Skip to playerSkip to main contentSkip to footer
  • 6/20/2025
Namun masalah ini menjadi lebih rumit karena kehadiran aktor regional seperti Iran. Iran secara ideologis dan politik menentang eksistensi Israel, mendukung kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza, yang dianggap teroris oleh Israel dan negara-negara Barat. Bagi Iran, dukungan terhadap Palestina bukan hanya soal solidaritas kemanusiaan, tetapi juga bagian dari perlawanan terhadap dominasi Barat dan pengaruh Israel di kawasan.

Sementara itu, sikap negara-negara Jazirah Arab telah mengalami perubahan signifikan. Secara historis, mereka mendukung Palestina dan menolak normalisasi dengan Israel. Namun dalam dekade terakhir, terutama dengan adanya ancaman bersama dari Iran, sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel melalui Abraham Accords (2020). Kepentingan ekonomi, teknologi, dan keamanan telah mendorong sebagian pemimpin Arab mengesampingkan isu Palestina demi stabilitas domestik dan kemajuan nasional.

Namun, tidak semua negara Jazirah Arab bersikap sama. Arab Saudi, misalnya, masih mempertahankan posisi bahwa normalisasi penuh hanya bisa terjadi jika ada solusi adil bagi Palestina, meskipun belakangan menunjukkan tanda-tanda membuka dialog dengan Israel secara tidak langsung. Qatar tetap mendukung Palestina secara terbuka, termasuk bantuan ke Gaza. Oman dan Kuwait pun cenderung berhati-hati dan menahan diri dari hubungan resmi dengan Israel.

Pada akhirnya, perdamaian di Timur Tengah bukan hanya soal menyatukan dua kubu yang bertikai, tetapi menyatukan visi dari puluhan negara dengan agenda yang berbeda. Selama masih ada ketimpangan kekuasaan, campur tangan asing, dan kepentingan nasional yang saling berbenturan, perdamaian sejati masih akan terus menjadi harapan yang jauh dari kenyataan.

Transcript
00:00Why is it difficult to reach in the Middle East?
00:04I often get this question, especially if the conflict between Israel, Iran, and Palestine is still in the middle of the world.
00:12The conflict is like there is no end in the middle of the world.
00:15And every time there is a new leader or a foreign power that is still in the middle of the world,
00:20the situation is becoming more rumored.
00:23Let's talk about it one by one.
00:25Akar konfliknya sudah lama banget, dengan sengketa Israel-Palestina sebagai intinya.
00:32Tahun 1948 waktu Israel didirikan, ratusan ribu warga Palestina jadi terusir dari tanah mereka.
00:39Setelah itu, bertahun-tahun terjadi perang, pendudukan, dan perundingan damai yang gagal.
00:45Buat Palestina, damai itu artinya kemerdekaan dan pengakuan atas tanah air mereka.
00:50Buat Israel, ini soal keamanan dan pengakuan dunia atas hak mereka untuk ada.
00:56Tapi masalahnya nggak berhenti di situ.
00:59Main mitri.
01:01Iran punya agenda sendiri.
01:04Iran nggak mengakui Israel dan mendukung kelompok-kelompok seperti Hezbollah dan Hamas,
01:09kelompok yang disebut teroris oleh Israel dan sekutunya.
01:12Buat Iran, mendukung Palestina bukan cuma soal solidaritas,
01:16tapi juga soal melawan pengaruh barat dan kekuatan Israel di wilayah itu.
01:22Terus, ada negara-negara Arab.
01:25Bertahun-tahun, mereka berdiri di belakang Palestina dan menolak hubungan apapun dengan Israel.
01:31Tapi belakangan ini, ada perubahan.
01:34Negara-negara seperti UIA, Bahrain, dan Maroko memilih untuk menormalkan hubungan dengan Israel lewat Abraham Accords,
01:43mencari keuntungan ekonomi, teknologi, dan keamanan.
01:47Mereka rela mengesampingkan masalah Palestina kalau itu berarti memajukan negara mereka sendiri.
01:53Tapi nggak semua negara Arab setuju.
01:55Arab Saudi, misalnya, masih bilang nggak akan sepenuhnya menormalkan hubungan kecuali ada solusi yang adil buat Palestina.
02:04Qatar terus mendukung Gaza.
02:06Oman dan Kuwait tetap hati-hati, menghindari hubungan resmi dengan Israel.
02:12Jadi, kenapa perdamaian susah banget didapat?
02:16Karena ini bukan cuma soal dua pihak.
02:19Puluhan negara dan kelompok punya sejarah, luka, dan kepentingan masing-masing.
02:24Ada ketidakseimbangan kekuatan yang besar, banyak campur tangan asing, dan prioritas setiap orang saling bertabrakan.
02:31Setiap putaran kekerasan baru mengingatkan kita betapa rapuhnya situasi ini, dan setiap perjanjian damai sepertinya selalu meninggalkan seseorang.
02:42Apakah ada harapan?
02:44Mungkin.
02:45Tapi selama masalah dasar keadilan, keamanan, dan pengakuan belum terselesaikan, perdamaian sejati akan tetap sulit dicapai.
02:54Menurut kalian gimana?
02:55Apakah masih ada secerca harapan untuk perdamaian di Timur Tengah?
02:59Kasih tahu aku di kolom komentar ya.

Recommended