- 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Tunjangan fantastis untuk anggota DPR membuat publik meradang, karena diberikan saat masyarakat tengah kesusahan dan terhimpit ekonomi yang sulit. Benarkah wakil rakyat tak peka dengan kondisi rakyat saat ini?
Seperti apa kinerja DPR dengan tunjangan yang jumbo? Benarkah kenaikan tunjangan akan mendongkrak kinerja para wakil rakyat?
Rosianna Silalahi mengundang Anggota Komisi II DPR Fraksi Golkar, Ahmad Irawan dan ketua BEM UNPAD tahun 2022 yang juga kreator konten #LawanButaPolitik, Virdian Aurellio.
Saksikan dalam ROSI eps Tunjangan Jumbo, Kinerja Loyo? Tayang Kamis, 28 Agustus 2025 pukul 20.30 WIB di Kompas TV.
#demo #tunjangan #dpr
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/614238/full-demo-tunjangan-fantastis-kinerja-dpr-maksimal-rosi
Seperti apa kinerja DPR dengan tunjangan yang jumbo? Benarkah kenaikan tunjangan akan mendongkrak kinerja para wakil rakyat?
Rosianna Silalahi mengundang Anggota Komisi II DPR Fraksi Golkar, Ahmad Irawan dan ketua BEM UNPAD tahun 2022 yang juga kreator konten #LawanButaPolitik, Virdian Aurellio.
Saksikan dalam ROSI eps Tunjangan Jumbo, Kinerja Loyo? Tayang Kamis, 28 Agustus 2025 pukul 20.30 WIB di Kompas TV.
#demo #tunjangan #dpr
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/614238/full-demo-tunjangan-fantastis-kinerja-dpr-maksimal-rosi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Terima kasih.
00:30Hari ini mereka digaji dengan tinggi, tapi kebijakan-kebijakan yang harusnya pro terhadap rakyat, dia tidak lakukan.
00:36Maka hari ini kita konkretkan, kita yakinkan, kita datang ke sini dibuka.
00:41Namun kita lihat bersama-sama, kita dibenturkan dengan pihak kepolisian.
00:49Saya sampaikan tidak ada kenaikan gaji.
00:52Yang ada memang hanya tunjangan perumahan yang sudah dianggarkan sejak tahun lalu.
00:57Itu karena rumah dia difungsikan oleh sekret negara.
01:03Jadi anggota yang baru tidak mendapat lagi rumah dinas dan diberikan tunjangan rumah.
01:09Setelah bulan Oktober 2025, anggota DPR itu tidak akan mendapatkan tunjangan kontrak rumah lagi.
01:23Nah, jadi itu diangsur dari Oktober 2024 sampai Oktober 2025.
01:28Jadi setahun, setiap bulannya 50 juta yang akan dipakai untuk biaya kontrak selama 5 tahun.
01:32Jadi nanti jika teman-teman melihat daftar tunjangan di bulan Oktober 2025, itu yang 50 juta sudah sudah tidak ada lagi.
01:43Selamat malam, selamat bergabung di program ROSI.
01:57Senin 25 Agustus dan Kamis 28 Agustus demonstrasi di depan gedung DPR dengan tuntutan yang sungguh bertolak belakang.
02:04Kemarin soal kecaman tentang tunjangan dan gaji anggota DPR yang dianggap terlalu tinggi.
02:11Lalu ada demo buruh yang menuntut gaji buruh naik.
02:14Dua unjuk rasa yang mencerminkan kesenjangan pendapatan antara pejabat dan pekerja.
02:21Malam ini saya mengundang dua anak muda.
02:24Satu di parlemen, satu di luar parlemen.
02:26Anggota Komisi 2 DPR Fraksi Golkar, Ahmad Irawan dan Ketua BEM 4 tahun 2022 yang juga kreator konten lawan buta politik, Firdian Aurelio.
02:39Terima kasih sudah di rausi, Bung Irawan dan Bung Firdian.
02:45Hari ini kita melihat unjuk rasa dari para buruh untuk minta kenaikan UMR.
02:51Hari Senin lalu Anda dan anggota DPR dikecam karena gaji dan tunjangannya terlalu fantasis.
02:58Apakah anggota DPR juga merasa bahwa ada kesenjangan yang terlalu tinggi antara gaji Anda dan upah bagi para pekerja atau para buruh?
03:08Kalau terkait dengan aksi demonstrasi yang kemarin dan hari ini, satu bahwa hal tersebut merupakan konsekuensi dari sistem demokrasi yang kita anut,
03:21yang di dalamnya tentu ada hak menyampaikan pendapat, hak untuk menyampaikan tuntutan, hak berserikat, berkumpul, terus kebebasan berekspresi.
03:34Jadi tentu itu satu kegiatan yang juga kami apresiasi dan itu sesuatu yang normal dalam satu negara demokrasi.
03:44Dari aspirasi buruh tentang UMR mereka dan betapa perbandingannya atau disparitasnya itu 42 kali dibandingkan gaji anggota DPR,
03:56merasa kasian gak sih bahwa gaji buruh itu masih rendah sekali?
03:59Itu yang saya mau lanjutkan tadi. Bahwa sebenarnya terkait dengan gaji terus tunjangan, bahwa pertanyaan terkait dengan hal tersebut ada pertanyaan yang sangat sensitif,
04:12itu bagian dari empati kami terhadap publik sehingga kalau saya ditanya mengenai jumlah yang kami terima, itu saya tidak berani untuk menjawabnya.
04:22Tetapi kemudian, yang gak berani itu apanya?
04:26Terkait dengan jumlahnya, karena setiap orang pasti akan menilai dengan berbeda-beda terkait dengan apa yang kami diberikan oleh negara kepada kami,
04:37sesuatu yang menurut kami harus kami syukuri, sudah kami syukuri.
04:40Yang gak Anda berani jawabnya karena sensitif itu jumlah yang Anda terima atau seberapa besar itu sebanding dengan kinerjanya atau memaknai gaji sebesar itu,
04:52yang mana yang Anda gak berani ngomongnya?
04:54Jumlah gajinya.
04:56Jumlah gajinya, kan sudah disebutkan itu bisa lebih dari 230 juta per bulan.
05:04Gak sampai segitu, 230 juta gak sampai segitu.
05:08Gak sampai ke Anda seperti itu?
05:10Tidak lebih dari 230 juta sebulan?
05:14Gak ada, itu salah itu.
05:15Jadi berapa?
05:16Nah itulah saya bilang, pertanyaan mengenai jumlah gaji adalah pertanyaan yang sensitif.
05:21Kalau gaji itu hanya sekitar 16 juta.
05:25Gaji pokoknya?
05:26Gaji pokoknya, selebihnya adalah tunjangan-tunjangan yang sekali lagi bahwa tunjangan-tunjangan tersebut kami gunakan
05:31dalam menjalankan peran kami sebagai anggota DPR.
05:35Bung Irawan, mengapa Anda merasa ini terlalu sensitif untuk dinyatakan?
05:40Karena bagaimanapun juga Anda satu, Anda wakil rakyat, Anda pejabat publik,
05:44dan gaji Anda itu dari APBN dan pajak masyarakat Indonesia.
05:49Anda berkewajiban untuk menyatakan ini dengan terang-benderang.
05:52Karena kan sudah terbuka juga, tidak perlu dari mulut saya langsung gitu.
05:58Tetapi yang ingin saya sampaikan bahwa apa yang kami terima itu juga kembalinya ke masyarakat,
06:05kembali ke rakyat dalam rangka menjalankan peran-peran kami.
06:09Misalnya peran sebagai anggota DPR, kami menjalankan fungsi agregasi, segregasi,
06:14terus kemudian menyerap aspirasi.
06:16Apa yang kami terima tidak pernah kami terima secara utuh, kami gunakan untuk berinteraksi dengan masyarakat.
06:24Kita akan masuk ke soal bagaimana kecaman publik untuk gaji dan tunjangan yang diterima oleh anggota DPR.
06:31Saya mau ke Firidian dulu.
06:33Ada dua demonstrasi dengan dua message yang sangat kontras tentang gaji DPR dan tunjangan DPR dan UMR.
06:39Anda sendiri melihat bagaimana disparitas ini memang mengganggu rasa keadilan?
06:43Iya Mbak. Pertama kalau tadi Mas Irawan bilang, ini adalah konsekuensi logis daripada demokrasi.
06:50Yaitu hak untuk bicara berserikat berpendapat turun aksi di jamin negara.
06:55Tapi saya ingin menyampaikan dulu bahwa kemudian hari ini ada 400 lebih orang yang ditangkap
07:01dan setengahnya adalah usia di bawah 17 tahun atau 18 tahun gitu.
07:07Karena ujung rasa hari Senin 25 Agustus lalu?
07:09Betul. Ini artinya hak tadi gak dijamin oleh negara.
07:15Padahal kemudian yang dituntut oleh teman-teman yang turun maupun yang tidak turun,
07:20melalui media sosial misalnya berbicaranya,
07:22adalah sesuatu yang juga menjadi hak kami untuk tahu.
07:25Tadi misalnya transparansi.
07:26Hari ini kita gak lagi mau denger DPR atau pemerintah gitu ya,
07:34bicara kata-kata tapi gak walk the talk gitu loh.
07:37Jadi empati, makanya kami gak mau sebut,
07:40udahlah gak usah dibahas, makanya kita gak mau bikin sakit hati gitu.
07:45Ya faktanya kalau misalnya gak mau bikin masyarakat sakit hati,
07:48ya jangan membuat tunjangan gaji fasilras fantastis di tengah ekonominya begitu buruk.
07:54Jadi Anda menggarisbawahi kalau tidak mau bikin masyarakat sakit hati,
08:00ya jangan dong nerima gaji dan tunjangan yang sangat fantastis itu.
08:03Betul. Saya mau mencoba mention.
08:06Apalagi kalau dikaitkan dengan UMR para buruh.
08:08Betul, Mbak.
08:0942 kali lipat kalau dilihat dari perbandingannya.
08:12Upah Minumum Jakarta saja yang bisa kita anggap lebih mahal dibandingkan rata-rata.
08:17Provinsi lain 5,39 juta per bulan itu 42 kali lipat dari anggota DPR.
08:23Ini sumbernya adalah fitra, transparansi anggaran 230 juta per bulan, 2,8 miliar per tahun.
08:29Kalau dilihat dari APBN maka menyerap sekitar 1,6 triliun untuk 580 anggota DPR.
08:35Salah hitung itu.
08:36Anda mengatakan salah hitungnya di mana?
08:38Karena realnya tidak seperti itu yang kami terima.
08:43Tidak seperti itu.
08:45Jauh lah. Jauh dibawa dari 230 juta seperti data yang disampaikan oleh fitra.
08:50Kalau misalnya itu tidak diterima seperti itu, apakah memang tidak sampai ke rekening Anda sebagai anggota DPR?
08:56Atau pengeluaran Anda yang memang melampaui dari apa yang diterima sebagai anggota DPR?
09:00Kalau itu nggak mungkin.
09:01Karena sistem transfernya kan langsung online ke rekening pribadi masing-masing anggota DPR.
09:06Sehingga pasti kami tahu apa yang kami terima dari negara.
09:10Sehingga itu juga saya harus klarifikasi apa yang disampaikan oleh fitra dalam forum malam ini.
09:17Oke. Anda tidak mau menyebutkan berapa jumlahnya?
09:20Bukan saya tidak mau menyebutkan.
09:22Telah menjadi pengetahuan publik dan rame kompas juga memberitakan gitu.
09:27Gaji segitu. Tunjangan rumah kan sudah terbuka.
09:32Ada berapa? 50 juta.
09:3350 juta per bulan.
09:36Sekitar itu.
09:37Nah terus kemudian yang diributkan juga itu apa?
09:41Tunjangan beras.
09:42Berapa tuh? 12 juta.
09:45Tapi saya ingin menyampaikan jangan dimanai bahwa 12 juta itu untuk beli beras sebulan.
09:51Jadi nggak seperti itu.
09:51Misalnya kalau kita ketemu dengan jejari politik partai pada saat kami menyerap aspirasi kan kami ngomong.
09:57Masuk ke tunjangan dulu jangan ternyata tidak sampai 230 juta.
10:01Oke. Anda tidak mau menyebutkan berapa sih kira-kira yang Anda dapat per bulan sebagai anggota DPR?
10:06Pertanyaannya sensitif banget ini.
10:09Di atas 200 juta?
10:10Nggak. Jauh, jauh.
10:12Jauh?
10:12Jauh.
10:13Di bawah 100 juta?
10:14Nggak mungkin.
10:14Nggak mungkin.
10:15Oke.
10:15Kalau gaji udah pasti.
10:18Yang menambah itu adalah tunjangan tadi itu.
10:21Anda tidak mau karena disebut sensitif bukan 230 juta, tidak di bawah 100 juta, jadi di atas 150 juta?
10:29Kurang.
10:30Masih kurang?
10:30Kurang.
10:31Anda percaya nggak?
10:32Nggak sih mbak. Inilah DPR kita mbak.
10:34Ini nggak sekali dua kali kemudian ketika publik membawa, dianggaplah publik membawa data yang salah.
10:39Misalnya konteksnya tadi Fitra.
10:41Tapi nggak mau dibuka transparansi berapa detailnya.
10:42Kedua misalnya ketika ngomong undang-undang, ini pasalnya nggak ada ini.
10:47Ya draftnya mana nggak diundang, nggak di upload to website.
10:49Kemudian lagi-lagi hak yang harus ditagi oleh publik soal transparansi, soal good governance, akuntabilitas.
10:54Ya kita nggak bisa dapetin ujung-ujung kita yang disalahin.
10:56Kita sebagai, ya depan-ujung karyawan kita mbak.
10:59Kita bayar mereka untuk kerja karyawan kita kok.
11:01Bukan tidak menjawab dalam arti bahwa kami tidak mau menyebutkan angka.
11:05Tapi kemudian kami ditutup empati di tengah tadi kesulitan yang mbak Rosy sampaikan kesulitan ekonomi.
11:13Terus ada gap pendapatan antara misalnya buru yang dibandingkan buru dengan DPR.
11:18Meskipun kita ingin mengatakan bahwa ya mohon maaf nanti dianggap keliru lagi.
11:23Perbandingan yang tidak, mohon maaf.
11:26Epo to Epo.
11:28Tidak sebanding?
11:29Tidak.
11:29Maksudnya antara gaji-gaji anggota DPR dengan buru?
11:33Misalnya kan.
11:34Sebenarnya tidak apa-apa.
11:35Tidak apa-apa tidak sama.
11:37Karena bagaimanapun juga Anda wakil rakyat, Anda punya beban kerja yang jauh lebih besar.
11:40Tetapi disparitasnya yang dianggap terlalu besar.
11:45Dan itu kalau dibandingkan dengan anggota DPR atau wakil rakyat di negara-negara lain,
11:49tidak sampai double digit seperti apa yang terjadi di Indonesia.
11:53Gajinya juga kan sama aja.
11:55Malah gaji kita jauh di bawah negara-negara yang disebutkan misalnya Sweden.
11:58Gaji kan 16 juta.
11:59Anda selalu berpatokan pada 16 juta.
12:02Jadi seperti memang, kasihan loh anggota DPR ini cuma 16 juta.
12:06Tunjangannya yang gede tapi tidak sampai 150 juta ya?
12:08Nah itu pun tunjangan.
12:10Saya bilang tadi, tunjangan yang digunakan dalam rangka untuk mengoptimalkan peran kita.
12:15Peran sebagai anggota DPR gitu.
12:18Dan juga peran kita sebagai anggota DPR yang memiliki dapil dan memiliki basis konstituasi.
12:25Kemudian yang menjadi problem.
12:26Saya mungkin mencoba memakai logika DPR.
12:28Mencoba memakai logika DPR.
12:31Dimana kami sama-sama tahu bahwa biaya politik mahal.
12:35Dan mungkin ada upaya tiap dewan untuk membalikan keuangan saat kampanye misalnya.
12:41Kemudian tunjangan-tunjangan kayak apa?
12:43Kehormatan.
12:45Tunjangan istri suami 420 ribu rupiah.
12:48Betul ya?
12:49Tunjangan anak 160 uang sidang paket 2 juta.
12:52Tunjangan jabatan 18 juta ketua.
12:5415.600 wakil ketua.
12:569,7 anggota.
12:57Tunjangan beras 12 juta.
12:59Tunjangan kehormatan 6,9 untuk ketua.
13:026.450.000 untuk wakil ketua.
13:055,58 juta untuk anggota.
13:07Tunjangan komunikasi 16 juta.
13:0816 juta untuk wakil ketua juga
13:1015 juta untuk anggota
13:12Jadi malah angka-angka itu aku malah bingung
13:14Gak sesuai dengan
13:17Yang apa namunnya
13:19Beredar?
13:21Enggak, jauh jauh jauh
13:24Kurang dari 150 juta tapi di atas 100
13:26Tetapi itu adalah gabungan antara gaji dan tunjangan
13:28Yang juga kami gunakan untuk kepentingan kami
13:30Dalam menjalankan peran kami sebagai anggota DPR
13:33Mau masuk sih mbak
13:34Bagi saya kemudian
13:35Satu tadi kita bicara transparansi
13:38Kalau memang tadi
13:39Misalnya Mas Hirawan mengatakan
13:41Banyak anggota Dewan yang misalnya menggunakan tunjangan beras itu bukan buat dia
13:44Tapi misalnya buat masyarakat
13:46Ya artinya gak transparan
13:48Apa yang beredar di media sosial
13:49Harusnya jelaskan aja ini tunjangan buat ngerawat basis
13:53Misalnya situen gitu
13:54Biar kemudian gak usah tunjangan kehormatan
13:56Apa yang kemudian menjadi satu rasionalisasi gitu
13:58Di tengah DPRnya
14:00Misalnya dari 11 lembaga politik
14:02Sudah 10 urutan dari 11 gitu misalnya
14:04Survei kepercayaan selalu paling rendah
14:06Kedua bagi saya di luar transparansi mbak
14:08Adalah
14:09Mau kemudian sekarang detailnya apapun ya
14:11Mbak detailnya mau udah sampai detail sampai uang kasnya segala macem
14:15Kalau saya tetap menolak
14:17Hari ini DPR diberikan tunjangan besar
14:21Kenapa Anda nolak?
14:22Karena performa DPRnya yang belum baik
14:24Nah itulah yang kami katakan bahwa
14:27Penolakan publik atau diskusi publik protes publik terhadap gaji dan tunjangan DPR
14:32Itu tidak hanya mengenai soal nominal angka
14:35Tapi juga terkait dengan ekspektasinya terhadap kinerja DPR
14:38Dan memang itu telah disadari oleh DPR
14:40Bahwa salah satu tantangan terbesar kami adalah terkait dengan trans publik gitu
14:45Itulah yang dibuat
14:47Kalau ada trans publik
14:49Seberapapun gaji DPR diberikan oleh negara
14:52Pasti masyarakat akan regowo
14:54Persoalannya naik sedikit apapun diberikan kepada anggota DPR
14:58Masyarakat itu gak percaya
14:59Karena memang tidak ada trans
15:01Itu yang tadi dimaksudkan oleh Virijian
15:03Itulah yang kemudian saya mengatakan bahwa ada dua hal sebenarnya yang terjadi kaitannya dengan trans publik ini
15:10Satu bahwa memang publik tidak mengikuti day to day apa yang dilakukan oleh DPR
15:16Karena semua aksesnya terbuka misalnya rapat-rapat dan lain sebagainya
15:19Yang kedua adalah memang a priori sejak awal bahwa memang DPR tidak bisa
15:24Lembaga yang tidak bisa dipercaya
15:26Kalau saya mau masuk gini sih Mbak
15:27Pertama, kalau memang banyak anggota DPR menyadari bahwa hari ini banyak yang belum perform
15:34Sehingga gaji naik, tunjangan naik itu dikritisi
15:36Maka bukan cuma cukup sadar
15:38Tapi dia perlu pembenahan sistem
15:39Perlu apa?
15:40Pembenahan sistem
15:41Sesederhana ya misalnya
15:43Ini kita misalnya bicara soal
15:45KPI yang clear
15:46Semakin perform
15:48Ini saya ingat mas
15:50Kemarin misalnya saya baca datanya
15:53Tingkat kehadiran rapat waripurna
15:56Terus sampai 2025 ini
15:5850% paling tinggi 63%
16:01Dikatakan, oh iya gak kita kan gak rapat terus
16:03Kita kan didapil segala macem
16:04Itu jadi argumen yang gak bisa dikit mas
16:07Misalnya kalau misalnya kita kerja di mana-mana gitu ya
16:10Kehadiran rapat itu jadi akan matters
16:11Publik hari ini gak bisa tahu juga ketika yang bilang
16:14Kita kan kedapil
16:15Apakah benar?
16:16Satu misalnya KPI Mbak
16:17Kedua misalnya prolegnas
16:19Saya baca datanya dari hukum online dan segala macem
16:22Misalnya dari tahun 2024 sebelumnya
16:26Itu proyeknya
16:27Jumlah produk undang-undangnya sedikit
16:29Yang diundangkan 9 gitu
16:30Undang-undang yang kemudian diinginkan publik
16:33Seperti masyarakat hukum adat
16:35PPRT nunggak belasan tahun
16:37Perampasan aset
16:38Tapi undang-undang yang ditolak masyarakat
16:40Disahkan diam-diam di hotel mewah
16:42Undang-undang TNI
16:43Cipta Kerja
16:43KPK
16:44KUHP
16:45IKN
16:45BUMN
16:46Disahkan
16:47Bagaimana publik kemudian tidak marah gitu
16:48Makanya kalau misalnya tadi Mas Irawan bilang
16:50Ya ini karena publiknya gak ngikutin
16:52Karena banyak undang-undang yang harusnya bisa dilakukan dengan cepat
16:56Sesuai dengan apa yang menjadi aspirasi rakyat
16:58Itu justru tidak pernah dilakukan
16:59Tetapi aspirasi
17:01Tetapi undang-undang yang hanya untuk menentingkan oligarki
17:04Itu bisa diselesaikan dengan cepat dan diam-diam
17:06Jadi pertanyaannya
17:07Apakah DPR pantas bergaji besar?
17:10Terima kasih Anda masih di program Rosi
17:14Malam hari ini kita akan bicara soal tunjangan DPR yang dinilai fantastis
17:18Dan keadilan publik
17:20Saya masih bersama dua anak muda anggota Komisi 2 DPR
17:23Fraksi Golkar Ahmad Irawan dan Ketua BEM UNPAT tahun 2022
17:28Yang juga kreator konten lawan buta politik Firdian Aurelo
17:33Saya mau kembali
17:34Jadi menurut Anda gak pantas anggota DPR diberikan tunjangan besar?
17:38Gak pantas mbak
17:39Padahal mereka banyak loh pekerjaannya
17:41Ya kalau ngomongin
17:42Nah ini mbak
17:43Kemudian selain disparitas angka ya
17:47Misalnya tadi ada
17:48Kalau misalnya di Singapura tuh gaji DPR 170 jutaan
17:52WMRnya Singapura tuh 110 jutaan gitu
17:55Rasionya kecil
17:56Kalau di Indonesia tuh rasionya bisa tadi mbak
17:58Puluhan kali lipat gitu ya
17:59Tapi ada disparitas soal empati tadi
18:02Kalau Mas Irun mengatakan
18:03Misalnya ada satu anggota dewan yang mengatakan
18:05Ya Bintar Rosnayan tuh macet
18:08Emang dipikir rakyat yang di Rangkas Bitung ke Palmerah
18:11Terus Bogor ke Gondang Dia
18:13Emang gak kena macet tiap hari gitu
18:15Terus misalnya bicara soal
18:17Ya kita ini juga perlu beli listrik segala macem
18:20Emang tiap hari rakyat gak denger token bunyi-bunyi dan segala macemnya
18:23Ada disparitas empati Mas
18:25Apalagi kalau misalnya ada data yang membuka Mas
18:28Misalnya gaji WMR Jakarta 5, sekian
18:30Itu 1 juta sampai 2 juta bisa habis hanya untuk akomodasi
18:33Konteksnya misalnya kosan, mobil, motor, TJ, dan lain sebagainya
18:37Disinilah kemudian masyarakat gak akan pernah bisa mengerti
18:40Kalau performasi begini kita masyarakat kan kayak
18:42Ya lagu juga susah
18:43Gak rela ya kalau
18:43Kenapa sih masyarakat jadi singkatnya
18:46Mengapa Anda katakan melihat apa yang menjadi percakapan publik
18:49Gak rela anggota DPR itu dapat gaji dan tunjongan yang besar
18:53Pertama saya mau mulai dari komunikasi publiknya
18:58Yang kemudian malah menantang balik rakyat
19:01Saya tahu mungkin bukan masih rawan gitu ya
19:04Tapi teman-teman di Dewannya
19:05Kalimat-kalimat seperti mengatakan
19:07Maaf ya Mbak, tolol gitu
19:09Kemudian mengatakan kami ini artis bukan DPR
19:12Eh kami ini selain DPR juga artis
19:15Jadi biasa bikin konten
19:17Iya terus kemudian mengatakan
19:18Minta harus selain macet
19:19Ada lagi mengatakan MenQ menghasihani kami
19:22Di tengah ekonomi lagi buruk
19:23Ini stepon-stepon yang saya rasa gak perlu
19:25Apalagi mengatakan tolo
19:26Saya mau ngomong begini
19:28Kalau misalnya saya bisa ngomong ke pejabat publik
19:31Bahaya
19:31Di level paling tinggi kalau perlu
19:33Saya kan mengatakan
19:34Dirimu sebagai orang yang kita gaji nih
19:37Dari ruang rakyat
19:38Bahkan perlu berpikir
19:40Dirimu tuh bisa aja bubar gitu loh
19:42Karena kalau menurut teori Jean-Jacques Rousseau
19:44Dikatakan bahwa kontrak sosial negara itu hadir ke konsensus
19:47Atau kehendak umum
19:49Kalau masyarakat pengen bubar, bubar gitu kasarnya
19:51Gak usaha harus mempertahankan
19:53Tapi kan hari ini kita gak ngarah ke sana sebetulnya
19:54Itu cuma ekspresi kemarahan
19:56Yang soal DPR bubar
19:57Karena saking marahnya
19:59Kesel dengan anggota DPR
20:01Di tengah himpitan ekonomi saat ini
20:02Di tengah anak-anak muda
20:06Milenial
20:07Yang gak bisa punya rumah karena mahal
20:09Tapi kemudian anggota DPR dengan gampangnya
20:11Dapat tunjangan rumah
20:12Betul
20:12Karena gak dikasih rumah saat ini
20:15Tetapi memang
20:16Rasa tidak rela
20:19Publik
20:20Anggota DPR dapat tunjangan tinggi itu nyata adanya
20:23Bung Irawan
20:25Apakah Anda gak merasa ini introspeksi?
20:28Anda perlu introspeksi?
20:29Ya kami sangat merasakan
20:31Apa yang menjadi harapan
20:35Tuntutan
20:36Kelukesah
20:37Bahkan mungkin
20:38Kemarahan publik terhadap
20:40Kami di DPR
20:42Itulah tadi yang saya sampaikan
20:44Bahwa sebenarnya
20:45Tuntutan terkait dengan
20:47Kemarahan
20:48Kelukesah mengenai angka
20:50Gaji dan tunjangan yang diterima oleh DPR
20:53Tidak hanya sekedar nominal
20:54Tapi juga harapan
20:55Salah satu harapan yang tadi disampaikan
20:58Bisa disanyar
21:00Saya masuk ke harapan ya
21:01Misalnya pembuatan undang-undang
21:02Yang justru dianggap
21:03Mewakili aspirasi publik itu tidak dikerjakan
21:06Sementara undang-undang yang hanya ingin memenuhi kebutuhan oligarki
21:09Itu yang disebutkan dalam banyak percakapan
21:11Itu justru bisa diselesaikan dengan cepat
21:14Dan bahkan dianggap diam-diam
21:15Bagaimana Anda menjawab bahwa
21:17Untuk tugas utama anggota DPR
21:19Membuat undang-undang saja
21:20Itu tidak cukup memenuhi rasa
21:23Keadilan dan kebutuhan publik
21:25Sebenarnya yang disampaikan terkait dengan
21:27Berbagai rancangan undang-undang tersebut
21:30Itu dikerjakan oleh DPR
21:32Misalnya tadi RUU terkait dengan masyarakat
21:37Hukum adat
21:38Itu dikerjakan oleh DPR
21:41Tetapi ada beberapa konsep yang harus kita adopsi
21:43Dalam rancangan undang-undang
21:44Masih diperdebatkan di DPR
21:47Karena kita menganut prinsip unifikasi hukum
21:50Di mana antara
21:52Tentu living law
21:53Hukum adat antara satu wilayah dan wilayah lainnya
21:56Berbeda-beda
21:57Itu yang kami harus kaji betul
21:58Termasuk juga pengakuan terhadap
22:00Lembaga masyarakat hukum adat itu
22:02Dan termasuk juga isu-isu lainnya
22:04Yang kedua misalnya RUU mengenai
22:06Perlindungan pekerja rumah tangga
22:08Itu juga kami kerjakan
22:10Bagaimana kami bisa
22:11Menyeimbangkan antara hak
22:14Pemberi kerja dan penerima kerja
22:17Termasuk tadi yang disampaikan mengenai
22:18Upah dan gajinya
22:20Apakah harus disamakan dengan ini
22:21Jadi Anda ingin mengatakan bahwa
22:22Itu semua dikerjakan oleh anggota DPR?
22:25Faktanya memang dikerjakan
22:26Karena era rancangan undang-undang tersebut
22:29Itu masuk dalam prolegnas utama
22:31Dan pada saat ini
22:33Dan saya sudah 10 bulan di DPR
22:35Malah saya jadi capek sendiri rapatnya itu
22:38Mengapa fakta-fakta ini
22:40Tidak memberikan
22:41Tidak bisa diapresiasi oleh publik?
22:46Mungkin saya rasa
22:47Misalnya saya pribadi deh
22:48Dan banyak warga sipil yang ketika
22:50Misalnya saya turun aksi bareng
22:51Instead of ngerasa DPR mengerjakan
22:53Lebih ngerasa kita dikerjain gitu ya
22:55Sama anggota DPR dan institusi DPR gitu
22:58Dan jangan lupa gitu Mbak
22:59Bahwa kemudian
23:00Hari ini kita bukan hanya menuntut DPR
23:03Buat ngomongin soal legislasi
23:05Budgeting
23:06Tapi pengawasan misalnya
23:07Hari ini kita menyaksikan DPR
23:10Persis lagunya
23:11Nyanyian lagu setuju gitu
23:13Dimana kebijakannya diinginkan eksekutif
23:16Itu udah pasti ngecap setuju
23:18Cap setuju
23:19Enggak juga
23:20Enggak juga
23:21Itu di level kementerian teknis mungkin mas
23:22Tapi yang kami saksikan kemudian sekarang di level
23:25Nasional misalnya
23:26Kebijakan-kebijakan strategis
23:27Kami saksikan DPR
23:29Tanpa perlawanan gitu
23:31Seperti diaman order baru dong
23:333D duduk diam duit
23:35Makanya kami sering merasakan
23:35Sebenarnya enggak juga
23:36Pemerintah kan datang dengan
23:38Pendekatan teknokratik
23:40Mereka memiliki kajian
23:42Itu kami perdebatkan di DPR
23:44Dan kami mempertanyakan banyak hal yang
23:46Kemudian menjadi program pemerintah
23:49Misalnya terkait dana transfer
23:50Ke daerah yang dipotong 25-27%
23:54Yang itu mempengaruhi kekuatan fiskal daerahnya
23:57Itu juga kami pertanyakan
23:58Melalui kementerian dalam negeri
24:00Termasuk juga ke kementerian keuangan
24:02Kenapa kemudian harus dilakukan pemotongan
24:05Tetapi kementerian keuangan datang dan rasionalisasi
24:08Bahwa kita harus melakukan efisiensi berkeadilan
24:10Mereka harus merealokasi
24:13Untuk tujuan-tujuan lainnya
24:15Dan itu kami terima secara rasional
24:18Penjelasan yang disampaikan oleh pemerintah
24:21Makanya kemudian menurut saya
24:23Kalau kemudian ada pendapat berbeda
24:26Dengan apa yang disampaikan oleh pemerintah
24:28Datanglah dengan penjelasan dan tuntutan yang
24:30Rasional gitu
24:32Agar juga kami bisa untuk
24:33Menyandingkan konsep tersebut
24:36Itu yang kita perjuangkan gitu loh
24:38Itu tidak kelihatan dan tidak dirasakan
24:40Nah itulah yang saya bilang
24:41Bisa jadi dua
24:43Satu itu tidak mengikuti
24:44Kinerja pengawasan yang dilakukan oleh DPR
24:48Padahal itu terbuka melalui
24:49Melalui kanal-kanal media DPR
24:52Yang kedua adalah kemungkinan a priori
24:54Ini memang DPR yang bisa dipersikapkan
24:56Kalau saya begini Mbak
24:57Jadi ada dua memang yang ritik DPR itu
25:00Satu tidak mengerti apa kerja DPR
25:02Dan dua memang sudah sejak awal bersikap a priori
25:06Termasuk tadi itu contoh-contoh yang dijelaskan
25:09Itu kan bukan priori
25:10Belum 2024-2010
25:12Misalnya terkait dengan KPA itu
25:16Performance Index
25:18Tapi dari tahun ke tahun kan memang itu selalu ada
25:21Soal tidak tercapainya target
25:24Sebentar
25:24Anda harus menjawab
25:26Bahwa mereka yang mengkritik anggota DPR itu
25:28Dua pilihannya
25:29Satu Anda gak ngerti tentang kerja DPR
25:32Dua memang sejak awal Anda sudah benci
25:34Pada anggota DPR
25:36Pola pikir kenapa masyarakat tidak akan pernah
25:38Merasa terwakilkan oleh DPR gitu
25:40Karena kritiknya tidak pernah dianggap yang ketiga
25:42Harusnya kan pada poin tiga
25:43Oh memang masyarakat itu benar
25:44Kitanya memang kurang empati sih gitu
25:46Kan gak berani DPR itu untuk memberikan
25:48Satu ke lapang dadaan
25:51Untuk ya kita kurang gitu
25:52Memang masalah kritiknya benar gitu
25:54Nah bagi saya hari ini gak cukup
25:56Kemudian menyalahkan publik yang gak ngikutin
25:58Karena publik misalnya deh
25:59Kita benar-benar menyalahkan publik deh
26:01Saya pakai logika itu
26:02Ya publik juga sibuk mas gitu
26:04Sekolah, kuliah, kerja
26:069 to 5 gak bisa
26:07Rapat ya sambil tidur gitu kan
26:09Kalau anggota DPR kan mewakili keinginan rakyat
26:11Rapat sambil tidur
26:12Di macet katol-patwal gitu kasarnya
26:14Tapi sisanya kita gak bisa sesibuk itu mas
26:17Untuk ngawasin
26:18Apa kasarnya
26:19Website DPR dan ada
26:21Youtube live-nya ya di DPR itu ya
26:23Bagi saya
26:23Kalau misalnya betul-betul DPR ini secara sistem
26:26Ingin reform internalnya
26:27Sudah banyak kajian saya ngobrol dengan beberapa LSM misalnya
26:30Atau akademisi
26:31Karena saya juga lumayan ilmu merintahan
26:33Saya mengkaji ini dari lama gitu
26:34Contoh-contoh
26:35Contohnya adalah buat dashboard mas
26:37Dashboard
26:38Bagaimana kemudian kalau kita ngambil contoh
26:40Di negara seperti Inggris
26:41Anggota Dewan itu harus memberikan dashboard secara live
26:44Voting dia apa
26:46Kepada satu produk undang-undang
26:47Kemudian
26:48Sikap dia terhadap
26:51Kebijakan dari kementerian ini secara live-nya apa
26:55Bahkan konflik kepentingan apa yang kemudian bisa ditontonkan
26:58Itu hal sederhana nih mas
26:59Poinnya adalah
27:00Hari ini ketika misalnya anggota DPR memberikan voting
27:04Kita pun gak pernah tahu
27:05Voting itu tuh kenapa bisa ada
27:06Bisa-bisa karena misalnya komisi 6 BUMN
27:10Bisa-bisa karena dia mendukung dana antara
27:12Karena dia dapat persenan
27:13Kita gak pernah tahu gitu ya mas ya
27:14Artinya
27:15Memang perlu ada reformasi sistemik dari DPR-nya juga
27:19Dan bagi saya ini
27:20Tapi kan setiap kebijakannya tidak harus voting
27:22Iya gitu
27:23Kenapa segala sesuatunya harus voting?
27:25Dashboard voting salah satunya aja mas
27:26Tapi bisa
27:27Contoh lain deh mas
27:28RUTNI lah
27:29Saya mau agak flashback ya
27:30Mungkin bukan komisinya mas memang
27:31Tapi saya mau agak flashback
27:32Bagaimana ketika kita bicara RUTNI
27:34Bahkan sampai sudah disahkan
27:36Undang-undang yang tidak berada di website
27:38Dan ini jelas melanggar undang-undang
27:40Kalau itu bukan DPR lagi
27:41Karena itu kan wilayah pengundangan
27:43Wilayah pengundangan
27:45Jadi kalau kita bicara tahapan
27:47Wilayah pengundangan maksudnya apa?
27:48Eksekutif
27:49Ya eksekutif dong
27:50Jadi mau lempar tanggung jawab ke eksekutif
27:52Bukan lempar tanggung jawab
27:53Tahapan pembentukan peraturan perundang-undangan
27:55Memang seperti itu
27:57Ya oke
27:57Yang di DPR
27:58Sampai pada pengambilan
28:00Keputusan dan persetujuan bersama
28:03Persis tapi yang diinginkan oleh publik
28:05Dan juga para aktivis mahasiswa itu adalah
28:08Sejak bahkan dalam proses
28:09Itu harusnya sudah ada keterbukaan
28:11Sehingga publik bisa melihat sejauh mana progresnya
28:14Dimana tiba-tiba ada pasal yang datang
28:17Apa argumentasinya
28:18Sesimpel itu
28:19Itu yang tidak pernah dilihat
28:19Itulah yang saya sampaikan
28:21Sebenarnya ini masalah simpel dan sangat teknis
28:24Tetapi itu kan sudah ada
28:27Apanya yang sudah ada?
28:29Proses rapat-rapat mengenai
28:30Pembahasan rancangan undang-undang
28:32Rapat dengan pendapat umum
28:34Mengundang ahli
28:35Mengundang stakeholder yang
28:36Berkepentingan terhadap rancangan undang-undang tersebut
28:39Itu sudah didengarkan dalam forum
28:41Rapat dengan pendapat umum
28:43Baik itu di komisi atau di badan
28:44Legislasinya
28:45Misalnya undang-undang apa
28:48Misalnya masnya
28:48Yang sangat ingin terlibat
28:50Dan kemudian punya aspirasi
28:52Terkait dengan hal tersebut
28:53Itu bisa disampaikan
28:55Bisa kami undang
28:56Untuk menyampaikan itu
28:57Tetapi kemudian
28:59Apakah pendapat itu
29:00Diadopsi dalam satu rancangan undang-undang tersebut
29:03Itu kan harus melalui proses dialog
29:05Yang ada di parlemen
29:06Jadi gini
29:07Misalnya contoh saya ambil RUQHAP
29:08Lagi ongoing deh mas ya
29:09Lagi-lagi bukan komisi mas
29:11Tapi RUQHAP ini
29:14Masyarakat sipil
29:15Aliansi Reformasi QHAP ini
29:17Tidak merasa dilibatkan penuh
29:19Tapi kita sudah diundang
29:20Seringkali undangan itu hanya sosialisasi mas
29:22Padahal kita memenuntut partisipasi bermakna
29:24Right to be heard
29:25Right to be explained
29:26Right to be considered
29:26Kok sosialisasi?
29:28Iya seringkali gitu mas
29:28Mereka kan berdebat di dalam
29:30Forum Panjia tersebut
29:32Di RDP kan mas
29:33Iya di RDP
29:34Betul
29:34Nah kemudian undangan satu terbatas mas ya
29:36Satu terbatas
29:37Terbatasnya saya juga gak expect ribuan orang diundang
29:39Bukan
29:39Tapi di dalam
29:40Representasinya gitu
29:42Kemudian yang kedua
29:42Ketika mencoba untuk
29:44Mengambil cap-cap
29:45Ya kita udah ke kampus-kampus
29:46Segala macem
29:47Poinnya gini mas
29:48Kita juga bukan hanya menuntut
29:51Right to be heard
29:52Atau kita pengen didengar doang
29:53Kan tadi mas bilang
29:54Kita akan mendengarkan kok
29:55Tapi kita berharap
29:57Right to be considered and explained
29:58Itu dijelaskan
29:59Contoh
29:59Ketika misalnya seringkali masyarakat diundang
30:02Di dalam satu rancangan undang-undang
30:04KPK deh ketika 2019 dulu mas
30:07Mas memang belum ada
30:08Tapi dulu ketika kita ambil contoh
30:09KPK
30:10Diundang nih di dalam audiensi bersama Balek
30:12Tapi setelah itu
30:14Apa yang menjadi aspirasi kami
30:16Bahkan gak ada dalam pasal
30:17Jadi diundang hanya untuk basa-basi
30:19Dibilangnya sudah menurut
30:20Jadi hak to be heard
30:21Ya oke didengar
30:22Tapi tidak dipertimbangkan
30:23Tapi kemudian ketika itu
30:24Tidak dipertimbangkan
30:26Atau tidak masuk dalam pasal-pasal
30:27Juga tidak ada penjelasan
30:29Jadi pertanyaannya
30:30Mengapa masih ada ketidak relaan
30:32Anggota DPR-nya dapat gaji dan tunjangan besar
30:34Terima kasih Anda di program ROSI
30:39Di tengah polemik berbagai tunjangan
30:41Bagi anggota DPR
30:42Yang dinilai jumbo
30:44Publik menyoroti
30:45Kinerja anggota DPR yang dianggap masih loyo
30:47Saya masih bersama anggota Komisi 2 DPR RI
30:49Fraksi Golkar Ahmad Irawan
30:51Dan Ketua BM4 tahun 2022
30:53Yang juga kreator konten lawan buta politik
30:56Firdian Aurelio
30:57Saya masuk ke Bung Irawan dulu
30:59Di tengah situasi ekonomi yang sulit
31:02Banyak PHK
31:03Anak muda susah cari kerja
31:04Anak muda juga susah cari rumah
31:06Anggota DPR dapat tunjangan tinggi
31:08Tega kah?
31:13Tega
31:14Dapat tunjangan besar seperti ini
31:16Gak merasa bahwa ini
31:17Kayaknya kok gak pantas gitu
31:20Di DPR juga
31:21Manusia juga Mbak
31:23Manusia biasa lah
31:26Punya empati juga
31:28Punya empati dan
31:30Saya ingin mengatakan bahwa
31:32Sekali lagi
31:32Apa yang diberikan oleh negara melalui kami
31:36Itu tidak kami gunakan sepenuhnya
31:38Untuk kepentingan diri kami seorang
31:40Tapi juga digunakan untuk kepentingan
31:43Orang banyak
31:44Termasuk masyarakat yang memang juga
31:47Membutuhkan uluran tangan dan pertolongan dari kami
31:51Dan terkait dengan
31:53Apakah tega gak tega
31:56Ya bukan kami
31:59Apa namanya
32:01Ingin menonjolkan apa yang kami lakukan
32:05Mungkin kami
32:06Masih lebih banyak dan lebih sering ketemu dengan
32:09Orang-orang yang dianggap membutuhkan
32:11Pertolongan dibanding dengan
32:13Orang lain
32:14Dan kami merasakan
32:17Mungkin ada gini kali gak ya Bung Girawan
32:18Karena Anda juga
32:19Ini tahun pertama ya Bung Girawan
32:21Menjadi anggota DPR
32:23Ada situasi yang sangat kontras
32:25Ketika anggota DPR ini
32:28Dapat tunjangan yang sangat tinggi
32:30Ada situasi ekonomi yang susah yang dihadapi oleh banyak masyarakat umum
32:34Dan kalau kita ke DPR
32:36Di DPR itu sudah menjadi bagian dari pandangan publik
32:40Bahwa itu kan seperti showroom
32:42Begitu banyak kendaraan mewah
32:43Bagi anggota DPR
32:45Jadi sudah kaya dari sananya
32:48Jadi anggota DPR
32:50Dapat tunjangan
32:50Yang tinggi pula
32:53Yang gini-gini kan memang sebuah fakta
32:57Ya itu jadi kritik dan masukan
33:01Yang sering kami dengar gitu
33:04Sehingga banyak juga dari teman-teman kami
33:07Berusaha untuk kemudian membatasi dirinya
33:11Bagian dari empati yang disampaikan tadi tersebut gitu
33:14Tetapi bahwa mereka punya kemampuan daya beli kan
33:19Tapi kan gak bisa mengatur satu persatu
33:22Bahwa mobilnya harus ini, ini, ini
33:25Tidak bisa seperti itu
33:27Itu kan hak masing-masing anggota DPR
33:31Buat Anda sendiri bahwa apa yang didapat oleh anggota DPR
33:34Tadi Anda berkali-kali menyebutkan gaji pokoknya berapa?
33:3716
33:3716 juta
33:38Tapi tunjangannya lumayan gede ya
33:40Jadi kisaran yang Anda terima saat ini
33:42Yang masuk ke kena ada
33:43Di total gede
33:44Di total gede
33:45150 jutaan ada?
33:47Kurang dari 150 juta
33:48Kurang dari 150 juta
33:49Kurang dari 150 juta
33:50Tapi di atas 100 juta
33:51Sedikit di atas 100 juta
33:53Dan itu menurut Anda sesungguhnya
33:55Sangat sepadan bahkan kurang
33:58Untuk anggota DPR yang menjalankan tugasnya dengan baik
34:02Saya gak ingin mengatakan kurang
34:04Nanti di komentar saya dibully lagi
34:06Tapi saya ingin mengatakan bahwa
34:10Ini
34:11Sangat bisa menopang kami untuk menjalankan peran-peran kami
34:18Yang kedua juga menurut saya
34:19Ini juga bisa menjaga profesionalitas dan integritas kami
34:24Sebagai anggota DPR ketika dibekali
34:27Sesuatu yang cukup oleh negara
34:31Untuk kemudian menjalankan peran kami
34:33Dan melayani
34:34Konstituen kami
34:37Saya ingin memberikan ruang untuk percaya itu
34:40Bahwa
34:41Satu
34:42Gaji Anda itu di kisaran 100 jutaan
34:46Dan itu
34:47Dan itu
34:49Menunjang kinerja Anda
34:51Dan tadi tersirat Anda ingin mengatakan
34:53Supaya juga tidak tergoda untuk korup
34:55Atau nyolong
34:57Atau ngambil duit APBN
34:58Sangat bermanfaat
35:01Sangat bermanfaat
35:02Dan itu
35:03Manfaatnya apa kira-kira?
35:05Menurut saya ini bisa membuat dalam jangka panjang
35:07Membuat DPR menjadi
35:08Satu lembaga yang modern dan terpercaya ketika
35:11Dari sisi budgetingnya kuat
35:13Karena ya tidak perlu untuk mencari
35:16Jadi dengan gaji 100 juta lebih sedikit
35:20Itu mencegah anggota DPR untuk tidak korupsi
35:23Iya Mbak
35:24Kalau ngomongin soal itu kita sama-sama tahu Mas
35:29Bahwa publik ngerti bahasa-bahasa Dewan itu kan
35:32Komisi bahasa
35:33Komisi mana yang kering segala macem
35:34Artinya
35:35Pengawasan
35:37Rakyat kepada wakil rakyatnya aja
35:40Bagi saya hari ini sangat minim
35:41Bukan karena tadi lagi-lagi
35:43Orang-orang gak excited atau gak pengen lihat gitu ya
35:46Tapi karena sistem
35:47Bahkan sesederhana kita pakai bahasa bayi aja lah Mas
35:49Masuk ke DPR sekarang itu
35:51Udah kayak mau masuk kantor
35:53Interpol mungkin gitu
35:55Berlok-lok-lok
35:57Security-nya gila banget sih
35:58Artinya
35:59Dari sesederhana hal itu aja
36:01Soalnya kan pejabat negara harus dilindungi
36:03Harus dilindungi Mbak ya
36:04Iya-iya kita memang
36:05Gak perlu dilindungi kalau masih rakyat biasa ini kan
36:07Yang kedua gini
36:08Ketika ngomongin ekonomi tadi Mbak
36:10Bagi saya ada
36:11Satu buku yang mengatakan namanya
36:14State of denial gitu
36:15Atau negara cuek
36:15Setelan cuek gitu kasarnya
36:17Bagi saya hari ini negara itu cukup
36:19Hipokrit
36:20Munafik baik DPR ataupun eksekutif
36:23Ketika bicara soal efisiensi
36:27Yang kemudian jadi korban adalah
36:28Guru honorer
36:29Pegawai TVRI lah
36:31Kemudian
36:32Transfer dana transfer daerah
36:34Yang kemudian di daerah PBB jadi naik gila-gilaan
36:36Pendidikan
36:38Bahkan listrik di UI sempet
36:40Kemudian dimatiin lebih cepat di bank sebelumnya
36:42Kemudian buat KIPK dan lain sebagainya
36:45Tapi efisiensi ini gak berasa nih
36:47Buat yang para pejabat
36:48Uang
36:49Hotel
36:50Dan juga mobil dinas
36:52Gak turun
36:52Gak ada kami mobil dinas
36:54Ya kita saya ngomongin eksekutif
36:55Dan DPR kan sebagai pengawas daripada eksekutif gitu
36:57Kalau anggota DPR sih gak dapet anggota mobil dinas
37:00Betul saya ngomongin DPR sebagai pengawas eksekutif
37:02Ya harusnya bisa memberikan ketegasan sikap
37:04Soal berbagai efisiensi tersebut
37:06Yang ingin dikatakan oleh Viridian adalah di tengah efisiensi tapi itu tidak ada di anggota DPR
37:10Ada
37:11Ada
37:12Cuma kan mungkin kan kami kan tidak melakukan eksekusi program sama dengan yang dilakukan oleh eksekutif
37:22Sehingga item efisiensinya tentu berbeda gitu
37:25Tapi efisiensi itu ada
37:27Karena kan impresi itu kan ditujukan kepada semua lembaga negara dan lembaga pemerintahan
37:31Misalnya apa Bu Irawan efisiensi yang Anda rasakan sebagai anggota DPR
37:35Yang sebelumnya kan misalnya terkait dengan kegiatan rapat-rapat
37:40Terus perjalanan dinas, kunjungan kerja, apa macam-macam
37:43Itu kan sempat kami, bukan sempat
37:47Bahkan volumenya dikurangi gitu
37:50Itu kan bagian dari efisiensi yang
37:52Semua lembaga pemerintahan harus mengikuti itu
37:54Karena itu bagian dari impresi kepala negara dan kepala pemerintahan
37:58Cuman kan kalau anggota DPR rapat-dengar itu kan sesuatu kewajiban, gak mungkin diefisienkan
38:02Ya makanya kan tetap jalan
38:04Nah makanya itu gak menjadi bagian dari efisiensi dong
38:06Ya itu memang tidak perlu diefisiensi karena memang gak ada anggarannya untuk itu
38:10Ya kami rapat aja, karena itu kan kami udah dibayar dari gaji dan tunjangan bulan
38:14Kan ada tunjangan rapat?
38:15Gak ada
38:15Dari mana infonya?
38:18Rapat apa yang ada tunjangannya?
38:19Ya tapi kan kalau ada beberapa rapat untuk RUU bisa di hotel
38:24Itu kan juga harus ada anggaran dong
38:26Oh itu namanya consignering
38:29Itu pun hanya dilakukan sekali untuk dalam satu RUU
38:33Kalau mau tahu honornya saya bisa cerita
38:37Kalau ini gak apa-apa
38:38Ya kenapa? Silahkan cerita
38:39750 ribu
38:41Sekali rapat?
38:43Consignering ya tiga hari
38:45750 ribu x tiga
38:47Malah gak sampai 2 juta malah
38:501 juta 600 atau 1 juta 700
38:52Tapi Bu Irewan gini, kalau ngomong dengan Anda kok kayaknya anggota DPR susah banget ya?
38:58Beda banget Anda?
38:59Beda bagaimana?
39:00Kayaknya seperti melas gitu bahwa anggota DPR tidak sukaya yang dilukiskan gitu
39:05Melas banget sebenarnya
39:06Nah kalau itu kan gak perlu dicerita
39:08Tapi saya ingin menyampaikan bahwa ya itu yang peran yang kami jalani
39:15Kami ya begini ada, begini adanya gitu
39:18Atau mungkin karena Anda masih baru kali
39:20Gak ada
39:21Ya saya ingin menyampaikan ini
39:23Kita ini mungkin bukan orang baik tapi gak sejahat yang orang pikirkan
39:26Masih baru, masih fresh
39:29Jadi
39:29Saya udah lama di partol
39:31Ya tapi kan baru sekarang anggota DPR
39:33Ya baru sekarang
39:35Baru terpilih saat ini
39:36Makanya yang satu hal yang paling saya syukuri adalah
39:38Dengan adanya gaji dan tunjangan seperti itu
39:41Saya bisa terjaga gitu
39:43Dari tuntutan-tuntutan untuk mendapatkan tambahan yang tadi itu
39:47Yang bisa menjurmuskan kita untuk praktik-praktik perbuatan melawan hukum tadi itu
39:51Sesuatu yang patut kita apresiasi dan janji yang kita bisa pegang
39:57Mudah-mudahan bisa kita pegang dengan gaji di atas 100 juta
40:00Kurang dari 150 juta, betul ya
40:03Itu membuat Bung Irawani merasa bisa terjaga
40:06Sehingga tidak perlu nyolong duit APBN
40:10Saya mau bertanya mungkin
40:11Boleh, boleh
40:12Satu
40:13Misalnya bahkan Fitra bersama ICW gitu ya
40:18Mengatakan take home pay DPR itu setahun bisa 4,2M sepaket dengan uang reses ya
40:23Dan tunjangan tadi tuh
40:24Tunjangan yang Mas bilang gak ada tapi disini ada
40:26Pertanyaan satu
40:27Kalau misalnya Mas mengatakan bahwa itu data salah
40:30Di mana publik bisa mengakses data itu secara transparan dan terbuka by internet
40:35Itu yang pertama
40:36Yang kedua saya mau bertanya terakhir
40:37Mas ini kan bagian dari orang-orang muda sama spirit saya gitu ya
40:42Dan banyak di depan juga masih muda
40:43Yang harusnya kami bangga punya perwakilan yang muda disana
40:46Tapi hari ini kami gak merasakan yang muda-muda ini pun mewakili kami yang muda
40:51Belum kenal ini
40:52Artinya saya mau mencoba menchallenge
40:53Soal isu tunjangan ini apa yang akan Mas lakukan
40:57Mungkin bersama kaukus muda di DPR atau lain sebagainya
41:00Ide menarik sih
41:01Meripirisen
41:02Perwakilan orang-orang muda soal kalau mau naik gaji perform dulu
41:07Perform gimana caranya benahi sistem KIPP dan sebagainya
41:10Mas akan lakuin apa
41:11Karena saya lagi ketemu wakil rakyat saya nih gitu kan
41:13Walaupun bukan dapit malang
41:15Makanya sebagai orang muda
41:17Saya hadir di program ROSI ini
41:19Di tengah sensitivitas publik terhadap apa yang diterima oleh DPR
41:24Saya datang menjelaskan dan menyampaikan kepada publik apa yang kami terima setiap bulannya
41:30Dan itu menurut saya perlu untuk dijelaskan kepada publik dengan penjelasan yang proporsional
41:36Walaupun ya tantangannya saya sampaikan tadi bahwa ada ketidakpercayaan publik terhadap kami
41:41Itulah yang kemudian yang kami harapkan bisa memperbaiki kinerja kami
41:45Dengan tadi salah satunya misalnya
41:47Rancangan undang-undang
41:49Saya dibalek pada saat kami menyusun prolegnas utama
41:52Termasuknya disampaikan oleh pimpinan
41:54Agar setiap komisi hanya masing-masing satu
41:56Dan kemudian agar jangan sampai target itu kurang dari realisasi
42:01Kalau mengakses di mana Mas tadi?
42:02Kalau mengakses
42:03Tapi saya rasa ada poin yang baik menurut saya
42:09Karena soal gaji pejabat publik itu memang wajib transparan
42:14Dan ini bukan karena anti gaji besar
42:17Tetapi lebih melihat kalau misalnya ada anggota DPR seperti Anda
42:21Betul-betul menjaga konstituen, mendengarkan aspirasi masyarakat
42:25Jangan-jangan kalau gajinya cuma yang seperti Anda bilang tadi di atas 100 dikit
42:30Tapi kinerja luar biasa Anda bisa menjadikan publik sebagai orang yang berada di depan
42:35Garis depan untuk memang gajinya enggak cukup
42:38Ya makanya insya Allah nanti waktu yang menjawabnya
42:40Makanya saya jelaskan tadi itu
42:43Tadi totalnya misalnya 4,2 bilion itu tadi yang dijelaskan itu
42:52Saya rasa berlebihan
42:54Oke
42:54Berlebihan
42:55Kenapa enggak perlu ada transparansi soal berapa yang diterima oleh anggota DPR
43:00Mengapa itu terlalu sensitif?
43:02Sebenarnya terbuka sih sebenarnya
43:06Kalau enggak terbuka kan publik enggak mungkin bisa
43:09Dimana bisa?
43:10Tadi ditanya sama Figen
43:11Kalau memang salah di mana Mas?
43:12Karena ini kan data dari Fitra ICW yang mereka pasti juga punya
43:14Ya mereka mungkin melihat buku anggaran itu
43:17Artinya benar
43:18Sedangkan kami anggota DPR
43:19Kami hanya menerima dari apa yang diberikan oleh negara dan pemerintah langsung transfer
43:26Karena persoalan administratif, hak-hak sifatnya administratif, keprotokoleran
43:32Terus manajemen rapat dan lain-lain semua lainnya
43:35Itu kan diatur oleh kesekianan
43:37Karena kami harus fokus terhadap tupoksi khusus kami
43:42Sayang kami enggak pernah ngurusin itu
43:44Ini kita kalau misalnya ngurusin gaji apa macam-macam itu honor-honor
43:49Nanti gini-gini kan kita punya rasa malu juga
43:51Mertanya apa yang kami harus dapatkan dalam setiap rapat apa macam-macam itu
43:55Oh saya ngerti
43:58Saya ngerti
44:02Jadi poin Anda yang pokoknya Anda terima cuma di atas 100 jutaan dikit
44:06Dan Anda juga enggak nanya berapa
44:08Karena Anda takut dianggap kayak mau minta-minta gitu
44:10Ngapain kita minta-minta?
44:12Karena aktivisme ini kan bagian dari hobi aja
44:15Nah itu bukan soal kenapa nanya-nanya untuk minta-minta sih
44:19Itu transparansi dan pertanggung jawab
44:20Dan itu saya kira
44:22Sekarang Mas belum nyobot Mas
44:23Di sini berapa kompe satu tahun anggota DPR RI
44:27Ketika Mas bilang 4,2 M berserta reses itu salah
44:29Itu kan yang transparansi
44:31Lo kan tinggal ditambah tuh
44:32Misalnya tadi katanya Bu Rosi bilang
44:35150 juta
44:36Kali berapa bulan? 12 sebulan
44:39Ya mungkin itu aja totalnya
44:42Tetapi itu totalnya
44:44Yang masuknya
44:45Tapi kan pengeluarannya kan lebih banyak
44:47Mas mau mengatakan
44:49Jangan dikatakan itu take home pay
44:512, sekian M take home pay
44:52Dan kalau ya 150 juta kali 12 kan 2, sekian M lebih ya Mas ya
44:56Enggak nyampe 4,2 nih
44:58Aku takut totalnya takutnya dibilang gak bisa hitung
45:01Katakanlah 2,2 lah
45:05Ya artinya disini saja Mas
45:06Poin saya gini
45:07Artinya ketika publik punya hak untuk mengetahui informasi
45:12Apalagi ini adalah uang yang kami berikan kepada Mas-Mas semua ada di sana di Senayan
45:16Kita aja dibikin simpang siur
45:18Ini 4,2 M gak? 2, sekian M
45:20Makanya tadi saya bertanya
45:22Yang buat simpang siur kan karena datanya tidak tepat
45:25Nah makanya saya tanya
45:26Dimana Mas ngakses datanya?
45:28Enggak Pak
45:28Kan kita udah ketemuin
45:29Nanya kan nyeper orang
45:30Dan mungkin hampir sama
45:31Kalau data secara umum
45:33Berapa anggaran DPR
45:34Berapa program-program situ
45:37Biayanya dan lain-lain
45:38Saya gak tau
45:39Karena itu wilayahnya
45:40Sekjenan
45:41Tapi kalau
45:42Nanya ke saya berapa yang saya terima
45:45Setiap bulannya
45:46Saya bisa jelaskan
45:47Gitu loh
45:48Nah tadi Bu Rosi bilang
45:50Kenapa
45:50Sebenarnya saya gampang untuk menyampaikan
45:52Tapi kan nanti dibilang lah
45:53Kok besar banget punya
45:55DPR ini bukan masalah transparansi
45:57Tapi ini terkait dengan
45:58Yang disampaikan di awal
46:00Ini sensitivitas dan
46:01Tadi itu empati terhadap
46:03Publik itu
46:03Bagi saya konsensif lagi-lagi
46:05Mas hari ini
46:06Saya mau menyampaikan bahwa kemudian
46:0819 juta
46:10Lapangan pekerjaan dijanjikan
46:12Misalnya itu tidak terwujud lapangan
46:13Nanti kita tanya ke
46:15Pemerintah itu
46:167 juta orang
46:167 juta orang menganggur hari ini Mas
46:181 juta sarjana lebih menganggur
46:20BPS 109 juta kemiskinan terjadi
46:22Rasio tabungan turun
46:23Rasio pinjaman online meningkat
46:24Dan sebagainya
46:25Ketika mas bicara gak empati sensitif
46:27Berarti mas sadarkan ada kondisi ini
46:28Ya harusnya DPR
46:29Kalau misalnya memang merasa
46:31Ini tidak empati
46:32Bukan ditutupin
46:33Ya dibatalin
46:34Tunjangan besarnya gitu
46:35Nah kalau misalnya gak mau dibatalin
46:37Transparansiin
46:38Kemudian detailkan
46:39Apa yang menjadi satu
46:40Begini dari total yang disampaikan tersebut
46:43Mungkin setengahnya itu dari yang tunjangan
46:46Apa tadi tuh
46:48Tunjangan perumahan yang
46:49Rumah 50 juta per bulan
46:51Yang lainnya itu kecil-kecil
46:52Eh aku hampir kecepatan
46:54Aku mohon maaf
46:55Ya memang digunakan juga
46:58Nanti aku bilang kecil salah lagi
47:01Nah intinya kalau ditotal dengan 50 juta
47:04Dengan 50 juta itu 100 lebih
47:06Tapi kalau dikurang tanpa ada 50 juta itu
47:08Itu bisa jadi sekitar 50 jutaan juga
47:1250 something lah
47:14Tunjangan menurut Anda
47:16Boleh gak dibatalin dulu
47:18Situasi ekonomi lagi susah?
47:19Lo kan pimpinan DPR kan sudah
47:21Sudah menyampaikan bahwa apa itu
47:23Kata Pak Dasuk itu
47:25Saya gak nonton
47:25Cuma katanya ada
47:26Hanya setahun tidak untuk 5 tahun
47:28Kata beliau
47:30Yaudah itu aja kita jadikan pegangan
47:31Dengan sampingan
47:32Pak Dasuk
47:33Terima kasih Anda masih di Rosi
47:37Dan ini adalah bagian terakhir dari perbincangan kita
47:39Soal tunjangan DPR yang fantastis
47:41Versus keadilan bagi publik
47:43Saya masih bersama anggota DPR Komisi 2
47:45DPR Fraksi Golkar Ahmad Irawan
47:48Dan Ketua BEM 4 tahun 2022
47:49Yang juga kreator konten lawan buta politik
47:53Firdian Aurelio
47:54Jadi
47:54Waktu itu
47:56Wakil Ketua DPR
47:57Pak Dasuk mengatakan
47:59Itu hanya untuk 1 tahun
48:01Sebenarnya sudah diterima ya
48:0250 juta untuk tunjangan perumahan
48:04Dari Oktober tahun lalu
48:05Sampai 2025
48:07Ya Agustus ini
48:08Jadi hanya 1 tahun
48:10Untuk berlaku 5 tahun
48:11Jadi bukti pembatalannya itu
48:13Atau
48:14Pembatalan tunjangan untuk perumahan
48:16Tidak lagi berlaku untuk 5 tahun
48:17Tapi hanya 1 tahun
48:18Begitu ya kira-kira
48:19Ya
48:20Seperti yang disampaikan Pak Dasuk
48:23Gak apa-apa
48:25Anda rela
48:25Relah aja
48:27Gak apa nih ya
48:29Bagi kami
48:31Apa yang diberikan oleh negara
48:34Segitu ya segitu aja
48:36Gitu lah
48:37Tetapi yang perlu kami
48:39Sampaikan
48:41Ada tuntutan agar
48:42Parlemen itu modern
48:44Bisa melakukan power check
48:46Check and balance
48:47Terhadap
48:47Presiden
48:49Terhadap
48:50Pemerintah
48:51Sehingga kita butuh
48:53Parlemen yang kuat
48:54Parlemen yang kuat
48:55Itu dari
48:56Anggota-anggota yang memang
48:57Juga bisa
48:58Bisa kuat
48:59Salah satu yang membuat
49:01Anggota DPR
49:02Kemungkinan
49:03Butuh
49:05Butuh
49:06Tunjangan yang
49:07Seperti yang dipersoalkan
49:08Itu adalah
49:09Dalam rangka
49:09Menjalankan peran-peran
49:11Politiknya
49:12Baik itu
49:12Kira-kira ide dari
49:14Firdian untuk mengatakan
49:15Bahwa bisa memiliki
49:16Juga dengan
49:17Anak-anak muda
49:18Karena Anda representasi
49:19Anak muda di Parlemen
49:20Ini tahun pertama Anda
49:21Setelah waktu itu
49:22Belum berhasil
49:23Ini tahun pertama Anda
49:24Masuk ke Parlemen
49:25Bersama
49:26Anak-anak muda lain
49:27Karena yang dituntut
49:28Sebenarnya adalah
49:29Transparansi
49:30Dan kalau itu
49:31Sebanding dengan
49:31Kinerja anggota DPR
49:33Anda juga
49:34Sangat menghormati itu
49:35Anda bukan
49:36Anti
49:37Anti DPR
49:38Bergaji besar kan
49:39Enggak
49:39Jabatan publik harusnya
49:40Digaji besar
49:40Asal dia perform
49:41Dan bisa diawasi
49:42Transparan
49:42Pejabat publik itu
49:43Memang selayaknya
49:44Digaji besar
49:45Karena apa yang mereka
49:46Lakukan adalah
49:46Untuk kepentingan publik
49:48Hanya memang
49:48Bagaimana
49:49Kita bisa merasakan
49:50Dan melihatnya
49:51Sebagai bagian dari
49:53Komitmen
49:53Apresiasi saya
49:55Kepada
49:56Beliau
49:57Satu waktu
49:58Saya ingin mengajak
49:58Beliau ke dapil saya
49:59Untuk melihat
50:00Secara langsung
50:01Aktivitas kami
50:03Pada saat
50:03Reses
50:04Pada saat
50:05Menyerap
50:05Aspirasi
50:06Dan untuk apa
50:07Uang yang terima
50:09Itu kami gunakan
50:10Di forum yang terhormati
50:11Depan
50:12Bu Rosi
50:12Bu Rosi juga
50:13Gapan waktu main ke Malang
50:14Bisa tanya bagus
50:14Saya ajak
50:16Bersama tim
50:17Bisa melihat secara langsung
50:18Apa yang kemudian
50:19Kalau ketemu konstituen itu
50:20Harus selalu ada amplop ya
50:21Kalau ketemu konstituen itu
50:23Harus ada amplop ya
50:24Sebenarnya bukan
50:27Amplop
50:27Atau ada yang harus dikasih lah
50:29Mungkin amplop terlalu
50:30Terlalu keras
50:31Tapi
50:31Tidak boleh tangan kosong
50:34Uang bensin lah
50:34Uang bensin lah
50:36Yang mereka harus
50:39Kita berikan
50:42Yang kedua
50:42Bisa jadi juga
50:43Itu bisa
50:45Mengganti
50:46Waktunya
50:47Ya seperti seorang
50:48Profesional lah
50:49Kita minta pendapatnya
50:50Apa macam-macam
50:51Tentu kan kita harus punya
50:53Apresiasi atas
50:54Segala waktu
50:55Dan kesempatan
50:56Yang diberikan
50:56Pertemuan bersama kami
50:58Dan
50:59Saya kira itu
51:01Apa dia
51:03Penghargaan yang layak lah
51:04Buat
51:05Yang menghadiri
51:06Pesan terakhir Anda
51:07Untuk anggota DPR
51:08Terutama yang masih muda-muda
51:09Dan tahun pertama
51:10Masuk parlemen
51:11Saya rasa
51:13Mas kalau memang
51:15Merasa dirinya bersih
51:16Dan
51:17Berpihak kepada kami
51:19Publik
51:19Terutama yang muda
51:20Mas bukan hanya harus
51:22Kemudian
51:23Memperform di konstituen ya mas
51:24Tapi
51:25Saya rasa perlu
51:25Kemudian
51:26Memberikan
51:27Satu hal yang berbeda
51:29Dibanding senior-senior
51:30Di Dewan
51:31Yang
51:32Sangat menyakiti hati masyarakat
51:34Mengatakan
51:35Ada Dewan yang mengatakan
51:37Kalimat kasar
51:37Karena
51:38Mengkritik DPR
51:40Publiknya
51:41Tapi lebih kasar mana sih
51:42Di situasi hari ini
51:43Ada
51:43Seorang anak perempuan
51:45Bernama Raya
51:45Yang meninggal karena cacingan
51:47Tidak bisa membeli obat
51:48Dan lain sebagainya
51:48Ada ojol yang meninggal
51:49Karena kelaparan
51:50Jutaan pengangguran
51:52Jopfer bekas
51:52Sampai berantem
51:53Dengan
51:54Anggota DPR
51:55DPR yang tunjangannya besar
51:56Fantastis
51:57Eksekutifnya pun sama
51:59Komisaris dibagi-bagi
52:00Patwal dan sebagainya
52:02Lebih kasar yang mana gitu
52:03Artinya
52:04Saya rasa mas perlu
52:05Gak cukup
52:06Hanya untuk
52:08Datang ke konstituen
52:10Dan kemudian
52:10Menyampaikan reses
52:11Atau kemudian
52:12Menyampaikan undang-undang
52:12Apa yang mau dibawa
52:13Tapi saya rasa mas
52:14Perlu juga menjadi
52:15Role model untuk anak muda
52:17Inisiator di
52:18Kaukus muda
52:18Role model untuk anak-anak muda
52:20Bagaimana DPR
52:21Kalau udah masuk ke sana
52:21Memang gak nyanyain lagu setuju
52:23Tadi kan mas ditanya
52:25Soal
52:25Apa kalimat Dasko
52:26Juga setuju-setuju aja kan mas
52:27Artinya
52:28Apa sih stansnya mas
52:29Bagi saya harus
52:30Bukannya bagus
52:31Yang disampaikan oleh pak Dasko itu
52:33Bagian dari
52:34Memenuhi tuntutan
52:35Dan aspirasi publik
52:36Betul
52:37Tapi saya bukan ngomongin soal
52:39Artinya setuju
52:40Di akhir doang gitu mas
52:41Kalau ini memang jadi perjuangan
52:42Kaukus muda di dalam
52:43Kemudian baru Dasko mengatakan itu
52:44Ya heroik dengan teman-teman muda di sana
52:46Artinya dari awal
52:47Mewakili perasaan
52:48Kepentingan orang muda
52:49Yang hari ini
52:50Jumlah jutaannya
52:51Genzi itu bisa sampai jutaan
52:53Ya
52:53Gitu sebetulnya
52:54Ya
52:54Saya sih
52:55Mengapresiasi apa yang disampaikan
52:58Oleh adik saya
52:59Ketua BM Unpad sebelumnya nih
53:01Saya juga pernah ketua BM
53:03Saya
53:03Paham dong
53:05Seperti apa
53:06Teman-teman mahasiswa dan aktivisme
53:08Intinya begini
53:10Apa yang
53:10Menjadi
53:11Pesan Firdian itu
53:13Rasanya bagus
53:14Sebagai anak muda
53:16Politisi muda
53:17Tahun pertama di parlemen
53:18Kaukus anak muda
53:19Supaya ketika kita
53:20Merasa kehilangan
53:22Tidak ada benchmark
53:23Dari anak-anak muda
53:25Yang berkecimpung
53:26Di dunia politik
53:27Rasanya
53:28Perlu ada
53:29Inspirasi-inspirasi
53:31Baru dari anak-anak muda
53:32Di parlemen
53:33Terima kasih
53:34Bung Irawan
53:35Terima kasih
53:36Terima kasih
53:37Dan terima kasih juga
53:38Bia Anda yang setia menyaksikan
53:39Program Rosi
53:40Dan jumpa kami sedepan
53:41Terima kasih
Dianjurkan
1:35
|
Selanjutnya
1:44
1:30
2:52
2:26
1:58
11:28
11:08
11:27
11:44
3:27
4:46
1:32
2:12
1:10