Air Mata Di Ujung Sajadah (2023)

  • 5 bulan yang lalu
Directors: Key Mangunsong
Actors: Axel Mariani, Carol Sahetapy, Citra Kirana, Fedi Nuril, Jenny Rachman, Krisjiana Baharudin, Mbok Tun, Muhammad Faqih Alaydrus, Titi Kamal, Tutie Kirana

Cerita perjalanan hidup Qila dan sang kekasih yang akhirnya kawin lari juga terasa sangat cepat. Tanpa babibu, sang kekasih yang sudah menjadi suaminya meninggal karena kecelakaan sehabis beli martabak telur dengan 4 telur bebek. (Tim martabak telur pake telur bebek mana suaranya?)

Qila ingin menyampaikan kabar gembira kalau ia sedang hamil, ia menunggu suaminya pulang sambil memegang alat tes kehamilan dengan gelisah, adegan ini semakin memperkuat bahwa akan terjadi sesuatu pada suami Qila. Dan ternyata benar! Martabak telur itu berhamburan tanpa sempat dimakan :’(

Kisah hidup yang dialami Qila memang menyedihkan, seperti halnya sinetron dengan tokoh utama wanita yang menderita tak berkesudahan, berdoa di atas sajadah di tengah malam. Qila juga tidak sempat bertemu anak yang dilahirkannya karena ibunya Qila memberikan cucunya pada karyawan suaminya — Fedi Nuril dan Citra Kirana — pasangan suami istri yang tidak bisa memiliki anak.

Terlepas dari alur cerita yang mudah ditebak karena sering mendapatinya dalam sinetron, tokoh utama yang dibuat menderita juga second lead (Fedi Nuril sekeluarga) dibuat sama-sama memiliki konflik yang kuat. Mungkin karena berasal dari konflik internal yang sama-sama berkecamuk, sehingga penonton dibuat berpihak pada salah satu kubu. Tapi keberpihakan kita pada salah satu kubu juga menjadi serbasalah, karena keduanya memiliki konflik yang sama-sama kuat. Qila dengan kesendiriannya ingin bertemu anaknya yang sudah 7 tahun dianggap meninggal dan Fedi Nuril serta istri dengan ketakutan mereka kehilangan anak semata wayang yang sudah mereka sayangi sepenuh hati.

Pergolakan batin yang mereka sampaikan benar-benar sampai di hati, membuat saya sendiri merasa mereka sama-sama jahat dan egois atas keinginan memiliki Baskara — anak yang sedang diperebutkan.

Namun di sisi lain, saya juga dapat merasakan bagaimana jika saya berada di posisi keduanya, sama-sama enggan melepaskan karena rasa sayangnya sama-sama besar.

Hal lain yang unik dari film ini adalah tidak ada tokoh yang dibuat bahagia sempurna, ada ending yang menurut saya epik dan terpaksa menguras air mata. Bukan hanya perkara kesedihan para penonton yang melihat seorang anak harus terpisah dari ibunya, namun juga karena pergolakan batin dua orang ibu yang sama-sama tulus. Rasa yang ingin disampaikan para sineas menurut saya sangat sampai ke hati.