Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menko Polhukam periode 2019-2024, Mahfud MD menyoroti pemerintah pasca demonstrasi yang digelar warga di beberapa daerah.

"Soal fasilitas DPR itu kan hanya salah satu pemicu. Banyak hal sebenarnya sekarang ini tertunda ketika masyarakat berteriak itu dibilang iya saja, terkadang malah diejek dengan sikap yang melucu tapi enggak lucu, itu sering sekali begitu," ujar Mahfud MD dihubungi pada, Minggu (31/8/2025).

Lebih lanjut, Mahfud mengatakan pemerintah tidak pernah mau mendengar aspirasi masyarakat.

Hal itu ia sampaikan atas kesimpulan usai bertemu para akademisi di Yogyakarta pada Mei-Juli lalu.

"Pada tanggal 29 mei kemarin dan tanggal 27 Juli kemarin di Yogya saya ketemu pada akademisi. Kesimpulannya begini, pemerintah ini enggak pernah mau mendengar masukan, terkadang tidak ngerti," ujarnya.

Baca Juga Ramai-Ramai Tolak Tunjangan Fantastis DPR, Imbas Demo di Sejumlah Daerah, Kebijakan Dievaluasi di https://www.kompas.tv/nasional/614855/ramai-ramai-tolak-tunjangan-fantastis-dpr-imbas-demo-di-sejumlah-daerah-kebijakan-dievaluasi

#mahfudmd #demonstrasi #demo

Video Editor: Noval

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/614862/mahfud-md-soroti-pemerintah-usai-warga-demo-di-sejumlah-daerah
Transkrip
00:00Tentu saja itu standar, baik internasional ya di dalam konvensi perserikatan bangsa-bangsa yang sudah kita ratifikasi maupun di dalam undang-undang dasar maupun di dalam undang-undang kita tentang kebebasan menyatakan pendapat.
00:17Itu sudah lengkap aturannya, tapi dalam praktek sering terjadi represi dari aparat terhadap pengunjuk rasa.
00:28Tetapi juga jangan nutup mata, di kalangan pengunjuk rasa sering ada penyusup-penyusup yang melakukan kekisruhan, keributan.
00:39Sehingga kedua pihak harus sama-sama waspadalah ketika akan melayani, untuk aparat yang akan melayani atau mengawasi aksi-aksi untuk menyampaikan pendapat.
00:52Dan untuk masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat atau unjuk rasa, itu supaya juga hati-hati.
01:00Jangan sampai terprovokasi oleh penyusupan.
01:04Oke.
01:05Itu adalah sebenarnya.
01:06Baik.
01:07Prof, tapi begini, pada saat Anda menjawab sebagai Menkopol Hukam sebenarnya juga kan pada saat unjuk rasa yang berakhir dengan kericuhan itu juga selalu ada penyusup-penyusup seperti itu.
01:17Yang ingin saya tanyakan, sebenarnya apa faktor utama yang menyebabkan penyusup-penyusup itu tetap ada dalam beberapa momen unjuk rasa di Indonesia, termasuk di ibu kota yang kemarin terjadi besar-besaran, Prof?
01:29Ya, karena memang ada kepentingan-kepentingan orang-orang atau kelompok tertentu yang ingin mengacau dan mengambil keuntungan.
01:39Tetapi pada umumnya munculnya penyusup ini tidak banyak sih kalau orang hati-hati.
01:45Sehingga misalnya kemarin yang rame dua hari, tiga hari terakhir ini kan sebenarnya gerakan itu organik.
01:53Saya tidak percaya bahwa itu ada dipengaruhi secara dominan oleh penyusup atau ditunggangi oleh dikendalikan orang luar.
02:03Itu yang nompang aja kebetulan yang melakukan unjuk rasa itu tidak waspada.
02:09Karena dimanapun dan dalam skala apapun setiap ada unjuk rasa seperti itu penyusupnya pasti ada.
02:16Bisa juga bentuknya operasi intelijen, bisa juga bentuknya memang orang punya kepentingan tertentu agar terjadi sesuatu dan sebagainya dan sebagainya.
02:25Itu selalu saja ada.
02:28Oke, nah saya ingin tanya juga dalam hal ini pemerintah lebih spesifik lagi sebenarnya.
02:34Menko Polkam ya sekarang namanya Menko Polkam bukan lagi Menko Polkam.
02:37Untuk mencegah ataupun seperti adanya infiltrasi, provokator atau kegagalan aparat keamanan.
02:45Bagaimana ini bisa diorkestrasi oleh seorang Menko Polkam sehingga penanganan demonstrasi ini tidak meruntuhkan kepercayaan publik terhadap aparat keamanan?
02:56Ya, kalau tanya bagaimana melakukan orkestrasi tentu saja Pak Menko Polkam yang sudah punya rencana dan cara-cara sendiri.
03:07Kalau waktu saya dulu, biasanya dua hari atau tiga hari sebelumnya bahkan seminggu sebelumnya kita sering rapat di waktu itu di kantor subden, kantor panglima TNI di Dikat Istana itu.
03:22Kita rapat untuk menteri, kapolri, semua menteri terkait jika ada demo.
03:26Lalu sehari sebelumnya biasanya kita sudah tahu tuh ini kekuatannya ada sekian orang, dari olkompo ini sekian orang, titik kumpulnya di sana, korlapnya ini biasanya sudah diketahui semua.
03:40Sehingga kita bisa kekuatan pengamanan kita dikonsentrasikan di mana misalnya, di DPR atau di mana.
03:51Kita juga memberitahu masyarakat jangan mengambil risiko masuk ke kelompok itu kalau dia bukan bagian dari pengunjuk rasa.
04:01Atau punya kepentingan yang sama dengan pengunjuk rasa dan tidak dikenali sebagai lawan dari pengunjuk rasa.
04:14Karena kalau di DPR ini lawan gitu, ini nyusup gitu, wah dia bisa dihajar rame-rame seperti dulu ada aktivis yang sampai ditelanjangi, dihajar habis-habisan itu kan.
04:26Sudah beritahu bahwa, beritahu ke masyarakat waktu itu bahwa konsentrasi kekuatan masa akan ada di sana.
04:34Oleh sebab itu hati-hati semua harus tertip gitu.
04:37Nah maka hal seperti itu.
04:40Saya ingin beranjak kepada konteks penyampaian pendapat dalam ruang demokrasi.
04:47Saya ingin minta pendapat terhadap Prof. Mahfud.
04:49Perbedaan mendasar antara demokrasi yang sehat dengan penyampaian pendapat damai versus demokrasi yang berlebihan, yang berujung pada anarki.
04:57Bagaimana Indonesia bisa menghindari yang terakhir saya sebutkan tadi?
05:01Menghindari yang terakhir.
05:02Pertama, pihak yang akan menerima aspirasi, taruhlah dalam ini pemerintah, juga harus terbuka.
05:11Harus terbuka untuk menerima itu dan akan betul-betul memfollow up, mendengar dan mengolah.
05:19Nah yang kemarin, maaf saya katakan, Alhamdulillah sekarang sudah diatasi oleh Pak Presiden.
05:27Yang kemarin itu kan akumulasi, karena setiap aspirasi itu sering diremehkan.
05:32Sudah ada beritahu ini tindak lanjutnya tidak ada.
05:35Sehingga lalu berakumulasi, masyarakat lalu berteriak, bikin caranya sendiri.
05:41Lalu terjadilah tragedi yang sangat memilukan, memakan korban nyawa banyak orang.
05:46Kalau empat meninggal itu kan sudah sangat banyak.
05:49Satu saja tidak boleh ada yang meninggal di dalam sebuah unjuk rasa.
05:54Oke.
05:55Lalu dengan adanya sikap pemerintah melalui Presiden Prabowo Subianto hari ini,
06:01Prof. Mampu melihatnya bagaimana?
06:02Karena tuntutan-tuntutan yang terekskalasi menjadi sebuah demo yang masif,
06:06unjuk rasa yang masif kemarin itu kan sudah juga sebagian dikatakan oleh Presiden hari ini akan dieliminasi.
06:12Seperti misalnya tujangan DPR yang terlalu fantastis akan dieliminir.
06:16Kunjungan kerja ke luar negeri akan juga dieliminir, akan juga dibatasi.
06:21Lalu juga pencopotan atau penonaktifan anggota-anggota DPR yang dinilai terlalu arogan juga sudah dipenuhi.
06:28Nah bagaimana? Langkah ini sudah bisa meredam apa yang terjadi belakangan ini?
06:33Ya, menurut saya untuk jangka pendek.
06:35Jadi ini kan harus ada jangka pendek.
06:37Jangka pendek itu menghentikan tindak kekerasan, penyerahan, dan kerusuhan dulu.
06:43Saya kira jalan keluarnya sudah disampaikan oleh Presiden.
06:46Lalu jangka yang dalam lebih panjang sedikit, ini langsung mengolah aspirasi masyarakat.
06:55Aspirasi masyarakat itu kan soal fasilitas DPR itu kan hanya salah satu pemicu.
07:00Banyak hal sebenarnya yang sekarang ini tertunda yang ketika masyarakat berteriak itu dibilang iya-iya saja,
07:07dibilang terkadang malah diejek dengan sikap yang seperti mau melucu tapi tidak lucu gitu.
07:17Nah, itu kan sering sekali terjadi begitu.
07:20Sehingga, begini saya beritahu, pada tanggal 29 Mei kemarin dan tanggal 27 Juli kemarin di Jogja,
07:30saya bertemu dengan para akademisi di Jogja.
07:33Kesimpulannya begini, pemerintah ini tidak pernah mau mendengar masukan.
07:36Terkadang tidak ngerti gitu.
07:40Ada beberapa teman dari UGM itu sudah disampaikan resmi,
07:43iya-iya tapi ternyata tidak ngerti.
07:46Karena tidak ada follow up-nya.
07:47Ternyata juga mungkin tidak sampai ke Presiden gitu.
07:50Sehingga Pak Presiden itu laporannya lalu masih mentah atau dibuat-buat.
07:55Lalu, apa, umpan baliknya gitu, atau follow up dari masukan-masukan itu tidak ada.
08:04Sehingga kami waktu itu ketika bertemu di Rumah Makan Sesanti dan di Hotel Lamba Rukmo yang kedua itu,
08:12ya sudah lah Pak gitu, sudah Presiden dan pemerintah ini tidak usah kita beri masukan.
08:16Nanti akan menghadapi masalah sendiri gitu.
08:20Seperti yang dulu itu, ketika di bulan-bulan Juni gitu ya,
08:29tahun, bulan Agustus tahun 2004 yang terjadi kerusuan,
08:34ke apa namanya, Garuda Biru itu.
08:38Itu kan kita sudah ngatakan sebelumnya,
08:41kalau Anda mumpung masih bisa silahkan berbuat apapun,
08:45tapi suatu saat Anda akan mengalami menabrak batu sendiri.
08:49Nah, terjadilah peristiwa Agustus tanggal 21 itu.
08:53Yang sekarang ini kami juga di UGM kemarin,
08:56teman-teman UGM, saya tidak mengatasnamakan UGM ya,
08:59karena semuanya di luar.
09:01Juga begitu Pak, kami sudah sampaikan masukan ke sini, ke menteri ini, ke menteri ini,
09:06tapi apa, dari pemerintah itu tidak ada.
09:09Cuma ditampung, dan seperti tidak ngerti.
09:12Ya sudah, kita bilang, kita sudah lah,
09:14tidak usah terlalu banyak kritik,
09:16kita sekarang diskusi-diskusi ilmiah saja
09:19untuk memberi kesadaran berbangsa dan bernegara.
09:23Nah, ini akan menghadapi akarta bentuk tembok sendiri.
09:26Nah, sekarang terjadi tembok itu.
09:28Tidak lama kan?
09:29Dari bulan Mei, Juli, lalu ini Agustus terjadi.
09:32Kita sudah menduga,
09:33karena terjadi akumulasi dalam banyak hal yang tidak ditanggapi,
09:37dan itu menyebabkan semuanya elemen yang punya kepentingan itu berkumpul
09:41dalam, apa namanya, satu gerakan.
09:44Lalu mungkin ada yang menunggangi.
09:46Nah, oleh sebab itu demokrasi itu harus memberi saluran yang proporsional
09:50terhadap setiap aspirasi itu.
09:53Bahwa ada penumpang gelap mungkin, ya pasti ada lah.
09:55Tetapi, yang sebagian besar itu organik.
09:58Kalau penumpang gelap itu, ya gerakan sekecil apapun adalah yang berkepentingan.
10:03Itu biasa saja.
10:04Ya, intinya yang Anda mau katakan, ya jangan pemerintah ini, jangan tondef gitu ya.
10:10Jangan tidak, sedikit saja aspirasi harus didengar begitu.
10:14Daripada menjadi bola salju nanti.
10:16Baik, Prof, saya ada yang menarik juga ini.
10:18Soal tuntutan masalah atau publik, soal RUU perampasan aset.
10:22Ini di periode Anda juga sempat dibahas pada saat Anda menjadi man-kumpul hukum.
10:26Hingga saat ini belum juga disahkan.
10:28Dan ini bisa juga menjadi bola salju kembali jika memang tidak dibahas.
10:33Karena kita tahu publik juga marah dengan RUU perampasan aset yang tidak kunjung disahkan ini.
10:39Dan akhirnya melakukan tindakan-tindakan anarkistis yang merugikan juga.
10:43Merugikan publik sendiri mengklaim bahwa barang-barang ataupun harta yang bukan haknya itu diambil oleh publik ini ya.
10:50Bahasa halusnya seperti itu.
10:53Bagaimana Anda menilai RUU perampasan aset yang hingga saat ini belum disahkan juga, Prof?
11:00RUU perampasan aset itu adalah aspirasi yang paling kencang disuarakan oleh semua elemen pejuang-pejuang demokrasi.
11:09Nah oleh sebab itu, tadi sebelum ini saya bertemu dengan eksponen guru besar, sebuah alumni organisasi,
11:18organisasi saswa ini alumni-nya.
11:22Itu begini, ketika kita mendengar Pak Prabowo sudah menyampaikan jalan keluar yang baik tadi,
11:29lalu harus diikuti dengan langkah-langkah yang cepat berikutnya.
11:33Kenapa itu? Satu, pengesahan rancangan undang-undang perampasan aset.
11:38Karena dulu rancangan-undang perampasan aset itu sudah lama di DPR dan sudah jadi dalam pembahasan di tingkat 1.
11:46Tinggal dibawa ke paripurna.
11:50Macet di sana, lalu Pak Jokowi kirim surat.
11:52Saya yang menyampaikan surat itu ke DPR bertanggal 5 Mei agar segera diundangkan, dituntaskan.
12:06Itu surat Pak Jokowi tanggal 5 Mei gitu.
12:10Terus macet lagi, tidak ada tanggapan.
12:12Pak Jokowi mengatakan, Pak Mabot saya mengundang pimpinan partai.
12:16Karena sebenarnya kuncinya kan pimpinan partai setuju di DPR itu akan relatif mudah gitu.
12:21Kalau pimpinan partai tidak setuju juga, ya terpaksa saya nanti akan mengeluarkan perpu.
12:26Ini kata Pak Jokowi waktu itu.
12:28Tapi terus ada agenda politik konstitusional, jadwal gitu.
12:34Lalu itu tertunda-tertunda.
12:36Sampai akhirnya saya pergi dari sana.
12:39Sampai saya mengundang.
12:41Itu belum selesai.
12:42Tapi sekarang Pak Prabowo kan bisa.
12:46Melanjutkan itu.
12:47Kalau nggak, Pak Prabowo itu sangat kuat sekarang.
12:52Kalau apapun diselesaikan dengan cepat.
12:54Apalagi cuma kayak adin.
12:55Dibuat aja, pasti.
12:57Bulan berikutnya sudah setuju ya di DPR.
13:00Mudah-mudahan. Amin.
13:01Nah, dari diskusi kita malam hari ini intinya,
13:04sekecil apapun aspirasi harus diserap gitu ya.
13:08Jangan tone deaf.
13:09Dan ruang-ruang demokrasi, sekecil apapun ruangnya di iklim demokrasi,
13:13saya percaya bahwa Indonesia masih memiliki ruang diskusi yang luas,
13:17sehingga aspirasi-aspirasi publik bisa ditampung,
13:20dan bisa diwujudkan oleh pemerintah.
13:22Terima kasih, Prof. Mahfud,
13:24sudah berdiskusi di Sampai Namun Jamalong hari ini.
13:26Terima kasih. Terima kasih, Pak Prabowo.
13:26Sampai jumpa lagi.
13:27Assalamualaikum.
13:28Sampai jumpa lagi.
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan