatkan
40:33Apa
40:33Pesangon
40:34Apa itu ya
40:35Haknya lebih susah
40:36Dibanding yang swasta
40:37Kalau swasta
40:38Dikugat likuidasi
40:40Selesai
40:40Kalau BUMN
40:41Dikugat likuidasi
40:42Gak bisa asal
40:44Likuidator
40:45Mengeksekusi aset kan
40:47Yang seperti itu
40:48Tantangan terbesar
40:49Adalah seperti itu
40:50Tapi cara-cara
40:51Yang tadi dilakukan
40:52Oleh presiden
40:53Misalkan
40:53Mengundang asing
40:54Itu salah satu cara
40:56Gitu kan
40:56Yang
40:57Kalau efisiensi itu kan
40:58Pangkasnya dari atas dulu
40:59Direksi-direksi yang gak bagus
41:00Buang dulu
41:01Efisiensi disitu
41:02Karena gajinya gede-gede
41:03Ya kan
41:04Baru
41:05Ke bawah
41:06Efisiensi di tingkat pekerjaan
41:07Karena ada
41:08Perusahaan-perusahaan itu
41:09Gak tahu
41:11Di BUMN
41:11Ada seperti itu juga
41:12Sengaja membuat
41:13Anak-anak perusahaan
41:15Yang sengaja untuk
41:16Memposisikan
41:18Kerugian itu disitu semua
41:20Nah
41:20Dan itu bisa ditepatkan
41:22Orang-orang yang tadi
41:22Gergong
41:23Politisi
41:24Macam-macam disitu
41:24Dengan
41:26Dengan tantangan
41:27Dividen kita itu
41:28Mas Heri
41:29Dengan mengurangi
41:30Jadi 200 unit
41:31BUMN
41:31Masuk akal menurut Anda
41:32Ya menurut saya itu gini
41:33Saya punya pandangan
41:35Yang agak berbeda
41:35Soal dividen ya
41:36Karena gini
41:37Danantara hadir
41:39Keselama ini
41:40Kita bertahun-tahun
41:41Berpuluh-puluh tahun
41:42Kita punya kapasitas
41:43Yang terbatas
41:44Untuk mendongkrak
41:45Investasi
41:46Investasi ini
41:47Itu adalah
41:48Kontributor terbesar
41:50Kedua
41:50Setelah konsumsi rumah tangga
41:52Untuk mendorong
41:52Pertumbuhan ekonomi
41:53Dalam 20 tahun terakhir
41:55Berapa kontribusi
41:57Terhadap PDB
41:58Itu cuma 29%
41:59Rata-rata
42:00Pertumbuhan ekonomi
42:01Kita per tahun
42:02Cuma 5%
42:03Kalau kita tarik
42:04Dari 2004
42:04Sampai 2023
42:05India
42:07Itu rata-rata
42:08Kontribusi investasi
42:09Terhadap PDB
42:10Itu sekitar
42:1132%
42:12Berapa rata-rata
42:13Pertumbuhan ekonominya
42:14Itu 6,4%
42:16Cina
42:17Rata-rata
42:18Kontribusi investasi
42:19Dalam 20 tahun terakhir itu
42:20Pertahun
42:21Itu ada sekitar
42:2243%
42:24Pertumbuhan ekonominya
42:26Rata-rata
42:268%
42:27Maksud saya itu gini
42:28Kalau pemerintah
42:30Hanya menuntut
42:30Dividen
42:31Itu kan
42:32Artinya
42:33Kalau dividennya itu
42:34Dikembalikan ke pemerintah
42:35Besar-besaran
42:36Maka BUMN
42:37Tidak akan investasi
42:38Nah
42:39Ketika dia tidak investasi
42:40Kapasitas investasi
42:41Kita akan terbatas
42:42Jadi nanti dia
42:43Menahan untuk
42:44Belanja modal
42:44Jangan sampai nanti
42:46Adap
42:47Ini contoh aja
42:48Jangan sampai
42:49Adap mesin di kilang
42:50Atau di pabrik
42:51Lama-lama keharatan
42:52Karena tidak mau diperbaiki
42:54Karena berharapkan
42:55Bisa memberikan
42:56Dividen besar
42:57Dengan target
42:57740T per tahun
42:59Target dividen
42:59Untuk 5 tahun
43:01Itu pemangkasan
43:02Jadi 200 unit
43:03Jadi solusi
43:04Menurut ada pemangkasan
43:04BUMN itu
43:05Kita perlu lihat
43:06Pemangkasannya
43:07Seperti apa
43:08Mas
43:08Jadi dari seribuan
43:09Menjadi 200T
43:10Itu cara
43:11Mangkasannya
43:11Seperti apa
43:12Kalau dia pemangkasan
43:13Misalnya begini
43:14Ada satu sektor
43:15Ada beberapa
43:16Ini tidak efisien
43:17Perlu dipangkas
43:18Ini BUMNnya sakit
43:19Mau dikasih berapa kali
43:21BUMN itu
43:21Tetap aja dia akan sakit
43:23Ya itu udah
43:23Memang
43:24Kenapa dipertahankan gitu
43:26Jadi kita mempertahankan
43:27BUMN yang betul-betul sehat
43:28Tapi kalau
43:29Tapi kalau
43:29Mangkasnya misalnya
43:30Ada sekitar
43:32250 sektor
43:33Dan subsektor
43:34Yang harus
43:35Yang harus
43:36Dijaga
43:36Ada penelayanan
43:38Ada pelayanan publik
43:39Di situ
43:39Misalnya ada 300
43:40Di pangkas
43:42Nah ini yang mau
43:42Melayani siapa
43:43Mau swasta
43:44Kan tidak semua
43:45Swasta bisa masuk loh
43:46Nah jadi kita
43:47Mesti lihat dulu
43:48Pemangkasannya
43:48Seperti apa
43:49Mas Pras
43:51Menyinggung pertanyaan saya
43:52Sebelumnya
43:53Masalah
43:53Sebetulnya dalam
43:54Aturan
43:54Revisi BUMN yang baru
43:56Direksi
43:56Tidak ada lagi
43:58Istilahnya bukan
43:58Penyelenggaran negara
43:59Mereka akan
43:59Kena hukum
44:01Kalau ada penyelewengan
44:01Dijamin juga oleh
44:02Kejaksaan Agung
44:03Tapi di sisi lain
44:04Lini BUMN kita kan
44:05Bisnisnya banyak
44:06Apakah ini akan jadi
44:06Tantangan juga buat penyidik
44:07Kalau ada penyelewengan
44:09Di lini-lini bisnis tertentu
44:11Tidak ada masalah
44:11Jadi bahkan
44:13Bahkan di undang-undang
44:14Kan sempat
44:14Undang-undang BUMN
44:15Sempat direvisi dua kali ya
44:16Kalau gak salah ya tahun ini ya
44:17Revisi yang pertama itu
44:19Direksi
44:20Itu tidak
44:21Menjadi penyelenggaran negara
44:24Bukan kerugian keuangan negara
44:26Jadi seolah-olah
44:27Itu kan sebenarnya
44:27Test the water aja mas
44:28Dan itu gak efektif
44:30Karena KPK terus
44:30Nangkepin hutan
44:32Terakhir OTT juga
44:33BUMN
44:34BRI masuk BUMN
44:35Jadi gak ngaruh
44:36PGN masuk
44:37Terus berjalan
44:38Jadi begitu dilihat itu
44:40Padahal
44:41Bekitu undang-undang baru
44:42Mengeluarkan
44:43Dikeluarkan
44:44Dan seolah-olah
44:45Direksi dilindungi
44:46Oleh undang-undang baru
44:47Tapi gak ngaruh
44:48KPK
44:48KPK ngeluarin
44:49Ketua KPK ngeluarin
44:51Surat edaran
44:52Undang-undang BUMN
44:53Tidak berlaku
44:54Oke
44:54Dengan undang-undang KPK
44:56Karena KPK menggunakan
44:57Undang-undangnya sendiri
44:58Akhirnya
44:58Akhirnya ngikut juga tuh
45:00Undang-undang BUMN
45:00Berubah lagi
45:01Ngikut lagi
45:02Jadi kan
45:02Inkonsistensi undang-undang
45:04Satu tahun berubah dua kali
45:05Sehingga sederhananya
45:06Kalau ada pemangkasan seperti ini
45:07Harusnya bisnis dari BUMN
45:09Bisa lebih fokus lagi dong
45:10Enggak
45:11Saya bukan ekonom Pak
45:12Makanya saya dari tadi
45:13Gak mau ngomong ekonomi
45:14Saya akan ngomong hukum saja
45:15Masalah integritasnya
45:16Kerja-kerja mereka
45:18Sebagai perusahaan plat merah
45:19Juga akan lebih mudah dong harusnya
45:20KPK itu sulit
45:21Menersangkakan WNA
45:23Bah
45:24Hampir gak ada
45:25Sampai sekarang gak ada
45:26Oke
45:27Sampai sekarang tidak ada
45:28Jadi kalau
45:28Kalau masalah
45:29Dari
45:30Serwet ini adalah korupsi
45:33Maka kemudian ketika nanti banyak
45:35Ya
45:35Mas Fitri
45:36Fitra bukan
45:37Bukan saya ngomong yang dua ini
45:38Bukan ketika nanti banyak misalnya
45:40WNA
45:40Artinya banyak juga nanti
45:41Direksi-direksi yang tidak bisa
45:42Dersangkakan oleh KPK
45:43Oke
45:44Nah
45:45Mas Fitra
45:45Dengan segala tantangan ini
45:46Terutama untuk rencana pemangkasan itu
45:48Gimana caranya?
45:50Gini
45:51Utlubul ilm walau bisin
45:52Lajar
45:53Walau sampai negeri Cina
45:55Oke
45:55Apa yang Cina lakukan?
45:56Tahun 2003 ada SESAC
45:58Sasa
45:59Itu initial
46:01Apa namanya
46:02Fundnya
46:0229 bilion USD
46:032003
46:052023
46:06339 bilion USD
46:08Apa yang mereka lakukan?
46:09Memangkas
46:09Nah
46:10Jadi artinya
46:11Ini dibuat lebih efisien
46:13Lebih produktif
46:14Ya
46:15Dengan
46:15Entah itu dengan WNI
46:17Kita inklusif lah
46:18Ini kita bicara ke daulatan ekonomik
46:19Daulat yang sesungguhnya adalah apa sih?
46:21Daulat rakyat
46:22Itu yang paling penting
46:24Dan
46:24Oleh karenanya ini
46:25A goal yang harus kita capai
46:26Nanti
46:27Mungkin kita tidak punya 20 tahun lagi
46:29Karena kita cuma punya sampai tahun 2038
46:312038 itu
46:32The end of demographic dividend
46:34Dan kalau kita bicara tadi investasi
46:35Investasi itu kita butuh 10 ribu triliun minimal
46:38Ya
46:38Yang terbagi menjadi
46:39Six core infrastructures
46:40Energy
46:42ICT
46:42Water sanitation
46:43Water resources
46:44Housing
46:45Dan kemudian
46:46Transportation
46:47Duitnya dari mana?
46:48Kalau kata
46:49Ya mungkin kita bisa undang Pak Isuf Masur disini
46:51Tapi
46:52Tapi duitnya dari mana?
46:53Di 3 ribu triliun
46:55Ya
46:56Itu
46:57Diusahakan di dalam negeri
46:58Maksimum
47:00Sementara itu
47:007 ribu triliun
47:01Dari luar negeri
47:02Makanya tadi juga disampaikan
47:03Maka Danantara dalam hal ini
47:05Berfungsi
47:06Sebagai positive signaling effect
47:08Untuk kemudian menjadikan Indonesia
47:09Indonesia incorporated
47:11Yang lain masuk
47:12Via Danantara
47:13Membangun prioritas-prioritas pembangunan
47:15Di dalam negeri
47:15Yang juga
47:16Punya implikasi return
47:17Nah itu yang kemudian diharapkan
47:19Dan roadmap kita ke depan gitu
47:20Sehingga
47:21Kalau menurut Anda Mas Samsul
47:22Ini benang merahnya
47:23Dalam waktu singkat
47:24Bisa kecapai gak nih?
47:26Untuk kerja efektif terdefisien itu
47:27Cara-cara yang
47:28Tadi
47:29Kalau memang perlu dipangkas
47:30Saya lebih setuju adalah
47:32Tadi
47:33Pangkas di atas
47:34Ganti yang asing
47:35Mungkin salah satu contoh
47:37Kayak yang dilakukan
47:38Kita tunggu hingga ruda
47:39Berhasil apa enggak?
47:40Tapi jangan hanya
47:41Untuk memulai laporan keuangan aja
47:43Kalau itu mah
47:44Banyak
47:44Udah jadi syakatan juga
47:45Masalah Poles Poles sama Pak Rosat
47:46Jangan hanya seperti itu
47:47Yang kedua adalah
47:49Efisiensi itu
47:50Ada ekosistem
47:51Ekosistem
47:52Jangan banyak partai politik
47:53Atau politisi-politisi
47:55Yang numpang
47:56Kepentingannya
47:56Kepentingan BUMN adalah
47:58Kepentingan negara
47:59Kepentingan untuk tadi
48:00Agent of
48:01Development
48:01Development
48:02Itu yang lebih diutamakan
48:04Jangan sampai
48:05Kepentingan politisi
48:06Di pusat
48:07Maupun di daerah
48:08Apalagi
48:09Apalagi untuk
48:09Yang macam-macam
48:11Yang kita tamu
48:12Semoga membaik
48:13BUMN kita
48:13Dengan kerja dan efektif
48:14Dan efisien itu tadi
48:15Para narasumber
48:16Terima kasih
48:16Sudah bergabung
48:17Dalam diskusi kali ini
48:18Terima kasih telah menonton
Jadilah yang pertama berkomentar