#film
#filmindo
#filmhoror
#filmaction
#filmhantu
#filmdrama
#hantu
#horor
#setan
#setankuntilanak
#filmpendek
#movie
#movies
#fullmovie
#fullmovies
#filmsetan
#filmindo
#filmhoror
#filmaction
#filmhantu
#filmdrama
#hantu
#horor
#setan
#setankuntilanak
#filmpendek
#movie
#movies
#fullmovie
#fullmovies
#filmsetan
Kategori
🎥
Film pendekTranskrip
00:00:00Terima kasih telah menonton
00:00:30Terima kasih telah menonton
00:01:00Terima kasih telah menonton
00:01:30Hari ini, bersiaplah untuk memasuki sebuah perjalanan mencekam yang penuh teka-teki dan teror
00:01:35Dalam film horor terbaru berjudul Sukma
00:01:37Tapi tunggu dulu
00:01:39Pernahkah kamu membayangkan pindah ke rumah baru?
00:01:43Berharap hidup yang lebih tenang?
00:01:44Namun justru menemukan bahwa rumah itu menyimpan sebuah rahasia gelap yang berakar dari masa lalu?
00:01:49Bagaimana jika sebuah cermin tua bukan sekadar benda mati
00:01:52Tapi sebuah gerbang bagi sosok jahat yang ingin hidup kembali
00:01:55Melalui tubuhmu?
00:01:56Kisah kali ini bukan sekadar horor
00:01:59Ia menelusupelan ke dalam relung terdalam psikologi keluarga
00:02:03Membaurkan rasa takut dengan luka masa lalu yang belum sembuh
00:02:06Dan itulah yang akan kita bahas hari ini
00:02:09Hari ini tampak menahan nafas saat mobil mereka mulai memasuki wilayah kota kecil bernama Wanaraja
00:02:15Suasana mendung menyelimuti perjalanan panjang yang telah mereka tempuh dari ibu kota
00:02:20Ranting-ranting pohon tua di pinggir jalan tampak seperti tangan-tangan kering yang hendak menangkap siapapun yang lewat
00:02:26Hening
00:02:27Sunyi
00:02:29Dan sedikit menakutkan
00:02:31Ini dia rumahnya
00:02:33Ujar Galang, suaminya
00:02:35Sambil menunjuk ke arah bangunan rumah tua dua lantai bergaya kolonial yang berdiri di ujung jalan buntu
00:02:40Di kursi belakang, dua anak mereka, Sekar dan Dewa, masih terlelap karena perjalanan panjang
00:02:47Arini memandangi rumah itu dengan campuran rasa lega dan khawatir
00:02:51Ia ingin percaya bahwa kepindahan ini akan menjadi awal baru bagi mereka
00:02:55Tapi entah kenapa, rumah itu seperti memancarkan aura dingin yang tak biasa
00:03:00Rumah itu adalah warisan dari seorang paman jauh galang yang baru saja meninggal dunia
00:03:05Tidak banyak yang tahu soal latar belakang keluarga paman itu
00:03:09Tapi galang menganggap rumah itu sebagai berkah
00:03:12Kita bisa menghemat biaya sewa, mulai dari nol di kota yang lebih tenang
00:03:17Ujarnya saat pertama kali mengusulkan pindah
00:03:19Dan Arini setuju
00:03:21Setelah semua yang mereka alami di Jakarta
00:03:24Pekerjaan galang yang mendadak berhenti
00:03:26Kecelakaan kecil yang dialami Sekar
00:03:28Dan tekanan hidup yang nyaris memisahkan mereka
00:03:31Mereka butuh sesuatu yang baru
00:03:32Namun mereka tidak tahu bahwa baru bukan berarti lebih baik
00:03:37Setibanya mereka di rumah itu
00:03:39Seorang perempuan tua sudah berdiri di depan pintu
00:03:42Mengenakan kebaya coklat pudar dan selendang batik di bahunya
00:03:45Rambutnya digelung rapi
00:03:48Tatapannya teduh
00:03:49Tapi ada sesuatu dalam caranya diam yang membuat Arini merasa tak nyaman
00:03:53Namanya Busri
00:03:55Katanya, ia sudah menjaga rumah ini lebih dari 20 tahun
00:03:59Bahkan setelah majikannya meninggal
00:04:02Busri tetap tinggal di sana
00:04:03Seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya tak bisa pergi
00:04:06Semua sudah saya bersihkan, bu
00:04:09Makanan juga sudah saya siapkan
00:04:12Kalau ada yang ibu perlukan
00:04:14Tinggal panggil saya dari ruang belakang
00:04:16Ujar Busri dengan suara lembut namun tanpa senyum
00:04:19Galang tanpa senang ada orang yang bisa membantu
00:04:22Arini juga mencoba ramah
00:04:24Walau perasaannya belum tenang
00:04:26Ada sesuatu dalam cara Busri menatapnya terlalu dalam
00:04:30Seakan sedang menilai sesuatu
00:04:32Dua hari pertama berjalan cukup normal
00:04:35Arini mulai menyusun ulang ruang tamu
00:04:38Dapur
00:04:38Dan kamar anak-anak
00:04:40Galang sibuk mencari kerja di kota
00:04:43Sementara Sekar dan Dewa mulai menjelajah halaman belakang
00:04:46Yang dipenuhi tanaman liar dan bangkai pohon tua
00:04:49Namun
00:04:50Saat membantu Busri membersihkan gudang belakang rumah
00:04:53Arini menemukan sesuatu yang tak seharusnya ada
00:04:55Pintu kecil dibalik lemari tua
00:04:58Terkunci
00:05:00Dengan gembok yang sudah berkarat
00:05:02Arini menunjukkannya pada Busri
00:05:04Ah, itu hanya gudang lama
00:05:07Tidak ada apa-apa di dalamnya
00:05:09Sudah bertahun-tahun tidak dibuka
00:05:12Jawab Busri
00:05:13Cepat dan sedikit gugup
00:05:15Tapi rasa penasaran Arini mengalahkan logika
00:05:18Malam itu
00:05:20Setelah semua tertidur
00:05:21Ia kembali ke gudang dengan senter dan sebatang besi
00:05:24Ia congkel gembok itu
00:05:26Dan pintu kecil pun terbuka
00:05:28Debu dan aroma kayu tua langsung menyambutnya
00:05:31Ruangan itu sempit
00:05:33Lebih mirip lorong kecil yang menurun ke bawah tanah
00:05:36Di ujung lorong
00:05:37Ia menemukan ruangan batu dengan hanya satu benda di dalamnya
00:05:40Sebuah cermin tinggi dengan bingkai ukiran Jawa kuno
00:05:43Cerminnya tidak biasa
00:05:45Permukaannya buram dan gelap seperti kolam air yang tenang
00:05:49Namun, saat Arini menatap ke dalamnya
00:05:52Ia melihat sesuatu yang tidak sesuai
00:05:54Bukan pantulannya
00:05:56Tapi sosok perempuan tua
00:05:59Berdiri
00:06:00Diam
00:06:02Menatap balik
00:06:04Arini terjatuh dan nyaris menjerit
00:06:07Tapi saat ia mengedipkan mata
00:06:09Bayangan itu menghilang
00:06:11Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanya bayangan
00:06:14Ilusi efek kelelahan
00:06:16Namun malam itu
00:06:18Arini mimpi buruk
00:06:19Ia berada di ruang cermin itu
00:06:21Dengan perempuan tua berdiri di belakangnya
00:06:24Berbisik dengan suara serak
00:06:25Aku ingin hidup lagi
00:06:27Pagi harinya
00:06:29Arini tampak lelah
00:06:31Matanya sembab
00:06:33Ia tidak cerita apa-apa pada galang
00:06:35Hanya bilang tidur kurang nyenyak
00:06:37Namun sejak malam itu
00:06:39Rumah mulai berubah
00:06:41Sekar mengaku melihat bayangan nenek-nenek di dapur
00:06:44Dewa mulai sering menangis saat berada di kamarnya sendiri
00:06:48Suara ketukan dari dalam dinding terdengar di malam hari
00:06:51Lampu berkedip tanpa sebab
00:06:54Arini mencoba mengabaikan semuanya
00:06:57Tapi makin ia mengabaikan
00:06:59Makin sering mimpi itu datang
00:07:01Dan suara perempuan tua itu makin jelas
00:07:04Tukar tubuhmu dengan tubuhku
00:07:06Aku ingin menjadi muda kembali
00:07:09Akhirnya
00:07:11Arini tak tahan lagi
00:07:12Ia bertanya langsung pada Busri soal cermin itu
00:07:15Wajah Busri langsung berubah
00:07:18Ia menutup pintu ruang belakang dan duduk perlahan
00:07:21Sebelum akhirnya bicara dengan suara rendah
00:07:23Bu Arini
00:07:25Ibu tidak seharusnya membuka ruang itu
00:07:28Tapi kenapa?
00:07:31Apa yang ada di dalam sana?
00:07:33Dulu istri dari pemilik rumah ini pernah bermain-main dengan ilmu tua
00:07:37Ia membuat perjanjian dengan cermin itu
00:07:39Cermin dari masa Mataram kuno
00:07:41Katanya
00:07:42Untuk tetap muda, untuk tetap cantik
00:07:45Tapi dia meninggal
00:07:47Kan?
00:07:49Tubuhnya mati
00:07:50Tapi tidak dengan jiwanya
00:07:52Busri menatap mata Arini dalam-dalam
00:07:56Penuh ketakutan yang disimpan terlalu lama
00:07:59Sukmanya masih terikat dalam cermin itu
00:08:02Dan sekarang dia memilih ibu
00:08:04Malam itu
00:08:06Arini bermimpi buruk lagi
00:08:08Tapi kali ini berbeda
00:08:11Ia tidak hanya melihat bayangan
00:08:12Tapi merasakan dirinya ditarik ke dalam cermin
00:08:15Nafasnya tercekat
00:08:17Dan saat ia bangun
00:08:19Ia sudah berdiri di depan cermin itu
00:08:21Dengan tangan yang berdarah karena memecahkan kaca kecil yang ada di kamarnya
00:08:24Dan di dalam cermin
00:08:26Sosok perempuan tua itu tersenyum puas
00:08:28Arini terduduk di lantai
00:08:30Napasnya terengah dan tangan kanannya berlumur darah
00:08:33Kaca kecil di kamar telah pecah berkeping
00:08:36Serpihannya berserakan
00:08:38Dan di antaranya
00:08:39Tampak pantulan samar dari cermin tua yang ia lihat dalam mimpi
00:08:42Tapi ini bukan mimpi
00:08:45Ini nyata
00:08:46Galang yang baru saja pulang dari luar segera menghampiri
00:08:50Panik melihat luka istrinya
00:08:51Arini
00:08:53Kamu kenapa?
00:08:56Astaga
00:08:56Ini kenapa tangannya berdarah begini?
00:08:59Arini menggeleng cepat
00:09:00Tidak tahu harus menjawab apa
00:09:02Lidahnya keluh
00:09:04Ia bahkan tidak ingat bagaimana bisa berada di sana
00:09:07Bagaimana tangannya bisa berdarah
00:09:09Yang ia ingat hanya
00:09:11Sosok wanita tua yang menatapnya di cermin
00:09:14Saya ambil kotak P3K
00:09:16Ujar busri yang entah dari mana munculnya
00:09:18Gerakannya tenang
00:09:20Terlalu tenang
00:09:21Ia menatap luka Arini
00:09:23Seperti melihat sesuatu yang sudah ia duga akan terjadi
00:09:26Seperti mengamati babak baru dari pertunjukan lama yang tak pernah usai
00:09:30Arini tidak bicara
00:09:32Tapi sejak malam itu
00:09:34Ia tahu bahwa yang sedang dihadapinya bukan hanya rasa takut biasa
00:09:38Ada sesuatu yang menginginkannya
00:09:40Dan apapun itu, kekuatannya bukan berasal dari dunia ini
00:09:45Hari-hari berikutnya, teror tak berhenti
00:09:48Setiap malam, Arini terbangun pada jam yang sama
00:09:52Pukul 3.7
00:09:53Setiap kali membuka mata
00:09:56Ia melihat bayangan samar di sudut kamar
00:09:58Kadang duduk di kursi goyang
00:10:01Kadang berdiri di pojok
00:10:03Memandangi Sekar yang tidur
00:10:05Sekar pun mulai berubah
00:10:07Anak perempuan itu jadi lebih pendiam
00:10:09Bahkan cenderung murung
00:10:11Ia kerap menggambar sosok perempuan tua dengan rambut panjang dan mata kosong
00:10:15Ketika Arini bertanya siapa itu
00:10:18Sekar hanya menjawab pelan
00:10:19Teman dari cermin
00:10:21Namanya Mbok Ranti
00:10:23Arini membeku
00:10:25Nama itu terasa asing
00:10:27Tapi entah kenapa begitu menancap kuat di telinganya
00:10:29Ia langsung teringat sesuatu
00:10:32Sebuah buku tua berdebu yang ia lihat di perpustakaan rumah ini
00:10:35Sehari setelah mereka pindah
00:10:37Ia belum sempat membacanya
00:10:38Malam itu
00:10:40Arini kembali kera buku
00:10:42Mengambil buku tersebut dan membawanya ke kamar
00:10:45Buku itu ternyata jurnal tua milik istri dari pemilik rumah sebelumnya
00:10:49Di sana tertulis kalimat-kalimat yang tidak masuk akal
00:10:53Doa-doa dalam aksara jawa kuno
00:10:56Simbol-simbol aneh
00:10:57Dan catatan harian yang ditulis dengan emosi yang meledak-ledak
00:11:01Aku tak mau tua
00:11:03Aku tak mau layu
00:11:05Mereka menyebutku gila
00:11:07Tapi Mbok Ranti datang lewat mimpi dan menjanjikan keabadian
00:11:11Sukma untuk sukma
00:11:13Darah untuk hidup baru
00:11:15Halaman demi halaman
00:11:17Arini merasa darahnya berdesir dingin
00:11:20Jurnal itu seperti kesaksian dari seseorang yang tenggelam dalam praktik gelap
00:11:24Memperdagangkan jiwanya demi muda dan abadi
00:11:26Satu halaman terselip di antara dua lembar terakhir
00:11:30Beda warna
00:11:32Lebih tua
00:11:33Lebih pudar
00:11:34Di situ tertulis
00:11:36Jika kau membaca ini
00:11:38Maka dia telah memilihmu
00:11:40Jangan bercermin di malam ganjil
00:11:42Jangan membuka pintu yang tak berbunyi
00:11:45Jangan pernah menoleh saat dia memanggil dengan suaramu sendiri
00:11:49Malam itu
00:11:51Arini merasa udara di kamarnya menjadi semakin dingin
00:11:54Lampu berkedip lalu padam
00:11:56Dalam gelap
00:11:58Ia mendengar sesuatu berbisik dari arah cermin kamar
00:12:01Arini
00:12:02Arini
00:12:04Tapi itu bukan suara biasa
00:12:06Itu
00:12:08Suara dirinya sendiri
00:12:10Pagi harinya
00:12:12Arini memutuskan untuk membawa Sekar dan Dewa pergi
00:12:15Ia merasa rumah ini bukan lagi tempat yang aman untuk anak-anak
00:12:19Namun ketika ia mencoba mengajak galang bicara
00:12:22Suaminya justru meragukan kewarasannya
00:12:24Ini cuma perasaanmu
00:12:27Kamu stres
00:12:28Arin
00:12:29Mungkin trauma pindahan
00:12:31Mungkin kamu terlalu banyak menonton film horror
00:12:34Ucap galang
00:12:35Berusaha menyentuh bahu istrinya dengan lembut
00:12:37Arini menepis tangan itu
00:12:39Aku melihatnya
00:12:41Galang
00:12:42Dia bukan hanya ada di mimpi
00:12:44Sekar pun sudah melihatnya
00:12:47Kamu pikir aku bohong?
00:12:50Aku pikir kamu lelah
00:12:51Jawab galang pelan
00:12:52Kalau kamu mau
00:12:54Kita bisa ke psikolog
00:12:55Perdebatan berakhir tanpa solusi
00:12:58Arini merasa sendirian
00:13:00Ia tahu apa yang ia alami bukan halusinasi
00:13:04Dan satu-satunya orang yang tampaknya tahu apa yang sedang terjadi hanyalah Busri
00:13:08Malam harinya
00:13:10Arini menyelinap ke ruang belakang dan mendapati Busri sedang menumbuk sesuatu di lesung batu
00:13:14Aroma dupa memenuhi ruangan
00:13:17Di depannya
00:13:19Ada kain mori putih dan boneka kecil dari Jerami
00:13:22Aku tahu ibu akan datang
00:13:24Ucap Busri tanpa menoleh
00:13:26Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya
00:13:29Busri menghentikan tangannya
00:13:31Namanya benar
00:13:33Embok Ranti
00:13:34Dulu ia penarik raton yang sangat cantik
00:13:37Ia dicintai banyak pria
00:13:39Termasuk bangsawan dan pejabat kolonial
00:13:42Tapi ketika wajahnya mulai tua
00:13:44Ia dibuang
00:13:45Ia lalu menuntut kecantikan abadi dari dukun langganan para istri pejabat
00:13:50Arini menelan ludah
00:13:52Dan ia masuk ke dalam cermin itu
00:13:54Cermin itu adalah pengikat antara dunia kita dan dunia arwah
00:13:58Jika seseorang memanggilnya
00:14:01Dan membuat perjanjian
00:14:02Maka ia akan tinggal di sana
00:14:03Menunggu tubuh baru
00:14:05Menunggu perempuan dengan luka batin dan jiwa lemah
00:14:09Kenapa aku?
00:14:12Karena ibu pernah ingin menghilang
00:14:13Ucapan Busri membuat dada Arini sesat
00:14:16Ia memang pernah nyaris bunuh diri
00:14:19Beberapa tahun lalu
00:14:20Ketika kehilangan bayinya yang pertama
00:14:22Luka itu belum benar-benar sembuh
00:14:25Luka yang membuatnya kadang membenci dirinya sendiri
00:14:29Dia tahu
00:14:30Dia mencium luka itu
00:14:33Malam pun berganti
00:14:35Dan seperti malam-malam sebelumnya
00:14:38Arini terbangun pada pukul tiga tujuh
00:14:40Namun kali ini
00:14:42Ia tidak melihat bayangan itu di sudut kamar
00:14:44Ia melihat dirinya sendiri
00:14:46Duduk di depan cermin
00:14:48Dirinya sendiri
00:14:50Dengan gaun tidur yang sama
00:14:51Ekspresi yang sama tapi mata yang berbeda
00:14:54Mata itu kosong
00:14:56Mati
00:14:57Dan sosok itu perlahan menoleh ke arah tempat tidur
00:15:00Arini berteriak
00:15:02Membangunkan galang
00:15:04Tapi saat galang menyalakan lampu
00:15:06Dan melihat ke arah cermin
00:15:07Tak ada apa-apa
00:15:09Tak ada pantulan aneh
00:15:11Tak ada sosok ganda
00:15:13Hanya dirinya
00:15:15Gemetar
00:15:16Menangis
00:15:17Ketika pagi datang
00:15:18Arini nekat membawa anak-anak pergi
00:15:20Tanpa izin galang
00:15:21Ia naik bus pagi menuju kota sebelah
00:15:24Namun
00:15:26Di tengah perjalanan
00:15:27Sekar mendadak kejang
00:15:29Mulutnya berbusa
00:15:30Matanya terbalik
00:15:32Dan dari mulut kecilnya
00:15:33Keluar suara serak yang bukan suaranya
00:15:35Kembali
00:15:36Dia belum selesai dengan kalian
00:15:39Penumpang bus panik
00:15:41Supir menghentikan kendaraan
00:15:44Arini berteriak memanggil nama anaknya
00:15:47Memeluk tubuh kecil itu yang kini tak sadarkan diri
00:15:50Saat ambulans datang
00:15:52Sekar sudah kembali normal
00:15:53Namun dokter rumah sakit menyarankan
00:15:56Untuk dibawa pulang saja
00:15:57Karena hasil pemeriksaan medisnya nihil
00:15:59Tidak ada gangguan
00:16:01Tak punya pilihan
00:16:03Arini kembali ke rumah
00:16:04Kali ini
00:16:06Ia tidak hanya takut
00:16:07Tapi mulai putus asa
00:16:08Cermin itu tidak hanya menakutinya
00:16:11Ia mengikat keluarganya
00:16:12Ia tahu
00:16:14Ia harus menghancurkannya
00:16:16Malam pun tiba
00:16:17Arini menunggu semua tertidur
00:16:20Lalu mengambil palu besar dari gudang
00:16:22Ia masuk ke ruang bawah tanah
00:16:24Berdiri di depan cermin itu
00:16:26Tangannya gemetar
00:16:28Aku tidak takut padamu lagi
00:16:30Bisiknya
00:16:31Namun sebelum palu itu menghantam
00:16:34Cermin bergetar sendiri
00:16:35Permukaannya seperti air mendidih
00:16:38Dan tiba-tiba
00:16:40Tangan keriput keluar dari dalam cermin
00:16:42Menarik Arini dengan kekuatan luar biasa
00:16:44Ia menjerit
00:16:46Meronta
00:16:47Tapi satu tangannya sudah setengah masuk
00:16:50Dan suara itu kembali berbisik
00:16:53Aku sudah menunggumu selama 30 tahun
00:16:56Arini menarik kembali tangannya dengan sisa tenaga
00:16:59Membanting palu ke arah cermin
00:17:01Retakan muncul
00:17:03Namun tidak pecah
00:17:05Ia menghantam lagi
00:17:07Dan lagi
00:17:07Sampai akhirnya permukaan cermin hancur berkeping
00:17:10Tangan itu menghilang
00:17:12Tidak ada darah
00:17:14Tidak ada sosok
00:17:16Hanya kepingan kaca dan tubuh Arini
00:17:19Yang terbaring lemas di lantai batu
00:17:20Ia pingsan di sana sampai pagi
00:17:23Saat matahari masuk lewat celah ventilasi
00:17:26Busri menemukannya
00:17:27Wanita tua itu tidak panik
00:17:30Ia hanya menatap cermin yang kini pecah
00:17:32Dan bergumam pelan
00:17:34Belum selesai
00:17:36Belum pernah benar-benar selesai
00:17:38Hari itu
00:17:40Arini merasa tubuhnya berat
00:17:41Dan kepalanya berdenyut
00:17:43Seperti habis dihantam sesuatu yang keras
00:17:44Ketika membuka mata
00:17:46Cahaya pagi sudah menyinari
00:17:48Selah-selah ventilasi batu
00:17:49Di ruang bawah tanah
00:17:50Ia masih berbaring di sana
00:17:52Di antara serpihan cermin
00:17:54Dan udara pengap yang seperti
00:17:55Menyimpan ribuan bisikan
00:17:56Tubuhnya kotor
00:17:58Tapi tidak terluka
00:18:00Dan anehnya
00:18:01Ia merasa berbeda
00:18:03Seolah ada bagian dari dirinya
00:18:06Yang tertinggal dalam pecahan kaca itu
00:18:07Ketika akhirnya naik ke atas
00:18:10Ia mendapati Busri sedang duduk di dapur
00:18:12Sambil meminum wedan jahe
00:18:13Perempuan tua itu hanya menatapnya
00:18:16Tanpa mengatakan sepatah katapun
00:18:18Arini ingin marah
00:18:20Ingin berteriak bahwa semua ini salahnya
00:18:22Karena tak pernah memperingatkan sejak awal
00:18:24Tapi ia tahu
00:18:26Busri bukan penyebabnya
00:18:27Ia hanya penjaga
00:18:29Penjaga dari sesuatu yang jauh lebih tua
00:18:32Lebih kuno
00:18:33Dan lebih jahat dari yang bisa dijelaskan dengan kata-kata
00:18:36Galang menyambutnya dengan wajah panik dan mata sembab
00:18:40Ia mengira Arini menghilang
00:18:42Bahkan sempat melapor ke polisi
00:18:45Tapi saat tahu Arini ditemukan oleh Busri di gudang
00:18:48Ia hanya bisa memeluk istrinya erat
00:18:50Aku kira kamu
00:18:52Galang tak sanggup melanjutkan kalimat itu
00:18:54Arini memejamkan mata
00:18:56Memeluk suaminya erat-erat
00:18:58Dan berbisik
00:18:59Kita harus pergi dari sini
00:19:01Malam ini juga
00:19:03Tapi tentu saja tidak semudah itu
00:19:05Malam itu
00:19:07Dewa demam tinggi
00:19:09Badannya panas seperti bara api
00:19:11Dan ia terus mengigau menyebut satu nama
00:19:13Ranti
00:19:14Tangannya mencakar-cakar udara
00:19:17Seolah ada yang hendak menariknya
00:19:19Dan setiap kali Arini menyentuhnya
00:19:21Anak laki-lakinya itu memalingkan wajah
00:19:24Dengan ekspresi yang bukan miliknya
00:19:25Tatapan kosong
00:19:27Penuh amarah
00:19:28Dan bibir yang berkali-kali menggumam
00:19:30Sukmaku sudah di sini
00:19:32Tubuhku belum
00:19:34Galang akhirnya percaya
00:19:37Setelah malam itu
00:19:38Ia tak bisa lagi menyangkal bahwa sesuatu yang tidak masuk akal sedang terjadi
00:19:42Ia menatap Arini dengan wajah takut dan bingung
00:19:46Apa yang harus kita lakukan, Rin?
00:19:49Aku, aku nggak ngerti semua ini
00:19:51Apa yang dia mau dari kita?
00:19:55Arini memandang keluar jendela
00:19:56Angin berhembus pelan
00:19:59Bulan sabit menggantung rendah
00:20:01Seolah ikut mengintai
00:20:03Dia mau tubuhku
00:20:05Dia mau hidup lagi
00:20:07Lewat aku
00:20:08Galang memeluk anak-anak
00:20:11Ia ingin melindungi keluarganya
00:20:13Tapi tak tahu bagaimana
00:20:15Semua logika dunia nyata tidak lagi berlaku
00:20:18Polisi tak akan bisa menembak roh
00:20:21Dokter tak bisa menyembuhkan gangguan dari dunia arwah
00:20:24Saat itulah Busri kembali datang
00:20:27Membawa sebuah kotak kayu kecil berwarna hitam dengan simbol-simbol yang diukir secara manual
00:20:32Di dalamnya terdapat kain mori
00:20:34Segumpal rambut kering
00:20:36Dan satu batu bulat berwarna merah darah
00:20:38Kalau kalian mau pergi
00:20:40Kalian harus pamit
00:20:41Ucapnya pelan
00:20:42Pamit?
00:20:45Maksudnya pamit ke siapa?
00:20:47Ke dia
00:20:48Kalau tidak
00:20:49Dia akan mengikuti kalian kemanapun kalian pergi
00:20:52Bahkan ke dalam mimpi
00:20:55Galang ingin menolak
00:20:57Ia merasa semua ini terlalu gila
00:20:59Tapi dewa kembali menjerit di kamar
00:21:02Sekar mulai menggambar lingkaran darah dengan jari di lantai
00:21:06Dan suara tangisan bayi terdengar dari ruang kosong di lantai atas
00:21:10Arini menatap suaminya dan hanya berkata
00:21:13Kita tidak punya pilihan
00:21:14Ritual dilakukan tengah malam
00:21:17Di halaman belakang rumah
00:21:19Dengan lilin mengelilingi Arini yang duduk bersila dalam lingkaran kain mori
00:21:23Busri memimpin doa
00:21:25Membaca mantra dalam bahasa Jawa halus yang nyaris tak dimengerti siapapun kecuali dirinya sendiri
00:21:30Namun baru setengah jalan
00:21:32Langit berubah
00:21:34Awan menggulung
00:21:36Angin bertiup kencang
00:21:37Dan suara seperti seseorang berteriak dari dalam tanah terdengar menembus dada mereka
00:21:41Sekar tiba-tiba berlari ke lingkaran dan mencoba menyeret ibunya keluar
00:21:45Ibu
00:21:47Jangan pamit
00:21:49Dia sudah disini
00:21:51Dia mau masuk
00:21:52Suara Sekar bukan suaranya
00:21:55Itu suara wanita tua
00:21:57Suara embok ranti
00:21:59Mantra Busri berhenti
00:22:02Api lilin padam serempak
00:22:04Arini jatuh pingsan
00:22:06Ketika bangun, ia berada di kamarnya
00:22:09Namun ini bukan kamarnya
00:22:12Semua tampak lebih tua, lebih suram, dan udara terasa pengap seperti ruang bawah tanah
00:22:18Dindingnya berlumut
00:22:20Dan dari cermin besar di seberang tempat tidur
00:22:22Terlihat dirinya memakai kebaya merah dan rambut digelung rapi
00:22:25Tapi itu bukan dirinya
00:22:27Cermin itu tidak memantulkan siapa dia saat ini
00:22:31Tapi siapa yang akan ia jadi
00:22:32Saat embok ranti berhasil mengambil tubuhnya sepenuhnya
00:22:35Ia berjalan mendekat
00:22:38Perlahan
00:22:39Hati-hati
00:22:41Dan dari balik pantulan itu
00:22:43Embok ranti muncul
00:22:45Kali ini bukan sebagai bayangan samar
00:22:47Tapi nyata
00:22:48Kulitnya mulai segar
00:22:51Matanya tidak lagi kosong
00:22:53Ia telah mengambil sebagian dari Arini
00:22:56Aku hanya butuh satu malam lagi
00:22:59Bisik ranti
00:23:00Menyeringai lebar
00:23:01Dan Arini terbangun
00:23:03Keringat dingin membasahi tubuhnya
00:23:06Tapi ia tahu
00:23:08Itu bukan mimpi
00:23:09Itu peringatan
00:23:11Ia berlari ke kamar anak-anak
00:23:13Memastikan mereka masih di sana
00:23:15Gala menyusul
00:23:17Lalu berkata dengan suara terbata
00:23:19Rin, kita harus keluar malam ini juga
00:23:21Aku gak peduli pamit atau tidak
00:23:23Aku akan bakar rumah ini kalau perlu
00:23:26Namun saat mereka hendak keluar
00:23:29Pintu rumah terkunci
00:23:30Gembok yang sudah rusak
00:23:32Entah kenapa kini kembali utuh
00:23:34Jendela terkunci rapat dari dalam
00:23:36Dan setiap kali mereka mencoba membuka pintu
00:23:39Terdengar suara ketukan dari arah ruang bawah tanah
00:23:42Tiga kali
00:23:44Lalu hening
00:23:46Ketika Busri mendekat dan meletakkan telinganya di lantai
00:23:49Ia menahan nafas
00:23:50Dia sudah bangkit
00:23:52Dan dia ingin lahir kembali
00:23:55Arini tahu
00:23:57Mereka sudah terlalu dalam
00:23:58Tidak cukup hanya pamit
00:24:00Tidak cukup hanya kabur
00:24:03Satu-satunya jalan untuk keluar hidup-hidup adalah
00:24:06Menghadapi embok ranti
00:24:07Di tempat asalnya
00:24:09Cermin tua itu
00:24:10Galang ingin ikut
00:24:12Tapi Busri menolak
00:24:13Kalau kamu masuk ruang itu
00:24:15Kamu akan mati
00:24:17Hanya Arini yang dia mau
00:24:19Hanya Arini yang bisa mengakhirinya
00:24:21Arini menatap suaminya
00:24:24Jagain anak-anak
00:24:26Apapun yang terjadi
00:24:28Jangan buka pintunya sampai aku kembali
00:24:30Maka untuk kedua kalinya
00:24:32Arini melangkah ke ruang bawah tanah
00:24:35Tapi kali ini
00:24:36Cermin itu sudah tidak utuh
00:24:38Pecah?
00:24:40Ya
00:24:40Tapi dari serpihannya
00:24:42Muncul satu persatu bayangan dirinya
00:24:44Sekar
00:24:45Dewa
00:24:46Bahkan galang
00:24:47Semua dalam kondisi mati
00:24:49Ranti menyambutnya dari balik pantulan-pantulan kaca itu
00:24:53Kali ini wujudnya muda
00:24:56Cantik
00:24:56Dan bersinar
00:24:57Tapi dibalik kecantikan itu
00:25:00Ada kegelapan yang tak bisa ditutupi
00:25:02Wajahnya bukan wajah manusia
00:25:05Matanya terlalu gelap
00:25:07Senyumnya terlalu lebar
00:25:09Terima kasih telah membuka pintu
00:25:12Arini
00:25:12Kini
00:25:14Tinggal satu langkah lagi
00:25:15Dan aku akan sempurna
00:25:17Arini menatap sekeliling
00:25:19Lantai batu bergetar
00:25:22Kaca-kaca memantulkan bayangan yang berbeda dari kenyataan
00:25:25Ia mencari serpihan terbesar
00:25:28Lalu menatapnya dengan tekat
00:25:30Aku tidak akan jadi wadahmu
00:25:32Aku bukan tubuhmu
00:25:34Dan kamu bukan aku
00:25:36Ia menggenggam pecahan kaca itu dan menancapkannya ke tangannya sendiri
00:25:40Tepat di dada kiri
00:25:42Darah mengalir deras
00:25:44Tapi Arini tidak menjerit
00:25:46Ia melafalkan sesuatu dari jurnal tua yang ia hapalkan
00:25:50Kalimat demi kalimat dalam aksara Jawa yang ia ucapkan dengan pelan
00:25:54Penuh air mata
00:25:55Dan rasa percaya
00:25:57Suara embok ranti meraung
00:25:59Cermin-cermin mulai retak kembali
00:26:02Angin kencang berputar dalam ruang itu
00:26:04Memecahkan semua benda
00:26:06Ruang itu seperti menyusut
00:26:08Seperti runtuh
00:26:10Dan terakhir yang terdengar hanyalah
00:26:13Kalau aku tidak bisa hidup
00:26:15Kamu pun tidak akan selamat
00:26:17Lalu hening
00:26:19Arini membuka mata
00:26:21Ia berada di ranjang rumah sakit
00:26:23Galang duduk di sebelahnya
00:26:26Dengan wajah penuh luka dan mata bengkak karena menangis
00:26:29Di sudut ruangan
00:26:31Sekar dan Dewa tertidur dalam pelukan nenek mereka
00:26:33Ibu Galang
00:26:34Yang baru datang setelah mereka selamat
00:26:36Kita selamat
00:26:38Di Sik Arini
00:26:39Galang mengangguk
00:26:41Busri yang angkat kamu keluar dari ruang itu
00:26:44Setelah kamu pingsan
00:26:46Rumah itu ambruk
00:26:48Cerminnya
00:26:49Hilang
00:26:51Bahkan reruntuhannya tidak ketemu
00:26:54Arini memejamkan mata
00:26:56Dalam pikirannya
00:26:58Ia masih bisa mendengar suara tawar ranti
00:27:00Seperti gema yang tak akan pernah padam
00:27:02Tapi untuk sekarang keluarganya aman
00:27:05Hari-hari berlalu sejak kejadian itu
00:27:08Arini
00:27:09Galang
00:27:10Sekar
00:27:11Dan Dewa akhirnya meninggalkan
00:27:13Kota Wanaraja dan menumpang sementara
00:27:15Di rumah Ibunda Galang di Yogyakarta
00:27:16Rumah tua bergaya Jawa Moder itu
00:27:19Berada di pinggiran kota
00:27:20Dikelilingi sawah dan pohon beringin besar
00:27:22Yang berdiri gagah di ujung gang
00:27:24Lingkungan yang jauh lebih hidup
00:27:26Tapi tetap menyimpan keheningan tertentu
00:27:29Bukan karena hal mistis
00:27:31Tapi karena luka batin yang belum pulih benar
00:27:33Arini lebih banyak diam
00:27:35Setiap malam ia menulis
00:27:38Bukan menulis jurnal
00:27:41Melainkan menggambar
00:27:42Tangannya seolah bergerak sendiri
00:27:45Garis demi garis membentuk pola
00:27:48Setiap halaman selalu berujung
00:27:50Pada satu gambar yang sama
00:27:51Cermin
00:27:52Dan sosok perempuan tanpa wajah berdiri
00:27:54Di depan cermin itu
00:27:55Sekar juga tak kembali
00:27:57Seperti sedia kalah
00:27:58Meski tubuhnya sehat
00:28:00Ia menjadi anak yang lebih pendiam
00:28:02Ia tak lagi menggambar perempuan tua
00:28:04Tapi ia suka duduk di dekat jendela
00:28:06Setiap pukul 3 dini hari
00:28:08Seolah menunggu sesuatu
00:28:09Galang mencoba sekuat mungkin
00:28:12Menjadi penyangga keluarga
00:28:13Ia kembali bekerja sebagai konsultan lepas
00:28:16Sambil pelan-pelan mencari tempat tinggal permanen
00:28:19Namun yang ia sembunyikan dari Arini adalah
00:28:21Setiap malam
00:28:23Ia bermimpi berdiri di tengah rumah Wanaraja
00:28:25Rumah yang katanya sudah runtuh
00:28:28Tapi dalam mimpinya
00:28:30Rumah itu masih utuh
00:28:31Dan di jendela lantai 2
00:28:33Seseorang melambai ke arahnya
00:28:35Sosok perempuan muda dengan wajah hari ini
00:28:38Tapi mata yang berbeda
00:28:40Di hari ke-30 sejak mereka pindah
00:28:42Rumah ibunya kedatangan tamu
00:28:44Seorang pria tua dengan penampilan sederhana
00:28:48Membawa tas anyaman
00:28:49Dan sebuah tongkat kayu pendek
00:28:52Namanya Pak Tirto
00:28:54Katanya
00:28:56Ia datang karena mendengar cerita
00:28:57Tentang keluarga yang diselamatkan
00:28:59Dari rumah kutukan di Wanaraja
00:29:00Tapi lebih dari itu
00:29:02Ia mengaku kenal dengan Busri
00:29:04Dia dulu murid dari saudara perempuan saya
00:29:07Lalu menghilang
00:29:09Memilih menjaga rumah itu sampai akhir hayatnya
00:29:11Ujar Pak Tirto sambil menyeruput teh panas
00:29:14Busri selamat
00:29:16Tanya Arini cepat
00:29:17Pria tua itu menggeleng pelan
00:29:19Jasmaninya selamat
00:29:21Tapi jiwanya tidak kembali
00:29:24Ia duduk di pojok ruangan
00:29:26Tidak bicara sepatah kata pun
00:29:28Seperti boneka kosong
00:29:30Galang memeluk Arini yang mulai gemetar
00:29:33Ia tahu istrinya menyalahkan diri sendiri
00:29:36Tapi sebelum Arini bicara
00:29:38Pak Tirto meletakkan sebuah gulungan kecil di atas meja
00:29:41Kain berwarna kuning kusam
00:29:44Terikat benang merah
00:29:45Saya bawa ini karena saya yakin
00:29:48Ini belum selesai
00:29:49Arini menatap gulungan itu
00:29:51Lalu membuka perlahan
00:29:53Di dalamnya terdapat sobekan
00:29:55Kertas lontar bertulisan tangan
00:29:57Dengan simbol-simbol sama
00:29:58Seperti yang ada dalam jurnal rumah lama
00:30:00Tapi di tengah kertas itu
00:30:02Ada satu kalimat yang membuat
00:30:04Napas Arini tercekat
00:30:05Sukmanya tak bisa mati
00:30:08Selama masih ada tubuh yang mengingatnya
00:30:10Pak Tirto menjelaskan bahwa
00:30:12Ranti adalah bagian dari sekte tua
00:30:14Bernama Panglima Sukma
00:30:15Sekumpulan perempuan yang mencari keabadian
00:30:17Melalui pengorbanan tubuh orang lain
00:30:19Mereka tidak seperti penyihir biasa
00:30:21Mereka menyatukan mantra Jawa
00:30:24Meditasi
00:30:25Dan pengetahuan roh
00:30:27Ranti adalah satu dari empat yang tersisa
00:30:29Dan saat tubuhnya mati dalam peristiwa itu
00:30:32Ia tidak sepenuhnya hancur
00:30:34Dia masih hidup dalam kenangan
00:30:37Dalam ingatanmu
00:30:39Dalam gambar-gambarmu
00:30:41Arini menangis
00:30:43Ia tahu maksudnya
00:30:45Setiap malam ia menggambar tanpa sadar
00:30:48Setiap malam ia membuka pintu bagi ranti
00:30:51Tanpa disadari
00:30:52Ia menjadi jembatan yang tersisa
00:30:55Kalau begitu, bagaimana cara mengakhirinya?
00:30:59Tanya galang dengan suara rendah
00:31:00Dengan membuatnya terlupakan
00:31:03Dengan memutus semua jembatan antara Sukma dan tubuh
00:31:07Tapi itu tidak mudah
00:31:09Pak Tirto menawarkan satu jalan
00:31:11Membakar semua benda yang berhubungan dengan ranti
00:31:14Termasuk jurnal, gambar, kain
00:31:17Dan yang lebih penting ingatan
00:31:19Ia menyarankan Arini menjalani ruatan jiwa
00:31:22Ritual kuno untuk memutus ikatan batin
00:31:24Antara roh jahat dan wadahnya
00:31:25Ritual itu dijadwalkan malam Jumat Kliwon
00:31:29Bertempat di salah satu bukit terpencil dekat Imogiri
00:31:32Di sana, dalam suasana sunyi dan hanya diterangi cahaya api unggun
00:31:37Arini duduk sendirian di tengah lingkaran garam dan bunga tujuh rupa
00:31:40Pak Tirto berdiri di sekelilingnya
00:31:43Mengayungkan tongkat kayu dan membaca doa-doa dalam bahasa Jawa kuno
00:31:46Namun saat ritual mencapai puncaknya
00:31:49Langit berubah
00:31:50Kabut turun mendadak
00:31:53Angin berhenti
00:31:54Dan dari kegelapan, suara perempuan terdengar
00:31:58Kamu ingin lupakan aku?
00:32:01Tapi aku adalah bagian darimu sekarang
00:32:03Arini berteriak
00:32:05Telinganya berdengung
00:32:07Darah keluar dari hidungnya
00:32:10Tapi ia tidak bisa bangkit
00:32:13Kakinya menempel pada tanah seperti tertanam akar
00:32:16Dan saat ia membuka mata
00:32:18Ia tak lagi di bukit
00:32:20Ia kembali ke rumah tua itu
00:32:22Sendirian
00:32:24Dalam gelap
00:32:26Dengan cermin yang kini kembali utuh
00:32:28Menantinya di sudut ruangan
00:32:30Cermin itu memanggilnya
00:32:32Ia melihat refleksi dirinya
00:32:35Lalu melihat Ranti perlahan berdiri di belakangnya
00:32:38Kali ini, tak ada jarak
00:32:40Tak ada batas
00:32:42Kamu yang membuka pintunya
00:32:44Kamu yang harus jadi penggantiku
00:32:47Ranti menyentuh pundaknya
00:32:49Dan seketika tubuh Arini membeku
00:32:51Tapi dari kejauhan
00:32:53Suara sekar terdengar
00:32:55Tangis kecil
00:32:57Memanggil namanya
00:32:59Ibu
00:33:00Ibu jangan pergi
00:33:02Tangisan itu membangunkan Arini dari trans
00:33:05Ia berteriak
00:33:07Melempar dirinya ke arah cermin
00:33:10Tubrukan itu membuat dunia mimpi pecah
00:33:13Dan saat ia membuka mata
00:33:15Ia kembali di bukit
00:33:16Tapi api sudah padam
00:33:19Garam berserakan
00:33:21Dan Pak Tirto terkapar tak sadarkan diri
00:33:24Galang berlari menghampiri
00:33:26Memeluk istrinya yang menggigil
00:33:28Ia menangis
00:33:29Kali ini tanpa malu
00:33:31Tanpa gengsi
00:33:32Jangan tinggalkan aku lagi
00:33:34Arini memeluk balik
00:33:36Dan untuk pertama kalinya setelah sekian minggu
00:33:39Ia tidak mendengar bisikan
00:33:42Tidak ada bayangan
00:33:44Tidak ada tawaranti
00:33:46Pak Tirto akhirnya bangun
00:33:48Dengan wajah pucat dan napas terengah
00:33:50Tapi ia tersenyum tipis
00:33:53Dia sudah pergi
00:33:54Untuk sekarang
00:33:56Mereka kembali ke rumah ibu Galang
00:33:59Dan selama beberapa hari
00:34:01Tidak ada kejadian aneh
00:34:03Sekar mulai bermain lagi
00:34:05Dewa tidur dengan nyenyak
00:34:08Arini bisa melihat pantulan dirinya
00:34:10Di cermin tanpa takut
00:34:11Tapi di dalam hati
00:34:13Ia tahu
00:34:14Ranti mungkin sudah pergi
00:34:16Tapi seperti yang tertulis
00:34:18Dalam kertas lontar
00:34:19Sukma yang pernah diikat
00:34:21Tak akan pernah benar-benar hilang
00:34:23Ia hanya berpindah
00:34:25Menunggu wadah baru
00:34:26Dan malam itu
00:34:28Di tempat berbeda
00:34:29Seorang wanita muda
00:34:30Sedang berdiri di galeri seni
00:34:32Ia menatap lukisan bergaya ekspresionis
00:34:35Yang baru dikirim dari Yogyakarta
00:34:36Lukisan itu menggambarkan cermin besar
00:34:39Di tengah ruangan tua
00:34:40Dan dari pantulan cermin itu
00:34:42Seorang perempuan muda tersenyum lebar
00:34:44Wanita muda itu bergidik
00:34:47Tapi kemudian tersenyum
00:34:49Tanpa sadar
00:34:50Dan berkata
00:34:51Lukisan ini
00:34:52Mengingatkanku pada mimpi waktu kecil
00:34:56Kurator galeri datang dan berkata
00:34:58Aneh ya
00:34:59Tidak ada yang tahu siapa pelukisnya
00:35:01Tapi setiap orang yang melihatnya
00:35:03Selalu merasa seperti mengenalnya
00:35:04Arini membuka matanya dalam gelap
00:35:08Ia merasa seperti berada di suatu tempat yang bukan rumahnya
00:35:12Dingin menusup tulang
00:35:13Dan bau tanah basah memenuhi hidungnya
00:35:16Perlahan ia menoleh ke kanan
00:35:18Tak ada siapa-siapa
00:35:20Kekiri
00:35:21Ia melihat dinding tanah
00:35:23Seolah berada di dalam lubang
00:35:24Tubuhnya terasa berat
00:35:26Dan ketika ia mencoba bangkit
00:35:28Kakinya seperti terperosok dalam lumpur pekat
00:35:30Namun sebelum ia sempat bergerak lebih jauh
00:35:34Terdengar suara rintihan dari balik dinding tanah
00:35:36Rintihan itu lirih
00:35:38Seperti suara perempuan tua yang kesakitan
00:35:40Arini merinding
00:35:42Ia ingin berteriak
00:35:44Tapi suara tercekat di tenggorokannya
00:35:46Di depan matanya
00:35:48Tanah yang keras itu mulai merkah
00:35:50Sebuah tangan keriput muncul dari celah
00:35:53Mencengkram tanah dan menarik dirinya ke atas
00:35:55Perempuan tua itu perlahan muncul
00:35:58Dengan wajah penuh keriput dan mata putih tanpa bola mata
00:36:02Tubuhnya penuh luka
00:36:04Rambutnya panjang menjuntai seperti akar yang basah
00:36:07Arini terpaku
00:36:08Ia ingin berlari
00:36:10Tapi tak bisa
00:36:12Sang perempuan membuka mulutnya
00:36:14Dan mengucapkan satu kata dengan suara parau
00:36:16Sukma
00:36:17Jeritan Arini menggema dalam ruang gelap itu
00:36:20Hingga ia terbangun dari tidurnya
00:36:22Nafasnya terengah-engah
00:36:24Keringat membasahi tubuhnya
00:36:26Di sampingnya
00:36:27Bram terbangun dan menatapnya panik
00:36:29Kamu mimpi buruk lagi?
00:36:32Tanya Bram
00:36:32Memegang bahu Arini
00:36:34Arini hanya menganggu pelan
00:36:36Tapi ia tahu
00:36:38Ini bukan sekadar mimpi
00:36:39Ini sebuah peringatan
00:36:42Setiap malam
00:36:43Perempuan tua itu semakin nyata dalam tidurnya
00:36:46Setiap malam
00:36:48Suara itu memanggil-manggil namanya
00:36:50Pagi itu
00:36:51Arini duduk termenung di ruang makan
00:36:53Ia memandangi cermin tua yang kini tergantung di dinding ruang tengah
00:36:58Sejak pertama kali ditemukan
00:37:00Cermin itu tak pernah bisa diangkat kembali
00:37:02Seolah telah menyatu dengan rumah
00:37:05Setiap mereka mencoba memindahkannya
00:37:08Kaca cermin itu bergetar hebat
00:37:10Hingga akhirnya mereka menyerah dan membiarkannya tergantung di situ
00:37:13Busri datang membawa teh hangat
00:37:15Namun gerak-geriknya berbeda
00:37:17Wajahnya terlihat pucat
00:37:19Dan tangan kirinya terus gemetar
00:37:21Busri, ibu gak apa-apa
00:37:23Tanya Arini pelan
00:37:25Busri hanya tersenyum kaku
00:37:27Saya hanya kurang tidur, bu
00:37:30Semalam
00:37:32Semalam saya dengar suara di loteng
00:37:34Suara apa?
00:37:37Langkah kaki
00:37:37Tapi berat sekali
00:37:39Seperti bukan manusia
00:37:41Seperti
00:37:43Hewan besar
00:37:44Matanya menatap Arini dalam
00:37:46Lalu berbisik
00:37:47Atau mungkin
00:37:49Arwah yang sedang gelisah
00:37:51Arini menggenggam gelas teh
00:37:53Tangannya ikut gemetar
00:37:55Siang harinya
00:37:57Bra memutuskan membawa anak-anak keluar rumah
00:37:59Untuk berjalan-jalan ke pusat kota
00:38:01Ia merasa anak-anak sudah mulai tertekan
00:38:04Berada di rumah terus-menerus
00:38:05Arini pun akhirnya sendiri
00:38:07Hanya ditemani Busri yang sedang mencuci di belakang
00:38:10Merasa tak tenang
00:38:12Arini berjalan ke kamar belakang
00:38:14Ia mencari-cari buku catatan tua
00:38:16Yang ia temukan beberapa hari lalu
00:38:18Di gudang tempat cermin itu berada
00:38:20Buku itu ditulis tangan
00:38:22Dengan tinta yang kini hampir pudar
00:38:24Tapi Arini bisa membaca sebagian isi catatan tersebut
00:38:28Disitu tertulis kisah seorang perempuan bernama Sasmara Wenning
00:38:31Seorang dukun tua yang dikenal mampu memindahkan jiwa manusia ke tubuh lain
00:38:35Sasmara Wenning dikenal sebagai dukun sakti pada masanya
00:38:39Namun hidupnya penuh dendam karena cintanya dihianati
00:38:42Ia mengutuk tubuhnya sendiri untuk tidak mati
00:38:45Dan mencari perempuan muda sebagai wadah untuk jiwanya yang tua
00:38:49Ia sering disebut sebagai penjaga sukma
00:38:52Karena bisa merebut sukma orang lain dan menggantinya dengan miliknya sendiri
00:38:55Arini membolak-balik halaman
00:38:58Di tengah-tengah buku itu
00:39:00Ada lukisan kasar
00:39:02Sebuah cermin berukir
00:39:03Sama persis seperti yang sekarang tergantung di ruang tengah
00:39:07Hatinya mencelos
00:39:09Ini bukan kebetulan
00:39:11Cermin itu adalah milik Sasmara Wenning
00:39:14Tiba-tiba, dari arah dapur terdengar suara pecahan piring
00:39:18Arini berlari ke sana dan menemukan Busri terduduk di lantai
00:39:22Wajahnya pucat pasi
00:39:24Mata terbuka lebar
00:39:26Saya melihatnya, dia berdiri di belakang ibu
00:39:30Di cermin, bisik Busri gemetar
00:39:33Arini menoleh ke arah ruang tengah
00:39:35Cermin itu tampak tenang, tak ada bayangan siapapun
00:39:39Tapi Arini tahu, Busri tidak sedang berbohong
00:39:43Malam itu, Arini memutuskan menghubungi kenalannya yang seorang jurnalis investigasi
00:39:48Nita
00:39:49Nita adalah teman lama Arini dari masa kuliah
00:39:52Dan kini banyak menyelidiki fenomena misterius dan horor untuk konten Youtubenya
00:39:56Arini menceritakan semua kejadian yang ia alami
00:39:59Mimpi buruk, bayangan di cermin
00:40:02Catatan tua tentang Sasmara Wenning
00:40:04Dan kondisi aneh rumah itu sejak cermin ditemukan
00:40:06Besok gue ke sana, Rin
00:40:09Lo tungguin gue ya, kata Nita melalui telepon
00:40:13Keesokan harinya, Nita datang dengan mobil dan kamera kecil di tangannya
00:40:18Ia langsung memeriksa area gudang tempat cermin itu ditemukan
00:40:21Serta memfoto semua halaman catatan tua milik Arini
00:40:24Rin, gue gak mau nakut-nakutin lo
00:40:27Tapi ini serius, ucap Nita sambil menunjukkan hasil fotonya
00:40:31Sasmara Wenning itu memang pernah hidup
00:40:34Gue pernah dengar kisah tentang dia dari warga desa di selatan
00:40:38Tapi yang lebih mengerikan, katanya dia belum mati sampai sekarang karena terus pindah tubuh
00:40:43Lo maksudnya, dia masih hidup dalam tubuh orang lain?
00:40:48Ya
00:40:49Dan kalau benar dia di cermin itu, berarti dia belum menemukan tubuh barunya
00:40:54Dan dia, bisa jadi mengincar lo
00:40:57Arini terdiam
00:40:59Suasana rumah makin mencekam
00:41:01Bram pun akhirnya mulai merasakan keanehan
00:41:05Anak-anak sering terbangun tengah malam dan berbicara sendiri
00:41:08Terutama Dita, putri sulung mereka
00:41:11Dita pernah berkata, ibu dari dalam cermin bilang dia akan jadi ibu yang lebih baik daripada ibu Arini
00:41:17Bram mulai khawatir, dan menyarankan untuk membawa keluarga mereka keluar kota sementara waktu
00:41:22Tapi Arini menolak
00:41:25Ia merasa harus menyelesaikan ini sampai tuntas
00:41:28Ia tak ingin meninggalkan rumah itu dalam keadaan seperti ini
00:41:32Malam itu, Nita memutuskan menginap dan memasang beberapa kamera di beberapa sudut rumah
00:41:37Termasuk menghadap langsung ke cermin
00:41:39Mereka berjaga hingga tengah malam
00:41:42Memantau kamera sambil menyimak rekaman secara langsung
00:41:45Jam menunjukkan pukul 2.33 dini hari
00:41:48Ketika kamera utama yang mengarah ke cermin menunjukkan bayangan samar
00:41:52Perlahan, wajah perempuan tua muncul
00:41:55Mulanya samar, lalu semakin jelas
00:41:58Wajah itu tersenyum ke arah kamera, lalu membisikkan sesuatu
00:42:02Namun suara itu hanya terekam sebagai gemuruh rendah yang menusuk telinga
00:42:06Namun yang paling mengejutkan, sosok Arini muncul berdiri di depan cermin
00:42:10Padahal ia masih duduk di sebelah Nita
00:42:13Nita menolak ke samping, melihat Arini masih di sana
00:42:16Mereka saling menatap dengan ngeri
00:42:20Kamera itu menampilkan 2 sosok Arini
00:42:22Satu di depan cermin, satu lagi di sofa
00:42:25Sosok di depan cermin tersenyum, lalu berkata
00:42:28Aku akan mengambil kembali yang seharusnya milikku
00:42:31Lalu layar menjadi gelap
00:42:34Kamera mati
00:42:35Dan saat itu, terdengar suara pintu kamar anak-anak terbuka
00:42:39Diiringi suara langkah pelan yang mengarah ke lorong gelap
00:42:42Busri berjalan perlahan menyusuri lorong sempit rumah tua itu
00:42:46Membawa nampan berisi teh dan biskuit ke ruang tengah
00:42:49Langkahnya tenang, tapi ada sorot kehatian dalam matanya
00:42:53Ia mendengar suara lirih dari belakang cermin tua di gudang
00:42:57Seperti seseorang sedang berbisik
00:42:59Tapi saat ia menoleh, tak ada siapapun
00:43:02Ia tahu suara itu berasal dari Sukma
00:43:05Perempuan tua dalam cermin itu belum menyerah
00:43:08Sementara itu, Arini mulai menunjukkan perubahan drastis
00:43:12Ia menjadi mudah tersinggung, murung, dan sesekali bicara sendiri
00:43:17Damar berusaha tetap tenang
00:43:19Mencoba menganggap semua itu hanya tekanan akibat pindah rumah
00:43:22Tapi malam itu, saat ia terbangun dan melihat Arini berdiri di depan cermin di ruang tengah
00:43:28Berbicara dengan bayangan dirinya sendiri
00:43:30Damar tahu ada yang tidak beres
00:43:32Aku bukan dia, aku Sukma
00:43:34Bisik Arini pelan, seperti orang kesurupan
00:43:38Damar memanggil nama istrinya, mencoba menyentuhnya
00:43:42Tapi Arini tiba-tiba berbalik dan menampar Damar dengan kekuatan yang tak masuk akal
00:43:47Matanya kosong, suaranya bukan suaranya
00:43:51Busri yang mendengar keributan segera datang dan membaca doa pelan
00:43:54Lalu menyeramkan air dari kendi tua ke lantai
00:43:56Arini langsung jatuh pingsan
00:43:59Kita harus bicara, ujar Busri serius pada Damar keesokan paginya
00:44:03Di sebuah ruangan kecil, Busri membuka sebuah kotak kayu berukir
00:44:08Di dalamnya ada foto lama, surat, dan potongan rambut
00:44:12Perempuan di cermin itu bernama Sukma
00:44:15Dulu dia tinggal di rumah ini
00:44:18Ia sangat cantik, dan dikenal sebagai dukun pengasihan
00:44:22Tapi kecantikannya hilang seiring usia
00:44:25Ia mengurung diri, menolak tua, dan mulai mempelajari ilmu terlarang agar bisa tetap muda
00:44:31Jelas Busri
00:44:32Dia memuja cermin itu
00:44:34Ia percaya, jiwanya akan hidup abadi di sana
00:44:38Tapi setelah dia meninggal, arwahnya tak pernah pergi
00:44:42Ia menunggu tubuh baru, dan ia memilih Arini
00:44:45Damar terdiam
00:44:47Semua terasa tak masuk akal
00:44:50Tapi apa yang ia lihat pada istrinya semalam tak bisa dijelaskan dengan logika
00:44:54Busri melanjutkan
00:44:56Dia belum sepenuhnya masuk ke tubuh Arini
00:44:58Tapi jika kita tidak bertindak
00:45:00Lambat laun, Arini akan hilang sepenuhnya
00:45:03Mereka memutuskan untuk membakar cermin tersebut
00:45:06Tapi saat mereka bersiap masuk ke gudang
00:45:09Tiba-tiba listrik padam
00:45:11Rumah itu gelap gulita
00:45:13Damar menyalakan senter
00:45:15Dan dibalik bayang-bayang cahaya
00:45:17Terlihat Arini berdiri di pojokan
00:45:19Menatap mereka dengan senyum dingin
00:45:21Kalian tak akan mengambil cerminku
00:45:23Suaranya berat, bukan seperti Arini
00:45:26Saat Busri membaca doa
00:45:28Arini berteriak dan cermin di gudang pecah sendiri
00:45:31Memercikkan kilatan cahaya ke seluruh ruangan
00:45:33Angin menderu
00:45:35Pintu-pintu terbuka sendiri
00:45:37Dan bimbing bergetar
00:45:39Tapi Busri terus membaca doa
00:45:42Kali ini dengan suara lantang dan penuh keyakinan
00:45:44Cahaya dari kenditua miliknya menyinari Arini
00:45:47Membuat tubuh perempuan itu terhuyung dan jatuh
00:45:50Suara tangisan terdengar dari balik cermin
00:45:53Seperti jeritan seseorang yang terseret ke jurang
00:45:56Saat semuanya meredah
00:45:58Arini tergeletak lemas
00:45:59Ia menangis
00:46:01Menggenggam tangan Damar
00:46:02Aku takut aku bisa mendengar dia di kepalaku
00:46:06Dia bilang aku hanya wadah
00:46:07Damar memeluk Arini erat
00:46:10Beberapa hari kemudian
00:46:12Mereka memutuskan meninggalkan rumah itu
00:46:14Mereka tak ingin mengambil risiko lebih lanjut
00:46:17Namun sebelum pergi
00:46:19Busri menutup kembali kotak kayu itu
00:46:21Dan menguncinya rapat
00:46:22Ia membisikkan sesuatu ke cermin kecil di genggamannya
00:46:25Sebelum membungkusnya dan menyimpannya di tempat tersembunyi
00:46:28Sukma mungkin telah pergi
00:46:30Tapi arwah yang haus akan tubuh muda
00:46:33Tak pernah benar-benar mati
00:46:34Di perjalanan pulang ke kota
00:46:36Kenzo tiba-tiba berkata
00:46:38Aku lihat nenek itu lagi
00:46:40M.A
00:46:40Dia bilang dia akan kembali
00:46:43Arini dan Damar saling menatap
00:46:46Di kaca spion belakang
00:46:48Sesosok bayangan seperti perempuan tua terlihat duduk di bangku belakang
00:46:51Tersenyum perlahan
00:46:53Arini menatap tajam ke arah cermin yang kini berselimut kain putih
00:46:57Mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan
00:46:59Ia merasa kehadiran sosok perempuan tua itu belum sepenuhnya menghilang
00:47:04Meski cerminnya sudah ditutupi
00:47:06Keheningan rumah semakin mencekam
00:47:08Terutama sejak Busri menghilang tanpa kabar
00:47:11Kepergian penjaga rumah itu menyisakan teka-teki
00:47:14Karena barang-barangnya masih ada di kamar
00:47:16Dan tak seorang pun melihat ia pergi
00:47:18Oka
00:47:20Yang awalnya skeptis terhadap cerita Arini
00:47:22Mulai berubah setelah menemukan salah satu gambar sketsa milik Dara
00:47:25Putrinya
00:47:26Yang menggambarkan seorang wanita tua berdiri di depan cermin
00:47:29Dengan ekspresi haus darah
00:47:31Padahal
00:47:32Dara belum pernah melihat sosok itu secara langsung
00:47:35Rasa merinding menyergapnya
00:47:37Arini pun meyakinkannya bahwa mereka sedang berhadapan
00:47:41Dengan sesuatu yang jauh dari logika
00:47:43Pada malam itu
00:47:44Suara ketukan kembali terdengar dari dalam gudang
00:47:47Suara pelan
00:47:49Ritmis
00:47:50Seolah ada seseorang yang ingin keluar dari balik dinding
00:47:52Oka mencoba mencari akal
00:47:55Ia menyarankan untuk membongkar dinding tempat cermin itu pertama kali ditemukan
00:47:59Bersama Arini
00:48:01Ia membawa linggis dan mulai mengikis lapisan bata di balik rak tua di gudang tersebut
00:48:05Mereka menemukan sebuah ruangan rahasia kecil
00:48:08Berisi beberapa barang antik berdebu
00:48:10Di antaranya
00:48:11Sebuah buku usang dengan sampul kulit dan tulisan aksara Jawa kuno
00:48:15Arini
00:48:16Yang semasa kecil pernah belajar membaca aksara itu dari ayahnya
00:48:20Mencoba mengejanya perlahan
00:48:22Buku itu berisi mantra dan catatan harian seorang wanita bernama Nyai Sukma
00:48:26Isi catatan itu perlahan mengungkapkan siapa perempuan tua yang menghantui mereka
00:48:31Nyai Sukma dulunya adalah tabib desa yang terkenal sangat cantik dan pintar
00:48:36Namun
00:48:37Ia terobsesi pada keabadian
00:48:39Ia mempelajari ilmu pemindahan Sukma
00:48:42Dengan cara memasukkan jiwanya ke dalam tubuh orang muda melalui media cermin
00:48:46Namun praktik itu dianggap sesat
00:48:49Hingga akhirnya ia diburu warga dan dibakar hidup-hidup di depan cerminnya sendiri
00:48:53Arwahnya dikutuk terperangkap di sana
00:48:55Menunggu korban baru agar ia bisa kembali hidup di dunia dengan tubuh baru
00:48:59Arini terdiam
00:49:01Merasakan bulu kudupnya meremang
00:49:03Ia sadar bahwa ia adalah korban berikutnya
00:49:07Terlebih setelah membaca kalimat terakhir di buku tersebut
00:49:10Jika cermin itu menunjukkan bayangannya dalam mimpi
00:49:13Maka tubuhmu akan menjadi jalannya
00:49:15Malam harinya
00:49:17Mimpi Arini kembali dihantui wajahnya Isukma yang kali ini lebih dekat dari sebelumnya
00:49:21Sosok itu memegang wajah Arini dan membisikkan
00:49:24Tubuhmu sempurna
00:49:26Kau takkan bisa lari
00:49:28Pagi berikutnya
00:49:30Wajah Arini tampak pucat dan matanya kosong
00:49:32Ia merasa tubuhnya lemas
00:49:34Seperti bukan miliknya sendiri
00:49:36Oka panik
00:49:38Terlebih ketika mendapati bahwa wajah Arini perlahan berubah
00:49:41Ada kerutan-kerutan halus di sudut matanya
00:49:44Dan kulitnya kehilangan kecerahan
00:49:46Darah yang memiliki kepekaan sejak kecil
00:49:50Mulai menunjukkan sikap yang aneh pula
00:49:52Ia bicara sendiri
00:49:53Lalu menggambar bayangan cermin di seluruh dinding kamarnya
00:49:57Dalam satu gambar
00:49:59Tanpa sosoknya Isukma berdiri memegang tangan Arini
00:50:01Seolah sedang menuntunnya ke dalam dimensi lain
00:50:04Oka tak ingin tinggal diam
00:50:06Ia mencari bantuan ke penduduk lama di kota itu
00:50:10Dan bertemu seorang kakek bernama Pak Mulyo yang dahulu merupakan bagian dari generasi tua di kota kecil tersebut
00:50:15Setelah ditunjukkan gambar dan cerita cermin
00:50:18Pak Mulyo terkejut
00:50:19Ia bercerita bahwa ia pernah melihat ritual pemanggilan Nyai Isukma saat masih muda
00:50:24Dan bahwa dulu rumah tempat Arini tinggal adalah milik salah satu pengikut Nyai Isukma yang kabur sebelum pembakaran terjadi
00:50:30Menurut Pak Mulyo
00:50:31Satu-satunya cara agar Nyai Isukma benar-benar terputus dari dunia ini
00:50:35Adalah dengan menghancurkan cerminnya tepat saat bulan mati
00:50:38Dan membakar buku mantra-nya dengan api suci dari kayu jati yang pernah digunakan dalam ritual penyucian
00:50:42Namun, proses ini berbahaya
00:50:45Jika Nyai Isukma menyadari niat itu, ia bisa memindahkan Sukmanya lebih cepat ke tubuh korban
00:50:51Oka pun kembali ke rumah dan menyiapkan segala keperluan ritual
00:50:55Saat malam bulan mati tiba, ia mengajak Arini ke gudang
00:50:59Tapi Arini sudah tak sepenuhnya sadar
00:51:02Satu matanya mulai tampak keruh, dan suaranya berubah berat
00:51:07Ia menatap Oka dengan dingin
00:51:09Kau tak bisa menghentikan ini
00:51:11Aku sudah menunggu terlalu lama
00:51:14Oka menggenggam Arini, memohon agar istrinya melawan dari dalam
00:51:18Darah datang dan memeluk ibunya sambil menangis, memanggil-manggil namanya
00:51:23Tangisan darah tampaknya membangkitkan sedikit kesadaran dalam diri Arini
00:51:27Ia menggigil, berteriak kesakitan, lalu tubuhnya tersungkur
00:51:32Di saat itulah, Oka menghancurkan cermin dengan palu besi
00:51:36Membuat pecahan kaca berterbangan ke segala arah
00:51:39Suara jeritan menyayat terdengar dari dalam
00:51:42Seolah roh yang terperangkap Meronta
00:51:44Oka segera membakar buku mantra dengan api suci yang telah disiapkan
00:51:48Sementara darah memeluk ibunya yang masih terguncang
00:51:50Api berkobar hebat, dan suara tangisan serta jeritan mengisi malam itu
00:51:55Setelah beberapa menit, semuanya menjadi hening
00:51:59Arini terbangun dengan tubuh penuh keringat
00:52:02Seolah kembali dari alam mimpi yang panjang dan menyakitkan
00:52:05Matanya kembali bersinar seperti biasa
00:52:09Namun, tepat ketika mereka mulai mengira segalanya telah selesai
00:52:12Terdengar suara ketukan pelan dari dinding kamar darah
00:52:16Bukan dari gudang
00:52:18Tapi dari belakang lemari mainan miliknya
00:52:21Ketika lemari itu digeser, mereka menemukan
00:52:24Sebuah cermin kecil berbentuk oval
00:52:27Terpampang bayangan perempuan muda dengan senyum aneh yang familiar
00:52:30Arini dan Oka saling pandang
00:52:33Terdiam
00:52:35Mereka sadar, mungkin ini belum benar-benar berakhir
00:52:38Arini terpaku
00:52:40Matanya tidak bisa lepas dari cermin tua itu
00:52:44Wajah perempuan tua yang selama ini menghantui mimpinya kini menatap langsung padanya
00:52:48Bukan dari dalam mimpi, tapi dari balik permukaan kaca yang buram itu
00:52:52Sorot mata sosok dalam cermin tampak penuh dendam
00:52:55Dan senyumnya perlahan menjelma menjadi seringai yang mengerikan
00:52:59Suasana di rumah itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya
00:53:03Angin tak terlihat masuk dari manapun
00:53:05Tapi daun pintu berderit
00:53:07Dan lampu ruang makan yang menggantung berayun pelan
00:53:09Seperti ada kekuatan takasat mata yang mengusiknya
00:53:12Arini berusaha mundur
00:53:14Ingin lari
00:53:15Tapi langkah kakinya seperti membeku di lantai
00:53:18Bayangan perempuan tua dalam cermin itu perlahan meraih permukaan kaca
00:53:22Dan, dari dalam, tangannya mulai keluar
00:53:25Ya, bukan bayangan biasa, ini nyata
00:53:29Arini, saatnya tiba
00:53:32Suara itu berbisik, seolah berasal dari dalam kepala Arini sendiri
00:53:36Ia menjerit
00:53:38Tubuhnya akhirnya bisa bergerak
00:53:40Dan ia berlari meninggalkan ruang bawah tanah itu
00:53:43Berlari sambil menyeret tubuhnya yang gemetaran ke atas
00:53:45Lalu membanting pintu gudang itu rapat-rapat
00:53:48Seluruh tubuhnya berkeringat
00:53:50Tapi udara di dalam rumah tetap dingin
00:53:52Pintu-pintu yang sebelumnya tertutup kini terbuka perlahan dengan sendirinya
00:53:57Dan dari setiap sudut rumah
00:53:59Suara bisikan semakin sering terdengar
00:54:01Kadang memanggil namanya
00:54:03Kadang meratap
00:54:05Kadang tertawa
00:54:07Busri muncul di belakangnya
00:54:09Tanpa suara
00:54:10Seperti biasa
00:54:12Kau sudah membukanya
00:54:14Ya, suara busri kali ini terdengar berbeda
00:54:17Lebih berat, lebih kelam
00:54:18Arini menganggu pelan
00:54:20Dia
00:54:22Dia mencoba keluar
00:54:24Busri menunduk
00:54:26Menghela nafas panjang
00:54:28Lalu berjalan melewati Arini
00:54:30Kau harus tahu semuanya
00:54:32Sebelum dia mengambil alih tubuhmu sepenuhnya
00:54:35Beberapa tahun lalu
00:54:37Rumah itu bukan sekadar rumah biasa
00:54:39Di masa mudanya
00:54:41Busri bekerja sebagai perawat pribadi seorang wanita tua bernama Nyai Kinasi
00:54:45Pemilik rumah itu
00:54:46Konon
00:54:48Nyai Kinasi dikenal sebagai tabib yang sangat dihormati
00:54:51Namun juga ditakuti
00:54:52Ia memiliki ilmu tua dari tanah Jawa yang sangat kuat
00:54:56Orang-orang desa sering menghindari rumah itu
00:54:59Apalagi sejak suami dan anak-anak Nyai Kinasi meninggal secara misterius dalam waktu berdekatan
00:55:04Busri bercerita bahwa cermin di gudang itu adalah warisan turun-temurun dari leluhurnya Nyai Kinasi
00:55:09Bukan cermin biasa
00:55:11Melainkan medium tempat jiwa bisa berpindah
00:55:14Benda itu digunakan dalam ritual kuno untuk menunda kematian seseorang
00:55:18Dengan cara menukar tubuh
00:55:20Dan sekarang
00:55:22Setelah bertahun-tahun
00:55:24Roh Nyai Kinasi ingin kembali
00:55:25Mengincar tubuh muda Arini untuk ia tempati
00:55:28Karena hanya perempuan yang bisa menjadi wadahnya
00:55:31Bisik Busri lirih
00:55:32Dan dia sudah memilihmu sejak pertama kali kau melangkah ke rumah ini
00:55:37Arini menggeleng
00:55:39Menolak percaya
00:55:40Tapi ingatannya tentang mimpi-mimpi buruk
00:55:42Suara-suara bisikan
00:55:43Hingga bayangan yang muncul di cermin tidak bisa dipungkiri
00:55:46Ia bertanya
00:55:48Kenapa aku?
00:55:50Kenapa bukan yang lain?
00:55:52Busri menatapnya dalam-dalam
00:55:54Karena kau mirip dengan anak perempuan Nyai Kinasi yang meninggal
00:55:57Tubuhmu cocok
00:55:59Dan hatimu masih bersih
00:56:00Itu yang dia butuhkan
00:56:02Arini jatuh terduduk
00:56:05Ia menangis
00:56:06Kebingungan
00:56:07Marah
00:56:08Dan ketakutan
00:56:09Suaminya
00:56:11Bayu
00:56:12Masih belum tahu apa-apa
00:56:13Dan si kecil Naya
00:56:15Putrinya
00:56:16Justru semakin sering bicara sendiri
00:56:18Menggambar sosok perempuan tua berambut panjang
00:56:20Yang selalu mengawasinya dari balik pintu
00:56:22Malam itu
00:56:24Arini tak bisa tidur
00:56:25Ia berjaga di kamar
00:56:27Memeluk Naya erat-erat
00:56:29Bayu tertidur lebih dulu
00:56:31Tak menyadari betapa rusaknya kondisi psikis istrinya
00:56:34Lalu
00:56:35Di tengah malam yang sunyi
00:56:37Terdengar suara dari kamar mandi
00:56:39Gemericik air
00:56:41Padahal tak ada seorang pun di sana
00:56:43Perlahan
00:56:45Pintu kamar mandi terbuka sendiri
00:56:47Cermin yang menggantung di dalamnya mulai berkabut
00:56:51Dan
00:56:52Sosok Nyai Kinasi muncul kembali
00:56:54Kali ini lebih jelas
00:56:55Lebih hidup
00:56:56Aku sudah menunggu terlalu lama
00:56:59Arini
00:57:00Bisiknya
00:57:01Tubuh ini
00:57:02Harus jadi milikku malam ini
00:57:04Seketika
00:57:06Arini mengalami mimpi buruk
00:57:07Lebih nyata dari sebelumnya
00:57:09Ia merasa jiwanya ditarik keluar dari tubuh
00:57:12Di dalam mimpi itu
00:57:14Ia berada di sebuah ruangan tua
00:57:16Penuh asap kemenyan
00:57:17Dan Nyai Kinasi duduk di atas singgah sana batu
00:57:20Dikelilingi oleh puluhan boneka kayu yang menatapnya kosong
00:57:23Tubuhmu akan kugunakan
00:57:25Dan kau akan tinggal di sini
00:57:27Menjadi bonekaku selamanya
00:57:29Arini berteriak
00:57:30Melawan
00:57:31Mencoba kabur
00:57:33Tapi kakinya seolah terikat pada lantai
00:57:35Boneka-boneka itu mulai bergerak
00:57:38Salah satu dari mereka
00:57:40Berwajah Arini sendiri
00:57:42Tiba-tiba
00:57:43Ia terbangun
00:57:45Napas terengah-engah
00:57:46Tapi anehnya
00:57:48Ia tidak berada di kamarnya
00:57:49Ia berada di bawah
00:57:51Di depan cermin tua di gudang
00:57:53Tangannya memegang pisau
00:57:56Dan direfleksi cermin
00:57:58Bukan wajahnya yang terlihat
00:58:00Tapi wajahnya Iki Nasih
00:58:02Yang tersenyum penuh kemenangan
00:58:04Teriakan histeris terdengar
00:58:06Menggema ke seluruh rumah
00:58:07Bayu terbangun
00:58:09Berlari turun
00:58:10Tapi saat sampai di gudang
00:58:13Ia hanya menemukan Arini duduk diam
00:58:15Menatap kosong ke cermin
00:58:16Tatapan yang
00:58:18Bukan milik Arini
00:58:19Busri tahu
00:58:21Waktunya hampir habis
00:58:22Ia harus mengambil tindakan terakhir
00:58:25Untuk menghentikan proses pengambil alihan itu
00:58:27Ia menyiapkan sesajen
00:58:29Dan mengeluarkan kitab tua warisan leluhurnya
00:58:31Upacara harus dilakukan malam itu juga
00:58:34Jika tidak
00:58:36Maka Arini akan lenyap sepenuhnya
00:58:38Namun
00:58:39Busri tidak sendirian
00:58:42Iki Nasih
00:58:43Kini setengah berada dalam tubuh Arini
00:58:45Mampu mengendalikan kekuatan rumah itu
00:58:48Lampu-lampu pecah sendiri
00:58:50Bayangan hitam melesat dari sudut-sudut ruangan
00:58:53Semua benda beterbangan
00:58:56Naya menangis tak berhenti
00:58:58Tubuhnya terangkat melayang
00:59:00Bayu mencoba mendekati istrinya
00:59:02Tapi didorong oleh kekuatan tak terlihat
00:59:04Hingga terlempar ke dinding
00:59:05Arini menatap Busri
00:59:08Dengan mata yang kini bukan matanya
00:59:10Suaranya berat
00:59:12Penuh dendam
00:59:13Sudah cukup kau menghalangi aku
00:59:15Sri
00:59:16Bertahun-tahun aku terkurung
00:59:18Sekarang aku bebas
00:59:20Busri menggenggam rat kitabnya
00:59:22Membaca mantra dengan suara gemetar
00:59:25Ia tahu pertarungan ini bisa membunuhnya
00:59:28Tapi ia juga tahu bahwa jika ia gagal
00:59:31Maka tidak hanya Arini
00:59:32Seluruh keluarga ini akan musnah
00:59:34Dengan nama leluhur tanah ini
00:59:37Aku perintahkan kau kembali ke asalmu
00:59:39Teriak Busri
00:59:40Seketika
00:59:41Nyala api lilin mengarah ke cermin
00:59:43Permukaan kaca bergetar hebat
00:59:46Wajahnya Ikinasi menjerit dari balik refleksi
00:59:50Arini menjerit lebih keras
00:59:52Seolah jiwanya sedang ditarik paksa
00:59:55Rumah itu berguncang
00:59:56Dan
00:59:57Semuanya gelap
00:59:59Ketika pagi datang
01:00:01Bayu terbangun di ruang tamu
01:00:02Memeluk Naya yang tertidur
01:00:04Tubuhnya penuh luka ringan
01:00:06Ia memanggil-manggil Arini
01:00:08Memanggil Busri
01:00:10Tapi hanya keheningan yang menjawab
01:00:12Lalu
01:00:13Dari arah dapur
01:00:14Arini muncul
01:00:15Wajahnya pucat
01:00:17Langkahnya pelan
01:00:19Sayang
01:00:21Panggil Bayu
01:00:22Arini menatapnya
01:00:24Aku disini
01:00:26Tapi di detik berikutnya
01:00:28Ketika Arini menatap cermin kecil di ruang makan
01:00:31Ia tampak membeku
01:00:32Dan disana
01:00:34Untuk sesaat
01:00:35Refleksi dicermin bukan dirinya
01:00:37Tapi Nyai Kinasi yang tersenyum samar
01:00:39Sebelum menghilang
01:00:40Misteri belum benar-benar selesai
01:00:43Karena jiwa yang pernah bebas
01:00:45Selalu mencari cara untuk kembali
01:00:47Arini mencoba bersikap setegar mungkin
01:00:50Terutama di hadapan Ken dan Aira
01:00:52Ia tak ingin anak-anaknya merasakan betapa dalam luka yang ia tanggung
01:00:56Namun rasa takut itu mulai tak tertahan
01:00:59Sejak kejadian di kamar mandi dan kamar tidur
01:01:02Ia sering mengunci diri di kamar pada malam hari
01:01:05Tak berani menatap cermin
01:01:06Dan mulai membaca doa-doa dalam diam
01:01:08Di tengah ketegangan yang terus meningkat
01:01:11Busri semakin menunjukkan sikap aneh
01:01:13Ia kadang duduk menatap kosong ke arah sudut ruang tamu
01:01:17Kadang berbicara sendiri
01:01:18Menyebut nama seseorang bernama
01:01:20Sukma
01:01:21Arini pernah memergoki Busri tengah berbicara dengan cermin besar
01:01:25Di ruang tengah sambil memanggil nama itu
01:01:27Saat Arini bertanya
01:01:29Busri hanya menoleh perlahan dan tersenyum samar
01:01:32Lalu beranjak pergi tanpa sepatah kata
01:01:34Pada suatu malam
01:01:36Terdengar suara benda pecah dari dapur
01:01:38Farid segera bangun dan mengecek
01:01:40Ia menemukan gelas-gelas dirak berserakan di lantai
01:01:44Pecah berantakan
01:01:45Namun tak ada satupun yang terlihat menyebabkan keributan itu
01:01:49Ketika Farid membungkuk untuk membersihkan pecahan kaca
01:01:52Tiba-tiba ia merasa seperti disentuh dari belakang
01:01:55Saat menoleh
01:01:56Menoleh, tak ada siapapun
01:01:58Tapi hawa dingin yang menggigit dan bisikan samar di telinganya membuatnya yakin
01:02:02Mereka tidak sendiri
01:02:04Ken juga semakin sering mengigau
01:02:06Ia memanggil nama Sukma dalam tidurnya
01:02:10Atau menangis tanpa sebab
01:02:12Suatu kali, Arini mendapati anak itu berdiri dia menghadap ke cermin besar di ruang tamu sekitar pukul 3 pagi
01:02:18Ketika Arini memanggilnya
01:02:21Ken hanya menoleh dengan mata kosong
01:02:23Lalu perlahan menunjuk ke cermin dan berkata
01:02:25Ibu itu pengen punya tubuh seperti mama
01:02:28Kata-kata itu mengguncang Arini
01:02:30Ia berusaha membangunkan suaminya dan menceritakan semua
01:02:34Namun Farid
01:02:36Yang kini lebih sering pulang larut karena pekerjaannya
01:02:38Tak terlalu percaya dan menganggap semua hanya tekanan psikologis
01:02:42Akibat perpindahan dan trauma masa lalu
01:02:44Tak ingin berdiam diri
01:02:46Arini mulai mencari tahu tentang rumah itu
01:02:48Ia mendatangi warga sekitar
01:02:50Meski banyak dari mereka tak mau bicara banyak
01:02:53Hingga ia bertemu dengan Pak Harjo
01:02:55Pria tua yang tinggal di ujung jalan
01:02:57Ia mengatakan bahwa dulu
01:03:00Rumah itu adalah milik seorang perempuan tua bernama Nyai Sukma
01:03:03Konon, Nyai Sukma dikenal sebagai dukun berparas cantik
01:03:07Tetapi sangat jahat
01:03:08Ia disebut-sebut memiliki ilmu awet muda
01:03:11Dengan mencuri kecantikan dari perempuan lain
01:03:13Rumah itu pernah terbakar sebagian karena upaya warga yang hendak mengusirnya
01:03:18Tapi tidak pernah benar-benar berhasil
01:03:20Setelah Nyai Sukma menghilang tanpa jejak
01:03:23Rumah itu kosem bertahun-tahun sebelum akhirnya direnovasi dan disewakan
01:03:27Arini gemetar saat mendengar cerita itu
01:03:30Apalagi ketika Pak Harjo berkata
01:03:33Kalau benar cermin itu masih ada di rumahmu
01:03:35Cepatlah musnahkan
01:03:36Disitulah dia tinggal sekarang
01:03:39Arini pulang dengan langkah gontai
01:03:42Napasnya sesat
01:03:43Begitu sampai di rumah
01:03:45Ia langsung menuju gudang
01:03:46Cermin besar yang pernah ditemukan saat pertama pindah
01:03:50Ternyata sudah tidak ada di tempatnya
01:03:51Ia panik
01:03:53Bertanya ke Farid dan Busri
01:03:55Namun keduanya tak tahu menahu
01:03:57Arini mencoba mengingat
01:03:59Dan mendapati bahwa sejak Busri bersikap aneh
01:04:01Ia sering duduk di ruang tamu
01:04:03Tepat di depan cermin besar yang entah sejak kapan kembali terpajang di sana
01:04:06Malam itu
01:04:08Arini mencoba mendekati cermin tersebut
01:04:10Ia berdiri diam di depannya
01:04:12Menatap pantulannya dalam-dalam
01:04:14Matanya mulai mengabur
01:04:17Bukan karena menangis
01:04:18Tapi karena bayangan di cermin mulai memudar
01:04:20Dan digantikan oleh sosok perempuan tua berambut panjang
01:04:23Dengan mata hitam pekat dan senyum mengerikan
01:04:25Arini berteriak histeris dan langsung terjatuh
01:04:29Farid yang mendengar jeritan itu segera berlari
01:04:32Begitu pula Busri
01:04:33Namun yang mengejutkan
01:04:36Busri tiba-tiba berlutut di depan cermin dan menangis
01:04:39Ia memohon ampun
01:04:40Mengatakan bahwa ia tak bermaksud membangunkan Sukma
01:04:43Bahwa ia hanya ingin membantu Sukma kembali
01:04:46Agar tubuh lamanya tak sia-sia
01:04:48Farid yang marah menarik Busri menjauh
01:04:52Arini memeluk anak-anaknya yang mulai menangis
01:04:54Mereka semua berkumpul di kamar dan mengunci diri
01:04:58Namun suara-suara dari luar semakin menakutkan
01:05:01Ketukan keras di dinding
01:05:02Derap kaki di loteng
01:05:04Dan suara tertawa cekikikan dari ruang tamu
01:05:06Yang membuat bulu kuduk merinding
01:05:07Malam itu berlangsung sangat panjang
01:05:10Keesokan harinya
01:05:12Farid akhirnya mulai percaya
01:05:14Ia menghubungi seorang paranormal
01:05:16Yang direkomendasikan oleh Pak Harjo
01:05:18Namanya Mbah Rahman
01:05:20Pria tua itu datang dengan tenang
01:05:23Membawa dupa, keris kecil, dan kitab doa
01:05:26Ia memandangi cermin itu dalam diam cukup lama
01:05:29Sebelum berkata
01:05:30Dia belum pergi
01:05:31Sukma masih ada di sini
01:05:34Ritual dilakukan malam harinya
01:05:37Asap dupa memenuhi ruang tamu
01:05:40Sementara Mbah Rahman membaca doa-doa dengan lantang
01:05:43Cermin besar ditutup dengan kain hitam
01:05:46Dan dikelilingi oleh garam dan bunga tujuh rupa
01:05:48Namun saat Mbah Rahman mulai membaca doa pengusiran
01:05:52Cermin tiba-tiba retak
01:05:53Dari balik retakan itu
01:05:55Terlihat jelas wajahnya
01:05:57Sukma yang menjerit
01:05:58Dan bayangan tubuh Arini yang perlahan tergantikan
01:06:01Cermin itu meledah hebat
01:06:03Serpihan kaca mencederai tangan Farid dan Mbah Rahman
01:06:06Tapi Arini yang paling parah
01:06:08Ia pingsan dengan luka di wajah seperti tercakar
01:06:11Saat sadar
01:06:12Ia tak ingat apapun
01:06:14Bahkan lupa nama anak-anaknya
01:06:15Ken dan Aira menangis memanggil-manggil ibunya
01:06:18Namun Arini hanya menatap kosong
01:06:21Menurut Mbah Rahman
01:06:22Sukma belum sepenuhnya terusir
01:06:24Jiwanya sempat masuk ke tubuh Arini
01:06:27Ritual itu mengusir separuhnya
01:06:30Namun setengah dari kekuatan Sukma kini telah melekat pada Arini
01:06:33Mereka memutuskan meninggalkan rumah itu
01:06:36Namun bahkan setelah pindah
01:06:38Arini belum sepenuhnya kembali
01:06:40Ia masih sering berbicara sendiri
01:06:43Menatap ke dinding
01:06:44Dan kadang bersenandung lagu Jawa yang tak pernah diajarkan padanya
01:06:48Film Sukma ditutup dengan adegan yang menggantung
01:06:51Arini duduk di depan kaca kecil di rumah barunya
01:06:53Menyisir rambut pelan
01:06:55Lalu menatap ke arah kamera dengan senyum samar
01:06:57Dan mata yang bukan lagi matanya
01:06:59Dari kisah tragis yang terungkap dalam film Sukma
01:07:02Kita disadarkan bahwa tidak semua luka sembuh hanya dengan waktu
01:07:05Ada luka yang membutuhkan keadilan
01:07:08Ada jiwa yang hanya bisa tenang jika kebenaran diungkapkan
01:07:11Sukma
01:07:13Bukan sekadar arwah gentayangan
01:07:15Ia adalah cermin dari rasa sakit yang dipendam terlalu lama
01:07:18Dari pengkhianatan yang tak pernah diberi ruang untuk pulih
01:07:21Film ini mengajarkan kepada kita bahwa
01:07:24Setiap manusia punya batas kesabaran
01:07:27Bahkan mereka yang terlihat diam bisa meledak saat keadilan tak kunjung datang
01:07:31Jangan abaikan suara hati seseorang
01:07:33Karena mungkin mereka sedang menjerit dalam diam
01:07:36Kebaikan dan kejujuran akan tetap bersinar
01:07:39Meskipun dikubur sedalam-dalamnya oleh kebusukan dan kebohongan
01:07:43Mari kita renungkan sejenak
01:07:45Sudahkah kita berlaku adil?
01:07:49Sudahkah kita jujur dalam setiap langkah kita?
01:07:52Atau justru kita menjadi bagian dari luka orang lain tanpa sadar?
01:07:55Untuk mengetahui bagaimana akhir kisah Sukma yang sesungguhnya
01:07:59Dan menikmati seluruh emosi yang dibangun dengan sinematografi luar biasa
01:08:02Saksikan film ini secara langsung di bioskop atau platform resmi pilihan kamu
01:08:06Terima kasih telah menonton!
Jadilah yang pertama berkomentar